Kala Waktu Tak Sampai

20


Mobil yang ditumpanginya mungkin sudah mencapai kecepatan tertinggi sang pengendara. Berkali-kali tubuhnya oleng karena mobil berhenti mendadak lalu mengegas tajam. Dirinya tak bisa protes meski perutnya bergolak karena mual.


Salahnya karena tidak bisa memprediksi waktu dengan baik. Agenda yang harusnya selesai setelah dhuhur, molor sampai jam dua siang karena ia terlalu asyik meladeni pertanyaan-pertanyaan khas anak muda.

Ia melirik jam tangannya. Tinggal beberapa menit tersisa untuknya supaya bisa check-in tepat waktu.

Gawai di tangan wanita berkacamata itu bergetar untuk kesekian kali. Kalau yang sebelum-sebelumnya ia abaikan, yang satu ini bisa gawat kalau ikut diabaikan.

"Wa'alaikum salam. Iya, mas. Belum, belum di pesawat. Agak molor tadi di tempat acara. Iya, bentar lagi sampai kok. Iya, insya Allah keburu. Iya, iya, nanti dikabarin. Iya, "

Wanita itu menurunkan gawai dari telinganya karena mobil berhenti dengan mulus di depan pintu keberangkatan.

Tak sempat berlama-lama, iya cepat saja mengucapkan salam dan berterima kasih pada bapak supir yang mengantarkannya dengan kecepatan super. Perjalanan menuju bandara yang normalnya ditempuh selama 45 menit, dipangkas hanya 20 menit saja.

Sebenarnya, dari pihak penyelenggara acara sudah menyediakan panitia yang siap mengantar jemput dirinya dari dan ke bandara menuju tempat acara. Tapi, suaminya memaksa untuk memakai jasa orang kepercayaannya yang biasa mengantar jemput saat ada tugas di kota yang terkenal dengan kain tapisnya ini.

Syukurlah ia masih diizinkan check-in meski petugas memasang wajah agak keki karena keterlambatannya. Mungkin dirinya jadi penumpang paling akhir yang sedikit membuat terlambat jadwal penerbangan. Tapi, ah, masa iya sih? Tanyanya dalam hati. Ia lalu melihat jam di gawainya.

Ia tepat waktu kok. Meski nyaris terlambat.

Saking buru-burunya, ia tidak menyadari kalau ruang tunggu pesawat sudah kosong dan saat masuk ke kabin, semua penumpang sudah rapi di kursi masing-masing.

Pramugari membantu menemukan nomor kursinya. Sepertinya kursi pojok dekat jendela.

Ah, benar, kan. Batinnya saat sudah sampai di baris nomor 10 badan pesawat di kelas ekonomi.

Teman duduknya seorang ibu tua dan seorang pria. Sepertinya, akan lebih nyaman bila ia meminta bertukar kursi agar ia tak perlu ke pojok kursi.

"Maaf, pak," ia mencoba berbicara dengan pria yang sedang membaca buku di kursinya.

"Ya?"

Kening wanita itu berkerut sedikit.

"Saya boleh minta bertukar kursi? Nomor kursi saya yang di sebelah jendela."

Pria itu menunjukkan wajah kaget yang sangat.

"Ah, ya, ya, silakan." Jawab pria itu lalu melepas seat beltnya dan berpindah kursi. Ekspresi kaget dari wajahnya jelas belum hilang.

Wanita itu berbasa-basi sebentar dengan ibu tua yang duduk di sebelahnya. Tidak lama kemudian pesawat mengudara.

Lima puluh menit akan menjadi waktu yang sangat tidak tenang.

Bukan. Bukan karena ia takut terbang. Ia sudah sangat terbiasa.

Jantungnya berdetak cepat dan mendadak ia sangat tegang.

Please, jangan memulai obrolan. Please. Wanita itu memohon dalam hati.

"Andini, kan?" 

Harapannya pupus saat pria itu menyebut namanya, tepat setelah tanda diperbolehkan melepas sabuk pengaman menyala.

"Iya. Apa kabar, Ki?" Sahutnya. Tak mungkin ia mendiamkan teman duduknya ini atau pura-pura tidak mendengar.

Pria itu tersenyum dan menunjukkan ekspresi penuh kelegaan.

Berbanding terbalik dengan wanita berkacamata yang kini menunjukkan sorot mata panik.

Aku berharap kamu selamanya melupakan wajahku, Ki. Batinnya dalam hati.

Tiba-tiba, wanita itu seperti merasakan energi kuat yang menarik paksa tubuhnya. Menarik ke masa sepuluh tahun silam.

Saat dirinya masih berbangga dengan jas almamater biru tuanya.

~Bersambung~



#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Sore Bersama Cemas

4

Selasar rumah sakit ini tak cukup ramai. Hanya ada orang yang berlalu lalang tak terburu-buru. Wanita bergamis ungu itu melayangkan pandang pada jam dinding besar. Masih 2 jam lagi menuju jadwal pertemuan dengan dokternya.

Ia lalu berjalan menuju poliklinik tempat dokternya praktek dan memilih kursi yang paling dekat dengan televisi.

Acara televisi favoritnya sedang diputar. Ia tersenyum simpul. Bukan acara mewah, hanya cerita tentang kehidupan sehari-hari orang-orang di sebuah kampung. Teman-teman kampusnya dulu pasti akan terbahak-bahak kalau tahu hobi rutin sorenya saat ini. Menonton sinetron! Sesuatu yang sering dimaki-makinya dulu karena sungguh hanya buang-buang waktu.

"Permisi, mbak," seorang cleaning service yang sedang membersihkan lantai menyapa tak jauh dihadapannya.

"Oh, ya, silakan." Sahutnya singkat.

Seingetnya hari lalu si tokoh utama di sinetron ini sedang sangat kebingungan apakah jadi menikah atau tidak. Calon istrinya adalah seorang berpendidikan dan anak orang terpandang. Sedangkan dirinya hanya seorang tukang ojek pangkalan yang boro-boro melek teknologi, ponselnya saja masih model jadul yang mungkin tak akan dilirik penjahat sekali pun.

Ia sangat asyik menonton televisi seperti di rumah sendiri saja. Tak sadar kalau pasien-pasien dokternya yang lain mulai berdatangan. Ruangan yang tadinya cukup lengang mulai terasa ramai.

Beberapa wanita melihat ke arahnya dan melemparkan senyum. Ia membalas sekadarnya karena khawatir bukan ia yang jadi target senyuman itu.

Semakin sore menjelang, ruang tunggu praktek dokter ini semakin ramai. Semakin banyak orang, semakin banyak pula yang memandanginya.

Mungkin merasa aneh karena ia hanya datang seorang diri. Wanita-wanita yang lain pasti datang membawa teman. Entah itu suaminya, ibunya, atau adiknya.

Memang, seaneh itu, ya? Batinnya dalam hati.

Ia berusaha tidak mempedulikan tatapan orang-orang dan kembali menonton televisi. Masih di acara yang sama, karena durasi sinetron ini sangat panjang. 

Satu jam lebih berlalu, orang-orang di sekitarnya mulai gelisah. Beberapa terus menanyakan pada perawat tentang kedatangan sang dokter. Beberapa bolak balik duduk berdiri dan begitu seterusnya.

Ia tidak gelisah. Hanya sedikit cemas, tapi berusaha tenang. Toh bukan sekali ini saja sang dokter datang terlambat.

Ia melanjutkan lagi menonton televisi. Sesekali bercakap dengan wanita lain yang duduk di dekatnya. Mengobrol hal-hal formal yang ikut ditimpali ibu yang menemani teman duduknya itu.

Saat akhirnya sang dokter tiba. Sangat jelas terasa atmosfer kelegaan orang-orang di sekitarnya.

Sang dokter datang dengan langkah cepat lalu meminta maaf pada pasien-pasien yang ditemuinya di dekat pintu.

Tak ada yang bertanya pada sang dokter, tapi dengan rendah hatinya dokter itu menjelaskan bahwa pasien yang ditanganinya harus menjalani operasi lebih lama dari waktu yang ia perkirakan.

Dokter ini memang favorit. Meski bukan dokter senior, tapi attitudenya yang sangat mengistimewakan pasien sungguh sangat menghangatkan hati.

Setelah lewat sekitar tiga puluh menit lebih, perawat mulai memanggil daftar antrean pasien.

Meski ia datang yang pertama, ternyata ia bukan pasien pertama yang dipanggil perawat. Tak apa. Sebenarnya, ia mulai terlatih menunggu lama sejak harus sering rutin konsultasi ke dokter.

Kesimpulannya, sabar saat menunggu membuat penantian tak terasa lama. Sabar dengan benar, ya, tanpa ada rasa gelisah atau merasa seperti diburu.

Buktinya tanpa terasa perawat pun memanggil namanya. Ia merasa sedikit kaget karena sedang fokus menyimak berita yang menggantikan sinetron sore tadi.

Saat masuk ke ruang praktek dokter entah mengapa ia selalu merasa sedikit tegang. Kalau tegangnya lumayan parah, pertanyaan-pertanyaan yang sejak di rumah sudah disusunnya menguap entah kemana.

Padahal, dokter langganannya ini sangat ramah dan santai. Seperti sore ini, menyambutnya dengan sumringah, meskipun ia tahu, sang dokter pasti sudah banyak sekali bertemu orang hari ini. Kalau dirinya yang ada di posisi sang dokter, mungkin ia sudah sangat lelah.

"Bagaimana kabarnya hari ini, bu?" Sang dokter bertanya diikuti senyuman lebar.

"Alhamdulillah, baik, bu dokter," jawabnya.

Pemeriksaan selanjutnya dibantu USG*. Tidak seperti pemeriksaan yang lalu-lalu, sang dokter agak lama menggerakkan transduser* pada perutnya.

Kening sang dokter agak berkerut, lalu ia kembali menggerak-gerakkan transduser. Berulang-ulang ia melakukan itu.

"Ada apa, bu dokter?" Tidak tahan lagi akhirnya wanita yang diperiksa janinnya itu bertanya.

Sang dokter akhirnya menyudahi pemeriksaan dengan USG tanpa berkata apa-apa. Ia melemparkan senyum pada wanita itu.

"Tidak apa-apa. Tenang saja, bu," katanya.

Giliran wanita itu yang menunjukkan wajah cemas. Tidak biasanya seperti ini. Pemeriksaan yang lalu-lalu, sang dokter tak akan selama tadi saat menggunakan USG, pemeriksaan pun biasanya diiringi obrolan-obrolan ringan. Sama sekali tidak seperti barusan yang cenderung menegangkan.

"Mohon maaf, bu, sepertinya ada sedikit masalah yang baru saya deteksi pada kehamilan ibu. Tapi, ibu tidak perlu panik." Sang dokter memasang kembali senyum khasnya.

Deg.

Tiba-tiba wanita itu merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

"Masalah apa ya, dok?"
"Sebenarnya, agar lebih valid, saya ingin merekomendasikan agar ibu melakukan cek ulang dengan…."

Penjelasan dokter berikutnya rasa-rasanya tidak bisa masuk ke otak wanita itu. Ah, ia menyesal. Momen seperti ini lah yang membuat pentingnya membawa pendamping saat pemeriksaan-pemeriksaan kehamilan.

Kalau ia bingung dan tidak konek seperti ini, apa yang bisa dirinya ingat? Batin wanita itu.

"Semua rekomendasi, saya tuliskan di catatan ini ya, bu," kata sang dokter.

Wanita itu hanya mengangguk dengan wajah penuh kecemasan.

"Tenang saja, bu, ini baru pemeriksaan pertama. Semoga diagnosa saya salah dan janin ibu baik-baik saja." Sang dokter mengakhiri sesi pemeriksaan.

Wanita itu keluar ruangan didampingi perawat yang akan memanggil giliran antre berikutnya.

Ah, semoga wajah cemasnya tidak membuat panik orang-orang yang antre di luar.

Tangan wanita itu kemudian mengeluarkan gawainya dan mengetikkan pesan singkat.

Rasa-rasanya ia tidak ingin sendiri lagi saat pemeriksaan esok hari.

Nb.
*USG: Ultrasound atau USG merupakan teknik sonografi medis yang digunakan untuk pemeriksaan dan diagnosis kondisi kesehatan tubuh seseorang. Selain USG perut, tulang, dan payudara, prosedur USG juga banyak digunakan dalam prosedur kebidanan yakni USG janin.
*Transduser: Pengubah energi untuk membantu menampilkan gambar janin pada layar USG.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Rasanya Hidupku

16

Kalau ada yang bertanya, "Apa momen paling membahagiakan atau berkesan dalam hidup?"
Saya mungkin akan lama berpikir lalu menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan, hidup saya so so saja. Alhamdulillah.
Saya tumbuh dan berkembang di keluarga sederhana. Pernah merasakan menjadi menengah ke bawah dan menengah yang benar-benar di tengah.
Masa kecil dan remaja dihabiskan di kota atlas. Bersekolah dasar dan menengah pertama di sekolah Islam pilihan orangtua. Sekolah menengah atas juga masih pilihan orangtua yang katanya terbaik di kota kelahiran.
Menghabiskan masa berproses menuju dewasa di kota hujan. Sempat belajar banyak, tapi singkat di salah satu negara sosialis komunisnya Asean. Lalu pernah berjibaku mencari pencaharian di ibu kota. Sekarang, saya menghabiskan hari-hari bersama keluarga kecil di kabupaten Lampung Tengah.
Suami saya sering sebel atas tanggapan saya yang not too excited about my life.
Ya, gimana dong, rasanya hidup saya ya memang begini. Ikutin aja alurnya.
Eits, tapi, bukan saya bermaksud untuk menjadi orang yang pasrah-srah.
Maksudnya ngikutin alur, ya, kita selalu harus beikhtiar, lalu menjalani apa yang Allah Ta'ala gariskan dengan segala ikhtiar terbaik. Itu lho maksud saya mengikuti alur.
Ya, mohon maaf, kalau ada yang menganggap saya dan attitude saya menjalani hidup ini kurang seru.
Tapi, bagi saya, hidup tanpa excitement berlebihan itu menenangkan.
Tuh, saya mengaku kan, saya bukan orang yang selalu so so saja kok. Ada kalanya saya merasa sangat excited.
Cuma, untuk menjaga diri dari rasa sakit berlebihan, saya mengatur kadar excitement saya secukupnya saja.
Seperti mecin yang bikin enak rasa masakan, kalau kebanyakan malah bikin eneg, kan?
Selama 25 tahun hidup saya, kalau boleh mengaku, rasa-rasanya yang paling bikin hidup saya bagaikan roller coaster adalah melahirkan si bayi. Sekarang usianya 7 bulan.
Semenjak mengandung, melahirkan, dan sekarang hidup bersama bayi, rasa-rasanya ini yang paling bikin saya amazed.
Dalam satu hari saja, saya bisa merasa senang, sedih, bingung, gemas, takut, kalut, ya, bersama si bayi ini.
Ah, semoga enggak berkesan negatif ya.
Yang jelas, saya bersyukur dan berharap semoga Allah Ta'ala selalu menjaga rasa syukur saya ini.
Adanya si bayi ini membuat saya banyak belajar, bersabar, dan bersyukur. Seperti itu juga kan, ya, seharusnya kita dalam menghadapi hidup?
Terus belajar, menjaga dengan bersabar, dan selalu bersyukur.
#TantanganODOP1
#ODOPbatch5
#Onedayonepost

Puncak Mas Lampung

1

Merasa parah banget karena sudah hampir 1 tahun lebih tinggal di Lampung, tapi, belum berkunjung ke tempat wisata paling hits di sini. Bukan apa-apa sih. Cuma, pas ke Bandar Lampung itu pas moodnya lagi pengen diajak ke mall lagi dan lagi.
Nah, akhirnya, pas udah penasaran sama si puncak mas ini dan pak suami udah ogah diajak jalan-jalan ke mall, jadilah kami ke puncak mas.
Enggak saya banget, kalau enggak nyari review dulu sebelum pergi ke suatu tempat. Kebetulan kali ini saya dapat review dari ibu-ibu di Lampung Menggendong. Rata-rata reviewnya positif, jadi makin mantap untuk berangkat.
Berbekal bismillah dan gmap, sampai juga kami di puncak mas setelah rada nyasar ke perumahan citraland milik Ciputra yang sedang dibangun.
Puncak mas ini letaknya searah dan sejalan dengan lembah hijau. Kalau kata saya, jalanan menuju puncak mas rada ngeri-ngeri nyoi. Apalagi di tanjakan serta belokan yang habis gapura. Saya cuma bisa dzikir aja supaya lancar pas mobil nanjak.
Tiket masuk ke puncak mas untuk dewasa masing-masing 20 ribu rupiah plus parkir mobil 5 ribu rupiah. Bayi kayak anak saya belum dikenakan biaya masuk.
Kata saya, tempatnya lumayan nyaman, bersih, termasuk kamar mandinya. Cocok buat yang pengen menuh-menuhin foto instagram.
Kekurangannya, keseluruhan tempatnya kurang luas dan kurang cocok untuk piknik keluarga. Mungkin fokus pengembang puncak mas memang menargetkan pengunjung yang doyan nongkrong dan nyari spot-spot bagus untuk foto instagram.
Saya enggak nyicip tempat makan yang ada di situ. Pertama, karena belum laper pas datang kesana. Kedua, jujur, kurang tertarik dan curiga harganya selangit untuk makanan-makanan yang sebenarnya standar.
Saya sendiri merekomendasikan untuk datang saat malam hari, karena sepertinya bakal bagus banget pemandangan kota Bandar Lampung dari atas puncak mas. Tapi, enggak tau, puncak mas buka sampai jam berapa dan apakah akses jalan ke sana aman atau enggak kalau malam-malam begitu.
Sebenarnya, enggak masalah kalau mau datang siang atau sore hari. Cuma harus siap dengan panas dan teriknya. Karena saat itu saya datang pas lagi rada terik, jadi enggak pengen berlama-lama, dan melihat-lihat, serta hunting foto seperlunya saja.
Overall saya kasih rate 7/10 untuk puncak mas.
Ampun ya, ngasih nilainya nyari aman melulu.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

D'Cost Lampung

2

Kalau jalan-jalan ke Bandar Lampung yang enggak ketinggalan adalah kulineran. Tapi, maaf dulu nih sebelumnya, karena yang diicip-icip bukan makanan khas Lampung, melainkan makanan yang lagi dikangenin.
Lagi inget banget nih, dulu pas masih di Bogor, ke D'Cost kalau lagi pengen perbaikan gizi dan makan enak. Tau sendiri kan, di resto ini, nasi dan es tehnya bisa refill dan tetep bayar murah. Inceran anak kampus yang uang jajannya irit, kan?
Nah, pas lagi kangen, mampir lah ke D'Cost di Mall Kartini ada di lantai 2.
Rada katrok nih pas awal-awal, karena udah 7 tahun enggak ke D'Cost dan baru ke sini lagi sekarang-sekarang ini.
Pilih menunya, pake kartu macam kartu nama di kayak mading yang ada di dekat kasir. Kalau udah beres pilih menu, kartu-kartu itu dikasih ke supervisor yang berjaga di dekat situ. Nanti kita dikasih tau sebelah mana meja kita, atau boleh aja sih pilih meja sendiri. Entar supervisornya itu juga tau kok kita duduk di meja mana. Insya Allah pesenan menu enggak akan salah. Terus tinggal nunggu deh menu disajikan.
Oh ya, untuk ibu-ibu yang mau bawa bayinya ke DCost bisa banget agak santai karena ada high chairnya, tapi tanpa tray.
Enggak terlalu lama pesanan menu kami diantar. Kalau kata saya, ternyata porsi menunya enggak sebanyak yang saya perkirakan. Tapi, pas kok.
Kalau soal rasa, karena saya lupa gimana rasa D'Cost yang dulu sering saya kunjungi di Bogor, yang di Lampung ini sih enak-enak aja.
Cuma, meskipun saya ada di area non-smoking yang samping-sampingan sama area smoking, asap rokok dari yang pada makan di area smoking terasa loh sampe ke hidung saya. Bikin sesak juga. Ternyata, sebabnya adalah pintu pemisah di area smoking enggak ditutup. Mungkin karena susah kali ya, pramusajinya buka tutup pintu nganterin makanan, daripada repot jadi dibuka aja. Tapi, jadinya malah mengganggu sih.
Overall rate makan di situ saya kasih 7/10
Ini list menu yang saya makan
Nasi putih
Tom yum soup
Kangkung balacan
Tahu jepang saus padang
Es kelapa
Air mineral
Total 99 ribu
Favorit saya adalah tahu jepang saus padang. Meski di akhir-akhir rada eneg sih makan tahu jepangnya. Terus, kata suami harganya sudah enggak kaki lima lagi. Kecuali untuk menu kayak nasi goreng, mie goreng, dan sejenisnya, itu tetep murah meriah untuk ukuran resto.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Miniso Lampung

