Senin, 21 Desember 2015

Indeed, They Are Mujaheed

Bismillah.
Dua hari ini saya dibikin amazed dengan keberanian saudara-saudara seakidah saya di belahan bumi nun jauh di sana.
Mereka yang ada di bumi Syam. Palestina, Suriah, Lebanon, Sebagian Irak, dan Yordania.
Terutama di dua negara yang saya sebutkan paling awal, sedang berjuang, kalau kata ustadz mewakili umat Islam lain yang masih bisa menikmati istirahat malam, untuk memerangi musuh-musuh Allah, kaum kuffar yang telah melakukan kezaliman.
Kalau melihat kebiadaban Zionis Yahudi dan pemerintahan tirannya Bashar Assad sudah pasti kita geram. Then, what? Pasti yang muda-muda jadi bersemangat menggelora untuk bisa berjihad ke sana.
Tetapi, apa sebenarnya yang saudara-saudara kita butuhkan di sana?
Di salah satu video tentang Suriah, saya melihat seorang anak yang saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan pada dunia tentang kondisi mereka. Dia malah mendoakan semoga kita bahagia. Oh, my. You break my heart, kiddo 
Di momen yang lain, mereka hanya meminta doa dari kita semua. That simple. Doa yang bisa kita panjatkan setiap waktu, setiap hari.
Semoga kita tidak pernah lupa melakukannya.
Tidak perlu pandang bulu baik itu saudara-saudara kita di Suriah maupun di Palestina.
Mereka yang berada di Palestina berusaha mewujudkan target besar Rasulullah untuk menjaga Baitul Maqdis. Belum lama ini saya mengetahui bahwa kunci terbebasnya Al Aqsa adalah melalui pintu Syam yang ada di Suriah. Allahu a'lam.
Ketika saya menonton sebuah film dokumenter tentang perjuangan mujahid di Palestina, saya dibikin tercengang dengan akhlak mereka yang luar biasa terpuji. Semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan mereka.
Di suatu momen, saat salah seorang mujahid berhasil merudal tank Zionis Yahudi, ia sangat bergembira dengan keberhasilannya. Tetapi, eng ing eng, euforia keberhasilannya itu disiram syahdu oleh lantunan ayat dari sesama mujahid bahwa keberhasilan mengalahkan musuh itu adalah atas kehendak Allah. Saya agak lupa redaksi ayatnya 
Tetapi, intinya adalah bahwa nggak main-main memang syarat hafal 30 juz alquran saat ingin terjun ke medan perang. Karena itu menjadi bekal yang paling berarti dan paling krusial.
Saat mereka kekurangan amunisi dan logistik, maka meluncurlah ayat akan keyakinan kecukupan rezeki yang akan Allah berikan.
Saat mereka ketakutan, meluncurlah ayat bahwa cukuplah Allah menjadi pelindung dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Saat mereka khawatir dengan kekalahan dan kematian, maka meluncur ayat janji Allah akan balasan yang indah tiada tara.
Pun ketika muncul kebahagiaan yang berlebih, agar tidak menjadi noda yang merusak keikhlasan, maka akan muncul pengingat bahwa kemenangan tidak datang selain dari sisi Allah. Manusia bukan apa-apa.
Aaakkk... Aaaakkkk... Ketika hafalan quran benar menjadi panduan dan tuntunan. Bahkan di saat genting dan mencekam sekelas kondisi perang terbuka. Ayat-ayat Allah meluncur dengan sangat manis. Membangun nuansa penghambaan tingkat tinggi yang membuat mati syahid menjadi sesuatu yang didambakan.
Semoga tidak ada lagi orang yang nyinyir pada kepedulian yang ditunjukkan pada saudara-saudara kita di bumi Syam sana. Jika memang ada semoga karena belum tahu saja. Jika bukan karena itu, seperti sebuah nasyid yang beberapa waktu belakangan saya dengarkan, begini penggalannya,
Hina lah yang diam tak bicara,
Hina lah diri yang tak peduli,
This entry was posted in

Rabu, 28 Oktober 2015

The Time I've Been

Bismillah.
Setiap manusia punya masalah masing-masing. Masalah diri sendiri. Masalah dengan orang lain. Masalah dengan lingkungan. Masalah dengan bangsanya.
Manusia tidak akan peduli dengan masalah di luar dirinya, kalau masalah-masalah itu tidak beririsan dengan kepentingan dirinya. Benar tidak?
Karena itu manusia yang berhasil mengesampingkan masalah dirinya untuk terjun menyelesaikan masalah yang lebih besar, masalah bangsa, masalah umat, sungguh mulia!
Meski orang-orang mencibir. Apa yang orang-orang lihat dilakukannya menurut mereka tidak ada gunanya. Kuno. Tidak kekinian. Sekekinian apapun zaman ini, toh masalahnya tetap sama dan berulang kan? Layaknya sejarah?
#Setelah membaca berita tentang anak-anak yang setia bergulat dengan debu jalanan menyandang jas pertanggungjawaban pada rakyat. Dan mereka jelas dikhianati oleh pemimpinnya.
Maka beramal lah sebaik baiknya, biar Allah dan Rasul-Nya yang menjadi saksi.

Rabu, 29 Juli 2015

Apa yang kamu harapkan

Bismillah.
Life is unexpected. Tapi kadang expexted juga sih. Seru lho hidup itu (lagi sholehah). Bersyukur banget masih dikasih hidup sama Allah. Seru pointnya adalah kalo lagi menjalani fase kehidupan yang sifatnya rutinitas banget, suka playing a game (ampun ya Allah), nebak-nebak gitu apa yang bakal terjadi.
Suatu hari karena emang lagi saat kumat maagnya, perut saya melilit dengan sangat. Sakit banget sampe kepikiran, "kayaknya gue bakal mati deh". Ngebayangin saat itu harus desek-desekkan naik krl untuk sampai di rumah, mau pingsan aja rasanya. Tapi, eng ing eng, ada krl dari manggarai yang langsung balik ke bogor. Seneng bin bersyukur. Krlnya sepi dan saya bisa duduk. Phiuh...Allah Maha Baik.
Hari yang lain, saat nunggu krl pagi, emang biasanya krl pagi itu penuh. Terus saya mikir, oke, ini opsinya,
a. Berdiri didepan yang pada duduk dan itu pegel dan mupeng banget ngeliat yang duduk
b. Berdiri di bagian yang paling depan deket pintu masuk dan sesak nafas karena kegencet-gencet
c. Berdiri di deket pintu masuk kiri yang lumayan nyaman, tapi, kudu rebutan dan saya malas kalo harus rebutan sama ibu-ibu
d. Pasrah aja deh
Eng ing eng, krl yang datang ternyata sepi dan saya dapat tempat duduk. Yuhuuu. Alhamdulillah. Allah Maha Baik.
Sayang banget sama Allah karena Dia pasti ngasih pertolongan di saat genting.
Meskipun kadang diuji supaya sabar, ya, itu emang tugas seorang hamba, kan. Berencana dalam hidup, berdo'a minta sama Allah, serta bersenang dan bersabar hati menerima apa yang Allah gariskan buat hidup kita.
Kalo bisa kayak gitu, hidup itu bakal nyaman banget.
Dan cinta tulus pada Allah nggak akan berkurang karena ujian dan musibah yang datang pada kita.
Idealnya seperti itu. Tapi, ya, maafin hambaMu yang masih suka ble'e karena suka bandel T.T

Minggu, 19 Juli 2015

Becoming an old and having a big family

Bismillah.
Saya berharap tulisan ini tidak saya tulis dalam kondisi yang tidak baik. Secara pikiran maupun secara emosional.
Yep, bertepatan dengan momentum hari raya idul fitri, berkumpul dengan keluarga adalah hal yang lumrah atau malah bagi beberapa orang termasuk keluarga saya menjadi hal WAJIB.
Yang ingin saya soroti di tulisan ini adalah pandangan dari kacamata saya tentang kumpul keluarga ini.
Tentu saat berkumpul dengan keluarga ada hal baik yang dibawa yaitu kebahagiaan dan keceriaan. Tapi tak jarang, ada juga yang membawa kesedihan dan cerita duka. Yeah, everybody has its own story.
Pun keluarga saya, ada bahagianya, dukanya juga nggak sedikit.
Hal yang pengen saya share adalah MENJADI ANAK MUDA ITU NGGAK GAMPANG. Maafkan ya kalo kesannya negatif banget. Tapi, plis maklumi, saya hanya ingin menuangkan pikiran saya.
Kenapa nggak mudah?
Karena kita harus patuh dan taat pada apa kata orangtua. Tahu sendiri, ridha Allah ada pada ridha mereka. Kesusahan mereka membesarkan kita di masa lalu, buat saya sih, unimaginable. Belum lagi buat yang belum mandiri secara finansial. Darah, keringat, dan air mata, yang mereka cucurkan untuk menghidupi kita.
Letak ketidakmudahannya adalah ketika apa yang mereka perintahkan atau atur itu cenderung otoriter, nggak sesuai dengan pemikiran kita, nggak fleksibel, dan lain sebagainya. Saya sih merasa begitu. Apalagi menghadapi old people yang rempong dengan tetek bengek. Oh, my, harus punya stock sabar banyak-banyak. Emang amat sangat nggak mudah. Karena menurut saya, kita 'berhutang' pada mereka. Dan nggak ada jalan lain buat kita yang young people selain bear with that. Kalo memang terasa nyesek dan kesel, saya sarankan lebih baik diam dan menghindar, daripada menimbulkan hal yang nggak diinginkan. Intinya, apapun yang old people lakukan kita harus patuh selama nggak bertentangan dengan syari'at.
Pun juga...MENJADI ORANGTUA JUGA TIDAK MUDAH. Kita punya kewajiban dan tanggungjawab pada anak-anak kita. Menghidupi mereka dan lain sebagainya. Sayang sekali, referensi saya masih sedikit, karena saya belum fully merasakannya. Hehehe.
Buat mereka yang old people banget, pasti membutuhkan tenaga anak muda untuk membantu. Tapi ya, itu, jengkel kalo ngadepin anak muda yang nggak mau ngedenger apa kata orangtua atau suka membantah dan membangkang.
So, what should we do?
Hahaha...gampangnya sih...sikapi tiap fase kehidupan dengan Iman!
Klise banget memang. Tapi buat saya itu menjadi jalan keluar yang jitu.
Kadang kalo saya melihat masalah disekitar orangtua, saya jadi trauma sendiri.
Misal masalah saudara saya, saudari x yang bercerai de el el. Bikin saya mikir, oh, my, punya keluarga itu rada bla bla bla. Jadi khawatir sendiri deh untuk menghadapi fase itu.
Nah, disitu pentingnya iman, takwa, dan kedekatan dengan Allah. Kalo kita nggak punya itu, eh, maksudnya saya, mungkin saya bakal.... hahaha...rahasia lah...
Tapi, dengan adanya bekal kedekatan dengan Allah, kita tahu, bahwa semua manusia pasti punya masalah dan ujian masing-masing. Kita juga punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya, tapi, kita sebagai umat Islam punya koridor, yaitu jangan sampai melanggar syari'at dan yakinlah bahwa Allah selalu setia bersama kita, Dia nggak akan pergi meninggalkan kita seperti manusia yang lain.
Hahaha...itu saja sih yang ingin saya bagi. Semoga bermanfaat dan nggak bikin pusing.
This entry was posted in

Kamis, 16 April 2015

The Shawsank Redemption: Freedom Ain’t Free

Bismillah...

Sinopsis
Tahanan penjara Shawsank nomor 37927 bernama Andrew ‘Andy’ Dufresne, seorang bankir yang ditahan karena kasus pembunuhan atas istrinya. Andy menghabiskan waktu penahanan seumur hidupnya sibuk ‘mengukir’ batu sebagai hobinya. Dia menjadi favorit orang-orang di penjara mulai dari kepala penjara, sipir, hingga teman-teman tahanan. Salah satunya bernama Ellis Boyd Redding aka Red diperankan oleh Morgan Freeman yang juga menjadi narator sepanjang film ini.

Andy yang cerdas membawa nuansa baru di penjara Shawsank, selain menjadi akuntan pribadi kepala penjara, Andy yang tadinya bekerja di tempat laundry berubah menjadi seorang pustakawan, disana dia memberikan jasa akuntan kepada hampir seluruh pegawai di penjara dan karena usahanya bertahun-tahun memberikan surat pada Senat pemerintahan setempat, Andy berhasil mendapatkan dana untuk membangun perpustakaan di penjara Shawsank dan membuatnya menjadi perpustakaan penjara terbaik di New England.


Red and the genk saat menyambut kedatangan Andy
Perkenalannya dengan seorang tahanan muda bernama Tommy Williams pada tahun 1965 mengungkapkan fakta menyakitkan bahwa benar adanya bahwa bukan Andy yang membunuh istri dan kekasihnya. Sesuatu yang disangkalnya jauh hari saat di persidangan, saat sudah masuk Shawsank, dan bahkan malah dijadikan candaan oleh Red dkk kalau seisi tahanan Shawsank pasti akan menyangkal bahwa yang menjadi sebab mereka ditahan adalah sebuah kejahatan. Sayangnya, Andy tidak bisa membuktikan apapun untuk menghapus kejadian ‘salah tangkap’ itu karena saksi kunci tewas dengan keji.


Hobi Andy ‘mengukir’ batu seperti yang saya sebutkan di atas menjadi salah satu kunci akhir yang bahagia film ini.

Komentar
The actor, crew, and official
9.3 itu rating IMDB untuk film ini. Sepertinya menjadi rating tertinggi film sepanjang masa. Tapi, saya tertarik menonton film ini karena obrolan rame di grup whatsapp kelas, yang memuji-muji bagus dan how genious this film was. Dan memang benar. Filmnya jenius, begitupun aktornya. Kabarnya film ini terinspirasi atau adaptasi dari cerita pendek karya Stephen King. Film bergenre crime dan berbau kehidupan penjara yang bakal menjadi favorit saya setelah (atau bakal menjadi sebelum) Prison Break.

Tim Robbins yang memerankan Andy sedari awal masuk Shawsank sudah menarik perhatian karena wow, dia tinggi banget, meskipun wajah nge-blank-nya itu lho agak bikin dia terlihat sok. Yah, meskipun begitu, cara Andy menghabiskan waktu di Shawsank itu luar biasa. Benar-benar jadi orang bermanfaat di Shawsank dengan otak cerdasnya.

Andy Dufresne
Hal yang membuat miris di film ini adalah bagian betapa kejinya hidup di penjara itu. Harus seperti itu mungkin, supaya menimbulkan efek jera dan enggan masyarakat untuk berbuat kejahatan. Tapi, yang tertangkap mata saya adalah udah ngga manusiawi saat Andy mendapati ada belatung di nasi yang akan dia makan, perlakuan saat dia pertama kali tiba di Shawsank, dan betapa korup dan jahatnya pejabat di penjara itu kalau sudah berhubungan dengan uang. Hm, entah bagaimana kalau di penjara Indonesia, mungkin ngga lebih baik dari Shawsank –penjara di tahun 1950-1960an (how negative, za!). Tapi, kalau masalah makanan, ada sih kakak kelas yang bahas di skripsinya mengenai kualitas gizi termasuk makanan di rutan, dan itu menyedihkan, hm, ngga tau ya, sampe se-drama ada belatungnya kayak yang Andy alami atau ngga. Hal yang lainnya adalah saat Brooks (salah satu teman Andy) yang sudah masuk Shawsank sejak tahun 1905 akhirnya bebas bersyarat, tapi, karena dia sudah amat sangat terbiasa dengan rutinitas hidup di Shawsank dan saat kembali ke masyarakat, dia tidak bisa beradaptasi lagi, kayak, what’s the point gitu hidup kayak gini, dan berakhir dengan gantung diri. Menyedihkan. Banget.

Ini suasana kalau pagi di Shawsank saat dilakukan penghitungan jumlah tahanan
Film dengan rating 9.3 tentu tidak mengecewakan. Banyak hikmah yang bisa diambil. Kalau untuk saya pribadi, cara Andy memandang hidupnya di Shawsank, memposisikan dirinya sehingga bisa bermanfaat, itu poin yang paling menarik.

Brotherhood Andy dan Red juga menjadi bagian yang sweet, cute, dan menyentuh. Hahaha.

Andy yang menghabiskan waktu puluhan tahun untuk bisa membobol batu yang menyusun penjara Shawsank, membuat saya berpikir lagi tentang arti ketekunan dan bersabar dalam proses kehidupan kita. Sedih, geli, sekaligus kagum, saat Andy udah berhasil membobol tembok kamarnya, dia masih harus berjuang melewati gorong-gorong dan septi tank (ini bener ngga ya ejaannya) sepanjang lima kali lapangan football=457 meter yang dia lewati pake muntah-muntah dan setelah itu dia baru bisa menikmati kebebasan.

Sangat penting untuk punya harapan dan motivasi. Saya setuju dengan Andy bahwa harapan yang dia punya adalah hal terbaik selama dia berada di penjara. Pun setelah bebas, Andy tetap punya motivasi, bagaimana dia mau menghabiskan hidupnya. Dua hal itu, harapan dan motivasi, membuat kebebasan menjadi berarti. Kalau ngga menemukan itu, ya, sangat terbuka peluang untuk end up seperti Brooks. Itu yang hampir terjadi pada Red setelah 40 tahun akhirnya dia bebas dari Shawsank, dia bahkan masih membawa kebiasaan dia untuk izin setiap mau bak. Frustasi. Tapi, berakhir dengan senyuman lebar saat Red bisa melihat birunya samudera pasifik bareng Andy. Hahaha. Maaf ya, jadi banyak spoiler ^^v. Jenius dan menginspirasi, dua kata buat film ini >.<

Semoga bermanfaat ya :D dan happy watching (buat yang tergoda untuk nonton, wkwkwk ^^v) 
This entry was posted in

Selasa, 14 April 2015

Nowdays, what (I and you) do like?


Bismillah.



Suatu sore di kelas bimbel, saya menanyakan kepada salah satu adik yang belajar disitu tentang siapa yang dia sukai saat ini (entertainer semacam itulah) dan dia menjawab, 1D, hm, oke, tipikal remaja putri. Lalu saya bertanya lagi kepada adik yang lain -remaja putra dan dia mengangkat bahu, tapi, yang saya tahu dia suka sekali dengan games. Jadi, yang saya dapat sedikit simpulkan dari percakapan sore itu, remaja putra dan putri sekarang ini suka sekali dengan 1D, games, dunia facebook, line, bbm, instagram, twitter, segala macam media sosial, mungkin ada yang lain tapi saya terlalu kuper untuk tahu. Kalau saya memperhatikan adik saya yang berada di sekolah menengah pertama, memang termasuk tipikal remaja sekarang. Meskipun sekolah di sekolah IT (Islam Terpadu), kalau sudah di rumah, hobinya ya itu, lama-lama didepan smartphone, chatting dengan teman-temannya di bbm, rajin update halaman facebook, download lagu-lagu 1D, atau lama-lama didepan komputer, ngegames. Kalau saya ajakin muraja’ah hafalannya, hhh, ampun-ampunan susahnya.

Saya jadi teringat masa remaja saya (oh, my, sadar banget kalau udah mulai tua). Hm, tidak jauh beda sih dengan mereka sekarang ini. Mengikuti apa yang tren di saat itu. Kalau di zaman saya dulu, saya dan teman-teman suka dengan drama asia dan telenovela, hahaha. Saya baru kenal yang kebarat-baratan saat di sekolah menengah atas, Justin Bieber, Twilight saga, de el el.

Oke, itu momen yang menyedihkan tapi penuh dengan penyadaran bahwa belum beda, dulu dan sekarang. Remaja-remaja sekarang terpaksa terseret oleh arus ‘apa yang sedang ngetren’ yang sayangnya, yang memegang ‘tren kekinian’ (kalau menurut saya) bukan orang-orang dengan dasar kebaikan yang kuat. Saya tidak bermaksud menjudge boyband –yang beberapa waktu lalu datang ke Indonesia dan kehilangan satu personilnya- kurang dengan nilai kebaikan, tapi, ya, apa mau dikata kalau lirik yang mereka dengung-dengungkan adalah soal cinta kepada makhluk fana bernama manusia, itu lagi dan itu lagi. Jadilah, yang remaja-remaja kejar sekarang ini adalah how to get boyfriend and girlfriend. Meskipun, mungkin ngga semua seperti itu (tapi yang saya lihat, mostly seperti itu).

Mungkin salah satu penyebabnya adalah (kalau yang coba saya rasakan dan posisikan sebagai seorang remaja), kita kekurangan stok orang-orang yang patut dijadikan contoh dan orang yang mengarahkan ke role model terbaik seorang muslim, beliau yang sudah jelas disebutkan di al-qur’an sebagai suri tauladan terbaik kita, nabi Muhammad (peace and blessing be upon him). Remaja sekarang juga mungkin ngga menganggap bahwa nabi kita ini adalah the coolest person, makanya mereka cari-cari yang lain. Ini mungkin loh ya.

Sedih T.T, bahkan adik saya ketika diarahkan untuk mendengar lagu-lagu yang lebih baik dari lagu-lagu –boyband you know what, ekspresinya itu lho seperti mengatakan ‘oh, yeah, it’s good, but it’s not cool enough and not nowdays enough’. Hahaha. Saya pribadi sih menganggap kalau berhadapan dengan remaja itu susah susah gampang (see, susahnya 2x lipat).

And di kesempatan ini saya ingin berbagi sekelumit cerita tentang seorang remaja berdarah Bosnia, bernama Fatih Seferagic (kata dia bacanya; Fatih (dengan makharijul huruf hijaiyah, yang cuma bisa diucapkan dengan fasih oleh orang yang bisa ngomong bahasa arab and Sefaragij). Usianya 20 tahun sekarang (saya telat banget kenal dia, karena sepertinya dia udah banyak dikenal saat usianya sekitar 17 tahun) dan dia hafidz qur’an, qori', dan sering jadi imam di beberapa sholat tarawih –berdasarkan dokumentasi yang tersebar di youtube. Mungkin sebenarnya banyak remaja muslim Indonesia yang sudah hafal qur’an, tapi, nggak banyak yang terblow up media massa dan jadi sebeken Fatih. Dan salah satu faktor yang membuat dia terkenal adalah karena dia yeah-ganteng. Saya nggak bermaksud untuk menitik beratkan kebekenan Fatih karena dia good looking saja–meskipun itu sangat mendukung, tapi, saya senang karena dia muncul dan dikenal sebagai seorang hafidz qur’an. Dan itu harusnya yang diperhatikan orang-orang yang menyukainya. Hafidz qur’an di usia muda. Prestasi yang ngga biasa.
Menjadi remaja dengan kekuatan fisik serta akal luar biasa, harus dieksploitasi dengan tepat. Kejar sesuatu yang long lasting manfaatnya dan nggak melulu duniawi. Oke, mengejar dua hal tersebut ngga lantas membuat hidup kita jadi seserius itu kok. Islam itu indah dan menyenangkan. Nggak masalah untuk menjadi kocak dan dodol (asal ngga lewat batas). Dan remindernya adalah meskipun kita berlabel remaja, bukan berarti level dosa kita dibawah orang dewasa atau orang tua. Kalau standar dunia ada anak-remaja-dewasa-tua, standar akhirat dan hisab itu adalah asal kita sudah baligh, kita memikul dosa dan pahala masing-masing, kita dipandang sama dengan manusia dewasa dan tua.

Hahaha...nulis hal ini membuat saya kangen dengan masa muda (oke, salah satu teman saya masih ngotot kalau saya dan dia di 20-an ini masih muda, tapi, not that young). Dan kalau sedari usia muda sudah mengejar jalan kebaikan yang hakiki a.k.a. akhirat dan memupuk kebaikan, kehidupan dunia itu jadi lebih terarah dan nggak ada momen-momen buat galau lagi (in sya Allah) dan kita ngga akan lelah atau frustasi buat ngikutin tren yang setiap detik berubah sesuai ‘yang punya modal’, malah kita sangat berkesempatan buat menjadi contoh buat remaja-remaja saat ini, see, kita adalah umat terbaik!  



Dan buat saya yang sudah not that young alias 20-an, mungkin berasa (agak) telat, tapi, better late than never (quote klasik), tetaplah teguh di jalan kebaikan ini meskipun banyak godaan dan ujian saat menjadi ‘the freak unique one’ dan jadilah teman, pendamping buat adik-adik yang usianya lebih muda dari kita (sebenarnya mereka itu butuh teman buat jadi tong sampah –pendengar yang baik bukan kritikus untuk selanjutnya mereka percayai untuk dimintai saran dan nasihat –meskipun itu tidak terjadi dalam waktu singkat).

Semoga bermanfaat.

Note to myself and my beloved brothers –MFA, MKM, MIJ

credit to: videonya Fatih Sefaragic, id.muslimvillage.com, amproudtobeamuslim.blogspot.com
This entry was posted in

Selasa, 31 Maret 2015

Bicara soal film Indonesia


Bismillah.

Yesterday...

Tanggal 30 Maret 2015. Nothing special sebenarnya. Hanya, teringat salah satu tayangan di salah satu stasiun televisi nasional yang membahas tentang perfilman nasional dalam rangka mendekati hari film nasional RI.

Pembahasan yang menarik karena sebagai orang yang suka nonton film, mendengar pembicaraan mengenai film dari balik layar dan dari point of view seorang sutradara, produser, pemain film, exhibitor, dan lain-lain, that's really something...that can make my heart beat faster than normal. Aaakkk...




Meskipun pembahasannya mengenai masalah yang klasik (eh?). Seperti, mengapa penonton film Indonesia jumlahnya sedikit? Yeah...
Dari tayangan tersebut disimpulkan ada beberapa sebabnya, which is?

Film Indonesia itu...ceritanya masih begitu-begitu aja.
Hm, setuju, ceritanya begitu doang dan dikemas seadanya. Padahal kalau cerita dalam suatu film itu sederhana tapi dikerjakan dengan niat yang menggelora dan punya idealisme yang kuat, I think it can be huge!

Sebab selanjutnya adalah dari aspek penonton yang...kurang nasionalis (?). Karena kata 'mereka', film luar itu lebih bagus dari film Indonesia. Hehehe, kurang lebih setuju. Meskipun ngga bisa dipukul rata premis tersebut, karena harus pilih-pilih film luar dengan genre dan topik apa dulu nih...

Dan kalo bicara soal nasionalis, kurang setujunya ada di poin, kalau film Indonesia yang diputer di bioskop itu memang punya ide cerita yang bagus dan ngga 'aneh-aneh', saya happy happy saja menontonnya.

Yiey...saya masih bisa dibilang nasionalis kan? Waktu itu saya memilih nonton Pendekar Tongkat Emas kok dibandingkan The Hobbit, ahahaha...

Selain ide cerita, saya sebagai penonton film, juga sangat dipengaruhi oleh pemain filmnya! Hahaha. Ngga melulu karena tampang, kalau aktingnya keren, ya, keren aja. Kalau menurut saya pribadi, insting pemain film ketika memilih film yang akan diperankannya menjadi salah satu faktor either film itu bakal bagus atau ngga. Jadi, kalau film Indonesia yang akan saya tonton yang berperan adalah Mr. Saputra atau Mrs. Hasiholan atau siapa lagi ya...(aaak...ketahuan bukan fans film Indonesia nih) saya lebih optimis akan keluar dari bioskop dengan antusias karena satisfied dengan film yang sudah saya tonton.




Dan ketika membicarakan film nasional yang masih terpuruk, ada banyak sebab, yang mungkin bisa berkaitan dengan poin yang sudah saya sebutkan diatas, dan yang lain misalnya, dukungan pemerintah. Eng ing eng...

Kalau kata Mr. Dewanto, dia memberi contoh, saat dia sedang di Korea untuk mengerjakan sebuah film di suatu gedung area publik milik pemerintah, pemerintah setempat tidak akan memberikan charge alias free saat kru film akan mengambil adegan di tempat tersebut. Bandingkan dengan Indonesia yang malah sebaliknya akan menaikkan harganya. Itu bentuk dukungan kecil.

Bentuk dukungan pemerintah yang lain adalah dana alias investasi. Kalau pemerintah benar-benar punya tekad, lewat film, kita bisa membuat kaya negeri kita. Kita bisa menyalurkan nilai-nilai dan ideologi kebaikan. Pun sebaliknya.

Mungkin 'cuma' film, tapi, itu industri yang besar yang perputaran uangnya...aaakkkk...dan bisa jadi alat propaganda yang ampuh!

So, saya sih berharap, penguasa dunia perfilman nasional itu orang-orang yang memang punya kecintaan -ngga cuma soal uang (yeah, meskipun uang is hugething) -karena dampak film itu sedikit banyak bisa mengguncang isi otak seseorang- tapi juga punya niat untuk menanamkan nilai dan hm, menghibur.

Okeee...ini sekedar pendapat saya yang bukan siapa-siapa yang suka (kok) dengan film Indonesia (yang keren). ^^v

Fin.

(Trivia) Hasil obrolan saya dan teman saya Miss F tentang film Indonesia yang keren...
1. AADC
2. Ayat-ayat cinta

3. 99 cahaya di langit Eropa
4. Habibie-Ainun
5. Nagabonar
6. 5 cm
Tidaaak..."apa ya?" adalah kata yang kami berdua sering ucapkan ketika membuat list yang tidak panjang ini...T.T mungkin saya benar kurang nasionalis (?)
This entry was posted in

Senin, 23 Maret 2015

S.E.S

Bismillah.
Harusnya ngga boleh merasa lelah. Tapi bagaimana kalau merasa jenuh?
Jenuh dengan diri ini, trying hard not to complaining...karena apapun yang terjadi LEBIH BANYAK hal yang harus dan patut disyukuri.
Mau bagaimana? Nggak akan bisa berpindah ke step yang lain kecuali step ini beres lebih dulu...
Kayak ada rantai yang mengikat...sebenarnya ngga begitu kencang tapi tetap aja it's really suffocating. Suffocating. Suffocating.
Tapi bukannya ngga bisa diselesaikan. Cuma butuh effort dan sacrifice LEBIH untuk lepas dari semua ini.
Allah hold my hand T.T

Senin, 16 Februari 2015

Meet Up! and Bogor Culinary Tiny Story


Bismillah.

Dulu kala, sewaktu masih exchange di Viet nam, kami bertemu dengan seorang kakak yang baik banget, hehe. Kami sempat jalan-jalan bareng ke Kamboja. And? Waktu itu kami berjanji untuk ketemuan dan jalan-jalan lagi sewaktu sudah pulang ke Indonesia.

Jadilah, kami janjian untuk ketemu di tanggal 15 Februari kemarin >.<
Aaakkk, seneng deh ketemu lagi. Kakak tersebut berkata, kita berlima tambah kurus, hua...hua...

Meeting point kami adalah di depan stasiun Bogor. Selanjutnya ke?
Huahaha...sebenarnya kita belum tau mau kemana saat itu, tapi, karena kakak tersebut laper, jadilah kita ke daerah yang terkenal dengan kulinernya.

Kata Mr. N, daerah kuliner di Bogor terbagi menjadi beberapa tempat, ada Surya Kencana, Bangbarung, Taman Kencana, dan satu lagi aku lupa karena Miss Q yang ingat.
Yang kami kunjungi pertama kali adalah Surya Kencana alias Surken.

Disana kami mencoba laksa, toge goreng, bihun goreng, dan combro.
Menurut saya, laksanya enak banget >.< combronya juga >.< padahal jarang-jarang saya suka combro, karena saya nggak begitu suka dengan oncomnya. Toge gorengnya ya seperti itu saja, karena saya nggak terlalu suka makanan yang asam. Begitu juga dengan bihunnya.

Kalau belum tahu laksa itu makanan macam apa, coba search di search engine saja ya, hehe. Tapi, persamaan dari laksa dan toge goreng adalah sama-sama makanan dengan bahan dasar toge!
Harga masing-masing 12k, 12k, lupa nanya ke Miss Q, dan 2k. Murah kan? I think so :)

Jadi Surken ini adalah nama jalan, nah, sepanjang jalan itulah isinya kuliner khas Bogor semua. Murah meriah, seperti kata Mr. N. Cuma, Miss Q berkata harus hati-hati kalau cari kuliner disitu, karena termasuk kawasan Chinese yang menjual makanan haram juga macam yang mengandung babi.

Destinasi selanjutnya setelah Surken adalah Taken alias Taman Kencana. Kami pergi kesana karena saya nagging ke mereka, hahaha, malu banget karena saya juga belum pernah pergi kesana.

Sebenarnya disana terdapat tempat makan yang murah meriah, tapi, kami akhirnya terdampar di tempat makan yang didesain creepy bin horror bernama DBC alias Death by Chocolate. Saya nggak terlalu merekomendasikan tempat ini karena muahal ^^v
Tapi, seperti namanya, menu coklatnya emang bikin death banget. Satu sendok teh aja udah bikin enek (ini ejaannya bener ngga ya).
in front of DBC

Kami mampir ke Taman Kencana yang begitu, hehehe ^^`

Karena Mr. N berhasil membuat kami semua jalan kaki jauh -lebih dari yang biasa saya lakukan-, akhirnya kami mencari tempat buat ngadem yang lain dan nggak bukan adalah mall nya IPB, Botani Square. Kami menghabiskan sesorean disana dan pulang ba'da maghrib.

Dan akhirnya kami pulang setelah sebelumnya melewati jembatan penyeberangan bawah tanah.

Seneng sekali bisa jalan-jalan lagi bareng mereka. Dan melakukan first time thing yang belum pernah saya lakukan di Bogor, hahaha, malu banget. Thanks to Miss Q deh yang tau banget kuliner spot di Bogor, emang jago jalan-jalan banget deh dia. Nggak di Indonesia, di Viet nam, di Kamboja, dia selalu yang jadi peta kami berlima. Meskipun kami suka jadi nyebelin banget kalo bilang 'terserah'.

Ngobrol-ngobrol bareng mereka yang nge-refresh saya supaya lebih open minded, jadi kenangan tersendiri buat saya. Dan melihat kota Bogor yang bakal keren kalo jadi lebih bersih dan lebih tertib.


shaking selfie di jembatan bawah tanah :)
Ah, dan satu lagi, karena kakak itu, saya jadi tau soal bagaimana memperlakukan anak jalanan. Kakak itu aktif di Sahabat Anak, salah satu komunitas yang mengajar anak-anak marjinal. Salah satu petuah kakak itu adalah kalau ketemu sama anak kecil yang meminta-minta, mending jangan dikasih uang tunai, karena kadang uang yang kita kasih itu bukan untuk mereka, ada juga yang malah digunakan untuk membeli barang-barang yang nggak baik. Kalau kalian lagi makan saat anak-anak itu meminta-minta, ajakin makan aja.

Eng ing eng, pas kami lagi makan, beneran ada anak yang meminta-minta. Saat sampai di meja kami, diajaklah mereka itu oleh kakak kami untuk ikutan makan, awalnya mereka nolak, tapi, akhirnya mereka meng-iyakan dan mengajak teman-temannya yang lain. Lucu sekaligus bikin kasihan deh mereka ini.
thanks a lot kakak :)
Yeah, Indonesia ku, belum beres dengan masalah merawat orang-orang yang kurang beruntung dan harus berjuang sendiri di jalanan yang keras.

Ah, bisa apa aku?
T.T

(Oh ya, maaf atas keterbatasan foto, hehehe, biasanya credit fotonya ke @cocaqori :)
This entry was posted in

Selasa, 27 Januari 2015

Aku? Destruction

Bismillah.

Pusing. Mual. Stomache attack. 
Itu aku banget kalau diserang panik, stress, nggak bisa mengatasi sesuatu, yah, such a circumstances lah.
Padahal udah tau ilmunya, inget Allah, nanti hati kita jadi tenang, begitu disebutkan di QS. Ar ra'd.
Tapi, ya, gitu, aku.
Nangis sampai nggak bisa berhenti-henti dan sesak banget di dada...Ampun...


Kadang bisa kena serangan fisik dari psikis dan ruhiyah yang lemah. Padahal masalah yang diderita nggak besar-besar amat. Nggak akan bikin kiamat seketika.
Hhh, manusia...dhoif...lemah pake banget...
Tapi, itu, aku.

Kamis, 22 Januari 2015

My playlist: West mell...

Bismillah.

Urutannya bukan berarti tingkat kesukaan ya,

1) Shape of my heart

Backstreet Boys.
Tentang seseorang yang punya penyesalan di masa lalu tapi, pengen memperbaikinya dan menunjukkan cinta yang dia rasakan sekarang. 

2) Feeling is gone
M2M.
Dua orang yang menjalin hubungan. Sayangnya, sang gadis udah nggak merasakan cinta diantara mereka. Sudah nggak konek lagi mereka berdua dan bahkan dia merasa akan lebih bahagia kalau sendiri. This girl, nggak tahu harus bagaimana ngasih tau ke that boy kalau dia sudah nggak cinta lagi dan pengen mengakhiri hubungan mereka.

3) Yesterday
The beatles.
Seorang pria yang ditinggalkan kekasihnya di masa lalu tapi, masih terbayang-bayang hingga sekarang kisah masa lalu itu karena kekasihnya nggak ngasih tau ke dia alasan kenapa dia memutuskan hubungan. Dan dia merasa tidak akan menjadi pria yang sama seperti dulu.

4) I don’t love you
My Chemical Romance.
Seseorang yang ditinggal kekasihnya dan tidak akan menahan kekasihnya itu untuk tinggal. Saat kekasihnya pergi, dia meminta kekasihnya itu untuk mengatakan bahwa dia sudah tidak mencintainya lagi seperti dulu. 

5) Penny Lane
The beatles.
Menceritakan tempat bernama penny lane yang disitu terdapat berbagai macam orang. 

6) A Thousand Miles
Vanessa Carlton.
Tentang seseorang yang merindukan orang yang lain dan berharap orang itu juga merindukan dan memikirkannya. Dan dia berharap bisa bertemu dengan orang itu meskipun harus berjalan ribuan mil. 



7) I belong to you
Muse.
Tentang seorang pria yang mencintai seorang wanita. Meskipun kadang dia bingung, dia tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepada wanita itu kalau dia adalah segalanya. 

8) All I have to give
Backstreet Boys.
Seorang pria yang mencintai dengan segenap hatinya. Meskipun dia sendiri tidak bisa memberikan banyak hal untuk wanita itu seperti yang diberikan pria yang sebelumnya bersama wanita itu. Hanya cinta, janji untuk membuat wanita itu tersenyum, dan tidak akan membuat wanita itu menangis yang bisa dia berikan, karena dia tidak bisa hidup tanpa wanita itu.  

9) Me and my broken heart
Rixton.
Seorang wanita yang melukai seorang pria. Dia ingin pergi dari wanita itu, tapi, tidak bisa karena tatapan mata wanita itu. Pria itu ingin merasakan cinta dalam hidupnya dan tidak ingin hancur karenanya.  

10) Don’t say you love me
M2M.
Seorang wanita yang dikenalkan oleh temannya kepada seorang pria. Wanita itu tidak ingin sang pria mengatakan cinta kepadanya karena dia tidak ingin terburu-buru dan merasa bahwa pria itu belum benar-benar mengenalnya. Wanita itu butuh waktu untuk memikirkan semuanya jika sang pria benar-benar menginginkannya.

11) If you’re not the one
Daniel Beddingfield.
Diterangkan segala fakta yang mendukung bahwa seorang pria dan seorang wanita adalah pasangan yang saling mencintai. Sang pria itu berharap wanita itu akan hidup bersama dengannya selamanya karena sang pria tidak kuasa untuk pergi dari sang wanita dan berharap menemukan cara untuk selalu berada di sisi wanita itu. 

12) As long as you love me
Backstreet boys.
Seorang pria yang mencintai seorang wanita. Sang pria berusaha menyembunyikan perasaannya tapi, tidak bisa. Akhirnya, pria itu tidak peduli apapun selama wanita itu mencintainya. 

13) Strawberry fields forever
The beatles.
Aku nggak terlalu ngerti.
Dia ngajak ke strawberry field? Terus nggak usah mengkhawatirkan hidup yang susah, karena semua nggak rii? Entahlah.

14) A thousand years
Christina Perri.
Seseorang yang sudah lama menantikan kekasihnya dan akhirnya bersatu. Dia meminta kekasihnya itu tidak ragu karena dia berjanji akan mencintainya untuk ribuan tahun. 

15) A white demon love song
The Killers.
Tentang white demon yang diminta untuk merasakan cinta?

16) Chasing pavement
Adele.
Seseorang yang kebingungan untuk menyerah atau melanjutkan langkah (pun ketika melanjutkan langkah itu tidak akan membawa dia kemanapun).



17) Still into you
Paramore.
Seseorang yang masih mencintai kekasihnya, setelah segala ha; yang terjadi pada mereka.

18) I will 
The beatles.
Seseorang yang mencintai orang yang lain. Akan mencintainya dia selamanya kalau dia meminta hal itu. Mencintainya meskipun orang itu nggak tau namanya. Akan mencintainya baik ketika mereka bersama maupun berpisah.

19) Drowning
Backstreet boys.
Seorang pria yang tidak bisa meninggalkan kekasihnya. Kekasihnya yang membuat dia tidak bisa bernafas. Setiap kali dia berusaha pergi, dia tidak bisa karena dia tenggelam dalam cinta wanita itu. 


Hahaha. Beberapa lagu diatas soundtrack film. Aku suka beberapa karena nice lyrics beberapa yang lain karena nice melody. ^^v.
Top five? I will, Chasing pavement, If you're not the one, I don't love you, and Drowning.

Aaaa, what's wrong with me?!?!?! Itu hampir semua lagu tentang cinta. Heran yak, padahal the beatles itu dari tahun 1960-an, Backstreet Boys, M2M, Vanessa Carlton, Adele, MCR, Daniel Beddingfield 2000-an, dan Paramore, Rixton, Christina Perry masa kini lah, tapi love is everlasting theme, huh?
This entry was posted in

Bulan Nararya: open up your soul

Bismillah

Synopsis
Tokoh utama di novel ini bernama Nararya Tunggadewi. Seorang terapis di klinik yang merawat orang dengan masalah skizophrenia, istilah ilmiah untuk orang dengan masalah kejiwaan. Tokoh cerdas, berhati mulia seperti arti namanya dan ternyata seperti manusia pada umumnya, punya masalah dalam kehidupannya sendiri. Nararya dihadapkan pada kenyataan bahwa dia juga berpotensi mengidap skizophrenia karena tekanan yang dihapinya?
Sekelumit masalah cinta, pernikahan, perceraian, dan persahabatan dengan Moza dan Angga. Lalu, interaksinya dengan pasien-pasien yang luar biasa seperti Pak Bulan, Sania, dan Yudhistira. Juga tentang keteguhan Nararya untuk memulai metode baru dalam penyembuhan skizophrenia melalui transpersonal. Metode yang tidak umum digunakan untuk menyembuhkan pasien dengan penyakit mental.


Comment
Hah, maaf sekali, sinopsisnya cuma sekelumit. Hahaha, jadi inget kebiasaan yang suka sama sinopsis dengan spoilernya. Kebiasaan yang dicemooh teman-teman terdekat yang juga suka buku atau film.
Tapi, memang saya tidak bisa menceritakan dengan gamblang, karena, novel ini...luar biasa! Jadi, kalian harus membacanya sendiri J
Memang isinya sangat psikologi, yang bikin saya butuh mikir dan mencerna lebih dulu untuk memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Tapi, eng ing eng, saya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu hm, sesiang dan sesorean. Novel yang psikologi banget tapi bisa membuat saya betah dan kagum karena hal yang diluar apa yang saya pelajari dan diluar pengetahuan umum kebanyakan bisa dijelaskan dan diceritakan dengan sangat menyenangkan.
Kalau udah masuk ke cerita Nararya dkk jadi susah berhenti. Hahaha, tetiba ingat yang disebutkan di novel ini mengenai beda antara seniman dan pasien skizophrenia, itu adalah kemampuan mereka untuk bisa kembali ke realita.
Aaaa!!! Keren deh pokoknya novel ini. Membuat saya jadi punya point of view yang baru tentang orang dengan penyakit mental. Membuat saya juga jadi harus lebih berhati-hati menyebut orang dengan masalah kejiwaan dan memperlakukan mereka. Ah, memang sesering apa saya berinteraksi dengan mereka? Atau emang pernah? Hahaha. Dan...saya sepertinya jadi lebih memahami diri saya sendiri. Kondisi tertekan? Halusinasi? Hahaha.
Nilai sastra dan budaya di novel ini menunjukkan kalau penulisnya itu punya wawasan yang luas banget mengenai apa yang dia tulis. Jadi suka.
Gaya bahasanya meliuk-liuk tapi, enak dibaca dan bisa diterima oleh saya yang kadang suka ngeskip bagian-bagian tersebut.

At last, terima kasih banyak buat Sekar beserta koleksinya yang sudah meminjamkan saya novel ini (hahaha, nggak modal banget), membuat saya kembali bersemangat untuk membaca lebih banyak lagi.
          
This entry was posted in

Minggu, 11 Januari 2015

Between papers and screen

Bismillah.
Sebelum nonton:
Penasaran sebenarnya. Pengen tau. Film yang dikomporin dan diperintahkan buat ditonton sebagai orang yang suka nonton film ke movie theater.
Cuma, sebelum nonton ada-ada aja komennya. Sebagai berikut,
Temen sekaligus saudara laki-laki: tonton aja, bagus kok, apalagi pas adegan syahadat masuk islam...beuh...keren.
Komen orang di grup wa: hati-hati, bisa menyebabkan galau.
Temen sekaligus mba: sinetron banget, ftv parah.
Temen selingkaran: bagus kok, romantis gitu, tapi, kayaknya nggak kamu banget.
Setelah nonton: engingeng...aktingnya quite impressive terutama untuk pemeran pemeran utama. Just, agak annoyed sama yang memerankan dokter, ibu dan beberapa extras (no offense ^.^v). Quite good, angle pengambilan gambar, dan view china nya. Apalagi interaksi sama muslim lokal disana, wua, wua, bikin kangen sama masjid dong du di viet nam dan ibu2 baik di masjid itu >.<
Dan setelah baca novel nya? Yuhuuu...on the screen, I got love and Islam. Di novelnya, karakternya terasa lebih kuat, muatan dakwah Islam nya wow...sangat menginspirasi dan membuka mata. Iyalah ya. Tapi mereka saling melengkapi dan punya nilai plus masing-masing.
Meskipun, saat nonton saya suka geli sendiri dan agak mual pas ngeliat adegan yang sooooo cheesy....tolonggg. Thanks to NK partner nonton yang mau jadi korban keluhan saya. Hahahaha.
Saya dan partner nonton punya kesan tersendiri dan qoute yang nempel terus di otak selepas keluar dari movie theater.
Kalau partner nonton terkesan sekali dengan bagaimana pemeran utama pria yang chinese itu bisa masuk Islam, jelas karena hidayah Allah, tapi, bukan karena wanita, dia hanya jadi perantara.
Kalau saya? Hahaha...how he said about marriage...it's not about how life would be after marriage, but, it's about whether he or she can drag his or her family to Jannah. How impressive. That's it. Karena memang itu kan tujuan dari apapun yang kita lakukan di dunia ini. Apakah setitik amalan itu akan membawa kita ke surga? Atau malah menjerumuskan kita ke neraka? And marriage is not a piece of cake....it's definitely huge! Iyalah, akad nya saja menjadi perjanjian yang menggetarkan bumi dan langit.
Oke oke, ini nggak bermaksud buat bikin galau tentang pernikahan. Hanya, ini menjadi sebuah pelurusan kembali tentang your intention about marriage. For me, it is.
Yeah, yeah, anyway, semoga bermanfaat :)
Assalamualaikum Beijing!