Selasa, 14 April 2015

Nowdays, what (I and you) do like?


Bismillah.



Suatu sore di kelas bimbel, saya menanyakan kepada salah satu adik yang belajar disitu tentang siapa yang dia sukai saat ini (entertainer semacam itulah) dan dia menjawab, 1D, hm, oke, tipikal remaja putri. Lalu saya bertanya lagi kepada adik yang lain -remaja putra dan dia mengangkat bahu, tapi, yang saya tahu dia suka sekali dengan games. Jadi, yang saya dapat sedikit simpulkan dari percakapan sore itu, remaja putra dan putri sekarang ini suka sekali dengan 1D, games, dunia facebook, line, bbm, instagram, twitter, segala macam media sosial, mungkin ada yang lain tapi saya terlalu kuper untuk tahu. Kalau saya memperhatikan adik saya yang berada di sekolah menengah pertama, memang termasuk tipikal remaja sekarang. Meskipun sekolah di sekolah IT (Islam Terpadu), kalau sudah di rumah, hobinya ya itu, lama-lama didepan smartphone, chatting dengan teman-temannya di bbm, rajin update halaman facebook, download lagu-lagu 1D, atau lama-lama didepan komputer, ngegames. Kalau saya ajakin muraja’ah hafalannya, hhh, ampun-ampunan susahnya.

Saya jadi teringat masa remaja saya (oh, my, sadar banget kalau udah mulai tua). Hm, tidak jauh beda sih dengan mereka sekarang ini. Mengikuti apa yang tren di saat itu. Kalau di zaman saya dulu, saya dan teman-teman suka dengan drama asia dan telenovela, hahaha. Saya baru kenal yang kebarat-baratan saat di sekolah menengah atas, Justin Bieber, Twilight saga, de el el.

Oke, itu momen yang menyedihkan tapi penuh dengan penyadaran bahwa belum beda, dulu dan sekarang. Remaja-remaja sekarang terpaksa terseret oleh arus ‘apa yang sedang ngetren’ yang sayangnya, yang memegang ‘tren kekinian’ (kalau menurut saya) bukan orang-orang dengan dasar kebaikan yang kuat. Saya tidak bermaksud menjudge boyband –yang beberapa waktu lalu datang ke Indonesia dan kehilangan satu personilnya- kurang dengan nilai kebaikan, tapi, ya, apa mau dikata kalau lirik yang mereka dengung-dengungkan adalah soal cinta kepada makhluk fana bernama manusia, itu lagi dan itu lagi. Jadilah, yang remaja-remaja kejar sekarang ini adalah how to get boyfriend and girlfriend. Meskipun, mungkin ngga semua seperti itu (tapi yang saya lihat, mostly seperti itu).

Mungkin salah satu penyebabnya adalah (kalau yang coba saya rasakan dan posisikan sebagai seorang remaja), kita kekurangan stok orang-orang yang patut dijadikan contoh dan orang yang mengarahkan ke role model terbaik seorang muslim, beliau yang sudah jelas disebutkan di al-qur’an sebagai suri tauladan terbaik kita, nabi Muhammad (peace and blessing be upon him). Remaja sekarang juga mungkin ngga menganggap bahwa nabi kita ini adalah the coolest person, makanya mereka cari-cari yang lain. Ini mungkin loh ya.

Sedih T.T, bahkan adik saya ketika diarahkan untuk mendengar lagu-lagu yang lebih baik dari lagu-lagu –boyband you know what, ekspresinya itu lho seperti mengatakan ‘oh, yeah, it’s good, but it’s not cool enough and not nowdays enough’. Hahaha. Saya pribadi sih menganggap kalau berhadapan dengan remaja itu susah susah gampang (see, susahnya 2x lipat).

And di kesempatan ini saya ingin berbagi sekelumit cerita tentang seorang remaja berdarah Bosnia, bernama Fatih Seferagic (kata dia bacanya; Fatih (dengan makharijul huruf hijaiyah, yang cuma bisa diucapkan dengan fasih oleh orang yang bisa ngomong bahasa arab and Sefaragij). Usianya 20 tahun sekarang (saya telat banget kenal dia, karena sepertinya dia udah banyak dikenal saat usianya sekitar 17 tahun) dan dia hafidz qur’an, qori', dan sering jadi imam di beberapa sholat tarawih –berdasarkan dokumentasi yang tersebar di youtube. Mungkin sebenarnya banyak remaja muslim Indonesia yang sudah hafal qur’an, tapi, nggak banyak yang terblow up media massa dan jadi sebeken Fatih. Dan salah satu faktor yang membuat dia terkenal adalah karena dia yeah-ganteng. Saya nggak bermaksud untuk menitik beratkan kebekenan Fatih karena dia good looking saja–meskipun itu sangat mendukung, tapi, saya senang karena dia muncul dan dikenal sebagai seorang hafidz qur’an. Dan itu harusnya yang diperhatikan orang-orang yang menyukainya. Hafidz qur’an di usia muda. Prestasi yang ngga biasa.
Menjadi remaja dengan kekuatan fisik serta akal luar biasa, harus dieksploitasi dengan tepat. Kejar sesuatu yang long lasting manfaatnya dan nggak melulu duniawi. Oke, mengejar dua hal tersebut ngga lantas membuat hidup kita jadi seserius itu kok. Islam itu indah dan menyenangkan. Nggak masalah untuk menjadi kocak dan dodol (asal ngga lewat batas). Dan remindernya adalah meskipun kita berlabel remaja, bukan berarti level dosa kita dibawah orang dewasa atau orang tua. Kalau standar dunia ada anak-remaja-dewasa-tua, standar akhirat dan hisab itu adalah asal kita sudah baligh, kita memikul dosa dan pahala masing-masing, kita dipandang sama dengan manusia dewasa dan tua.

Hahaha...nulis hal ini membuat saya kangen dengan masa muda (oke, salah satu teman saya masih ngotot kalau saya dan dia di 20-an ini masih muda, tapi, not that young). Dan kalau sedari usia muda sudah mengejar jalan kebaikan yang hakiki a.k.a. akhirat dan memupuk kebaikan, kehidupan dunia itu jadi lebih terarah dan nggak ada momen-momen buat galau lagi (in sya Allah) dan kita ngga akan lelah atau frustasi buat ngikutin tren yang setiap detik berubah sesuai ‘yang punya modal’, malah kita sangat berkesempatan buat menjadi contoh buat remaja-remaja saat ini, see, kita adalah umat terbaik!  



Dan buat saya yang sudah not that young alias 20-an, mungkin berasa (agak) telat, tapi, better late than never (quote klasik), tetaplah teguh di jalan kebaikan ini meskipun banyak godaan dan ujian saat menjadi ‘the freak unique one’ dan jadilah teman, pendamping buat adik-adik yang usianya lebih muda dari kita (sebenarnya mereka itu butuh teman buat jadi tong sampah –pendengar yang baik bukan kritikus untuk selanjutnya mereka percayai untuk dimintai saran dan nasihat –meskipun itu tidak terjadi dalam waktu singkat).

Semoga bermanfaat.

Note to myself and my beloved brothers –MFA, MKM, MIJ

credit to: videonya Fatih Sefaragic, id.muslimvillage.com, amproudtobeamuslim.blogspot.com
Reactions:
This entry was posted in

0 comments:

Posting Komentar