Sang Pembawa Pesan (5)

4



"Selanjutnya bagaimana?"

Sayup-sayup Ammar mendengar suara orang bercakap-cakap. Bersamaan dengan suara langkah kaki bolak-balik.

"Kita tidak bisa kembali dalam kondisi seperti ini."

"Lalu kita harus kemana?"

"Kalau kita kembali ke markas kita akan membahayakan yang lain-lain."

Diam.

Markas? Tidak.

Betul katanya. Pembawa pesan yang terlacak tidak boleh kembali ke markas.

Ammar merasakan perih dan panas di sekujur tubuhnya. Entah bagaimana kondisi wajah, tangan, dan kakinya.

"Hasyim masih dalam perjalanan ke markas. Sampai kita mendapatkan kabar kalau chip itu sudah sampai dengan selamat, kita harus tetap bersembunyi."

"Lalu bagaimana dengan dua anak ini?"

Dua?

"Kita tunggu mereka sadar."

"Kapan?"

"Tunggu saja."

"Lalu bagaimana dengan mayat yang satu lagi."

Mayat?

Ammar ngeri. Siapa yang mereka maksud?

Ammar sangat ingin membuka mata, tapi sungguh berat. Mata maupun kepalanya.

"Aku tak mengenali anak ini."

"Dia adik Hasyim. Baru bergabung beberapa bulan lalu setelah lulus universitas."

"Bukan. Dia yang satu lagi."

"Ah. Aku pun tak tahu. Tapi, ku rasa dia anak salah satu profesor."

"Profesor teman dekat ketua?"

"Ah, dia yang berhasil mengelabui komunikator itu?"

Ammar mendengar suara gumaman mengiyakan.

"Lima belas menit lagi kita harus berpindah."

"Baiklah."

Ammar tak tahu apakah dalam lima belas menit ia akan tersadar kembali atau tidak.

Kegelapan begitu erat memeluknya. Hingga perlahan ia merasakan kesadarannya menghilang lagi.

"Aku mau hidup kita normal, brother." Kata Ammar setengah berteriak.

"Tidak ada lagi hidup normal di dunia ini, kau tahu?" Suara yang sangat dirindukannya itu tenang, tapi mantap.

Ammar tak berani membalas.

"Pemerintah semakin zalim dan menjadi-jadi. Kau sudah tahu itu."

Ammar sangat tahu kemana arah pembicaraan ini. Hisyam, kakak keduanya ini pasti akan kembali berceramah tentang al Muharar, yang dicap sebagai kelompok pemberontak oleh pemerintah, tapi sesungguhnya menjadi kelompok oposisi yang selalu menentang kesewenang-wenangan rezim saat ini.

Hisyam sudah menjadi anggotanya sejak dia lulus sekolah menengah. Hasyim, kakak ketiganya juga baru-baru ini bergabung.

Anggota al Muharar harus hidup dalam persembunyian. Identitas mereka sebagai warga negara dibekukan.

Akan tetapi, tidak untuk mereka yang dijuluki sang pembawa pesan. Mereka adalah agen ganda yang tetap berkehidupan sosial layaknya warga negara biasa sekaligus menjadi informan dan pelaksana misi al Muharar. Hisyam, menjadi salah satu pengajar di kampusnya dan seorang konsultan. Tetapi, kesibukannya di malam hari sebagai anggota al Muharar lebih menyita perhatian daripada kehidupan normalnya.

"Aku sudah menebak kau pasti akan merekrutku." Ammar menggerutu.

Hisyam perlahan mendekatinya.

"Tentu saja, adikku. Kau adalah aset terbaik yang dimiliki umat ini."

Hisyam mendekatinya lalu memberikan sebuah chip.

"Coba pecahkan kode file dalam chip ini."

Ammar mengangkat alis.

"Ini rahasia yang akan menghapus keraguanmu untuk bergabung dengan al Muharar."

Hisyam beranjak dari duduknya.

"Dan membuatmu berani untuk melawan rezim."

Kegeraman pada rezim sudah menjadi rahasia umum. Tapi, orang-orang hanya geram. Tidak banyak yang berani melakukan perlawanan, karena setiap gerakan oposisi yang muncul, langsung dimusnahkan. Atau yang terang-terangan masih menunjukkan penentangan, dibuat menderita. Siapa yang mau?

Perlahan-lahan Ammar merasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhnya lagi. Sekarang ditambah dengan sesak di dada karena ia kembali teringat Hisyam.

"Cepat angkat dia!"

"Kita sudah hampir terkepung."

Ammar mendengar sayup-sayup suara derap langkah. Bersamaan dengan itu tubuhnya diangkat paksa seperti karung beras.

Suara derungan halus air car muncul diikuti lesatan sinar penembak.

Air car kembali meliuk-liuk di udara.

~Bersambung~


#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

4 komentar: