SOCIAL MEDIA

Sabtu, 14 Agustus 2021

Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia (RSCA) Semarang

Awalnya Rumah Sakit Columbia Asia tidak menjadi rumah sakit yang saya tuju untuk periksa kehamilan maupun melahirkan setelah saya sampai di Semarang.

Periksa-Kehamilan-dan-Melahirkan-di-Rumah-Sakit-Columbia-Asia-Semarang
Suasana lobi di masa pandemi

Sempat sedih karena Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Semarang tidak ada yang di-cover oleh asuransi. Padahal saya lebih memprioritaskan RSIA daripada RS di kondisi pandemi ini.


Selama di Palembang saya sudah merencanakan periksa di rumah sakit tempat dulu saya melahirkan anak pertama. Pun dengan dokter spesialis obgyn-nya saya juga sudah cocok dengan dr. Mira Dewita, Sp.OG. Di usia kandungan 6 dan 7 bulan saya masih periksa kehamilan ke Rumah Sakit Ken Saras, Ungaran.


Begitu dapat lampu hijau untuk menjadwalkan sesar di usia kandungan 37 minggu, saya dan suami mengecek kembali fasilitas rawat inap dan melahirkan di RS Ken Saras yang sesuai dengan kelas asuransi dari kantor suami.


Setelah bertanya ke pihak RS Ken Saras secara langsung dan suami juga ikut kroscek lewat telepon, karena kami sedang LDM, ternyata tidak sesuai harapan.


Setelah menghubungi beberapa rumah sakit di Semarang, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan periksa kehamilan dan melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia (RSCA).


RSCA Rumah Sakit Tipe B

RSCA adalah salah satu rumah sakit tipe B di Semarang. Jadi, kalau ingin menggunakan BPJS, harus mendapatkan rekomendasi dari rumah sakit tipe C terlebih dulu.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Samping lobi dekat farmasi

Saya sudah tahu info ini saat blogwalking dan saat saya meminta rujukan pun saya ditanya memakai asuransi apa. Karena kalau menggunakan BPJS, fasilitas kesehatan (faskes) tingkat 1 tidak bisa langsung merujuk ke RSCA, harus ke RS tipe C dahulu. Alhamdulillah, asuransi yang saya pakai tidak harus seperti itu. Cukup dengan rujukan dari faskes 1 dan saya bisa mendapatkan layanan di RSCA.


Mengenai rumah sakit tipe B dan C ini saya tidak cukup paham. Hanya kalau melihat dari dokter, di rumah sakit tipe B spesialisasi dokternya lebih banyak dan lebih mendalam, alias gelar dokternya lebih panjang.

 

Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Dokter Spesialis Anak di RSCA

Sempat mengobrol dengan salah satu bidan di RSCA, kata beliau, pasien ibu hamil dengan BPJS bisa langsung ditangani (tanpa rujukan, dll) di RSCA apabila sudah bukaan 8 ke atas atau dalam kondisi gawat darurat.


Periksa Kehamilan di RSCA

Melihat jadwal dokter obgyn di RSCA bisa lewat website maupun aplikasi. Saya melakukan booking lewat Whatsapp (nomor WA saya dapat dari website dan instagram). Booking ini juga bisa dilakukan di aplikasi. Pun di Whatsapp juga kalau sudah tersambung dengan CS-nya bisa minta jadwal dokter spesialis yang kita tuju.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Dokter Obgyn (Spesialis Kandungan) di RSCA


Saya periksa dan melahirkan dibantu oleh dr. Nidya Kartika, Sp.OG. Jadwal periksa yang saya ambil di hari kamis pukul 17. Tapi, karena saat itu bulan Ramadhan, jadi diberitahukan oleh CS-nya bahwa jadwal dokternya dimundurkan ke pukul 19.


Setelah booking, datang sesuai jadwal yang diberitahukan, biasanya diminta datang 30 menit sebelumnya. Nanti kita juga akan mendapatkan reminder lewat SMS.


Saya datang ke bagian pendaftaran dengan menyerahkan kartu asuransi dan surat rujukan. Kalau tidak ramai proses pendaftaran tidak lama, tapi kalau ramai, di bagian pendaftaran bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit atau lebih.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Area Poliklinik


Kita akan diarahkan ke bagian poliklinik setelah selesai di bagian pendaftaran. Letak poliklinik satu lantai dengan lobi dan bagian pendaftaran.


Di poli kita akan kembali mengantre untuk ditensi dan cek berat badan, baru kemudian tinggal menunggu dokter.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Lobi Poliklinik RSCA

Pengalaman dengan dr. Nidya, awal pertemuan saya menunggu lama dari jadwal, tapi perawat dan dokter sangat sopan meminta maaf dan memberitahu bahwa ada operasi yang berlangsung lama dari yang diprediksi. Agenda periksa yang berikutnya waktu menunggu masih wajar dan tidak terlalu lama.

     

Melahirkan di RSCA

Dari usia kandungan 36 minggu, dokter memberitahu sudah bisa menjadwalkan sesar di usia kandungan 37 minggu ke atas.


Karena berat badan janin sudah cukup dan kondisi semua baik, saya dan dokter sepakat untuk menjadwalkan sesar di usia kandungan 38 minggu. Jadwal sesar dan bookingnya diatur oleh pihak RSCA. Kita tinggal datang ke IGD sesuai waktu janji dengan dokter.


Saya datang di tanggal yang dijadwalkan sekitar pukul 8 pagi. Di IGD akan dilakukan serangkaian tes, termasuk swab antigen, uji lab, dan lain-lain. Biaya swab antigen ditagihkan di akhir dan tidak di-cover asuransi. 


Setelah pihak IGD mengonfirmasi, ternyata dr. Nidya baru bisa melaksanakan operasi sesar pukul 20. 


Sebenarnya saya masih bisa pulang sebelum menunggu waktu operasi, tapi, daripada bolak-balik keluar masuk rumah sakit, saya dan suami memutuskan dari IGD langsung ke ruang rawat inap (ranap). 


Proses administrasi dan lain-lain dari IGD ke ruang ranap menghabiskan waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam. Alhamdulillah saya masuk ranap sekitar pukul 11 dan mendapat jatah makan siang, meskipun tidak bisa memilih menu.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Menu Makan di RSCA


Fasilitas RSCA Kelas 1

Tipe kelas RSCA tidak seperti rumah sakit tempat saya melahirkan sebelumnya, di sini penyebutan tipe kelasnya dinamakan seperti hotel. Ada premiere, deluxe, superior, two-bedded room, four-bedded room, five-bedded room, dan lain-lain.


Kelas asuransi dari kantor suami yang setara kelas 1 mendapatkan layanan superior. 


Fasilitas yang kami dapatkan, kamar satu orang per ruangan. Ini yang tidak bisa kami dapatkan dengan kelas asuransi di rumah sakit yang sebelumnya, padahal kami memprioritaskan hal ini.


Fasilitas bayi, saya sempat bertanya ke nursery, untuk pakaian bayi selama di rumah sakit disediakan, kita cukup menyiapkan pakaian ketika pulang. Tetapi, kalau kita ingin memakai pakaian sendiri juga boleh saja. Pospak saya menyediakan sendiri dan bisa diserahkan ke bidan saat kita akan masuk ke ruangan operasi. Kendi untuk wadah ari-ari bisa disediakan dari rumah sakit, nanti akan dimasukkan ke tagihan.


Fasilitas tiap kelas berbeda-beda. Jadi, bisa dikonfirmasi kembali ke pihak rumah sakit.


Pengalaman saya, untuk menanyakan hal-hal detail terkait perlengkapan melahirkan dan bayi, bisa langsung ke bagian nursery, karena sewaktu saya tanya ke CS mereka tidak tahu banyak.


Saya sempat sekali kontrol anak saya di RSCA setelah melahirkan sebelum kembali merantau. Di nursery juga menyediakan fasilitas tindik oleh bidan. Jadi, saat itu anak saya kontrol dan imunisasi BCG menggunakan asuransi, sedangkan biaya tindik ditagihkan sendiri.


Soal room-in atau ibu dan bayi dirawat gabung dalam satu ruang rawat inap, bila tidak ada kondisi khusus, bayi akan satu ruangan dengan ibu setelah observasi selesai. Setiap harinya bayi diambil untuk dimandikan sekitar pukul 6 pagi dan diantar ke ruangan ibu kembali sekitar pukul 8. Jadwal mandi sore pukul 3 sore dan dikembalikan sekitar pukul 4. 


Menu makanan selama ranap di RSCA menurut saya spesial. Setiap menjelang siang, kita akan ditanyai mengenai menu yang disediakan di hari itu dan dipersilakan memilih menu yang tersedia untuk disajikan keesokan harinya. Sempat disajikan snack dengan teh di waktu selingan makan, ternyata bisa diganti dengan menu lain, seperti air hangat madu. Menu makan yang disediakan tidak seperti makanan rumah sakit pada umumnya. Malah ke ala-ala resto. Sajiannya menarik dan rasanya enak.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Ini Makanan Rumah Sakit


Melahirkan Sesar Kedua

Sejak awal kehamilan, dokter obgyn yang saya temui saat masih di Bandar Lampung sudah menyarankan saya untuk kembali operasi sesar di kehamilan anak kedua ini.


Saya dan suami pun setuju saja karena tidak ingin mengambil resiko. Hal ini juga saya sampaikan ke dr. Nidya, dan beliau pun setuju saja.


Di operasi sesar yang kedua ini, meskipun tetap deg-deg-an, rasanya saya lebih siap mental.


Alhamdulillah operasi sesar berjalan lancar, sesuai jadwal.


Seperti operasi sesar sebelumnya, reaksi yang kurang mengenakkan yang saya rasakan adalah menggigil yang luar biasa.


Saya sampai mengeluh kepada dokter anestesi saking tidak tahannya. Sedih juga karena tidak maksimal Inisiasi Menyusui Dini (IMD) karena efek menggigil tersebut. 


Total lama menginap di RSCA untuk melahirkan 3 malam 4 hari. Masuk ke ranap hari selasa sekitar jam 11, pulang hari jumat sekitar pukul 19. Menunggu agak lama di bagian administrasi saat mengurus kepulangan.


Secara keseluruhan fasilitas dan layanan periksa kehamilan maupun melahirkan di RSCA yang saya dan suami rasakan baik dan memuaskan. Alhamdulillah.


Teman-teman ada cerita apa saat periksa kehamilan dan melahirkan di masa pandemi ini?


Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Alhamdulillah, selamat datang di dunia, Baby

[Baca Selanjutnya...]

Jumat, 11 Juni 2021

Ergobaby Embrace Review: Mencoba Gendongan (Lagi)

Alhamdulillah, punya bayi kedua!

Baby gear yang saya buru lagi-lagi gendongan. Bukan sekadar pengen icip-icip gendongan, kok, tapi memang karena butuh membawa bayi melakukan perjalanan.


Karena anak saya yang kedua akan bepergian di usianya yang kurang lebih satu bulan, jadi gendongan simpel yang bisa dipakai cukup terbatas. Kalau usianya misal empat bulan ke atas, variasi jenis gendongan kebanyakan sudah bisa dipakai.


Gendongan dengan tumpuan satu bahu, seperti jarik dan ring sling tidak saya jadikan opsi, selain karena saya nggak mahir memakainya, rasanya akan cepet pegel. Maka, lagi-lagi saya melirik gendongan ransel (soft structured carrier/SSC).



Baca Tulisan yang Ini: PIKIR DULU SEBELUM BELI GENDONGAN: REVIEW ERGOBABY ADAPT (KW)



Karena masih penasaran dengan ergobaby Adapt yang bisa dipakai dari newborn, saya mengunjungi website ergobaby yang ternyata malah jadi tahu kalau mereka mengeluarkan varian gendongan baru untuk newborn, yaitu ergobaby Embrace. Saya yang termasuk telat tahu karena si Embrace ini sudah diluncurkan sejak 2019.


Segera saya cari tempat yang menyewakan Embrace, dan ternyata ada! Satu tempatnya di Jakarta, satu lagi di Surakarta.


Kenapa tidak membeli?

Karena mahal! Wkwkwk. Wajar, sih, sebenarnya untuk merek sekelas ergobaby. Cuma buat saya, untuk gendongan yang dipakai sampai usia 1 atau 1,5 tahun kayaknya eman alias sayang duit segitu.


Memang keren inovasi ergobaby bikin produk terpisah yang diperuntukan bayi baru lahir. Karena selama ini setahu saya, produk gendongan ergobaby untuk bayi baru lahir masuk ke gendongan hybrid, macam Adapt, Omni.


Oh, ya, produk lokal sebenarnya sudah banyak juga yang mengeluarkan gendongan hybrid (yang bisa digunakan segala usia, pendeknya begitu). Hanya saja setelah membaca spesifikasinya, hybrid yang lokal pun kayaknya baru bisa dipakai newborn dengan berat dan tinggi badan yang sudah agak besar. Dugaan saya begitu setelah melihat juga postingan foto para penggendong yang menggunakan hybrid lokal.



Baca Tulisan yang Ini: BABYWEARING: GENDONG-MENGGENDONG, EMANG PENTING?



Setelah mencoba Embrace, saya merasa memang cocok banget gendongan ini untuk newborn. Di bayi saya yang berat badannya saat itu >3,6 kg, dengan tinggi badan >47 cm nggak tenggelam dan cukup nyaman.


Settingan atau pengaturan, dan pemakaiannya pun simpel. Ini yang saya khawatirkan kalau saya memakai gendongan hybrid yang lain, settingan yang rumit.


Cara pakainya sama dengan memakai soft structured carrier (SSC), hanya perlu menyesuaikan di bagian dudukan bayi (menyesuaikan tinggi bayi) dan bagian shoulder strap yang harus disilang.


Plusnya menggendong M-Shape yang saya tahu harusnya penggendong bisa handsfree alias tangan bebas nggak harus menopang bayi, cuma saat memakai Embrace ini, sayanya saja yang memakai gendongannya terburu-buru seperti tampak di foto, jadi belum bisa handsfree karena tangan saya masih menahan leher bayi yang tidak tertopang kain gendongan. Sebenarnya penggendong bisa handsfree ketika kita membetulkan bagian bawah gendongan tepatnya di pantat bayi (ada panduannya di tutorial) sehingga bayi bisa lebih turun posisinya dan punggung serta lehernya akan tertopang gendongan. 





Tutorial pemakaian Embrace bisa dilihat di official Youtubenya ergobaby.

Foto-foto yang lebih ciamik juga bisa dilihat di instagram Babywearing Consultant, Mommy Golda (@mommygolda).


Bahan kain Embrace ini tipe yang lentur, mungkin mirip-mirip stretchy wrap (dugaan saya lagi, karena saya belum pernah coba SW). Karena bahan kainnya begitu, si Embrace ini enteng dan nggak makan tempat saat dilipat.





Pemasangan bagian lengan gendongan (shoulder strap) Embrace berdasarkan tutorial harus di X strap di belakang punggung yang agak bikin saya bingung. Maklum, sebagai pengguna setia SSC sangat dimanjakan dengan kemudahan memasang bagian shoulder strap yang tinggal dicangklong saja. Awalnya saya harus dibantu suami untuk memasang X strapnya, tapi lama-lama hafal sendiri gimana polanya supaya tidak kerepotan. Dan lengan gendongannya cukup panjang, mirip meh dai, tapi nggak sepanjang meh dai sepertinya.



Bagian waistpad dilipat dua kali sebelum dipakai karena TB bayi saya <58,4cm

 







Di bagian pundak kain gendongan juga bisa di-spread (dilebarkan) supaya penggendong makin nyaman (ini yang disarankan di tutorial), tapi saat saya terapkan, kok malah rasanya posisi menggendong makin melorot yang bisa jadi karena settingan gendongan yang kurang sip.


Kabarnya Embrace juga bisa digunakan facing out alias hadap depan, tapi untuk bayi dengan tinggi badan lebih dari 66 cm atau sekitar 5-6 bulan. Cuma kok saya agak ngeri karena lenturnya si Embrace ini.


Overall, Embrace memang oke untuk newborn, buibu pecinta ke-simpel-an ketika menggendong, dan mungkin juga pecinta SSC garis keras. Harganya yang hampir 2 juta rupiah juga sepadan dengan fungsi yang dijanjikan.


Siapa yang sudah nyoba ergobaby Embrace juga?

Foto iklan ergobaby yang sungguh menarik
[Baca Selanjutnya...]

Kamis, 07 Januari 2021

Bandar Jaya Lampung Tengah: Sekelumit Cerita Merantau

Mendekati akhir 2016, saya memulai pengalaman merantau bersama suami ke Bandar Jaya, salah satu kabupaten di Lampung Tengah.

Tiba di bandara malam hari, tadinya mau mampir ke rumah makan atau minimarket dulu, tapi batal karena sudah lumayan malam dan bapak taksi ngerasa susah nyari tempat yang aman untuk mampir.


Memang isu soal aman nggak aman ini nih yang jadi beban pikiran di awal sebelum memutuskan ikut merantau, karena berita-berita soal Lampung yang terkenal dengan begalnya.


Suasana di depan lingkungan rumah
Dokumen pribadi

Suasana Jadul

Entah karena bentuk bangunan, atau tata kotanya, hawa di Bandar Jaya itu so old dan jadul. Pernah jalan-jalan ke perkampungannya, banyak bangunan dan rumah yang telantar. Padahal dari segi bangunan sebenarnya masih bagus, tapi karena tidak terurus dan terawat jadi menimbulkan kesan begitu.


Kuliner

Makanan di Bandar Jaya didominasi masakan Jawa. Nggak susah menemukan soto, pecel, sate, dan lain-lain, yang rasanya cocok di lidah Jawa saya.


Nasi Urap

Ini salah satu menu sarapan khas yang saya favoritkan selama di Bandar Jaya. Harganya pun murah meriah. Kalau beli di mbak yang tiap pagi lewat di depan rumah dan jualan sayur, sebungkus nasi urap harganya 3 ribu rupiah. Isiannya nasi, urap sayur, tempe atau tahu bacem, sambal, dan ikan asin.


Kurang lebih begini penampakan nasi urapnya
Credit to: cendananews(dot)com

Mie Tek-tek

Rezeki banget bisa ketemu mie tek-tek enak yang lewat malem-malem di depan rumah. Meski katanya Lampung kurang aman, tapi bapak penjual mie tek-tek ini keliling dengan sepedanya. Rasa mie tek-teknya belum saya temukan yang lebih enak.

Bumbu mie tek-teknya ada rasa ebi yang kuat. Mie yang dipake mie basah yang tipis. Harganya cuma 10 ribu rupiah dan itu udah ada campuran telur dan suwiran ayam tipis-tipis. Begitu saya pindah ke Bandar Lampung, saya nggak nemu mie tek-tek yang seenak, tapi seringan itu rasanya. (Duh, sayang fotonya ada di hape lama yang nggak ter-backup).


(Kayaknya bakalan panjang postingan tentang kuliner, tapi dua itu aja yang tidak terlupakan).


Bandar Jaya Sebagai Pusat Perekonomian

Suami saya ditempatkan di kabupaten yang jadi pusat perekonomian Lampung Tengah. Ini terlihat dari banyaknya kantor cabang bank maupun instansi lain di sepanjang jalan lintas Sumatera di Bandar Jaya ini. Saya memang belum pernah jalan-jalan ke daerah lain di Lampung Tengah, tapi menurut cerita suami, Bandar Jaya termasuk daerah yang paling ramai. Sayangnya, meski jadi daerah andalan, masalah banyak jalan yang rusak masih harus dibenahi.


Kejadian Tidak Terlupakan

Banyak sebenarnya kenangan di Bandar Jaya. Karena di sana saya menjalani tahun pertama sebagai seorang ibu yang mengurus bayi tanpa bantuan keluarga dekat. Harus struggling supaya nggak bosan, nggak malu untuk sksd supaya dapet temen, wkwkwkwk. Cari tempat untuk sewa alat per-bayi-an pun harus ke Bandar Lampung, dua jam perjalanan sebelum ada tol. Setelah ada tol perjalanan ke Bandar Jaya cuma 45 menit saja.


Kejadian yang membekas di ingatan tentu saja soal keamanan. Hahahaha. Hampir kemalingan dua kali. Alhamdulillah Allah masih jaga dan beri perlindungan. Menyaksikan tetangga yang habis kemalingan sampai raib motor, padahal ada dua tetangga lain di perumahan yang profesinya polisi.


Glompong tahun 2018. Salah satu tempat yang menyediakan tempat bermain anak dan kulineran. 
Dokumen pribadi

Alhamdulillah bersyukur bisa merasakan merantau dan tinggal di Bandar Jaya dalam separuh pengalaman tinggal di Lampung.


Teman-teman ada yang pernah tinggal atau jalan-jalan ke Bandar Jaya?

[Baca Selanjutnya...]