SOCIAL MEDIA

Sabtu, 14 Agustus 2021

Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia (RSCA) Semarang

Awalnya Rumah Sakit Columbia Asia tidak menjadi rumah sakit yang saya tuju untuk periksa kehamilan maupun melahirkan setelah saya sampai di Semarang.

Periksa-Kehamilan-dan-Melahirkan-di-Rumah-Sakit-Columbia-Asia-Semarang
Suasana lobi di masa pandemi

Sempat sedih karena Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Semarang tidak ada yang di-cover oleh asuransi. Padahal saya lebih memprioritaskan RSIA daripada RS di kondisi pandemi ini.


Selama di Palembang saya sudah merencanakan periksa di rumah sakit tempat dulu saya melahirkan anak pertama. Pun dengan dokter spesialis obgyn-nya saya juga sudah cocok dengan dr. Mira Dewita, Sp.OG. Di usia kandungan 6 dan 7 bulan saya masih periksa kehamilan ke Rumah Sakit Ken Saras, Ungaran.


Begitu dapat lampu hijau untuk menjadwalkan sesar di usia kandungan 37 minggu, saya dan suami mengecek kembali fasilitas rawat inap dan melahirkan di RS Ken Saras yang sesuai dengan kelas asuransi dari kantor suami.


Setelah bertanya ke pihak RS Ken Saras secara langsung dan suami juga ikut kroscek lewat telepon, karena kami sedang LDM, ternyata tidak sesuai harapan.


Setelah menghubungi beberapa rumah sakit di Semarang, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan periksa kehamilan dan melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia (RSCA).


RSCA Rumah Sakit Tipe B

RSCA adalah salah satu rumah sakit tipe B di Semarang. Jadi, kalau ingin menggunakan BPJS, harus mendapatkan rekomendasi dari rumah sakit tipe C terlebih dulu.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Samping lobi dekat farmasi

Saya sudah tahu info ini saat blogwalking dan saat saya meminta rujukan pun saya ditanya memakai asuransi apa. Karena kalau menggunakan BPJS, fasilitas kesehatan (faskes) tingkat 1 tidak bisa langsung merujuk ke RSCA, harus ke RS tipe C dahulu. Alhamdulillah, asuransi yang saya pakai tidak harus seperti itu. Cukup dengan rujukan dari faskes 1 dan saya bisa mendapatkan layanan di RSCA.


Mengenai rumah sakit tipe B dan C ini saya tidak cukup paham. Hanya kalau melihat dari dokter, di rumah sakit tipe B spesialisasi dokternya lebih banyak dan lebih mendalam, alias gelar dokternya lebih panjang.

 

Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Dokter Spesialis Anak di RSCA

Sempat mengobrol dengan salah satu bidan di RSCA, kata beliau, pasien ibu hamil dengan BPJS bisa langsung ditangani (tanpa rujukan, dll) di RSCA apabila sudah bukaan 8 ke atas atau dalam kondisi gawat darurat.


Periksa Kehamilan di RSCA

Melihat jadwal dokter obgyn di RSCA bisa lewat website maupun aplikasi. Saya melakukan booking lewat Whatsapp (nomor WA saya dapat dari website dan instagram). Booking ini juga bisa dilakukan di aplikasi. Pun di Whatsapp juga kalau sudah tersambung dengan CS-nya bisa minta jadwal dokter spesialis yang kita tuju.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Dokter Obgyn (Spesialis Kandungan) di RSCA


Saya periksa dan melahirkan dibantu oleh dr. Nidya Kartika, Sp.OG. Jadwal periksa yang saya ambil di hari kamis pukul 17. Tapi, karena saat itu bulan Ramadhan, jadi diberitahukan oleh CS-nya bahwa jadwal dokternya dimundurkan ke pukul 19.


Setelah booking, datang sesuai jadwal yang diberitahukan, biasanya diminta datang 30 menit sebelumnya. Nanti kita juga akan mendapatkan reminder lewat SMS.


Saya datang ke bagian pendaftaran dengan menyerahkan kartu asuransi dan surat rujukan. Kalau tidak ramai proses pendaftaran tidak lama, tapi kalau ramai, di bagian pendaftaran bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit atau lebih.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Area Poliklinik


Kita akan diarahkan ke bagian poliklinik setelah selesai di bagian pendaftaran. Letak poliklinik satu lantai dengan lobi dan bagian pendaftaran.


Di poli kita akan kembali mengantre untuk ditensi dan cek berat badan, baru kemudian tinggal menunggu dokter.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Lobi Poliklinik RSCA

Pengalaman dengan dr. Nidya, awal pertemuan saya menunggu lama dari jadwal, tapi perawat dan dokter sangat sopan meminta maaf dan memberitahu bahwa ada operasi yang berlangsung lama dari yang diprediksi. Agenda periksa yang berikutnya waktu menunggu masih wajar dan tidak terlalu lama.

     

Melahirkan di RSCA

Dari usia kandungan 36 minggu, dokter memberitahu sudah bisa menjadwalkan sesar di usia kandungan 37 minggu ke atas.


Karena berat badan janin sudah cukup dan kondisi semua baik, saya dan dokter sepakat untuk menjadwalkan sesar di usia kandungan 38 minggu. Jadwal sesar dan bookingnya diatur oleh pihak RSCA. Kita tinggal datang ke IGD sesuai waktu janji dengan dokter.


Saya datang di tanggal yang dijadwalkan sekitar pukul 8 pagi. Di IGD akan dilakukan serangkaian tes, termasuk swab antigen, uji lab, dan lain-lain. Biaya swab antigen ditagihkan di akhir dan tidak di-cover asuransi. 


Setelah pihak IGD mengonfirmasi, ternyata dr. Nidya baru bisa melaksanakan operasi sesar pukul 20. 


Sebenarnya saya masih bisa pulang sebelum menunggu waktu operasi, tapi, daripada bolak-balik keluar masuk rumah sakit, saya dan suami memutuskan dari IGD langsung ke ruang rawat inap (ranap). 


Proses administrasi dan lain-lain dari IGD ke ruang ranap menghabiskan waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam. Alhamdulillah saya masuk ranap sekitar pukul 11 dan mendapat jatah makan siang, meskipun tidak bisa memilih menu.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Menu Makan di RSCA


Fasilitas RSCA Kelas 1

Tipe kelas RSCA tidak seperti rumah sakit tempat saya melahirkan sebelumnya, di sini penyebutan tipe kelasnya dinamakan seperti hotel. Ada premiere, deluxe, superior, two-bedded room, four-bedded room, five-bedded room, dan lain-lain.


Kelas asuransi dari kantor suami yang setara kelas 1 mendapatkan layanan superior. 


Fasilitas yang kami dapatkan, kamar satu orang per ruangan. Ini yang tidak bisa kami dapatkan dengan kelas asuransi di rumah sakit yang sebelumnya, padahal kami memprioritaskan hal ini.


Fasilitas bayi, saya sempat bertanya ke nursery, untuk pakaian bayi selama di rumah sakit disediakan, kita cukup menyiapkan pakaian ketika pulang. Tetapi, kalau kita ingin memakai pakaian sendiri juga boleh saja. Pospak saya menyediakan sendiri dan bisa diserahkan ke bidan saat kita akan masuk ke ruangan operasi. Kendi untuk wadah ari-ari bisa disediakan dari rumah sakit, nanti akan dimasukkan ke tagihan.


Fasilitas tiap kelas berbeda-beda. Jadi, bisa dikonfirmasi kembali ke pihak rumah sakit.


Pengalaman saya, untuk menanyakan hal-hal detail terkait perlengkapan melahirkan dan bayi, bisa langsung ke bagian nursery, karena sewaktu saya tanya ke CS mereka tidak tahu banyak.


Saya sempat sekali kontrol anak saya di RSCA setelah melahirkan sebelum kembali merantau. Di nursery juga menyediakan fasilitas tindik oleh bidan. Jadi, saat itu anak saya kontrol dan imunisasi BCG menggunakan asuransi, sedangkan biaya tindik ditagihkan sendiri.


Soal room-in atau ibu dan bayi dirawat gabung dalam satu ruang rawat inap, bila tidak ada kondisi khusus, bayi akan satu ruangan dengan ibu setelah observasi selesai. Setiap harinya bayi diambil untuk dimandikan sekitar pukul 6 pagi dan diantar ke ruangan ibu kembali sekitar pukul 8. Jadwal mandi sore pukul 3 sore dan dikembalikan sekitar pukul 4. 


Menu makanan selama ranap di RSCA menurut saya spesial. Setiap menjelang siang, kita akan ditanyai mengenai menu yang disediakan di hari itu dan dipersilakan memilih menu yang tersedia untuk disajikan keesokan harinya. Sempat disajikan snack dengan teh di waktu selingan makan, ternyata bisa diganti dengan menu lain, seperti air hangat madu. Menu makan yang disediakan tidak seperti makanan rumah sakit pada umumnya. Malah ke ala-ala resto. Sajiannya menarik dan rasanya enak.



Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Ini Makanan Rumah Sakit


Melahirkan Sesar Kedua

Sejak awal kehamilan, dokter obgyn yang saya temui saat masih di Bandar Lampung sudah menyarankan saya untuk kembali operasi sesar di kehamilan anak kedua ini.


Saya dan suami pun setuju saja karena tidak ingin mengambil resiko. Hal ini juga saya sampaikan ke dr. Nidya, dan beliau pun setuju saja.


Di operasi sesar yang kedua ini, meskipun tetap deg-deg-an, rasanya saya lebih siap mental.


Alhamdulillah operasi sesar berjalan lancar, sesuai jadwal.


Seperti operasi sesar sebelumnya, reaksi yang kurang mengenakkan yang saya rasakan adalah menggigil yang luar biasa.


Saya sampai mengeluh kepada dokter anestesi saking tidak tahannya. Sedih juga karena tidak maksimal Inisiasi Menyusui Dini (IMD) karena efek menggigil tersebut. 


Total lama menginap di RSCA untuk melahirkan 3 malam 4 hari. Masuk ke ranap hari selasa sekitar jam 11, pulang hari jumat sekitar pukul 19. Menunggu agak lama di bagian administrasi saat mengurus kepulangan.


Secara keseluruhan fasilitas dan layanan periksa kehamilan maupun melahirkan di RSCA yang saya dan suami rasakan baik dan memuaskan. Alhamdulillah.


Teman-teman ada cerita apa saat periksa kehamilan dan melahirkan di masa pandemi ini?


Periksa Kehamilan dan Melahirkan di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Alhamdulillah, selamat datang di dunia, Baby

[Baca Selanjutnya...]

Jumat, 11 Juni 2021

Ergobaby Embrace Review: Mencoba Gendongan (Lagi)

Alhamdulillah, punya bayi kedua!

Baby gear yang saya buru lagi-lagi gendongan. Bukan sekadar pengen icip-icip gendongan, kok, tapi memang karena butuh membawa bayi melakukan perjalanan.


Karena anak saya yang kedua akan bepergian di usianya yang kurang lebih satu bulan, jadi gendongan simpel yang bisa dipakai cukup terbatas. Kalau usianya misal empat bulan ke atas, variasi jenis gendongan kebanyakan sudah bisa dipakai.


Gendongan dengan tumpuan satu bahu, seperti jarik dan ring sling tidak saya jadikan opsi, selain karena saya nggak mahir memakainya, rasanya akan cepet pegel. Maka, lagi-lagi saya melirik gendongan ransel (soft structured carrier/SSC).



Baca Tulisan yang Ini: PIKIR DULU SEBELUM BELI GENDONGAN: REVIEW ERGOBABY ADAPT (KW)



Karena masih penasaran dengan ergobaby Adapt yang bisa dipakai dari newborn, saya mengunjungi website ergobaby yang ternyata malah jadi tahu kalau mereka mengeluarkan varian gendongan baru untuk newborn, yaitu ergobaby Embrace. Saya yang termasuk telat tahu karena si Embrace ini sudah diluncurkan sejak 2019.


Segera saya cari tempat yang menyewakan Embrace, dan ternyata ada! Satu tempatnya di Jakarta, satu lagi di Surakarta.


Kenapa tidak membeli?

Karena mahal! Wkwkwk. Wajar, sih, sebenarnya untuk merek sekelas ergobaby. Cuma buat saya, untuk gendongan yang dipakai sampai usia 1 atau 1,5 tahun kayaknya eman alias sayang duit segitu.


Memang keren inovasi ergobaby bikin produk terpisah yang diperuntukan bayi baru lahir. Karena selama ini setahu saya, produk gendongan ergobaby untuk bayi baru lahir masuk ke gendongan hybrid, macam Adapt, Omni.


Oh, ya, produk lokal sebenarnya sudah banyak juga yang mengeluarkan gendongan hybrid (yang bisa digunakan segala usia, pendeknya begitu). Hanya saja setelah membaca spesifikasinya, hybrid yang lokal pun kayaknya baru bisa dipakai newborn dengan berat dan tinggi badan yang sudah agak besar. Dugaan saya begitu setelah melihat juga postingan foto para penggendong yang menggunakan hybrid lokal.



Baca Tulisan yang Ini: BABYWEARING: GENDONG-MENGGENDONG, EMANG PENTING?



Setelah mencoba Embrace, saya merasa memang cocok banget gendongan ini untuk newborn. Di bayi saya yang berat badannya saat itu >3,6 kg, dengan tinggi badan >47 cm nggak tenggelam dan cukup nyaman.


Settingan atau pengaturan, dan pemakaiannya pun simpel. Ini yang saya khawatirkan kalau saya memakai gendongan hybrid yang lain, settingan yang rumit.


Cara pakainya sama dengan memakai soft structured carrier (SSC), hanya perlu menyesuaikan di bagian dudukan bayi (menyesuaikan tinggi bayi) dan bagian shoulder strap yang harus disilang.


Plusnya menggendong M-Shape yang saya tahu harusnya penggendong bisa handsfree alias tangan bebas nggak harus menopang bayi, cuma saat memakai Embrace ini, sayanya saja yang memakai gendongannya terburu-buru seperti tampak di foto, jadi belum bisa handsfree karena tangan saya masih menahan leher bayi yang tidak tertopang kain gendongan. Sebenarnya penggendong bisa handsfree ketika kita membetulkan bagian bawah gendongan tepatnya di pantat bayi (ada panduannya di tutorial) sehingga bayi bisa lebih turun posisinya dan punggung serta lehernya akan tertopang gendongan. 





Tutorial pemakaian Embrace bisa dilihat di official Youtubenya ergobaby.

Foto-foto yang lebih ciamik juga bisa dilihat di instagram Babywearing Consultant, Mommy Golda (@mommygolda).


Bahan kain Embrace ini tipe yang lentur, mungkin mirip-mirip stretchy wrap (dugaan saya lagi, karena saya belum pernah coba SW). Karena bahan kainnya begitu, si Embrace ini enteng dan nggak makan tempat saat dilipat.





Pemasangan bagian lengan gendongan (shoulder strap) Embrace berdasarkan tutorial harus di X strap di belakang punggung yang agak bikin saya bingung. Maklum, sebagai pengguna setia SSC sangat dimanjakan dengan kemudahan memasang bagian shoulder strap yang tinggal dicangklong saja. Awalnya saya harus dibantu suami untuk memasang X strapnya, tapi lama-lama hafal sendiri gimana polanya supaya tidak kerepotan. Dan lengan gendongannya cukup panjang, mirip meh dai, tapi nggak sepanjang meh dai sepertinya.



Bagian waistpad dilipat dua kali sebelum dipakai karena TB bayi saya <58,4cm

 







Di bagian pundak kain gendongan juga bisa di-spread (dilebarkan) supaya penggendong makin nyaman (ini yang disarankan di tutorial), tapi saat saya terapkan, kok malah rasanya posisi menggendong makin melorot yang bisa jadi karena settingan gendongan yang kurang sip.


Kabarnya Embrace juga bisa digunakan facing out alias hadap depan, tapi untuk bayi dengan tinggi badan lebih dari 66 cm atau sekitar 5-6 bulan. Cuma kok saya agak ngeri karena lenturnya si Embrace ini.


Overall, Embrace memang oke untuk newborn, buibu pecinta ke-simpel-an ketika menggendong, dan mungkin juga pecinta SSC garis keras. Harganya yang hampir 2 juta rupiah juga sepadan dengan fungsi yang dijanjikan.


Siapa yang sudah nyoba ergobaby Embrace juga?

Foto iklan ergobaby yang sungguh menarik
[Baca Selanjutnya...]

Kamis, 07 Januari 2021

Bandar Jaya Lampung Tengah: Sekelumit Cerita Merantau

Mendekati akhir 2016, saya memulai pengalaman merantau bersama suami ke Bandar Jaya, salah satu kabupaten di Lampung Tengah.

Tiba di bandara malam hari, tadinya mau mampir ke rumah makan atau minimarket dulu, tapi batal karena sudah lumayan malam dan bapak taksi ngerasa susah nyari tempat yang aman untuk mampir.


Memang isu soal aman nggak aman ini nih yang jadi beban pikiran di awal sebelum memutuskan ikut merantau, karena berita-berita soal Lampung yang terkenal dengan begalnya.


Suasana di depan lingkungan rumah
Dokumen pribadi

Suasana Jadul

Entah karena bentuk bangunan, atau tata kotanya, hawa di Bandar Jaya itu so old dan jadul. Pernah jalan-jalan ke perkampungannya, banyak bangunan dan rumah yang telantar. Padahal dari segi bangunan sebenarnya masih bagus, tapi karena tidak terurus dan terawat jadi menimbulkan kesan begitu.


Kuliner

Makanan di Bandar Jaya didominasi masakan Jawa. Nggak susah menemukan soto, pecel, sate, dan lain-lain, yang rasanya cocok di lidah Jawa saya.


Nasi Urap

Ini salah satu menu sarapan khas yang saya favoritkan selama di Bandar Jaya. Harganya pun murah meriah. Kalau beli di mbak yang tiap pagi lewat di depan rumah dan jualan sayur, sebungkus nasi urap harganya 3 ribu rupiah. Isiannya nasi, urap sayur, tempe atau tahu bacem, sambal, dan ikan asin.


Kurang lebih begini penampakan nasi urapnya
Credit to: cendananews(dot)com

Mie Tek-tek

Rezeki banget bisa ketemu mie tek-tek enak yang lewat malem-malem di depan rumah. Meski katanya Lampung kurang aman, tapi bapak penjual mie tek-tek ini keliling dengan sepedanya. Rasa mie tek-teknya belum saya temukan yang lebih enak.

Bumbu mie tek-teknya ada rasa ebi yang kuat. Mie yang dipake mie basah yang tipis. Harganya cuma 10 ribu rupiah dan itu udah ada campuran telur dan suwiran ayam tipis-tipis. Begitu saya pindah ke Bandar Lampung, saya nggak nemu mie tek-tek yang seenak, tapi seringan itu rasanya. (Duh, sayang fotonya ada di hape lama yang nggak ter-backup).


(Kayaknya bakalan panjang postingan tentang kuliner, tapi dua itu aja yang tidak terlupakan).


Bandar Jaya Sebagai Pusat Perekonomian

Suami saya ditempatkan di kabupaten yang jadi pusat perekonomian Lampung Tengah. Ini terlihat dari banyaknya kantor cabang bank maupun instansi lain di sepanjang jalan lintas Sumatera di Bandar Jaya ini. Saya memang belum pernah jalan-jalan ke daerah lain di Lampung Tengah, tapi menurut cerita suami, Bandar Jaya termasuk daerah yang paling ramai. Sayangnya, meski jadi daerah andalan, masalah banyak jalan yang rusak masih harus dibenahi.


Kejadian Tidak Terlupakan

Banyak sebenarnya kenangan di Bandar Jaya. Karena di sana saya menjalani tahun pertama sebagai seorang ibu yang mengurus bayi tanpa bantuan keluarga dekat. Harus struggling supaya nggak bosan, nggak malu untuk sksd supaya dapet temen, wkwkwkwk. Cari tempat untuk sewa alat per-bayi-an pun harus ke Bandar Lampung, dua jam perjalanan sebelum ada tol. Setelah ada tol perjalanan ke Bandar Jaya cuma 45 menit saja.


Kejadian yang membekas di ingatan tentu saja soal keamanan. Hahahaha. Hampir kemalingan dua kali. Alhamdulillah Allah masih jaga dan beri perlindungan. Menyaksikan tetangga yang habis kemalingan sampai raib motor, padahal ada dua tetangga lain di perumahan yang profesinya polisi.


Glompong tahun 2018. Salah satu tempat yang menyediakan tempat bermain anak dan kulineran. 
Dokumen pribadi

Alhamdulillah bersyukur bisa merasakan merantau dan tinggal di Bandar Jaya dalam separuh pengalaman tinggal di Lampung.


Teman-teman ada yang pernah tinggal atau jalan-jalan ke Bandar Jaya?

[Baca Selanjutnya...]

Senin, 01 Juni 2020

Ulasan Webinar: Menimbang Homeschooling Cocok Nggak Ya?

Memasuki usia 3 Tahun Aliyya, satu yang sering didiskusikan dengan suami adalah soal sekolah.


Salah satu opsinya adalah Homeschooling.


Sudah beberapa kali main ke websitenya Rumah Inspirasi yang ciamik membahas proyek keluarga, tumbuh kembang anak, dan serba serbi Homeschooling, pas ikutan webinar yang diisi oleh Mas Aar dan Mbak Lala (empunya Rumah Inspirasi) merasa mereka adalah orang tua yang asik!


Meskipun sekarang Homeschooling (HS) bukan sesuatu yang baru, tapi spontan kagum pas tahu beliau berdua adalah orang tua HS dari ketiga orang anak yang berusia 19, 16, dan 11 tahun.


Mas Aar dan Mbak Lala mengawali webinar dengan menyampaikan bahwa kondisi pandemi begini nggak lantas membuat mereka yang HS lebih mudah kondisinya. Mungkin banyak yang mikir, ‘Ah, yang HS, mah, udah biasa kalau harus disuruh belajar di rumah’. 


Ternyata, kondisi saat ini juga menyulitkan kegiatan anak-anak HS. Mas Aar mencontohkan anak ketiganya yang salah satu kegiatan HS nya adalah basket, jadi tidak bisa melaksanakan seperti dulu.


FYI, webinar ini berlangsung selama hampir 3 jam dan tidak membosankan sama sekali. 


Materinya sangat menyeluruh mulai dari membahas legalitas, proses belajar, filosofi, kelebihan, kekurangan, tantangan, dll, yang sebenarnya padat dan berat untuk bahasan A to Z Homeschooling dalam waktu yang terbatas.


Rangkuman saya pun juga hanya mengandalkan ingatan dan sedikit notes akan poin yang menurut saya ngena.


Menimbang-HS-Cocok-Nggak-Ya


Memulai HS itu berangkat dari visi keluarga.


Ketika punya anak, apa sih yang kita sebagai orang tua inginkan untuk bekal mereka di masa depan agar bisa survive? Atau mbak Lala membahasakannya, menjalani takdir terbaik mereka.


Nampol banget, kan untuk refleksi diri sendiri sebagai orang tua?


Ketika memulai HS, kita mulai dari nol dan berangkat dari pertanyaan, apa yang dibutuhkan anak kita?


Ketika kita sudah tahu jawabannya, itu yang menjadi dasar untuk mencari tools (kurikulum, metode, media, dll) yang bisa disesuaikan dengan kondisi dan kecocokan dengan anak. Kita yang memilih tools apa yang efektif bagi anak.


Nah, bedanya menyekolahkan anak dengan HS adalah sekolah menyediakan seperangkat ilmu yang sudah dipaket-paket, diukur, dan diseragamkan. Kita sebagai orang tua menyerahkan anak pada sistem tersebut. Sementara HS, orang tua yang menjadi kepala sekolah dan membimbing anak untuk mendapatkan ilmu. 


Pemateri menekankan bahwa HS bukan memindahkan sekolah ke rumah. Tetapi, HS menempatkan orang tua bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan anak.


Dari keluarga pemateri saya belajar istilah pembelajar mandiri.


Meskipun suami saya yang nggak ikutan webinar ini langsung bisa menyimpulkan bahwa itulah inti HS, membimbing anak untuk bisa menjadi seorang pembelajar yang mandiri.


Mas Aar mencontohkan anak yang secara alamiah bisa berjalan, berbicara, dan lain-lain.


Jadi, di satu titik, anak akan bisa melakukan semuanya sendiri. Asalkan...


Pemateri memasukkan sebuah filosofi yang mereka pegang bahwa anak bukan kertas kosong. Anak adalah seorang individu. Tugas kita sebagai orang tua yang diamanahi anak tersebut adalah memberikan stimulus untuk mengarahkan tumbuh kembang, serta bakat dan minatnya, agar anak bisa menjadi manusia seutuhnya.


Saya menangkap dari pemateri bahwa sistem pendidikan formal di Indonesia cenderung akan menjadikan anak sebagai satu jenis individu yang sama, kontras dengan fakta bahwa anak adalah individu yang unik.


Modal penting untuk memulai HS adalah orang tua yang mau belajar. Pemateri juga mendorong orang tua agar banyak membaca karena ini yang menjadi bekal dalam perjalanan HS.


HS dilaksanakan atas dasar otonomi keluarga, kreatifitas, dan kebebasan.


Apa yang dipelajari di rumah, bebas. Apa kurikulum yang dipakai, juga bebas. Tanpa kurikulum, juga sah-sah saja. 


Aktivitas teknis di keluarga pemateri yang dicontohkan adalah jadwal setiap minggu malam untuk berkumpul dan membahas apa yang ingin anak-anak mereka pelajari selama sepekan ke depan.


Komunikasi adalah salah satu yang penting dalam menjalani HS. Maka, ngobrol dan sering bertanya pada anak, menjadi sesuatu yang harus dibiasakan. 


Fokus pendidikan di HS pada tahun-tahun pertama adalah practical life skill*, baru berikutnya ke ilmu-ilmu yang sifatnya akademis, atau yang sesuai dengan minat anak.


Berangkat dari memahirkan practical life skill, saya merasa anak dilatih menjadi pribadi yang mau dan berani melakukan segala sesuatu secara mandiri. Di fase ini kemandirian menjadi prioritas untuk menjadi pondasi di fase-fase belajar selanjutnya.


Ketika anak berlatih mandiri, lalu mendapatkan pendampingan yang baik dari orang tua, akan menjadikan anak yang pada dasarnya punya rasa ingin tahu yang besar, terjaga semangatnya untuk terus ingin belajar. 


Misal, anak tertarik fenomena hujan, gunung meletus, atau apa lah. Berarti proyek itu yang akan dijadikan bahan belajar. Ketertarikan itu muncul dari diri anak sendiri. Praktik proyeknya mungkin bisa dibantu orang tua atau bisa juga mereka ingin melakukannya sendiri. Ini bayangan saya dari apa yang mas Aar sampaikan.


Nah, untuk anak usia dini, saya dapatkan poinnya di akhir tanya jawab, bahwa anak usia tersebut masih banyak bermain. Proses belajar hanya sekitar 30 menit. Selebihnya, main, main, dan main! Di sini saya merasa orang tua anak usia dini harus luar biasa kreatif dan ulet, supaya bermain tetap menjadi stimulus belajar.


Saya baru tahu juga kalau di HS nggak harus selalu orang tua yang menjadi guru bagi anak, karena poinnya adalah orang tua sebagai pemegang kendali dan arah. Jadi, nggak selalu harus turun ke teknis, meskipun itu disesuaikan dengan value pendidikan yang dibawa masing-masing keluarga.


Mas Aar mencontohkan di keluarga mereka, anak bungsu yang minat dengan catur, dibimbing oleh guru yang ahli catur.


Despite HS yang membuat kita bebas menentukan pendidikan seperti apa untuk anak, menantangnya HS adalah usaha yang lebih dari orang tua untuk mau banyak baca dan belajar.


Jujur bagi saya pribadi, untuk menentukan kurikulum atau tidak pakai sama sekali dan segala teknis yang akan dipelajari saking bebasnya dan harus digali sendiri oleh orang tua adalah hal yang sangat menantang.


Kalau sebagai orang tua tidak siap dengan proses belajar dan segala kerepotannya, misal harus pilah pilih kurikulum atau tools apa yang akan diterapkan pada anak, daripada stres, lebih baik serahkan pendidikan anak ke sekolah. Karena sekolah pun bukan pilihan yang buruk. Begitu yang dituturkan mbak Lala. 


HS atau sekolah adalah salah satu dari sekian banyak pilihan-pilihan dalam hidup dan HS adalah alternatif pendidikan yang legal di Indonesia. Hanya Jerman, negara yang tidak mengakui Homeschooling atau Home Based Education.


Selain banyak belajar dan membaca, kepekaan orang tua juga penting untuk mengenali minat anak dan apa yang ingin dikembangkan. Kenapa minat ini penting? Sebab anak pada dasarnya akan mudah belajar ketika ia butuh dan ia suka (minat). Satu tantangan teknis bagi orang tua, agar ilmu atau value yang ingin kita tanamkan ke anak menjadi sesuatu yang ia butuhkan sekaligus ia sukai.


Investasi terbesar untuk menyekolahkan anak adalah uang. Bener, nggak? Sementara untuk HS yang penting adalah waktu.


Orang tua harus mau meluangkan waktunya untuk belajar, memikirkan dari nol mau dibawa ke mana pendidikan anak-anak, banyak baca untuk referensi, dan lain-lain. Effortnya memang luar biasa ketimbang menyekolahkan anak yang tinggal bayar dan maunya terima beres. Satu yang jelas, akan beda output anak yang sekolah formal dan anak HS.


Saat menjalani hari-hari HS pun, orang tua harus pintar-pintar mengatur waktu supaya tidak keteteran mengerjakan tanggung jawab sebagai ayah dan ibu, sekaligus guru bagi anak.


Terus gimana, dong, kalau kita sebagai ortu masih kacau dalam manajemen waktu atau harus bekerja di luar rumah yang tidak fleksibel waktunya?


Saya mengutip dari sharing bersama praktisi HS lain, bahwa HS adalah proses juga bagi orang tua. Proses belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik termasuk soal mengatur prioritas menggunakan waktu.


Soal orang tua yang bekerja, ternyata nggak masalah, selama masalah manajemen waktu bisa diatasi. Atau opsi lainnya adalah mendelegasikan pengawasan pada orang lain, tapi, yang mengatur ini itunya sebagai kepala sekolah tetap orang tua. Ini dicontohkan oleh pemateri, ada praktisi HS yang kedua orang tua bekerja, anak menjalani HS dengan pengawasan kakek-neneknya.


Pilih Homeschooling atau Tidak

Sampai selesai mengikuti Webinar, saya terbakar semangat untuk bisa melaksanakan Homeschooling. Tapi, HS atau tidak harus dipikirkan matang-matang, karena ini keputusan besar. Meskipun bisa-bisa saja ketika anak sudah sekolah formal, lalu tiba-tiba di HS-kan, atau sebaliknya. Ini dijelaskan detil oleh pemateri. Saya pribadi menganggap ketika sudah memutuskan untuk HS harus total dan sadar sepenuhnya untuk melaksanakan hal itu. Bukan karena semangat yang angot-angotan. Wajar ketika semangat turun, hinggak kita burnout, solusinya adalah break sampai kita bisa refresh kembali. Tapi, kalau dengan break semangat kita nggak naik lagi, mungkin ada yang salah dengan proses HS yang dilakukan, entah visi awal, atau HS is not the way, atau yang lain. Makanya, di akhir materi pun, pemateri menjadikan ini sebuah bahasan serius yang bahkan harus didukung sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk-Nya. Yes, nggak cuma nikah doang yang diiringi sholat isikhoroh.   


Semoga bermanfaat.



Menimbang-HS-Cocok-Nggak-Ya-2


*Practical Life Skill: Area keterampilan hidup. Kegiatan praktis yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Area utamanya adalah menjaga diri sendiri, menjaga lingkungan, mengembangkan relasi/tata krama, kontrol akan gerakan. (Blog Anggraeni).
[Baca Selanjutnya...]

Kamis, 21 Mei 2020

Menikah Hanya Soal Waktu

Kalau melempar pertanyaan, ‘Apa, sih, tujuan menikah?’ 

Mungkin jawabannya bisa macam-macam. Ada yang menikah karena tuntutan orang tua, mungkin usia yang tidak lagi muda, merasa fase hidupnya belum lengkap tanpa menikah, karena merasa butuh dicintai, menikah sebagai sarana beribadah, de el el, de el el.


Tujuan atau motif yang kita miliki akan menentukan kelangsungan ikhtiar yang kita jalani. Makin besar atau kuat tujuannya, bikin makin tidak mudah menyerah. Ibarat amal yang balasannya surga, jalan menempuhnya pasti nggak mudah, kan?


Ambil satu contoh tujuan menikah adalah untuk ibadah. Btw, saat menjomlo juga nggak lepas dari kewajiban beribadah, kan?


So, fine-fine, aja dong kalau belum menikah asalkan tetap beribadah?


Selama kita berada dalam ketaatan dan terus beribadah kepada Allah, kondisi jomlo atau menikah harusnya nggak menjadi masalah.



Menikah-Hanya-Soal-Waktu


Tapi, tahu nggak, sih?


Keluarga muslim adalah tiang dalam peradaban Islam. Kuat, utuh, atau tercerai berainya masyarakat dipengaruhi oleh kondisi keluarga.


Kalau kita merasa resah dengan kondisi negara ini. Kok gini banget, sih, kejahatan merajalela, keadaan kacau balau, dan lain-lain.


Tekadkan minta pada Allah, inginnya kita menikah karena ingin menjadi bagian perbaikan masyarakat. Jadi, nikah nggak untuk kebaikan pribadi doang. Tapi, ada tujuan yang lebih besar yang ingin kita capai, yaitu menjadi batu bata pembangun peradaban. 


Semua Pasti Diuji

Nah, dalam perjalanan mencapai tujuan pasti ada ujiannya masing-masing.


Mungkin yang masih dalam masa mencari atau menunggu kadang merasa galau dengan proses yang… kok lama… kok tidak ketemu-ketemu, ya, dengan jodohku?


Semua orang pasti berproses. Supaya kita bisa menikmati proses milik kita, salah satu tips yang dinukil dari vlog pernikahannya mbak Syamsa Hawa adalah hentikan melihat kanan kiri. Stop mikir, 'Enak, ya, ukhti A, taarufnya cepet, bla, bla, bla. Sekali masuk proposal langsung jadi, dll'. Itu bikin kita buta dan nggak bisa mensyukuri proses diri sendiri. Kita cuma melihat yang orang lain alami dari sisi depan, kita nggak tahu sisi-sisi lain atau ujian yang mereka alami. 


Fokus aja, deh, dengan proses sendiri, tanpa membanding-bandingkan, insya Allah itu bisa bikin hati lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Hasil hati yang tenang dan pikiran yang jernih, kita akan mudah berbaik sangka sama Allah. Menikmati proses dan terus upgrade diri. Karena status single atau menikah sama sama hamba Allah yang punya kewajiban beribadah. Nggak mau kan, ratapan-ratapan karena tidak kunjung menikah malah mengurangi peluang beribadah?


Apa yang Kita Minta?

Udah tinggal count down hitungan hari saja sebelum Ramadan meninggalkan kita. Tapi, masih ada kesempatan merayu Allah di hari-hari terakhir Ramadan ini. 


Nggak cuma soal menikah, sih. Kan, masalah nggak cuma dimiliki jomlo aja. Kita masing-masing punya masalah dan keinginan.


Tapi, yang lebih penting dari terwujudnya keinginan kita, adalah ampunan.


Ketika ampunan Allah sudah didapat, rasa-rasanya urusan lain sudah beres.


Bukan berarti jadi nggak punya masalah atau ujian apapun. Tapi, lebih ke sikap mental yang siap menghadapi semuanya.


Nikah bulan depan, hayuk. Masih harus menunggu juga nggak masalah. Karena jodoh sudah Allah tentukan. Tinggal masalah waktu aja, nih, dan balik lagi ke kitanya? Mau apa dengan waktu itu? Mengeluh dan terus bertanya, atau mau jadi produktif dan memaksimalkan ibadah?


Mengutip lagi dari vlog mbak Syamsa, sikap mudah bersyukur ini penting banget dilestarikan sejak dini. Kalau saat jomlonya mudah mengeluh, susah bersyukur, bukan ngedo'ain, tapi diprediksi akan lebih susah lagi untuk bersyukur saat sudah menikah. Karena kehidupan pernikahan jauh lebih kompleks dan jauh lebih banyak masalah daripada saat kita single. Kalau saat jomlo menjadikan bersyukur sebagai kebiasaan yang mudah dimunculkan, saat menikah insya Allah apapun up and downnya enteng aja, ngadepinnya. Mungkin faktor ini juga yang Allah jadikan ujian. Allah melihat, wah, hambaKu ini ngeluh mulu, apa kabar kalau nanti nikah. Jangan-jangan kalau dikasih rumah tangga malah jauh sama Aku (Allah) karena susah banget untuk bersyukur. 


Misal dijembrengin, what must do dan what can do sebagi jomlo, betapa banyak yang bisa dilakukan. Rasanya jomlo itu sibuk dan nggak ada waktu untuk jadi bahan bully-an atau merasa tertekan dengan pertanyaan ‘Kapan Nikah?’.


Allahu a’lam.




Referensi:
Vlog Pernikahan Syamsa Hawa
Kajian Ustadz Nuzul Dzikri
Buku Fiqh Dakwah Syaikh Mustafa Masyhur

[Baca Selanjutnya...]