SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2020

Rekomendasi Novel di Ipusnas

Bisa baca buku dengan gratis apalagi versi ebook sungguh sesuatu yang membahagiakan buat saya. Karena baca buku cetak, jujur lebih banyak halang rintangnya, yang akhirnya bikin sulit menyelesaikan membaca dalam waktu singkat. 

Alhamdulillah, sekarang ada aplikasi Ipusnas dari Perpustakaan Nasional yang sangat membantu tersedianya bahan bacaan. (Yuk, yang belum download aplikasinya bisa dicari di Playstore).

Sudah lumayan banyak buku yang saya pinjam dari Ipusnas, meskipun nggak semuanya saya baca sampai selesai :)

Beberapa novel berikut ini jadi rekomendasi buat yang lagi mencari bahan bacaan.

1)Jane Austen, Pride and Prejudice

Novel romantis terbaik. Reviewnya sudah saya draft di satu postingan blog tersendiri. Cerita tentang Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy yang awalnya saling tidak suka, eh, ternyata...

Meskipun awal-awal cerita lumayan lambat, tapi selanjutnya seru dan nagih. Lebih detail dan jelas dibandingkan filmnya, tapi nggak kalah keren.

Di Ipusnas ada beberapa versi dan ada english versionnya juga. Saya baca yang terjemahan dari penerbit Qanita.



2)Intan Savitri, Perempuan Suamiku

Buat yang kangen dengan karyanya mbak Izzatul Jannah, kumpulan cerpen ini bisa jadi obatnya. Oh, betul sekali, Intan Savitri adalah nama asli dari penulis Izzatul Jannah.

Di buku ini mbak Intan mengangkat kisah-kisah perempuan yang menurut saya jarang dibicarakan, tapi nyata adanya. Misalnya tentang poligami, istri yang juga butuh nafkah batin, dan lain-lain. Baca karya mbak Intan jadi makin kangen dengan novel-novelnya yang lain yang sayangnya tidak saya temukan di Ipusnas :(


3)Muthmainnah, Serial Pingkan 2: Seperti Daisy di Musim Semi

Serial pertamanya 'Sehangat Mentari Musim Semi' sudah dulu sekali saya baca, saat SMP atau SMA. Inti ceritanya tentang Pingkan, gadis asal Padang yang sekolah di Perth, Australia. Lika-liku hidupnya di Perth menjadi cerita yang seru. Mulai dari membiasakan hidup dengan budaya barat sampai akhirnya Pingkan hijrah dan bahkan bule-bule di sekitarnya pun masuk Islam. Bukunya ada Ipusnas juga dan rekomen untuk dipinjam.

Serial keduanya, Seperti Daisy di Musim Semi baru saya ketahui saat searching di Ipusnas. Lanjutan kehidupan Pingkan sebagai akhwat tangguh yang diandalkan banyak orang. Ada banyak konflik di buku kedua ini. Mulai dari sister Khalda, muslimah IMSA (komunitas yang Pingkan ikuti) terlihat 'jalan' bareng pria yang menurut kabar adalah suaminya, Reni sahabat Pingkan yang diet hingga masuk rumah sakit, juga sosok Rizal yang membawa nuansa romantis dalam novel. Sayangnya, di Ipusnas, novel ini berakhir menggantung. Padahal menurut saya diskusi Rizal dan Pingkan di akhir bab sangat menarik. Karena saya nggak punya hard copy novelnya, saya menduga, apakah versi yang di Ipusnas terpotong? Atau memang endingnya seperti itu? Mungkin yang ngikutin serial Pingkan, bisa share di kolom komentar :D



Muthmainnah atau May Moon atau nama pena dari mbak Maimon Herawati yang menulis serial Pingkan adalah penulis favorit yang gaya tulisannya sangat saya sukai. Dua novel beliau yang lain, Rahasia Dua Hati dan Journey of the Hearts adalah novel yang berkali-kali saya baca dan nggak pernah bosan!

4)Afifah Afra Amatullah, Jangan Panggil Aku Josephine

Kabarnya ini adalah novel yang terinspirasi dari kisah Lady Diana. Yes, ibunya Prince Harry, mertuanya Meghan Markle, neneknya Archie Harrison. Baca novel ini pertama kali, sepertinya saat SMP. Secara garis besar memang sedikit nyerempet kehidupan Lady Di, cuma tulisan mbak Afra ini versi perjuangan dakwah. 



5)Meg Cabot, Royal Wedding

Aaakkk novel remaja banget ini! Seneng, akhirnya menamatkan kisah Mia Thermopolis. Khasnya serial Princess Diaries dengan mudah panik, mikir macem-macem, tapi somehow jeniusnya Mia, jadi hiburan yang membuat mengenang masa SMA. Kalau yang ngikutin Princess Diaries dari awal, novel terakhirnya ini melegakan hati. Seperti judulnya, bakal ada Royal Wedding! Udah ketebak lah ya, sama siapa. Tapi, perjalanan sampai akhirnya Mia dan Michael (ups, spoiler) bersatu, sungguh so sweet dan tentu saja, kocak! 



Banyak lagi penulis-penulis yang karyanya ada di Ipusnas. Bersyukur bisa membaca novel-novel mereka secara gratis. Alhamdulillah. Sesenang nemu novel Eragon di perpustakaan zaman SMA dulu. Yes, Eragon-nya Christopher Paolini tersedia juga di Ipusnas. Begitu juga dengan Olenka-nya Budi Darma dan sederet karyanya John Green. 

So, mau baca yang mana? Feel glad kalau ada yang mau merekomendasikan bacaannya di kolom komentar 😁

Tampilan aplikasi Ipusnas di Playstore

Oh ya, sebagai pengguna Ipusnas, saat sinyal jelek akses ke aplikasi jadi susah. Lain waktu sinyal bagus, tapi aplikasi down tanpa sebab. Semoga selalu ada perbaikan dari developer aplikasinya, sehingga aktivitas membaca  menjadi lebih nyaman.

Selamat membaca!

Kamis, 14 November 2019

Belajar Parenting dari Orang Denmark: Review Buku The Danish Way of Parenting


Membaca buku parenting menjadi penyemangat tersendiri buat saya. Selain juga ngademin hati saat lagi sering-seringnya marah atau kesal karena tingkah polah anak 2 tahun yang sedang heboh-hebohnya.

Menjadi motivasi diri juga bahwa sebagai IRT, Stay at Home Mom, atau apapun itu lah namanya, dengan kemauan belajar soal parenting, saya bisa jadi seseorang yang berguna dan dibutuhkan. Lebih jauh lagi, saya juga terdorong untuk menjadi orang tua yang berkualitas. Nggak cuma jadi orang tua yang melahirkan anak secara biologis, tapi ada ideologi yang juga saya lahirkan ke anak.

Halah, muluk amat yak. Emang harus begini biar kepercayaan diri meningkat! (Ups, buat diri saya aja ini, wkwkwk).

Suatu hari, teman saya update status Whatsapp dengan jepretan foto rak buku yang penuh. Di antara buku-buku miliknya, ada buku, The Danish Way of Parenting. 

Sering saya lihat ibu-ibu muda mengutip teori parenting dari buku ini. Membuat saya tertarik membaca, tapi belum kesampaian, hingga saat teman saya update status dan membolehkan saya meminjam buku tersebut.

Kesepakatan awal saya diberi waktu sebulan untuk menyelesaikan dua buku. Ternyata, dalam kurun waktu yang disepakati, saya cuma bisa baca satu buku!

Leletnya saya dalam membaca karena banyak distraksi gadget dan ngantuk! Padahal menurut saya buku ini cukup tipis, bahasanya pun nggak terlalu berat, meskipun beberapa terjemahan menurut saya cukup ganjil alias aneh, tapi nggak mengganggu esensi yang ingin disampaikan Jessica dan Iben.




Menariknya


Menariknya buku ini adalah sudut pandang yang dipakai untuk menjelaskan teori yang kadang bikin kening berkerut. Memosisikan sang penulis, Jessica dan Iben, layaknya teman sesama orang tua. Meskipun mereka pakar, tapi kebahasaan yang dimunculkan membuat saya pribadi merasa dekat dengan Jessica dan Iben layaknya teman sekomunitas. Padahal, ya, mereka nun jauh di sana.

Kedua penulis yang bersinggungan dekat dengan keluarga Denmark, membuat saya merasa bahwa teori bahagia ala orang Denmark yang dimunculkan dalam buku bukan omong kosong belaka, melainkan sesuatu yang penulis rasakan dan jalankan sendiri.

Buku ini salah satu buku parenting yang jenius, sebab bisa menyentuh kebutuhan orang tua masa kini. Bahwa anak yang dilahirkan sebagai generasi Alfa, tidak akan dididik dengan cara dibentak atau dipukul dengan sapu. Harus ada terobosan baru untuk mengubah cara mendidik jaman baheula, agar generasi Alfa jauh lebih baik dari generasi yang ada saat ini.

Pemakaian standar bahagia dalam buku ini menjadi hal yang sangat menarik. Ukuran anak yang pintar, cantik atau ganteng, tinggi, kaya, dan yang sejenisnya mungkin tidak akan menjadi standar yang berarti di masa depan. Tetapi, bahagia? 

Jessica dan Iben menunjukkan bahwa standar bahagia orang Denmark berefek positif. Baik untuk tumbuh kembang anak, maupun untuk memajukan sebuah negara. Maka nggak heran kalau dalam salah satu bab diceritakan, ada profesor di India yang hendak menyebarluaskan teori parenting ala orang Denmark ini.

Baca Ini Juga Yuk: Wanita (Harus) Bekerja?


How to


Menjadikan anak kita sebagai anak yang bahagia tentu bukan proses yang instan. Lewat teori yang disingkat menjadi PARENT. Jessica dan Iben menjelaskan cara-cara taktis yang bisa menjadi panduan. 

Apa itu PARENT?
Play
Autentisitas
Reframing (Memaknai Ulang)
Empati
No Ultimatum (Tanpa Ultimatum)
Togetherness and Hygge (Kebersamaan dan Kenyamanan)

Cara yang dijelaskan dalam buku menurut saya cukup aplikatif. Meskipun mungkin saat sekilas membaca terbersit dalam hati, 'Duh, bisa nggak, ya,' Antara meragukan diri sendiri dan nggak yakin bisa mengkondisikan anak.

Misal dalam kasus saya, saat ingin menerapkan No Ultimatum alias Tanpa Ultimatum. Itu praktiknya harus putar otak banget. Mungkin karena ketika ingin memberi peringatan ke anak sudah telanjur terbiasa menggunakan redaksi kata, Jangan! Ketika mau mengubahnya, beneran yang harus mikir supaya kata itu menjadi sebuah kalimat yang reasonable.

Buku ini menantang saya pribadi untuk menjadi orang tua yang mau berpikir dan mau berubah. 

Beberapa kali saya mendapatkan quote, sebenarnya ketika kita mendidik anak, kita mendidik diri sendiri, itu benar adanya.

Belajar parenting salah satunya lewat buku ini, membuat saya ikut belajar lagi akan hal-hal yang sebelumnya sifatnya insting atau warisan orang tua terdahulu.

Sangat saya rekomendasikan bagi ayah, ibu, maupun calon-calon ayah-ibu, untuk membaca dan mengoleksi buku ini.

Ngomong-ngomong, ada yang sudah baca? Gimana pendapatnya setelah membaca The Danish Way of Parenting?



Judul Buku : The Danish Way of Parenting
Karya: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl
Penerjemah: Ade Kumalasari dan Yusa Tripeni
Penerbit: PT Bentang Pustaka (Mizan Media Utama)
Jumlah Halaman: 184 halaman
Harga: Rp 59.000 (via Mizanstore)

Minggu, 04 Agustus 2019

Antologi Rasa: Review Novel (First Time Reading Ika Natassa's)

Akhirnya nyemplung juga ngikutin arus baca novel kekinian. Gara- gara bingung, pengen baca novel, tapi enggak nemu novel yang enak dibaca.

Tiba-tiba keinget Ika Natassa. Ngintip salah satu teaser novelnya di Storial dan ngerasa wow! Tulisannya sungguh layak dibaca.


Cusss nyari Antologi Rasa (karena novel yang free ebooknya mudah dicari). Ampuni hamba ya Allah karena masih mendukung pembajakan. Baca baru satu bab dan ngerasa dunia yang jadi setting ceritanya, enggak saya banget. LOL.

Meskipun cerita kehidupan bankersnya enggak asing, secara itu kerjaan sehari-hari suami saya. Sebelas dua belas lah meski suami kerja di perbankan syariah, karena sama-sama bankers.

Gaya bahasanya yang mix bahasa inggris (dan latin buat judul-judul bab), terasa mendidik pembaca untuk paham dan cas cis cus ngerti bahasa Inggris juga. Sebab bahasa Inggris yang dipake penulis bukan yang sepotong-potong doang, melainkan yang beneran dipake percakapan keseharian orang dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Cocoklah kalau novel ini jadi favorit milenial yang ngomongnya campur aduk bahasa Inggris, ala anak-anak Jaksel dan BSD.

Meskipun topik ceritanya klasik banget (love story, of course!), tapi luasnya pengetahuan dan pergaulan sang penulis, bikin saya betah membaca novel ini.

Cerita cinta saling silang (meminjam istilah Dee) dan persahabatan Keara, Harris, Ruly, dan Denise, bikin saya tersihir dengan magic penulis mengemas kisah romantis kaum urban. Bikin saya realize bahwa, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Only God knows.

Berkorelasi sekali dengan yang sedang yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Ketika saya sedang mengejar-ngejar sesuatu yang sifatnya duniawi, lalu saya berhasil mendapatkannya, somehow saya malah ngerasa hollow, kosong, dan kehilangan makna. Jeleknya manusia ya, so greedy. Jadi, sebenernya maunya apa? Ini kejadian sama Keara yang finally (spoiler) enggak lagi bertepuk sebelah tangan, padahal udah lebih dari 3 tahun memendam rasa.

Kalau berhak menilai, novel pertama Ika Natassa yang saya baca ini saya kasih skor 8/10. 

Saya beneran baca novel ini sepenuh hati loh. Enggak screening. Di sela-sela kesibukan saya sebagai emak-emak, saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu 3 hari, dengan durasi waktu membaca per harinya 2-3 jam. Sungguh saya sangat bangga terhadap diri saya sendiri. LOL.

Penggambaran karakter tokoh dalam Antologi Rasa sangat menarik karena menurut saya memanusiakan manusia. Meskipun saya belum pernah berkenalan dekat dengan personal seperti Keara dan tokoh-tokoh lain, yang jelas, lingkar pergaulan mereka banyak membuat saya tercengang. Minum wine dan bir kayak minum air mineral, pergi ke bar dibahasakan senormal jalan-jalan ke mall, belum lagi sex life yang diceritakan udah kayak di luar negeri sana. Oh my, saya beneran mainnya kurang jauh deh karena masih 'kaget' dengan hal-hal seperti ini.

Beberapa hal yang mengganggu dalam novel ini salah satunya adalah bahasa asing yang menurut saya porsinya cukup banyak. Meskipun sangat dimaklumi karena tokoh-tokohnya berlatar pendidikan luar negeri, Boston dan New York. Jadi, mungkin sayanya yang perlu meng-upgrade literasi berbahasa asing.

Ending novel juga saya rasakan seperti terburu-buru. Pas udah sampe di halaman-halaman akhir saya malah sedikit shocked karena berpikir, 'Lah endingnya gini doang?'. Penggambaran cerita yang solid di awal rasanya kurang nendang dengan penutupan seperti itu.



Membaca novel ini selain bikin saya semangat untuk menulis, juga bikin saya nyadar, 'Selama ini kemana aja?!' Novel yang sudah hits dari 8 tahun lalu, baru saya baca sekarang. Tapi, enggak apa-apalah, baru baca sekarang juga kena momennya, karena beberapa waktu yang lalu, adaptasi novel ke film layar lebarnya baru saja dirilis. Gimana komentar teman-teman yang sudah menonton?

Semoga bermanfaat.


Sumber gambar: Pinterest

Selasa, 24 Juli 2018

Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!!

Tertarik sama buku ini awalnya karena nge-follow penulisnya, Ahmad Gozali di twitter. Twitnya tentang dunia keuangan sering lucu, tapi cerdas dan menohok. Tergambar banget di bukunya, bahasanya ringan, tapi enggak bikin kita gagal paham.

Akhirnya, dibeliin buku ini sama pak suami karena beliau ngerasa saya perlu belajar financial planning. Saya pun menyadari kalau kacau banget ngurusin keuangan keluarga. Kayaknya sih gara-gara di masa single saya terlalu nyantai dan kebanyakan bersenang-senang.

Buat saya yang baru belajar dan sukanya hal yang menyenangkan, buku Habiskan Saja Gajimu ini sangat tepat sasaran. Pak Ahmad Gozali memberikan metode Habiskan untuk mengelola keuangan. Mungkin rada-rada kontroversial ngedengernya. Masa' malah disuruh ngabisin duit sih? Ngajarin boros dong?

Harusnya kan kalau ada duit lebih disisihkan buat nabung, investasi, dan lain sebagainya. Bener banget sih kalau itu. Kita kan hidup enggak cuma di waktu sekarang doang. Apalagi buat saya yang udah ada anak bayik. Harus pinter-pinter mengatur keuangan untuk masa depan.

Selain itu juga keuangan yang rapi juga meminimalisir terjadinya konflik dalam rumah tangga. Sama-sama tau lah, banyak masalah rumah tangga yang muncul salah satu pemantiknya adalah kondisi ekonomi yang gonjang-ganjing. Yang paling sering dikambinghitamkan misal pemasukan bulanan yang kurang. Padahal sebenarnya kalau ditelusuri bukan gara-gara pemasukannya yang kurang, tapi cara mengatur pemasukannya aja yang belum benar.

Buku ini ngasih metode mengatur uang yang cocok dan menyenangkan buat saya, yaitu dihabiskan!

Karena jujur buat saya menyisakan uang itu bikin stres dan kayaknya kok suram gimana gitu. Pun berkali-kali saya ngerasain gagal menyisakan uang, padahal niatnya pengen nabung untuk ini dan itu.




Nah, di buku ini kita diajarin menghabiskan gaji, tapi enggak asal, melainkan dihabiskan di jalan yang benar. Gimana caranya?

Harus baca buku ini secara runut biar kita paham betul harus berbuat apa dan bagaimana.

Sedikit yang bisa saya highlight di buku ini, pemasukan yang ada dihabiskan dengan cara, potong untuk zakat, bayar cicilan utang, dahulukan untuk saving, dan habiskan untuk shopping! Asyik kan? Siapa sih yang enggak suka ngabisin duit buat shopping?

Buku ini berhasil bikin saya mengubah pola pikir untuk enggak melulu bersenang-senang. Eh, bisa sih bersenang-senang, tapi ya, harus kreatif dan enggak malas. Well noted banget.

Buku keuangan yang highly recommended untuk dibaca dan dipraktekkan. Nyesel deh enggak tau buku ini dari jaman single. Kayaknya bisa lebih cepet kaya kalau dari single baca buku beginian. >_<



Minggu, 31 Juli 2016

Little Women Novel Review

A month. The time I needed to complete this cool and famous novel by Louisa May Alcott.
Tells story about 4 women in March family and their friend Theodore 'Laurie' Laurence, from a Christmas moment to next year Christmas.
I'm very happy to see the warmth in March family. And also how Mr. and Mrs. March educate their children. It was very impressive and inspire.
They are a portraits of American family who have manners and values.
Meg, Jo, Beth, and Amy, each of them has distinctive and unique character. Although, they are trying to change to be a good and honored woman.
My favorite, of course, Jo who is very intelligent and independent. They said, Jo is the most similar character to the author, Louisa May Alcott.
This novel is very good and very entertaining in my bleak days.
Although it has a background of 2nd WW (if I'm not wrong), but the story of past America I found it interestingly as same as when I read Jane Austen's work.
Highly recommended to read.
The story which is very close to our daily life, figures that have realistic character, and story full of wisdom and life lessons, absolutely can make us reflect and improve.
I encourage you to read it.

Kamis, 22 Januari 2015

Bulan Nararya: open up your soul

Bismillah

Synopsis
Tokoh utama di novel ini bernama Nararya Tunggadewi. Seorang terapis di klinik yang merawat orang dengan masalah skizophrenia, istilah ilmiah untuk orang dengan masalah kejiwaan. Tokoh cerdas, berhati mulia seperti arti namanya dan ternyata seperti manusia pada umumnya, punya masalah dalam kehidupannya sendiri. Nararya dihadapkan pada kenyataan bahwa dia juga berpotensi mengidap skizophrenia karena tekanan yang dihapinya?
Sekelumit masalah cinta, pernikahan, perceraian, dan persahabatan dengan Moza dan Angga. Lalu, interaksinya dengan pasien-pasien yang luar biasa seperti Pak Bulan, Sania, dan Yudhistira. Juga tentang keteguhan Nararya untuk memulai metode baru dalam penyembuhan skizophrenia melalui transpersonal. Metode yang tidak umum digunakan untuk menyembuhkan pasien dengan penyakit mental.


Comment
Hah, maaf sekali, sinopsisnya cuma sekelumit. Hahaha, jadi inget kebiasaan yang suka sama sinopsis dengan spoilernya. Kebiasaan yang dicemooh teman-teman terdekat yang juga suka buku atau film.
Tapi, memang saya tidak bisa menceritakan dengan gamblang, karena, novel ini...luar biasa! Jadi, kalian harus membacanya sendiri J
Memang isinya sangat psikologi, yang bikin saya butuh mikir dan mencerna lebih dulu untuk memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Tapi, eng ing eng, saya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu hm, sesiang dan sesorean. Novel yang psikologi banget tapi bisa membuat saya betah dan kagum karena hal yang diluar apa yang saya pelajari dan diluar pengetahuan umum kebanyakan bisa dijelaskan dan diceritakan dengan sangat menyenangkan.
Kalau udah masuk ke cerita Nararya dkk jadi susah berhenti. Hahaha, tetiba ingat yang disebutkan di novel ini mengenai beda antara seniman dan pasien skizophrenia, itu adalah kemampuan mereka untuk bisa kembali ke realita.
Aaaa!!! Keren deh pokoknya novel ini. Membuat saya jadi punya point of view yang baru tentang orang dengan penyakit mental. Membuat saya juga jadi harus lebih berhati-hati menyebut orang dengan masalah kejiwaan dan memperlakukan mereka. Ah, memang sesering apa saya berinteraksi dengan mereka? Atau emang pernah? Hahaha. Dan...saya sepertinya jadi lebih memahami diri saya sendiri. Kondisi tertekan? Halusinasi? Hahaha.
Nilai sastra dan budaya di novel ini menunjukkan kalau penulisnya itu punya wawasan yang luas banget mengenai apa yang dia tulis. Jadi suka.
Gaya bahasanya meliuk-liuk tapi, enak dibaca dan bisa diterima oleh saya yang kadang suka ngeskip bagian-bagian tersebut.

At last, terima kasih banyak buat Sekar beserta koleksinya yang sudah meminjamkan saya novel ini (hahaha, nggak modal banget), membuat saya kembali bersemangat untuk membaca lebih banyak lagi.
          

Minggu, 11 Januari 2015

Between papers and screen

Bismillah.
Sebelum nonton:
Penasaran sebenarnya. Pengen tau. Film yang dikomporin dan diperintahkan buat ditonton sebagai orang yang suka nonton film ke movie theater.
Cuma, sebelum nonton ada-ada aja komennya. Sebagai berikut,
Temen sekaligus saudara laki-laki: tonton aja, bagus kok, apalagi pas adegan syahadat masuk islam...beuh...keren.
Komen orang di grup wa: hati-hati, bisa menyebabkan galau.
Temen sekaligus mba: sinetron banget, ftv parah.
Temen selingkaran: bagus kok, romantis gitu, tapi, kayaknya nggak kamu banget.
Setelah nonton: engingeng...aktingnya quite impressive terutama untuk pemeran pemeran utama. Just, agak annoyed sama yang memerankan dokter, ibu dan beberapa extras (no offense ^.^v). Quite good, angle pengambilan gambar, dan view china nya. Apalagi interaksi sama muslim lokal disana, wua, wua, bikin kangen sama masjid dong du di viet nam dan ibu2 baik di masjid itu >.<
Dan setelah baca novel nya? Yuhuuu...on the screen, I got love and Islam. Di novelnya, karakternya terasa lebih kuat, muatan dakwah Islam nya wow...sangat menginspirasi dan membuka mata. Iyalah ya. Tapi mereka saling melengkapi dan punya nilai plus masing-masing.
Meskipun, saat nonton saya suka geli sendiri dan agak mual pas ngeliat adegan yang sooooo cheesy....tolonggg. Thanks to NK partner nonton yang mau jadi korban keluhan saya. Hahahaha.
Saya dan partner nonton punya kesan tersendiri dan qoute yang nempel terus di otak selepas keluar dari movie theater.
Kalau partner nonton terkesan sekali dengan bagaimana pemeran utama pria yang chinese itu bisa masuk Islam, jelas karena hidayah Allah, tapi, bukan karena wanita, dia hanya jadi perantara.
Kalau saya? Hahaha...how he said about marriage...it's not about how life would be after marriage, but, it's about whether he or she can drag his or her family to Jannah. How impressive. That's it. Karena memang itu kan tujuan dari apapun yang kita lakukan di dunia ini. Apakah setitik amalan itu akan membawa kita ke surga? Atau malah menjerumuskan kita ke neraka? And marriage is not a piece of cake....it's definitely huge! Iyalah, akad nya saja menjadi perjanjian yang menggetarkan bumi dan langit.
Oke oke, ini nggak bermaksud buat bikin galau tentang pernikahan. Hanya, ini menjadi sebuah pelurusan kembali tentang your intention about marriage. For me, it is.
Yeah, yeah, anyway, semoga bermanfaat :)
Assalamualaikum Beijing!

Selasa, 07 Oktober 2014

My avilla; (seriously) romance?

Bismillah.

Hm, ini novel yang saya selesaikan 2 hari lalu. Novel yang saya beli di al amin karena saya suka penulisnya, ibu lulusan teknik metalurgi UI, Ifa Avianty. Dan karena topiknya cukup menarik, ketuhanan.

And well, novelnya, begitu...

Isi novel menceritakan tentang Margriet, akhwat yang nyaris perfek, punya adik perempuan bernama Trudy yang kompetitif banget. Mereka selalu saling bersaing, hampir dalam hal apapun, termasuk tentang cinta.

Kisah cinta yang membawa mereka pada seorang lelaki bernama Fajar. Huaaa...penyakit low vision nya Fajar bikin saya takut. Dia udah minus 12! Dan itu nggak beda jauh sama minus mata saya T.T

Oke, oke, lalu ada Phil, bule yang falling in love with Margriet, at the first sight, yang membuat Phil mau masuk dan belajar banyak soal Islam.

Tema ketuhanan yang diceritakan dalam novel ini, yang saya tangkap, lebih ke pencarian ketenangan batin. Dalam diri Fajar terutama, yang orangtuanya menikah tetapi berbeda agama.
Yea, yea, so far, lumayan.

Cumaaa, kisah cintanya itu lho...romantis sih, cuma cheesy banget, dan hampir selalu membuat saya ngeskip baca karena bikin 'mual'.
Hahaha ^.^v
Dan, bisa ya segitunya Fajar cinta sama Margriet, dan, Phil juga (cinta ke M).

Perasaan manusia memang mungkin seluas samudera sampai sampai bisa mencintai seseorang sebegitunya.

Hahaha.

Yeah, that's just what I'm thinking about that novel. My personal opinion.

Okelah, selamat membaca buat yang tertarik dengan novel itu.

Bye.

Kamis, 30 Agustus 2012

Cinta di Ujung Sajadah

Bismillah,

Haha. Alhamdulillah, kecepatan bacaku meningkat, gak terlalu menyedihkan. Aku menyelesaikan Cinta di Ujung Sajadah nya Asma Nadia dalam waktu beberapa jam.

Agak ngerasa aneh sebenarnya sama diriku sendiri karena tertarik membeli buku dengan judul seperti “ Cinta di Ujung Sajadah “. Tapi, menurutku not bad lah...lumayan juga meskipun aku pribadi menganggap ini bukan yang nomor satu dari karya-karya sang penulis ^_^v.


Ada Rindu di Mata Peri adalah judul awal novel ini sebelum dicetak ulang oleh penerbit Republika.

Novel ini berkisah tentang seorang Cinta -dideskripsikan oleh tokoh-tokoh lain dalam novel ini dan sang penulis- yang memiliki mata seperti peri. (Jujur, rada gak kebayang mata seperti peri itu seperti apa...aku malah jadi keinget telinga elf nya si Legolas, hehe ^_^v)

Kehidupan Cinta rada-rada Cinderella abis, punya ayah yang agak kesulitan menyampaikan kasih sayang pada anaknya –rada-rada abiku banget, ini mah- yang menjadikan beliau terkesan cuek dan dingin. Beliau menyembunyikan rahasia besar soal ibu Cinta, hingga membuat Cinta bertanya-tanya soal ibu yang dianggapnya sudah meninggal dunia.
Ayah Cinta menikah dengan seorang mantan model yang punya dua orang anak cewek yang dia akui agak-agak bikin frustasi. Oke, di bagian ini yang menurutku Cinderella banget.
Cinta punya mama tiri, dua saudara yang iri banget sama dia yang membuat hidup Cinta rada-rada neraka abis...
Then, dia bertemu dengan tetangga depan rumah as prince charming, Makky Matahari Muhammad yang lumayan mencerahkan hari-hari Cinta.

Makky Matahari Muhammad, lucu juga nama Muhammad nya di belakang, kayak nama adik tingkat yang pernah aku baca. Dan...kenapa aku jadi mikir kalo laki-laki identik dengan matahari, (haha. Jadi inget sama The Moon That Embraces The Sun, hehe ^_^v)

Oke, baca sinopsisnya rada-rada mikir kalo novel ini bakal fokus sama Cinta-Makky. Tapi, ternyata gak (untunglah...).
Novel ini mengekspos kehidupan Cinta yang tanpa ibu. Hingga saat usianya yang ketujuh belas, sebuah fakta yang disembunyikan pembantu Cinta membuat Cinta keluar dari zona nyaman hidupnya.
Yeah, travelling time lagi setelah Tahta Mahameru...
Tapi, kali ini bukan kota-kota asing, tapi, alamat-alamat yang dicantumkan dalam novel jelas aku gak tahu...hehe.
Jakarta-Bandung-Jogja.
Cinta berkeliling kota untuk mencari sosok ibu yang sangat dirindukannya.
Mengharukan. Hampir bikin nangis, karena BGM yang aku denger cukup mendukung juga.