Sabtu, 21 Juli 2018

Meteor Garden 2018: Nostalgia Tak Biasa

Balik lagi ke kebiasaan lama, keranjingan nonton drama. Padahal kayaknya udah lama banget enggak lagi hobi maraton nonton drama apapun itu. Karena sejak melahirkan dan 'momong' anak bayi, waktu istirahat sangatlah berharga. Kayaknya kok sia-sia banget kalau malah dipake buat nonton drama.

Eh, tapi, apa daya, mungkin karena sedang jenuh yang memuncak dengan aktivitas dan kewajiban harian yang itu-itu saja, ber-ending cari-cari drama buat ditonton.

Tadinya, sama sekali enggak ngelirik judul Meteor Garden 2018. Tapi, jari-jari berkata lain. Download satu episode berlanjut ke episode-episode berikutnya.


Sebenarnya agak ngerasa aneh gimana gitu ya, nonton drama yang udah diketahui jalan ceritanya kayak mana, di jaman SD, SMA, terus kuliah, eh, sekarang nonton lagi pas udah ada anak bayi.

Tapi, meskipun begitu, rasa aneh itu hilang begitu aja, pas udah nonton episode demi episode. Kayak yang pura-pura enggak tau jalan cerita berikutnya.

Di Meteor Garden 2018 ini kata saya mah edisi gabungan dan dibagus-bagusinnya Meteor Garden 2001, Hana Yori Dango, dan Boys Before Flowers.

Buat yang seneng sama cerita San Chai dan F4 pasti tau lah cerita khas masing-masing negara.

Jujur, Meteor Garden 2018 ini jauh lebih bagus dan logic dari yang sebelum-sebelumnya. Sinematografi kekiniannya mendukung banget untuk bikin mata seger ngelihat latar yang riil seperti yang ada di dunia nyata, tapi tetep keren segala-gala pencahayaan dll. Alur ceritanya pun disesuaikan dengan kekritisan orang-orang masa kini. Kalau saya bilang sih, enggak se-maksa dan se-brutal drama versi lawas. Masih sangat masuk akal lah jalan ceritanya. Meskipun secara garis besar inti cerita cintanya (gadis biasa berjodoh dengan laki-laki super duper kaya) masih krik-krik gimana gitu buat saya.

Komen saya di atas mungkin enggak terlalu representatif. Secara dramanya masih ongoing sampe akhir Agustus nanti. Sedangkan saya baru nonton sampe episode puluhan yang kayaknya baru seperempat cerita.

Nonton drama remake ini bikin saya jadi terbawa masa lalu. Dulu pas jaman nontonin drama ini, saya sedang begini dan begitu. Punya kesibukan x dan y. Punya impian a b c d e. Sekarang di kehidupan saya yang saat ini, jadi teringat itu semua. Terutama bagian betapa masih banyak keinginan yang masih tersimpan dan belum diwujudkan.

Nostalgia itu membangkitkan thrilled feeling yang kayaknya padam beberapa tahun terakhir. Enggak ada sesuatu yang bikin saya sangat excited. Tapi, dengan sedikit nostalgia, saya seperti mendapat pemantik untuk kembali bersemangat!

Lanjut lagi soal dramanya?

Meteor Garden 2018 yang diperankan anak-anak muda usia kurang dari dan 20-an tahun ini buat saya cukup menyenangkan jadi tontonan emak-emak. Meskipun kadang pas nonton banyak komennya. 'Aduh bocah, baru gitu doang! Ntar kalo udah nikah lebih-lebih cobaannya.'  Itu contoh komen nyinyir dari emak baru 1 tahun yang kayaknya sok banget udah tau asam garam kehidupan. LOL

Latar tempat Meteor Garden ini juga oke banget lho. Kalau enggak salah di Shanghai dan itu indah, enggak terlihat kumuh atau gimana gitu ya, padahal yang jadi tempat shooting enggak semuanya tempat mewah. Kalau liat cuplikan di episode selanjutnya, sepertinya juga bakal ada episode-episode di London. Yes, London Great Britain!

Aktor-aktrisnya enggak usah ditanya. Begitulah adanya, dicari yang wajahnya selera anak-anak muda masa kini. Wajah manis dan postur yang cungkring-cungkring (sorry to say. Tak ada maksud untuk nge-bully secara fisik).




Adegan-adegannya meskipun mirip-mirip dengan drama yang lawas, beberapa menurut saya ada yang jadi aneh dan 'wagu' di remake 2018 ini. Tapi, enggak merusak keseluruhan cerita sih.

So, buat temen-temen sebaya saya yang tertarik nonton remake Meteor Garden ini, selamat kembali ke masa lalu, selamat  bernostalgia!



Sumber gambar: Pinterest
Reactions:
This entry was posted in

2 komentar:

  1. Ow. Mahmud tengah bernostalgia ternyata ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya nih... enggak nulis2 penugasan malah terjebak nostalgia 😅

      Hapus