Be bright?!

0

Bismillah.
Ada seorang teman. Dekat. Aku ketahui sangat cemerlang.
Tapi, entah kenapa...karena tertekan, atau karena merasa dipaksa?
Semua kecemerlangannya menghilang...
Menghilang bersama angin yang membawanya melarikan diri dari semuanya.
Siapa yang tidak sedih dengan semua itu?
Sebenarnya, hal yg membuat dia tertekan&terpaksa itu adalah hal yang luarbiasa baik! Tujuan mulia!
Tapi, caranya.
Cara orang2 menyampaikan hal itu dan menanamkan padanya, (mungkin termasuk aku) didalamnya...membuat dia terlihat menyedihkan.
Dia tidak bisa seperti (aku)...yang bisa menahan perasaan2 lain...membunuhnya untuk 'kebaikan yang lebih besar'.
Aku tahu pasti dia belum bisa seperti itu dan aku tidak mau menyalahkannya untuk hal itu.
Menyedihkan.
Menghilangkan kecemerlangan seseorang.

Cambodia part 1

0

Bismillah.

Kamis sore kita bertolak dari apartemen menuju distrik 1 untuk selanjutnya pergi ke Kamboja.
What for sih ya ke Kamboja segala?
Hehe.

waiting for the bus @highland coffee
Ke Kamboja dari Vietnam itu murah lho sodara2, apalagi kalo lewat jalur darat.
Kita cukup bayar 13USD untuk sleeper bus dan 10USD untuk bus dengan seat normal.
Dan untuk WNI, ke Kamboja free visa! Hehe.
Kami berangkat pukul 23.45 dengan sleeper bus.
Kesan pertama saya?
So so sih, tapi, cukup sekali in my life time lah naik sleeper bus.
Karena judulnya sleeper bus, maka, kami tidur saja di bus. Sempat gak bisa tidur sih...karena jujur saja, saya sedikit tidak nyaman dengan posisi seat yang bentuk tempat tidur itu. Jadi, untuk beberapa jam saya cuma duduk saja disana.

di dalam bus bareng @ghitadwi
Kami memasuki perbatasan Vietnam-Kamboja dari pihak Vietnam sekitar pukul 7 untuk pemeriksaan paspor dan checking barang bawaan. Tidak jauh setelah itu pemeriksaan dari pihak Kamboja haya paspor saja.
Teman2 yg lain diminta membayar 1USD saat pemeriksaan, tapi, entah kenapa saya tidak dimintai.
Setelah itu kami kembali ke bus.
Oh ya, karena kami menempati seat2 depan bus, jadi, kami memperhatikan orang2 yg keluar masuk bus dan kami jadi tahu siapa2 saja penumpang didalam bus.
Nah, kami sempat heboh saat 1 orang penumpang dari US menghilang. Mr.Charles, dia menghilang saat di pemeriksaan oleh pihak Vietnam.
Bus kemudian melaju lagi dan berhenti untuk breakfast time sekitar 30 menit.
Kami berenam berdiam diri sambil mengobrol dan memakan snack bekal di bus dan sempat berkenalan dengan seseorang dari China yg akan ke Kamboja untuk mengajar bahasa China disana.
Dia turun dari bus untuk sarapan dan kami dikejutkan dengan kedatangan Mr.Charles!
Ternyata dia tertahan di pemeriksaan karena visa tinggalnya di Vietnam sudah expired 3 minggu.

Bus melanjutkan perjalanan dan lagi2! meninggalkan penumpang yang berasal dari China itu. Bus berhenti di tempat yang seperti rumah warga yang sekaligus difungsikan sebagai kamar mandi buat para traveler. Saat bus akan melanjutkan perjalanan, lagi2! kalau yang kali ini, hampir saja traveler dari UK ketinggalan karena pergi ke kamar mandi. 
Heran deh, kondektur dan sopir bus nya hobi banget ninggalin penumpangnya. Kagak di cek dulu gitu jumlah penumpang yang ada di bus -_-".

Memasuki Kamboja, suasananya pedesaan banget banget. Menuju Phnom Penh, bus yang kami tumpangi harus menyeberangi sungai yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari daratan. Rame banget itu alat yang digunakan menyeberang, gak terlalu mirip kapal, tapi, gak tahu namanya apa. Bus, truk, mobil, ada di satu tempat. Sempat serem sih pas alat itu nyeberangin bus, tapi, bersyukurlah proses menyeberangnya cuma sebentar.

Okay, then! Welcome to Phnom Penh!
Suasananya panas dan terik! Mulai banyak aksara Kamboja yang sama sekali gak ngerti gimana cara bacanya di sekitar jalanan. Bus sampai di pemberhentiannya sekitar pukul 11-an dan kami buru2 mencari tuk-tuk (kendaraan khas Kamboja) untuk mengantar kami ke masjid, karena, secara 2 cowok yang ada diantara kami harus sholat Jumat. Kami membayar tuk-tuk untuk seharian perjalanan sebesar 4USD@orang (24USD@tuk-tuk).

Perjalanan menuju masjid, karena tuk-tuk adalah kendaraan yang cukup terbuka, seperti biasa, kami (cewek-cewek) berkerudung ini, jadi, centre of attraction. Diliatin sama orang-orang lah kita ini. Heran, gak di Vietnam, gak di Kamboja, diliatin aja terus sama orang-orang. Kayaknya makhluk langka banget, orang yang pake kerudung itu.
Saat sudah dekat dengan masjidnya, kami mulai melihat orang-orang lain yang juga berkerudung, yiey! Girang lah kita. Apalagi kalo ngeliat orang yang pake kerudungnya banyakan, kita rame-rame mengucapkan salam gitu.
Kami sampai di masjid kira-kira pukul 12-an lebih, dan sholat Jumat baru akan dimulai pukul 13.
Tadinya, berdasarkan informasi yang didapat Qori, masjid yang akan kami kunjungi adalah masjid yang gede dan mirip masjid Aya Sophia gitu, tapi, berhubung masjid sedang direnovasi, kami harus sholat di bangunan yang difungsikan sebagai masjid sementara. Okay lah, somedays, mungkin kami bisa balik lagi kesana, eh!

Jamaah yang datang ke masjid itu banyak banget! Kebanyakan orang asing sih, dari Timur Tengah yang Arabian face gitu. Warga lokal juga lumayan banyak. Kalo kata Norman sama Doni, lebih banyakan di Kamboja warga lokalnya yang muslim daripada di Vietnam.

Kami sholat Jumat disana dan tidak disangka bertemu dengan seorang ibu dari Timur Tengah, saya lupa dari negara mana tepatnya. Dia sudah lama di Kamboja. Dia bekerja untuk UNICEF dan dalam obrolan kami, dia memberitahukan banyak restoran halal di Kamboja. Okay, tapi beberapa restoran not affordable buat mahasiswa seperti kami.Haha!

Akhirnya, kami makan di KFC. Franchise yang dipunyai warga negara Malaysia dan ada stiker halal di depan pintunya.
Makan sepaket ayam dan minum milo ice menghabiskan 3 USD dan selama kami di Kamboja, kami SELALU makan di KFC. Karena itu yang paling mudah untuk kami temui.

Kami menuju ke guest house tempat kami tinggal dengan harga 10USD per orang untuk 2 malam. Sekamar diisi oleh 2 orang. Okay, tempatnya agak creepy kalo kata saya, tapi, ya, kami bertahan saja. Ah ya, kamar saya ada di lantai paling atas dan banyak channel internasional yang kami dapat, yiey! Bahkan saya bisa menonton live music bank! Hahaha.

Sore setelah kami menyimpan barang2 bawaan yang cuma ransel2 di guest house, kami lanjut pergi ke Royal Palace tapi, kami cuma berfoto didepannya saja karena sudah terlalu sore untuk masuk ke Royal Palace. Akhirnya, kami pergi ke National Museum sampai pukul 5 pm. Tiket masuknya sebesar 5USD.

yg dibelakang itu bangunan diseberang Royal Palace

ini di tembok samping Royal Palace

suasana jalan di samping Royal Palace
Kami kembali ke guesthouse untuk sholat dan lain sebagainya. Lalu sekitar pukul 8 pm kami berkumpul lagi di lobi guest house dan lanjut berjalan-jalan ke Night Market. Rame banget lah itu Night Market, penuh dengan turis dan warga lokal. 
Yang dijual disana macam-macam. Mulai dari souvenir-souvenir, pakaian, makanan, dll. Harganya so so lah. Bisa ditawar, tapi, sabar aja ya, kalo dijutekin sama penjualnya, hehe.
narsis abis pas jalan-jalan ke Night Market!
Kami keluar dari Night Market sekitar pukul 10 pm dan karena kami kelaparan, kami pergi ke KFC (lagi) yang jaraknya cuma 5 menit jalan kaki dari Night Market. Sayangnya, kami kehabisan makanan di KFC dan menghabiskan malam dengan kelaparan, oh!

Okay di lanjut di Part 2.
Semoga bermanfaat ya!

image credit @cocaqori @dewi_3

Hidup di negeri orang lain emang (harus) keras

0

Bismillah.
Sebenarnya, telat banget kalo baru ngebahas ini sekarang. Tapi, ya, kayak baru ngerasa tertampar2 beberapa saat lalu.
Yah, karena sekarang ceritanya lagi tinggal di Vietnam yang cuma punya masjid terlacak 4 biji di seluruh Ho Chi Minh, kalo mau pergi2 ato jalan2 itu, harus mikir panjang banget.
Pergi jam berapa? Berapa lama? Ke mana aja? Yang harus juga dipikirkan adalah ntar sholat dhuhur dimana? Ashar dimana? Maghrib dimana? Dst....
Karena masjid d Hcmc itu cuma ada beberapa titik, jadi, kalo pergi2 kemana2 ya harus bisa menjangkau titik2 tersebut.
Dan kesadaran soal itu-memperhatikan waktu sholat saat bepergian- benar2 jadi suatu hal yang menarik bagi saya pribadi.
Seperti judul yang saya tulis diatas, yang saya maksud adalah u/hal seperti ini kita harus keras pada diri kita sendiri. Karena, saya sudah banyak menemukan kejadian, sesama muslim yang juga tinggal di Hcmc ini, yang dalam pandangan saya terlalu mengentengkan masalah waktu sholat.
Entah apa alasan mereka, mungkin mereka berpikir bahwa sholat bisa dijamak, dsb. tapi, bukankah rukhsoh (keringanan) yg Allah swt berikan punya pakem tertentu yang tdk bisa kita anggap enteng?
Dan selagi kita bisa mengusahakan u/memenuhi semua aturan2Nya, kenapa tidak mengesampingkan hal2 kecil u/ melaksanakan perintahNya dengan baik?
Astaghfirullahal'adzim.
Na'udzubillahi min dzalik.
Allahu a'lam bishawab.

21 tahun

0

Bismillah

Sebenarnya kengerian itu sudah dimulai dari setahun yang lalu, saat usia memiliki angka puluhan yang berbeda dari sebelumnya. Namun, ternyata kengerian itu bertambah di tahun ini.
Dan ada yang berbeda dengan tahun ini, karena saya melewatkan pergantian usia di belahan negara yang lain dari Indonesia.

Keempat teman saya yang tinggal satu atap dengan saya tidak mengucapkan apapun saat kami bercakap-cakap. Dan saya pun berharap akan melewatkan hari ini dengan tenang karena banyak yang saya pikirkan di bertambah besarnya bilangan usia saya yang berbanding terbalik dengan masa tinggal saya di dunia ini. Namun, ternyata tidak bisa setenang itu.

Saya membaca pesan di wa dari teman saya supaya membuka fb dan saya membaca catatan yang dibuat oleh teman dekat saya, dan, hati saya mulai rusuh karena lebih banyak hal lagi.
Catatan yang dibuat teman saya itu membuat saya terkejut, terharu, dan campur aduk, sampai saya bingung mau berkekspresi seperti apa. Tentang tulisannya itu, akan saya bahas di tulisan saya yang lain.


Hingga siang hari, saya masih memikirkan catatan teman saya itu dan belum bisa move on darinya.Saya pergi berbelanja dengan Ghita ke pasar. Dan saya pulang dengan perasaan biasa saja lalu berubah drastis menjadi terkejut karena keempat teman saya (oh ya, minus Doni karena dia sedang disekap menjaga kamar di lantai 10) dan teman-teman dari NLU datang mengucapkan selamat kepada saya. Ah, baik sekali.

Mereka semua merencanakannya sejak sehari sebelumnya, dan saya sama sekali tidak menyadarinya.
Jumat setelah makan siang, mereka menyuruh saya pulang duluan (karena mereka mau membelikan hadiah untuk saya), mereka menyuruh saya mandi pagi-pagi (karena mereka mau menyiapkan hal-hal lain dan berniat mensterilkan rumah dari saya, sayangnya saya tidak mau ^^v), dan mereka menyuruh saya ke pasar (karena teman-teman NLU sudah datang).
Ah, saya benar-benar tidak menyadarinya.
Setelah itu teman-teman NLU dan kami semua masak bersama, masak makanan Vietnam yang aman untuk kami makan.
Hm, mereka baik dan perhatian sekali...
Saya terharu dengan perhatian mereka, meskipun, sebenarnya saya ingin membuat hari sabtu itu senormal biasanya, namun, apa daya, itu tidak bisa terjadi.

 21 tahun sudah usia saya dan yang banyak menyita perhatian pikiran dan hati saya adalah soal masa depan.
Sejujurnya, saya banyak memikirkan masa depan dunia saya dan sejujurnya pula saya tidak ingin itu terjadi. Maka, saya ingin berdamai dengan diri saya sendiri, untuk mengajaknya kembali berorientasi kepada masa depan kekal yang mungkin untuk umat manusia, orientasi masa depan akhirat. Insya Allah yang akan terjadi pada masa depan dunia saya bisa terlalui dengan baik (aamiin).

QS. Attaubah : 129  

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."

Starbucks HCMC

0

Bismillah.

Ceritanya hari ini, kuliah tea, coffee, cocoa berakhir lebih cepat. Cuma presentasi doang. Dan Alhamdulillah grup saya termasuk yang presentasi dan semuanya lancar. Hehe.

Karena pulang awal, kami memutuskan untuk tidak langsung pulang dan pergi ke distrik 1. Yeah, cari makanan halal dan setelah makan, kaki kami menuntun kami ke Starbucks. Haha.
Apa coba, padahal saya tidak kuat minum kopi dan tau sendiri harga kopi di Starbucks itu...
Ya sudahlah, mari saya ceritakan perjalanan kami kesana.

Maaf ya, kalau cerita kali ini rada kampung dan alay. Haha. First time ke Starbucks ceritanya, bahkan di Indonesia, saya belum pernah ke tempat itu.

Setelah melewati pintu masuk yang sudah dihiasi ornamen-ornamen khas Natal, kami disambut oleh pramusaji yang mempersilakan kami memesan minuman sebelum kami duduk. Rada-rada kagok ceritanya karena ini pertama kalinya untuk kami berlima pergi ke Starbucks.

Setelah memesan beberapa minuman dengan harga yang lebih mahal daripada makan siang kami, kami memilih tempat duduk di pojokan. Kami menunggu tidak terlalu lama dan nama Doni yang diubah menjadi Mr.Yoni (karena orang Vietnam menyebut D dengan huruf Y) dipanggil. Jadi, ceritanya kami memesan, ditanya pilihan menu dan mereka akan mencoret-coret gelas kami dengan nama pemesan, setelah pesanan jadi, nama itu akan dipanggil.

punya ghita-norman-saya-qori-doni
Saya memesan latte panas, Doni ice latte, Ghita iced caramel macchiato, Norman chocolate chip frappucino, Qori chocolate chip frappucino tanpa whipped cream.
Punya saya dan Doni pahit...iyalah, kopi ini. Punya Ghita enak sih, tapi...
Punya Norman dan Qori paling enak, tapi, bukan kopi... 



cukup sekali ya...


apa banget ekspresinya -_-"
Hhh...meskipun judulnya Starbucks Vietnam, suara-suara yang saya dengar disini kebanyakan berbicara dengan bahasa Korea. Entah kenapa.
Yeah, banyak orang asinglah disini.

Okay. Mungkin segitu dulu yang saya ceritakan. Hehe.
Semoga bermafaat.

Bye. 

image credit : @cocaqori

Film dan Kedigdayaan sementara

0


Bismillah.

Pagi ini saya membaca tulisan teman satu Institut saya tentang kejadian tahun 2011 menyangkut perfilm-an Hollywood di Indonesia. Keren tulisan dan kasusnya kalau saya bisa berkomentar.
Karena tulisan teman saya itu, saya menjadi tertarik untuk melihat berita-berita lama mengenai kasus tersebut. Dan saya menjadi cukup tercengang dengan segala hal yang berkaitan dengan kasus itu, mengenai monopoli usaha, kekuasaan sebuah perusahaan, pengaruh yang diberikan, ketidakberdayaan even beberapa wakil rakyat menangkis keuntungan-keuntungan, dan segala hal yang dilakukan dan malah memperburuk kondisi negara ini. Hhh...

Saya cukup heran dengan betapa berkuasanya salah satu perusahaan yang menayangkan film di Indonesia baik film lokal maupun mancanegara tersebut, yang sampai sekarang meskipun sudah ada peraturan tentang larangan melakukan usaha dengan monopoli, saya rasa masih bertahan dengan jenis usaha tersebut. Dari sumber yang saya baca, saya menangkap bahwa perusahaan tersebut melakukan berbagai macam hal dan strategi untuk mencegah pesaing usahanya mencapai keberhasilan. Kalau pun berhasil, saya rasa keberhasilannya dikendalikan oleh perusahaan monopoli tersebut. Strategi dan segala macam yang menurut saya menuai persaingan yang tidak sehat.

Saya pribadi tidak cukup paham seluk beluk perusahaan dalam mencapai keuntungan, keberhasilan dan lain sebagainya. Saya hanya seseorang yang melihat dari permukaan dan mungkin komentar-komentar yang saya berikan pun sekedar komentar amatir.
Namun, yang bisa saya ambil dari kasus ini adalah saya melihat bahwa sang pesaing usaha monopoli tersebut cukup jeli untuk melihat peluang dan kesempatan lain yang bisa diambil untuk mencapai keberhasilan pula.



Perusahaan pesaing ini cukup jeli melihat arah kesukaan masyarakat Indonesia terhadap film-film yang beredar. Dan itu menjadi kesukaan saya juga, hehe.
Sayangnya bagi saya perusahaan pesaing ini tidak mudah ditemukan di kota tempat tinggal saya dan effort mengenai budget yang harus saya keluarkan juga cukup besar.

Hm, ini hanya sekedar pendapat pribadi saya.

Heroes

0


Bismillah.

Mungkin momen 10 November ini cuma terkenal di Indonesia. Ya iyalah, secara tanggal ini adalah tanggal untuk hari pahlawan Indonesia. Sejarah tanggal ini bisalah ya dicari via web or apapun lah. 

Sedari pagi saat buka twitter dan medsos lainnya udah rame banget bahasan mengenai hari pahlawan. Jujur saja, karena saya termasuk makhluk yang so so, saya juga merasa so so dengan hari ini.
Hm, mungkin nggak seharusnya seperti itu.

Hari ini banyak dibicarakan mungkin karena hari ini adalah hari untuk memperingati salah satu pertempuran besar di Indonesia. Mungkin seharusnya hari ini bisa menjadi refleksi bagi saya pribadi untuk mengevaluasi langkah ke depan dalam kehidupan saya, yang saya harap akan memberikan pengaruh dan manfaat juga untuk negara saya yang memperingati hari ini sebagai hari pahlawannya.

Suatu detik, saya mengetikkan kata 'heroes' ke search engine yang terkenal seantero jagad. Dan yang muncul adalah serial western heroes yang dulu sekali saya pernah tonton, tapi, saya sudah lupa jalan cerita, dllnya.

Mengenai itu, mungkin heroes yang dikenal orang-orang sekarang adalah orang-orang dengan kemampuan luar biasa yang karena kemampuannya yang luar biasa itu, tidaklah aneh kalau dia melakukan hal-hal yang luar biasa pula.
Nah, sekarang, bila saya menganggap pernyataan di atas benar, apakah orang-orang dengan kemampuan biasa akan melakukan hal-hal biasa juga?
Mungkin sekali.
Lalu, bagaimana kalau orang-orang yang sebenarnya punya kemampuan luar biasa melakukan hal-hal biasa saja? 
Itu bisa saja terjadi. Namun, hal itu sangat disayangkan.
Kalau saya menganggap bahwa saya termasuk ke dalam barisan orang-orang dengan kemampuan biasa-biasa saja, akankah saya bisa melakukan hal-hal yang luar biasa?
Hah!
Itu jadi tantangan besar buat saya.
Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan sama satu dengan lainnya dan yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah apa yang mereka kerjakan. Begitulah apa yang menjadi pikiran saya.

Hm, mungkin di momen hari pahlawan Indonesia ini, saya dan orang-orang lain yang juga mencoba memaknai tanggal yang berbeda dari tanggal-tanggal lain, akan melakukan hal-hal yang menjadi catatan sejarah kebaikan bagi negara ini.

Meskipun negara ini mungkin memang masih diselimuti awan gelap, saya berharap awan gelap itu tidak akan selamanya bergantung di langit Indonesia.

Bangga menjadi bagian dari Indonesia!  



Find it!

0

Bismillah.

Selama di Vietnam, saya tidak bisa menemukan channel untuk melanjutkan liqo saya selama di Indonesia. Sebenarnya sebelum berangkat, saya sudah mencoba untuk mencari-cari channel itu, tapi, saya tidak menemukannya. Hasilnya, selama pekan sekian saya di Vietnam, saya tidak mendapatkan asupan liqo dan itu, menyedihkan.

Akhirnya saya pun berusaha membuat ruhiyah saya tetap berada di jalan yang benar dan salah satunya melalui menonton.
Yeah, saya memang hobi menonton, tapi, untuk pengganti asupan liqo saya, saya menonton video-video yang bisa membuat saya sadar kembali akan tujuan hidup ini.


Ada banyak lagi yang diupload oleh akun SoldierofAllah2 itu kalau diperhatikan, tapi, saya belum menonton semuanya.

Yeah, kalo kita memang punya keinginan dan kebutuhan akan sesuatu, kita pasti akan bersungguh-sungguh untuk memenuhinya.

Semoga bermanfaat.

Kangen part 1

0

Bismillah.
Kangen sama siapa?
Haha...
Pertanyaan yang kalau diajukan didepan mataku, pasti udah bikin aku kelabakan buat ngejawabnya...
Karena jawaban dari lubuk hati paling dalamnya bakal bikin aku malu parah.
Hm, sebenarnya sekarang nggak kangen dengan seseorang secara spesifik dan kangen akut gitu.
Kangen yang aku rasakan lebih kepada kangen terhadap objek2 tertentu. Benda mati.
Aku kangen suasana bara di sore hari.
Aku kangen sekret bem saat sholat jumat, ngumpul bareng temen2 perempuan.
Aku kangen alfath saat pagi2.
Aku kangen lab2 itp saat sore2.
Aku kangen suasana kelas yang berisik.
Ah, aku kangen banyak hal, hiks T.T
~bakal bersambung~

Blue Moon

2

Bismillah.

Hua...finally....beneran gak nonton konser CN Blue pertama kali di Indonesia.
Sedih parah T.T
Timingnya gak tepat banget T.T
Gak bisa dibawah langit Indonesia yang sama pula T.T

Jadilah, seharian tadi dan kemarin ngegalau bareng Qori yg juga boice.
Teriak2 sedih kalo liat update-an twitter soal Blue Moon Jakarta.
Hua....

Selamat ya, buat boice Indonesia yg bisa nonton and enjoy konsernya uri oppa. Keren parah sih kayaknya kalo liat foto-fotonya.

Dan, mereka langsung pulang ke Korea beres konser banget. Ya lah, sibuk banget pasti mereka.

Huhuhu...say goodbye to cn blue, semoga suatu saat bisa beneran ketemu face to face. Hahaha....mimpi parah.

Image credits to : @tannyboice @boiceina

Kita semua punya Pemira

2

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Beberapa hari terakhir, saya merasa cukup kangen dengan kampus dan segala yg berkaitan dengannya.
Apalagi saat mendengar kabar bahwa sahabat saya dirawat di rumah sakit dan ibu sahabat saya yang lain meninggal dunia.
Semakin saja saya ingin pulang ke Indonesia.
Tapi, jelas, itu tidak mungkin saya lakukan. Jadi, saya mencoba bertahan hidup disini dengan segala perasaan yang mendera.
Karena rasa kangen itulah, saya jadi amat kepo dengan hal-hal yang berkaitan dengan kampus.
Saya jadi rajin mengecek medsos hal-hal yg sedang in di kampus.
Include, pemira.
Saya tahu kalau di KM ipb bakal ada 3 calon pasangan untuk nantinya mengemban tanggungjawab sebagai presiden dan wakil presiden KM ipb.
Jujur saja, banyak nama dari 3 calon pasangan itu yg asing alias saya tidak kenal.
Hehe. Maklum saja, saya tidak terlalu banyak kenal orang di kampus.
Dan, saya cukup sedih, saat saya tahu bahwa di fakultas merah saya, tidak ada mahasiswa yg mengajukan diri untuk menjadi calon ketua BEM fakultas.
Tahun ini seharusnya adalah tahun bagi mahasiswa angkatan 2011 untuk memimpin fakultas.
No offense, karena saya pribadi merasa bersalah, belum mampu menunjukkan sisi keindahan dalam keterlibatan saya berada didalam badan eksekutif mahasiswa.
Saya yakin bahwa banyak sekali kebaikan dan pembelajaran yang bisa saya ambil dalam lewat setengah tahun kepengurusan di bem dan hal itu yang membuat saya sedih, jika di tahun depan, kebaikan dan banyak sekali pembelajaran tersebut tidak bisa dirasakan oleh adik-adik tingkat saya karena BEM dibekukan.
Dan penyebabnya sederhana, karena sampai detik ini tidak ada mahasiswa yang mengajukan dirinya untuk berkorban lebih banyak.
No offense untuk kedua kalinya, karena memang menjadi seorang ketua BEM itu bukan hal yg mudah.
Saya melihat dia yang merasa tertekan, tertuntut, dan tersakiti dari jarak yang cukup dekat.
Saya melihat dia yang berusaha menyelesaikan banyak urusan eksekutif mahasiswa sambil terseok-seok menyelesaikan urusan pribadinya, dia yang mendahulukan kepentingan segenap mahasiswa fakultas merah daripada kepentingan pribadinya.
Dia yang saya yakin mengeluarkan pengorbanan harta,jiwa, dan raga tanpa pembayaran duniawi apapun.
Saya tidak bermaksud menyanjung atau memuji siapapun.
Tapi dia atau orang-orang lain yg melakukan pengorbanan semacam itu, benar-benar merasakan cinta pada saudara-saudara sefakultas atau apapun padanannya, sehingga tidak ingin melewatkan kebaikan dan kemanfaatan lain tersalurkan mungkin dari kontribusi menjadi ketua BEM.
Hanya Allah swt yang bisa membalas kebaikan orang-orang yang telah berkorban itu.
Saya berharap bisa membaca kabar baik tentang calon pemimpin fakultas merah. Dia atau mereka yang berbaris untuk melanjutkan menebar kebaikan dan kemanfaatan di fakultas merah.
Allahu a'lam.

Day 7 ; Badminton time

0



Saya mengaku saja kalau saya tidak pandai bermain badminton. Jadi, kegiatan di hari minggu ini sekedar memenuhi janji kepada bapak-bapak dari Masyindo yang mengundang kami untuk turut serta bermain badminton sekaligus bersilaturahim dengan teman-teman dari Indonesia.

Kami berangkat dengan bus nomor 07 dari bus station didepan kampus NLU. Tiket yang biasa kami gunakan ternyata tidak bisa kami gunakan di rute bus ini, sehingga kami harus membayar 10000 VND. Bus dipenuhi oleh para pemuda kalau saya pikir. Entah mereka mau pergi kemana.

Karena kami tidak tahu tempat latihan badmintonnya, kami pergi ke rumah salah satu mas dari Indonesia yang kami lalu kami kunjungi, namanya mas Badri. Kami lalu naik taksi menuju tempat latihan badminton tersebut. Ternyata kalau kami tahu tempat latihan itu sebelumnya kami tidak perlu naik taksi dan membayar 21000 VND karena tempatnya dilewati juga oleh bus nomor 07.

Kami disambut dengan sangat ramah oleh bapak-bapak Masyindo. Ya, mungkin bagi beberapa mereka, kami ini seperti atau seumuran anak mereka.
Kebanyakan masyarakat Indonesia yang bekerja ke Vietnam adalah bapak-bapak dan mungkin kami-lah yang paling muda diantara masyarakat Indonesia itu. Kami mengobrol dengan beberapa dari mereka, karena sebagian lain sibuk bermain badminton, meskipun pasti mereka menyapa kami.

Kebanyakan bertanya mengenail asal kami, berapa lama akan tinggal di Vietnam dan kesan selama tinggal di Vietnam. Seorang bapak yang tidak jauh usianya dari kami, bercerita bahwa masyarakat Indonesia yang bekerja di Vietnam biasanya minimal menjadi orang kedua di perusahaan/tempat bekerjanya. Misalnya, kalau perusahaan milik orang Korea, masyarakat Indonesia yang bekerja disitu minimal menjadi Asisten Manager. Obrolan menyerempet ke arah pekerjaan, dan bagi seorang muslimah, seperti kami, tidak direkomendasikan untuk bekerja di Vietnam karena kehidupan di Vietnam yang amat hedon. Haha. Kecuali kata beliau kalau ke Vietnam karena menemani suami.

Kami pulang sekitar dhuhur dan melanjutkan aktivitas layaknya manusia normal.

Day 6 ; Doing it alone

0



Karena persediaan dapur kami terutama sayur-sayuran sudah habis, kami merencanakan untuk pergi ke supermarket pada sore hari.
Pagi harinya kami di rumah saja dan melakukan aktivitas pribadi masing-masing, seperti mencuci, membaca buku, browsing, dll.
Kami menaiki bus 104 untuk sampai di supermarket dan kami berhasil sampai dengan selamat. Kami berbelanja kebutuhan selama kurang lebih seminggu, keranjang belanja didominasi oleh makanan. Berkali-kali kami kegirangan menemukan produk dengan label halal atau produk yang diimpor dari Indonesia.
Ya, begitu saja. Kami pulang sekitar jam 6 pm dengan bus nomor 33 yang berhenti didepan gang tempat tinggal.

~o~