Sang Pembawa Pesan (7)

0

Suasana mendadak menjadi hening saat air car yang ditumpangi Ammar berada di bawah todongan senjata.

"Alhamdulillah. Allahu akbar!" Irsyad, yang berada di sebelah Ammar berucap pelan.

Todongan senjata di depannya sama sekali tidak membuat pemuda itu takut. Sebaliknya, ia sedikit lega karena sudah bertemu dengan penjaga al Muharar.

Tetapi, mereka harus cepat.

Beberapa penjaga al Muharar mendekati air car mereka, memaksa mundur petugas yang menodongkan senjata pada Ammar dan Irsyad. Tentu saja. Saat ini petugas-petugas itu kalah jumlah.

"Kalian tidak apa-apa?" Seorang penjaga al Muharar bertanya.

Ammar dan Irsyad mengangguk.

Mereka keluar dari air car dan berjalan mendekati barisan air car milik al Muharar

Syut!

Satu lesatan tembakan terarah ke air car mereka.

Ammar merasakan tarikan pada kerah bajunya. Ia ditarik paksa sedemikian rupa.

Seketika suasana berubah kacau.

Lesatan tembakan dimana-mana.

Air car yang tadi ditumpangi Ammar berkobar dalam api.

Dari kejauhan, Ammar melihat berlusin-lusin air car loreng mendekati mereka.

Ammar melihat Irsyad yang bergerak lincah di balik pepohonan, membawa senjata.

Tidak seperti dirinya.

Ia masih bersama seorang penjaga al Muharar yang wajahnya asing. Menunggu untuk diberikan senjata.

Tetapi, yang muncul di depannya sebuah air car lagi, bersama penjaga al Muharar yang lain.

"Cepat pergi!"

Ammar merasakan tubuhnya didorong masuk air car. Ia tidak bisa mengucap sepatah kata pun.

Air car yang ditumpanginya melesat pergi.

"Saat ini prioritas kami adalah membawamu ke perbatasan."

Kalimat penjaga al Muharar itu menjelaskan.

Ammar hanya bisa tercengang, melihat pemandangan di belakangnya.

Air car al Muharar dan penjaga yang tak seberapa banyak diserbu oleh petugas-petugas berseragam loreng.

"Hanya Allah yang bisa menyelamatkan mereka."

Ammar mengamini perkataan penjaga al Muharar itu.

Sementara, air car yang ditumpangi Ammar menjauhi kegaduhan yang memekakkan telinga dan desingan laser yang terasa menyayat-nyayat hati.

Saat desingan sudah jauh tak terdengar, Ammar memasuki daerah asing, tempat berdiri beberapa tenda beratap mirip kubah.

"Ini markas besar?" Tanya Ammar.

Pemuda di sebelahnya tersenyum.

"Bukan. Ini markas sementara."

"Hasyim ada di sini?" Tiba-tiba Ammar diserang perasaan berharap.

"Tidak. Ia masih menuju markas besar."

Ammar melempar pandangan bertanya.

Air car berhenti di salah satu padang rumput luas.

Saat itu sejumlah orang keluar dari tenda.

Wajah-wajah mereka Ammar kenali karena Hasyim dan Hisyam.

Mereka petinggi-petinggi al Muharar.

~Bersambung~



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

0 comments:

Posting Komentar