Kamis, 03 Februari 2011

(I)negeri 5 menara: i must be the sixth or seventh or...

Membaca novel inspiratif "Negeri 5 Menara". 
Saya harusnya berterima kasih kepada adik saya, Muhammad Khoirul Muaddib yang meninggalkan novelnya ini di rak buku kamar saya, sebelum dia balik ke pondoknya sono di Tangerang.

Awal-awal novel ini terbit, kan rame dan heboh tuh orang-orang semua. Sayangnya, saat itu aku belum tertarik bin belum punya mood untuk membaca novel ini. 

Pun juga, saat MPKMB 47(ospek maba di IPB) mendatangkan penulis novel ini, bapak A.Fuadi, saya juga masih adem ayem dan belum tertarik untuk membaca ^^v.
Saat bapak penulis ini datang ke kampus, saya juga nggak begitu heboh atau excited. Biasa aja lah. Saya baru ber-wow2 ria dan terkagum-kagum pada bapak ini, karena...

bapak ini mendapat beasiswa Fulbrightnya AMINEF dan pernah jadi wartawan TEMPO dan pernah kerja di VOA dan pernah ke stadionnnya real madrid (woa!!!!!! >.<)
dan bukan karena novel yang ditulisnya, hehe. ^^v

Ketika teman sekamar saya di asrama baca novel ini pun dan dia kelihatan sangat menikmati, saya juga belum tertarik.

Beginilah saya, kalau belum mood melakukan sesuatu, saya nggak bakal getting start to do it or do something.hehe.

Akhirnya, saat saya terdampar di liburan yang nggak begitu lama di rumah, tapi, ada tugas baca 'buku wajib' yang bejibun...dan saya belum mood untuk baca 'buku wajib' itu...saya menemukan novel "Negeri 5 Menara" yang terlihat berkilau-kilau. *lebay *
Saya baca deh, novel bapak A.Fuadi itu.
And finally, I fall into the story...so deep. sampe-sampe saya terobsesi masuk PM coba!

Jempol deh buat gaya bercerita bapak A.Fuadi ini.
Meski saya baru baca novel ini sampe halaman 148, banyak yang berkesan buat saya.
Salah satunya kutipan ini nih,
"Melihat yang bukan muhrim bisa menghilangkan hapalan Al-Quranku," kata Baso dengan suara rendah. Mukanya ditunduk ke stang sepeda.
(ada di bab Thank God It's Friday halaman 128)
Itu cerita saat Alif,dkk. mendapat izin keluar dari PM kemudian melewati pondok puteri. 

Kedisplinan di PM, tekad anak-anak PM yang ingin menjadi cendekiawan-cendekiawan muda yang bermanfaat bagi umat, membuat saya kagum.

Dan karena masih ada beratus-ratus halaman lagi yang akan saya baca, pasti akan banyak kesan dan kekaguman lain yang akan saya dapat.

regards
-izzatun nisa s-
sign out

Reactions:
This entry was posted in

0 comments:

Posting Komentar