Jumat, 16 Februari 2018

Menikmati Siang

Bosan benar di rumah terus begini. Batin Kania dalam hati sambil melihat ke luar jendela.

Liburan semester masih panjang akan dilaluinya, tapi hari demi hari rasanya berjalan lambat. Mungkin karena Kania tidak ada kegiatan apapun di rumah. Coba Kania sedang kejar deadline atau ada suatu proyek untuk dikerjakan, pasti waktu terasa cepat sekali berlalu.

Dilihatnya lagi cuaca di luar yang lumayan terik.

Masih lumayan sih, enggak panas banget lah. Pikir Kania.

Tidak mau berlama-lama berpikir, Kania akhirnya mengeluarkan sepeda motor matic milik adiknya.

Belum tau akan dibawa kemana motor ini, tapi Kania sudah sangat bosan di dalam rumah. Bisa habis waktu Kania untuk tidur, karena itu satu-satunya cara bagi Kania untuk mematikan kebosanan saat di rumah. Tapi, cara itu sungguh sangat tidak produktif dan bikin menyesal kemudian.

Kania melajukan motornya melewati beberapa blok di kompleks perumahannya.

Perutnya memang tidak lapar, tapi tiba-tiba dirinya ringan saja membelokkan motor ke salah satu tempat makan yang memanfaatkan garasi sebuah rumah.

Simpel, tapi eyecatching. Itu kesan pertama yang Kania dapatkan saat duduk di salah satu meja di tempat makan itu.

"Mau pesan apa, Mbak?" Seorang ibu usia 40-an tahun memberikan daftar menu pada Kania.

"Sebentar ya, bu, saya lihat dulu." Kata Kania diiringi senyum.

Ibu itu pun mempersilakan dan pergi dari meja Kania.

Mata Kania menelusuri satu per satu daftar menu dihadapannya.

Cocok banget sih siang-siang begini makan mie. Batin Kania melihat beberapa menu yang membuat perutnya keroncongan.

Tidak lama kemudian ibu-ibu tadi mencatat menu pesanan Kania dan pergi menuju gerobak mini yang bersisian dengan dapur yang konsepnya terbuka.

Kalau mau, Kania bisa sih, melihat menu pesananannya disiapkan, tapi Kania lebih tertarik pada tata ruang tempat makan ini.

Kelihatan sekali kalau ini garasi untuk 2 atau tiga mobil yang dirapikan dan dibersihkan hingga kinclong. Bangku dan kursinya pun sebenarnya simpel saja, dari bahan kayu ringan yang Kania tidak tahu apa namanya, ditata untuk 2 orang dan ada juga yang untuk 4 dan 6 orang. Jumlah mejanya tidak banyak, hanya 7 buah untuk seluruh meja besar dan kecil. Berjarak tiga meja dari Kania ada meja kasir lalu rak berisi beberapa hiasan dan pot tanaman.

Pengunjung lain selain Kania ada sekelompok ibu-ibu yang asyik mengobrol. Mangkuk-mangkuk mie tampak sudah bersih dihadapan mereka.

Memang tempat makan ini nyaman sekali untuk tempat ngobrol atau tempat menghabiskan waktu seperti yang Kania lakukan.

Ibu-ibu itu sesekali tertawa agak keras karena sesuatu yang mereka bicarakan. 

Tidak, Kania sama sekali tidak terganggu. Malah Kania senang karena menemukan sedikit keramaian.

"Silakan, mie ayam jamur pangsit rebusnya, Mbak." Ibu-ibu tadi sudah kembali membawakan pesanan Kania.

Yum, menu pesanan Kania tampak sangat menggiurkan.

Setelah berterima kasih pada ibu tadi, Kania mulai menikmati menu pesanannnya.

Wow. Enak. Bukan enak yang pakai micin, kok. Tapi, enak yang asli dari kaldu.

Ah, kalau Kania ceritakan detail khawatir tidak terlalu menggambarkan.

Intinya ini sangat enak.

Saat Kania menghabiskan isi mangkuk dihadapannya, beberapa pengunjung lain mulai berdatangan menggantikan ibu-ibu yang mengobrol tadi.

Kania sengaja berlama-lama di tempat duduknya. Menyeruput es jeruk pesanannya sedikit demi sedikit dan sesekali melihat gawai yang ia letakkan di kantung jaketnya.

Hal yang lebih asyik dari memainkan gawai adalah melihat orang dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan tidak jauh dari tempat duduknya. Mereka bermacam-macam. Ada yang mengendarai sepeda motor dengan terburu-buru. Ada yang perlahan seperti menikmati perjalanan. Ada juga yang cepat tapi pasti karena mantap dengan tujuannya.

Akhirnya, Kania menyudahi santap menuju siangnya dengan tegukan terakhir dari gelas es jeruknya.

Ia membayar pesanannya dengan pecahan uang dua puluh ribuan yang masih menyisakan beberapa koin logam.

Sama sekali tidak mahal untuk rasa dan suasana tempat makan yang sangat nyaman. Apalagi yang utama adalah Kania tidak ketemu dengan perokok atau asap rokok yang biasanya akrab dengan tempat-tempat makan. Nilai plus tambahan untuk tempat makan tadi, karena memasang gantungan simbol dilarang merokok.

Ah, rasanya akhir pekan ini Kania akan kembali lagi ke sini.

Kania pun menyalakan mesin motornya dan hendak pulang ke rumah. Membawa perasaan tenang dan pikiran segar.

Bahagia dan melegakan itu sederhana bagi Kania. Berkeliling kompleks lalu disudahi menyantap mie ayam favorit, itu cukup.




#Onedayonepost
#ODOPbatch5
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar