Selasa, 27 Februari 2018

Pemaksaan Orang-Orang Terhadap Kita

Ada enggak sih orang yang suka dipaksa-paksa? Kayaknya enggak ada, ya. Kalau ada pasti jarang. Mungkin orang yang suka dipaksa-paksa itu saking enggak tau arahnya, makanya iya-iya aja. Atau untuk kasus saya, saking enggak enak sama orang atau pekewuh.

Kayak kejadian yang saya alami beberapa hari lalu.

Ceritanya saya lagi beli sandal jepit di warung sebelah rumah. Milih-milih lah saya, sandal jepit merk kebanggan Indonesia. Lalu terjadilah percakapan berikut ini,

"Nomer sandalnya berapa, mbak?" Tanya bapak pemilik warung.

"Berapa ya, pak. Kayaknya sih kemarin beli nomer 10," jawab saya.

Bapak pemilik warung mengambilkan sandal nomer 10 sambil terheran-heran.

"Masa' sih, mbak, nomer 10?" 

Bapak pemilik warung kayak yang enggak percaya kaki saya sepanjang itu.

"Coba dulu deh, mbak," bapaknya mengangsurkan sandal jepit yang masih dibungkus plastik.

Saya disuruh nyobain sandalnya, tapi enggak dibuka plastik pembungkusnya, jadi cuma asal ditemplok aja.

Akhirnya, saya cobain lah dan buat saya itu pas.

"Aduh, mbak, kebesaran itu. Enggak nomer 10 lah buat kakinya mbak." Bapaknya mencari-cari sandal yang lain di tumpukan.

"Biasanya saya pake emang ukuran segini kok, pak,"

"Ah, tapi, itu kebesaran, mbak,"

"Oh iya, ya, pak. Enggak apa-apa, tapi, pak. Soalnya biasanya sandal jepitnya gantian juga sama suami." Kata saya. Maksudnya supaya transaksi segera selesai. Alasan sebenarnya sih bukan cuma karena itu.

"Ah, masa' sandal jepit aja gantian sih, mbak,"

Saya cuma nyengir mendengar komentar bapaknya.

Akhirnya, saya pulang membawa sandal jepit ukuran 9,5 pilihan bapaknya. Dan…

Kekecilan!

FYI, kaki saya emang panjang, saudara-saudara. Jadi, kalau ngejudge bentuk kaki berdasarkan kondisi fisik keseluruhan, orang-orang pasti salah nebak ukuran sepatu atau sandal saya.

Pun pak suami. Beliau pernah salah langkah ngebeliin saya sepatu sandal yang malah kekecilan karena enggak percaya size sepatu saya sebesar itu. Tapi, enggak apa-apa, pak suami akhirnya mengerti. Kalau pak pemilik warung sebelah mungkin baru akan mengerti kalau saya beli sandal jepit lagi dan bilang kalau sandal jepit yang sebelumnya kekecilan.

Nah, inti tulisan saya sebenarnya, bukan tentang sandal jepit, bukan tentang belanja di warung sebelah, bukan juga tentang ukuran kaki saya.

Melainkan, seperti judul tulisan, kadang, atau seringkali, kita tanpa sadar tunduk pada pemaksaan orang-orang pada kita. Padahal jelas-jelas, kita lah yang tahu siapa diri kita, apa yang kita mau, apa yang kita tuju. Kita akhirnya tunduk, either karena kita terlau takut menolak saran orang lain, or kita nya yang memang belum kuat pendirian. Saya bukannya anti saran dan kritik. Hanya saja, ada hal-hal yang memang pas dilakukan sesuai kacamata kita saja, ada hal lain yang memang butuh pandangan orang lain untuk pertimbangan. Kita lah yang tahu, mana untuk yang mana, apa untuk yang apa. Maka, supaya tidak mudah terombang-ambing, jangan berhenti untuk mengenal diri kita sendiri.

Allahu a'lam.




#ODOPbatch5
#ONEDAYONEPOST 
Reactions:

9 komentar:

  1. Hidup memang butuh prinsip biar ga kebawa sakaba kaba klo kata ibu saya 😁

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Tapi, kalo penjual mesti maksanya udah pengalaman. Dan bikin pembelinya kalah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, betul, mbak, kena melulu saya kalo yg kayak gini,

      Hapus
  4. Bener bun.. kadang kita garus nolak saran org lain..

    BalasHapus
  5. Setuju banget nih,
    Terimakasih Umm sudah mengingatkan ^_^

    BalasHapus
  6. sepakat mba, ada beberapa hal yang memang kontrol itu mesti ada pada diri kita

    BalasHapus
  7. Kalau menurut saya, saran itubterbagi menjadi 2. Saran yg menjerumuskan dan saran yang meluruskan

    BalasHapus
  8. Kerenlah.
    Sandal jepit.y kasi saya aja.
    Kebetulan pas sama umuran kaki saya

    BalasHapus