SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Days in Vietnam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Days in Vietnam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Desember 2013

Cambodia part 1

Bismillah.

Kamis sore kita bertolak dari apartemen menuju distrik 1 untuk selanjutnya pergi ke Kamboja.
What for sih ya ke Kamboja segala?
Hehe.

waiting for the bus @highland coffee
Ke Kamboja dari Vietnam itu murah lho sodara2, apalagi kalo lewat jalur darat.
Kita cukup bayar 13USD untuk sleeper bus dan 10USD untuk bus dengan seat normal.
Dan untuk WNI, ke Kamboja free visa! Hehe.
Kami berangkat pukul 23.45 dengan sleeper bus.
Kesan pertama saya?
So so sih, tapi, cukup sekali in my life time lah naik sleeper bus.
Karena judulnya sleeper bus, maka, kami tidur saja di bus. Sempat gak bisa tidur sih...karena jujur saja, saya sedikit tidak nyaman dengan posisi seat yang bentuk tempat tidur itu. Jadi, untuk beberapa jam saya cuma duduk saja disana.

di dalam bus bareng @ghitadwi
Kami memasuki perbatasan Vietnam-Kamboja dari pihak Vietnam sekitar pukul 7 untuk pemeriksaan paspor dan checking barang bawaan. Tidak jauh setelah itu pemeriksaan dari pihak Kamboja haya paspor saja.
Teman2 yg lain diminta membayar 1USD saat pemeriksaan, tapi, entah kenapa saya tidak dimintai.
Setelah itu kami kembali ke bus.
Oh ya, karena kami menempati seat2 depan bus, jadi, kami memperhatikan orang2 yg keluar masuk bus dan kami jadi tahu siapa2 saja penumpang didalam bus.
Nah, kami sempat heboh saat 1 orang penumpang dari US menghilang. Mr.Charles, dia menghilang saat di pemeriksaan oleh pihak Vietnam.
Bus kemudian melaju lagi dan berhenti untuk breakfast time sekitar 30 menit.
Kami berenam berdiam diri sambil mengobrol dan memakan snack bekal di bus dan sempat berkenalan dengan seseorang dari China yg akan ke Kamboja untuk mengajar bahasa China disana.
Dia turun dari bus untuk sarapan dan kami dikejutkan dengan kedatangan Mr.Charles!
Ternyata dia tertahan di pemeriksaan karena visa tinggalnya di Vietnam sudah expired 3 minggu.

Bus melanjutkan perjalanan dan lagi2! meninggalkan penumpang yang berasal dari China itu. Bus berhenti di tempat yang seperti rumah warga yang sekaligus difungsikan sebagai kamar mandi buat para traveler. Saat bus akan melanjutkan perjalanan, lagi2! kalau yang kali ini, hampir saja traveler dari UK ketinggalan karena pergi ke kamar mandi. 
Heran deh, kondektur dan sopir bus nya hobi banget ninggalin penumpangnya. Kagak di cek dulu gitu jumlah penumpang yang ada di bus -_-".

Memasuki Kamboja, suasananya pedesaan banget banget. Menuju Phnom Penh, bus yang kami tumpangi harus menyeberangi sungai yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari daratan. Rame banget itu alat yang digunakan menyeberang, gak terlalu mirip kapal, tapi, gak tahu namanya apa. Bus, truk, mobil, ada di satu tempat. Sempat serem sih pas alat itu nyeberangin bus, tapi, bersyukurlah proses menyeberangnya cuma sebentar.

Okay, then! Welcome to Phnom Penh!
Suasananya panas dan terik! Mulai banyak aksara Kamboja yang sama sekali gak ngerti gimana cara bacanya di sekitar jalanan. Bus sampai di pemberhentiannya sekitar pukul 11-an dan kami buru2 mencari tuk-tuk (kendaraan khas Kamboja) untuk mengantar kami ke masjid, karena, secara 2 cowok yang ada diantara kami harus sholat Jumat. Kami membayar tuk-tuk untuk seharian perjalanan sebesar 4USD@orang (24USD@tuk-tuk).

Perjalanan menuju masjid, karena tuk-tuk adalah kendaraan yang cukup terbuka, seperti biasa, kami (cewek-cewek) berkerudung ini, jadi, centre of attraction. Diliatin sama orang-orang lah kita ini. Heran, gak di Vietnam, gak di Kamboja, diliatin aja terus sama orang-orang. Kayaknya makhluk langka banget, orang yang pake kerudung itu.
Saat sudah dekat dengan masjidnya, kami mulai melihat orang-orang lain yang juga berkerudung, yiey! Girang lah kita. Apalagi kalo ngeliat orang yang pake kerudungnya banyakan, kita rame-rame mengucapkan salam gitu.
Kami sampai di masjid kira-kira pukul 12-an lebih, dan sholat Jumat baru akan dimulai pukul 13.
Tadinya, berdasarkan informasi yang didapat Qori, masjid yang akan kami kunjungi adalah masjid yang gede dan mirip masjid Aya Sophia gitu, tapi, berhubung masjid sedang direnovasi, kami harus sholat di bangunan yang difungsikan sebagai masjid sementara. Okay lah, somedays, mungkin kami bisa balik lagi kesana, eh!

Jamaah yang datang ke masjid itu banyak banget! Kebanyakan orang asing sih, dari Timur Tengah yang Arabian face gitu. Warga lokal juga lumayan banyak. Kalo kata Norman sama Doni, lebih banyakan di Kamboja warga lokalnya yang muslim daripada di Vietnam.

Kami sholat Jumat disana dan tidak disangka bertemu dengan seorang ibu dari Timur Tengah, saya lupa dari negara mana tepatnya. Dia sudah lama di Kamboja. Dia bekerja untuk UNICEF dan dalam obrolan kami, dia memberitahukan banyak restoran halal di Kamboja. Okay, tapi beberapa restoran not affordable buat mahasiswa seperti kami.Haha!

Akhirnya, kami makan di KFC. Franchise yang dipunyai warga negara Malaysia dan ada stiker halal di depan pintunya.
Makan sepaket ayam dan minum milo ice menghabiskan 3 USD dan selama kami di Kamboja, kami SELALU makan di KFC. Karena itu yang paling mudah untuk kami temui.

Kami menuju ke guest house tempat kami tinggal dengan harga 10USD per orang untuk 2 malam. Sekamar diisi oleh 2 orang. Okay, tempatnya agak creepy kalo kata saya, tapi, ya, kami bertahan saja. Ah ya, kamar saya ada di lantai paling atas dan banyak channel internasional yang kami dapat, yiey! Bahkan saya bisa menonton live music bank! Hahaha.

Sore setelah kami menyimpan barang2 bawaan yang cuma ransel2 di guest house, kami lanjut pergi ke Royal Palace tapi, kami cuma berfoto didepannya saja karena sudah terlalu sore untuk masuk ke Royal Palace. Akhirnya, kami pergi ke National Museum sampai pukul 5 pm. Tiket masuknya sebesar 5USD.

yg dibelakang itu bangunan diseberang Royal Palace

ini di tembok samping Royal Palace

suasana jalan di samping Royal Palace
Kami kembali ke guesthouse untuk sholat dan lain sebagainya. Lalu sekitar pukul 8 pm kami berkumpul lagi di lobi guest house dan lanjut berjalan-jalan ke Night Market. Rame banget lah itu Night Market, penuh dengan turis dan warga lokal. 
Yang dijual disana macam-macam. Mulai dari souvenir-souvenir, pakaian, makanan, dll. Harganya so so lah. Bisa ditawar, tapi, sabar aja ya, kalo dijutekin sama penjualnya, hehe.
narsis abis pas jalan-jalan ke Night Market!
Kami keluar dari Night Market sekitar pukul 10 pm dan karena kami kelaparan, kami pergi ke KFC (lagi) yang jaraknya cuma 5 menit jalan kaki dari Night Market. Sayangnya, kami kehabisan makanan di KFC dan menghabiskan malam dengan kelaparan, oh!

Okay di lanjut di Part 2.
Semoga bermanfaat ya!

image credit @cocaqori @dewi_3

Senin, 14 Oktober 2013

Day 7 ; Badminton time



Saya mengaku saja kalau saya tidak pandai bermain badminton. Jadi, kegiatan di hari minggu ini sekedar memenuhi janji kepada bapak-bapak dari Masyindo yang mengundang kami untuk turut serta bermain badminton sekaligus bersilaturahim dengan teman-teman dari Indonesia.

Kami berangkat dengan bus nomor 07 dari bus station didepan kampus NLU. Tiket yang biasa kami gunakan ternyata tidak bisa kami gunakan di rute bus ini, sehingga kami harus membayar 10000 VND. Bus dipenuhi oleh para pemuda kalau saya pikir. Entah mereka mau pergi kemana.

Karena kami tidak tahu tempat latihan badmintonnya, kami pergi ke rumah salah satu mas dari Indonesia yang kami lalu kami kunjungi, namanya mas Badri. Kami lalu naik taksi menuju tempat latihan badminton tersebut. Ternyata kalau kami tahu tempat latihan itu sebelumnya kami tidak perlu naik taksi dan membayar 21000 VND karena tempatnya dilewati juga oleh bus nomor 07.

Kami disambut dengan sangat ramah oleh bapak-bapak Masyindo. Ya, mungkin bagi beberapa mereka, kami ini seperti atau seumuran anak mereka.
Kebanyakan masyarakat Indonesia yang bekerja ke Vietnam adalah bapak-bapak dan mungkin kami-lah yang paling muda diantara masyarakat Indonesia itu. Kami mengobrol dengan beberapa dari mereka, karena sebagian lain sibuk bermain badminton, meskipun pasti mereka menyapa kami.

Kebanyakan bertanya mengenail asal kami, berapa lama akan tinggal di Vietnam dan kesan selama tinggal di Vietnam. Seorang bapak yang tidak jauh usianya dari kami, bercerita bahwa masyarakat Indonesia yang bekerja di Vietnam biasanya minimal menjadi orang kedua di perusahaan/tempat bekerjanya. Misalnya, kalau perusahaan milik orang Korea, masyarakat Indonesia yang bekerja disitu minimal menjadi Asisten Manager. Obrolan menyerempet ke arah pekerjaan, dan bagi seorang muslimah, seperti kami, tidak direkomendasikan untuk bekerja di Vietnam karena kehidupan di Vietnam yang amat hedon. Haha. Kecuali kata beliau kalau ke Vietnam karena menemani suami.

Kami pulang sekitar dhuhur dan melanjutkan aktivitas layaknya manusia normal.

Day 6 ; Doing it alone



Karena persediaan dapur kami terutama sayur-sayuran sudah habis, kami merencanakan untuk pergi ke supermarket pada sore hari.
Pagi harinya kami di rumah saja dan melakukan aktivitas pribadi masing-masing, seperti mencuci, membaca buku, browsing, dll.
Kami menaiki bus 104 untuk sampai di supermarket dan kami berhasil sampai dengan selamat. Kami berbelanja kebutuhan selama kurang lebih seminggu, keranjang belanja didominasi oleh makanan. Berkali-kali kami kegirangan menemukan produk dengan label halal atau produk yang diimpor dari Indonesia.
Ya, begitu saja. Kami pulang sekitar jam 6 pm dengan bus nomor 33 yang berhenti didepan gang tempat tinggal.

~o~

Days 5 : Met the brothers



Hari ini kami pergi ke distrik 1 lagi dan hanya kami berlima. Alhamdulillah, kami bisa naik dan turun bus di tempat yang tepat.
Tujuan kami hari ini adalah ke masjid central Saigon lagi untuk melaksanakan sholat jumat. Karena saya dan teman wanita lainnya sedang tidak sholat, kami menunggu didekat gerbang masjid.

Ha, akhirnya kami melihat banyak sekali penduduk muslim di Vietnam. Yeah, meskipun sangat tidak banyak penduduk asli, tapi, saya merasa senang bertemu dengan warga yang saya duga berasal dari Malaysia dan Timur Tengah. Kami ditawari kurma gratis juga oleh pengurus masjid setempat.
Jamaah di masjid ini sangat banyak, kebanyakan menurut saya adalah penduduk asing yang bekerja di distrik 1. Jamaah yang hadir bisa sampai memenuhi shof paling akhir masjid. Khutbah jumat yang diberikan disampaikan dengan bahasa melayu dan bahasa Vietnam.

Setelah sholat jumat berakhir kami mengobrol di dekat gerbang sebelum pulang, sekedar menanyakan kepada teman-teman laki-laki bagaimana rasanya sholat jumat pertama kali di negeri orang, saat tiba-tiba seorang kakak bertanya apakah kami dari Indonesia.
Senang sekali, akhirnya bertemu saudara senegara. Kami bertemu dengan seorang kakak yang berasal dari jakarta dan sedang melaksanakan pertukaran pekerja di Vietnam selama 2 bulan. Kami mengobrol sebentar, lalu kami bertemu dengan penduduk Indonesia lainnya yang ternyata sudah saya kenal melalui akun facebook dan baru sekarang saya temui bentuk riilnya.
Yeah, momen sholat jumat seperti ini sangat berarti karena kami bisa bertemu saudara sesama muslim dan saudara setanah air.
Kami berbincang sejenak tentang konsulat jenderal Vietnam di Indonesia dan hal-hal lainnya tentang Ho Chi Minh city.
Tidak lama, karena mereka harus kembali bekerja. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Ben Tanh market untuk kedua kalinya untuk mencari tempat makan siang yang halal di restoran Malaysia. Kami mencari restoran halal yang cukup murah yang tidak seperti pengalaman di restoran halal sebelumnya yang amat sangat menguras kantong kami.
Kami menemukan satu restoran halal. Saya membayar 45000 VND untuk menu nasi, udang sambal, dan telur dadar.
Setelah itu kami pergi untuk menukar uang USD di tempat yang telah kami survei sebelumnya dan sudah kami bandingkan dengan tempat-tempat lainnya, kami mendapatkan 21150 VND untuk 1 USD.
Kami pulang dengan menaiki bus nomor 19 dari bus station di dekat pasar Ben Tanh dan berhenti dekat plang Jotun di daerah Son Tan untuk bertemu dengan seorang kakak dari Indonesia.
Kami pergi ke apartemennya di lantai 10 dan kami cukup nyaman dengan apartemennya. Sewa apartemen per bulannya 6 juta VND dengan fasilitas lengkap seperti tempat memasak, kulkas, mesin cuci, dua kamar tidur dengan tempat tidurnya, serta penggunaan air, listrik, tv kabel dan internet.
Saya sempat tergoda ingin pindah ke apartemen tersebut saat mendengar fasilitas-fasilitas yang disediakan. Namun saat kami pulang dan melewati lingkungan yang ada di sekitar apartemen, saya menjadi sedikit ragu.
Karena mungkin apartemen tersebut berada bukan di lingkungan kampus, jadi terdapat banyak klub.
Kami banyak bercerita dengan kakak dari Indonesia tersebut. Banyak hal sebenarnya yang kami bicarakan. Misalnya tentang Masyindo (Masyarakat Indonesia) di Vietnam yang jumlahnya mungkin sekitar 400an orang di Vietnam Selatan dengan pusat di Ho Chi Minh city. Masyindo disini diakui oleh Konjen maupun Kedutaan sebagai perkumpulan masyarakat Indonesia yang solid dan kompak bila dibandingkan dengan perkumpulan masyarakat Indonesia yang ada di Vietnam Utara. Mungkin hal tersebut disebabkan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan sehingga menciptakan kesempatan untuk masyarakat Indonesia di Ho Chi Minh untuk berkumpul.

Kami pulang menaiki taksi Mailinh karena sudah cukup malam dan tidak ada bus yang beroperasi menuju kampus. Kami membayar biaya taksi sebesar 92500 VND untuk 5 orang dan bonus tips 1500 VND untuk sang sopir.
Hari ini membahagiakan, karena di tengah-tengah masalah yang kami hadapi di negara orang, ada sedikit motivasi dan kelegaan bahwa kami memiliki saudara-saudara yang terikat dengan kami.

~o~

Days 4 ; Having the first lecture



Jadwal kami hari ini adalah melihat pameran yang ada di kampus. Semacam pasar kaget kalau di IPB, namun lebih rapi dan tertata. Pukul 9 lebih sedikit kami bertemu Hoang di depan kampus, meskipun kami sedikit terlambat, Hoang tidak berkeberatan karena dia juga baru saja tiba di tempat pertemuan.

Kami tiba di tempat pameran yang menjual barang-barang kebutuhan mahasiswa seperti baju, celana, piring, gelas, pernak-pernik, dan tak lupa makanan. Harga yang ditawarkan juga lebih murah karena pameran ini memang diperuntukkan mahasiswa. Saya membeli souvenir seharga 10000 VND dan kami membeli tempat bekal makan dan gelas masing-masing seharga 8000 VND dan 3000 VND. Kami bertemu dengan teman-teman yang akan menjadi teman sekelas di pameran tersebut dan mereka terlihat senang.
Lalu mereka mengajak kami ke coffee shop (FIT Coffee) dekat asrama. Kami mengobrol dan menumpang wifi gratis disana. Teman-teman mencoba kopi khas Vietnam yang menggunakan saringan diatas gelasnya, cukup heboh saat teman-teman NLU mengajari kami cara menikmati kopi tersebut. Saya hanya melihat saja, karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sistem tubuh saya tidak terlalu bersahabat dengan kopi. Saya menikmati es teh Vietnam yang gratis dan bisa direfill berkali-kali. Kopi khas Vietnam dihargai 17000 VND dan capuccino 19000 VND. Cukup lama kami berada disana.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba mengikuti kelas Seminar pada pukul 2 siang. Dr.An mengizinkan kami untuk mencoba dulu kelas Seminar itu, karena beberapa dari kami belum yakin untuk mengambil kelas tersebut. Linh, teman kami menyarankan kami untuk datang lebih awal di kelas. Kami mengiyakan.
Kami memilih pulang dulu ke rumah untuk makan siang dan sholat lalu berpisah dengan teman-teman NLU.
Kami datang ke kelas sesuai dengan jadwal, karena itu kami harus berjalan amat cepat di tengah terik matahari.

Karena masih merasa asing, kami duduk saja di kursi tersisa yang ada di paling belakang barisan.
Dr.An dosen yang akan mengajar kelas Seminar datang sekitar pukul 2.10 pm. Beliau terlihat senang melihat kami ada di kelasnya.
Bahasan hari itu adalah tentang kerangka jurnal dan isinya. Jurnal sebenarnya bukan hal baru bagi mahasiswa semester 7 seperti kami.
Di kelas, kami diminta untuk membentuk kelompok dengan anggota 2-3 orang untuk mendiskusikan isi jurnal lalu mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Sebenarnya, saya pribadi merasa canggung untuk bergabung dengan teman-teman lainnya dan Dr. An sepertinya melihat kecanggungan itu, karena beliau lalu mengizinkan kami mahasiswa Indonesia untuk berada dalam 1 kelompok.
Melihat suasana kelas di advanced program NLU tidak jauh berbeda dengan kelas ITP di IPB. Mereka berisik sebelum kelas dimulai, mengobrol kesana kemari, dan lain-lain. Saat dosen datang, mereka sekali dua kali harus diingatkan untuk tetap tenang. Saat dosen menjelaskan, 2-3 mahasiswa yang aktif bertanya atau menjawab. Saat teman yang lain presentasi didepan kelas, kadang perlu diancam dulu untuk tetap tenang dan memperhatikan. Dr.An juga mendorong mahasiswa untuk tidak malu aktif bertanya atau apapun di kelas, misalnya saat sesi presentasi, ada mahasiswa yang mungkin terlalu cepat menjelaskan sehingga apa yang mereka jelaskan di depan kelas tidak terlalu bisa kita mengerti, Dr.An mempersilakan kami untuk meminta teman kami tersebut mengulanginya lagi, supaya kami benar mengerti apa yang disampaikan teman kami.
“ You shouldn’t be excellent, you just have to understand step by step.” Itu quote yang cukup berarti yang diucapkan oleh Dr.An sepanjang kuliahnya bagi saya.
Saat Norman dan Ghita mempresentasikan hasil diskusi kelompok kami, teman-teman NLU kelihatan tertarik dan Dr.An amat mengapresiasi hasil diskusi kami, meskipun hasil diskusi kami yang sama temanya dengan kelompok teman NLU mengambil sisi yang berbeda dari yang dipresentasikan teman-teman NLU.

Kuliah berakhir sekitar pukul 4 pm, kami menuju gerbang sekolah melewati pameran yang tadi pagi kami lihat, namun sore itu terlihat lebih ramai. Kami akan pergi bersama teman-teman sekelas untuk melihat festival Mid Autumn.

Menaiki bus nomor 6 dengan perjalanan sekitar 15 menit dan berjalan kaki sekitar 15 menit lagi, kami sampai di sebuah taman kanak-kanak yang juga sudah dipenuhi mahasiswa NLU. Mereka sedang sibuk menghimpun anak-anak kecil di taman kanak-kanak tersebut untuk merayakan festival Mid Autumn. Mereka berbaris dan bernyanyi serta menari sampai sekitar pukul 6 pm. Saya baru tahu bahwa beberapa anak yang ada di situ adalah yatim piatu saat pertengahan acara.
Saat langit mulai gelap, mahasiswa NLU mulai membagikan lampion kepada anak-anak. Kami berlima juga akhirnya mendapatkan lampion tersebut.
Sejak sore, langit memang tampak tidak bersahabat karena mendung, jadi saya menganggap bahwa pada festival tersebut kami tidak akan melihat full moon. Namun, saat saya ikut membagikan lampion ternyata saya sempat melihat full moon itu meskipun hanya sebentar.

Kami pulang sekitar pukul 7 atau 8 pm, saat di perjalanan Ling berkata pada saya bahwa tadi di taman kanak-kanak itu anak-anak bertanya pada Ling kenapa kami melihat sebegitu rupa ke arah mereka. Saya tertawa menanggapi perkataan Ling. Ling saat itu memberikan jawaban pada mereka bahwa kami memandangi mereka karena mereka terlihat sangat lucu, ya, itu memang benar. Anak-anak kecil di dunia manapun memang terlihat lucu.