Rekomendasi Restoran Ramah Anak di Bandar Lampung

2


Wisata kuliner itu buat saya salah satu hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Nggak cuma sekadar icip-icip, makan selain masakan rumah bisa menambah khazanah dan wawasan. Hahaha. Apalagi saat Ncik (nama panggilan anak saya) sudah lewat usia 12 bulan, saat udah boleh makan seperti yang saya dan suami konsumsi. Ya, asal nggak berlebihan aja.

Nah, berhubung wisata kulinernya nggak cuma dua orang dewasa saja, ada satu hal yang penting banget jadi pertimbangan saat memilih tempat makan.

Yep, adanya baby chair atau high chair atau kursi bayi. Itu jadi pertimbangan banget saat berkunjung di tempat makan atau restoran tertentu. Buat buibu yang tinggal di Bandar Lampung dan sekitarnya, mungkin beberapa check list dari saya berikut ini bisa jadi rekomendasi untuk dikunjungi bersama si kecil.


Plate O

Menu yang disediakan di plate O adalah menu-menu yang disajikan di atas hot plate. Jadi, karena panas pol, harus hati-hati saat makan bersama si kecil. Meskipun di plate O menyediakan baby chair, soal pilihan menu yang ada, saya prefer membawa bekal khusus untuk anak saya.
Lokasi: Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Samwon Express

Kalau mau makan yang ala-ala grill bisa mampir kesini. Tersedia baby chair, tapi saya rada ngeri kalau mau pesen menu yang grill saat bersama si kecil. Kalau kata suami, rasa masakan Koreanya udah sangat Indonesia. Menu yang bisa dimakan bocah juga tersedia.
Lokasi: Mall Bumi Kedaton (MBK) Lantai GF-1, Jalan Teuku Umar, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Nemenin tantenya Ncik nyobain makanan ke-Korea-an


Umme Teppanyaki Chandra Antasari

Mirip-mirip dengan plate O, di Umme Teppanyaki pun beberapa menunya disediakan di atas hot plate dalam kondisi panas. Tapi, tenang, ada menu ala-ala bento yang bisa dimakan si kecil. Letak Umme Teppanyaki di Chandra Antasari ini agak mirip suasana outdoor meskipun letaknya masih di dalam gedung. Jumlah baby chair yang ada saat saya berkunjung seingat saya hanya ada satu.
Lokasi: Inside Chandra Superstore, Jl. P. Antasari No.114, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung

Mie Ayam Koga

Mie ayam legendaris di wilayah Lampung ini menyediakan baby chair. Meskipun nggak banyak, tapi lumayan lah buat kita-kita yang pengen merasakan makan mie hangat-hangat. Nggak cuma menyediakan menu mie saja, menu-menu Chinese food seperti bihun, kwetiauw, capcay, dan sejenisnya juga tersedia. Buibu harap bersabar dan maklum saat menunggu beberapa menu yang disajikan dalam waktu yang sangat lama dan saat ruangan mulai terasa 'sumuk' meskipun ber-AC.
Lokasi: Jl. Teuku Umar No.48, Surabaya, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Uncle K

Lokasinya di dalam Mall Boemi Kedaton (MBK), di dekat pintu masuk yang ada Chatimenya. Meskipun mungkin rada nggak nyaman karena banyak orang lalu-lalang dari pintu masuk, tapi Uncle K menjadi alternatif saat tempat makan di MBK penuh semua. LOL. Lumayan lah pilihan menunya bukan yang melulu pedes.  
Lokasi: Pintu Utama Mall Boemi Kedaton

Bakso Lapangan Tembak Senayan

Seingat saya disini jumlah baby chairnya hanya ada dua atau tiga unit. Tapi, restoran ini menurut saya termasuk yang ramai dikunjungi orangtua yang membawa anak. Ya, kalau nggak kebagian baby chair, si kecil bisa anteng di atas stroller. Yes, the power of the stroller! Menunya standar, variatif, dan memang sangat ramah di lidah keluarga Indonesia.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Kinar Resto

Resto keluarga satu ini memang menyediakan high chair untuk bayi, menunya pun bisa lah dimakan sekeluarga termasuk si kecil. Cuma menurut saya tempatnya yang ada kawasan kolam renang serta tangga yang cukup bahaya buat anak, membuat kita harus benar-benar memperhatikan si kecil apalagi kalau mereka lari-larian di area resto. 
Lokasi:  Jl. H. Agus Salim, Sukadana Ham, Tj. Karang Barat, Kota Bandar Lampung

Shabu Kitchen Onago

Lokasi yang ada di MBK rada nyempil, meskipun nggak terlalu susah untuk dicari. Ikutin aja dari depan Chatime, ke kiri lurus mentok. Kalau lokasi yang di Transmart gampang banget ditemukan. Keduanya sama-sama menyediakan baby chair dalam jumlah yang cukup, karena pas saya kesana alhamdulillah pramusaji nggak yang sampe harus nyari-nyari. Menunya pun kids friendly, meskipun harus selektif pilih tekstur menu yang nggak bikin 'kelolodan' anak bayi. Jangan keliru dengan Shabu Kitchen yang di lantai 1 MBK, bedanya dengan Shabu Kitchen Onago adalah menu yang menurut saya lebih premium alias lebih mahal. LOL. Tapi, sepertinya Shabu Kitchen pun juga menyediakan baby chair.
Lokasi: Ground Floor Mall Boemi Kedaton dan Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Sushi Okage

Pertama kali kesini rada nyari-nyari karena tempatnya lumayan nyempil. Begitu naik eskalator, silakan berbelok kiri ke arah Timezone dan lurus mentok. Tempatnya di ujung dan nggak terlalu luas. Tapi, dapet banget suasana khas Jepang. Baby chairnya pun lucu dari bahan kayu gitu. Ada dua bagian tempat makan, yang ala-ala resto Jepang dengan mesin sushi berputar dan yang biasa aja. Sushi disini enak, apalagi salmonnya, seger.
Lokasi: Lantai 2 Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung

Hokben

Restoran waralaba ala Jepang dengan rasa yang sangat Indonesia ini, baru dibuka September lalu di Bandar Lampung. Meskipun saya belum berkesempatan makan disana, tapi berdasarkan info dari salah satu teman, tersedia baby chair yang jumlahnya masih terbatas, yaitu satu unit saja. Sayang banget kalau mesti rebutan baby chair. Padahal, Hokben ini menyediakan menu khusus anak-anak yang berlabel bebas penyedap.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Yukmain Moms and Kids Playground Cafe

Nah ini resto yang beneran kids friendly. Meskipun tempatnya rada mungil, tapi mengakomodasi mini playground untuk tempat bermain anak-anak. Menu yang disediakan pun sangat disesuaikan, baik bentuknya yang unyu maupun bahan-bahannya yang nggak pake micin. Saya kesini sewaktu ada acara komunitas Lampung Menggendong. Jadi, sembari ibu-ibu mengikuti acara di lantai 2, anak-anak bisa bermain di mini playground.
Lokasi: Jalan Wolter Monginsidi no 102. Dari turunan Hotel Emersia, sebelum Hotel Grand Praba

Rekomendasi ini saya buat berdasarkan kriteria subjektif. Kriteria utama ramah anak menurut saya adalah ketersediaan baby chair dan rasa masakan yang ‘selow’, nggak yang terlalu ‘nyegrak’ banget semisal ditambahkan penguat atau penyedap rasa. Kriteria lainnya, suasana yang saya rasakan saat berkunjung kesana. Nyaman dan mendukung suasana makan atau nggak. Bikin selera makan meningkat atau malah sebaliknya. Semakin scroll tulisan ke bawah, menunjukkan daftar restoran yang semakin oke keramahannya terhadap anak.

Nah, mengapa baby chair sangat penting? Toh kalau anak sudah bisa duduk tegap sendiri, duduk di kursi dewasa pun tidak masalah kan? Hm, menurut saya, meskipun sudah bisa duduk sendiri, kursi makan dewasa tidak cukup ergonomis untuk anak. Entah saat saya lengah atau nggak ngeh, khawatir saja anak 'ngejeblak' atau yang sejenisnya yang tentu tidak saya harapkan.

Buibu ada rekomendasi tempat makan ramah anak yang lain? Yuk, berbagi di kolom komentar, supaya bisa menambah khazanah kuliner saya. >.<

Semoga bermanfaat.



Mencari Inspirasi Menulis di Aura Book and Coffee

8


Beberapa waktu yang lalu, saya minta izin ke suami untuk me time menulis di kafe. Yes, gegayaan banget kan, niruin anak kuliahan yang nongkrong ngerjain skripsi gitu. Pas udahan diizinin, saya yang bingung mau nongkrong dimana. Hanya ada satu dua tempat yang muncul yang bisa jadi tujuan. Salah satu alasan enggak jadinya, karena tempat-tempat itu too pricy untuk pinjam tempat buat buka laptop rada lama (buibu usaha ngirit).

Welcome to Aura Book&Coffee
Alhamdulillah, pas banget dapet ajakan dari foundernya Tapis Blogger, Mba Naqi untuk berkunjung ke Aura Book and Coffee. Denger namanya langsung kesenengan, karena akhirnya nemu juga kafe buku di Lampung.


Sebelumnya, pernah searching-searching kafe buku, tapi nemunya waktu itu di dekat rumah Semarang. Udah tau tempatnya, tapi sayang belum sempat berkunjung.

Seperti namanya, kafe buku ini cocok banget untuk kita yang suka baca buku, sekaligus berlama-lama di kafe. Kalau biasanya kafe identik sebagai tempat hangout dan ngobrol bareng teman, nah, kafe buku ini jadi alternatif. Enggak sekadar ngobrol atau nongkrong, di kafe buku kita bisa nambah ilmu dengan membaca buku.

Meski tempatnya rada jauh dari rumah saya, tapi, Aura Book and Coffee ini recommended untuk dikunjungi. Kalau di zaman saya ada kafe buku macam ini, betah deh saya berkunjung sering-sering. 

Saat berkunjung ke Aura Book and Coffee, pas banget suasana lagi mendung menuju gerimis. Suasananya jadi syahdu banget untuk ndengerin lagu mellow sambil nulis cerita fiksi. Apalagi disini banyak buku berjejer, fiksi maupun non-fiksi, genrenya pun variatif. Jadi, kalau kehabisan ide tulisan bisa banget rehat sejenak cari inspirasi dengan buka-buka buku tersebut.

Enggak perlu khawatir kelaparan, karena disini pun menyediakan menu cemilan, makanan, dan minuman  dengan harga ramah di kantong. Karena judulnya Book and Coffee, ketahuan kan ya, kalau signature minumannya adalah kopi. Bahkan ownernya pun khusus mendatangkan barista untuk mengolah kopi disini, supaya kualitas kopinya enggak kalah dari kafe-kafe sebelah.



Aura Book and Coffee ini jadi kafe buku pertama di Bandar Lampung, sepengetahuan saya. Jadi, buat yang doyan baca buku sekaligus hobi nongkrong sangat patut untuk dijadwalkan berkunjung. Kafe buku Aura buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Pas buat mahasiswa yang mau puas-puasin ngerjain skripsi maupun penulis yang pengen suasana baru untuk ngedraf tulisan, karena tersedia colokan dan full wifi.

Buat yang pengen kongkow bareng teman-teman pun bisa sambil menghirup udara segar daerah Sukarame. Aura Book and Coffe ini di-set 2 lantai. Lantai bawah dengan kursi 2-2 dengan suasana indoor yang tenang dan personal, sedangkan di lantai 2 suasana ruangan terbuka dan asyik untuk ngobrol santai.

Suasana di lantai 1

Pengunjung di lantai 2

Bersama teman-teman Tapis Blogger
Jadi, kapan mau quality time nge-cafe sambil baca buku?


Jl. Pandawa Raya, Harapan Jaya, Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Instagram: @aurabookcoffee


Sumber gambar: Dokumentasi pribadi dan jepretan mbak Desy

Upgrade Size Gendongan: Review Zakkel Baby Carriers Toddler

2

Tidak terasa waktu berlalu. Eh, ternyata sudah lebih dari setahun saya merasakan manfaat gendongan, utamanya gendongan yang saya punyai, Zakkel Baby Carriers. Sebenarnya Ncik sudah mencoba Zakkel size standard sejak usia 5 bulan, tapi saya baru ada rezeki untuk membeli sendiri Zakkel motif dragonstone saat Ncik berusia 6 atau 7 bulan. Mencari motifnya pun penuh liku karena harus chat berkali-kali dari satu Zakkel partners ke partners yang lain. Maklum ya, yang memakai gendongan enggak cuma saya, tapi ayahnya Ncik juga. Jadi, harus sama-sama deal soal motif yang dibeli.

Memasuki usia Ncik 12 atau 13 bulan saya pernah sekali mencoba Zakkel Baby Carriers size toddler, tapi ternyata masih terlalu besar. Cirinya bagaimana? Bisa dilihat dari tubuh Ncik yang masih tenggelam dalam body panel gendongan, bagian kaki yang overspread alias terlalu mengangkang, sehingga bagian bawah body panel gendongan terlipat.

Ngomong-ngomong soal Zakkel size toddler yang saya punyai, sebenarnya saya enggak serajin itu prepare gendongan jauh-jauh hari. Alhamdulillah pada satu kesempatan giveaway yang diadakan oleh Zakkel, Qodarullah saya terpilih mendapatkan hadiah Zakkel size toddler motif ice and fire. Cukup lama gendongan ini tersimpan rapi di lemari, sampai akhirnya, saya ikutkan program travelling wrap* di komunitas Lampung Menggendong.
Zakkel Baby Carriers Toddler motif Ice and Fire

Sekembalinya Zakkel toddler ke rumah di pertengahan bulan Oktober 2018, tentu saya semakin tidak sabar mengujicobakannya untuk menggendong Ncik. Secara anak bayi ini sudah berusia 16 bulan.

Bagaimana rasanya?

Nyaman!

Mungkin karena sudah waktunya upgrade size? Zakkel toddler ini nyaman sekali baik di saya maupun di Ncik. Terasa gendongannya yang memeluk erat, tanpa memberikan efek sesak, dan beban gendong lebih merata, jadi tidak terlalu pegal meski menggendong lama.

Dibandingkan saat memakai size standar, size toddler lebih pas saya pakai sekarang ini.

Ncik pun juga enggak salah tingkah saat di dalam gendongan, karena saat memakai size standard Ncik bingung menempatkan posisi tangannya. Mengenai posisi kaki Ncik saat memakai size standard sebenarnya masih M-shape dan knee to knee. 

Salah satu alasan banyak ibu akhirnya memutuskan upgrade ke size toddler adalah kaki bayi yang sudah tidak knee to knee alias ‘nglewer’ karena sudah semakin panjang. Akibatnya yang menggendong merasakan beban yang terlalu berat karena kaki yang ‘nglewer’ tidak tersupport gendongan.

Meskipun saya juga pernah membaca sharing tentang knee to knee yang tidak terlalu menjadi concern, alias it’s okay meski enggak knee to knee atau M-shape saat usia anak sudah lewat dari 1 tahun. Cuma, ya, itu tadi, menggendong ergonomis kan harus nyaman untuk kedua belah pihak. Mungkin anak jadi enggak nyaman saat kakinya ‘nglewer’ di gendongan standar, mungkin juga yang menggendong pun makin pegel karena beban gendongan yang makin-makin berat apalagi ditambah kaki ‘nglewer’ tersebut.

Ncik in Zakkel Standard with Babywearing Sisters wearing Zakkel Toddler

Secara keseluruhan tidak ada perbedaan yang signifikan antara fitur Zakkel standard dan toddler. Hanya hoodie saja yang polos tanpa motif. Tapi, menurut saya itu tidak jadi masalah.

Malah menurut saya, motif-motif di size toddler lebih catchy dan elegan. Hm, mungkin menyesuaikan sasaran usia pasar.

Kalau membaca dari keterangan fitur dalam deskripsi produk Zakkel toddler, idealnya Zakkel toddler bisa digunakan mulai usia anak 18 bulan dengan tinggi badan 82-85 cm. Tapi, imho, balik lagi ke postur serta kenyamanan penggendong dan yang digendong.

Ada yang masih di bawah usia 12 atau 18 bulan pun merasa lebih nyaman memakai size toddler daripada size standard. Tapi, ada juga yang baru upgrade ke size toddler saat usia sudah 2 tahun. Tidak ada aturan baku kapan waktu untuk upgrade size toddler.

Patokannya lebih ke rasa nyaman saat kita memakai gendongan saja. Kalau amannya insya Allah keduanya sama-sama aman.

Makanya, menurut saya, untuk upgrade size gendongan tidak bisa hanya berpatokan pada usia saja. Lebih baik bila kita mencoba terlebih dahulu gendongan tersebut. Sama lah seperti saat akan membeli gendongan pertama kali.

Saya pribadi merasakan betapa ribetnya beli gendongan lantas tidak cocok, jadi harus ada effort untuk menjual ulang gendongan yang kurang nyaman di saya tersebut, supaya bisa membeli gendongan yang lebih pas.

Kalau saat ini sebenarnya enggak perlu repot saat ingin mencoba gendongan. Jika tertarik, bisa menghubungi komunitas-komunitas menggendong yang ada di kota tempat tinggal ayah-ibu sekalian.

Semoga bermanfaat.

Ncik in Zakkel Toddler
*Travelling Wrap: Meminjamkan gendongan untuk dicoba oleh member atau orang yang terpilih selama beberapa waktu

Ps. Kindly cek akun Instagram @LisanaLibrary bila ayah-ibu tertarik untuk menyewa Zakkel size standard maupun toddler.


Sumber gambar: @ZakkelBabyCarriers dan dokumentasi pribadi

Tengok Spot Instagramable di Bukit Sakura Bandar Lampung

0

Sesungguhnya Lampung itu terkenal dengan wisata airnya yang ciamik. Banyak pantai di Lampung yang bahkan jadi buruan wisatawan asing. Ketemu pantai yang pasirnya putih dan airnya bening biru banget di Lampung itu bukan barang baru. Cuma saya belum berkesempatan nih untuk sekadar mampir ke pantai-pantai tersebut.

Jadi, selama 2 tahun tinggal di Lampung, tempat wisata yang saya kunjungi ya, yang di dalam kota-kota saja.

Kali ini pun, akhirnya berkesempatan mampir ke Bukit Sakura, destinasi wisata dalam kota yang cukup terkenal di Bandar Lampung.

Rute ke sana sebenarnya bisa ngikutin arahan yang ada di deskripsi instagram Bukit Sakura Lampung, cuma karena waktu itu mendadak pergi kesananya, jadinya saya pake gmap yang diarahin lewat jalan yang sama ke arah Puncak Mas.

Emang ya, gmap enggak selamanya benar, karena kebenaran hanya milik Allah Ta'ala. Kesasar dong pake gmap dan nyasarnya itu sampe yang jalannya naik berbukit tinggi-tinggi banget. Padahal pas pulangnya lewat jalan yang ditunjukkin sama tukang parkirnya lebih enakeun, meskipun tetep naik turun gitu, tapi sungguh better daripada jalan saat berangkat.

Nyampe sana sesungguhnya salah timing, karena pas lagi jam 11an terik-teriknya. Itu beneran yang panas banget, jadi agak ogah-ogahan pas mau keliling juga. Tapi, sayang banget kan ya udah perjalanan kesini masa jadinya numpang ngadem doang.



Akhirnya keliling bentar, ngeliat ada arena panahan, pondok-pondokan buat ngadem, dan spot-spot foto bareng bunga sakura kw yang cukup instagramable.

Selain itu ada juga playground untuk anak-anak yang ada macem mandi bola, perosotan, dan sebagainya. Ada juga kandang kelinci mini yang sayangnya tempatnya kurang pas karena kena terik matahari banget. Kasian deh kelinci-kelincinya kayak yang lemes banget kepanasan. Padahal cukup menghibur juga lho kelinci-kelinci itu.


Sepertinya that's all. Saya enggak terlalu lama disana karena kepanasan. Jadi, cuma kurang dari satu jam deh main disana. 

Saya sarankan kalau mau menikmati pilih waktu yang pas. Misal pas masih pagi-pagi banget atau sore sekalian, cari waktu yang pas lagi adem lah. Karena sebenarnya view puncak bukitnya lumayan indah, bisa ngeliat kota Bandar Lampung. Cuma karena saya datang di waktu yang kurang tepat, jadinya enggak menikmati pemandangan tersebut.

Recommended enggak buat bawa bayi dan anak-anak?

Karena saya bawa aliyya pake gendongan, ya, oke-oke aja. Buat keliling better digendong sih. Meski bisa pake stroller, tapi cuma bisa di yang area utama. Kalau turun ke area panahannya kayaknya bakal susah dan pe er banget. Harus diawasi ketat kalau anak aktif kesana kemari, karena banyak undak-undakannya.

Semoga bermanfaat.


Rating tempat: 2/5
Tiket masuk: 10 ribu rupiah per orang dewasa (free teh kemasan)
Parkir mobil: 5 ribu rupiah
Akun instagram: Bukit_Sakura_Lampung

Milad Kedua Tapis Blogger: Bincang Santai Bareng Ale Jenes

12

Setelah sekian lama, akhirnya ikutan lagi event offline kali ini bersama komunitas Tapis Blogger. Dapet info acara dari postingan di closed group Fb Tapis Blogger. Langsung tertarik karena bahas materi yang kekinian banget, yaitu meningkatkan jumlah followers instagram. Pematerinya pun enggak kalah menarik, Ale Jenes


Sekarang nama Ale Jenes mungkin sama terkenalnya seperti akun kuliner instagram yang dikelolanya sendiri yaitu kuliner_lampung. Semua orang yang pengen kepo soal kuliner di Lampung atau sekadar yang sering laper mata kayak saya, pasti rajin deh mantengin akun kuliner satu ini.

Buat awam kayak saya, kuliner_lampung punya nilai plus dibanding akun-akun kuliner instagram lain karena feedsnya enggak melulu makanan cafe. Hal ini juga yang disampaikan Ale dalam bincang santai acara milad Tapis Blogger yang kedua. Postingan Ale tentang makanan-makanan kaki lima yang nyari tempatnya aja harus 'mblusuk-mblusuk' yang malah disukai dan ditunggu-tunggu followersnya.

Saya pribadi merasa cocok ngikutin kuliner_lampung karena statement di deskripsi akunnya, Halal Food Only. Sewaktu saya kroscek di sesi tanya jawab, Ale menjawab dengan tegas bahwa ia selalu memberitahukan pada kliennya bahwa dirinya hanya mau meng-endorse makanan-makanan halal saja. Ia bahkan menjelaskan bahwa makanan halal enggak cuma yang bebas daging babi atau alkohol. Salut banget sama Ale soal yang satu ini.


Balik lagi ke topik meningkatkan followers. Seperti low profilenya Ale saat menjadi pembicara, sesederhana itu pula lah inti materi yang Ale sampaikan di acara milad kedua Tapis Blogger, Ahad (2/09/18) di Papa Tom's Cafe. Dua hal yang saya inget dan terngiang-ngiang di kepala adalah konsisten dan komitmen.

Konsisten untuk nge-post minimal satu postingan sehari dan harus punya komitmen untuk terus nge-post meski lagi jenuh atau lelah.

Buat newbie kayak saya kayaknya sedih banget kalau sudah berusaha rajin nge-post, tapi followersnya segitu-gitu aja. Itu juga dialami Ale yang sekarang followersnya udah lebih dari 220K. Sempat nge-closed akun, hampir menyerah, tapi akhirnya karena emang hatinya sudah into it dengan dunia kuliner, Ale nge-post sedikit demi sedikit sampe sukses seperti sekarang.

Saya terkesan dengan Ale yang mengerjakan job untuk kuliner_lampung sepenuh hati. Ia sendiri menyatakan bahwa kunci akunnya bukan dari foto yang shine bright like a diamond, tapi dari caption yang jujur, tulus, dan memang karena ia ingin orang lain mendapatkan info yang dibutuhkan.

Soal jenuh dan lelah, Ale pun merasakan hal itu. Sewaktu ngedenger bagaimana Ale rasanya udah muak saat harus terus coba dan icip makanan meski udah eneg dan gimana ngatasinnya, jujur saya merasa tertampar. Karena menurut saya, Ale ini selalu punya cara untuk terus komit dengan pekerjaannya. Yah, mungkin karena job ini selaras dengan kesenangan pribadinya. Tapi, ini mengingatkan saya juga bahwa pekerjaan yang sesuai passion pun pasti akan ketemu juga dengan titik jenuh. Buat mengatasinya, tinggal gimana kita bisa terus mencintai job kita itu.

Ale bahkan sampe bela-belain bungkus makanan supaya bisa tetap ngereview makanan yang harus dipostingnya. Kalau lelah dengan keharusan nge-post di instagram, Ale memanfaatkan fitur nge-draft dan nge-schedule postingan.

Tuh kan, selalu ada jalan kalau memang kita sudah menaruh hati di suatu pekerjaan. Insya Allah akan selalu ada jalan keluar.

Founder dan Co-founder Tapis Blogger
Event milad Tapis Blogger ini sebenernya jadi acara Tapis Blogger pertama yang saya ikuti. Meski sudah setahun lebih tinggal di Lampung, tapi baru kali ini berkesempatan menghadiri acara komunitas blogger-blogger Lampung. Maklum saja karena waktu yang lalu saya tinggal nun jauh di kabupaten Lampung Tengah sana, sementara Tapis Blogger berkegiatan di Bandar Lampung.

Alhamdulillah, meski yang pertama dan masih awkward saat bertatap muka dengan blogger-blogger yang lain, saya merasa lewat event ini saya bisa membangun positive vibe terutama untuk semakin produktif merawat blog.
Peserta Milad Kedua Tapis Blogger

Bersama Founder Tapis Blogger Mbak Naqiyyah Syam (Kiri)
Selamat milad yang kedua, Tapis Blogger!

Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!!

2

Tertarik sama buku ini awalnya karena nge-follow penulisnya, Ahmad Gozali di twitter. Twitnya tentang dunia keuangan sering lucu, tapi cerdas dan menohok. Tergambar banget di bukunya, bahasanya ringan, tapi enggak bikin kita gagal paham.

Akhirnya, dibeliin buku ini sama pak suami karena beliau ngerasa saya perlu belajar financial planning. Saya pun menyadari kalau kacau banget ngurusin keuangan keluarga. Kayaknya sih gara-gara di masa single saya terlalu nyantai dan kebanyakan bersenang-senang.

Buat saya yang baru belajar dan sukanya hal yang menyenangkan, buku Habiskan Saja Gajimu ini sangat tepat sasaran. Pak Ahmad Gozali memberikan metode Habiskan untuk mengelola keuangan. Mungkin rada-rada kontroversial ngedengernya. Masa' malah disuruh ngabisin duit sih? Ngajarin boros dong?

Harusnya kan kalau ada duit lebih disisihkan buat nabung, investasi, dan lain sebagainya. Bener banget sih kalau itu. Kita kan hidup enggak cuma di waktu sekarang doang. Apalagi buat saya yang udah ada anak bayik. Harus pinter-pinter mengatur keuangan untuk masa depan.

Selain itu juga keuangan yang rapi juga meminimalisir terjadinya konflik dalam rumah tangga. Sama-sama tau lah, banyak masalah rumah tangga yang muncul salah satu pemantiknya adalah kondisi ekonomi yang gonjang-ganjing. Yang paling sering dikambinghitamkan misal pemasukan bulanan yang kurang. Padahal sebenarnya kalau ditelusuri bukan gara-gara pemasukannya yang kurang, tapi cara mengatur pemasukannya aja yang belum benar.

Buku ini ngasih metode mengatur uang yang cocok dan menyenangkan buat saya, yaitu dihabiskan!

Karena jujur buat saya menyisakan uang itu bikin stres dan kayaknya kok suram gimana gitu. Pun berkali-kali saya ngerasain gagal menyisakan uang, padahal niatnya pengen nabung untuk ini dan itu.




Nah, di buku ini kita diajarin menghabiskan gaji, tapi enggak asal, melainkan dihabiskan di jalan yang benar. Gimana caranya?

Harus baca buku ini secara runut biar kita paham betul harus berbuat apa dan bagaimana.

Sedikit yang bisa saya highlight di buku ini, pemasukan yang ada dihabiskan dengan cara, potong untuk zakat, bayar cicilan utang, dahulukan untuk saving, dan habiskan untuk shopping! Asyik kan? Siapa sih yang enggak suka ngabisin duit buat shopping?

Buku ini berhasil bikin saya mengubah pola pikir untuk enggak melulu bersenang-senang. Eh, bisa sih bersenang-senang, tapi ya, harus kreatif dan enggak malas. Well noted banget.

Buku keuangan yang highly recommended untuk dibaca dan dipraktekkan. Nyesel deh enggak tau buku ini dari jaman single. Kayaknya bisa lebih cepet kaya kalau dari single baca buku beginian. >_<



Meteor Garden 2018: Nostalgia Tak Biasa

4

Balik lagi ke kebiasaan lama, keranjingan nonton drama. Padahal kayaknya udah lama banget enggak lagi hobi maraton nonton drama apapun itu. Karena sejak melahirkan dan 'momong' anak bayi, waktu istirahat sangatlah berharga. Kayaknya kok sia-sia banget kalau malah dipake buat nonton drama.

Eh, tapi, apa daya, mungkin karena sedang jenuh yang memuncak dengan aktivitas dan kewajiban harian yang itu-itu saja, ber-ending cari-cari drama buat ditonton.

Tadinya, sama sekali enggak ngelirik judul Meteor Garden 2018. Tapi, jari-jari berkata lain. Download satu episode berlanjut ke episode-episode berikutnya.


Sebenarnya agak ngerasa aneh gimana gitu ya, nonton drama yang udah diketahui jalan ceritanya kayak mana, di jaman SD, SMA, terus kuliah, eh, sekarang nonton lagi pas udah ada anak bayi.

Tapi, meskipun begitu, rasa aneh itu hilang begitu aja, pas udah nonton episode demi episode. Kayak yang pura-pura enggak tau jalan cerita berikutnya.

Di Meteor Garden 2018 ini kata saya mah edisi gabungan dan dibagus-bagusinnya Meteor Garden 2001, Hana Yori Dango, dan Boys Before Flowers.

Buat yang seneng sama cerita San Chai dan F4 pasti tau lah cerita khas masing-masing negara.

Jujur, Meteor Garden 2018 ini jauh lebih bagus dan logic dari yang sebelum-sebelumnya. Sinematografi kekiniannya mendukung banget untuk bikin mata seger ngelihat latar yang riil seperti yang ada di dunia nyata, tapi tetep keren segala-gala pencahayaan dll. Alur ceritanya pun disesuaikan dengan kekritisan orang-orang masa kini. Kalau saya bilang sih, enggak se-maksa dan se-brutal drama versi lawas. Masih sangat masuk akal lah jalan ceritanya. Meskipun secara garis besar inti cerita cintanya (gadis biasa berjodoh dengan laki-laki super duper kaya) masih krik-krik gimana gitu buat saya.

Komen saya di atas mungkin enggak terlalu representatif. Secara dramanya masih ongoing sampe akhir Agustus nanti. Sedangkan saya baru nonton sampe episode puluhan yang kayaknya baru seperempat cerita.

Nonton drama remake ini bikin saya jadi terbawa masa lalu. Dulu pas jaman nontonin drama ini, saya sedang begini dan begitu. Punya kesibukan x dan y. Punya impian a b c d e. Sekarang di kehidupan saya yang saat ini, jadi teringat itu semua. Terutama bagian betapa masih banyak keinginan yang masih tersimpan dan belum diwujudkan.

Nostalgia itu membangkitkan thrilled feeling yang kayaknya padam beberapa tahun terakhir. Enggak ada sesuatu yang bikin saya sangat excited. Tapi, dengan sedikit nostalgia, saya seperti mendapat pemantik untuk kembali bersemangat!

Lanjut lagi soal dramanya?

Meteor Garden 2018 yang diperankan anak-anak muda usia kurang dari dan 20-an tahun ini buat saya cukup menyenangkan jadi tontonan emak-emak. Meskipun kadang pas nonton banyak komennya. 'Aduh bocah, baru gitu doang! Ntar kalo udah nikah lebih-lebih cobaannya.'  Itu contoh komen nyinyir dari emak baru 1 tahun yang kayaknya sok banget udah tau asam garam kehidupan. LOL

Latar tempat Meteor Garden ini juga oke banget lho. Kalau enggak salah di Shanghai dan itu indah, enggak terlihat kumuh atau gimana gitu ya, padahal yang jadi tempat shooting enggak semuanya tempat mewah. Kalau liat cuplikan di episode selanjutnya, sepertinya juga bakal ada episode-episode di London. Yes, London Great Britain!

Aktor-aktrisnya enggak usah ditanya. Begitulah adanya, dicari yang wajahnya selera anak-anak muda masa kini. Wajah manis dan postur yang cungkring-cungkring (sorry to say. Tak ada maksud untuk nge-bully secara fisik).




Adegan-adegannya meskipun mirip-mirip dengan drama yang lawas, beberapa menurut saya ada yang jadi aneh dan 'wagu' di remake 2018 ini. Tapi, enggak merusak keseluruhan cerita sih.

So, buat temen-temen sebaya saya yang tertarik nonton remake Meteor Garden ini, selamat kembali ke masa lalu, selamat  bernostalgia!



Sumber gambar: Pinterest

How to Survive: Berdua di Rumah dengan Bayi

6

Hal yang jadi beban pikiran saya setelah melahirkan dan enggak lagi di rumah ortu, alias kembali merantau bersama suami adalah saat berduaan di rumah hanya dengan bayi.

Kondisinya adalah suami bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 5 sore hari (seharusnya), tapi jarang banget pulang tenggo. Malah jauh lebih sering pulang malam, sekitar jam 7-an. Di Lampung ini juga saya enggak ada ART, jadi otomatis ngurusin bayi seharian sendiri.

Yes, betapa khawatirnya saya sebelum balik ke Lampung, karena di rumah ortu untuk mandi, makan, sholat, mencuci pakaian bayi, dll, saya bisa bergantian dengan ayah, ibu, atau adik-adik saya.

But, the show must go on.

Awal-awal balik ke Lampung dengan si bayi, shocked banget karena belum nemu ritme yang enak, gimana memenej supaya saya bisa ngapa-ngapain (ngerjain kerjaan rumah dll), tapi bayi tetap ditemani.

Si bayi ini termasuk yang susah-susah gampang. Kadang kalau pas tidur nyenyak dan lama, bisa ditinggal ngapa-ngapain. Tapi, seringnya kalau bayi tidur pulas, either sayanya ikut istirahat atau malah main gadget gegara saya khawatir berisik di dapur. Di awal-awal kelahirannya, si bayi maunya ditemenin terus sama saya. Pun kalau tidur, saya harus stand by, karena si bayi alhamdulillah ASI eksklusif 6 bulan.

Sempat stres karena saya enggak bisa ngapa-ngapain kalau ditinggal pak suami kerja. Sekadar untuk masak pun enggak bisa, jadilah keuangan bocor karena keseringan beli lauk di luar. Soal buang hajat alias untuk bab dan bak pun enggak tenang. Saat sholat juga enggak jauh beda. Penuh rasa khawatir karena anak bayi nangis dan sejenisnya.


Beberapa kali curhat ke temen, mereka ngasih support yang sangat membantu.

Memang ada fasenya si bayi susah banget untuk ditinggal. Harap maklum aja untuk pak suami yang enggak suka makan di luar. Tapi, mau gimana lagi coba kalau istrinya lagi bagi waktu untuk mengurus bayi. Daripada kelaparan kan? Insya Allah over budget karena sering makan di luar atau beli lauk mateng enggak selamanya kok. Nanti juga ada momennya, istri hobi banget cobain resep ini itu sampe enggak lagi keluar budget jajan di luar. Atau pak suami yang sepet liat rumah berantakan? Harap maklum, fase jadi orangtua baru needs sacrifice. Saran saya, jangan terlalu memaksakan keadaan apalagi memaksa istri untuk jadi wonderwoman. Kasihan kalau malah stres. Motherhood is not that easy.

Mendekati dan lepas usia 12 bulan, menurut saya si bayi lebih bisa diajak kerja sama.

Kalau kata temen dan saya sepakat dengannya adalah penting untuk menemukan ritme.

Ya, simpelnya kalau jadwal harian cocok, insya Allah enggak terlalu keteteran meski berdua aja sama bayi. Versi saya yang perlu dibenahi adalah memulai aktivitas lebih pagi.

Cuci piring, masak, mandiin bayi, bersih-bersih diri, dan beberes rumah sudah harus selesai sebelum suami berangkat. Saya tenang ngerjain ini itu karena si bayi ada yang ngejagain, dan selepas ditinggal suami bekerja bisa fokus membersamai si bayi karena ini itu yang harus dikerjain sudah beres. Buat saya salah satu yang bikin stres adalah saat harus ngerjain ini itu, tapi enggak pengen ninggalin si bayi.

Kalau memungkinkan, ditinggalin suami dalam kondisi sudah sarapan, tapi fleksibel aja, bisa juga kita nanti sarapan bersama si bayi.

Kalau soal cuci pakaian dan jemur, biasanya saya mencuci seminggu dua kali. Satu kalinya di weekday, yang satu lagi di weekend. Kalau yang weekend insya Allah enggak masalah karena pas pak suami libur. Tapi, yang weekday ini biasanya saya mencuci malam hari supaya pagi harinya tinggal mengeringkan dan menjemur.

Adanya gendongan, stroller, high chair, box bayi, atau yang sejenisnya sebenarnya sangat membantu. Misalnya saat menjemur pakaian, kalau si bayi enggan ditinggal, bisa kita gendong. Kalau si bayi kalem, tapi harus lihat ada kita, bisa ditaruh di stroller.

Urusan bab dan bak, bersyukur banget saya dapet lungsuran box bayi, jadi saat saya bab, bak, atau mandi sore, saya letakkan di box bersama mainan-mainannya.

Kalau sholat, usahakan saat udah azan, segera ambil air wudhu dan sholat di awal waktu. Selain mengharap banyak keutamaan sholat di awal waktu, misal si bayi sedang tidur, kita dalam kondisi udah sholat saat dia bangun nanti, atau misalnya pas bayi melek atau nangis sekali pun, sholat lebih dulu biar nangisnya enggak tambah parah.

Nah, kalau soal makan, karena saya tipe yang kuat nahan laper. Jadi, saya memilih cari waktu yang tenang untuk makan. Misal pas si bayi tidur pules atau nunggu pak suami pulang nanti. Karena saya juga jarang ngemil, sekalinya pengen, ngemilnya yang berat-berat kayak seblak dan sejenisnya, jadi timing makannya pun lebih enak kalau si bayi lagi bisa ditinggal. Sebenernya enggak baik sih cara saya ini. Silakan diskip dan enggak perlu dicontoh, karena nahan laper itu bisa bikin asam lambung naik, dan busui itu harus banyak makan.

Sharing saya ini enggak selamanya berjalan smooth. Ada kalanya saya jenuh, males, dll. Jadi jadwal dan ritme harian berantakan, terus saya stres sendiri. Ada juga momen yang meskipun sudah disiasati, tapi si bayi tetep nangis pas saya tinggal ngapa-ngapain. Kalau udah gitu, dinikmati dan diikhlaskan saja. Sebisanya.

Mungkin menurut beberapa orang mudah aja ngasih saran, 'Udah nyantai aja,' atau 'Udah enggak usah dibikin stres,' atau kasih komen, 'Lebay, ah, ibu-ibu jaman dulu fine-fine aja hidup berdua kalau ditinggal berdua doang sama anaknya,'

FYI, pressure point tiap orang itu beda-beda. Ada yang kena guncangan dulu baru dia ngerasa stres. Ada juga yang disenggol dikit udah kebawa pikiran terus. Kan enggak mungkin kalau kita nyalahin ujiannya?

Ada ibu X yang punya anak 5, 6, 7, 8, dia terlihat fine enggak stres sama sekali ngurusin semuanya padahal enggak ada ART. Tapi, ada juga ibu Y yang baru punya 1 orang anak, denger anaknya nangis eh, doi ikutan nangis karena bingung harus gimana.

Indeed, kita memang harus berdamai dengan keberagaman.

Fase jadi ibu menurut saya emang challenging banget. Ujian untuk lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih beriman ada semua disini. Eh, tapi ini bukan mau nakut-nakutin loh. 'Ih, emang se-stresful itu ya jd ibu?' Hahaha... enggak juga kok. Cuma kita memang harus menyiapkan mental baja, siap trial and error, belajar terus, dan yang jadi suami, teman, atau keluarga dekat, jadilah support system yang baik.

Memang enggak mudah yang tadinya single bisa ngapain aja terus jadi buibuk yang harus mikir sejuta ide untuk bisa ke kamar mandi. Tapi, insya Allah fase ini akan bisa kita lalui dengan baik. Bahkan mungkin nantinya bakal jadi momen yang kita inget dan kita kangenin.

Kuliner Semarang yang Dirindukan

0

Mudik kemarin alhamdulillah disibukkan dengan silaturrahim ke rumah banyak saudara. Ngerasanya sih lumayan lama mudik lebarannya, tapi ternyata enggak semua yang direncanakan dari Lampung bisa terlaksana.

Salah satu yang gagal total adalah jalan-jalan kulineran!

Beneran gagal karena enggak nemu dong waktunya buat memburu kuliner Semarang yang saya rindukan. Saking padetnya jadwal silaturrahim, pulang ke rumah udah sore atau malem, dan jadi males karena lelah kalau mau kemana-mana lagi.

List di bawah ini saya bikin jauh-jauh hari sebelum mudik. Apa daya... cuma bisa ngeliatin di Instagram aja untuk 'tombo pengen'.

Maklum... kalau masak sendiri belum canggih, jadi enggak berani trial resep di dapur sendiri.

1. Sego Ndeso
Ini sebenarnya mirip-mirip nasi rames gitu. Ada nasi, lauk pauk, kayak mie goreng (yes, karbo ini jadi lauk), gorengan, sayur terong kuah mangut (yang jadi khasnya), dan bintang utamanya adalah disiram sambel pecel. Enak banget deh pokoknya. Kenapa saya nyebutnya sego ndeso? Eng ing eng... karena memang dijualnya di rumah-rumah daerah pedesaan di Semarang. Secara geografis deket kota Semarang, tapi de jure-nya dia di kabupaten Semarang. Biasanya dijual di pagi hari sebagai menu sarapan. Harga seporsinya enggak mahal sama sekali. Jaman saya abege kayaknya dijual < 5 rb rupiah deh.

2. Mie Tek Tek
Yes, kayaknya nama mie tek tek enggak asing jadi kuliner khas di rata-rata daerah Jawa Tengah. Tapi, mie tek tek yang saya rindukan ini yang biasa lewat di depan rumah nenek. Meskipun namanya sama-sama mie tek-tek, tapi beda lho bumbu, jenis mie, dan pelengkapnya. Kalau versi saya, bumbu mienya ini kuat banget rasa bawang putihnya, gurih, dan manis (karena biasanya saya minta ekstra kecap). Mie nya juga bukan yang tebel kayak bakmie Jogja, tapi ringan, panjang, dan lembut. Pelengkapnya cuma kol, kalau mau nambah sate bisa juga sih. Haduh, makin ngeces ini. Sebenernya di Lampung sini juga ada mie tek tek yang mirip kepengenan saya. Tapi, ternyata di bumbunya beda banget karena ketambahan ebi. Enak sih, tapi beda sensasi mie tek-teknya.

Ini Bakmie Jowo bukan Mie Tek Tek karena lebih mewah (pake telor dan suiran ayam) tapi mirip-mirip lah


3. Tahu Gimbal
Kuliner khas Semarang banget yang sangat mudah ditemukan di pusat kota yaitu Simpang Lima. Enggak susah nemuinnya, tapi tricky juga cari yang enak. Kalau saya biasanya beli di mbah saya yang buka warung tahu gimbal. Top markotop lah itu rasa gimbal udang kalau ketemu sama bumbunya.



4. Nasi Ayam
Ini sebenarnya mirip-mirip menu lebaran, karena ada ayam kuah opornya. Tapi, yang jadi khasnya adalah makan beralaskan daun pisang dan bisa nambah lauk sate-satean. Kalau buat saya yang bikin nagih adalah sayur jipan atau sayur labu siamnya. Beuh! 



5. Lunpia
Another signature dish dari Semarang. Ini kepengenan pak suami banget. Tapi, sayang dia belum puas karena kemarin nyobain di Lunpia Express yang kurang enak. Masih penasaran sama Loenpia Cik MeMe yang dulu namanya Lunpia Delight. Mau nyobain di Lunpia Gang Lombok yang terkenal itu tapi jauh banget kesananya. Jujur saya bukan penyuka lunpia, enggak terlalu bersahabat soalnya dengan rasa rebung. Tapi, sejak nikah sama pak suami yang bisa sampe ngidam-ngidam kepengen lunpia, jadi berani nyobain dan ternyata nagih juga. Gurihnya isi lunpia, dicocol saus, terus 'nyeplus' cabe rawit. Mantap!



Udah tergiur dan jadi pengen ke Semarang?

Kalau saya sih harus sabar sampe mudik tahun depan. Hahaha.



Semoga bermanfaat ya. 


Sumber Gambar :
Dokumentasi Pribadi