Jumat, 08 Juli 2016

What is it for?

Tradisi.
Tiap tahun saya menjalani tradisi yang sama. Yang saya ingat, sejak baligh (atau bahkan sebelumnya) saya selalu hadir dalam event rutin yang dipertahankan atas nama (tradisi) silaturrahmi.
Meskipun kadang saya merasa bahwa tradisi tersebut meaningless atau salah arah, tapi apa boleh buat? Saya cuma generasi Y yang bisa menonton dan mengamati saja.
Kalau pun saya protes atau menolak mengikuti tradisi, generasi X sudah siap dengan mata galak dan macam-macam ceramahnya.
Saya bukannya membenci tradisi.
Hanya saja, banyak hal yang perlu dipangkas dan dihindari atas nama kebaikan. Meskipun itu melanggar tradisi.
Tapi, melanggar atau melewati batas tradisi bukan soal yang mudah. Karena kita bisa diancam sanksi sosial saat ini dan sumpah serapah ketakutan atas sanksi masa depan (yang belum tentu terjadi kecuali atas izin Allah).
Bukan salah tradisi memang. Karena tradisi bisa jadi salah satu jalan untuk menyentuh hati agar tersinari hidayah. Salah pelakunya yang kemudian lalai menomorduakan aturan Allah yang hakiki.
-Generasi Y yang cuma bisa mengikuti tradisi. Menjaga diri agar tradisi yang diikuti tetap dalam koridor al quran dan as sunnah. Bila terpaksa atau tak sengaja melewati batas, mohon ampun banyak-banyak pada yang Maha Menciptakan Aturan-
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar