Senin, 05 Maret 2018

Lalu Lalang

Matanya awas memandang kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa diperintah, otaknya secara otomatis menghitung kendaraan yang lewat dihadapannya. Satu mobil, satu motor, dua motor, tiga motor, empat motor, satu sepeda, dan seterusnya. 

Mungkin kalau ada petugas survei yang mendatanginya, ia bisa dengan jelas menyebutkan jumlah kendaraan yang melewati jalanan yang setiap hari diakrabinya.


Pemuda bertopi itu bangkit dari duduknya, sebuah motor hendak keluar dari parkiran, tapi sepertinya kesulitan. Gigih sekali wanita dihadapannya ini menggeser-geser motor yang lain. Pikirnya.


"Mau dibantu, mbak?" Ia bertanya.


Wanita itu menggeleng saja dari balik wajah yang tertutup masker.


Baiklah. Batin pemuda tadi.


Ia kembali duduk di pinggiran sebuah trotoar.


Siang sudah sangat terik, perutnya mulai keroncongan minta diisi. Seingatnya makanan terakhir yang masuk ke dalam perutnya adalah pecel lele yang ia makan tengah malam kemarin.


Pemuda berkulit coklat legam itu menelan ludah melihat pengunjung restoran di dekat tempatnya berada. Ia tidak fokus pada pengunjung-pengunjung restoran itu sebenarnya, melainkan pada isi piring dihadapan mereka.


Asyik sekali mereka menyantap berbagai makanan. Beberapa sibuk dengan kamera gawai sebelum memakan makanan mereka, beberapa sibuk mengobrol sambil sesekali menyendok makanan, dan beberapa fokus makan sambil sesekali melihat ke arah luar restoran. Golongan yang ia sebutkan terakhir, biasanya datang sendirian saja ke tempat makan itu.


Ia hendak membeli es cendol yang terkenal di daerah situ, saat matanya tidak sengaja melihat wanita tadi yang masih saja gigih hendak mengeluarkan motornya yang terjepit kendaraan-kendaraan lain.


Ia merasa tak perlu bertanya lagi.


Tak lama kemudian, wanita bermasker itu terkejut saat melihat pemuda yang sama telah membuka jalan keluar untuk motor bebek miliknya.


Kalau tidak menutup sebagian wajahnya, mungkin wanita itu sudah terlihat bersemu merah, karena malu 


Saat akhirnya wanita itu berhasil memgeluarkan motornya, ia tak lantas berterima kasih. Wanita berjaket itu hanya mengangguk sekilas lalu pergi.


Ah, dirinya sudah biasa dibeginikan.


Ucapan terima kasih kadang jadi barang mahal, kadang juga diobral terlalu murah, karena tidak diucapkan dari hati, melainkan formalitas belaka.


Pemuda tadi membeli es cendol lalu bercakap-cakap sebentar dengan rekan-rekannya. Bahan percakapan mereka mulai dari penghasilan hari ini hingga kebijakan pemerintah soal tarif parkir di jalanan.


Selesai membeli es cendol, pemuda berkaus merah itu kembali ke tempat biasa ia menghabiskan waktu seharian.


Mungkin kalau profesinya sekarang kurang menjanjikan, ia akan pulang ke kampung saja membantu orangtuanya mengolah sawah. Rasanya ia tidak akan kuat kalau harus turut serta mencari pekerjaan lain di ibu kota ini.


Sore mulai menjelang, jalanan mulai ramai lagi dengan berbagai macam kendaraan. Ia kembali menelan ludah. Rasanya es cendol saja tidak cukup untuk mengganjal perut yang kosong sejak semalam.


Meski begitu, tubuhnya masih kuat saja berjalan dan berlari kesana kemari.


Ia berniat beristirahat sebentar di pinggir trotoar saat dua orang mendekatinya. Salah satu dari mereka mengangsurkan sebuah bungkusan.


"Terima kasih banyak, kak." Ucap pemuda itu.


"Ya, sama-sama." Balas salah satu dari mereka lalu pergi.


Saat speaker-speaker azan mulai menyala, pemuda itu berjalan menuju masjid terdekat.


Sebelum mengambil air wudhu ia membuka bungkusan yang diterimanya.


Waktu yang sudah-sudah, biasanya ia akan mendapatkan bungkusan makanan dari restoran akan tetapi isinya sudah tinggal sepertiga atau seperempat porsi.


"Alhamdulillah," ucapnya penuh rasa syukur.


Kali ini ia menerima makanan dari restoran yang sering membuat liurnya tanpa sadar menetes itu dengan porsi lengkap.


Bagaimana ia tahu?


Tentu dari banyaknya porsi makanan yang ada dihadapannya.


Makanan ini sangat banyak! 


Tuhan memang Maha Baik.

~~~





#ODOPbatch5

#OneDayOnePost
#TantanganVI
Reactions:

10 komentar:

  1. Saya suka dengan tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh... dikunjungi uncle Ik yg tersohor 😆

      Terima kasih byk sdh mampir... msh perlu dikritik byk ini, master 😅

      Hapus
  2. Alhamdulillah.
    Terimakasih Umm, cerpennya berhasil buat mewek, sedih banget, namun juga buat kita tersadar apa yang semestinya dilakukan T_T

    BalasHapus
  3. Blog nya rapi mba, sukaaa..
    Kalo tulisannya gak diragukan lagi, menggugah

    BalasHapus
  4. Aaaa~~~ ><
    Ketjehnyaaa~~ ><
    Singkat, padat, nggak bertele-tele tapi ngena~ ><

    Keep writing, kak~ :D

    BalasHapus
  5. Keren banget tulisan-tulisan mba Izza. Suka suka suka..

    BalasHapus
  6. Keren mba izza cerpennya bermakna sekali ^_^

    BalasHapus
  7. Kereennn suka banget cara tulisnya. Deskripsinya jago, show don't tellnya asyik banget ihh mantap Mbak Izza 😍

    BalasHapus