Selasa, 30 Januari 2018

Sore Bersama Cemas

Selasar rumah sakit ini tak cukup ramai. Hanya ada orang yang berlalu lalang tak terburu-buru. Wanita bergamis ungu itu melayangkan pandang pada jam dinding besar. Masih 2 jam lagi menuju jadwal pertemuan dengan dokternya.

Ia lalu berjalan menuju poliklinik tempat dokternya praktek dan memilih kursi yang paling dekat dengan televisi.

Acara televisi favoritnya sedang diputar. Ia tersenyum simpul. Bukan acara mewah, hanya cerita tentang kehidupan sehari-hari orang-orang di sebuah kampung. Teman-teman kampusnya dulu pasti akan terbahak-bahak kalau tahu hobi rutin sorenya saat ini. Menonton sinetron! Sesuatu yang sering dimaki-makinya dulu karena sungguh hanya buang-buang waktu.

"Permisi, mbak," seorang cleaning service yang sedang membersihkan lantai menyapa tak jauh dihadapannya.

"Oh, ya, silakan." Sahutnya singkat.

Seingetnya hari lalu si tokoh utama di sinetron ini sedang sangat kebingungan apakah jadi menikah atau tidak. Calon istrinya adalah seorang berpendidikan dan anak orang terpandang. Sedangkan dirinya hanya seorang tukang ojek pangkalan yang boro-boro melek teknologi, ponselnya saja masih model jadul yang mungkin tak akan dilirik penjahat sekali pun.

Ia sangat asyik menonton televisi seperti di rumah sendiri saja. Tak sadar kalau pasien-pasien dokternya yang lain mulai berdatangan. Ruangan yang tadinya cukup lengang mulai terasa ramai.

Beberapa wanita melihat ke arahnya dan melemparkan senyum. Ia membalas sekadarnya karena khawatir bukan ia yang jadi target senyuman itu.

Semakin sore menjelang, ruang tunggu praktek dokter ini semakin ramai. Semakin banyak orang, semakin banyak pula yang memandanginya.

Mungkin merasa aneh karena ia hanya datang seorang diri. Wanita-wanita yang lain pasti datang membawa teman. Entah itu suaminya, ibunya, atau adiknya.

Memang, seaneh itu, ya? Batinnya dalam hati.

Ia berusaha tidak mempedulikan tatapan orang-orang dan kembali menonton televisi. Masih di acara yang sama, karena durasi sinetron ini sangat panjang. 

Satu jam lebih berlalu, orang-orang di sekitarnya mulai gelisah. Beberapa terus menanyakan pada perawat tentang kedatangan sang dokter. Beberapa bolak balik duduk berdiri dan begitu seterusnya.

Ia tidak gelisah. Hanya sedikit cemas, tapi berusaha tenang. Toh bukan sekali ini saja sang dokter datang terlambat.

Ia melanjutkan lagi menonton televisi. Sesekali bercakap dengan wanita lain yang duduk di dekatnya. Mengobrol hal-hal formal yang ikut ditimpali ibu yang menemani teman duduknya itu.

Saat akhirnya sang dokter tiba. Sangat jelas terasa atmosfer kelegaan orang-orang di sekitarnya.

Sang dokter datang dengan langkah cepat lalu meminta maaf pada pasien-pasien yang ditemuinya di dekat pintu.

Tak ada yang bertanya pada sang dokter, tapi dengan rendah hatinya dokter itu menjelaskan bahwa pasien yang ditanganinya harus menjalani operasi lebih lama dari waktu yang ia perkirakan.

Dokter ini memang favorit. Meski bukan dokter senior, tapi attitudenya yang sangat mengistimewakan pasien sungguh sangat menghangatkan hati.

Setelah lewat sekitar tiga puluh menit lebih, perawat mulai memanggil daftar antrean pasien.

Meski ia datang yang pertama, ternyata ia bukan pasien pertama yang dipanggil perawat. Tak apa. Sebenarnya, ia mulai terlatih menunggu lama sejak harus sering rutin konsultasi ke dokter.

Kesimpulannya, sabar saat menunggu membuat penantian tak terasa lama. Sabar dengan benar, ya, tanpa ada rasa gelisah atau merasa seperti diburu.

Buktinya tanpa terasa perawat pun memanggil namanya. Ia merasa sedikit kaget karena sedang fokus menyimak berita yang menggantikan sinetron sore tadi.

Saat masuk ke ruang praktek dokter entah mengapa ia selalu merasa sedikit tegang. Kalau tegangnya lumayan parah, pertanyaan-pertanyaan yang sejak di rumah sudah disusunnya menguap entah kemana.

Padahal, dokter langganannya ini sangat ramah dan santai. Seperti sore ini, menyambutnya dengan sumringah, meskipun ia tahu, sang dokter pasti sudah banyak sekali bertemu orang hari ini. Kalau dirinya yang ada di posisi sang dokter, mungkin ia sudah sangat lelah.

"Bagaimana kabarnya hari ini, bu?" Sang dokter bertanya diikuti senyuman lebar.

"Alhamdulillah, baik, bu dokter," jawabnya.

Pemeriksaan selanjutnya dibantu USG*. Tidak seperti pemeriksaan yang lalu-lalu, sang dokter agak lama menggerakkan transduser* pada perutnya.

Kening sang dokter agak berkerut, lalu ia kembali menggerak-gerakkan transduser. Berulang-ulang ia melakukan itu.

"Ada apa, bu dokter?" Tidak tahan lagi akhirnya wanita yang diperiksa janinnya itu bertanya.

Sang dokter akhirnya menyudahi pemeriksaan dengan USG tanpa berkata apa-apa. Ia melemparkan senyum pada wanita itu.

"Tidak apa-apa. Tenang saja, bu," katanya.

Giliran wanita itu yang menunjukkan wajah cemas. Tidak biasanya seperti ini. Pemeriksaan yang lalu-lalu, sang dokter tak akan selama tadi saat menggunakan USG, pemeriksaan pun biasanya diiringi obrolan-obrolan ringan. Sama sekali tidak seperti barusan yang cenderung menegangkan.

"Mohon maaf, bu, sepertinya ada sedikit masalah yang baru saya deteksi pada kehamilan ibu. Tapi, ibu tidak perlu panik." Sang dokter memasang kembali senyum khasnya.

Deg.

Tiba-tiba wanita itu merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

"Masalah apa ya, dok?"
"Sebenarnya, agar lebih valid, saya ingin merekomendasikan agar ibu melakukan cek ulang dengan…."

Penjelasan dokter berikutnya rasa-rasanya tidak bisa masuk ke otak wanita itu. Ah, ia menyesal. Momen seperti ini lah yang membuat pentingnya membawa pendamping saat pemeriksaan-pemeriksaan kehamilan.

Kalau ia bingung dan tidak konek seperti ini, apa yang bisa dirinya ingat? Batin wanita itu.

"Semua rekomendasi, saya tuliskan di catatan ini ya, bu," kata sang dokter.

Wanita itu hanya mengangguk dengan wajah penuh kecemasan.

"Tenang saja, bu, ini baru pemeriksaan pertama. Semoga diagnosa saya salah dan janin ibu baik-baik saja." Sang dokter mengakhiri sesi pemeriksaan.

Wanita itu keluar ruangan didampingi perawat yang akan memanggil giliran antre berikutnya.

Ah, semoga wajah cemasnya tidak membuat panik orang-orang yang antre di luar.

Tangan wanita itu kemudian mengeluarkan gawainya dan mengetikkan pesan singkat.

Rasa-rasanya ia tidak ingin sendiri lagi saat pemeriksaan esok hari.

Nb.
*USG: Ultrasound atau USG merupakan teknik sonografi medis yang digunakan untuk pemeriksaan dan diagnosis kondisi kesehatan tubuh seseorang. Selain USG perut, tulang, dan payudara, prosedur USG juga banyak digunakan dalam prosedur kebidanan yakni USG janin.
*Transduser: Pengubah energi untuk membantu menampilkan gambar janin pada layar USG.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
Reactions:

4 komentar:

  1. Ini kisah nyata kah mbak? Enak banget alurnyaaa, penggambaran situasi, pilihan diksi, semuanya enak dibacaa ih toop banget ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. 75% fiksi kok mbak 😄
      Terima kasih banyak mbak... masih belajar saya ini 😅

      Hapus
  2. Salam, saya dari Planet Venus....
    Hehe
    Bagus kisahnya mbak....
    Jadi ikut cemas sama hasil usg wanita itu...

    BalasHapus
  3. Cerpennya bagus sekali. Feelnya dapat!

    BalasHapus