SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Oktober 2025

Pasang Surut Semangat Setelah Menjadi Ibu: Mengapa Aku Harus Berdaya?

Sejak sebelum menikah, saya memang punya target untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang Master atau S-2. Calon suami saat itu pun juga mengizinkan. Tapi, hingga kami menikah dan dikarunia dua orang putri, rencana S-2 tersebut belum terlaksana.


Menjadi-Ibu-Berdaya


Saya yakin nggak cuma saya yang mengalami skenario kehidupan yang berbelok-belok, tidak mulus sesuai rencana di atas kertas. 


Rencana dan target yang berubah setelah menikah dan punya anak, seperti jadi hal yang biasa. Karena memang adaptasi kehidupan setelah berkeluarga sungguh luar biasa. Makanya saya sering sekali menyebut fase menjadi ibu itu sangat seru.


Masih Punya Keinginan

Sepuluh tahun kemudian, setelah bertahun-tahun lalu saya sangat bertekad untuk S-2, sampai bela-belain datang ke pameran pendidikan, konsultasi karena ingin pindah jalur konsentrasi pendidikan, hingga kini, ternyata saya masih punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan.


Meski saat ini peluang untuk mengecap pendidikan nggak cuma lewat jalur formal. 


Baca juga: 6 Tahun Merantau di Luar Jawa, Gimana Rasanya?


Buat yang mengejar ijazah, gelar S-2 memang penting. Tapi, saya pribadi setelah membayangkan berbagai kewajiban yang harus dilakukan sebagai mahasiswi, jadi berpikir ulang. Kewajiban mengerjakan tesis, penelitian, survei, dan semacamnya, cukup membuat saya tertantang dan mempertanyakan kemampuan. 


Pada dasarnya, saya berkeinginan S-2 lebih karena ingin merasakan kembali atmosfer keilmuan. Diskusi, tukar ilmu tentang hal-hal esensial dalam kehidupan, maupun berjejaring supaya menambah relasi. Hal-hal yang sebenarnya tidak harus ditempuh lewat pendidikan formal. Meskipun kalau ada tawaran yang sesuai kondisi, saya nggak akan menolak. 


Ingin Terus Belajar

Di antara waktu yang digunakan untuk berjibaku mengurus anak dan rumah, bisa menambah ilmu, mengeluarkan ide gagasan, bagi saya itu adalah hal yang berharga. 


Makanya, beberapa waktu ke belakang dengan semakin majunya teknologi digital, saya hobi sekali mendaftar Webinar ini dan itu. Nggak hanya yang temanya parenting atau kepenulisan, topik ekonomi, bisnis, lingkungan, pokoknya yang random, sekali pun, bila tagline-nya terbuka untuk umum dan diisi oleh pakar, saya langsung saja join. Meski, kemudian saya merasa otak terlalu penuh dan jadi tidak fokus. 


Baca juga: Wanita (Harus) Bekerja?


Akhirnya, saya mengurangi join Webinar yang tidak sesuai dengan core atau niche yang saya dalami. Hanya join yang memang related dengan kehidupan maupun minat saya. Setidaknya kinerja otak dan nalar saya terus terasah dengan mengikuti forum-forum tersebut.


Apa itu Berdaya?

Kalau merujuk pada definisi KBBI, sederhana saja sebenarnya pengertian berdaya; berkekuatan, berkemampuan, bertenaga, mempunyai akal, cara, dan sebagainya untuk mengatasi sesuatu.


Tapi, mungkin karena kosa kata ini dipakai dalam konteks yang lebih sempit, saya merasa berdaya jadi hanya lekat dengan berkemampuan secara finansial. 


Sedih sekali memang kalau jadi sesempit itu pandangan soal berdaya.


Maka, mari ubah lagi perspektif tentang berdaya.


Dalam kaitannya dengan keinginan saya untuk terus menimba ilmu, saya rasa dengan ilmu, pengetahuan, atau wawasan yang dimiliki seseorang, secara visi, hal tersebut bisa membuat seseorang berdaya, nggak cuma dalam hal finansial. Karena itu saya sepakat dengan pengertian KBBI dalam kalimat yang terakhir; mempunyai akal, cara, dan sebagainya untuk mengatasi sesuatu.


Berdaya artinya bisa mengerahkan segala yang dimiliki untuk mengatasi berbagai tantangan. Yang jelas, ketika seseorang sudah berniat untuk berdaya, ia memiliki kemampuan untuk bermanfaat untuk diri. Bila yang ia pikirkan tidak cuma dirinya, maka bisa meluas pada orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga dan lingkungan sekitar.


Ah, senangnya bila bisa mendapat kesempatan untuk meluaskan manfaat sedemikian.


Selasa, 14 Oktober 2025

Ibu Penggerak Sidina Community sebagai Ruang Bertumbuh

Menjadi ibu adalah salah satu fase terseru dalam kehidupan saya. Hal yang paling jelas mencolok adalah ketika sebagai individu, saya nggak lagi cuma memikirkan diri sendiri, tapi memprioritaskan individu lain, yaitu anak, bahkan sebelum memikirkan kepentingan diri.

Kalau lagi di fase down, ada masanya merasa kehilangan jati diri. Kalau saya pribadi, pernah ada di titik meninggalkan kesenangan pribadi saking nggak ada waktunya untuk melakukan itu. Waktu seperti berkejaran untuk menuntaskan tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak.

Sidina-Community

Dulu saat masih single bisa menuntaskan membaca buku yang jadi hobi, minimal satu buku setiap bulan. Setelah jadi ibu? Bisa, sih, menyelesaikan, tapi, butuh waktu dua kali bahkan tiga kali lipat lebih lama, duh!

Mungkin yang paling sering dialami banyak ibu yang saat masih kuliah, sekolah, atau bekerja punya banyak teman dan aktivitas di sana-sini, begitu jadi ibu, semuanya menyusut. Jumlah teman maupun aktivitasnya. Saya pun merasakannya sampai pernah merasa jadi makhluk anti sosial.

Bertemu Komunitas

Saya akhirnya berada di satu titik butuh belajar tentang pengasuhan anak demi menjadi orang tua yang lebih baik. Lalu Allah pertemukan saya dengan komunitas para ibu.

Di tahun 2017-an cukup banyak komunitas orang tua atau komunitas ibu sesuai minat masing-masing. Ada yang memang fokus pada mengasuh anak secara global, ada yang mendetail, seperti komunitas menggendong, menyusui, membacakan nyaring, dan sebagainya.

Buat saya yang dulu aktif di organisasi kampus, kembali bertemu dengan para ibu, mengorganisir kegiatan, berdiskusi soal topik terkini, seperti menyalakan jiwa aktivisme kembali. Meski nyalanya timbul tenggelam, tapi berkomunitas menjadi jeda yang menyenangkan bagi ibu yang berkutat dengan kegiatan di rumah saja.

Sidina-Community
Postingan Instagram (@sidina.community)

Sedikit Tahu Soal Ibu Penggerak, Sidina Community

Di antara banyaknya komunitas orang tua dan para ibu yang saya kenal dari jejaring pertemanan, tahun 2023 saya mulai sedikit terpapar dengan salah seorang teman yang membagikan aktivitasnya mengikuti kegiatan Sidina Community.

Awalnya saya pikir komunitas Sidina ini adalah perpanjangan tangan pemerintah lewat para ibu, karena kegiatannya yang saya lihat sering bekerja sama dengan Kemendikbudristek saat itu. Tapi, setelah saya cari tahu lebih dalam, Sidina ternyata bukan sekadar yang saya duga.

Melansir dari website resmi komunitas Sidina, yaitu Sidinacorp, disebutkan visi besar Sidina adalah menjadi pusat belajar bagi para perempuan tentang pendidikan, parenting, bisnis, dan pengembangan diri. Harapannya, setiap perempuan menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan berdaya, sesuai tagline Sidina. 

Bukan cuma harapan dan visi, riilnya, Sidina menyediakan jasa yang tentu saja profitnya bisa menjadi tambahan penghasilan bagi para anggotanya. Lewat job konten, virtual assistant, menulis, event attendee, trainer, serta kesempatan kegiatan volunteering sebagai fasilitator yang terjun langsung memberikan sosialisasi ke masyarakat, Sidina memberikan kesempatan para perempuan untuk lebih berdaya.

Sidina-Community
Salah satu kegiatan kerja sama Sidina (Sidinacorp.com)

Saat ini Sidina masih bekerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) untuk ikut mensosialisasikan program kebijakan kepada masyarakat luas, utamanya orang tua dan lingkungan sekolah. 

Memiliki sekitar 2.098 Ibu Penggerak, per Oktober 2024, Sidina telah meluluskan lebih dari 200 Fasilitator, yaitu Ibu Penggerak yang telah melewati serangkaian tugas dan program pelatihan, untuk kemudian menjadi motor utama dalam melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat umum.

Ruang Bertumbuh

Jujur saja, saya masih termasuk member baru dan penyimak saja selama ada di Sidina. Tapi, dari PIPS atau Pelatihan Ibu Penggerak Sidina yang saya ikuti, saya mendapat POV yang menguatkan bahwa menjadi ibu tidak berarti harus kehilangan jati diri. 

Lewat berbagai materi yang disampaikan di PIPS, perempuan termasuk para ibu bisa tumbuh, menjadi penguat, dan bahkan menggerakkan. Ini selaras dengan gerakan yang diusung Sidina, yaitu membuat keluarga-keluarga Indonesia yang lebih kuat lewat peran #IbuPenggerak dan gerakan #BerawalDariRumah.

Sidina-Community
Fasilitator Sidina (Sidinacorp.com)

Karena memang pada dasarnya, ibu memegang peranan yang amat penting sebagai pilar utama dalam keluarga. Karena selain kelahiran secara fisik, dari para ibu lah pola pikir keluarga diwariskan. 

Jadi, ketika teman-teman mungkin merasa down, atau meratapi diri karena merasa tidak berkembang potensinya sebagai ibu, salah satu yang mungkin dibutuhkan adalah bertemu dengan orang atau komunitas yang tepat untuk memulai langkah kecil.

Kalau teman-teman merasa Sidina punya visi yang sama, teman-teman bisa mendaftar menjadi member Sidina lewat form online atau pantau lewat media sosial Sidina. Sampai bertemu di ruang Ibu Penggerak!

#ToTBatch7Sidcom

#FasilitatorSidinaCommunity

#SehatCerdasBerdaya

#SidinaCommunity


Sabtu, 25 Maret 2023

Sesuatu yang Harus Dibaca Setiap Hari

Momen yang pas membahas hal ini di bulan Ramadan.

Beberapa tahun yang lalu, cukup hits kampanye membaca alquran 1 juz 1 hari. Sampai terbentuk komunitasnya, bernama ODOJ (One Day One Juz). Meskipun kemudian diakomodir juga yang belum bisa sehari membaca 1 juz, bisa ikut One Day One Page (satu halaman). Inti dari campaign itu adalah mengajak agar kita bisa membiasakan membaca alquran setiap hari (karena iman manusia yang naik turun), seberapapun, sesuai kemampuan kita.

Sebelum ada kampanye tersebut, saat masih berstatus mahasiswa, saya juga punya target harian pribadi untuk paling tidak membaca alquran 1 atau setengah juz setiap hari. Bukan apa-apa, kalau tidak ditarget, saya ngerasa ngaco soal baca alquran.


Alquran Sesuatu yang Harus Dibaca Setiap Hari

Kamis, 23 Maret 2023

Blogging Dulu dan Kini

Satu hal yang membuat saya bangga pada diri sendiri adalah mempertahankan blog. Meskipun ada sisi menyedihkannya, yaitu bertahan punya blog, tapi kosong banget isinya di beberapa tahun terakhir. Cry!

Ngakunya seneng nulis, tapi susah banget meluangkan waktu buat blogging. Duh!

Padahal, bagi saya blog itu safe place untuk mengeluarkan uneg-uneg. Itulah ide awal saat dulu bikin akun Blogspot di zaman lulus SMA. Menjadikan blog tempat curhat di dunia maya, karena rasanya curhat di buku diary perlu dibikin high tech. Haha.


Blogging Dulu dan Kini

Minggu, 08 Januari 2023

Jawa Tengah dan Cara Saya Mengenangnya Bareng Traveloka

Lahir, lalu menikmati masa kanak-kanak hingga remaja di ibu kota Jawa Tengah, tapi kalau ditanya teman dari luar kota, ‘Za, rekomendasi wisata or kuliner di Semarang dan sekitarnya, dong?’ Saya lebih sering bingung daripada langsung menjawab lugas. Haha. Parah.

Akhirnya, kalau ditanya teman-teman, saya sendiri harus googling atau cek Instagram untuk memberitahu tempat-tempat kuliner atau spot yang cocok dikunjungi.



Jawa Tengah dan Cara Saya Mengenangnya Bareng Traveloka

Kamis, 29 Desember 2022

Jump Break untuk Menambah Jumlah Postingan di Halaman Depan Blog


Lagi semangat nulis di blog lagi. Tapi, ngerasa terganggu dengan jumlah postingan di halaman depan blog yang cuma 4 biji. Padahal menurut saya, semakin banyak jumlah postingan yang muncul di halaman depan blog, semakin memancing pembaca untuk mampir lebih lama di blog kita. Senang, kan, kalau artikel blog kita dibaca tidak hanya satu dua tulisan?

Teringat pernah chat yang jualan template blog soal menambah jumlah postingan, tapi cuma disuruh ubah setting-an di Blogger. Sudah berulang kali coba, ternyata nggak berubah juga jumlah postingan di halaman depan. 

Ilustrasi Menambahkan Jump Break

Selasa, 27 Desember 2022

6 Tahun Merantau di Luar Jawa, Gimana Rasanya?

Setelah menikah dan punya anak, baru ngerasa kalau merantau itu a big deal. Dulu saat kuliah dan kerja, juga pernah merantau, tinggal dan belajar di luar kota kelahiran. Tapi, kayak yang nggak gimana-gimana. Apa karena masih muda, belum tau kerasnya kehidupan? Haha.


Keluarga perantau

Kamis, 07 Januari 2021

Bandar Jaya Lampung Tengah: Sekelumit Cerita Merantau

Mendekati akhir 2016, saya memulai pengalaman merantau bersama suami ke Bandar Jaya, salah satu kabupaten di Lampung Tengah.

Tiba di bandara malam hari, tadinya mau mampir ke rumah makan atau minimarket dulu, tapi batal karena sudah lumayan malam dan bapak taksi ngerasa susah nyari tempat yang aman untuk mampir.


Memang isu soal aman nggak aman ini nih yang jadi beban pikiran di awal sebelum memutuskan ikut merantau, karena berita-berita soal Lampung yang terkenal dengan begalnya.


Suasana di depan lingkungan rumah
Dokumen pribadi

Sabtu, 01 Februari 2020

Uang: Dulu dan Sekarang


Inget banget betapa seringnya, dulu, duit di tangan tinggal puluhan ribu (kurang dari 50 ribu) padahal gajian masih 2-3 hari lagi. Kadang udah mau nyerah, mau ngutang ke ortu karena belum gajian, tapi butuh, lalu ngebayangin malunya, akhirnya nggak jadi.

Tapi, nggak punya uang kayak apa, khawatirnya nggak yang banget-banget gitu. Masih kalem dan eng ing eng, ada aja pertolongan Allah, alhamdulillah ada aja jalannya dapat uang untuk bertahan sampai gajian tiba.

Perasaan kayak gitu sedang saya rindukan. Perasaan bener-bener pasrah.

Karena ngerasanya semakin ke sini, semakin realistis, semakin banyak hitung-menghitung hitam di atas putih, kadang jadi pusing sendiri dan lupa pasrahnya sama Allah.

Mungkin faktor kedekatan dengan Allah dan ibadah yang kurang (sedih). 




Tawakal (pasrah dan ikhtiar) kuat hubungannya dengan takwa. Semakin bertakwa dan baik hubungan seseorang dengan Allah, semakin mudah untuk bertawakal, bukan?

Beberapa waktu belakangan diingatkan bahwa semakin banyak beban yang kita pikul, suplai energinya harusnya ditambah. Kalau buat seorang muslim, energinya nggak cuma energi fisik aja, tapi juga energi ruhiyah (ibadah).

Kalau dulu belum menikah ibadahnya X, harusnya setelah menikah (karena amanahnya bertambah, ada keluarga yang harus diurus) ibadahnya X+2 atau bahkan X².

Dulu bisa selowww banget masalah uang. Gaji nge-pas kayak yang nggak ada khawatir-khawatirnya. Berapapun yang penting halal dan cukup.

Dulu naif juga sebagai anak baru gajian, yang ngerasa cukup dan puas bisa gajian, makan, sebulan sekali makan di Sunny Side Up atau Mujigae, dan paparan kehidupan sosial tidak terlalu bikin kepikiran.

Kalau sekarang? Kayaknya berusaha ngejar terus karena rencana-rencana masa depan. Ada yang bilang, itulah dunia orang dewasa.

Pengennya hati itu terus tenang kalau ngomongin uang. Percaya sepenuh jiwa bahwa rezeki dalam hal ini uang akan cukup, nggak mau ngoyo ngejarnya karena takut jadi hamba harta dan dunia. Tapi? 

Sekarang sedang proses menanamkan mindset bahwa yang dikejar itu ibadah, ibadah, ibadah (dengan berbagai bentuknya). Uang itu akan mengikuti. Karena burung aja yang penting terbang dulu di pagi hari, karena akhirnya di petang hari ia toh pulang dengan perut terisi*. Tapi, ya, usaha terbang dulu.

Sekian tjurhat malam ini :)



*Kutipan hadis:
”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”
(HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402).
Tulisan menarik di Rumaysho.



Nb. Tulisan ini tidak untuk dibenturkan dengan yang membahas pentingnya perencanaan keuangan, ya. :) Melainkan disandingkan. Merencanakan keuangan itu bagian dari ikhtiar mengatur uang yang Allah titipkan, bukan begitu? Agar kalau sudah diatur sedemikian rupa dengan segala plannya, pikiran dan hati kita bisa lebih fokus dengan ikhtiar dan amalan yang lain.

Jumat, 10 Januari 2020

Review Film Kim Ji Young: Born 1982 dan Lika Liku Menjadi Ibu


Review ala-ala saya mengandung spoiler, karena saya susah untuk nahan nggak nyeritain potongan-potongan scene, apalagi yang ngena banget.

Sedikit Sinopsis

Kim Ji Young: Born 1982 adalah film Korea Selatan yang juga ada novelnya dengan judul yang sama. Di Korsel, novelnya termasuk salah satu novel fenomenal (atau kontroversial). Cerita inti yang saya tangkap dari film ini adalah tentang Kim Ji Young, seorang ibu rumah tangga yang tidak sadar kalau dirinya sedang sakit secara psikologis. Cerita dalam film menjadi sangat menarik karena mengangkat tentang kesenjangan antara wanita dan pria di dalam keluarga dan lingkungan kerja (kehidupan sosial).

Credit to Unsplash

Review

Dari awal film, Kim Ji Young: Born 1982 ini sudah sukses bikin saya menitikkan air mata, apalagi di scene-scene selanjutnya. Rasanya selepas nonton, mata saya sembap karena kebanyakan nangis dan hati jadi lelah karena ngerasa super mellow.

Terharu dan sedih, karena ngerasa kehidupan Kim Ji Young ini kok related banget, sih, sama kehidupan saya. Aaargggh. Meskipun, alhamdulillah, saya nggak 'sesakit' Kim Ji Young.

Saat KJY (Kim Ji Young) menatap mata hari sore yang terbenam selepas ngerjain kerjaan rumah, ngerasa sering sedih tiba-tiba, ngerasa kangen sama teman-teman kerja dan kehidupan kerja di masa lalu saat berpapasan dengan mbak-mbak necis yang mau berangkat kerja, duh, feel related.

Ada dua adegan yang bikin saya nangis kejer di film ini. 

Pertama, part flashback KJY dan ibunya yang lagi ngomongin cita-cita ibunya yang dulu pengen jadi guru, terus nggak keturutan. Di situ KJY kecil nanya ke ibunya, apa gara-gara dia, ibunya nggak bisa menggapai cita-citanya jadi guru? 

Nangis kejer saya. Perasaan campur aduk, antara khawatir dan takut. Khawatir, kalau di masa depan anak saya ngerasa kayak gitu. Takut, jangan-jangan saya bisa jadi adalah ibu yang menyalahkan keadaan (dalam hal ini anak) atas keinginan atau cita-cita saya yang tidak terwujud. Tapi, scene ini jadi motivasi dan penyadaran bahwa anak bisa ngerasa se-mellow itu. Bikin saya mikir tentang cita-cita. Diwujudkan atau tidak, sepenuhnya tanggung jawab dan diputuskan atas kesadaran saya.

Part kedua yang nyes banget adalah saat KJY udah kesenengan bakal bisa kerja lagi. Tapi, terus dimarahin sama mertuanya. Bikin KJY merasa harus mengalah, karena apalah arti gaji dan karirnya kalau dibandingin suaminya. Padahal, sebelumnya, suami KJY udah oke sama keputusan mereka berdua, KJY kerja lagi dan suaminya ambil paternal leave alias cuti bapak-bapak selama setahun untuk ngurusin anak mereka. Tapi, yang kayak begini dianggap aneh sama orang-orang tua, meskipun dua orang menikah yang ngejalanin udah bersepakat.

Ketiga (Wkwkwk jadi ada tiga), part suaminya ngasih tau ke KJY kalau KJY sakit dan nanya, 'Apa KJY sakit begini karena nikah sama dia?' Sedih bangeeeet.

Jadi nyadar bahwa dibalik istri yang stres atau mengalami masalah psikologis atau mental illness, ada suami-suami yang merasa bersalah, kepikiran, dan guilty feeling semacam itu.

Suami KJY ini termasuk yang support dan concern banget sama sakit istrinya. Dia yang duluan ke psikolog (atau psikiater) untuk cari tahu soal penyakit KJY, ndorong KJY untuk konsul juga, dan mau ngalah lebih concern ke sehatnya KJY dibanding karirnya. Mana yang meranin suaminya Gong Yoo pula, duh bener-bener husband material, deh! (fangirling mode on).




Credit to Pinterest


Oh, ya, ada scene saat KJY beli kopi di coffee shop gitu, terus anaknya rewel sampe kopi KJY tumpah, padahal antrean di coffee shop itu lagi panjang-panjangnya. Ada segerombolan mbak sama mas-mas gitu yang ngomongin KJY nggak enak. Terus dilabrak, deh, sama KJY karena salah satu mas itu ngatain KJY terlalu kenceng. KJY kesel karena mikir, kalau mau ngatain jelek, kenapa nggak dibatin aja, sih. Masnya itu ngatain KJY 'mum roach'. Setelah googling baru tau kalau istilah mum roach ini artinya ibu-ibu yang bertingkah laku tidak pantas di tempat umum. Mengganggu ketenangan umum gitu lah menurut si mas yang ngatain. 

Gara-gara googling mum roach yang berhubungan sama public place, jadi tahu juga bahwa ada resto dan kafe yang memberlakukan kids free zone. Antara miris (karena ngerasa public place sekarang, mah, berlomba-lomba ngadain tempat yang kids friendly), tapi jadi insight juga bahwa memang ada, orang-orang yang terganggu dengan riuh ramainya anak-anak. Well, jadi ngerasa harus belajar lagi untuk mengontrol dan ngajarin anak untuk behave di tempat umum.

Baca Ini Juga Yuk: How to Survive: Berdua di Rumah dengan Bayi


Tapi masalahnya, menjadi ibu yang bawa anak ke tempat umum itu emang nggak mudah. Apalagi kalau pas anak lagi rewel atau tantrum. Nggak mungkin juga status ibu bikin kita ngerem terus di rumah. Ada kalanya, meskipun udah diatur sedemikian rupa, karena jenuh, emergency, dan lain-lain, tetep harus ke public place. Nah, di momen yang kurang mengenakkan, jadi tambah puyeng nggak, sih, kalau tiba-tiba ada yang bisik-bisik, sampe kedengeran telinga kita, ngatain, 'Nggak becus jadi ibu' atau 'Nggak bisa ndiemin anak' atau bahkan ngatain yang kayak di film.

Di momen itu KJY kayak ngasih teguran ke si mas-mas bahwa dia nggak berhak ngejudge KJY karena momen yang sebentar.

Duh, merasa bahagia, habis KJY speak up, mas-mas dan gerombolannya pergi keluar kafe sambil diliatin orang-orang dan pas di-shootnya ke arah ibu-ibu yang juga bawa anak. Berasa solider karena ibu-ibunya pada melotot ke mas-mas and the genk.

Di scene KJY speak up, KJY udah mulai terapi sama psikiaternya. Jadi, sepemikiran saya, berani speak up dan nggak 'mendem-mendem dalam hati' club adalah pertanda emosi yang lebih baik.

Terlalu seru kalau bahas scene per scene.

Setelah menonton, saya terpikir bahwa sakitnya KJY nggak muncul tiba-tiba. Entah bagaimana analisis medisnya (gara-gara subnya nggak terlalu oke dan pas bagian suami KJY googling tentang penyakit KJY pake bahasa Korea lalu nggak ter-translate). Sepertinya sakitnya KJY karena dia menyimpan atau memendam perasaan atas kejadian-kejadian dan perlakuan yang dia alami di masa lalu, dan akhirnya meledak di momen yang mungkin paling stressful, yaitu saat jadi ibu.

Nunjukkin bahwa menjadi ibu perjuangannya luar biasa. Nggak cuma perjuangan fisik, tapi juga perjuangan psikologis. 

Semenjak jadi ibu, saat ketemu sesama ibu di mall, atau tempat umum lainnya, muncul perasaan terenyuh, apalagi pas momen anaknya nangis-nangis. Duh, pengen bantu apa gitu. Padahal mungkin nggak perlu dibantu apa-apa. Cukup nggak ngeliatin atau bisik-bisik, kadang itu udah helps a lot.

Saya juga sangat excited dengan gerakan mom support mom. Menurut saya, film Kim Ji Young: Born 1982 ini salah satunya. Meskipun di film nggak cuma tentang menjadi ibu yang jadi concern. Tapi, juga kental unsur kritik sosial terhadap masyarakat Korsel (dan mungkin di Indonesia juga) yang lebih mengistimewakan anak laki-laki di dalam keluarga dan pegawai laki-laki di lingkungan kerja.

Tertarik untuk nonton? Atau udah nonton dan merasa hati terpotek-potek seperti saya? 

Kamis, 21 November 2019

Tentang Menyia-nyiakan Waktu


Pernah nggak, setelah satu hari, satu bulan, atau satu tahun terlewati, muncul perasaan sedih? Sedih karena merasa menyia-nyiakan waktu. Hm, nggak sia-sia juga, sih, cuma ngerasa dengan waktu yang sudah Allah kasih, merasa diri ini nggak mengoptimalkan dengan baik?

Saya lagi di fase ini dan merasa itu bukan pertama kalinya. Agak ngeri sama diri sendiri, karena, kok ngulangin lagi kesalahan yang sama?

Tapi, nggak apa-apa. Bagian dari memotivasi diri sendiri adalah menyadari kesalahan dan bangkit lagi dan perbaiki lagi.



Sejak di rumah saja dan memang meniatkan diri untuk momong anak di rumah, saya merasa banyak hal yang pengen dikejar. Pengen profesional di dunia parenting, pengen belajar bisnis, pengen terjun ke masyarakat, pengen bisa sekolah lagi, pengen jago nulis. Rasanya banyak hal yang dipengenin. Banyak, tapi akhirnya nggak fokus. Satu penyakit teridentifikasi. Padahal, sering dapat insight, bahwa lebih bagus kita fokus di satu hal dan menonjol di bagian itu. Kayak blog aja. Udah beberapa kali ikut kumpul blogger dan memang disarankan lebih baik blog itu punya satu tema atau niche khusus, misal yang fokus di keuangan kayak blognya mas Dani Rachmat, atau blog masaknya mbak Diah Didi, dan lain-lain. Tapi, saya milih menjadikan blog ini campur-aduk banget isinya.

Dari semua kepengenan saya yang banyak itu, rasanya di tahun depan pengen nantangin diri untuk fokus sama satu kepengenan saja. 

Kalau dari video motivasi yang saya tonton di akun Satu Persen, ada stepnya, nih buat mewujudkan secara sistematis apa yang menjadi kepengenan kita.

  1. Menuliskan WISH.
  2. Menemukan BENEFIT dari wish kita tersebut supaya kita lebih termotivasi dalam setiap step berikutnya.
  3. Menganalisa OBSTACLE atau rintangan yang bakal muncul dalam mewujudkan WISH.
  4. Membuat PLAN atau langkah setiap hari, minggu, bulan, tahun agar WISH bisa terlaksana. 

Duh, kemana-mana amat ya, tulisan kali ini. 

Intinya, saya pengen share aja kalau nggak apa-apa ketika muncul rasa sesal karena kita nggak optimal dalam menjalani detik-detik dalam kehidupan kita. Tapi, jangan lupa juga untuk bangkit dan berusaha memperbaiki apa, sih yang nggak optimal itu. Misal, kayak saya, rasanya di awal 2019 lalu sudah dengan rapi menyusun wish list. Sayangnya, targetan-targetan yang saya buat hasilnya nggak optimal. Analisis saya karena terlalu banyak yang saya pengenin, nggak fokus, akhirnya nggak kekejar semua. Setelah menyesal, lalu sadar, langkah berikutnya adalah memperbaiki wish list dan plan, sembari berdo'a supaya semua berjalan lancar dan diri kita bisa menjadi pribadi yang disiplin dalam keseharian.

Disiplin, strong word yang meski jadul, kalau disepelekan bisa bikin hidup berantakan.

Kayak sholat 5 waktu, kalau nggak disiplin ngelaksanain, akibatnya? Dosa.

Duh, ngomongin dosa, apalah saya yang menggunung dosanya.

Selasa, 12 November 2019

Rahasia Tulisan Menarik Pemenang Lomba




Satu hal yang nggak absen ketika saya kalah atau batal ikut lomba nulis adalah kepo dengan tulisan peserta yang menang.

Hasil kepo tersebut biasanya menghasilkan pendapat, 'Ooo, pantes, menang. Tulisannya berbobot gini. Out of the box pula.' 

Yang tadinya, misal kesel gara-gara nggak menang, berubah tertarik dan kagum, karena tulisannya sebagus itu.

Nah, menurut saya, ada 4 poin alasan mengapa tulisan pemenang lomba mengagumkan dan 'nggak cuma' mengandung iklan.

1) Mengaitkan dengan Kehidupan Sehari-hari

Kalau melihat tema-tema lomba menulis yang dimunculkan, sekali lihat saya sering mikir kalau temanya formal, nggak menarik, etc, etc. Padahal sebenarnya itu suudzonnya saya aja. Menarik atau nggak tergantung sudut pandang dan kreativitas penulis meramu tulisan. Seberat apapun temanya, kalau misal, dikaitkan dengan kejadian yang sehari-hari kita alami, akan menimbulkan kedekatan dengan pembaca alias bikin related ketika ngebacanya.

2) Ide dan Gagasan

Ini menurut saya jadi poin penting dan nilai jual. Bahwasanya seseorang itu nulis nggak cuma bercerita, tapi juga memunculkan inspirasi akan suatu hal. Sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain, atau mungkin dipikirkan, tapi tidak tersampaikan, haruslah dimunculkan.

Baca Ini Juga Yuk: Babywearing: Gendong-Menggendong, Emang Penting?


3) Memberikan Informasi Penting dan Menarik

Memang nggak mudah sih ngulik informasi yang nggak umum. Berhubungan banget sama pengetahuan dan kualitas baca pribadi. Tentu butuh effort juga untuk nyari-nyari info yang penting, tapi unik dan perlu banget diketahui pembaca. Ini juga poin penting kedua yang bikin saya pribadi ter'wow' dengan sebuah tulisan. Mengingatkan saya akan tulisan-tulisan ustadz Salim A. Fillah yang seringkali memunculkan kisah-kisah sejarah yang jarang banget diketahui orang banyak.

4)Meletakkan Peran

Setelah nulis panjang lebar, bagian ternampolnya adalah dimana kita menempatkan peran. Istilahnya memastikan pembaca bahwa kita nggak omdo alias omong doang. Apapun ide yang kita tuliskan, kita juga ikut ambil andil menjalankannya. Sepertinya, pembaca bakal tersentuh kalau peran yang hendak kita ambil itu nggak usah yang muluk-muluk, yang simpel aja dan balik lagi, dekat dengan aktivitas kita sehari-hari.

At last, semua poin-poin di atas nggak akan menjadi penting ketika saya masih ragu dan maju mundur saat akan ikut kompetisi menulis. Padahal itu intinya! Terus dan terus, lagi dan lagi, menulis dan kompetisikan. Nanti insya Allah ada rezekinya menang :)

Kalau kalian tim seneng ikutan lomba nulis atau yang penting produktif ngisi blog aja deh?

Rabu, 16 Oktober 2019

Curhatan Pengen Liburan dan Darimana Uangnya?


Mulai oleng beberapa waktu ini karena kerjaan ngurus rumah berasa monoton dan dikerjain kayak robot. Hari ini mau ngerjain A B C D E. Habis ngerjain A lanjut B lanjut C lanjut D dan terus aja. Di satu sisi bangga karena semua terjadwal. Tapi, di sisi lain, jemunya oh. Setelah mikir-mikir, wajar kalau merasa begitu, karena jatah menyendiri amat kurang.



Menyendiri alias me time buat saya nggak cuma jadi hiburan semata. Tapi, juga sebagai waktu jeda biar lebih refresh dari segala rutinitas. Apalagi buat ibu-ibu di rumah, yang ketemunya tempat cuci piring, cuci baju, dapur, kasur, ruang main anak, begitu terus. 

Kalau mau jahat (ea!) ngebandingin sama yang kerja, rada bisa ngakalin, misal bosen makan siang sama geng nasi padang, bisa ganti soto betawi, atau bakmie jakarta. Serius ini nggak apple to apple sih ngebandinginnya, LOL. Intinya, ibu rumah tangga maupun yang bekerja sama-sama rentan bosan. Tinggal kreativitas masing-masing nemuin cara ngatasin kebosanan itu. Nah, buat saya, liburan atau rihlah bisa jadi salah satu momen buat ngatasin kebosanan. (Dari me time ke liburan, anggap saja nyambung).

Baca Ini Juga: Menikmati Siang


Nggak ada jangka waktu ideal, kapan kita harus liburan. Menyesuaikan budget aja lah salah satu pertimbangan saya. Kalau ada budget 3 bulan sekali, alhamdulillah. Kalau adanya setahun sekali sekalian momen lebaran, bersyukur aja masih bisa liburan. Mikirnya kalau maksain liburan, tapi nggak sesuai budget malah nambah beban pikiran setelah liburan.

Pos keuangan anggaran liburan gini darimana? Duh, lupa baca di blog atau ig mba Windi Teguh atau Annisast. Cuma seinget saya, duit liburan itu sebaiknya direncanakan. Jadi, liburan itu bukan sesuatu yang dilakukan mendadak. Tapi, udah direncanakan dari jauh-jauh hari. Atau kalau memang yang pegawai dapat jatah uang cuti, bisa memanfaatkan bonus tersebut. Baru inget, ada juga lomba blog yang hadiahnya tiket PP destinasi suatu negara atau kota.

Gimana Cara Menyusun Anggaran Liburan?


Seinget saya dan ditambah improvisasi;

1)Tentukan destinasi tempat liburan
2)Bakal ke sana naik apa (Bakal pake jalur udara atau laut atau darat)
3)Bikin itinerary (Supaya tahu biaya-biaya semacam tiket tempat wisata, dan yang sejenis)
4)Bakal nginep dimana dan berapa hari
5)Biaya makan (Harus dilebihin budgetnya kalau liburannya buat wisata kuliner)
6)Biaya transportasi selama di tempat tujuan
7)Biaya oleh-oleh (Ini nomor terakhir. Prioritaskan kebahagiaan kita dahulu)

Setelah list item itu disusun, bagi deh dengan jangka waktu kapan kita bakal berangkat liburan, supaya ketemu jumlah yang harus kita tabung sampai menuju waktu liburan. Eh, tapi, kalau liburannya pakai jalur udara alias naik pesawat, better beli tiket duluan. Jadi, mungkin harus prioritaskan uang buat beli tiketnya. Betul nggak?

Misal total budget/anggaran liburan sebesar 5 juta rupiah. Kita pengen liburan di awal tahun 2020, asumsi pakai jalur darat. Kalau sekarang bulan Oktober, berarti ada November dan Desember buat menabung. Masing-masing bulan menyisihkan 2.5 juta. Tiap hari menyisihkan sekitar 83 ribu rupiah. Lumayan berat buat saya nyisihin segitu setiap hari. Misal saya setiap hari cuma bisa menyisihkan 10 ribu rupiah, berarti saya baru bisa liburan 1 tahun 4 bulan lagi. Nggak apa-apa lah. 

Kata Arai di Sang Pemimpi, 'Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.' Sambil banyakin do'a, karena hanya do'a yang mampu mengubah takdir. Mungkin hitung-hitungan manusia, dengan menyisihkan 10 ribu, saya baru bisa tahun depan dan tahun depannya lagi bakal liburan, tapi dengan kuasa Allah, siapa yang tahu, kan? Duh, pengen liburan detected.

Merasa butuh liburan karena dua hal.

Pengen lepas dari rutinitas di rumah, dan,


Pengen 'berdiam' sejenak

Sambil coret-coret lagi target yang udah dibuat dan bikin evaluasi. Kira-kira masih relevan nggak targetan atau cita-cita tersebut. Pengen bikin map langkah-langkah taktis hasil buah pikiran yang memenuhi kepala. Hal yang kayak gini, saya merasa nggak bisa ngerjain di rumah, karena kalau di rumah itu hawanya mikirin masak lagi, nyuci lagi, dan seterusnya. Intinya emang pengen liburan yang jauh dari rumah.

Ada yang pernah ngerasain kayak begini? Ku harus gimana kalau belum bisa liburan?

Pinterest
NB. Hasil googling singkat, ternyata mikirin planning liburan aja udah bisa bikin bahagia. Wah-wah, sungguh bahagia itu sederhana.