Sabtu, 10 Februari 2018

Bertukar Peran

Kadang di saat-saat tertentu, terutama saat lelah dan jenuh melanda berbarengan, sering merutuk nasib peran saya saat ini. 

Padahal sesungguhnya perasaan negatif seperti merutuk atau mengeluh jadi tambahan beban saat menjalani peran. Bukannya melegakan hati karena merutuk, yang ada malah makin terasa berat. Bukan berarti saya melarang orang untuk mengeluh lho.

Setelah merutuk, biasanya akan diikuti kalimat berandai-andai.

Salah satunya, yang sering saya andaikan adalah, 'Andai saya bekerja. Andai saya sibuk di kantor.'

Lalu, muncul lah ide untuk bertukar peran dengan suami saya.

Kalau sehari-hari saya berperan sebagai ibu sekaligus mengurus tugas domestik, sekali-kali saya ingin merasakan menjadi yang bekerja di luar rumah. Menghadap meja, membaca banyak data, mengurus berkas ini dan itu, meeting, bertemu klien, dan lain-lain.

Sementara itu yang ada di rumah melaksanakan tugas domestik. Mulai dari menyiapkan makan, persiapan mandi, menemani bermain, menjaga kalau saat main mulai mendekati hal-hal berbahaya, menidurkan, mencuci piring, baju, dan sebagainya.

Bagaimana?

Kalau saya pernah mendengar tausiyah ustadz Adi Hidayat, beliau pernah mencoba di rumah menjaga anaknya saja, lantas beliau mengatakan bahwa tugas ibu di rumah tidak mudah, sungguh sangat tidak mudah.

Saya bukannya menuntut sangat ingin bertukar peran atau membuat seolah-olah pekerjaan di kantor itu tidak ada artinya dibandingkan pekerjaan domestik. Hanya saja, saya ingin pengertian bahwa pekerjaan di rumah pun tidak mudah. Ibu-ibu yang di rumah itu bukannya santai-santai atau leha-leha loh.

Malah ada teman saya yang baru menikah lalu menjadi ibu di rumah setelah sebelumnya bekerja di suatu badan pemerintah, saat saya bertanya bagaimana rasanya menikah? Dia malah menjawab, "Kerjaan rumah itu enggak beres-beres, ya."

Gambarannya kayak gini, baru juga beres bikin sarapan, dilanjut mandiin anak, terus nemenin main, eh, mau rebahan sebentar, ngelirik jam, ternyata udah harus nyiapin makan siang. LOL banget kan?

Kalau yang enggak terbayang atau enggak biasa, mungkin menganggapnya enteng aja sih. Tapi, kalau udah nyobain?

Enggak apa-apa sih sekali-kali coba deh. Wahai bapak-bapak atau ibu-ibu yang bekerja, coba di akhir pekan, full ngurusin anak dan ngerjain pekerjaan domestik. Pasti besoknya pengen ngantor aja.

Makanya, saya sangat salut dengan ibu bekerja yang tanpa asisten rumah tangga, memasak sendiri, anak tetap diasuh sendiri kecuali saat jam kerja. Saya sangat ingin tahu manajemen waktu dan emosinya.

Sekian.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar