Sabtu, 12 Mei 2018

Babywearing: Gendong-menggendong, Emang Penting?

Tadinya mau ngasih judul "Repot amat sih, bu, soal gendong-menggendong bayi?" Tapi, pas baca lagi kesannya kok too negative dan agak aneh, akhirnya diganti jadi judul di atas.

Awal terjun ke dunia gendong, karena cikcik (nama panggilan kecil anak saya) yang termasuk agak rewel di awal kelahirannya. Sering banget menangis dan baru tenang saat digendong. Semua sudah dicek mulai dari kondisi popok, ada yang sakit atau enggak, haus atau laper, semua aman. Ternyata, emang cikcik cuma mau digendong. 

Saya bukannya enggak pernah kena tegur loh karena membiasakan cikcik digendong terus. Sering banget kena omel yang sebenarnya tujuannya baik. Mereka yang 'nyerewetin' itu mungkin cuma enggak mau saya terlalu lelah karena nggendong dan mikirin cikcik ke depannya, masa' gendongan (maunya digendong) terus? Nanti ibunya enggak bisa ngapa-ngapain dong?

Sebenarnya, wajar banget bayi (apalagi yang baru lahir) ngerasa lebih nyaman saat digendong. Secara, yang tadinya dia aman, tenang, damai di dalam kandungan, tiba-tiba harus hidup di alam dunia yang penuh hingar bingar. Nah, saat digendong, bayi serasa dipeluk, hangat, aman, tenang, karena dekat dengan ibu yang menggendong, seperti saat di dalam kandungan.


Menggendong emang kadang melelahkan dan bikin pegel. Tapi, yang saya rasakan, menggendong itu lebih menenangkan (karena cikcik enggak nangis lagi) dan saya pun jadi punya waktu untuk berpikir, berdzikir, serta belajar ikhlas. Masalah pegel bisa disiasati dengan memilih alat gendong yang tepat.

Hal yang selalu saya ingat kalau orang-orang di sekitar 'menakut-nakuti' dengan ancaman nanti anak bakal gendongan terus adalah bahwa enggak selamanya anak bakal minta gendong. Nanti ada fasenya dia maunya merangkak, berjalan, dan seterusnya. Jadi, kalau sekarang maunya digendong, dinikmati saja. Malah kalau denger cerita dari ibu-ibu yang lebih dulu terjun ke dunia gendong, ada masanya ibu-ibu ini pengen nyobain gendongan ini itu, tapi malah anaknya kabur enggak mau digendong lagi.

Terus kenapa posisi gendongnya harus begitu (berdiri)? Terus kenapa kakinya digituin? Kan masih bayi banget?

Sering banget juga nih kena tegur karena posisi gendong bayi berdiri (upright) padahal cikcik masih mungil banget. Belum ada sebulan kayaknya cikcik udah saya gendong upright.

Alasan pertama karena cikcik maunya digendong upright. Dia tetep nangis dan kayak enggak nyaman kalau digendong posisi tidur.

Alasan kedua dan yang lebih ilmiah, karena posisi upright dan M-shape itu seperti posisi bayi saat di dalam kandungan. 

Emang sih ini seolah memutarbalikkan hal yang lumrah di masyarakat. Kalau bayi, apalagi yang baru lahir, digendongnya ditidurkan saja dan kakinya posisi lurus bukan dipekeh (read:bahasa jawa). 

Sebenarnya yang penting dalam menggendong bayi adalah bayi aman, nyaman, begitu pula dengan yang menggendongnya.

Bayi aman dan nyaman kriterianya biasa disebut dengan singkatan TICKS.

Penjelasan singkatnya begini.

T Tight, ketat saat menggendong bayi, jadi bayi merasa dipeluk. 

I In view all the times, yang menggendong selalu bisa melihat kondisi bayi. So, it means bayi enggak boleh mendelep atau tenggelam dalam gendongan.

C Close enough to kiss, bayi mudah dicium saat digendong.

K Keep chin of the chest, harus dihindari dagu bayi menempel ke dada karena dikhawatirkan nanti sulit bernapas.

S Supported back, gendongan yang dipakai harus menyangga punggung bayi. Apalagi bayi yang baru lahir. Mulai dari kepala, leher, punggung, pinggul, pantat, dan paha harus dijaga.

Buat yang ngerasa ngeri dan khawatir dengan tulang ekor bayi yang diposisikan terduduk saat digendong, enggak perlu khawatir, karena posisi gendong upright atau C-shape pada punggung bayi adalah posisi natural bayi baru lahir dan sesuai dengan perkembangan ruas tulang belakang bayi.

Perkembangan ruas tulang belakang bayi


Posisi C-Shape punggung bayi

Posisi kaki bayi pun naturalnya saat baru dilahirkan seperti posisi kaki katak atau M-shape. FYI, sendi pinggul bayi terdiri dari bola dan mangkuk persendian. Selama beberapa bulan pertama, persendian pinggul bayi masih lentur dan mangkuk persendiannya pun masih dalam tahap perkembangan. Mangkuk persendian yang tersusun dari tulang rawan lunak, harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.

Kalau pinggul bayi dipaksa dalam posisi kaki lurus, bola persendian dalam kondisi beresiko karena bisa terjadi kerusakan permanen saat proses pembentukan mangkuk persendian. Kondisi ini disebut Developmental Dysplasia of Hip atau DDH. Akibat lainnya adalah bola persendian bisa tergelincir keluar sedikit demi sedikit dari mangkuk persendian atau terjadi dislokasi pinggul.

Posisi M-Shape kaki bayi

Sayangnya, di Indonesia malah kayak it's a must untuk ngelurusin kaki bayi yang baru lahir. Entah itu lewat praktek membedong atau saat menggendong bayi.

Makanya, saya bersyukur bisa mengenal dunia gendong karena jadi tau kalau menggendong itu banyak manfaatnya baik untuk fisik maupun psikis ibu dan bayi. Misalnya, dengan menggendong bisa memperkuat ikatan antara ibu dan bayi, ibu menjadi lebih bahagia, mengurangi depresi atau stres pasca melahirkan, dan memperbaiki postur tubuh ibu saat hamil yang cenderung membungkuk. Dari sisi bayi, selain memberikan kondisi yang aman dan nyaman, menggendong bisa mendorong bayi untuk berkomunikasi sesuai tahapan usianya dan bayi bisa lebih menerima rangsangan yang berguna untuk mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, dan emosionalnya.

Buat saya pribadi, belajar lagi soal gendong bayi, bikin kita lebih open mind bahwa praktek gendong yang dulu-dulu itu harus dibetulkan.

Saya bisa nulis begini bukan berarti lancar jaya dalam praktek menggendong yang sesuai aturan. Sempet banget kena semprit ortu, nenek, buyut, sodara, tetangga, bahkan orang yang ketemu di jalan. Sempet juga karena males berdebat akhirnya gendong model cradle (gendong biasa yang kakinya dilurusin dan dirapetin). Tapi, ya, tetep berusaha cari celahnya supaya bisa bertahan gendong yang aman dan nyaman untuk bayi.

Akhirnya kesenengan tau dunia gendong juga karena saya enggak bisa gendong bayi pake jarik yang diselip-selipin di belakang punggung. Seinget saya karena enggak bisa dan menyerah mencoba, bikin saya jadi belajar teknik gendong jarik pake simpul jangkar (slipknot). Enggak terlalu solutif sih buat saya, karena saya enggak tahan ribet bikin simpulnya. Alhasil saya kenal dengan berbagai macam jenis gendongan dan yang paling jadi favorit, karena it helps me a lot adalah gendongan model ransel atau kanguru atau SSC (Soft Structured Carrier).

Sampai sekarang saya merasa babywearing atau gendong-menggendong sangat penting dan membantu saya menjalani fase motherhood ini. Menggendong enggak cuma saat cikcik rewel saja, tapi saat bepergian maupun saat beberes rumah. Menggendong sangat memudahkan aktivitas saya sehari-hari.

Gimana dengan ibu-ibu yang lain? Merasakan manfaat yang sama kah dengan kegiatan menggendong?

Atau masih enggak habis pikir kenapa kegiatan menggendong aja ada macem-macemnya, ini itu, bahkan gendongan bayi pun harganya bisa seperti harga motor bekas?

Yah, masing-masing ibu punya prioritas dalam merawat bayinya. Hal yang penting adalah kita saling open mind dan berlapang dada saat berbagi ilmu yang berkaitan dengan merawat anak, termasuk babywearing. Tidak perlu saling menghakimi saat apa yang mungkin kita terapkan pada anak kita, malah dihindari oleh ibu yang lain. Kalau memang hal yang kita sampaikan belum bisa diterima orang lain, selama kita (paling tidak) berikhtiar untuk sharing, tetep tersenyum ya, bu (ngomong ke kaca).

Semoga bermanfaat.


Referensi:
Notulensi KulWapp I Carrie my Baby with Love bersama Ns. Henti Nikimawati (Babywearing Consultant) by Shalihah Motherhood
Notulensi KulWapp Menggendong untuk Kesehatan Ibu dan Bayi bersama Indy Bulukana (Babywearing Consultant) by Magelang Babywearers
M-Shape in Baby's Leg Natural Position oleh Afifah Mu'minah (Babywearing Consultant) https://www.afifahmmnh.com/single-post/2017/08/10/M-shape-is-Babys-Leg-Natural-Position

Credit gambar: google dan pinterest
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar