Senin, 02 April 2018

Pulang (1)

[Tantangan Fiksi: Deskripsi]

Gadis berkacamata tebal itu terengah-engah begitu sampai di gerbong paling belakang. Beberapa detik kemudian, kereta berpendingin ruangan berangkat. Syukurlah, gadis itu tidak ketinggalan kereta. Apa jadinya kalau ketinggalan? Uang tabungan hasil menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya yang cekak hangus begitu saja? Ia nampaknya tidak bisa menerima hal itu. Bukannya terlalu perhitungan, tapi, membayangkan ketinggalan kereta karena hal remeh saja sudah membuatnya sesak. Untunglah ia masih bisa berlari sekuat tenaga meski diserang kepanikan luar biasa. Ia pun tidak jadi memaki bapak pemeriksa tiket yang menjelang keberangkatan tadi masih sempat-sempatnya berlambat-lambat memeriksa identitasnya. Sungguh terlalu.

Menyusuri beberapa bangku kereta dalam gerbong, ia akhirnya sampai di baris paling belakang pula. Inilah hasilnya membeli tiket kereta pada detik-detik terakhir jadwal keberangkatan. Khas dirinya. Terlalu banyak menimbang dan berpikir, lalu memutuskan cepat, untunglah masih dengan bismillah. Kalau sampai ibunya tahu dirinya memesan tiket sangat mepet waktu seperti ini, sudah pasti dirinya kena omel. Macam anak baru gede saja. Padahal dua tahun lagi usianya seperempat abad. Entah ibu-ibu jaman sekarang memang ribet kalau soal anak perempuan, atau memang dirinya yang tidak dewasa. Ya sudah, mungkin tidak usah cerita masalah hampir ketinggalan kereta ini pada ibunya. Asal sampai rumah dengan selamat, rasanya mengejar kereta setengah mati tidak spesial. Pertama kalinya ia seperti ini, karena biasanya ia manusia sangat penuh persiapan. Tapi, ini pengalaman pertama kali yang tidak buruk.

Akhirnya, gadis dengan barang bawaan hanya sebuah tas punggung itu menemukan nomor kursinya. Ah, teman duduknya seorang pria. Pria muda lebih tepatnya. Menganalisis dari atas hingga ujung kaki, nampaknya pria itu masih usia anak kuliahan. Gayanya sama persis dengan junior-juniornya di kampus. Gadis itu tidak berkeberatan bersebelahan dengan pria sebagai teman duduk hingga ke kota asalnya. Sama sekali bukan masalah. Hanya saja, dirinya lebih bersyukur bila teman duduknya ibu-ibu tua yang ramah. Pria itu tersenyum dan mengangguk sedikit padanya. Dirinya membalas tersenyum lalu mencoba duduk dengan santai.

Meskipun tidak bisa seratus persen santai, karena sesungguhnya ia lebih nyaman dengan kursi yang menempel ke jendela. Sayangnya, pria muda itu sudah nampak nyaman sekali di kursi itu. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan atau ingin bertukar kursi. Biasanya, gadis berkerudung ini akan sangat ketat memilih tiket kereta beserta nomor kursinya. Sangat selektif dan pemilih supaya mendapatkan kursi di sebelah jendela. Tapi, tidak untuk perjalanan kali ini. Semuanya meskipun sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata dieksekusi terlalu cepat. Maka, inilah konsekuensinya, kehilangan momen bisa bersandar di tepian jendela kereta api. Bisa memandangi jalanan penuh warna, mulai dari rumah-rumah penduduk yang berdempetan hingga sawah yang menghijau. Berlebihan? Siapapun yang mengatakan itu mungkin belum menghayati nyamannya duduk di kursi sebelah jendela kereta.

Gadis yang hari ini mengenakan kerudung berwarna biru itu, memilih mendekap tas punggungnya. Tidak seperti teman duduknya yang meletakkan tas di rak atas kepala dan sekarang bisa memainkan gawai dengan dua tangan bebas. Gadis itu tidak iri. Niatnya memang ingin menikmati perjalanan tanpa perlu memainkan gawai. Sekali mengecek gawai, biasanya berakibat candu untuk dirinya. Ia merasa perlu momen untuk menjernihkan pikiran. Perjalanan dengan kereta adalah saat yang tepat. Apalagi bila teman duduknya tak banyak omong. Ah, sungguh sinis dirinya yang tak mau terlibat obrolan.

"Mau kemana mbak?" Pertanyaan yang sungguh standar ditanyakan oleh teman seperjalanan.

"Ke xxx,"

"Oh," Pria itu mengangguk paham.

"Pemberhentian terakhir, ya?" Lanjutnya bertanya.

"Ya. Masnya sendiri mau kemana?" Gadis itu balas bertanya atas nama kesopanan.

"Saya sebelum mbak, turun di stasiun xxx,"

Obrolan pun berlanjut ke hal-hal formal lainnya yang lumrah ditanyakan saat orang asing bertemu dalam sebuah perjalanan dan menjadi teman duduk. Seperti biasa pula, gadis ini dikira masih anak kuliahan, padahal ia sudah lulus lebih dari satu tahun yang lalu. Wajah gadis itu yang memang irit atau penampilannya saja yang terlalu mirip anak kampus? Sepertinya yang kedua. Style gadis itu menjadi ciri khas dan yang dirinya rasa paling nyaman. Berkemeja panjang, ditumpuk jaket, rok denim, kerudung segi empat, dan tidak lupa sneakers yang mendukung diajak berlari kesana kemari. Cukup banyak yang protes dengan penampilannya yang terlalu nyantai ini. Tapi, ia tidak terlalu peduli komentar orang. Toh di pekerjaan pun, pada banyak momen gaya ini lah yang paling mendukung. Meskipun alasan utama style yang ia pakai ini adalah karena super nyaman dan sangat mudah disiapkan.

Tak lama, teman duduknya kembali sibuk dengan gawainya dan menghentikan obrolan. Bukan masalah bagi gadis itu. Ia malah leluasa untuk memikirkan dan merenungi banyak hal. Termasuk soal pulang. Rasanya, pulang ke rumah bukan salah satu prioritas beberapa bulan lalu. Ternyata skenario hidupnya berubah total. Dirinya bisa apa selain menjalani?
Mengapa harus pulang? Ia sendiri berkali-kali bertanya pada hati kecilnya. Tapi, beginilah menjadi wanita. Menurut saja apa kata orangtua. Ia tidak berani lagi melawan, karena diskusi terakhir, ia merasa sangat berdosa akibat terlalu emosional dalam berkata-kata.

Ia pulang untuk menyelesaikan masalah dan mengubah arah impian-impiannya.

~Bersambung~


#OdopBatch5
#OneDayOnePost
This entry was posted in