Sampai Hati

2

Langkah kaki wanita muda itu perlahan, tapi mantap. Ia tutup pintu rumahnya rapat, lalu berjalan keluar gerbang.

Ini saatnya. Tidak usah banyak pikir lagi. Kesempatan terbuka lebar saat bayinya sudah tidur lelap dan suaminya sedang berada di kamar mandi.

Wanita itu tidak bingung sama sekali saat sudah berada di jalanan kompleks perumahannya. Tujuan perjalanan dan rute yang akan ditempuhnya jelas terbayang secerah langit di pagi ini.

Segala skenario tentang yang akan dilakukannya hari ini sudah dipikirkan matang-matang.

Bus yang akan ia naiki sudah terlihat moncongnya saat ia menyeberang jalan. Tepat sesuai perkiraan.

Ia menaiki bus yang masih lega, lalu memilih tempat duduk tak jauh dari supir dan di dekat jendela.

Mata wanita itu bergerak mengikuti pemandangan di jalanan yang sudah sering ia lewati. Paling tidak sebulan sekali ia dan suami serta bayinya melewatinya menuju pusat kota. Jalan lintas provinsi yang masih menyajikan pemandangan kebun-kebun dan rumah-rumah khas warga lokal.

Ia menghirup udara di dalam bus puas-puas. Rasanya berbeda. Ini terasa seperti aroma kebebasan yang nyata.

Wanita muda itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hadiah ulang tahun pertama dari suaminya semenjak mereka menikah. Mungkin sekarang suaminya sedang membersamai bayinya dengan sedikit kebingungan.

Ya, hanya sedikit. Sebab suaminya tahu benar alasan istrinya pergi dan bukan tanpa berpamitan.

Wanita yang baru sepuluh bulan lalu melahirkan bayinya itu tidak perlu khawatir soal buah hatinya. Di waktu pagi bayinya akan tertidur lumayan lama. Mungkin sekitar dua hingga tiga jam.

Ia pun berusaha menikmati perjalanan yang menyisakan tiga puluh menit berselang. Tanpa tersadar, ia pun tertidur.

Ya, tertidur karena kelelahan.

Bagaimana tidak? Aktivitasnya seharian di rumah tidak kalah dengan para lelaki yang bekerja. Malah mungkin lebih padat dan menyita tenaga serta pikiran luar biasa. Saat suaminya pulang dari bekerja, ia tak lantas bisa istirahat seperti yang biasa dilakukan lelaki kebanyakan saat pulang ke rumah.

Ia harus melanjutkan merapikan rumah yang berserakan dengan aneka rupa mainan dan buku anak. Lalu ia harus menyiapkan makan malam. Setelah itu ia bersiap menidurkan bayinya dan menemaninya tidur. Apa lantas ia bisa beristirahat setelah itu?

Belum.

Ia masih harus membereskan cucian piring yang tidak sempat ia cuci seharian. Lalu ia harus memikirkan dan menyiapkan menu untuk esok hari agar di pagi hari ia tidak terlalu terburu-buru, karena harus menyiapkan keperluan suaminya yang akan pergi ke kantor.

Setelah itu ia baru bisa bernapas tenang. Mungkin saat itu sudah hampir tengah malam.

"Mbak, bangun, mbak," satu suara membangunkannya dari tidur.

Ia sedikit tergelagap. Berusaha mengenali tempat di sekitarnya.

"Mau turun dimana? Sebentar lagi sudah masuk terminal." Lanjut pemilik suara tadi, si kondektur bus.

"Oh, iya, pak." Sahutnya.

Terminal ini memang menjadi tujuannya.

Tidak menunggu lama setelah turun dari bus, ia sudah bisa mengenali sahabat lamanya dengan sepeda motor tua.

Ia bergegas menghampiri sahabatnya itu. Saat bertemu pandang, mereka sama-sama diserang rasa haru, lalu berpelukan lama.

Mereka berdua tak mau menyia-nyiakan waktu lebih lama di terminal. Sepeda motor itu lalu melaju, menuju sebuah kampus yang tidak jauh dari terminal.

Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Berdebar seperti orang yang akan segera bertemu kekasih yang lama tidak dijumpainya.

Melewati pepohonan tinggi yang terjaga rapi, sungguh khas kampusnya. Sedari dulu sampai sekarang aroma jalanan ini masih sama.

"Kita mau ke tempat biasa?" Tanya sang pengemudi sepeda motor.

"Iya, iya," sahutan dari sang penumpang terdengar penuh semangat.

Sepeda motor itu melaju dengan kecepatan stabil. Seperti sengaja memanjakan penumpangnya untuk menikmati perjalanan.

Sesampainya di tempat tujuan, wanita muda itu merasa bahagia bukan kepalang.

~~~

Matahari sore menyilaukan pandangan wanita muda yang sedang menikmati perjalanan pulangnya. Tapi, tak mengapa. Kilauan matahari sore itu menghangatkan hati. Menambah kebungahan yang membuatnya ingin selalu tersenyum.

Tidak lama kemudian ia sampai kembali di jalanan kompleks perumahan yang sangat familier.

Hanya butuh berjalan lima menit, ia akan menghadapi pintu gerbang yang sama, bayinya, dan suaminya lagi, untuk sekarang dan mungkin sepanjang hidupnya.

Langkah kaki wanita itu terhenti sesaat. Ah, momen bersenang-senang dengan para sahabat seperti ini sungguh sangat jarang ia rasakan dan akan menjadi momen langka.

Sejak menjadi ibu, hidupnya total dihabiskan di dalam rumah. Ia jenuh dan bosan. Suatu saat ia membicarakan hal ini dengan suaminya.

"Kalau aku tiba-tiba pergi dari rumah, reaksimu gimana, ay?" Tanyanya membuka obrolan.

"Kaget, panik." Jawab suaminya singkat.

"Hm, mainstream banget reaksinya." Ia bersungut-sungut.

"Emang kamu mau pergi kemana?"

Ia terdiam sebentar.

"Belum tahu sih, kalau sekarang."

"Hm, okelah, aku enggak akan kaget berarti ya, kalau nanti tiba-tiba kamu pergi,"

"Hah? Beneran?"

Suaminya tersenyum jahil. Ia bukannya baru menikah sebulan dua bulan saja. Di matanya sang istri memang masih muda, tapi istrinya itu sangat berprinsip dan taat aturan. Apa yang perlu dikhawatirkan dari istri yang sangat takut pada aturan Allah dan Rasul-Nya?

Wanita muda itu menepis pikiran-pikiran aneh yang menggoda supaya melanjutkan rencana perjalanan tunggalnya.

"Assalamu'alaikum." Ucapnya saat membuka pintu gerbang.

Tampak dihadapannya suami dan seorang bayi mungil yang juga sedang menikmati sore. Bayinya tersenyum senang saat melihat wanita muda itu dan berjingkat girang di atas kereta dorongnya.

"Wa'alaikum salam warahmatullah." Jawab suaminya dilanjutkan adegan mengelus pelan ubun-ubun wanita muda itu yang terbalut kerudung biru.

"Gimana seharian di rumah?" Tanya wanita muda itu sambil menyalakan keran di taman di dekat pintu gerbang rumahnya untuk mencuci tangan.

"Mantap!" Jawab suaminya sambil terkekeh.

"Jadi ketemu Indira tadi?" Lanjut suaminya bertanya.

"Jadi dong!" Wanita muda itu menjawab antusias.

"Indira, Atika, Hesti, Windi, Rista, Upi, semuanya dateng." Lanjutnya.

Suami wanita muda itu tertawa. Ia sudah tahu rencana kepergian sang istri karena tanggal ini direminder jelas-jelas pada gawai miliknya.

"Ah, itu semua geng ngajimu kan?"

"Iya, bener, ay. Padahal aku cuma ngabarin Indira aja. Tapi, yang lain-lain juga menyempatkan dateng. Seneng deh." Mata wanita muda itu terlihat bahagia.

Sang suami agak ketar-ketir binar bahagia itu akan sirna saat istrinya melihat keadaan rumahnya.

"Masuk dulu, yuk. Ntar aku ceritain lengkapnya." Kata wanita itu sambil mengangkat bayinya dari kereta dorong.

Ah, wangi tubuh bayinya ini selalu membuatnya rindu.

Suaminya mengekor di belakang sambil mengangkat kereta dorong.

Tangan wanita muda itu terulur hendak membuka pintu, tapi tangan suaminya terulur lebih dulu, menghalangi.

"Eit, biar aku aja." Kata suaminya sambil cengengesan.

"Kenapa?"

"Biar surprise." Jawab suaminya

~~~

Selesai.

#ONEDAYONEPOST
#ODOPBATCH5



Ps. Cerpen ini sudah dipermak dari tulisan awal atas bantuan teman-teman dan kakak-kakak Pije grup ODOP Mars. Terima kasih banyak saudara-saudaraku :) Bedah tulisannya sangat bermanfaat >.<

2 komentar:

  1. Saya juga merasakan mbak, setelah punya anak dan tinggal di luar kota jadi jarang kumpul dengan teman.rasanya rindu sekali

    BalasHapus