Takut Masa Depan Zaman Now

2

Seperti biasa, sore hari di perumahan yang berdempetan, kalau ada anak tetangga yang ramai-ramai bermain di luar rumah, pasti terdengar sampai ke kamar depan. Ada suara anak yang diteriakin ibunya gara-gara enggak mau masuk ke dalam rumah, padahal cuaca mendung, ada juga yang malah senang sekali main keluar rumah dan teriak-teriak kegirangan. Salah satunya setengah berteriak dan menceracau, "Bla… bla… zaman now… zaman now…" 

Saya pun cuma bisa mengernyit heran. Bocah usia 5 tahun begitu bisa aja, ya, ngomongin 'zaman now'. Masih 5 tahun loh. Ya, saya tau usia anak tetangga ini karena baru beberapa hari lalu ngobrol dengan ibunya. Enggak habis pikir saya, darimana dia dengar kosa kata itu. Entah dari media atau orang-orang disekitarnya. Nah, yang jelas saya kesal mendengarnya. Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi menurut saya itu enggak sekadar ngomong 'zaman now', tapi fenomena sudah tidak 'pure'nya masa-masa bayi di abad ini. 

Kejadian yang lain, saya pergi ke minimarket dan terkejut lah saya, saat mengantri di belakang gadis kecil berkerudung dan bergamis, tapi dia menukar pecahan lima puluh ribuan yang ia pegang dengan sebungkus rokok. Amat sangat menyedihkan. Rasanya pengen banget memaki mbak-mbak kasir yang ringan saja memberikan rokok itu. Memang, sih, bakal panjang urusannya kalau mbak kasir terlalu 'kepo' tanya untuk siapa rokok itu dan pasti orang-orang akan berpikir bahwa itu tindakan yang berlebihan. Semua pasti sepakat bahwa si gadis kecil itu tidak mungkin membeli rokok untuk dirinya. Ia ke minimarket lalu membeli rokok, sudah tentu atas perintah ayahnya. Sungguh menyesakkan, menyedihkan, dan memuakkan. Lantas, bagaimana kalau si gadis kecil yang masih berkembang emosi dan kecerdasannya ini terlalu penasaran, lalu berniat mencoba? Memang rokok ini level berbahayanya tidak seperti narkoba dan sejenisnya, tapi bukankah rokok adalah awal dari segala hal seperti itu? Rokok juga level mematikannya sangat tinggi, kan?

Ah, kejadian menyoal bayi atau anak-anak seperti ini membuat saya ngeri. Saya peluk erat si bayi dan lanjut membisikkan do'a-do'a. Sungguh dalam benak saya tidak sampai hati membayangkan dunia seperti apa yang akan anak saya tinggali nanti. Sekarang saja sudah banyak fenomena yang membuat kita melabeli 'dunia sudah gila', 'bumi sudah rusak', 'sebentar lagi kiamat', dan lain lain.

Mendengar dan menyaksikan hal semacam yang saya ceritakan itu, rasanya saya ingin terus memeluk anak saya dan membuat sarang ternyaman agar dia selalu aman.

Akan tetapi, sebenarnya saya sadar, hidup di dunia nyata ini tidak seperti di negeri dongeng yang bisa kita atur akhir bahagianya. Bagaimanapun kondisi dunia tempat anak saya tumbuh dewasa nanti, saya terus berharap Allah Ta'ala akan selalu menjaga dan membimbingnya. 

#Onedayonepost
#ODOPbatch5


Sumber gambar dari Pinterest

2 komentar:

  1. KetakytaK yang sama, Bun. Sejak punya anak maka sadar banget dengan tantangan membesarkannya. Semoga kita bisa mewujudkan mendidik anak Soleh dan Solehah. Aamiiin.

    BalasHapus