0

Saat sedang jalan-jalan ke Mall Kartini, Tanjung Karang, Bandar Lampung, enggak sengaja saya dan suami melewati salah satu outlet yang rame banget. Saya ngelirik dikit, "Oh, miniso! Ada beginian juga ya di Lampung."
Karena pak suami penasaran kayak gimana sih isinya miniso itu, kami pun berkunjung ke dalam. Padahal, sebenarnya saya enggak begitu tertarik karena bejubel banget.
Pas di dalam, oh my… ac nggak berfungsi, puanas pol. Mungkin karena tempatnya enggak luas-luas banget dan overload pengunjung. 
Terus di bagian belakang toko, tapi letaknya masih di dalam, pake ada karyawan yang bongkar-bongkat stok dari gudang. Makin-makin penuh aja deh.
Apesnya saya lagi bawa bayi. Jadi, kasian karena harus ikut-ikutan beramai-ramai.
Ke miniso sebenarnya enggak lagi nyari-nyari barang sih. Jadi, sekadar sight seing.
Barang-barang di miniso lucu-lucu kata saya. Tapi, rada mahal sih. Harganya pun pecahan mulai dari 29.900, 39.900, 79.900, dan seterusnya.
Kalau enggak lagi butuh atau dalam rangka nyari sesuatu, kata saya bakal boros.
Jadi, sebenarnya apa yang dijual di miniso?
Kalau baca tagline soal miniso banyak yang menyebut barang-barang fashion. Oh ya, miniso ini keluaran Jepang.
Tiap beberapa menit sekali ada spg yang teriak nyaring dari speaker utama, terus bilang, "Selamat datang di Miniso!" terus diikuti spg-spg lain yang sedang standby.
Barang-barang yang dijual di miniso ini perintilan-perintilan kecil kebutuhan pribadi dan rumah. Misalnya, kacamata, sandal jepit, jam meja, boneka, bantal leher, cantolan, tempat sabun, kotak organizer, tempat sampah kecil, headset, dompet, tas, semacam itu lah.
Salah sebut spg, enggak girl aja kok, tapi ada boy juga. Lumayan ramah-ramah. Pas masuk kalo kita malas bawa-bawa keranjang, terus ternyata pas di dalam tertarik buat beli-beli, enggak perlu balik ke depan buat ambil keranjang, mereka udah siap nawarin keranjang buat memudahkan kita. Tapi, jangan kalap ya. Karena barang-barang di miniso lucu dan bagus-bagus, bisa tergoda buat terus ngisi keranjang.
Salah satu yang saya beli di miniso adalah cantolan dinding. Kalau kata suami sih worth to buy. Enggak terlalu mahal, tapi barangnya enggak murahan.
Terus, saya naksir dompetnya, tapi, sayang, pak suami enggak ngijinin.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Stroller Pockit 789: Review

0

Semenjak punya bayi, rasanya mata ini mudah banget laper kalau ngeliat ada barang-barang bayi yang lucu atau unik atau kece. Salah satunya yang sering diliatin dan dipengenin adalah stroller.

Berhubung sebenarnya kami udah ada stroller yang manuvernya oke, tapi sangat berat, bulky, dan enggak cabin size, jadi lah saya sangat mengidam-idamkan stroller yang ringan, ringkas, dan cabin size.

Cuma karena saya dan bayi tim gendongan alias jarang banget pake stroller karena kemana-mana lebih gampang pake gendongan (babycarriers), maka pas ngeliat-ngeliat stroller hanya sekadar sight seing. Ada niatan beli, tapi prioritas kesekian kali yang enggak terlalu urgent.

Tapi, akhirnya pada suatu kesempatan, karena kami sekeluarga harus ke Jakarta menghadiri undangan pernikahan sanak famili. Maka, semakin menggebu lah niatan untuk punya stroller ringkas. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kok ya, sayang kalau beli, padahal cuma dipake sekali, selebihnya kayaknya enggak akan banyak kepake.

Karena alasan itu lah, saya memutuskan untuk menyewa saja. Alhamdulillah ketemu tempat sewa stroller yang berkesan di hati.

Nah, kenapa saya memilih stroller pockit 789?
Sebenarnya kalau dari kriteria ringan, ringkas, dan cabin size. Ada 2 merek yang bikin saya mupeng banget. Ada babyzen yoyo dan GB pockit. Tapi, udahlah 2 merek stroller itu terlalu pricy. Mendingan duitnya buat kulineran.

Ada juga merek kiddopotamus, versi Cina babyzen yoyo. Tapi, proposal saya ke pak suami ditolak mentah-mentah. Katanya ngeliat bahan dan kainnya enggak banget. Terlihat ringkih dan kurang berkualitas. Padahal kata saya mah oke-oke aja.

Setelah cek sana sini. Akhirnya yang saya dapat di rentalan adalah pockit 789 atau seri cocolatte pockit gen 5. Keistimewaannya adalah bisa recline dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Overall saya kasih rate 7.5/10.

Ada kurang dan lebihnya yang masih imbang, enggak terlalu berat sebelah.

Saya bahas kekurangannya dulu ya.

Pertama, kanopi yang terlalu minimalis. Kasihan deh kalau bayinya dibawa ke tempat outdoor yang bisa kena terik dan sinar matahari.

Kedua, cara melipat yang enggak bisa satu langkah. Sebenarnya cuma lebih satu langkah sih. Jadi setelah diringkas, roda-rodanya harus dilipat agar rapi. Enggak kayak seri pockit yang lain, sekali tekan langsung terlipat. Ini jadi pr banget buat newbie kayak saya dan suami.

Ketiga, terasa ringkih. Atau bahasa saya hoyak-hayik. Enggak steady gitu. Apalagi kalau dipake jalan di tempat bergelombang atau berbatu atau yang sejenisnya. Sebenarnya kuat karena diklaim bisa sampai berat badan bayi 20 kg. Tapi, ya, mungkin memang salah satu kelemahan pockit yang jamak diketahui bersama, terasa ringkih.

Kalau kata saya sih, kalau dipakenya di mall-mall atau pedestrian yang bagus banget, kayaknya enggak akan terlalu terasa hoyak-hayik.

Banyak yang nyaranin kalau pengen rasa pockit, tapi kokoh, GB pockit bisa jadi pilihan.

Keempat, recline yang terlalu simpel, karena cuma pake resleting. Posisinya pun kata saya enggak terlalu recline dan malah enggak nyaman buat bayi. Anak saya aja malah lebih nyaman di posisi duduk, meskipun dia tidur.

Lanjut ke part kelebihan.

Emang ini sesuai keinginan saya banget. Ringan, ringkas, dan cabin size.

Ringan dan ringkasnya itu loh yang bikin saya nyaman sama stroller ini.

Warna denim bluenya juga keren. Meskipun dipakenya sama anak saya yang cewek


Sekian dulu review saya. Semoga bermanfaat mom 😄

Lelah Bermulti Tasking

0

Sejak zaman kuliah dulu dan aktif di organisasi kemahasiswaan, bahasan soal multi tasking ini banyak banget masuk ke kepala. Soalnya saat kuliah, supaya enggak cuma kuliah-kosan-kuliah-kosan, seperti udah jadi kewajiban untuk ikutan paling enggak satu lembaga kemahasiswaan atau unit kegiatan mahasiswa. Mulai dari organisasi yang menuntut lebih banyak pekerjaan sampai kegiatan yang jadi ajang menyegarkan pikiran.

Nah, karena enggak cuma kuliah aja, makanya kita-kita ini lumayan terlatih mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Tapi, pre-cautionnya adalah kebanyakan kegiatan atau organisasi juga bisa bikin limbung bahkan kolaps.

Banyak temen yang menyebutkan, kalau wanita lah yang lebih jago bermulti tasking. Saya sih waktu itu iya iya aja, sebab nggak terlalu menganggap multi atau single tasking ini penting. Di otak saya waktu itu mah cuma kepikiran yang penting segala yang diamanahkan ke saya beres. Udah gitu doang.

Eh, tapi, pas udah jadi ibu-ibu sekarang ini baru kepikiran lagi dan merasa hal ini cukup krusial.

Kenapa coba?

Soalnya sehari-hari, mau enggak mau, saya harus bermulti tasking. Di satu area rumah saja, misal dapur, saya bisa merebus telur, menggoreng ikan, dan mencuci piring dalam waktu bersamaan.

Kebayang enggak?

Kalau enggak, enggak apa-apa juga sih. Bukan itu juga intinya.

Kalau menurut saya, bermulti tasking sebenarnya dari luar tidak terlalu melelahkan secara fisik. Karena riilnya kita hanya mengerjakan satu tugas. Tapi, karena dituntut untuk juga menyelesaikan dua tugas lainnya, yang artinya dalam satu waktu harus menyelesaikan tiga tugas sekaligus, yang banyak terforsir bekerja adalah otak kita. Nah, tau sendiri kalau yang lelah otak, fisik kita akan merasa lelah berlali-kali lipat.

Makanya, belakangan, karena saya merasa sangat lelah secara fisik, saya langsung curiga kalau penyebabnya adalah kesalahan saya sendiri yang memaksa diri untuk bermulti tasking.

Padahal sebenarnya, kalau melakukan single tasking pun pekerjaan-pekerjaan insya Allah akan selesai.

Hanya saja, memang ada yang harus dikorbankan, yaitu perasaan kita. Karena tidak bermulti tasking, maka kita harus sabar bila ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebaliknya, kalau kita memang sangat berambisi untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu penyelesaian, maka kita harus kuat fisik dan mental.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Takut Masa Depan Zaman Now

2

Seperti biasa, sore hari di perumahan yang berdempetan, kalau ada anak tetangga yang ramai-ramai bermain di luar rumah, pasti terdengar sampai ke kamar depan. Ada suara anak yang diteriakin ibunya gara-gara enggak mau masuk ke dalam rumah, padahal cuaca mendung, ada juga yang malah senang sekali main keluar rumah dan teriak-teriak kegirangan. Salah satunya setengah berteriak dan menceracau, "Bla… bla… zaman now… zaman now…" 

Saya pun cuma bisa mengernyit heran. Bocah usia 5 tahun begitu bisa aja, ya, ngomongin 'zaman now'. Masih 5 tahun loh. Ya, saya tau usia anak tetangga ini karena baru beberapa hari lalu ngobrol dengan ibunya. Enggak habis pikir saya, darimana dia dengar kosa kata itu. Entah dari media atau orang-orang disekitarnya. Nah, yang jelas saya kesal mendengarnya. Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi menurut saya itu enggak sekadar ngomong 'zaman now', tapi fenomena sudah tidak 'pure'nya masa-masa bayi di abad ini. 

Kejadian yang lain, saya pergi ke minimarket dan terkejut lah saya, saat mengantri di belakang gadis kecil berkerudung dan bergamis, tapi dia menukar pecahan lima puluh ribuan yang ia pegang dengan sebungkus rokok. Amat sangat menyedihkan. Rasanya pengen banget memaki mbak-mbak kasir yang ringan saja memberikan rokok itu. Memang, sih, bakal panjang urusannya kalau mbak kasir terlalu 'kepo' tanya untuk siapa rokok itu dan pasti orang-orang akan berpikir bahwa itu tindakan yang berlebihan. Semua pasti sepakat bahwa si gadis kecil itu tidak mungkin membeli rokok untuk dirinya. Ia ke minimarket lalu membeli rokok, sudah tentu atas perintah ayahnya. Sungguh menyesakkan, menyedihkan, dan memuakkan. Lantas, bagaimana kalau si gadis kecil yang masih berkembang emosi dan kecerdasannya ini terlalu penasaran, lalu berniat mencoba? Memang rokok ini level berbahayanya tidak seperti narkoba dan sejenisnya, tapi bukankah rokok adalah awal dari segala hal seperti itu? Rokok juga level mematikannya sangat tinggi, kan?

Ah, kejadian menyoal bayi atau anak-anak seperti ini membuat saya ngeri. Saya peluk erat si bayi dan lanjut membisikkan do'a-do'a. Sungguh dalam benak saya tidak sampai hati membayangkan dunia seperti apa yang akan anak saya tinggali nanti. Sekarang saja sudah banyak fenomena yang membuat kita melabeli 'dunia sudah gila', 'bumi sudah rusak', 'sebentar lagi kiamat', dan lain lain.

Mendengar dan menyaksikan hal semacam yang saya ceritakan itu, rasanya saya ingin terus memeluk anak saya dan membuat sarang ternyaman agar dia selalu aman.

Akan tetapi, sebenarnya saya sadar, hidup di dunia nyata ini tidak seperti di negeri dongeng yang bisa kita atur akhir bahagianya. Bagaimanapun kondisi dunia tempat anak saya tumbuh dewasa nanti, saya terus berharap Allah Ta'ala akan selalu menjaga dan membimbingnya. 

#Onedayonepost
#ODOPbatch5


Sumber gambar dari Pinterest