Minggu, 19 Juli 2015

Becoming an old and having a big family

Bismillah.
Saya berharap tulisan ini tidak saya tulis dalam kondisi yang tidak baik. Secara pikiran maupun secara emosional.
Yep, bertepatan dengan momentum hari raya idul fitri, berkumpul dengan keluarga adalah hal yang lumrah atau malah bagi beberapa orang termasuk keluarga saya menjadi hal WAJIB.
Yang ingin saya soroti di tulisan ini adalah pandangan dari kacamata saya tentang kumpul keluarga ini.
Tentu saat berkumpul dengan keluarga ada hal baik yang dibawa yaitu kebahagiaan dan keceriaan. Tapi tak jarang, ada juga yang membawa kesedihan dan cerita duka. Yeah, everybody has its own story.
Pun keluarga saya, ada bahagianya, dukanya juga nggak sedikit.
Hal yang pengen saya share adalah MENJADI ANAK MUDA ITU NGGAK GAMPANG. Maafkan ya kalo kesannya negatif banget. Tapi, plis maklumi, saya hanya ingin menuangkan pikiran saya.
Kenapa nggak mudah?
Karena kita harus patuh dan taat pada apa kata orangtua. Tahu sendiri, ridha Allah ada pada ridha mereka. Kesusahan mereka membesarkan kita di masa lalu, buat saya sih, unimaginable. Belum lagi buat yang belum mandiri secara finansial. Darah, keringat, dan air mata, yang mereka cucurkan untuk menghidupi kita.
Letak ketidakmudahannya adalah ketika apa yang mereka perintahkan atau atur itu cenderung otoriter, nggak sesuai dengan pemikiran kita, nggak fleksibel, dan lain sebagainya. Saya sih merasa begitu. Apalagi menghadapi old people yang rempong dengan tetek bengek. Oh, my, harus punya stock sabar banyak-banyak. Emang amat sangat nggak mudah. Karena menurut saya, kita 'berhutang' pada mereka. Dan nggak ada jalan lain buat kita yang young people selain bear with that. Kalo memang terasa nyesek dan kesel, saya sarankan lebih baik diam dan menghindar, daripada menimbulkan hal yang nggak diinginkan. Intinya, apapun yang old people lakukan kita harus patuh selama nggak bertentangan dengan syari'at.
Pun juga...MENJADI ORANGTUA JUGA TIDAK MUDAH. Kita punya kewajiban dan tanggungjawab pada anak-anak kita. Menghidupi mereka dan lain sebagainya. Sayang sekali, referensi saya masih sedikit, karena saya belum fully merasakannya. Hehehe.
Buat mereka yang old people banget, pasti membutuhkan tenaga anak muda untuk membantu. Tapi ya, itu, jengkel kalo ngadepin anak muda yang nggak mau ngedenger apa kata orangtua atau suka membantah dan membangkang.
So, what should we do?
Hahaha...gampangnya sih...sikapi tiap fase kehidupan dengan Iman!
Klise banget memang. Tapi buat saya itu menjadi jalan keluar yang jitu.
Kadang kalo saya melihat masalah disekitar orangtua, saya jadi trauma sendiri.
Misal masalah saudara saya, saudari x yang bercerai de el el. Bikin saya mikir, oh, my, punya keluarga itu rada bla bla bla. Jadi khawatir sendiri deh untuk menghadapi fase itu.
Nah, disitu pentingnya iman, takwa, dan kedekatan dengan Allah. Kalo kita nggak punya itu, eh, maksudnya saya, mungkin saya bakal.... hahaha...rahasia lah...
Tapi, dengan adanya bekal kedekatan dengan Allah, kita tahu, bahwa semua manusia pasti punya masalah dan ujian masing-masing. Kita juga punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya, tapi, kita sebagai umat Islam punya koridor, yaitu jangan sampai melanggar syari'at dan yakinlah bahwa Allah selalu setia bersama kita, Dia nggak akan pergi meninggalkan kita seperti manusia yang lain.
Hahaha...itu saja sih yang ingin saya bagi. Semoga bermanfaat dan nggak bikin pusing.
Reactions:
This entry was posted in

0 comments:

Posting Komentar