Senin, 02 April 2018

Pulang (1)

April 02, 2018 11 Comments
[Tantangan Fiksi: Deskripsi]

Gadis berkacamata tebal itu terengah-engah begitu sampai di gerbong paling belakang. Beberapa detik kemudian, kereta berpendingin ruangan berangkat. Syukurlah, gadis itu tidak ketinggalan kereta. Apa jadinya kalau ketinggalan? Uang tabungan hasil menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya yang cekak hangus begitu saja? Ia nampaknya tidak bisa menerima hal itu. Bukannya terlalu perhitungan, tapi, membayangkan ketinggalan kereta karena hal remeh saja sudah membuatnya sesak. Untunglah ia masih bisa berlari sekuat tenaga meski diserang kepanikan luar biasa. Ia pun tidak jadi memaki bapak pemeriksa tiket yang menjelang keberangkatan tadi masih sempat-sempatnya berlambat-lambat memeriksa identitasnya. Sungguh terlalu.

Menyusuri beberapa bangku kereta dalam gerbong, ia akhirnya sampai di baris paling belakang pula. Inilah hasilnya membeli tiket kereta pada detik-detik terakhir jadwal keberangkatan. Khas dirinya. Terlalu banyak menimbang dan berpikir, lalu memutuskan cepat, untunglah masih dengan bismillah. Kalau sampai ibunya tahu dirinya memesan tiket sangat mepet waktu seperti ini, sudah pasti dirinya kena omel. Macam anak baru gede saja. Padahal dua tahun lagi usianya seperempat abad. Entah ibu-ibu jaman sekarang memang ribet kalau soal anak perempuan, atau memang dirinya yang tidak dewasa. Ya sudah, mungkin tidak usah cerita masalah hampir ketinggalan kereta ini pada ibunya. Asal sampai rumah dengan selamat, rasanya mengejar kereta setengah mati tidak spesial. Pertama kalinya ia seperti ini, karena biasanya ia manusia sangat penuh persiapan. Tapi, ini pengalaman pertama kali yang tidak buruk.

Akhirnya, gadis dengan barang bawaan hanya sebuah tas punggung itu menemukan nomor kursinya. Ah, teman duduknya seorang pria. Pria muda lebih tepatnya. Menganalisis dari atas hingga ujung kaki, nampaknya pria itu masih usia anak kuliahan. Gayanya sama persis dengan junior-juniornya di kampus. Gadis itu tidak berkeberatan bersebelahan dengan pria sebagai teman duduk hingga ke kota asalnya. Sama sekali bukan masalah. Hanya saja, dirinya lebih bersyukur bila teman duduknya ibu-ibu tua yang ramah. Pria itu tersenyum dan mengangguk sedikit padanya. Dirinya membalas tersenyum lalu mencoba duduk dengan santai.

Meskipun tidak bisa seratus persen santai, karena sesungguhnya ia lebih nyaman dengan kursi yang menempel ke jendela. Sayangnya, pria muda itu sudah nampak nyaman sekali di kursi itu. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan atau ingin bertukar kursi. Biasanya, gadis berkerudung ini akan sangat ketat memilih tiket kereta beserta nomor kursinya. Sangat selektif dan pemilih supaya mendapatkan kursi di sebelah jendela. Tapi, tidak untuk perjalanan kali ini. Semuanya meskipun sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata dieksekusi terlalu cepat. Maka, inilah konsekuensinya, kehilangan momen bisa bersandar di tepian jendela kereta api. Bisa memandangi jalanan penuh warna, mulai dari rumah-rumah penduduk yang berdempetan hingga sawah yang menghijau. Berlebihan? Siapapun yang mengatakan itu mungkin belum menghayati nyamannya duduk di kursi sebelah jendela kereta.

Gadis yang hari ini mengenakan kerudung berwarna biru itu, memilih mendekap tas punggungnya. Tidak seperti teman duduknya yang meletakkan tas di rak atas kepala dan sekarang bisa memainkan gawai dengan dua tangan bebas. Gadis itu tidak iri. Niatnya memang ingin menikmati perjalanan tanpa perlu memainkan gawai. Sekali mengecek gawai, biasanya berakibat candu untuk dirinya. Ia merasa perlu momen untuk menjernihkan pikiran. Perjalanan dengan kereta adalah saat yang tepat. Apalagi bila teman duduknya tak banyak omong. Ah, sungguh sinis dirinya yang tak mau terlibat obrolan.

"Mau kemana mbak?" Pertanyaan yang sungguh standar ditanyakan oleh teman seperjalanan.

"Ke xxx,"

"Oh," Pria itu mengangguk paham.

"Pemberhentian terakhir, ya?" Lanjutnya bertanya.

"Ya. Masnya sendiri mau kemana?" Gadis itu balas bertanya atas nama kesopanan.

"Saya sebelum mbak, turun di stasiun xxx,"

Obrolan pun berlanjut ke hal-hal formal lainnya yang lumrah ditanyakan saat orang asing bertemu dalam sebuah perjalanan dan menjadi teman duduk. Seperti biasa pula, gadis ini dikira masih anak kuliahan, padahal ia sudah lulus lebih dari satu tahun yang lalu. Wajah gadis itu yang memang irit atau penampilannya saja yang terlalu mirip anak kampus? Sepertinya yang kedua. Style gadis itu menjadi ciri khas dan yang dirinya rasa paling nyaman. Berkemeja panjang, ditumpuk jaket, rok denim, kerudung segi empat, dan tidak lupa sneakers yang mendukung diajak berlari kesana kemari. Cukup banyak yang protes dengan penampilannya yang terlalu nyantai ini. Tapi, ia tidak terlalu peduli komentar orang. Toh di pekerjaan pun, pada banyak momen gaya ini lah yang paling mendukung. Meskipun alasan utama style yang ia pakai ini adalah karena super nyaman dan sangat mudah disiapkan.

Tak lama, teman duduknya kembali sibuk dengan gawainya dan menghentikan obrolan. Bukan masalah bagi gadis itu. Ia malah leluasa untuk memikirkan dan merenungi banyak hal. Termasuk soal pulang. Rasanya, pulang ke rumah bukan salah satu prioritas beberapa bulan lalu. Ternyata skenario hidupnya berubah total. Dirinya bisa apa selain menjalani?
Mengapa harus pulang? Ia sendiri berkali-kali bertanya pada hati kecilnya. Tapi, beginilah menjadi wanita. Menurut saja apa kata orangtua. Ia tidak berani lagi melawan, karena diskusi terakhir, ia merasa sangat berdosa akibat terlalu emosional dalam berkata-kata.

Ia pulang untuk menyelesaikan masalah dan mengubah arah impian-impiannya.

~Bersambung~


#OdopBatch5
#OneDayOnePost

Sabtu, 31 Maret 2018

Review Gendongan SSC Nana Gen 1

Maret 31, 2018 0 Comments
Kesan pertama begitu menggoda.

Hahaha itu yang saya rasakan begitu memakai SSC Nana generasi pertama. Kalau boleh lebay, ini uenak pol meskipun pertama kali dipakai.

Ada beberapa sebab kenapa saya bisa komen begitu. Pertama, bisa jadi karena saya mulai terbiasa pakai SSC. Kedua, bisa karena SSC ini udah sering dipakai jadi udah break-in (emang woven wrap* ada break-in* segala?), atau emang beneran enak? Soalnya, meskipun saya baru nyobain pertama kali, rasanya langsung nemplok dan nyaman.

Straps alias tali-tali pengaturnya, mau itu di pinggang (waistpad), lengan (shoulder strap), maupun chest strap, mulus dan mudah diatur. Enggak seret sama sekali. Kainnya adem saat dipakai. Hoodienya juga mudah diakses. Selama saya nyobain, enggak ada keluhan berarti.

Cuma, ada satu momen saat saya enggak memasang shoulder strap ke karet pengaman, strapnya meluncur dengan mulus, saking licinnya. Sayanya juga sih yang kurang perhatian memasang semua pengaman di SSC.

Kalau mau membandingkan dengan SSC generasi yang sekarang, dari segi harga, masih di kisaran 250 sampai 275 ribu.

Dari segi penampakan, yang paling terlihat jelas logo. Kalau enggak ngeh, mungkin dikira bukan Nana yang itu dan bisa dikira brand lain. Lebay! Motif choco rainbow yang saya cobain ini manis banget! Bikin pengen ngemil, eh. Motifnya manis, tapi elegan, halah.






Dari segi peruntukkan usia, kalau tidak salah klaim dari Nana, generasi pertama bisa digunakan mulai usia 3 bulan sampai berat badan bayi 20 kg. Nah, beda dengan Nana keluaran terbaru yang mencantumkan usia 4 bulan baru bisa digendong menggunakan gendongan model SSC ini.

Buat saya, generasi pertama Nana ini lebih nyaman dipakai dibandingkan Nana yang sekarang. Saya curiga karena Nana generasi kedua yang saya punyai belum break-in, hahaha. Kalau kepunyaan mbak Sisil si generasi pertama kayaknya udah malang melintang di dunia pergendongan, makanya nemplok-plok saat dipakai.

Iseng-iseng pak suami komentar saat ikut nyobain. Kata beliau emang terasa lebih enak si generasi pertama. Mungkin karena pilot project jadi dibikin sebagus mungkin. Nah, generasi berikutnya mungkin mengalami efisiensi, jadi terasa beda. Hahaha, bercanda banget si pak suami.

Overall, bahagia banget bisa nyobain Nana generasi pertama. Berasa ketemu barang unik dan langka.

Sekian.

Semoga bermanfaat.



Nb.
TB/BB penggendong 150cm/40kg
TB/BB yang digendong belum ngukur/7.9kg (usia 9 bulan)

Bisa nyobain gendongan langka ini karena program travelling wrap* dari Lampung Menggendong.

*woven wrap salah satu jenis gendongan berupa kain bermeter-meter. Memakainya butuh teknik khusus.
*break-in istilah untuk gendongan jenis woven wrap, ringsling, dan yang lainnya yang berbentuk kain panjang, yang sudah lemas sehingga mudah digunakan (saat ditarik, dikencangkan, dan lain-lain).
*Travelling wrap jalan-jalan gendongan, bisa lintas kota, pulau, bahkan benua dan negara untuk dicoba penggendong-penggendong yang lain.

Senin, 26 Maret 2018

Bisa Minta Tolong

Maret 26, 2018 6 Comments
Beberapa hari ini lagi ngerasain beratnya ngerjain kerjaan domestik. Keren ya? Nyebutnya domestik, berasa penerbangan.

Buat stay at home mom kayak saya, pekerjaan domestik alias nyapu, ngepel, cuci piring, masak, dan masih banyak lagi, harusnya sih jadi makanan sehari-hari. Tapi, kok, ya, makin kesini kayaknya makin berat aja (ngeluh mode on).

Kirain dulu bakal terbiasa loh sama pekerjaan domestik ini. Tapi, ternyata, buat saya mendingan pusing mikirin deadline tulisan daripada ngerjain kerjaan domestik yang enggak ada beresnya. Ada lagi dan ada terus. LOL.

Mungkin akhir-akhir ini terasa berat, karena biasanya pak suami yang lumayan bantu-bantu, sekarang lagi banyak off-nya, gara-gara kerjaan kantor yang lagi sungguh sangat padat.

Dulu-dulu pak suami masih bisa bantuin ngejemur pakaian, nyapu-nyapu rumah, ngeberesin segala mainan dan yang berantakan di ruang tengah. Tapi, kayaknya beberapa minggu terakhir, itu semua saya yang handle.

Ngerjain itu semua sambil ngegendong anak bayi, encok juga ternyata. Meskipun, alhamdulillah beres sih.

Sebenarnya, malu juga kalau masih ngeluh karena kerjaan domestik, secara saya di rumah aja. Tapi, no offense, saya ngerasa kerjaan domestik ini suatu saat nanti ingin saya delegasikan. Pengennya sih, saya nemenin anak bayi bermain dan produktif berkarya, uhuks.

Pak suami yang mau bantu ngerjain ini itu, dan selalu nge-iya-in saat saya bilang, "Bisa tolongin ini, itu, de es be," Rasanya bikin saya makin malu kalau masih ngeluh terus.

Bahkan di kompleks perumahan pun, bapak-bapak yang kelihatan pernah ngejemur pakaian, kayaknya cuma pak suami seorang. LOL. Kalau tugas buang sampah sih banyak ya.

Setelah diskusi singkat dalam sebuah perjalanan, pak suami juga setuju, kalau nanti perekonomian dunia termasuk rumah tangga kami lebih baik, enggak apa kalau mau pake additional player buat ngurus cucian, bersih-bersih, de el el. Karena jujur, rasanya saya enggak into it (di dunia pekerjaan domestik).

Kalau lagi rajin aja rumah dipel, barang-barang rapi terorganisir. Kalau lagi males? Beuh! Kayaknya kalau masih single saya bakal dicoret dari daftar calon menantu aliansi ibu-ibu mertua sedunia.

Maklum, ya, dari kecil kayaknya saya enggak dibiasain doyan beberes. Tugas di rumah pun dulu cuma cuci piring, ngepel, dan nyetrika seragam sendiri. Eh, tapi, itu lumayan juga ya. Dulu di rumah ortu pun, rumah jarang rapi alias sering berantakan juga. Hahahahaha.

Suatu hari saya pernah nanya ke suami sih, dia sebenarnya keberatan enggak kalau saya minta tolong ini itu (kerjaan beberes rumah), terus dia enggak kayak rata-rata suami di Indonesia yang tinggal ongkang-ongkang kaki nyantai pas lagi di rumah? Jawabannya? Dia sih nyantai aja ya, cuma enggak nolak juga kalau pulang kerja dan weekend enggak harus ngapa-ngapain. Denger jawaban kayak gitu rasanya pengen ngejitak juga.

Secara Rasul pun pas di rumah jahit baju sendiri, memerah susu sendiri, yang saya tangkap dan analogikan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, enggak sungkan dan mau bantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, kalau pak suami masih ngeles kalau saya mintain tolong nyapu-nyapu atau beberes? Hm…

Alhamdulillah selama ini enggak pernah nolak sih kalau dimintain tolong. Cuma kadang nge-iya-in, tapi baru dikerjain berpurnama-purnama kemudian, atau udah saya kerjain duluan karena dia kelamaan!

Buat saya, it takes two to tango, halah klise! Tapi, ya, emang bener, kalau saya udah capek pake banget setelah seharian nemenin anak bayi main dan ngerjain sebagian kerjaan domestik, masa' iya pak suami enggak tergerak hatinya buat ngebantu? Apalagi kalau saya udah melambaikan tangan ke kamera? Kalau sampe enggak tergerak buat bantu-bantu, ya, dinikmatin aja ya, pak, kalau rumah rada kayak kapal pecah, cucian piring numpuk sampe kadang bingung mau nyari sendok. Hahahaha. Tapi, tenang, kalau kekuatan saya udah kembali, akhirnya saya juga sih yang ngeberesin segala-gala.

Kadang beres-beres sambil sebel, bukan karena enggak ikhlas ngerjainnya, tapi lebih karena lelah, bosen, sambil mikir kok ini enggak ada beresnya?

Nah, pas momen kayak gitu, bersyukur banget, kalau pak suami mau ambil alih kerjaan-kerjaan rumah. Alhamdulillah, pak suami dari jaman single emang suka beberes dan pecinta kerapian, bete kalau barang-barang geletakan enggak karuan, jadi mungkin itu ya, bibit dia mau aja bantu-bantu kerjaan domestik. Tapi, enggak juga sih. Beliau emang sayang istri, enggak cuma kerjaan domestik, momong anak, ngegantiin baju, ngegendong anak bayi, beliau juga mau. Hahaha (kok nyebutnya jadi beliau!)

Saya jadi punya cita-cita, ntar kalau anak bayi udah rada gedean dikit, kayaknya harus diajarin dan dibiasain untuk mau bantu ngerjain kerjaan domestik. Ya, enggak yang berat-berat juga, paling enggak, beresin mainannya, nyuci piring bekas makanannya, dan yang sejenisnya. Biar terbiasa sampai besar nanti. Enggak kayak saya! LOL. Dan itu berlaku untuk anak laki-laki maupun perempuan. Karena buat saya, keren kalau laki-laki pun mau beberes rumah, masak, nemenin anak main, de es be.

Sekian.



#Modyarhood
#Walaukadangbikinmaumodyartapitetapyahud
#timgakpakeART berencana #timpakeART

Jumat, 23 Maret 2018

Kesal Tapi Rindu, Benci Tapi Cinta

Maret 23, 2018 4 Comments
Hari ini udah beberapa kali kesel sama pak suami. Dari pagi ada aja yang bikin ribut. Tapi, enggak diutarakan. Rusuh aja di dalam hati.

Cuma tetep pas mau berangkat ke kantor langsung minta maaf.

Aneh kan?

Sepanjang hari juga gitu. Chat via Whatsapp ada aja yang bikin bete dan dongkol, tapi, beberapa menit kemudian ngirim chat-chat enggak urgent yang lain. Terus kalau centang dua biru, tapi enggak dibales juga chatnya, ngambek lagi. Eh, beberapa jam kemudian udah haha hihi aja.

Kalau pak suami pulang telat rasanya pengen pasang muka ditekuk-tekuk pas beliau pulang nanti. Tapi, kok ya, enggak tega pas beliau udah sampe rumah dengan wajah yang lelah.

Beberapa bulan terakhir emang pak suami kayak buanyak banget kerjaannya. Udah enggak bisa kehitung pake sebelah tangan aja, berapa kali beliau pulang larut.

Sebel? Iya lah. Seolah-olah rumah tangga dan mengurus anak ini saya seorang yang menjalani. Beliau kerja (literally di kantor) doang.

Pengen marah-marah? Banget. Sejujurnya, pengen ngamuknya lebih karena saya lelah. Kayak dari pagi sampai malam itu enggak ada time out buat saya. Pas udah malam gitu bukan time out lagi, tapi turn off! Enggak punya daya lagi mau ngapa-ngapain.

Mungkin saya bukan tipe yang bisa marah sampai meledak-ledak. Jadi, marahnya cuma bisa ditunjukkan dengan wajah yang bersungut-sungut dan diam seribu bahasa.

Biasanya pak suami sadar sih. Kalau lagi sama-sama senewen atau sensitif, akhirnya saling diam. Alhamdulillah besoknya udah lupa.

Sering banget gitu.

Apa karakter saya yang mudah melupakan kemarahan dan kekesalan?

Atau saya enggak terlalu bernyali untuk marah-marah?

Berharap yang pertama aja sih, hehe.

Sebenarnya, pertengkaran dalam rumah tangga atau lebih halusnya diskusi itu seperti bumbu masakan yang bikin sedap.

Kayaknya kalau damai-damai, tanpa perselisihan atau flat aja, kayak enggak dinamis. Satu yang saya khawatirkan, jatuhnya jadi malah sebodo teuing sama pasangan.

Cuma ya, kalau diskusi (berselisih paham sampai cekcok) mulu kok ya ngabisin energi banget.

Akhirnya, setelah ini berniat, kalau lagi kesal dan murka banget sama suami, enggak sampai melampiaskan secara verbal atau yang sejenisnya. Emang muak sendiri sih kalau amarah tidak tersalurkan. Cuma kalau sampai mengimajinasikan adegan marah-marah itu kok ya, kayaknya bakal nyesek dan menyesal.

Sama satu lagi, cuma bisa berdo'a semoga bisa menahan perasaan dengan tenang.

Setelah tenang biasanya bergidik ngeri membayangkan adegan orang marah-marah yang enggak banget.

Bersyukur ketemu orang yang selalu ngingetin buat sabar kayak pak suami.



#onedayonepost
#odopbatch5

Rabu, 21 Maret 2018

A Letter to Single Lillah

Maret 21, 2018 3 Comments
Satu hal yang saya sesali saat dulu masih single dan belum punya anak adalah selalu banyak alasan untuk enggak banyak-banyak travelling. Kalau diajak kemana gitu sama temen (kecuali ke mall ya) kayaknya ada aja alasannya. Inilah, itulah, mikir x, y, z, ujung-ujungnya bilang, "Maaf, ya, aku enggak ikut dulu ke kota xxx nya,". Tanpa menyebutkan alasan karena tengsin.

Paling sering menolak ajakan travelling dengan alasan, hari libur itu saatnya istirahat. Mengumpulkan tenaga untuk berjibaku lagi sepekan ke depan. Padahal mah alasan kayak gitu bukan jadi hambatan yang banget-banget alias masih bisa disiasati. Misal, travelling di hari jumat sepulang kerja sampai sabtu. Jadi, hari ahadnya masih ada waktu untuk istirahat atau ngerjain ini itu persiapan saat senin kembali menyapa.

Sekarang baru terasa nyesel dan nyeseknya. Karena kalau pengen travelling, even ke ibu kota provinsi aja mikirnya panjang dari a sampai z. Mulai dari ongkos, biaya, de el el, yang harus dikali tiga, sampai mikirin detail kenyamanan transportasi maupun tempat yang dituju. Even ke mall sekalipun. Harus cari info dulu, ada ruangan menyusui enggak? Ntar ganti pospak dimana? Tempat makannya ada high chairnya enggak? Dan sebagainya.

Sebelun mikirin tetek bengeknya, bahkan harus mikirin dulu timingnya tepat enggak. Anak bayi bakalan capek kah?

Duh.

Nyeselnya baru terasa pas sekarang super bosen karena di rumah terus.

Makanya, kalau ada temen yang baru nikah dan belum hamil nanya harus ngapain supaya enggak bosen di rumah, saya selalu jawab, jalan-jalan!

Enggak harus ke mall, yang simpel kayak main ke rumah temen lama, temen baru, de el el, atau nyicipin kuliner terkenal yang khas. Itu juga udah oke banget. Poinnya adalah buka wawasan dengan keluar rumah.

Kalau buat single Lillah, sudah pasti, sana banyakin travelling! Naik kereta, pesawat, kapal laut, touring sepeda motor, pake mobil travel, you named it.

Enggak usah lah galau-galau dengan status single, jodoh mah enggak akan kemana asalkan kita berikhtiar.

Manfaatkan waktu untuk memikirkan dan mentadabburi ciptaan Allah swt, dengan travelling atau sekadar silatturahim.

Enteng buat jomblo mah, tinggal nyisihin sedikit dari gaji bulanan, angkat backpack, terus cus.

Yakin deh, ntar kalau udah nikah atau punya anak, mikirnya seribu kali untuk travelling. Bahkan bisa jadi rencana travelling itu hanya angan semata.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Senin, 19 Maret 2018

Terapi Menulis Agar Bahagia

Maret 19, 2018 0 Comments
Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah kuliah Whatsapp tentang menjadi ibu bahagia. Sebenarnya, kulWapp tersebut menjadi salah satu media promosi buku berjudul … Ibu Bahagia.

Sebagai ibu baru (9 bulan) saya super tertarik dengan judul buku tersebut.

Gimana enggak?

Buat saya menjadi ibu itu sepertinya sudah jauh lah dari kata bahagia (untuk diri sendiri). Karena begitu punya anak bukankah yang jadi bahan pikiran sepanjang masa adalah kebahagiaan anak-anaknya?

Makanya, saya pengen tahu, gimana sih caranya supaya ibu bisa bahagia?

Ditengah pekerjaan rumah yang enggak pernah habis dan me time yang jadi prioritas kesekian, gimana caranya menemukan kebahagiaan itu?

Jawabannya sudah pasti harus baca bukunya dulu. Hehe.

Silakan bisa dicari judul bukunya Diary Ibu Bahagia.

Penulisnya ada banyak ibu dengan beragam background.

Kalau baca sedikit dari cuplikan yang dibagikan, memang sangat menarik.

Nah, yang saya soroti dari kulWapp tersebut adalah metode menulis yang digunakan.

Jadi, ceritanya Diary Ibu Bahagia ini adalah karya tulisan Komunitas Ibu Bahagia. Kalau tidak salah, Komunitas Ibu Bahagia salah satu kegiatannya adalah rutin menulis, hingga tercapailah satu buah antologi.

Salah satu tugas pertama adalah rutin menulis setiap pagi selama 3 menit. No edit.

Saya agak kaget juga pas ngebacanya.

Nulis di pagi hari? Itu kan jam padat persiapan pak suami berangkat kantor, nyiapin sarapan, cuci piring, de el el.

3 menit doang? Huah. Belum nyari idenya loh.

No edit?! Ini yang bikin wow.

Kenapa?

Karena biasanya kan beres nulis, kita baca ulang alias dikoreksi lagi, kali-kali ada yang typo atau enggak enak dibaca, supaya bisa diedit.

Ternyata, eh, ternyata.

Tujuan menulis 3 menit di pagi hari itu sebagai pembiasaan dan terapi diri.

Ini saya cerna sepemahaman saya, ya.

Pagi hari itu kan saat otak kita mulai bekerja di garis start, entah fresh setelah istirahat semalam atau malah tetep pening gara-gara masih banyak yang belum diselesaikan.

Nah, tujuannya disuruh nulis, supaya uneg-uneg kita bisa tersalurkan secara baik. Tau sendiri, kan, wanita itu harus menyalurkan kebutuhan berbicaranya sebanyak 20,000 kata per hari. Supaya penyaluran kata itu enggak salah alamat, makanya disalurkan lewat tulisan 3 menit itu.

Harapannya setelah ditulis, bisa memberikan efek lega dan membuat kita lebih positif menjalani hari.

Memang tujuan jangka panjangnya supaya bisa menggapai target menjadi ibu bahagia, semua emosi negatif harus dikeluarkan. Setelah dikeluarkan yang negatif-negatif, insya Allah nanti akan terlihat potensi, keinginan, kebutuhan kita, sebagai seorang ibu.

Ketika potensi tersalurkan, keinginan bisa dipilah-pilih sesuai prioritas, begitu pula kebutuhan, insya Allah menjadi ibu bahagia bukan sekadar mitos belaka.

Saya lagi meniatkan nih, untuk memulai program menulis 3 menit di pagi hari ini.

Tujuannya masih jangka pendek aja, sih, pengen ngebuang segala energi dan uneg-uneg negatif. Utamanya supaya lebih plong. Alhamdulillah, kalau bisa menggapai menjadi ibu bahagia. Insya Allah.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Sabtu, 17 Maret 2018

Perjalanan Bikin Cerbung (2)

Maret 17, 2018 1 Comments
Lika-liku bikin cerbung itu banyak.

Paling berpengaruh adalah saat kita enggak tau konsep cerita kita mau dibawa kemana. Bisa-bisa cerita jadi ngalor-ngidul enggak jelas. Kayaknya beberapa episode Sang Pembawa Pesan mengalami ini. Hehehe.

Akhirnya, baru di setengah episode ke atas, saya menyusun konsep atau kerangka cerita. Asyik dan lebih mudah lho, kalau dibikin poin-poin atau inti yang mau diceritakan di tiap episodenya.

Memang susah awalnya. Apalagi kalau kayak saya yang mengerjakan cerbung sistem kebut semalam. Pas nulis bisa hapus-tulis, hapus-tulis, begitu aja terus. Atau udah nulis panjang-panjang, eh, pas dibaca lagi kayaknya enggak enak flownya, enggak nyambung, atau 'wagu' kata orang Jawa.

Beda deh kalau kita nulis atau bikin cerbung berdasarkan kerangka yang sudah kita susun. Nulisnya enggak lama, flownya juga lebih enak, dan feelnya juga dapat.

Saran lain yang penting banget saat nulis cerbung adalah rutin menulis.

Kayak di Odop (One day one post) konsepnya adalah satu hari menulis satu episode, bagusnya ya, diikuti dan kita ikut disiplin. Kenapa?

Enggak enak banget nulis cerbung yang dijeda lama banget.

Kayak yang saya alami.

Karena satu dan lain hal, saya stop nulis cerbung kira-kira hampir lima hari-an. Pas mau mulai nulis lagi, rasanya susah banget untuk dapat feelnya. Berasa enggak ngeblend gitu kita dan tulisan kita.

Harus baca berkali-kali dulu episode sebelumnya, baru enak lagi pas nyusun cerita di episode berikutnya.

Makanya, ke depan kalau niat bikin cerbung, sepertinya harus super disiplin. Misal per hari, per dua hari, atau yang lain, yang penting konstan dan rutin.

Itu penting banget supaya kita menjiwai cerita dan seolah-olah kita memang masuk dalam cerita.

Pas awal-awal nulis cerbung rutin, bahkan saya ikut deg-degan dan terpacu adrenalin saat menulis. Beda pas ngebut nulis beberapa episode dalam satu hari, kayaknya feelnya enggak sekuat sebelumnya.

Hal lain yang menurut saya penting, menulis cerbung itu lebih baik tidak kebanyakan tokoh atau latar waktu.

Jadi, bingung sendiri loh saya, pas memunculkan tokoh baru dan baru lagi.

Sebenarnya, enggak apa-apa sih, kalau mau banyak tokoh, tapi, harus dibikin list satu per satu, siapa itu siapa, karakternya bagaimana. Biar saat di episode-episode berikutnya, tokoh kita enggak mengalami krisis identitas. Hahaha.

Soal waktu juga gitu, kalau rentang waktunya terlalu lama juga agaknya bikin cerita bertele-tele. Baiknya sih, latar cerita dalam hitungan jam atau hari saja.

Aduh, lagak saya kayak udah nulis ratusan cerbung saja.

Padahal baru juga ngeberesin satu cerbung.

Hahaha.

Ini reminder buat diri saya pribadi.

Silakan bila ada teman-teman yang ingin mengoreksi dan menambahkan.

Semoga bermanfaat.

~~~

(Selesai)



#onedayonepost
#odopbatch5