Jumat, 13 April 2012

this is it; life

Bismillah, 

sebenarnya merasa aneh, ngasih judul seperti tersebut di atas untuk tulisan ini, tapi, ya...ya apa ya?
ya, sudahlah...

Kemarin merasa senang dan sekarang i'm so sad.
Penyebabnya?
Bocah banget sih alasannya, cuma gara-gara dapat nilai jelek.
Hhhh...

Sepertinya aku baru menyadari, bahwa ekspresiku saat melihat nilai yang terpampang selama di departemen adalah datar, menghela nafas, dan pengen nangis. 
Jarang melihat sesuatu yang menggembirakan.
Ah, so sad lah kalau soal nilai.
It's really a nightmare kalo udah ngomongin soal itu.

Masa-masa keemasan selama di TPB sepertinya sudah berlalu.
Rodanya sekarang berputar dan memaksaku untuk tersungkur ke tanah. 
Gak keliatan lagi deh tuh indahnya langit.

Cuma nilai jelek?
Ah, masa iya 'cuma'?

Nilai nggak akan menentukan kesuksesan seseorang. 
Setuju banget dengan kalimat itu. 
Tapi, kalo mengenai hal sesederhana nilai saja, aku gak bisa mengusahakan untuk mendapatkan yang terbaik, gimana dengan yang lain-lainnya...


Hm, banyak sekali yang harus dievaluasi dan direvolusi.

Kamis, 12 April 2012

the first boy

Bismillah,

Hari ini, seneng :D
tadi siang, entah kenapa pengen sms si adek.
Pertanyaannya singkat dan gak berharap banyak buat dibales sama dia, karena berkali-kali aku mengirim sms dan gak pernah ada yang dibales sama dia. 
Tapi, hari ini smsku dibales sama dia...haha. seneng banget, 
meskipun balesannya cuma satu kata, tapi itu sangat berarti.

Dia adik pertamaku sekaligus anak laki-laki pertama.
Waktu masih kecil, kira2 dari bayi sampai SMP, dia dipuji sana-sini sama sanak saudara, karena karakternya yang oke banget menurut orang-orang.
Pendiam, penurut, pintar, dan ganteng(kelebihan fisiknya).

Sekarang??? 
Haha. umi-abi harus luarbiasa sabar menghadapi anaknya yang satu ini. Saat putaran terakhir di SMP, sifat rebel nya mulai kelihatan sekali. 
Aku juga harus ikutan sabar :D

Gak tau kapan tepatnya, antara kami berdua mulai ada tembok besar dan tinggi yang membatasi. Dia seperti berusaha menjauh sejauh-jauhnya dariku.

Salahku juga mungkin, karena terlalu sibuk dengan duniaku sehingga gak terlalu perhatian padanya dan gak sadar kalau dia mulai membangun tembok itu.
Tapi...selagi ada waktu, masih bisa untuk mencoba mendekatinya.

Jadi teringat kejadian beberapa waktu yang lalu, saat pulang ke rumah, adikku itu mengajakku untuk nge-beli jaket. Hm, okelah, aku ngikut saja. 
Aku jadi merasakan dibonceng naik motor sama dia yang bikin harus terus2an dzikir karena ampun2an ngebutnya. Kalo diingatkan, dia pasti ngejawab 'Santai lah, kak, dan gak usah ribut' (ngek)
Santai apaan...
then, dikiranya mau ngebeli di tempat yang udah terkenal a.k.a. mall gitu ya...

tapi, dia malah ngajak aku ke distro, tempat remaja2 gaul berbelanja dan totally, aku diliatin abis sama orang2 disitu.
Saat aku ngeburu2 dia untuk cepat pergi, dia malah memilih-milih dengan santai sambil cengar-cengir.
Tidak nyaman, pastinya.

tapi, dia seperti mengajarkan padaku sesuatu. 
Bahwa, aku harus open mind. Aku nggak akan selalu ada di lingkungan yang selalu aku harapkan dan aku senangi. Dia membuka mataku bahwa dunia ini berisi bermacam-macam orang yang gak bisa aku paksakan sesuai dengan keinginanku.

Seperti halnya dia,
dia tahu dan mengerti bahwa umi, abi, dan aku menginginkan dia jadi anak yang lurus2 saja, tapi, sayang...otaknya terlalu kreatif dan meng-create dirinya luarbiasa jauh dari apa yang kami harapkan.

Sekarang ini, dia memang sedang dalam fase rebel2nya.
Apapun yang umi, abi, atau aku katakan seperti gak mau didengarnya. Dia maju terus saja dengan apapun yang ingin dia lakukan.
Menghukuminya dengan keras?
Haha. dia memang menjalani hukuman yang dikasih umi-abi, tapi tetap saja dia melanjutkan aktivitas-aktivitas yang menurutku 'apa2an sih dek, ngapain kamu ikut2 yang kayak gitu!!!'

Semoga Allah selalu membersamai tiap langkahnya.
That's it, do'a yang gak boleh putus untuknya,

Muhammad Fithroh Amali, 17 years old