SOCIAL MEDIA

Kamis, 29 Agustus 2019

Blue Valentine: Marriage 101

Menonton film Blue Valentine yang dibintangi Ryan Gosling sebagai Dean dan Michelle Wiliams sebagai Cindy membuat saya memaknai kembali perjalanan pernikahan.

Rasanya pernikahan saya masih seumur jagung. Tapi, saya sadari sudah banyak sekali mengeluhnya. Padahal jika masih diberi umur, mungkin ujian yang saya dan suami hadapi belum seberapa.



Short Review

Saat Cindy bertengkar hebat dengan Dean, lalu Dean meminta pengertian Cindy untuk memahami 'the worst part of him' saya merasa tertegun. Sudahkah saya siap ketika harus menghadapi 'the worst part of my husband'? As we know, kita semua manusia yang pasti melakukan kesalahan.

Hubungan manis Cindy dan Dean sebelum menikah yang menjadi flashback dalam film ini membuat saya berpikir tentang up and down sebuah hubungan. 

Ketika hubungan kita dengan pasangan sedang dalam titik terendah, bisakah kita mengingat indahnya hubungan kita di masa lalu?



Saya terharu terhadap kegigihan Dean mempertahankan rumah tangganya. Bagaimana dia tidak segan mengemis maaf dari Cindy, lalu betapa carenya dia terhadap Frankie (putri mereka). 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga broken home, Dean tidak mau Frankie mengalami hal yang sama. Sungguh manis. Mengingat sekarang ini perceraian dianggap sebagai sesuatu yang biasa dilakukan. Padahal meskipun itu hal yang wajar terjadi, bukankah kita masih bisa mengusahakan perbaikan? I don't know. Mungkin sekarang saya bisa berkata seperti ini. Who knows? Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga saya. Aamiin.

Maka, saya sangat bersyukur karena dalam Islam pemutus perceraian adalah suami. Mengingat nature saya sebagai wanita (in case my personality) sangat mudah terbawa perasaan dan mungkin sulit berpikir panjang saat menghadapi masalah.

Komentar dan Refleksi

Of course the star in this movie is Ryan Gosling! Pernyataan-pernyataannya dalam film banyak yang menyadarkan saya.

Bagaimana Dean sebenarnya punya banyak keterampilan, berbakat dll, tapi dia memilih untuk kerja serabutan.

Bagaimana dia tidak menginginkan menjadi suami dan ayah. Tetapi, ketika takdir menggariskan dia untuk menjalani peran itu, he try his best.

Betapa bangganya Dean bisa fokus menjadi suami dan ayah tanpa perlu merumitkan masalah pekerjaan. Istilah sadisnya, buat apa sih kerja kalau malah kita nggak bisa menikmati waktu bersama anak dan istri. Duh, lupa detail kalimatnya Dean, yang jelas nampol banget pas scene dia ngucapin kalimat itu.

Salah satu masalah yang disorot di film ini, ketika Dean seperti tidak melakukan apa-apa untuk keluarganya (mungkin karena Dean nggak bekerja seperti umumnya para suami), lantas Dean pun mengalami kehilangan orientasi.

Baca Juga: Remember Me


Ah, sungguh menjadi tamparan ketika seorang pria seperti ini. All out menjadi ayah dan suami.

This movie strikes me in two important things in my life. Becoming good mother and wife as it should be.

Oh ya, dan satu lagi, betapa kadang para istri butuh liburan berdua dengan suami untuk kembali menyatukan hati dan mengingatkan bahwa dulu kita pernah hidup kasmaran nan penuh cinta. LOL. So cheesy.

Semoga bermanfaat!

Sampe nangis dong si Ryan Gosling!



Ps. Filmnya rating dewasa, jadi tontonlah dalam kondisi steril dari anak-anak. Film Hollywood emang begitu, valuenya udah oke, tapi tetep muatan sexnya terlalu vulgar, duh.

Rabu, 21 Agustus 2019

Survei Daycare di Bandar Lampung: Ibu yang Sedih, Lho, Nak!

Beberapa pekan yang lalu saya dan suami disibukkan dengan aktivitas mencari-cari daycare untuk anak saya.

Kok dititipin? Mau kerja lagi? 

Itu pertanyaan yang muncul, saat memberitahu bahwa saya sedang hunting daycare.

Jawabannya, mau kerja lagi, tapi remote dari rumah, alias mau nyeriusin nge-blog dan memburu job-job menulis yang lain. Terus juga butuh sehari yang bisa ninggalin anak karena ada aktivitas yang harus dilakukan mobile di luar rumah. Oleh suami sudah diizinkan, beliau juga menemani survei ke beberapa daycare tersebut. 

Padahal nih, niatnya menitipkan anak kami sehari saja. Nggak yang all day long in a month. Ternyata, syarat menitipkan sehari doang ini rada tricky di beberapa daycare, karena mereka prefer anak yang dititipkan continue, bukan yang temporal kayak saya begini.

Menitipkan yang harian begini dengan effort saya dan suami menyurvei satu per satu, rada lebay sepertinya. Cuma, nggak berani juga buat nggak menyurvei daycare yang dituju.

Berangkat dari situ, akhirnya saya dan suami beneran yang berkunjung satu per satu, ngelihat kondisi daycarenya, nanya-nanya aktivitas, biaya, dan sebagainya.


Hal mengejutkan dan tidak disangkanya adalah perasaan saya yang tiba-tiba mellow saat proses survei.

Halo, buibu? Ngerasain hal yang sama nggak sih?

Nggak nyangka saat menyusuri daycare demi daycare, yang muncul adalah perasaan sedih dan lebih ke nggak rela, anak saya bakal seharian sama orang lain (yang bukan suami atau orangtua saya atau kerabat dekat).

Padahal sebelum survei, di rumah saya yang semangat banget. Mikirnya, finally, seharian bisa me time ngerjain kerjaan, dst, dst. (Lho, weekend nggak bisa begitu? Answer: Nggak samsek! Weekend ibu-ibu mah, rasa weekeday. Occasionally aja bisa me time di weekend, cuma kok lelah amat weekend-weekend juga mikirin kerjaan).

Semangat itu terkikis sedikit demi sedikit seiring perjalanan saya berkunjung dari satu daycare ke daycare yang lain.

Hilang semangat yang berujung rasa nggak rela.

Akhirnya, batal dong nitipin anak saya ke daycare.

Alasannya, tentu saja daycare-daycare tersebut nggak memenuhi ekspektasi saya selayaknya sebuah badan yang akan mengasuh anak saya selama seharian.

Apa banget, ya, padahal cuma buat seharian doang. Tapi, gimana, dong, kayak yang berat gitu, saat mendapati zonk demi zonk realita di daycare.


Salah saya juga, sih, harusnya sebelum berkunjung, saya mengosongkan gelas terlebih dahulu. Sampai di rumah, baru evaluasi semuanya.

Hal yang terjadi, begitu masuk dan melihat satu dua hal yang kurang sreg, langsung asal coret dalam hati. Hilang niat buat menitipkan anak disitu.

Belum sharing dengan buibu yang lain, sih, apalagi sama mereka yang rutin menitipkan anak di daycare tersebut. 

Kadang kepikir (jahat), kok nitipin anaknya disitu, padahal kan begini dan begitu. Duh, sayanya aja yang rese' nih, karena mungkin standar daycare saya terlalu utopis untuk daycare-daycare yang saya survei kemarin. Atau mungkin saya harus punya daycare sendiri, supaya memenuhi ekspektasi pribadi? Boleh lah, dimasukkan ke wishlist.

Reaksi Aliyya, anak saya, bukan yang ogah-ogah amat. Bisa dimaklumi, awal-awal menginjakkan kaki di daycare langsung nemplok ke saya atau ayahnya. Ngobrol sama ibu pengurus daycare, katanya wajar kayak gitu. Beberapa anak pas awal ikut daycare juga tidak rela berpisah dengan emaknya, nangis, dsb, dsb. Bagian itu tidak terlalu khawatir, meskipun deg-degan juga ngebayanginnya.

Deg-degan berakhir lega karena untuk saat ini belum jadi menitipkan Aliyya ke daycare.

Selasa, 13 Agustus 2019

Nonton Bioskop yang Menjadi Kemewahan

Sebuah kemewahan. Itu yang nyampe di otak saya sewaktu suami mengizinkan me time nonton bioskop.

Secara tiket bioskop di weekend itu tidak murah sama sekali. Kalau dihitung-hitung, harga tiketnya setara bisa nyetok US beef slice satu pack (kurang dikit lah) atau ayam potong 2 ekor (ditinggal kepala kaki) atau ayam kampung seekor yang kecil. Sungguh rumit pemikiran ibu-ibu.



Sampai akhirnya bisa beneran masuk ke teater bioskop, nonton film dengan tenang tanpa kepikiran yang lain-lain, hingga ending nyimak keseluruhan film sampai bisa mengambil hikmah, beneran deh itu me time yang berharga banget.

Berharga buat saya yang suka nonton film (di bioskop). Kalau yang enggak suka, ya, mungkin mikirnya buat apalah bela-belain nonton di bioskop, toh, nanti keluar juga bajakan yang bisa didownload gratis. 

Hahahahaha. Sepakat sih kalau filmnya bukan film favorit saya. Tapi, kalau filmnya saya tunggu-tunggu banget, dan enggak sekadar pengen dapat efek sound atau visual yang ciamik, nonton bioskop itu bentuk solidaritas sebagai pekerja seni. Meski mungkin sang pekerja seni juga duitnya bukan dari tiket bioskop doang. Wkwkwk cari alasan pemberat banget nih biar tetep kuat alasan nonton bioskopnya.

Seperti banyak hal lainnya. Sesuatu yang sifatnya hiburan, trivia, dan sejenisnya, buat saya jadi privilege ketika benar-benar bisa dilakukan seorang ibu. Karena kadang pas lagi sibuk-sibuknya ngurusin rumah dan anak, ngebayangin bisa me time yang menghibur itu sungguh sempet-sempetnya. Apalagi sampe bisa terealisasi tanpa babibu atau mikir terlalu jauh. Panjang kali lebar deh kalau mau me time lebih dari 2 jam dan lokasinya lumayan berjarak dari rumah.

Kayak yang berat banget mau me time keluar rumah, apalagi yang dilakukan adalah nonton bioskop!

Kan dulu imej nonton bioskop masih negatif tuh. Beda di zaman sekarang, yang bioskop pun memutar film yang sarat hikmah.

Sayangnya, kadang film yang bagus, malah sepi penonton akibat penikmat film enggak ngerasa urgent untuk nonton film tersebut di bioskop.

Wkwkwk, ya, apa urgentnya sih ya. Selain sebagai hiburan (dan syiar) sebenarnya, eh.


Kadang, saking pengennya nonton, dan mikir kalau suami pun mungkin punya keinginan yang sama buat nonton bioskop, ada aja ide buat gantian jaga anak, terus gantian pula nonton bioskopnya. Saking pula menghindari anak terpapar bioskop di usia dini.

Tapi, akhirnya sampai sekarang belum terlaksana karena enggak tega sama anak, dan merasa belum ada film yang worth it dibela-belain sebegitu rupa.

Makin ribet mikirnya, karena suami cuma senggang di weekend yang seperti saya sebutkan di paragraf awal, harga tiket yang mahal menurut anggaran kami.

So, kata buibu, mewah enggak sih sebagai orangtua bisa nonton bioskop tanpa hambatan berarti?

Rabu, 07 Agustus 2019

Tertarik Rumput Tetangga


Terlalu banyak dan sering melihat teman-teman, malah jadi bingung sendiri dengan apa yang sebenarnya jadi target saya.


Lihat teman seorang ibu beranak satu yang dapet beasiswa S2 ke LN langsung latah kepengen. Padahal kalau nanya ke diri sendiri dengan pertanyaan sesimpel buat apa S2? Jawabannya gagu dan gamang.

Simpel sih kadang pengen jawabnya. Pengen cari ilmu aja. Pengen jadi orang yang berpengetahuan. Pengen otak terus terasah. Duh. Emang siap ntar kembali ke masa-masa dikejar deadline tesis, endebre-endebre, yang pas ngerjain skripsi aja udah bikin ngebul dan hampir nyerah? Kayaknya bagian itu pengen diskip aja. Cuma pengen bagian belajar dan nambah ilmunya deh beneran.

Jawaban kayak gitu bakal dicecar sama suami.

Kalau cuma itu alasan kepengennya, nggak usah S2 pun bisa. Cari ilmu sekarang nggak harus sesaklek itu jalurnya. Kecuali kalau memang mau jadi akademisi. Mau menyalurkan ilmu sampai ke penerapan praktis. Maybe pursue the master degree is that worth. Tapi, kalau alasannya masih dangkal, masih berhias-hias, S2 kan keren, apalagi buat ibu-ibu muda. Berasa mevvah gitu.

Okay, then, coret deh itu keinginan S2.


Selanjutnya pengen jadi pebisnis.

Ya, zaman now gitu loh. Emak-emak mana yang tak punya sambilan jualan selain momong anak. Segitu kasarnya kali ya pemikiran hamba. Tapi, emang sedahsyat itu gelombang quotasi, pintu terbanyak pembuka rezeki adalah dari berdagang. Ditambah panggilan menggema dari seluruh penjuru untuk emak-emak kembali ke rumah, memprioritaskan mendidik anak sendiri daripada bekerja siklus 8-17. Memang enggak semua terpanggil sih. Masing-masing punya pilihan. Pos-pos seperti dokter kandungan, perawat, dan masih banyak lagi juga enggak mungkin ditinggalkan.

Satu yang jelas, karib sesama ibu banyak banget yang punya bisnisan. Setiap update status yang muncul, apalagi dengan nada hard selling seolah memberi tantangan, 'Ayo, dia aja jualan loh. Masa' kamu enggak mau nyobain?'

Duh. Udah pernah nyobain sih. Tapi, jiwa pedagang saya beneran tumpul dan mungkin nyaris mati.

Sebenarnya bisa-bisa aja sih jualan. Tapi, yang enggak sepassionate itu loh. Seneng aja nyariin barang orang yang butuh, terus ambil untung tipis-tipis. Tapi, kalo soal pasang iklan barang dagangan, kebanyakan mikirnya. Padahal kan iklan itu nyawanya orang jualan. Betul kan?

Jadi penulis!

Duh. Saya tuh suka banget nulis (kalau lagi rajin!). Kalau malesnya kumat ya begitu. Dianggurin aja media-media untuk menulis yang bejibun.

Ditambah lagi nowadays, semua orang bisa menulis. Siapapun, dengan kualitas tulisan bagaimanapun, semua orang bisa menjadi penulis dan pasti menemukan target pembacanya masing-masing.

Ketahuan banget kan pengen jadi penulis yang spesial?

Iya! Karena kadang sedih aja kalau membaca tulisan sendiri yang sungguh sangat mainstream. Apalagi kalau yang ditulis adalah kengacoan tiada manfaat. Makin putus asa.

Padahal di dunia ini tidak ada yang sia-sia kan ya?

Selanjutnya, jadi ibu rumah tangga yang membersamai anaknya dengan penuh suka cita dan ide-ide kreatif untuk stimulasi otak anak demi masa depan yang cerah ceria.

Pengen banget bisa kayak gini.

Tapi, yang terjadi cuma semangat saat anak bayi <12 bulan. Setelah itu, bebaskeun aja lah mau main apa. Karena stok ide dan semangat ibu buat jadi teman main yang baik dan berkualitas sungguh jatuh ke jurang keputusasaan.

Kadang juga saya masih terombang-ambing, merasa bahwa dunia per-stay at home mom-an ini sungguh melunturkan jati diri saya.

So what?

Tentu saja masih meniti satu demi satu yang bakal dijadikan fokus tujuan. Karena akhirnya menyerah pada prinsip, 'Keep doing, keep going with everthing that have good values'. Apapunlah kerjain aja asal membawa lebih dekat ke surga.

That's it.

Minggu, 04 Agustus 2019

Antologi Rasa: Review Novel (First Time Reading Ika Natassa's)

Akhirnya nyemplung juga ngikutin arus baca novel kekinian. Gara- gara bingung, pengen baca novel, tapi enggak nemu novel yang enak dibaca.

Tiba-tiba keinget Ika Natassa. Ngintip salah satu teaser novelnya di Storial dan ngerasa wow! Tulisannya sungguh layak dibaca.


Cusss nyari Antologi Rasa (karena novel yang free ebooknya mudah dicari). Ampuni hamba ya Allah karena masih mendukung pembajakan. Baca baru satu bab dan ngerasa dunia yang jadi setting ceritanya, enggak saya banget. LOL.

Meskipun cerita kehidupan bankersnya enggak asing, secara itu kerjaan sehari-hari suami saya. Sebelas dua belas lah meski suami kerja di perbankan syariah, karena sama-sama bankers.

Gaya bahasanya yang mix bahasa inggris (dan latin buat judul-judul bab), terasa mendidik pembaca untuk paham dan cas cis cus ngerti bahasa Inggris juga. Sebab bahasa Inggris yang dipake penulis bukan yang sepotong-potong doang, melainkan yang beneran dipake percakapan keseharian orang dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Cocoklah kalau novel ini jadi favorit milenial yang ngomongnya campur aduk bahasa Inggris, ala anak-anak Jaksel dan BSD.

Meskipun topik ceritanya klasik banget (love story, of course!), tapi luasnya pengetahuan dan pergaulan sang penulis, bikin saya betah membaca novel ini.

Cerita cinta saling silang (meminjam istilah Dee) dan persahabatan Keara, Harris, Ruly, dan Denise, bikin saya tersihir dengan magic penulis mengemas kisah romantis kaum urban. Bikin saya realize bahwa, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Only God knows.

Berkorelasi sekali dengan yang sedang yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Ketika saya sedang mengejar-ngejar sesuatu yang sifatnya duniawi, lalu saya berhasil mendapatkannya, somehow saya malah ngerasa hollow, kosong, dan kehilangan makna. Jeleknya manusia ya, so greedy. Jadi, sebenernya maunya apa? Ini kejadian sama Keara yang finally (spoiler) enggak lagi bertepuk sebelah tangan, padahal udah lebih dari 3 tahun memendam rasa.

Kalau berhak menilai, novel pertama Ika Natassa yang saya baca ini saya kasih skor 8/10. 

Saya beneran baca novel ini sepenuh hati loh. Enggak screening. Di sela-sela kesibukan saya sebagai emak-emak, saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu 3 hari, dengan durasi waktu membaca per harinya 2-3 jam. Sungguh saya sangat bangga terhadap diri saya sendiri. LOL.

Penggambaran karakter tokoh dalam Antologi Rasa sangat menarik karena menurut saya memanusiakan manusia. Meskipun saya belum pernah berkenalan dekat dengan personal seperti Keara dan tokoh-tokoh lain, yang jelas, lingkar pergaulan mereka banyak membuat saya tercengang. Minum wine dan bir kayak minum air mineral, pergi ke bar dibahasakan senormal jalan-jalan ke mall, belum lagi sex life yang diceritakan udah kayak di luar negeri sana. Oh my, saya beneran mainnya kurang jauh deh karena masih 'kaget' dengan hal-hal seperti ini.

Beberapa hal yang mengganggu dalam novel ini salah satunya adalah bahasa asing yang menurut saya porsinya cukup banyak. Meskipun sangat dimaklumi karena tokoh-tokohnya berlatar pendidikan luar negeri, Boston dan New York. Jadi, mungkin sayanya yang perlu meng-upgrade literasi berbahasa asing.

Ending novel juga saya rasakan seperti terburu-buru. Pas udah sampe di halaman-halaman akhir saya malah sedikit shocked karena berpikir, 'Lah endingnya gini doang?'. Penggambaran cerita yang solid di awal rasanya kurang nendang dengan penutupan seperti itu.



Membaca novel ini selain bikin saya semangat untuk menulis, juga bikin saya nyadar, 'Selama ini kemana aja?!' Novel yang sudah hits dari 8 tahun lalu, baru saya baca sekarang. Tapi, enggak apa-apalah, baru baca sekarang juga kena momennya, karena beberapa waktu yang lalu, adaptasi novel ke film layar lebarnya baru saja dirilis. Gimana komentar teman-teman yang sudah menonton?

Semoga bermanfaat.


Sumber gambar: Pinterest