Jumat, 16 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (9)

Ammar merasa ini benar-benar misi bunuh diri. Ia kembali ke daerah kekuasaan rezim?

Itu seperti meletakkan kantung penuh darah di depan moncong hiu.

Tetapi, ia percaya bahwa misi yang ditugaskan padanya adalah jalan terbaik.

Maka, Ammar menurut saja saat harus menyamar menggunakan makhluk kloning ciptaan profesor Martin.

Ah, di detik-detik terakhir sebelum zat kloning disuntikkan dan mengubah penampakan fisik dan beberapa DNA Ammar, ia baru menyadari bahwa pria berwajah oriental yang bersama ketua adalah ayah Yuriko.

Yuriko, sekarang dia berada dalam koma panjang. Batang otaknya terkena tembakan laser. Kemalangan profesor Martin tidak sampai disitu saja. Putranya, Eiji, benar tewas saat membantu pelarian pertama Ammar.

"Aku turut berduka, Sir,"

Profesor Martin tersenyum, berusaha tabah.

"Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya." Ujarnya. Kalimat yang membuat Ammar haru.

Saat ini, Ammar menempuh perjalanan menuju daerah rezim. Entah bagaimana rutenya, Ammar hanya mengikuti salah satu penjaga al Muharar yang membersamainya, Ribath. Seperti dirinya, ia juga menggunakan identitas makhluk kloning supaya tidak terdeteksi.

Tidak seberapa lama, keduanya sampai di kawasan gedung biru, pusat pemerintahan rezim. Suasana terasa mencekam bagi Ammar.

Meskipun tegang, Ammar tak perlu waktu lama untuk mencari tempat tujuannya. Ia sangat mengenal tempat ini, karena disini lah sehari-hari tempatnya menjadi agen ganda.

Tak ada masalah apapun saat ia dan Ribath melewati pos-pos pengawasan yang diperketat.

Ammar hanya tersenyum basa-basi bila kebetulan bertemu pandang dengan beberapa pekerja di gedung biru. Hanya satu dua orang. Selebihnya, petugas gedung biru sibuk dengan komunikator masing-masing, bahkan saat sedang berjalan dari satu gedung ke gedung lain.

Memasuki ruang kontrol utama, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. Entah akses milik Ammar sudah dinon-aktifkan atau belum.

"Semoga berhasil, brother." Kata Ribath. Ia hanya menemani Ammar sampai di depan ruangan saja.

"Bismillah." Ucap Ammar.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Saat ini dan seterusnya, ia hanya bisa berpasrah.

Ammar memindai retinanya, lalu pintu panel ruangan terbuka.

Entah ini kebodohan rezim atau apa? Akses miliknya masih berfungsi.

Tidak, Ammar!

Inilah pertolongan Allah.
Ammar masuk ke dalam ruang kontrol utama yang kosong dan mulai menjalankan misinya.

Menyebarkan isi chip dari Hisyam ke seantero dunia.

"Bismillah,"

Ammar meletakkan chip pada sebuah pemindai hologram.

Bersamaan dengan munculnya isi chip pada layar hologram di depan Ammar dan di layar-layar seluruh dunia, suara sirene mengaum.

Suara derap langkah terdengar mendekat.

Ammar menyetel kunci ruangan kontrol utama, lalu bergegas keluar.

Ribath menyambutnya dengan lemparan senjata.

Syut!

Lesatan senjata terarah pada lengan Ribath.

Ammar lalu berlari di depan Ribath menunjukkan jalan keluar.

~~~

(Bersambung)



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar