SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2021

Bandar Jaya Lampung Tengah: Sekelumit Cerita Merantau

Mendekati akhir 2016, saya memulai pengalaman merantau bersama suami ke Bandar Jaya, salah satu kabupaten di Lampung Tengah.

Tiba di bandara malam hari, tadinya mau mampir ke rumah makan atau minimarket dulu, tapi batal karena sudah lumayan malam dan bapak taksi ngerasa susah nyari tempat yang aman untuk mampir.


Memang isu soal aman nggak aman ini nih yang jadi beban pikiran di awal sebelum memutuskan ikut merantau, karena berita-berita soal Lampung yang terkenal dengan begalnya.


Suasana di depan lingkungan rumah
Dokumen pribadi

Jumat, 14 Desember 2018

Rekomendasi Restoran Ramah Anak di Bandar Lampung


Wisata kuliner itu buat saya salah satu hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Nggak cuma sekadar icip-icip, makan selain masakan rumah bisa menambah khazanah dan wawasan. Hahaha. Apalagi saat Ncik (nama panggilan anak saya) sudah lewat usia 12 bulan, saat udah boleh makan seperti yang saya dan suami konsumsi. Ya, asal nggak berlebihan aja.

Nah, berhubung wisata kulinernya nggak cuma dua orang dewasa saja, ada satu hal yang penting banget jadi pertimbangan saat memilih tempat makan.

Yep, adanya baby chair atau high chair atau kursi bayi. Itu jadi pertimbangan banget saat berkunjung di tempat makan atau restoran tertentu. Buat buibu yang tinggal di Bandar Lampung dan sekitarnya, mungkin beberapa check list dari saya berikut ini bisa jadi rekomendasi untuk dikunjungi bersama si kecil.


Plate O

Menu yang disediakan di plate O adalah menu-menu yang disajikan di atas hot plate. Jadi, karena panas pol, harus hati-hati saat makan bersama si kecil. Meskipun di plate O menyediakan baby chair, soal pilihan menu yang ada, saya prefer membawa bekal khusus untuk anak saya.
Lokasi: Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Samwon Express

Kalau mau makan yang ala-ala grill bisa mampir kesini. Tersedia baby chair, tapi saya rada ngeri kalau mau pesen menu yang grill saat bersama si kecil. Kalau kata suami, rasa masakan Koreanya udah sangat Indonesia. Menu yang bisa dimakan bocah juga tersedia.
Lokasi: Mall Bumi Kedaton (MBK) Lantai GF-1, Jalan Teuku Umar, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Nemenin tantenya Ncik nyobain makanan ke-Korea-an


Umme Teppanyaki Chandra Antasari

Mirip-mirip dengan plate O, di Umme Teppanyaki pun beberapa menunya disediakan di atas hot plate dalam kondisi panas. Tapi, tenang, ada menu ala-ala bento yang bisa dimakan si kecil. Letak Umme Teppanyaki di Chandra Antasari ini agak mirip suasana outdoor meskipun letaknya masih di dalam gedung. Jumlah baby chair yang ada saat saya berkunjung seingat saya hanya ada satu.
Lokasi: Inside Chandra Superstore, Jl. P. Antasari No.114, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung

Mie Ayam Koga

Mie ayam legendaris di wilayah Lampung ini menyediakan baby chair. Meskipun nggak banyak, tapi lumayan lah buat kita-kita yang pengen merasakan makan mie hangat-hangat. Nggak cuma menyediakan menu mie saja, menu-menu Chinese food seperti bihun, kwetiauw, capcay, dan sejenisnya juga tersedia. Buibu harap bersabar dan maklum saat menunggu beberapa menu yang disajikan dalam waktu yang sangat lama dan saat ruangan mulai terasa 'sumuk' meskipun ber-AC.
Lokasi: Jl. Teuku Umar No.48, Surabaya, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Uncle K

Lokasinya di dalam Mall Boemi Kedaton (MBK), di dekat pintu masuk yang ada Chatimenya. Meskipun mungkin rada nggak nyaman karena banyak orang lalu-lalang dari pintu masuk, tapi Uncle K menjadi alternatif saat tempat makan di MBK penuh semua. LOL. Lumayan lah pilihan menunya bukan yang melulu pedes.  
Lokasi: Pintu Utama Mall Boemi Kedaton

Bakso Lapangan Tembak Senayan

Seingat saya disini jumlah baby chairnya hanya ada dua atau tiga unit. Tapi, restoran ini menurut saya termasuk yang ramai dikunjungi orangtua yang membawa anak. Ya, kalau nggak kebagian baby chair, si kecil bisa anteng di atas stroller. Yes, the power of the stroller! Menunya standar, variatif, dan memang sangat ramah di lidah keluarga Indonesia.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Kinar Resto

Resto keluarga satu ini memang menyediakan high chair untuk bayi, menunya pun bisa lah dimakan sekeluarga termasuk si kecil. Cuma menurut saya tempatnya yang ada kawasan kolam renang serta tangga yang cukup bahaya buat anak, membuat kita harus benar-benar memperhatikan si kecil apalagi kalau mereka lari-larian di area resto. 
Lokasi:  Jl. H. Agus Salim, Sukadana Ham, Tj. Karang Barat, Kota Bandar Lampung

Shabu Kitchen Onago

Lokasi yang ada di MBK rada nyempil, meskipun nggak terlalu susah untuk dicari. Ikutin aja dari depan Chatime, ke kiri lurus mentok. Kalau lokasi yang di Transmart gampang banget ditemukan. Keduanya sama-sama menyediakan baby chair dalam jumlah yang cukup, karena pas saya kesana alhamdulillah pramusaji nggak yang sampe harus nyari-nyari. Menunya pun kids friendly, meskipun harus selektif pilih tekstur menu yang nggak bikin 'kelolodan' anak bayi. Jangan keliru dengan Shabu Kitchen yang di lantai 1 MBK, bedanya dengan Shabu Kitchen Onago adalah menu yang menurut saya lebih premium alias lebih mahal. LOL. Tapi, sepertinya Shabu Kitchen pun juga menyediakan baby chair.
Lokasi: Ground Floor Mall Boemi Kedaton dan Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Sushi Okage

Pertama kali kesini rada nyari-nyari karena tempatnya lumayan nyempil. Begitu naik eskalator, silakan berbelok kiri ke arah Timezone dan lurus mentok. Tempatnya di ujung dan nggak terlalu luas. Tapi, dapet banget suasana khas Jepang. Baby chairnya pun lucu dari bahan kayu gitu. Ada dua bagian tempat makan, yang ala-ala resto Jepang dengan mesin sushi berputar dan yang biasa aja. Sushi disini enak, apalagi salmonnya, seger.
Lokasi: Lantai 2 Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung

Hokben

Restoran waralaba ala Jepang dengan rasa yang sangat Indonesia ini, baru dibuka September lalu di Bandar Lampung. Meskipun saya belum berkesempatan makan disana, tapi berdasarkan info dari salah satu teman, tersedia baby chair yang jumlahnya masih terbatas, yaitu satu unit saja. Sayang banget kalau mesti rebutan baby chair. Padahal, Hokben ini menyediakan menu khusus anak-anak yang berlabel bebas penyedap.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Yukmain Moms and Kids Playground Cafe

Nah ini resto yang beneran kids friendly. Meskipun tempatnya rada mungil, tapi mengakomodasi mini playground untuk tempat bermain anak-anak. Menu yang disediakan pun sangat disesuaikan, baik bentuknya yang unyu maupun bahan-bahannya yang nggak pake micin. Saya kesini sewaktu ada acara komunitas Lampung Menggendong. Jadi, sembari ibu-ibu mengikuti acara di lantai 2, anak-anak bisa bermain di mini playground.
Lokasi: Jalan Wolter Monginsidi no 102. Dari turunan Hotel Emersia, sebelum Hotel Grand Praba

Rekomendasi ini saya buat berdasarkan kriteria subjektif. Kriteria utama ramah anak menurut saya adalah ketersediaan baby chair dan rasa masakan yang ‘selow’, nggak yang terlalu ‘nyegrak’ banget semisal ditambahkan penguat atau penyedap rasa. Kriteria lainnya, suasana yang saya rasakan saat berkunjung kesana. Nyaman dan mendukung suasana makan atau nggak. Bikin selera makan meningkat atau malah sebaliknya. Semakin scroll tulisan ke bawah, menunjukkan daftar restoran yang semakin oke keramahannya terhadap anak.

Nah, mengapa baby chair sangat penting? Toh kalau anak sudah bisa duduk tegap sendiri, duduk di kursi dewasa pun tidak masalah kan? Hm, menurut saya, meskipun sudah bisa duduk sendiri, kursi makan dewasa tidak cukup ergonomis untuk anak. Entah saat saya lengah atau nggak ngeh, khawatir saja anak 'ngejeblak' atau yang sejenisnya yang tentu tidak saya harapkan.

Buibu ada rekomendasi tempat makan ramah anak yang lain? Yuk, berbagi di kolom komentar, supaya bisa menambah khazanah kuliner saya. >.<

Semoga bermanfaat.



Senin, 16 Juli 2018

Kuliner Semarang yang Dirindukan

Mudik kemarin alhamdulillah disibukkan dengan silaturrahim ke rumah banyak saudara. Ngerasanya sih lumayan lama mudik lebarannya, tapi ternyata enggak semua yang direncanakan dari Lampung bisa terlaksana.

Salah satu yang gagal total adalah jalan-jalan kulineran!

Beneran gagal karena enggak nemu dong waktunya buat memburu kuliner Semarang yang saya rindukan. Saking padetnya jadwal silaturrahim, pulang ke rumah udah sore atau malem, dan jadi males karena lelah kalau mau kemana-mana lagi.

List di bawah ini saya bikin jauh-jauh hari sebelum mudik. Apa daya... cuma bisa ngeliatin di Instagram aja untuk 'tombo pengen'.

Maklum... kalau masak sendiri belum canggih, jadi enggak berani trial resep di dapur sendiri.

1. Sego Ndeso
Ini sebenarnya mirip-mirip nasi rames gitu. Ada nasi, lauk pauk, kayak mie goreng (yes, karbo ini jadi lauk), gorengan, sayur terong kuah mangut (yang jadi khasnya), dan bintang utamanya adalah disiram sambel pecel. Enak banget deh pokoknya. Kenapa saya nyebutnya sego ndeso? Eng ing eng... karena memang dijualnya di rumah-rumah daerah pedesaan di Semarang. Secara geografis deket kota Semarang, tapi de jure-nya dia di kabupaten Semarang. Biasanya dijual di pagi hari sebagai menu sarapan. Harga seporsinya enggak mahal sama sekali. Jaman saya abege kayaknya dijual < 5 rb rupiah deh.

2. Mie Tek Tek
Yes, kayaknya nama mie tek tek enggak asing jadi kuliner khas di rata-rata daerah Jawa Tengah. Tapi, mie tek tek yang saya rindukan ini yang biasa lewat di depan rumah nenek. Meskipun namanya sama-sama mie tek-tek, tapi beda lho bumbu, jenis mie, dan pelengkapnya. Kalau versi saya, bumbu mienya ini kuat banget rasa bawang putihnya, gurih, dan manis (karena biasanya saya minta ekstra kecap). Mie nya juga bukan yang tebel kayak bakmie Jogja, tapi ringan, panjang, dan lembut. Pelengkapnya cuma kol, kalau mau nambah sate bisa juga sih. Haduh, makin ngeces ini. Sebenernya di Lampung sini juga ada mie tek tek yang mirip kepengenan saya. Tapi, ternyata di bumbunya beda banget karena ketambahan ebi. Enak sih, tapi beda sensasi mie tek-teknya.

Ini Bakmie Jowo bukan Mie Tek Tek karena lebih mewah (pake telor dan suiran ayam) tapi mirip-mirip lah


3. Tahu Gimbal
Kuliner khas Semarang banget yang sangat mudah ditemukan di pusat kota yaitu Simpang Lima. Enggak susah nemuinnya, tapi tricky juga cari yang enak. Kalau saya biasanya beli di mbah saya yang buka warung tahu gimbal. Top markotop lah itu rasa gimbal udang kalau ketemu sama bumbunya.



4. Nasi Ayam
Ini sebenarnya mirip-mirip menu lebaran, karena ada ayam kuah opornya. Tapi, yang jadi khasnya adalah makan beralaskan daun pisang dan bisa nambah lauk sate-satean. Kalau buat saya yang bikin nagih adalah sayur jipan atau sayur labu siamnya. Beuh! 



5. Lunpia
Another signature dish dari Semarang. Ini kepengenan pak suami banget. Tapi, sayang dia belum puas karena kemarin nyobain di Lunpia Express yang kurang enak. Masih penasaran sama Loenpia Cik MeMe yang dulu namanya Lunpia Delight. Mau nyobain di Lunpia Gang Lombok yang terkenal itu tapi jauh banget kesananya. Jujur saya bukan penyuka lunpia, enggak terlalu bersahabat soalnya dengan rasa rebung. Tapi, sejak nikah sama pak suami yang bisa sampe ngidam-ngidam kepengen lunpia, jadi berani nyobain dan ternyata nagih juga. Gurihnya isi lunpia, dicocol saus, terus 'nyeplus' cabe rawit. Mantap!



Udah tergiur dan jadi pengen ke Semarang?

Kalau saya sih harus sabar sampe mudik tahun depan. Hahaha.



Semoga bermanfaat ya. 


Sumber Gambar :
Dokumentasi Pribadi

Minggu, 11 Februari 2018

Donat Madu Cihanjuang yang Manis Menawan

Saat hamil di tahun lalu, entah mengapa kalau suami sedang tugas kantor ke Bandar Lampung, yang enggak lupa dititip adalah donatnya dunkin. Mungkin salah satu penyebabnya karena craving for yang sweet-sweet.

Lalu suatu saat pas suami pulang kerja di Bandar Jaya sini, eh, ternyata dibawain donat enak, tapi bukan donatnya dunkin. Saya suka banget sama donat satu ini. Hampir tiap dua hari sekali selama hamil, pak suami bawain buat saya ngemil.

Enggak ngerasa asing sih dengan brand toko donatnya, karena selama kuliah di Bogor, sering banget temen-temen ngomongin donat madu cihanjuang. Sayangnya, malah baru nyobain pas di Lampung sini.

Kesukaan saya pada donat madu cihanjuang (setelah ini saya singkat dmc), karena rasa manis dan empuk donatnya enggak berlebihan. Pas di lidah dan bikin nyaman perut, enggak kekenyangan, tapi juga enggak bikin ketagihan.

Karena judulnya donat madu, tentu saja salah satu komposisi bahan-bahannya adalah madu. Mungkin karena pakai tambahan madu dan ada resep rahasia, buat saya dmc seperti punya rasa khas tersendiri yang beda dengan donat-donat yang pernah saya coba sebelumnya.

Sekali nyobain dmc, saya sih langsung jadi pelanggan rutin. Paling enggak seminggu sekali beli dua potong. Teman suami saya yang pernah nyobain dmc pun jadi rajin ngebeliin anaknya yang penyuka donat.

Harga dmc per potongnya murah meriah, cuma 5500 rupiah saja. Pas dengan rasa dan kemasan yang diberikan.



Hal lain yang menarik dari dmc buat saya pribadi adalah tagline dan lokasi outlet dmc.

Tagline dmc yang dituliskan di muka kemasan adalah mulailah dengan yang halal dan sehat. Ah, keren sekali karena menjunjung apa yang Allah swt firmankan dalam al-qur'an untuk memakan apa saja yang halal dan thoyib.

Soal lokasi outlet, bagusnya dmc ini menjangkau sampai kota yang lokasinya pelosok. Salah satunya seperti kota tempat tinggal saya saat ini.

Kalau ngomongin topping donat, topping favorit saya di dmc adalah cokelat meses original dan cokelat almond. Yey, saya memang tim cokelat.

Sayangnya, kadang cokelat almond ini tidak tersedia di display. Bukan karena tidak ada stok, tetapi memang baru akan dibuatkan saat ada pembeli. Jadi, biasanya kalau saya mau beli donat cokelat almond, tapi saya enggak melihatnya ada di display, saya harus bertanya dulu ke mbak penjualnya dan biasanya langsung dibuatkan.

Nah, untung saya nanya. Kalau lagi malas ngomong dan nanya, mungkin pembeli bisa enggak jadi beli karena stok donat yang diinginkan tidak ada.

Tapi, sebenarnya ada enaknya juga sih, karena topping donatnya terasa masih fresh. Kalau memilih yang cokelat biasanya cokelatnya masih terasa hangat.

So, kalau kalian melihat outlet donat madu cihanjuang, jangan ragu untuk mampir dan mencoba. Sangat saya rekomendasikan.

Sekian.




#ODOPbatch5
#Onedayonepost

Minggu, 28 Januari 2018

D'Cost Lampung

Kalau jalan-jalan ke Bandar Lampung yang enggak ketinggalan adalah kulineran. Tapi, maaf dulu nih sebelumnya, karena yang diicip-icip bukan makanan khas Lampung, melainkan makanan yang lagi dikangenin.
Lagi inget banget nih, dulu pas masih di Bogor, ke D'Cost kalau lagi pengen perbaikan gizi dan makan enak. Tau sendiri kan, di resto ini, nasi dan es tehnya bisa refill dan tetep bayar murah. Inceran anak kampus yang uang jajannya irit, kan?
Nah, pas lagi kangen, mampir lah ke D'Cost di Mall Kartini ada di lantai 2.
Rada katrok nih pas awal-awal, karena udah 7 tahun enggak ke D'Cost dan baru ke sini lagi sekarang-sekarang ini.
Pilih menunya, pake kartu macam kartu nama di kayak mading yang ada di dekat kasir. Kalau udah beres pilih menu, kartu-kartu itu dikasih ke supervisor yang berjaga di dekat situ. Nanti kita dikasih tau sebelah mana meja kita, atau boleh aja sih pilih meja sendiri. Entar supervisornya itu juga tau kok kita duduk di meja mana. Insya Allah pesenan menu enggak akan salah. Terus tinggal nunggu deh menu disajikan.
Oh ya, untuk ibu-ibu yang mau bawa bayinya ke DCost bisa banget agak santai karena ada high chairnya, tapi tanpa tray.
Enggak terlalu lama pesanan menu kami diantar. Kalau kata saya, ternyata porsi menunya enggak sebanyak yang saya perkirakan. Tapi, pas kok.
Kalau soal rasa, karena saya lupa gimana rasa D'Cost yang dulu sering saya kunjungi di Bogor, yang di Lampung ini sih enak-enak aja.
Cuma, meskipun saya ada di area non-smoking yang samping-sampingan sama area smoking, asap rokok dari yang pada makan di area smoking terasa loh sampe ke hidung saya. Bikin sesak juga. Ternyata, sebabnya adalah pintu pemisah di area smoking enggak ditutup. Mungkin karena susah kali ya, pramusajinya buka tutup pintu nganterin makanan, daripada repot jadi dibuka aja. Tapi, jadinya malah mengganggu sih.
Overall rate makan di situ saya kasih 7/10
Ini list menu yang saya makan
Nasi putih
Tom yum soup
Kangkung balacan
Tahu jepang saus padang
Es kelapa
Air mineral
Total 99 ribu
Favorit saya adalah tahu jepang saus padang. Meski di akhir-akhir rada eneg sih makan tahu jepangnya. Terus, kata suami harganya sudah enggak kaki lima lagi. Kecuali untuk menu kayak nasi goreng, mie goreng, dan sejenisnya, itu tetep murah meriah untuk ukuran resto.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Jumat, 19 Mei 2017

Eat In Marugame Udon&Tempura Paragon Semarang

Makanan Jepang lagi nih. Susah emang menahan godaan untuk nggak nyobain makanan Jepang.

Sebenarnya udah tahu resto Jepang yang jaminan halalnya 100% dengan label MUI ini sejak kerja di Utan Kayu. Setiap kali main ke KoKas selalu ngeliat antrian yang bejibun di resto dengan konsep open kitchen ini (kalau nggak salah nebak). Sayangnya, belum kesampaian aja pas jalan-jalan ke KoKas untuk rela antri dan makan di sana.

Nah, ternyata di salah satu mall di kota Semarang ada juga nih cabang Marugame Udon. Jadilah nyobain pergi ke sana. Tadinya nggak mau bareng pak suami karena kayaknya pak suami agak kurang suka menu-menu internasional begini. Tapi, karena nggak boleh jalan-jalan sendiri, akhirnya makan bareng pak suami juga deh pas beliau ambil cuti :3

Mungkin karena kami makan di weekday, meskipun itu pas jam makan siang, restonya nggak rame-rame banget. Kalau saya boleh agak sok tahu, konsep restonya agak-agak self service ya. Mirip-mirip resto fast food Jepang yang udah terkenal itu, Hokb#n.

Suasana kitchen dari tempat duduk kami

Datang, ambil nampan, pilih menu, dikasih menu main course pilihan kita, pilih dan ambil sendiri side dish tempura yang langsung di depan penggorengannya, pilih menu minuman, dikasih menu minuman pilihan kita, bayar, ke rak sebelah buat ambil condiment (daun bawang, hancuran tempura, kecap asin, cabai, dan sejenisnya), ambil sumpit dan sendok, ambil minuman untuk menu ocha dan lemon tea, lalu pilih tempat duduk yang kamu suka.

Menu main course yang kami pilih adalah menu yang katanya best seller, Niku Udon dan Beef Curry Rice. Side dish tempuranya harusnya pilih udang tempura sih yang terlihat besar dan menggoda, tapi saat itu saya lagi nggak pengen tempura, jadinya pak suami yang pilih dan itu agak-agak failed. Pak suami milih inari (nasi yang dibungkus kulit tahu, yang sukses bikin kami kekenyangan karena pak suami udah pesen main course nasi) dan chikuwa (otak-otak ikan).

Soal rasa, lidah saya sih sangat cocok. Udon dan kuahnya enak banget >.< Rasa kuahnya khas masakan Jepang. Pak suami juga setuju kalau udonnya emang enak. Nah, kalau menu rice nya, pak suami kurang cocok karena katanya berasa manis doang. Kata saya sih, enak, tapi so so lah. Lebih recommended pilih menu udon sih, daripada rice. Side dish chikuwa nya enak, tapi biasa aja. Inari nya nih yang agak-agak failed. Lebih enak arem-arem Semarang (parah banget komennya).

Mungkin karena mengikuti selera orang Indonesia yang doyan pedas, makanya di bagian condiment disediakan potongan cabai setan segar. Buat saya, itu nggak bikin ancur rasa udonnya kok. Malah bikin rasa udon tambah segar. Nah, kalau dimasukkin ke menu ricenya, nolong biar nggak manis-manis banget.

Tempura dan udon
Beef curry rice

Buat saya, kesan pertama makan udon di Marugame ini bikin pengen balik lagi, tapi, nggak sering-sering karena cukup nguras kantong. Meskipun kata pak suami wajar harga segitu dan masih masuk uang jajan rata-rata orang Indonesia yang memilih makan di resto beginian. Tapi, yakin deh, pak suami lebih milih makan ayam geprek daripada diajak ke Marugame lagi. Secara lidah pak suami Indonesia banget.

Harga menu yang ada di display udah dengan pajak, kalau tidak salah ingat, Niku Udon itu harganya 53 ribu-an, Beef Curry Rice juga 53 ribu-an, side dish tempuranya macam-macam, sekitar 10 sampai 20 ribu-an. Pilihan menu minuman di Marugame Udon ini sangat simple. Ada ocha, lemon tea, dan beberapa minuman kemasan. Harganya standar resto sih, 10 sampai 20 ribu-an juga. Total makan berdua sekitar 150 ribu-an. Yah, mirip-mirip dengan kalau saya makan di resto Je-Jepang-an yang ada di Lampung.

Sekian.

Semoga bermanfaat.

Menu komplit pesananan kami, cold ocha, hot ocha, chikuwa, inari, niku udon, beef curry cice

Kamis, 27 April 2017

Japanese Fusion Food di Wasabi Semarang

Bismillah.

Sudah ketiga kalinya nih nyobain makan di Wasabi Semarang. Pertama, waktu warung yang di Tembalang ini masih kecil dan belum direnovasi. Kedua, nyobain Wasabi yang di dekat pasar Bulu, sebelum Ina Swiss Jam kalau dari arah barat. Ketiga, balik lagi ke tempat yang di Tembalang yang ternyata udah lebih besar dari sebelumnya.

Kalau komentar saya soal Wasabi, cocok di lidah. Meskipun fusion, tapi nggak aneh-aneh dan sangat bisa dinikmati.

Waktu merasakan pertama kali langsung suka aja. Kedua kalinya yang nyobain cabang di dekat pasar Bulu, enaaak, suka deh kuah ramennya terutama yang miso. Cuma sayang, pas pesan ramen untuk take away, chicken ramennya agak failed karena daging ayamnya masih alot. 

Nah, pas baru kemarin nyobain menu black ramen di cabang Tembalang, failed lagi tuh karena kuah ramennya asin banget, nggak tau pake apa, tapi kok lidah saya ngerasa kaldu bubuk masak* yang kuat banget. 

Dep-Bel (Tuna Blackupeppa, Skin Salmon Maki, Crunchy Roll), Black Ramen Special

Alhamdulillah, kalau untuk sushinya nggak mengecewakan, nggak kayak yang di warung sebelah, hahaha ✌. Sushi di Wasabi top deh. Enak dan terasa fresh di lidah.

Soal harga, standar sih sebenarnya. Tergantung pilihan topping dan ikan. Kalau milihnya yang berbahan ikan salmon, jelas bakal lebih mahal. Makin komplit topping ramen atau udon makin mahal pula harganya. Kemarin saya pesan 1 menu ramen spesial, 3 menu sushi standar, 3 minuman, total bayarnya 85 ribu rupiah. Masih wajar menurut saya.

Suasana tempatnya, saya ngerasa lebih berasa di warung-warung Jepang di cabang yang dekat pasar Bulu. Kalau yang di Tembalang, lebih luas dan lega aja.

In short, kalau pengen nyobain makanan ala Jepang yang harganya nggak terlalu nguras kantong, Wasabi recommended.

Oh ya, FYI, pas saya searching di google, awal mula Wasabi terbentuk karena sang pemilik merasa khawatir sama resto-resto makanan Jepang di wilayah Semarang yang rentan nggak halal. So, insya Allah Wasabi ini dijamin halal.

Senang deh kalau tempat makan yang fusion-fusion internasional gini banyak yang halal.

Kemarin juga ngobrol sama si adek yang jadi fans berat Wasabi bahkan sebelum pindah ke Tembalang (saat itu Wasabi masih warung kecil di Ngaliyan), kata si adek, founder Wasabi sekarang ini sering banget diundang untuk ngisi acara kewirausahaan gitu.

Buat yang mau ngekepoin Wasabi lebih lanjut, bisa tengok IG nya searching aja Wasabi Semarang.

Sekian.

Selasa, 19 November 2013

Starbucks HCMC

Bismillah.

Ceritanya hari ini, kuliah tea, coffee, cocoa berakhir lebih cepat. Cuma presentasi doang. Dan Alhamdulillah grup saya termasuk yang presentasi dan semuanya lancar. Hehe.

Karena pulang awal, kami memutuskan untuk tidak langsung pulang dan pergi ke distrik 1. Yeah, cari makanan halal dan setelah makan, kaki kami menuntun kami ke Starbucks. Haha.
Apa coba, padahal saya tidak kuat minum kopi dan tau sendiri harga kopi di Starbucks itu...
Ya sudahlah, mari saya ceritakan perjalanan kami kesana.

Maaf ya, kalau cerita kali ini rada kampung dan alay. Haha. First time ke Starbucks ceritanya, bahkan di Indonesia, saya belum pernah ke tempat itu.

Setelah melewati pintu masuk yang sudah dihiasi ornamen-ornamen khas Natal, kami disambut oleh pramusaji yang mempersilakan kami memesan minuman sebelum kami duduk. Rada-rada kagok ceritanya karena ini pertama kalinya untuk kami berlima pergi ke Starbucks.

Setelah memesan beberapa minuman dengan harga yang lebih mahal daripada makan siang kami, kami memilih tempat duduk di pojokan. Kami menunggu tidak terlalu lama dan nama Doni yang diubah menjadi Mr.Yoni (karena orang Vietnam menyebut D dengan huruf Y) dipanggil. Jadi, ceritanya kami memesan, ditanya pilihan menu dan mereka akan mencoret-coret gelas kami dengan nama pemesan, setelah pesanan jadi, nama itu akan dipanggil.

punya ghita-norman-saya-qori-doni
Saya memesan latte panas, Doni ice latte, Ghita iced caramel macchiato, Norman chocolate chip frappucino, Qori chocolate chip frappucino tanpa whipped cream.
Punya saya dan Doni pahit...iyalah, kopi ini. Punya Ghita enak sih, tapi...
Punya Norman dan Qori paling enak, tapi, bukan kopi... 



cukup sekali ya...


apa banget ekspresinya -_-"
Hhh...meskipun judulnya Starbucks Vietnam, suara-suara yang saya dengar disini kebanyakan berbicara dengan bahasa Korea. Entah kenapa.
Yeah, banyak orang asinglah disini.

Okay. Mungkin segitu dulu yang saya ceritakan. Hehe.
Semoga bermafaat.

Bye. 

image credit : @cocaqori