Mencari Inspirasi Menulis di Aura Book and Coffee

4


Beberapa waktu yang lalu, saya minta izin ke suami untuk me time menulis di kafe. Yes, gegayaan banget kan, niruin anak kuliahan yang nongkrong ngerjain skripsi gitu. Pas udahan diizinin, saya yang bingung mau nongkrong dimana. Hanya ada satu dua tempat yang muncul yang bisa jadi tujuan. Salah satu alasan enggak jadinya, karena tempat-tempat itu too pricy untuk pinjam tempat buat buka laptop rada lama (buibu usaha ngirit).

Welcome to Aura Book&Coffee
Alhamdulillah, pas banget dapet ajakan dari foundernya Tapis Blogger, Mba Naqi untuk berkunjung ke Aura Book and Coffee. Denger namanya langsung kesenengan, karena akhirnya nemu juga kafe buku di Lampung.


Sebelumnya, pernah searching-searching kafe buku, tapi nemunya waktu itu di dekat rumah Semarang. Udah tau tempatnya, tapi sayang belum sempat berkunjung.

Seperti namanya, kafe buku ini cocok banget untuk kita yang suka baca buku, sekaligus berlama-lama di kafe. Kalau biasanya kafe identik sebagai tempat hangout dan ngobrol bareng teman, nah, kafe buku ini jadi alternatif. Enggak sekadar ngobrol atau nongkrong, di kafe buku kita bisa nambah ilmu dengan membaca buku.

Meski tempatnya rada jauh dari rumah saya, tapi, Aura Book and Coffee ini recommended untuk dikunjungi. Kalau di zaman saya ada kafe buku macam ini, betah deh saya berkunjung sering-sering. 

Saat berkunjung ke Aura Book and Coffee, pas banget suasana lagi mendung menuju gerimis. Suasananya jadi syahdu banget untuk ndengerin lagu mellow sambil nulis cerita fiksi. Apalagi disini banyak buku berjejer, fiksi maupun non-fiksi, genrenya pun variatif. Jadi, kalau kehabisan ide tulisan bisa banget rehat sejenak cari inspirasi dengan buka-buka buku tersebut.

Enggak perlu khawatir kelaparan, karena disini pun menyediakan menu cemilan, makanan, dan minuman  dengan harga ramah di kantong. Karena judulnya Book and Coffee, ketahuan kan ya, kalau signature minumannya adalah kopi. Bahkan ownernya pun khusus mendatangkan barista untuk mengolah kopi disini, supaya kualitas kopinya enggak kalah dari kafe-kafe sebelah.



Aura Book and Coffee ini jadi kafe buku pertama di Bandar Lampung, sepengetahuan saya. Jadi, buat yang doyan baca buku sekaligus hobi nongkrong sangat patut untuk dijadwalkan berkunjung. Kafe buku Aura buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Pas buat mahasiswa yang mau puas-puasin ngerjain skripsi maupun penulis yang pengen suasana baru untuk ngedraf tulisan, karena tersedia colokan dan full wifi.

Buat yang pengen kongkow bareng teman-teman pun bisa sambil menghirup udara segar daerah Sukarame. Aura Book and Coffe ini di-set 2 lantai. Lantai bawah dengan kursi 2-2 dengan suasana indoor yang tenang dan personal, sedangkan di lantai 2 suasana ruangan terbuka dan asyik untuk ngobrol santai.

Suasana di lantai 1

Pengunjung di lantai 2

Bersama teman-teman Tapis Blogger
Jadi, kapan mau quality time nge-cafe sambil baca buku?


Jl. Pandawa Raya, Harapan Jaya, Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Instagram: @aurabookcoffee


Sumber gambar: Dokumentasi pribadi dan jepretan mbak Desy

Upgrade Size Gendongan: Review Zakkel Baby Carriers Toddler

2

Tidak terasa waktu berlalu. Eh, ternyata sudah lebih dari setahun saya merasakan manfaat gendongan, utamanya gendongan yang saya punyai, Zakkel Baby Carriers. Sebenarnya Ncik sudah mencoba Zakkel size standard sejak usia 5 bulan, tapi saya baru ada rezeki untuk membeli sendiri Zakkel motif dragonstone saat Ncik berusia 6 atau 7 bulan. Mencari motifnya pun penuh liku karena harus chat berkali-kali dari satu Zakkel partners ke partners yang lain. Maklum ya, yang memakai gendongan enggak cuma saya, tapi ayahnya Ncik juga. Jadi, harus sama-sama deal soal motif yang dibeli.

Memasuki usia Ncik 12 atau 13 bulan saya pernah sekali mencoba Zakkel Baby Carriers size toddler, tapi ternyata masih terlalu besar. Cirinya bagaimana? Bisa dilihat dari tubuh Ncik yang masih tenggelam dalam body panel gendongan, bagian kaki yang overspread alias terlalu mengangkang, sehingga bagian bawah body panel gendongan terlipat.

