Baby Chair, Kursi Makan Bayi Penting atau Enggak?

0

Sejak awal MPASI Ncik (nama panggilan anak saya), baby chair jadi salah satu barang yang saya pengenin. Tapi, setelah pengajuan ke suami, ternyata ditolak. Alasannya, ngeliat pergerakan Ncik selama ini, suami khawatir baby chairnya malah enggak kepake karena Ncik sukanya kemana-mana.

Akhirnya, diambil jalan tengah untuk sewa lebih dulu supaya tau berguna banget atau enggak si baby chair ini untuk anak kami.

Saya memilih sewa baby chair yang model bumbo seat. Pernah baca sekilas sih kalau sebenarnya model bumbo seat ini kurang direkomendasikan. Kenapa? Singkatnya, karena cenderung menghambat kemampuan anak untuk belajar duduk sendiri.

Ngeliat dari strukturnya emang bener. Bentuk bumbo seat itu yang ngejaga anak bisa duduk meski dia belum bisa bener-bener duduk tegak sendiri. Yo wis, anak-anak yang mungkin belum tegak-tegak banget kalau duduk sendiri dibikin santai dengan duduk di bumbo seat itu. Padahal harusnya kalau enggak pake bumbo seat, mereka akan terstimulasi untuk menjaga diri supaya struktur tubuhnya bisa duduk dengan kemampuan sendiri. 

Artikel lengkapnya bisa dibaca disini deh. Hamba hanya mencoba merangkum setitik doang.

Alhamdulillah pas Ncik mulai MPASI itu dia udah bisa duduk tegak sendiri. Kenapa akhirnya milih baby chair yang model bumbo seat, karena bumbo seat yang saya pilih ada plus plus mainannya. Ceritanya sekalian gitu kursi makan dan kursi buat mainan. 

Kayak gini nih model kursi bayi yang dipilih Ncik.

Summer Infant Superseat via Pinterest

Setelah masa sewa beres, sebenernya masih ngebet beli baby chair. Tapi, kembali alasan lama, suami enggak setuju. Karena makan tanpa baby chair pun Ncik baik-baik aja.

Padahal saya naksir berat sama salah satu booster seat yang portable bisa dipake dan dibawa kemana-mana.



Dua model baby chair yang jadi perbincangan hangat di dunia ibu-ibu adalah booster seat dan high chair.

Kalau booster seat plusnya adalah bisa dipakai buat kita yang biasa makan lesehan maupun ditaruh di kursi meja makan. Booster seat juga peruntukkan usianya lebih panjang. Sedangkan high chair cuma bisa satu posisi doang, sejajar sama meja makan. Rada tricky kalau keluarga yang biasa makan lesehan, tapi memilih pakai high chair di rumah.

Better kalau memang kebiasaan makan di keluarganya lesehan, pilih booster seat aja.

Tapi, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan sebelum membeli baby chair entah itu booster seat maupun high chair adalah perlu enggak anak kita pakai kursi makan khusus bayi?

Saya pribadi merasa perlu.

Mungkin karena udah ngerasain kelebihannya pake baby chair.

Setelah Ncik usia 16 bulan akhirnya suami ngebeliin baby chair dong. Itu juga beli karena kami sekeluarga memutuskan beli meja makan yang proper. Ini dalam rangka supaya waktu makan jadi salah satu quality time keluarga. Alhamdulillah pas ada rezekinya. Beli yang high chair karena sekalian satu toko sama yang jual set meja makannya.

Padahal kalau dikasih waktu googling lebih lanjut bakal beli booster seat kepengenan yang bisa dibawa kemana-mana. Tapi, enggak apa-apa lah. High chair juga sangat bermanfaat karena set meja makannya pun cuma dua kursi. 


Ilustrasi via Pinterest

Adanya high chair di rumah ngebantu banget soal ritme makan Ncik. Sebelum pake high chair, doi kalau makan sambil keliling rumah. Mondar-mandir kesana-kemari. Lelah lah ibu ini main kejar-kejaran setiap mau nyuapin. Ncik yang duduk rapi di high chair saat makan, jadi harapan supaya terbangun kebiasaan kalau makan ya, sambil duduk. No keliling kesana-kemari.

Namanya juga anak bayi yang masih belajar makan, sering banget jadi kocar-kacir, kotor, berantakan. Kalau makannya pas kesana-kemari, bisa harus ngepel rumah karena remah-remah nasi berceceran dari ujung ke ujung ruangan. Sebaliknya, kalau pake high chair cuma area yang ada high chair aja yang harus dibersihin. Lumayan lah ibu bisa selonjoran sedetik.

Plus plus lain punya high chair adalah bisa jadi tempat aman kalau pas ibu atau ayah harus ngepel. Karena Ncik udah nggak bisa diamankan di box bayi. Kalau di high chair, dikasih buku bacaan atau buku buat coret-coret atau disetelin video, amanlah sampai rumah beres dipel. Sambil disounding juga sih kalau lantai yang lagi dipel itu licin. Doi dikit-dikit ngerti, pengalaman pernah 'gelebak' gara-gara tadinya ditaruh di sofa terus dia tiba-tiba ngacir. Alhamdulillah observasi 2x24 jam enggak kenapa-kenapa.

Kalau disimpulkan, baby chair termasuk baby stuff yang worth to buy kalau memang ada dananya. 

Kalau enggak ada pun, enggak yang dead end sebagai langkah membiasakan anak untuk makan dengan duduk tenang. Masih ada langkah lain untuk ngajarin anak kebiasaan tersebut. Misalnya, sounding terus kalau makan itu mesti duduk. Sediakan spot khusus sebagai area makan. Gitu kalau saya ngebayanginnya. Kalau pas anak GTM (Gerakan Tutup Mulut) kan salah satu langkah mengatasinya dengan cari suasana makan yang baru, tapi ya, tetep enggak mengganggu esensi kebiasaan rutin makan yang sudah kita bangun sebelum-sebelumnya. 

Semoga enggak belibet ya buibu.

Soal makan anak ini emang panjang lika-likunya. Saya sendiri ngerasain banget mulai dari MPASI sampai sekarang, ngebangun kebiasaan makan anak yang baik itu menguras energi dan emosi, jiwa dan raga. Satu filosofi yang pengen saya pertahankan (meski sering juga goyahnya, but I won't give up insya Allah) adalah membangun suasana makan yang menyenangkan.


Makan dimsum dulu

Jatuh Bangun Memilih Kerja Sampingan untuk Stay at Home Mom

16


Via Pinterest and Phonto
Salah satu perjalanan bak roller coaster selama menjadi stay at home mom adalah merasakan tidak lagi menerima gaji setiap bulan. Meskipun tetap dapat uang bulanan dari suami, rasanya berbeda dengan gaji dari hasil pekerjaan sendiri.

Menjadi ibu di rumah (stay at home mom) adalah pilihan yang saya buat secara sadar, karena merasa berat rasanya kalau harus meninggalkan anak dan bekerja jauh dari rumah. Makanya, saya merasa kagum dengan ibu bekerja yang bisa membagi fokusnya antara pekerjaan dan tetap menjaga bonding yang baik dengan anak.

Rutinitas sebelumnya sebagai pekerja kantoran sempat membuat saya kaget saat menghadapi ritme kehidupan di rumah yang begitu-begitu saja. Apalagi kalau sudah menyinggung soal keuangan. Rasanya dulu kalau sudah menerima gaji, bebas saja mau diapakan uang kita tersebut. Begitu tidak lagi gajian, rasanya uang bulanan dari suami sudah sangat ketat pos-posnya. 

Mohon dimaklumi, kalau dulu saat single, bablas saja mau menghabiskan uang untuk kuliner atau hangout di mall. Sekarang, mulai membangun kesadaran bahwa investasi sangat penting. Kasarnya, kalau hanya mengandalkan pekerjaan suami yang sekarang maupun pekerjaan sampingan saya, jauh sekali kalau menginginkan kebebasan finansial.


Sudah mulai mawas diri harus disiplin soal keuangan termasuk mengontrol keinginan demi masa depan anak dan hari tua yang lebih baik. Meskipun sudah dianggarkan juga untuk sedikit sweet escape ala emak-emak, tapi, jumlahnya tidak luber-luber seperti di zaman bergaji sendiri dulu. Apapun itu tetap berusaha disyukuri.

Suatu saat saya berpikir bahwa ketika saya ada keinginan ini itu, tapi anggaran keluarga sudah mentok, mungkin ini saatnya saya mencari 'pekerjaan' yang lain. 

Rencana mencari pekerjaan sampingan disusun dengan syarat pakem, tetap bisa membersamai anak di rumah. Syarat yang agak tricky karena setiap pekerjaan pasti membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran. Buat SAHM (stay at home mom) seperti saya yang tanpa asisten rumah tangga, tentu yang harus dipangkas adalah waktu bersama anak dan atau waktu istirahat.

Pekerjaan sampingan pertama yang sudah saya coba (terinspirasi dari banyaknya SAHM yang melakukan pekerjaan tersebut) adalah berjualan barang online. Hasil dari mencoba pekerjaan tersebut tidak terlalu baik. Keuntungan yang saya dapat yang seharusnya bisa untuk perputaran modal usaha kembali nyatanya malah hangus hanya untuk jajan dan shopping. Ini kesalahan fatal dalam mengatur uang bisnis, karena membiarkan tumpang tindih antara jatah bulanan dengan hasil berjualan. Bisnis yang coba saya lakukan pun akhirnya jalan di tempat tanpa laba berarti. Meskipun saya mendapat keuntungan dalam bentuk yang lain, yaitu networking dan pengalaman bisnis kecil-kecilan. It's all worth for first attempt.


Pekerjaan selanjutnya yang saya coba tekuni adalah menjadi content writer (penulis konten). Sebenarnya saya tidak terlalu kesulitan mengerjakan job ini. Hasilnya pun bisa dibilang lumayan untuk beban kerja yang ringan. Kalau saya mau mengejar job menulis konten yang banyak, hasilnya pun sebenarnya sebanding. Hanya saja, selama ini saya cuma menunggu umpan pekerjaan datang saja. Tidak terlalu getol untuk mencari sana-sini. Sebulan mungkin hanya mengerjakan satu konten tulisan permintaan klien. Padahal dengan berkembangnya dunia digital sekarang ini, job menulis konten sangat banyak.

Pekerjaan sampingan ketiga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan sampingan yang saya sebutkan sebelumnya. Masih dalam lingkup menulis konten hanya saja medianya adalah blog pribadi. Sejauh ini, menulis di blog pribadi atau menjadi blogger adalah pekerjaan sampingan yang kompatibel untuk SAHM seperti saya, selain alasan bahwa menulis blog adalah hobi yang saya senangi.

Bagi SAHM yang lebih mudah mengerjakan pekerjaan sampingan dari rumah, bisnis online apapun itu jenis dan bentuknya sangat menguntungkan. Akan tetapi, menguntungkan atau tidaknya pekerjaan online yang kita lakukan kembali kepada diri kita sendiri. MoneySmart merangkum tiga kunci sukses khususnya dalam menjalankan bisnis online. Apa saja kah itu?

Pertama, perencanaan. Ah, kan cuma pekerjaan sampingan, let it flow saja. Big no! Kalau kita memang ingin mendapatkan hasil yang riil dari suatu pekerjaan termasuk pekerjaan sampingan, semua harus kita rencanakan dengan baik. Perencanaan menjadi petunjuk langkah untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya kita ingin membuka bisnis katering, paling tidak kita merencanakan siapa target konsumen, berapa porsi yang harus dijual untuk mendapatkan keuntungan yang kita inginkan, dan seterusnya. Kalau kita menjadi penulis konten atau blogger, paling tidak kita harus merencakan dalam satu bulan berapa jumlah tulisan yang harus diselesaikan dan sebagainya. Pentingnya perencanaan seperti peta yang dibawa oleh seseorang yang bepergian. Tanpa peta, akan mudah kehilangan semangat bahkan tersesat tak tentu arah.


Hasil pekerjaan sampingan buat saya pribadi memang harus dihitung hitam di atas putih berapa target nominal yang kita inginkan. Ini bagian dari menyusun perencanaan dan sebagai strategi agar kita terus semangat. Seandainya target nominal dari pekerjaan sampingan belum tercapai, tapi karena kita melakukan pekerjaan dengan bahagia dan sepenuh hati, segalanya jadi terasa ringan. Seperti halnya rencana bisnis yang mungkin tidak seratus persen berjalan sempurna, tetapi itu jauh lebih baik daripada tidak membuat perencanaan sama sekali.

Kedua, kerja keras. Mengurus bisnis berbarengan dengan mengurus rumah dan anak sungguh hal yang sangat menantang bagi seorang ibu. Tetapi, di situ lah tuntutan yang harus kita penuhi agar bisa sukses. Sabar, ulet, dan mau bekerja keras menjadi kunci kesuksesan.

Ketiga, mau belajar dari kesalahan. Tak ada gading yang tak retak, begitu pepatah mengatakan. Begitu juga dengan ibu rumah tangga yang mencoba mengerjakan side job selain mengurus keluarga. Kadang merasa menyesal, saat harus membiarkan anak bermain sendiri saat kita membereskan tulisan atau membalas chat customer. Mungkin juga ada momen dimana kita sangat lelah, lalu menjadi emosi dan tidak mengontrolnya dengan baik, sampai akhirnya marah-marah kepada anak. Sungguh menjadi tantangan ketika akhirnya ibu berusaha mengevaluasi diri dan mencoba mengatur waktu, sehingga kondisi keluarga, diri sendiri, dan pekerjaan sampingan bisa berjalan beriringan dengan baik. Bagian terpentingnya adalah tidak menyerah dan mau terus memperbaiki diri.

Pekerjaan sampingan yang kita tekuni dengan baik akan membawa manfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri saja, tapi mungkin saja akan melejitkan kondisi finansial keluarga. Berapapun jumlah pendapatan, asal bisa #CerdasDenganUangmu maka yang sedikit bisa menjadi bukit.   



Sampai dimana perjalanannya untuk merdeka finansial, Mom? 

Rekomendasi Restoran Ramah Anak di Bandar Lampung

2


Wisata kuliner itu buat saya salah satu hal yang mengasyikkan untuk dilakukan. Nggak cuma sekadar icip-icip, makan selain masakan rumah bisa menambah khazanah dan wawasan. Hahaha. Apalagi saat Ncik (nama panggilan anak saya) sudah lewat usia 12 bulan, saat udah boleh makan seperti yang saya dan suami konsumsi. Ya, asal nggak berlebihan aja.

Nah, berhubung wisata kulinernya nggak cuma dua orang dewasa saja, ada satu hal yang penting banget jadi pertimbangan saat memilih tempat makan.

Yep, adanya baby chair atau high chair atau kursi bayi. Itu jadi pertimbangan banget saat berkunjung di tempat makan atau restoran tertentu. Buat buibu yang tinggal di Bandar Lampung dan sekitarnya, mungkin beberapa check list dari saya berikut ini bisa jadi rekomendasi untuk dikunjungi bersama si kecil.


Plate O

Menu yang disediakan di plate O adalah menu-menu yang disajikan di atas hot plate. Jadi, karena panas pol, harus hati-hati saat makan bersama si kecil. Meskipun di plate O menyediakan baby chair, soal pilihan menu yang ada, saya prefer membawa bekal khusus untuk anak saya.
Lokasi: Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Samwon Express

Kalau mau makan yang ala-ala grill bisa mampir kesini. Tersedia baby chair, tapi saya rada ngeri kalau mau pesen menu yang grill saat bersama si kecil. Kalau kata suami, rasa masakan Koreanya udah sangat Indonesia. Menu yang bisa dimakan bocah juga tersedia.
Lokasi: Mall Bumi Kedaton (MBK) Lantai GF-1, Jalan Teuku Umar, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Nemenin tantenya Ncik nyobain makanan ke-Korea-an


Umme Teppanyaki Chandra Antasari

Mirip-mirip dengan plate O, di Umme Teppanyaki pun beberapa menunya disediakan di atas hot plate dalam kondisi panas. Tapi, tenang, ada menu ala-ala bento yang bisa dimakan si kecil. Letak Umme Teppanyaki di Chandra Antasari ini agak mirip suasana outdoor meskipun letaknya masih di dalam gedung. Jumlah baby chair yang ada saat saya berkunjung seingat saya hanya ada satu.
Lokasi: Inside Chandra Superstore, Jl. P. Antasari No.114, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung

Mie Ayam Koga

Mie ayam legendaris di wilayah Lampung ini menyediakan baby chair. Meskipun nggak banyak, tapi lumayan lah buat kita-kita yang pengen merasakan makan mie hangat-hangat. Nggak cuma menyediakan menu mie saja, menu-menu Chinese food seperti bihun, kwetiauw, capcay, dan sejenisnya juga tersedia. Buibu harap bersabar dan maklum saat menunggu beberapa menu yang disajikan dalam waktu yang sangat lama dan saat ruangan mulai terasa 'sumuk' meskipun ber-AC.
Lokasi: Jl. Teuku Umar No.48, Surabaya, Kedaton, Kota Bandar Lampung

Uncle K

Lokasinya di dalam Mall Boemi Kedaton (MBK), di dekat pintu masuk yang ada Chatimenya. Meskipun mungkin rada nggak nyaman karena banyak orang lalu-lalang dari pintu masuk, tapi Uncle K menjadi alternatif saat tempat makan di MBK penuh semua. LOL. Lumayan lah pilihan menunya bukan yang melulu pedes.  
Lokasi: Pintu Utama Mall Boemi Kedaton

Bakso Lapangan Tembak Senayan

Seingat saya disini jumlah baby chairnya hanya ada dua atau tiga unit. Tapi, restoran ini menurut saya termasuk yang ramai dikunjungi orangtua yang membawa anak. Ya, kalau nggak kebagian baby chair, si kecil bisa anteng di atas stroller. Yes, the power of the stroller! Menunya standar, variatif, dan memang sangat ramah di lidah keluarga Indonesia.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Kinar Resto

Resto keluarga satu ini memang menyediakan high chair untuk bayi, menunya pun bisa lah dimakan sekeluarga termasuk si kecil. Cuma menurut saya tempatnya yang ada kawasan kolam renang serta tangga yang cukup bahaya buat anak, membuat kita harus benar-benar memperhatikan si kecil apalagi kalau mereka lari-larian di area resto. 
Lokasi:  Jl. H. Agus Salim, Sukadana Ham, Tj. Karang Barat, Kota Bandar Lampung

Shabu Kitchen Onago

Lokasi yang ada di MBK rada nyempil, meskipun nggak terlalu susah untuk dicari. Ikutin aja dari depan Chatime, ke kiri lurus mentok. Kalau lokasi yang di Transmart gampang banget ditemukan. Keduanya sama-sama menyediakan baby chair dalam jumlah yang cukup, karena pas saya kesana alhamdulillah pramusaji nggak yang sampe harus nyari-nyari. Menunya pun kids friendly, meskipun harus selektif pilih tekstur menu yang nggak bikin 'kelolodan' anak bayi. Jangan keliru dengan Shabu Kitchen yang di lantai 1 MBK, bedanya dengan Shabu Kitchen Onago adalah menu yang menurut saya lebih premium alias lebih mahal. LOL. Tapi, sepertinya Shabu Kitchen pun juga menyediakan baby chair.
Lokasi: Ground Floor Mall Boemi Kedaton dan Lantai 1 Transmart Bandar Lampung

Sushi Okage

Pertama kali kesini rada nyari-nyari karena tempatnya lumayan nyempil. Begitu naik eskalator, silakan berbelok kiri ke arah Timezone dan lurus mentok. Tempatnya di ujung dan nggak terlalu luas. Tapi, dapet banget suasana khas Jepang. Baby chairnya pun lucu dari bahan kayu gitu. Ada dua bagian tempat makan, yang ala-ala resto Jepang dengan mesin sushi berputar dan yang biasa aja. Sushi disini enak, apalagi salmonnya, seger.
Lokasi: Lantai 2 Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung

Hokben

Restoran waralaba ala Jepang dengan rasa yang sangat Indonesia ini, baru dibuka September lalu di Bandar Lampung. Meskipun saya belum berkesempatan makan disana, tapi berdasarkan info dari salah satu teman, tersedia baby chair yang jumlahnya masih terbatas, yaitu satu unit saja. Sayang banget kalau mesti rebutan baby chair. Padahal, Hokben ini menyediakan menu khusus anak-anak yang berlabel bebas penyedap.
Lokasi: Lantai 1 Mall Boemi Kedaton

Yukmain Moms and Kids Playground Cafe

Nah ini resto yang beneran kids friendly. Meskipun tempatnya rada mungil, tapi mengakomodasi mini playground untuk tempat bermain anak-anak. Menu yang disediakan pun sangat disesuaikan, baik bentuknya yang unyu maupun bahan-bahannya yang nggak pake micin. Saya kesini sewaktu ada acara komunitas Lampung Menggendong. Jadi, sembari ibu-ibu mengikuti acara di lantai 2, anak-anak bisa bermain di mini playground.
Lokasi: Jalan Wolter Monginsidi no 102. Dari turunan Hotel Emersia, sebelum Hotel Grand Praba

Rekomendasi ini saya buat berdasarkan kriteria subjektif. Kriteria utama ramah anak menurut saya adalah ketersediaan baby chair dan rasa masakan yang ‘selow’, nggak yang terlalu ‘nyegrak’ banget semisal ditambahkan penguat atau penyedap rasa. Kriteria lainnya, suasana yang saya rasakan saat berkunjung kesana. Nyaman dan mendukung suasana makan atau nggak. Bikin selera makan meningkat atau malah sebaliknya. Semakin scroll tulisan ke bawah, menunjukkan daftar restoran yang semakin oke keramahannya terhadap anak.

Nah, mengapa baby chair sangat penting? Toh kalau anak sudah bisa duduk tegap sendiri, duduk di kursi dewasa pun tidak masalah kan? Hm, menurut saya, meskipun sudah bisa duduk sendiri, kursi makan dewasa tidak cukup ergonomis untuk anak. Entah saat saya lengah atau nggak ngeh, khawatir saja anak 'ngejeblak' atau yang sejenisnya yang tentu tidak saya harapkan.

Buibu ada rekomendasi tempat makan ramah anak yang lain? Yuk, berbagi di kolom komentar, supaya bisa menambah khazanah kuliner saya. >.<

Semoga bermanfaat.



Mencari Inspirasi Menulis di Aura Book and Coffee

8


Beberapa waktu yang lalu, saya minta izin ke suami untuk me time menulis di kafe. Yes, gegayaan banget kan, niruin anak kuliahan yang nongkrong ngerjain skripsi gitu. Pas udahan diizinin, saya yang bingung mau nongkrong dimana. Hanya ada satu dua tempat yang muncul yang bisa jadi tujuan. Salah satu alasan enggak jadinya, karena tempat-tempat itu too pricy untuk pinjam tempat buat buka laptop rada lama (buibu usaha ngirit).

Welcome to Aura Book&Coffee
Alhamdulillah, pas banget dapet ajakan dari foundernya Tapis Blogger, Mba Naqi untuk berkunjung ke Aura Book and Coffee. Denger namanya langsung kesenengan, karena akhirnya nemu juga kafe buku di Lampung.


Sebelumnya, pernah searching-searching kafe buku, tapi nemunya waktu itu di dekat rumah Semarang. Udah tau tempatnya, tapi sayang belum sempat berkunjung.

Seperti namanya, kafe buku ini cocok banget untuk kita yang suka baca buku, sekaligus berlama-lama di kafe. Kalau biasanya kafe identik sebagai tempat hangout dan ngobrol bareng teman, nah, kafe buku ini jadi alternatif. Enggak sekadar ngobrol atau nongkrong, di kafe buku kita bisa nambah ilmu dengan membaca buku.

Meski tempatnya rada jauh dari rumah saya, tapi, Aura Book and Coffee ini recommended untuk dikunjungi. Kalau di zaman saya ada kafe buku macam ini, betah deh saya berkunjung sering-sering. 

Saat berkunjung ke Aura Book and Coffee, pas banget suasana lagi mendung menuju gerimis. Suasananya jadi syahdu banget untuk ndengerin lagu mellow sambil nulis cerita fiksi. Apalagi disini banyak buku berjejer, fiksi maupun non-fiksi, genrenya pun variatif. Jadi, kalau kehabisan ide tulisan bisa banget rehat sejenak cari inspirasi dengan buka-buka buku tersebut.

Enggak perlu khawatir kelaparan, karena disini pun menyediakan menu cemilan, makanan, dan minuman  dengan harga ramah di kantong. Karena judulnya Book and Coffee, ketahuan kan ya, kalau signature minumannya adalah kopi. Bahkan ownernya pun khusus mendatangkan barista untuk mengolah kopi disini, supaya kualitas kopinya enggak kalah dari kafe-kafe sebelah.



Aura Book and Coffee ini jadi kafe buku pertama di Bandar Lampung, sepengetahuan saya. Jadi, buat yang doyan baca buku sekaligus hobi nongkrong sangat patut untuk dijadwalkan berkunjung. Kafe buku Aura buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Pas buat mahasiswa yang mau puas-puasin ngerjain skripsi maupun penulis yang pengen suasana baru untuk ngedraf tulisan, karena tersedia colokan dan full wifi.

Buat yang pengen kongkow bareng teman-teman pun bisa sambil menghirup udara segar daerah Sukarame. Aura Book and Coffe ini di-set 2 lantai. Lantai bawah dengan kursi 2-2 dengan suasana indoor yang tenang dan personal, sedangkan di lantai 2 suasana ruangan terbuka dan asyik untuk ngobrol santai.

Suasana di lantai 1

Pengunjung di lantai 2

Bersama teman-teman Tapis Blogger
Jadi, kapan mau quality time nge-cafe sambil baca buku?


Jl. Pandawa Raya, Harapan Jaya, Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Instagram: @aurabookcoffee


Sumber gambar: Dokumentasi pribadi dan jepretan mbak Desy

Upgrade Size Gendongan: Review Zakkel Baby Carriers Toddler

2

Tidak terasa waktu berlalu. Eh, ternyata sudah lebih dari setahun saya merasakan manfaat gendongan, utamanya gendongan yang saya punyai, Zakkel Baby Carriers. Sebenarnya Ncik sudah mencoba Zakkel size standard sejak usia 5 bulan, tapi saya baru ada rezeki untuk membeli sendiri Zakkel motif dragonstone saat Ncik berusia 6 atau 7 bulan. Mencari motifnya pun penuh liku karena harus chat berkali-kali dari satu Zakkel partners ke partners yang lain. Maklum ya, yang memakai gendongan enggak cuma saya, tapi ayahnya Ncik juga. Jadi, harus sama-sama deal soal motif yang dibeli.

Memasuki usia Ncik 12 atau 13 bulan saya pernah sekali mencoba Zakkel Baby Carriers size toddler, tapi ternyata masih terlalu besar. Cirinya bagaimana? Bisa dilihat dari tubuh Ncik yang masih tenggelam dalam body panel gendongan, bagian kaki yang overspread alias terlalu mengangkang, sehingga bagian bawah body panel gendongan terlipat.

Ngomong-ngomong soal Zakkel size toddler yang saya punyai, sebenarnya saya enggak serajin itu prepare gendongan jauh-jauh hari. Alhamdulillah pada satu kesempatan giveaway yang diadakan oleh Zakkel, Qodarullah saya terpilih mendapatkan hadiah Zakkel size toddler motif ice and fire. Cukup lama gendongan ini tersimpan rapi di lemari, sampai akhirnya, saya ikutkan program travelling wrap* di komunitas Lampung Menggendong.
Zakkel Baby Carriers Toddler motif Ice and Fire

Sekembalinya Zakkel toddler ke rumah di pertengahan bulan Oktober 2018, tentu saya semakin tidak sabar mengujicobakannya untuk menggendong Ncik. Secara anak bayi ini sudah berusia 16 bulan.

Bagaimana rasanya?

Nyaman!

Mungkin karena sudah waktunya upgrade size? Zakkel toddler ini nyaman sekali baik di saya maupun di Ncik. Terasa gendongannya yang memeluk erat, tanpa memberikan efek sesak, dan beban gendong lebih merata, jadi tidak terlalu pegal meski menggendong lama.

Dibandingkan saat memakai size standar, size toddler lebih pas saya pakai sekarang ini.

Ncik pun juga enggak salah tingkah saat di dalam gendongan, karena saat memakai size standard Ncik bingung menempatkan posisi tangannya. Mengenai posisi kaki Ncik saat memakai size standard sebenarnya masih M-shape dan knee to knee. 

Salah satu alasan banyak ibu akhirnya memutuskan upgrade ke size toddler adalah kaki bayi yang sudah tidak knee to knee alias ‘nglewer’ karena sudah semakin panjang. Akibatnya yang menggendong merasakan beban yang terlalu berat karena kaki yang ‘nglewer’ tidak tersupport gendongan.

Meskipun saya juga pernah membaca sharing tentang knee to knee yang tidak terlalu menjadi concern, alias it’s okay meski enggak knee to knee atau M-shape saat usia anak sudah lewat dari 1 tahun. Cuma, ya, itu tadi, menggendong ergonomis kan harus nyaman untuk kedua belah pihak. Mungkin anak jadi enggak nyaman saat kakinya ‘nglewer’ di gendongan standar, mungkin juga yang menggendong pun makin pegel karena beban gendongan yang makin-makin berat apalagi ditambah kaki ‘nglewer’ tersebut.

Ncik in Zakkel Standard with Babywearing Sisters wearing Zakkel Toddler

Secara keseluruhan tidak ada perbedaan yang signifikan antara fitur Zakkel standard dan toddler. Hanya hoodie saja yang polos tanpa motif. Tapi, menurut saya itu tidak jadi masalah.

Malah menurut saya, motif-motif di size toddler lebih catchy dan elegan. Hm, mungkin menyesuaikan sasaran usia pasar.

Kalau membaca dari keterangan fitur dalam deskripsi produk Zakkel toddler, idealnya Zakkel toddler bisa digunakan mulai usia anak 18 bulan dengan tinggi badan 82-85 cm. Tapi, imho, balik lagi ke postur serta kenyamanan penggendong dan yang digendong.

Ada yang masih di bawah usia 12 atau 18 bulan pun merasa lebih nyaman memakai size toddler daripada size standard. Tapi, ada juga yang baru upgrade ke size toddler saat usia sudah 2 tahun. Tidak ada aturan baku kapan waktu untuk upgrade size toddler.

Patokannya lebih ke rasa nyaman saat kita memakai gendongan saja. Kalau amannya insya Allah keduanya sama-sama aman.

Makanya, menurut saya, untuk upgrade size gendongan tidak bisa hanya berpatokan pada usia saja. Lebih baik bila kita mencoba terlebih dahulu gendongan tersebut. Sama lah seperti saat akan membeli gendongan pertama kali.

Saya pribadi merasakan betapa ribetnya beli gendongan lantas tidak cocok, jadi harus ada effort untuk menjual ulang gendongan yang kurang nyaman di saya tersebut, supaya bisa membeli gendongan yang lebih pas.

Kalau saat ini sebenarnya enggak perlu repot saat ingin mencoba gendongan. Jika tertarik, bisa menghubungi komunitas-komunitas menggendong yang ada di kota tempat tinggal ayah-ibu sekalian.

Semoga bermanfaat.

Ncik in Zakkel Toddler
*Travelling Wrap: Meminjamkan gendongan untuk dicoba oleh member atau orang yang terpilih selama beberapa waktu

Ps. Kindly cek akun Instagram @LisanaLibrary bila ayah-ibu tertarik untuk menyewa Zakkel size standard maupun toddler.


Sumber gambar: @ZakkelBabyCarriers dan dokumentasi pribadi

Tengok Spot Instagramable di Bukit Sakura Bandar Lampung

0

Sesungguhnya Lampung itu terkenal dengan wisata airnya yang ciamik. Banyak pantai di Lampung yang bahkan jadi buruan wisatawan asing. Ketemu pantai yang pasirnya putih dan airnya bening biru banget di Lampung itu bukan barang baru. Cuma saya belum berkesempatan nih untuk sekadar mampir ke pantai-pantai tersebut.

Jadi, selama 2 tahun tinggal di Lampung, tempat wisata yang saya kunjungi ya, yang di dalam kota-kota saja.

Kali ini pun, akhirnya berkesempatan mampir ke Bukit Sakura, destinasi wisata dalam kota yang cukup terkenal di Bandar Lampung.

Rute ke sana sebenarnya bisa ngikutin arahan yang ada di deskripsi instagram Bukit Sakura Lampung, cuma karena waktu itu mendadak pergi kesananya, jadinya saya pake gmap yang diarahin lewat jalan yang sama ke arah Puncak Mas.

Emang ya, gmap enggak selamanya benar, karena kebenaran hanya milik Allah Ta'ala. Kesasar dong pake gmap dan nyasarnya itu sampe yang jalannya naik berbukit tinggi-tinggi banget. Padahal pas pulangnya lewat jalan yang ditunjukkin sama tukang parkirnya lebih enakeun, meskipun tetep naik turun gitu, tapi sungguh better daripada jalan saat berangkat.

Nyampe sana sesungguhnya salah timing, karena pas lagi jam 11an terik-teriknya. Itu beneran yang panas banget, jadi agak ogah-ogahan pas mau keliling juga. Tapi, sayang banget kan ya udah perjalanan kesini masa jadinya numpang ngadem doang.



Akhirnya keliling bentar, ngeliat ada arena panahan, pondok-pondokan buat ngadem, dan spot-spot foto bareng bunga sakura kw yang cukup instagramable.

Selain itu ada juga playground untuk anak-anak yang ada macem mandi bola, perosotan, dan sebagainya. Ada juga kandang kelinci mini yang sayangnya tempatnya kurang pas karena kena terik matahari banget. Kasian deh kelinci-kelincinya kayak yang lemes banget kepanasan. Padahal cukup menghibur juga lho kelinci-kelinci itu.


Sepertinya that's all. Saya enggak terlalu lama disana karena kepanasan. Jadi, cuma kurang dari satu jam deh main disana. 

Saya sarankan kalau mau menikmati pilih waktu yang pas. Misal pas masih pagi-pagi banget atau sore sekalian, cari waktu yang pas lagi adem lah. Karena sebenarnya view puncak bukitnya lumayan indah, bisa ngeliat kota Bandar Lampung. Cuma karena saya datang di waktu yang kurang tepat, jadinya enggak menikmati pemandangan tersebut.

Recommended enggak buat bawa bayi dan anak-anak?

Karena saya bawa aliyya pake gendongan, ya, oke-oke aja. Buat keliling better digendong sih. Meski bisa pake stroller, tapi cuma bisa di yang area utama. Kalau turun ke area panahannya kayaknya bakal susah dan pe er banget. Harus diawasi ketat kalau anak aktif kesana kemari, karena banyak undak-undakannya.

Semoga bermanfaat.


Rating tempat: 2/5
Tiket masuk: 10 ribu rupiah per orang dewasa (free teh kemasan)
Parkir mobil: 5 ribu rupiah
Akun instagram: Bukit_Sakura_Lampung

Milad Kedua Tapis Blogger: Bincang Santai Bareng Ale Jenes

12

Setelah sekian lama, akhirnya ikutan lagi event offline kali ini bersama komunitas Tapis Blogger. Dapet info acara dari postingan di closed group Fb Tapis Blogger. Langsung tertarik karena bahas materi yang kekinian banget, yaitu meningkatkan jumlah followers instagram. Pematerinya pun enggak kalah menarik, Ale Jenes


Sekarang nama Ale Jenes mungkin sama terkenalnya seperti akun kuliner instagram yang dikelolanya sendiri yaitu kuliner_lampung. Semua orang yang pengen kepo soal kuliner di Lampung atau sekadar yang sering laper mata kayak saya, pasti rajin deh mantengin akun kuliner satu ini.

Buat awam kayak saya, kuliner_lampung punya nilai plus dibanding akun-akun kuliner instagram lain karena feedsnya enggak melulu makanan cafe. Hal ini juga yang disampaikan Ale dalam bincang santai acara milad Tapis Blogger yang kedua. Postingan Ale tentang makanan-makanan kaki lima yang nyari tempatnya aja harus 'mblusuk-mblusuk' yang malah disukai dan ditunggu-tunggu followersnya.

Saya pribadi merasa cocok ngikutin kuliner_lampung karena statement di deskripsi akunnya, Halal Food Only. Sewaktu saya kroscek di sesi tanya jawab, Ale menjawab dengan tegas bahwa ia selalu memberitahukan pada kliennya bahwa dirinya hanya mau meng-endorse makanan-makanan halal saja. Ia bahkan menjelaskan bahwa makanan halal enggak cuma yang bebas daging babi atau alkohol. Salut banget sama Ale soal yang satu ini.


Balik lagi ke topik meningkatkan followers. Seperti low profilenya Ale saat menjadi pembicara, sesederhana itu pula lah inti materi yang Ale sampaikan di acara milad kedua Tapis Blogger, Ahad (2/09/18) di Papa Tom's Cafe. Dua hal yang saya inget dan terngiang-ngiang di kepala adalah konsisten dan komitmen.

Konsisten untuk nge-post minimal satu postingan sehari dan harus punya komitmen untuk terus nge-post meski lagi jenuh atau lelah.

Buat newbie kayak saya kayaknya sedih banget kalau sudah berusaha rajin nge-post, tapi followersnya segitu-gitu aja. Itu juga dialami Ale yang sekarang followersnya udah lebih dari 220K. Sempat nge-closed akun, hampir menyerah, tapi akhirnya karena emang hatinya sudah into it dengan dunia kuliner, Ale nge-post sedikit demi sedikit sampe sukses seperti sekarang.

Saya terkesan dengan Ale yang mengerjakan job untuk kuliner_lampung sepenuh hati. Ia sendiri menyatakan bahwa kunci akunnya bukan dari foto yang shine bright like a diamond, tapi dari caption yang jujur, tulus, dan memang karena ia ingin orang lain mendapatkan info yang dibutuhkan.

Soal jenuh dan lelah, Ale pun merasakan hal itu. Sewaktu ngedenger bagaimana Ale rasanya udah muak saat harus terus coba dan icip makanan meski udah eneg dan gimana ngatasinnya, jujur saya merasa tertampar. Karena menurut saya, Ale ini selalu punya cara untuk terus komit dengan pekerjaannya. Yah, mungkin karena job ini selaras dengan kesenangan pribadinya. Tapi, ini mengingatkan saya juga bahwa pekerjaan yang sesuai passion pun pasti akan ketemu juga dengan titik jenuh. Buat mengatasinya, tinggal gimana kita bisa terus mencintai job kita itu.

Ale bahkan sampe bela-belain bungkus makanan supaya bisa tetap ngereview makanan yang harus dipostingnya. Kalau lelah dengan keharusan nge-post di instagram, Ale memanfaatkan fitur nge-draft dan nge-schedule postingan.

Tuh kan, selalu ada jalan kalau memang kita sudah menaruh hati di suatu pekerjaan. Insya Allah akan selalu ada jalan keluar.

Founder dan Co-founder Tapis Blogger
Event milad Tapis Blogger ini sebenernya jadi acara Tapis Blogger pertama yang saya ikuti. Meski sudah setahun lebih tinggal di Lampung, tapi baru kali ini berkesempatan menghadiri acara komunitas blogger-blogger Lampung. Maklum saja karena waktu yang lalu saya tinggal nun jauh di kabupaten Lampung Tengah sana, sementara Tapis Blogger berkegiatan di Bandar Lampung.

Alhamdulillah, meski yang pertama dan masih awkward saat bertatap muka dengan blogger-blogger yang lain, saya merasa lewat event ini saya bisa membangun positive vibe terutama untuk semakin produktif merawat blog.
Peserta Milad Kedua Tapis Blogger

Bersama Founder Tapis Blogger Mbak Naqiyyah Syam (Kiri)
Selamat milad yang kedua, Tapis Blogger!

Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!!

2

Tertarik sama buku ini awalnya karena nge-follow penulisnya, Ahmad Gozali di twitter. Twitnya tentang dunia keuangan sering lucu, tapi cerdas dan menohok. Tergambar banget di bukunya, bahasanya ringan, tapi enggak bikin kita gagal paham.

Akhirnya, dibeliin buku ini sama pak suami karena beliau ngerasa saya perlu belajar financial planning. Saya pun menyadari kalau kacau banget ngurusin keuangan keluarga. Kayaknya sih gara-gara di masa single saya terlalu nyantai dan kebanyakan bersenang-senang.

Buat saya yang baru belajar dan sukanya hal yang menyenangkan, buku Habiskan Saja Gajimu ini sangat tepat sasaran. Pak Ahmad Gozali memberikan metode Habiskan untuk mengelola keuangan. Mungkin rada-rada kontroversial ngedengernya. Masa' malah disuruh ngabisin duit sih? Ngajarin boros dong?

Harusnya kan kalau ada duit lebih disisihkan buat nabung, investasi, dan lain sebagainya. Bener banget sih kalau itu. Kita kan hidup enggak cuma di waktu sekarang doang. Apalagi buat saya yang udah ada anak bayik. Harus pinter-pinter mengatur keuangan untuk masa depan.

Selain itu juga keuangan yang rapi juga meminimalisir terjadinya konflik dalam rumah tangga. Sama-sama tau lah, banyak masalah rumah tangga yang muncul salah satu pemantiknya adalah kondisi ekonomi yang gonjang-ganjing. Yang paling sering dikambinghitamkan misal pemasukan bulanan yang kurang. Padahal sebenarnya kalau ditelusuri bukan gara-gara pemasukannya yang kurang, tapi cara mengatur pemasukannya aja yang belum benar.

Buku ini ngasih metode mengatur uang yang cocok dan menyenangkan buat saya, yaitu dihabiskan!

Karena jujur buat saya menyisakan uang itu bikin stres dan kayaknya kok suram gimana gitu. Pun berkali-kali saya ngerasain gagal menyisakan uang, padahal niatnya pengen nabung untuk ini dan itu.




Nah, di buku ini kita diajarin menghabiskan gaji, tapi enggak asal, melainkan dihabiskan di jalan yang benar. Gimana caranya?

Harus baca buku ini secara runut biar kita paham betul harus berbuat apa dan bagaimana.

Sedikit yang bisa saya highlight di buku ini, pemasukan yang ada dihabiskan dengan cara, potong untuk zakat, bayar cicilan utang, dahulukan untuk saving, dan habiskan untuk shopping! Asyik kan? Siapa sih yang enggak suka ngabisin duit buat shopping?

Buku ini berhasil bikin saya mengubah pola pikir untuk enggak melulu bersenang-senang. Eh, bisa sih bersenang-senang, tapi ya, harus kreatif dan enggak malas. Well noted banget.

Buku keuangan yang highly recommended untuk dibaca dan dipraktekkan. Nyesel deh enggak tau buku ini dari jaman single. Kayaknya bisa lebih cepet kaya kalau dari single baca buku beginian. >_<