SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2018

Pulang (1)

[Tantangan Fiksi: Deskripsi]

Gadis berkacamata tebal itu terengah-engah begitu sampai di gerbong paling belakang. Beberapa detik kemudian, kereta berpendingin ruangan berangkat. Syukurlah, gadis itu tidak ketinggalan kereta. Apa jadinya kalau ketinggalan? Uang tabungan hasil menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya yang cekak hangus begitu saja? Ia nampaknya tidak bisa menerima hal itu. Bukannya terlalu perhitungan, tapi, membayangkan ketinggalan kereta karena hal remeh saja sudah membuatnya sesak. Untunglah ia masih bisa berlari sekuat tenaga meski diserang kepanikan luar biasa. Ia pun tidak jadi memaki bapak pemeriksa tiket yang menjelang keberangkatan tadi masih sempat-sempatnya berlambat-lambat memeriksa identitasnya. Sungguh terlalu.

Menyusuri beberapa bangku kereta dalam gerbong, ia akhirnya sampai di baris paling belakang pula. Inilah hasilnya membeli tiket kereta pada detik-detik terakhir jadwal keberangkatan. Khas dirinya. Terlalu banyak menimbang dan berpikir, lalu memutuskan cepat, untunglah masih dengan bismillah. Kalau sampai ibunya tahu dirinya memesan tiket sangat mepet waktu seperti ini, sudah pasti dirinya kena omel. Macam anak baru gede saja. Padahal dua tahun lagi usianya seperempat abad. Entah ibu-ibu jaman sekarang memang ribet kalau soal anak perempuan, atau memang dirinya yang tidak dewasa. Ya sudah, mungkin tidak usah cerita masalah hampir ketinggalan kereta ini pada ibunya. Asal sampai rumah dengan selamat, rasanya mengejar kereta setengah mati tidak spesial. Pertama kalinya ia seperti ini, karena biasanya ia manusia sangat penuh persiapan. Tapi, ini pengalaman pertama kali yang tidak buruk.

Akhirnya, gadis dengan barang bawaan hanya sebuah tas punggung itu menemukan nomor kursinya. Ah, teman duduknya seorang pria. Pria muda lebih tepatnya. Menganalisis dari atas hingga ujung kaki, nampaknya pria itu masih usia anak kuliahan. Gayanya sama persis dengan junior-juniornya di kampus. Gadis itu tidak berkeberatan bersebelahan dengan pria sebagai teman duduk hingga ke kota asalnya. Sama sekali bukan masalah. Hanya saja, dirinya lebih bersyukur bila teman duduknya ibu-ibu tua yang ramah. Pria itu tersenyum dan mengangguk sedikit padanya. Dirinya membalas tersenyum lalu mencoba duduk dengan santai.

Meskipun tidak bisa seratus persen santai, karena sesungguhnya ia lebih nyaman dengan kursi yang menempel ke jendela. Sayangnya, pria muda itu sudah nampak nyaman sekali di kursi itu. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan atau ingin bertukar kursi. Biasanya, gadis berkerudung ini akan sangat ketat memilih tiket kereta beserta nomor kursinya. Sangat selektif dan pemilih supaya mendapatkan kursi di sebelah jendela. Tapi, tidak untuk perjalanan kali ini. Semuanya meskipun sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata dieksekusi terlalu cepat. Maka, inilah konsekuensinya, kehilangan momen bisa bersandar di tepian jendela kereta api. Bisa memandangi jalanan penuh warna, mulai dari rumah-rumah penduduk yang berdempetan hingga sawah yang menghijau. Berlebihan? Siapapun yang mengatakan itu mungkin belum menghayati nyamannya duduk di kursi sebelah jendela kereta.

Gadis yang hari ini mengenakan kerudung berwarna biru itu, memilih mendekap tas punggungnya. Tidak seperti teman duduknya yang meletakkan tas di rak atas kepala dan sekarang bisa memainkan gawai dengan dua tangan bebas. Gadis itu tidak iri. Niatnya memang ingin menikmati perjalanan tanpa perlu memainkan gawai. Sekali mengecek gawai, biasanya berakibat candu untuk dirinya. Ia merasa perlu momen untuk menjernihkan pikiran. Perjalanan dengan kereta adalah saat yang tepat. Apalagi bila teman duduknya tak banyak omong. Ah, sungguh sinis dirinya yang tak mau terlibat obrolan.

"Mau kemana mbak?" Pertanyaan yang sungguh standar ditanyakan oleh teman seperjalanan.

"Ke xxx,"

"Oh," Pria itu mengangguk paham.

"Pemberhentian terakhir, ya?" Lanjutnya bertanya.

"Ya. Masnya sendiri mau kemana?" Gadis itu balas bertanya atas nama kesopanan.

"Saya sebelum mbak, turun di stasiun xxx,"

Obrolan pun berlanjut ke hal-hal formal lainnya yang lumrah ditanyakan saat orang asing bertemu dalam sebuah perjalanan dan menjadi teman duduk. Seperti biasa pula, gadis ini dikira masih anak kuliahan, padahal ia sudah lulus lebih dari satu tahun yang lalu. Wajah gadis itu yang memang irit atau penampilannya saja yang terlalu mirip anak kampus? Sepertinya yang kedua. Style gadis itu menjadi ciri khas dan yang dirinya rasa paling nyaman. Berkemeja panjang, ditumpuk jaket, rok denim, kerudung segi empat, dan tidak lupa sneakers yang mendukung diajak berlari kesana kemari. Cukup banyak yang protes dengan penampilannya yang terlalu nyantai ini. Tapi, ia tidak terlalu peduli komentar orang. Toh di pekerjaan pun, pada banyak momen gaya ini lah yang paling mendukung. Meskipun alasan utama style yang ia pakai ini adalah karena super nyaman dan sangat mudah disiapkan.

Tak lama, teman duduknya kembali sibuk dengan gawainya dan menghentikan obrolan. Bukan masalah bagi gadis itu. Ia malah leluasa untuk memikirkan dan merenungi banyak hal. Termasuk soal pulang. Rasanya, pulang ke rumah bukan salah satu prioritas beberapa bulan lalu. Ternyata skenario hidupnya berubah total. Dirinya bisa apa selain menjalani?
Mengapa harus pulang? Ia sendiri berkali-kali bertanya pada hati kecilnya. Tapi, beginilah menjadi wanita. Menurut saja apa kata orangtua. Ia tidak berani lagi melawan, karena diskusi terakhir, ia merasa sangat berdosa akibat terlalu emosional dalam berkata-kata.

Ia pulang untuk menyelesaikan masalah dan mengubah arah impian-impiannya.

~Bersambung~


#OdopBatch5
#OneDayOnePost

Sabtu, 17 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (10) Selesai

Ammar hendak melompat ke dalam air car yang sudah disiapkan penjaga al Muharar yang lain, saat Ribath akhirnya roboh.

"Pergilah!" Ribath masih sempat berteriak dan mengangkat senjata.

Tembakan-tembakannya memperlambat petugas keamanan gedung biru yang mengejar mereka.

Air car yang dinaiki Ammar melesat menjauh, meninggalkan kawasan gedung biru.

Dimana-mana suasana mencekam dan menjadi kacau. Keuntungan bagi Ammar karena ia lebih leluasa melarikan diri.

Dimana-mana orang masih tercekat menyaksikan tayangan dari chip yang disebarkan Ammar.

Mungkin tak lama lagi gedung biru akan penuh diserbu orang-orang.

Ammar melihat ke belakang, ada sekitar dua atau tiga air car yang mengejarnya. Bukan masalah besar.

Masalah besar yang sebenarnya adalah tanpa Ribath, ia hanya bisa keluar dari daerah rezim melalui jalur biasa. Bukan jalur memotong yang mempersingkat waktu.

Ammar hampir keluar daerah perbatasan saat ia tercengang melihat barisan penjaga al Muharar.

Apa-apaan ini?

Dibelakang barisan penjaga, terlihat jelas petinggi-petinggi al Muharar.

Bahkan ketua ada di sana!

Ammar hendak menyusul dan bergabung ke dalam barisan itu, tapi terlambat. Satu lesatan tembakan dari air car di belakang Ammar membuatnya memutar arah dari rombongan dan melaju keluar perbatasan.

Buat apa mereka ini masih mengejarku?

Ammar sebal setengah mati dengan dua air car yang masih berusaha menembakinya.

Mereka ini benar-benar bodoh atau apa?

Ammar merasa dirinya bukan ancaman.

Saat melewati perbatasan, satu air car dengan simbol al Muharar seperti menunggunya.

Ammar berusaha menjajari.

Pengemudi air car al Muharar itu membuka kabin langit-langit dan mengisyaratkan untuk membuka kabin langit-langit milik Ammar.

Cepat.

Air car yang mengejar Ammar tidak nampak.

"Bawa ini dan pergi ke markas besar."

Apa?

Ammar hendak bertanya, tapi tidak ada waktu. Air car yang mengejarnya tadi muncul kembali.

"Pergilah!"

Chip lagi?

Ammar menerima chip yang diberikan padanya dan bergegas pergi.

~~~

Epilog

Ammar akhirnya sampai di markas besar.

Pelukan hangat Hasyim tidak bisa menghilangkan kesedihannya.

Ia bahagia bisa berkumpul kembali dengan Hasyim, satu-satunya keluarga yang ia miliki, tapi kesedihannya memuncak saat mendapati kabar semua petinggi al Muharar yang turun ke daerah rezim hari ini tewas.


Mereka menjadi martir kebengisan rezim yang luar biasa zalim.

"Lalu untuk apa kita hidup, brother?"

Hasyim tersenyum penuh kepedihan.

"Untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita."

Satu titik air mata membasahi pipi Ammar.

Ia bahkan tak menangis saat Hisyam meninggal dunia. Pun saat baba dan ammanya pergi untuk selamanya.

Pundak Ammar terasa berat, tapi binar harapan dari mata bocah-bocah di markas besar yang menyambutnya, seolah mengangkat semua beban itu.

~~~

(Selesai)

#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

Jumat, 16 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (9)

Ammar merasa ini benar-benar misi bunuh diri. Ia kembali ke daerah kekuasaan rezim?

Itu seperti meletakkan kantung penuh darah di depan moncong hiu.

Tetapi, ia percaya bahwa misi yang ditugaskan padanya adalah jalan terbaik.

Maka, Ammar menurut saja saat harus menyamar menggunakan makhluk kloning ciptaan profesor Martin.

Ah, di detik-detik terakhir sebelum zat kloning disuntikkan dan mengubah penampakan fisik dan beberapa DNA Ammar, ia baru menyadari bahwa pria berwajah oriental yang bersama ketua adalah ayah Yuriko.

Yuriko, sekarang dia berada dalam koma panjang. Batang otaknya terkena tembakan laser. Kemalangan profesor Martin tidak sampai disitu saja. Putranya, Eiji, benar tewas saat membantu pelarian pertama Ammar.

"Aku turut berduka, Sir,"

Profesor Martin tersenyum, berusaha tabah.

"Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya." Ujarnya. Kalimat yang membuat Ammar haru.

Saat ini, Ammar menempuh perjalanan menuju daerah rezim. Entah bagaimana rutenya, Ammar hanya mengikuti salah satu penjaga al Muharar yang membersamainya, Ribath. Seperti dirinya, ia juga menggunakan identitas makhluk kloning supaya tidak terdeteksi.

Tidak seberapa lama, keduanya sampai di kawasan gedung biru, pusat pemerintahan rezim. Suasana terasa mencekam bagi Ammar.

Meskipun tegang, Ammar tak perlu waktu lama untuk mencari tempat tujuannya. Ia sangat mengenal tempat ini, karena disini lah sehari-hari tempatnya menjadi agen ganda.

Tak ada masalah apapun saat ia dan Ribath melewati pos-pos pengawasan yang diperketat.

Ammar hanya tersenyum basa-basi bila kebetulan bertemu pandang dengan beberapa pekerja di gedung biru. Hanya satu dua orang. Selebihnya, petugas gedung biru sibuk dengan komunikator masing-masing, bahkan saat sedang berjalan dari satu gedung ke gedung lain.

Memasuki ruang kontrol utama, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. Entah akses milik Ammar sudah dinon-aktifkan atau belum.

"Semoga berhasil, brother." Kata Ribath. Ia hanya menemani Ammar sampai di depan ruangan saja.

"Bismillah." Ucap Ammar.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Saat ini dan seterusnya, ia hanya bisa berpasrah.

Ammar memindai retinanya, lalu pintu panel ruangan terbuka.

Entah ini kebodohan rezim atau apa? Akses miliknya masih berfungsi.

Tidak, Ammar!

Inilah pertolongan Allah.
Ammar masuk ke dalam ruang kontrol utama yang kosong dan mulai menjalankan misinya.

Menyebarkan isi chip dari Hisyam ke seantero dunia.

"Bismillah,"

Ammar meletakkan chip pada sebuah pemindai hologram.

Bersamaan dengan munculnya isi chip pada layar hologram di depan Ammar dan di layar-layar seluruh dunia, suara sirene mengaum.

Suara derap langkah terdengar mendekat.

Ammar menyetel kunci ruangan kontrol utama, lalu bergegas keluar.

Ribath menyambutnya dengan lemparan senjata.

Syut!

Lesatan senjata terarah pada lengan Ribath.

Ammar lalu berlari di depan Ribath menunjukkan jalan keluar.

~~~

(Bersambung)



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Sang Pembawa Pesan (8)

Ammar tak ingat satu per satu siapa saja mereka. Hanya saja, tiga wajah di depannya saat ini sangat familiar bagi Ammar.

Satu orang berwajah oriental, Ammar tahu dahulu kala ia adalah ilmuwan yang sangat disegani.

Satu yang lain berhidung tajam dengan cambang dan janggut lebat. Ammar yakin ia adalah pimpinan penjaga al Muharar. Sejak tadi ia terlihat berusaha tenang, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir. Tentu saja. Ammar pun masih memikirkan Irsyad dan penjaga-penjaga al Muharar yang lain.

Satu wajah sederhana yang sejak tadi nampak tenang, ia dipanggil ketua.

"Terima kasih, nak, chip ini sudah sampai ke tangan kami," kata ketua.

Ammar hanya bisa mengangguk lalu terlihat berpikir.

"Tenang saja, Hasyim sudah berhasil bertemu kami. Sekarang ia melanjutkan perjalanan ke markas besar."

Ke markas besar? Untuk apa jika ketua saja ada di sini?

Ammar keheranan.

"Isi chip ini semakin meyakinkan kami untuk segera berhadapan langsung dengan rezim."

Tidak.

Ammar sontak menyahut dalam hati.

Berhadapan sekarang dengan rezim akan membuat pasukan al Muharar mati sia-sia.

Jumlah mereka tak seberapa banyak. Belum lagi bila banyak yang gugur atau ditangkap akibat penyergapan saat menjemput Ammar tadi.

Ammar pun tak habis pikir, mengapa banyak yang harus dikorbankan untuk membuat dirinya sampai di sini.

"Kami sedikit lagi membutuhkan bantuanmu, anak muda." Kali ini profesor berwajah oriental yang membuka suara.

"Apa yang bisa saya lakukan?" Tanya Ammar.

Pimpinan penjaga al Muharar saling bertukar pandang dengan ketua.

Ammar merasa tak ada lagi bantuan yang bisa ia berikan.

Tugasnya seperti sudah selesai saat ia menyerahkan chip itu pada Hasyim.

Chip yang harus dibayar nyawa oleh Hisyam. Kakaknya itu tewas dua malam setelah memberikan chip itu pada Ammar.

Ammar dan keluarga hanya mendapat kabar, Hisyam meninggal di tempat dalam sebuah kecelakaan air car.

Entah apakah rezim tahu atau tidak, kalau chip itu ada di tangan Ammar.

Hingga Hasyim memberitahukan betapa penting chip itu. Saat Ammar berhasil membuka kode file chip, saat itulah rezim mulai memburunya.

Padahal rekam jejak Ammar sebagai pembawa pesan al Muharar selama ini bersih dan nyaris tidak terdeteksi.

"Kami ingin kau menyebarkan isi chip ini." Kata ketua.

Menyebarkan?

Itu pekerjaan yang sangat mudah.

Saat ia ada di daerah kekuasaan rezim.

Di sini? Semua nyaris primitif, seperti kembali ke abad 21.

"Tidak menyebarkan dari sini, kau harus menyusup ke gedung biru*,"

~~~

(Bersambung)

*gedung biru: semacam the white house di masa itu




#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Sang Pembawa Pesan (7)

Suasana mendadak menjadi hening saat air car yang ditumpangi Ammar berada di bawah todongan senjata.

"Alhamdulillah. Allahu akbar!" Irsyad, yang berada di sebelah Ammar berucap pelan.

Todongan senjata di depannya sama sekali tidak membuat pemuda itu takut. Sebaliknya, ia sedikit lega karena sudah bertemu dengan penjaga al Muharar.

Tetapi, mereka harus cepat.

Beberapa penjaga al Muharar mendekati air car mereka, memaksa mundur petugas yang menodongkan senjata pada Ammar dan Irsyad. Tentu saja. Saat ini petugas-petugas itu kalah jumlah.