Ngomong-ngomong soal Zakkel size toddler yang saya punyai, sebenarnya saya enggak serajin itu prepare gendongan jauh-jauh hari. Alhamdulillah pada satu kesempatan giveaway yang diadakan oleh Zakkel, Qodarullah saya terpilih mendapatkan hadiah Zakkel size toddler motif ice and fire. Cukup lama gendongan ini tersimpan rapi di lemari, sampai akhirnya, saya ikutkan program travelling wrap* di komunitas Lampung Menggendong.
Zakkel Baby Carriers Toddler motif Ice and Fire

Sekembalinya Zakkel toddler ke rumah di pertengahan bulan Oktober 2018, tentu saya semakin tidak sabar mengujicobakannya untuk menggendong Ncik. Secara anak bayi ini sudah berusia 16 bulan.

Bagaimana rasanya?

Nyaman!

Mungkin karena sudah waktunya upgrade size? Zakkel toddler ini nyaman sekali baik di saya maupun di Ncik. Terasa gendongannya yang memeluk erat, tanpa memberikan efek sesak, dan beban gendong lebih merata, jadi tidak terlalu pegal meski menggendong lama.

Dibandingkan saat memakai size standar, size toddler lebih pas saya pakai sekarang ini.

Ncik pun juga enggak salah tingkah saat di dalam gendongan, karena saat memakai size standard Ncik bingung menempatkan posisi tangannya. Mengenai posisi kaki Ncik saat memakai size standard sebenarnya masih M-shape dan knee to knee. 

Salah satu alasan banyak ibu akhirnya memutuskan upgrade ke size toddler adalah kaki bayi yang sudah tidak knee to knee alias ‘nglewer’ karena sudah semakin panjang. Akibatnya yang menggendong merasakan beban yang terlalu berat karena kaki yang ‘nglewer’ tidak tersupport gendongan.

Meskipun saya juga pernah membaca sharing tentang knee to knee yang tidak terlalu menjadi concern, alias it’s okay meski enggak knee to knee atau M-shape saat usia anak sudah lewat dari 1 tahun. Cuma, ya, itu tadi, menggendong ergonomis kan harus nyaman untuk kedua belah pihak. Mungkin anak jadi enggak nyaman saat kakinya ‘nglewer’ di gendongan standar, mungkin juga yang menggendong pun makin pegel karena beban gendongan yang makin-makin berat apalagi ditambah kaki ‘nglewer’ tersebut.

Ncik in Zakkel Standard with Babywearing Sisters wearing Zakkel Toddler

Secara keseluruhan tidak ada perbedaan yang signifikan antara fitur Zakkel standard dan toddler. Hanya hoodie saja yang polos tanpa motif. Tapi, menurut saya itu tidak jadi masalah.

Malah menurut saya, motif-motif di size toddler lebih catchy dan elegan. Hm, mungkin menyesuaikan sasaran usia pasar.

Kalau membaca dari keterangan fitur dalam deskripsi produk Zakkel toddler, idealnya Zakkel toddler bisa digunakan mulai usia anak 18 bulan dengan tinggi badan 82-85 cm. Tapi, imho, balik lagi ke postur serta kenyamanan penggendong dan yang digendong.

Ada yang masih di bawah usia 12 atau 18 bulan pun merasa lebih nyaman memakai size toddler daripada size standard. Tapi, ada juga yang baru upgrade ke size toddler saat usia sudah 2 tahun. Tidak ada aturan baku kapan waktu untuk upgrade size toddler.

Patokannya lebih ke rasa nyaman saat kita memakai gendongan saja. Kalau amannya insya Allah keduanya sama-sama aman.

Makanya, menurut saya, untuk upgrade size gendongan tidak bisa hanya berpatokan pada usia saja. Lebih baik bila kita mencoba terlebih dahulu gendongan tersebut. Sama lah seperti saat akan membeli gendongan pertama kali.

Saya pribadi merasakan betapa ribetnya beli gendongan lantas tidak cocok, jadi harus ada effort untuk menjual ulang gendongan yang kurang nyaman di saya tersebut, supaya bisa membeli gendongan yang lebih pas.

Kalau saat ini sebenarnya enggak perlu repot saat ingin mencoba gendongan. Jika tertarik, bisa menghubungi komunitas-komunitas menggendong yang ada di kota tempat tinggal ayah-ibu sekalian.

Semoga bermanfaat.

Ncik in Zakkel Toddler
*Travelling Wrap: Meminjamkan gendongan untuk dicoba oleh member atau orang yang terpilih selama beberapa waktu

Ps. Kindly cek akun Instagram @LisanaLibrary bila ayah-ibu tertarik untuk menyewa Zakkel size standard maupun toddler.


Sumber gambar: @ZakkelBabyCarriers dan dokumentasi pribadi