Kamis, 22 Januari 2015

Bulan Nararya: open up your soul

Bismillah

Synopsis
Tokoh utama di novel ini bernama Nararya Tunggadewi. Seorang terapis di klinik yang merawat orang dengan masalah skizophrenia, istilah ilmiah untuk orang dengan masalah kejiwaan. Tokoh cerdas, berhati mulia seperti arti namanya dan ternyata seperti manusia pada umumnya, punya masalah dalam kehidupannya sendiri. Nararya dihadapkan pada kenyataan bahwa dia juga berpotensi mengidap skizophrenia karena tekanan yang dihapinya?
Sekelumit masalah cinta, pernikahan, perceraian, dan persahabatan dengan Moza dan Angga. Lalu, interaksinya dengan pasien-pasien yang luar biasa seperti Pak Bulan, Sania, dan Yudhistira. Juga tentang keteguhan Nararya untuk memulai metode baru dalam penyembuhan skizophrenia melalui transpersonal. Metode yang tidak umum digunakan untuk menyembuhkan pasien dengan penyakit mental.


Comment
Hah, maaf sekali, sinopsisnya cuma sekelumit. Hahaha, jadi inget kebiasaan yang suka sama sinopsis dengan spoilernya. Kebiasaan yang dicemooh teman-teman terdekat yang juga suka buku atau film.
Tapi, memang saya tidak bisa menceritakan dengan gamblang, karena, novel ini...luar biasa! Jadi, kalian harus membacanya sendiri J
Memang isinya sangat psikologi, yang bikin saya butuh mikir dan mencerna lebih dulu untuk memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Tapi, eng ing eng, saya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu hm, sesiang dan sesorean. Novel yang psikologi banget tapi bisa membuat saya betah dan kagum karena hal yang diluar apa yang saya pelajari dan diluar pengetahuan umum kebanyakan bisa dijelaskan dan diceritakan dengan sangat menyenangkan.
Kalau udah masuk ke cerita Nararya dkk jadi susah berhenti. Hahaha, tetiba ingat yang disebutkan di novel ini mengenai beda antara seniman dan pasien skizophrenia, itu adalah kemampuan mereka untuk bisa kembali ke realita.
Aaaa!!! Keren deh pokoknya novel ini. Membuat saya jadi punya point of view yang baru tentang orang dengan penyakit mental. Membuat saya juga jadi harus lebih berhati-hati menyebut orang dengan masalah kejiwaan dan memperlakukan mereka. Ah, memang sesering apa saya berinteraksi dengan mereka? Atau emang pernah? Hahaha. Dan...saya sepertinya jadi lebih memahami diri saya sendiri. Kondisi tertekan? Halusinasi? Hahaha.
Nilai sastra dan budaya di novel ini menunjukkan kalau penulisnya itu punya wawasan yang luas banget mengenai apa yang dia tulis. Jadi suka.
Gaya bahasanya meliuk-liuk tapi, enak dibaca dan bisa diterima oleh saya yang kadang suka ngeskip bagian-bagian tersebut.

At last, terima kasih banyak buat Sekar beserta koleksinya yang sudah meminjamkan saya novel ini (hahaha, nggak modal banget), membuat saya kembali bersemangat untuk membaca lebih banyak lagi.
          
Reactions:
This entry was posted in

0 comments:

Posting Komentar