"Kalian tidak apa-apa?" Seorang penjaga al Muharar bertanya.

Ammar dan Irsyad mengangguk.

Mereka keluar dari air car dan berjalan mendekati barisan air car milik al Muharar

Syut!

Satu lesatan tembakan terarah ke air car mereka.

Ammar merasakan tarikan pada kerah bajunya. Ia ditarik paksa sedemikian rupa.

Seketika suasana berubah kacau.

Lesatan tembakan dimana-mana.

Air car yang tadi ditumpangi Ammar berkobar dalam api.

Dari kejauhan, Ammar melihat berlusin-lusin air car loreng mendekati mereka.

Ammar melihat Irsyad yang bergerak lincah di balik pepohonan, membawa senjata.

Tidak seperti dirinya.

Ia masih bersama seorang penjaga al Muharar yang wajahnya asing. Menunggu untuk diberikan senjata.

Tetapi, yang muncul di depannya sebuah air car lagi, bersama penjaga al Muharar yang lain.

"Cepat pergi!"

Ammar merasakan tubuhnya didorong masuk air car. Ia tidak bisa mengucap sepatah kata pun.

Air car yang ditumpanginya melesat pergi.

"Saat ini prioritas kami adalah membawamu ke perbatasan."

Kalimat penjaga al Muharar itu menjelaskan.

Ammar hanya bisa tercengang, melihat pemandangan di belakangnya.

Air car al Muharar dan penjaga yang tak seberapa banyak diserbu oleh petugas-petugas berseragam loreng.

"Hanya Allah yang bisa menyelamatkan mereka."

Ammar mengamini perkataan penjaga al Muharar itu.

Sementara, air car yang ditumpangi Ammar menjauhi kegaduhan yang memekakkan telinga dan desingan laser yang terasa menyayat-nyayat hati.

Saat desingan sudah jauh tak terdengar, Ammar memasuki daerah asing, tempat berdiri beberapa tenda beratap mirip kubah.

"Ini markas besar?" Tanya Ammar.

Pemuda di sebelahnya tersenyum.

"Bukan. Ini markas sementara."

"Hasyim ada di sini?" Tiba-tiba Ammar diserang perasaan berharap.

"Tidak. Ia masih menuju markas besar."

Ammar melempar pandangan bertanya.

Air car berhenti di salah satu padang rumput luas.

Saat itu sejumlah orang keluar dari tenda.

Wajah-wajah mereka Ammar kenali karena Hasyim dan Hisyam.

Mereka petinggi-petinggi al Muharar.

~Bersambung~



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Sabtu, 10 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (6)


Air car meliuk-liuk hingga membanting arah ke kiri. Menukik tajam dan membuat Ammar tersadar.

Kepalanya pusing seketika dan ia merasa sangat mual.

Melihat penumpangnya telah sadar, pemuda jangkung dengan cambang lebat berkata pada Ammar, "Kau pasti jago menembak bukan?"

Ammar tergeragap.

Panel senjata tiba-tiba muncul di depan Ammar.

Mau tak mau Ammar berusaha mengendalikannya.

Beberapa kali lesatan tembakannya meleset. Entah kemana.

Ada dua air car yang mengejar mereka.

Di ambang antara sadar dan belum sepenuhnya sadar, Ammar berusaha mengimbangi kecepatan air car dengan bidikan tembakan.

Hingga kemudian air car mereka terguncang dahsyat.

"Kena dua lagi, bersiap untuk jatuh anak muda!"
Kalimatnya penuh semangat dan optimisme.

Padahal maksudnya adalah kalau sampai air car mereka terkena dua kali tembakan lagi, mungkin mereka akan jatuh ke tanah atau meledak. Pilihan pertama rasanya sudah Ammar rasakan berkali-kali.

Syut!

Satu.

Ammar berusaha membidik target di belakang mereka yang mahir sekali bermanuver di udara.

Syut!

Dua.

Air car yang dinaiki Ammar berguncang dahsyat.

Jatuh lagi?

Irsyad. Nama pemuda di samping Ammar. Teman Hasyim, kakak ketiganya. Ia mengubah panel sentuh air car menjadi tipe manual, mirip setir mobil di abad 21.

Air car melayang stabil di udara.

Lesatan tembakan dari arah belakang masih menyerang mereka. Kali ini bidikan Ammar jauh lebih tepat.

Sebuah air car menjajari mereka. Ammar bisa melihat Arkan, teman Hasyim yang lain dibalik kemudi. Sorot matanya terlihat panik.

Terang saja. Di belakang mereka, air car loreng milik pemerintah semakin banyak.

"Dengar, jika kita sampai dijatuhkan lagi, berusahalah sekuat tenaga untuk kabur. Salah satu dari kita berempat harus bisa bertemu penjaga al Muharar." Kata Irsyad.

Ammar mengangguk saja, meski ia merasa ragu. Mata Ammar fokus pada air car yang nyata-nyata semakin banyak.

Ammar mulai kewalahan.

"Sedikit lagi," Irsyad mendesis perlahan.

Syut! Syut!

Dua tembakan sekaligus menghantam kabin atas air car.

Guncangan dahsyat lagi.

Apa maksud Irsyad sedikit lagi? Kita akan kembali ke markas? Rasa-rasanya itu tidak bisa dibenarkan. Jika mereka yang menjadi buron pemerintah sampai terlacak, itu bisa membahayakan semua yang ada di markas besar.

Syut! Syut! Syut!


Air car mulai memasuki hutan semakin dalam. Hutan yang mendung, tapi menenangkan.

Tidak boleh lengah.

Syut! Duar!

Air car terhantam tanah.

Kali ini Ammar masih dalam kondisi sadar.

Air car loreng berduyun-duyun mengelilingi mereka. Seperti predator yang menemukan mangsanya.

Sayangnya, predator itu juga terkepung.

Air car milik penjaga al Muharar tampak berjajar rapi, melindungi.

~Bersambung~



#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangan cerbung

Sang Pembawa Pesan (5)



"Selanjutnya bagaimana?"

Sayup-sayup Ammar mendengar suara orang bercakap-cakap. Bersamaan dengan suara langkah kaki bolak-balik.

"Kita tidak bisa kembali dalam kondisi seperti ini."

"Lalu kita harus kemana?"

"Kalau kita kembali ke markas kita akan membahayakan yang lain-lain."

Diam.

Markas? Tidak.

Betul katanya. Pembawa pesan yang terlacak tidak boleh kembali ke markas.

Ammar merasakan perih dan panas di sekujur tubuhnya. Entah bagaimana kondisi wajah, tangan, dan kakinya.

"Hasyim masih dalam perjalanan ke markas. Sampai kita mendapatkan kabar kalau chip itu sudah sampai dengan selamat, kita harus tetap bersembunyi."

"Lalu bagaimana dengan dua anak ini?"

Dua?

"Kita tunggu mereka sadar."

"Kapan?"

"Tunggu saja."

"Lalu bagaimana dengan mayat yang satu lagi."

Mayat?

Ammar ngeri. Siapa yang mereka maksud?

Ammar sangat ingin membuka mata, tapi sungguh berat. Mata maupun kepalanya.

"Aku tak mengenali anak ini."

"Dia adik Hasyim. Baru bergabung beberapa bulan lalu setelah lulus universitas."

"Bukan. Dia yang satu lagi."

"Ah. Aku pun tak tahu. Tapi, ku rasa dia anak salah satu profesor."

"Profesor teman dekat ketua?"

"Ah, dia yang berhasil mengelabui komunikator itu?"

Ammar mendengar suara gumaman mengiyakan.

"Lima belas menit lagi kita harus berpindah."

"Baiklah."

Ammar tak tahu apakah dalam lima belas menit ia akan tersadar kembali atau tidak.

Kegelapan begitu erat memeluknya. Hingga perlahan ia merasakan kesadarannya menghilang lagi.

"Aku mau hidup kita normal, brother." Kata Ammar setengah berteriak.

"Tidak ada lagi hidup normal di dunia ini, kau tahu?" Suara yang sangat dirindukannya itu tenang, tapi mantap.

Ammar tak berani membalas.

"Pemerintah semakin zalim dan menjadi-jadi. Kau sudah tahu itu."

Ammar sangat tahu kemana arah pembicaraan ini. Hisyam, kakak keduanya ini pasti akan kembali berceramah tentang al Muharar, yang dicap sebagai kelompok pemberontak oleh pemerintah, tapi sesungguhnya menjadi kelompok oposisi yang selalu menentang kesewenang-wenangan rezim saat ini.

Hisyam sudah menjadi anggotanya sejak dia lulus sekolah menengah. Hasyim, kakak ketiganya juga baru-baru ini bergabung.

Anggota al Muharar harus hidup dalam persembunyian. Identitas mereka sebagai warga negara dibekukan.

Akan tetapi, tidak untuk mereka yang dijuluki sang pembawa pesan. Mereka adalah agen ganda yang tetap berkehidupan sosial layaknya warga negara biasa sekaligus menjadi informan dan pelaksana misi al Muharar. Hisyam, menjadi salah satu pengajar di kampusnya dan seorang konsultan. Tetapi, kesibukannya di malam hari sebagai anggota al Muharar lebih menyita perhatian daripada kehidupan normalnya.

"Aku sudah menebak kau pasti akan merekrutku." Ammar menggerutu.

Hisyam perlahan mendekatinya.

"Tentu saja, adikku. Kau adalah aset terbaik yang dimiliki umat ini."

Hisyam mendekatinya lalu memberikan sebuah chip.

"Coba pecahkan kode file dalam chip ini."

Ammar mengangkat alis.

"Ini rahasia yang akan menghapus keraguanmu untuk bergabung dengan al Muharar."

Hisyam beranjak dari duduknya.

"Dan membuatmu berani untuk melawan rezim."

Kegeraman pada rezim sudah menjadi rahasia umum. Tapi, orang-orang hanya geram. Tidak banyak yang berani melakukan perlawanan, karena setiap gerakan oposisi yang muncul, langsung dimusnahkan. Atau yang terang-terangan masih menunjukkan penentangan, dibuat menderita. Siapa yang mau?

Perlahan-lahan Ammar merasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhnya lagi. Sekarang ditambah dengan sesak di dada karena ia kembali teringat Hisyam.

"Cepat angkat dia!"

"Kita sudah hampir terkepung."

Ammar mendengar sayup-sayup suara derap langkah. Bersamaan dengan itu tubuhnya diangkat paksa seperti karung beras.

Suara derungan halus air car muncul diikuti lesatan sinar penembak.

Air car kembali meliuk-liuk di udara.

~Bersambung~


#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Jumat, 09 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (4)

Kalau dalam sepuluh menit dua orang di dalam air car ini tidak memberikan penjelasan, aku akan melompat turun.

Tak lama setelah Ammar membatin kata-kata tersebut, Yuriko terdengar menghela napas panjang.

"Kau tak ingin bertanya apa-apa padaku?"

Ammar melirik keheranan pada gadis di sampingnya.

Banyak.

Terutama ini, kenapa kau hidup kembali?

Yuriko yang dikenal Ammar, dulu di kampus adalah seorang Lavinia. Ia gadis terberani yang diketahui Ammar dan berita terakhir yang terdengar adalah dia tewas saat sedang melakukan pengabdian ke daerah pelosok.

Ammar bukannya mengenal Lavinia secara dekat. Malah sebaliknya, Ammar hanya sekilas saja pernah melihat Lavinia di kampus, itu pun karena Lavinia dekat dengan sahabat Ammar.

"Jadi, kau ini Yuriko atau Lavinia?" Tanya Ammar.

Yuriko tertawa.

Tiba-tiba air car yang mereka naiki tertarik ke daratan.

"Apa-apaan ini?" Yuriko setengah berteriak.

Allah!

Ammar merasakan darah mengalir di pelipisnya. Guncangan yang cukup dahsyat membuat kepalanya terbentur kabin langit-langit air car.

"Eiji!" Yuriko terdengar panik melihat pengemudi air car yang tidak sadarkan diri.

Ammar melihat sekitar. Mereka terkepung.

Ada kira-kira setengah lusin police air car di udara dan banyak petugas di daratan mengelilingi mereka dengan moncong senjata yang siaga.

Sepertinya air car mereka, dilumpuhkan entah bagaimana caranya. Guncangan yang kelewat dahsyat membuat Eiji pingsan, atau mungkin mati? Ammar tidak bisa mengecek.

Beberapa petugas bersenjata mendekat.

"Salah satu dari kita berdua harus lolos." Yuriko mendesis nyaris tak terdengar di tengah kekacauan ini.

Apa?

Ammar berusaha tenang saat petugas menggelandangnya keluar dari air car.

"Ammar Avicena Haq, Yuriko Lavinia Martin, Eiji Caesar Martin, kalian ditangkap atas tuduhan berkomplot dengan kelompok pemberontak dan menyebabkan kekacauan publik." Salah satu petugas memberikan pengumuman lewat pengeras.

Ammar merasakan gelombang panas membelit pergelangan tangannya.

Mereka bertiga digelandang ke masing-masing police air car yang berbeda.

Ammar memutar otak. Teringat perkataan Yuriko tadi.

Ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan dibawa ke benteng fortress* di pusat kota.

Saat air car mulai melaju, Ammar terus berzikir. Matanya memandang sekitar.

Tak berapa lama, Ammar mencoba melumpuhkan salah satu petugas dengan mengangkat kakinya.

"Jangan main-main anak muda!"

Argh!

Pergelangan tangan Ammar seperti terbakar. Aliran listrik menyengat dari alat yang dipasang seperti borgol.

Blar!

Duar!

Ammar merasakan untuk kedua kalinya, air car jatuh ke daratan. Sebelum akhirnya semua gelap.

~Bersambung~

*benteng fortress benteng-benteng semacam rumah tahanan di masa itu



#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

Kamis, 08 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (3)

Sekelebatan wajah itu muncul di salah satu meja pengunjung. Bukan sebagai pengunjung seperti dirinya, melainkan sebagai pramusaji.

Ammar terpaku di kursinya. Hendak bangkit, tapi seperti tertahan.

"Mmm, apa dia salah satu pegawai di sini?" Ammar akhirnya bertanya pada bapak tua penjaga meja konter.

Ammar menunjuk ke arah tujuannya dengan sedikit mengangkat dagu agar tidak terlalu mencurigakan.

Bapak itu kemudian tersenyum.

"Ah, Yuriko?"

Ammar mengangguk saja. Meskipun wajah yang terlihat disana sama sekali berbeda dengan nama yang diketahuinya.

"Apa kau teman lamanya? Mau aku panggilkan jika kalian ingin mengobrol lama?"

Ammar sontak menggeleng.

"Tidak, pak, tidak perlu." Katanya menolak.

"Hm," hanya itu respon dari bapak tua.

"Yuriko memang sering bertemu teman lamanya di tempat ini," Bapak tua itu memberikan penjelasan.

Apa? Teman lama yang mana?

Belum selesai Ammar memikirkan kebingungannya, pintu kedai menjeblak terbuka.

Berbondong-bondong satu kompi pasukan masuk ke dalam rumah kayu. Ammar terkesiap.

"Apa ada pintu belakang di sini?" Tanya Ammar.

Bapak tua itu mengangguk lalu melirik untuk menunjukkan. Ia tampak sangat meyakinkan akan membantu Ammar.

Ammar bergegas, menjaga langkahnya agar tidak menarik perhatian.

Satu kompi pasukan itu menyebar teratur. Tidak merusak ruangan, tapi jelas mencari seseorang.

Ammar.

Tidak aneh kalau dirinya bisa terlacak secepat ini.

Ammar menyusuri lorong kayu sempit dengan jalan agak landai.

"Cepat!" Satu wajah yang tadi sangat membuatnya penasaran sudah ada di ujung jalan tempat keluar lorong ini.

Yuriko!

Ammar berlari. Suara gemuruh langkah-langkah kaki di belakangnya membuatnya bergidik ngeri.

Bagaimana kalau ia tertangkap?

Wajah Yuriko yang kini ada di hadapannya tenang dan meyakinkan.

"Ayo!" Katanya lalu membuka pintu air car yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.

Pengemudinya seorang anak muda yang mirip sekali dengan Yuriko.

Ammar bingung sejenak, tapi kemudian tubuhnya hilang bersama air car yang melesat cepat.

Air car yang ditumpangi Ammar masuk ke dalam hutan. Pengemudi air car ini sungguh sangat terlatih. Meliuk-liuk di tengah hutan, tapi rasanya ranting-ranting pohon pinus yang tinggi tidak tersentuh sama sekali.

Kebingungan Ammar belum selesai. Tapi, ia hanya bisa terdiam.

Yuriko yang baru diketahuinya, terlalu sibuk dengan komunikatornya. Sesekali ia memberikan instruksi pada pengemudi di depannya.

Mereka ini siapa? Kenapa begitu mudahnya aku mempercayainya?

Air car semakin melaju kencang, menghindari para pengejarnya di belakang, menembus hutan yang berkabut tipis-tipis.

~Bersambung~




#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung