Kamis, 08 Februari 2018

Lelakiku

Suatu hari aku berkata kepadanya, "Jangan jadi seperti laki-laki kebanyakan."

Lalu ia meletakkan gawai di tangannya dan menyuapi anak bayi kami.

"Laki-laki kebanyakan itu mau enaknya saja." Lanjutku nyinyir. Begitulah laki-laki kebanyakan di pikiranku.

Saat sudah menikah, maunya tumpukan baju di lemari sudah rapi dan tidak kusut. Tidak betah melihat cucian baju kotor menumpuk.

Baguslah kalau melihat tumpukan itu lalu membantu mencucikan. Tetapi, kalau hanya berkomentar? Sungguh kasihan istrinya yang jadi tukang cuci di rumah.

Alhamdulillah, lelakiku kerap membantu mencuci baju.

Lalu urusan perut, maunya selalu ada menu masakan hangat tersaji.

Bahagia bila masakan dengan rasa apapun mendapat apresiasi, karena tidak semua perempuan tercipta dengan tangan ajaib untuk menyulap masakan lezat setiap hari.

Alhamdulillah, lelakiku selalu suka apapun yang aku masak dengan rasa bagaimana pun, kecuali kerang.

Saat pulang ke rumah, selalu berimaji rumah dalam keadaan rapi dan bersih. Lalu cemberut saat disambut rumah yang bak kapal pecah. Ah, padahal istrimu tak sempat beres-beres karena selalu standby menjadi teman main buah hatimu.

Alhamdulillah, lelakiku tak kagok dengan sapu dan alat pel. Meskipun bersih-bersih rumah hanya di akhir pekan.

Lelakiku sudah selesai menyuapi bayi kami lalu mencuci mulut, tangan, dan kakinya.

Aku melanjutkan kegiatan mencuci piring di dapur, sementara lelakiku bermain dengan anak bayi kami.

Sungguh indah bukan bila bahtera rumah tangga dikayuh oleh dua orang bersama beriringan?

Syukurku bukan berarti lelakiku tanpa cela.

Ia juga manusia, yang seringkali menyebalkan dan maunya menang sendiri.

Inilah tantangan hidup berumah tangga.

Sudah banyak yang menceritakan bukan?

Kehidupan rumah tangga itu warna-warni.

Kadang penuh warna, kadang juga kelabu.

Jadi, kalau ingin menikah karena melihat bahagia-bahagianya saja, maka siap sedia untuk terlara-lara.

Kalau takut menikah karena takut terlara-lara. Ah, mungkin hidupmu sebelum-sebelumnya seindah negeri dongeng, ya?

Cucian piring yang tadi menggunung tinggi sudah rapi di tempatnya.

Anak bayi kami mulai lelah dan ingin ditemani tidur.

Lelakiku melanjutkan menyantap makan malam yang tadi aku siapkan.

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)




#Onedayonepost
#ODOPbatch5


Reactions:

6 komentar:

  1. Wuah ... Saya kok mendadak baper bacanya ya Umm :D

    BalasHapus
  2. So sweet mba happy family mba smg terus samara,amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb... sama2 utk mbak dan keluarga ya 😀

      Hapus
  3. Wah...rulisannya mengalir, enak dibaca. Dulu lelakiku juga begitu waktu anak-anak masih kecil. Sekarang anak-anak sudah mulai besar, cerewet menyuruh anak-anak. Kalau sama ibunya dicerewetin juga nyantai aja. Kalau sama bapaknya langsung ngerjain. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... begitu ya, bun 😆 aduh, jd deg2an kalau nanti anak bayi udah gede...

      Terima kasih sdh mampir 😃

      Hapus