SOCIAL MEDIA

Tampilkan postingan dengan label Marriage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marriage. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2020

Menikah Hanya Soal Waktu

Kalau melempar pertanyaan, ‘Apa, sih, tujuan menikah?’ 

Mungkin jawabannya bisa macam-macam. Ada yang menikah karena tuntutan orang tua, mungkin usia yang tidak lagi muda, merasa fase hidupnya belum lengkap tanpa menikah, karena merasa butuh dicintai, menikah sebagai sarana beribadah, de el el, de el el.


Tujuan atau motif yang kita miliki akan menentukan kelangsungan ikhtiar yang kita jalani. Makin besar atau kuat tujuannya, bikin makin tidak mudah menyerah. Ibarat amal yang balasannya surga, jalan menempuhnya pasti nggak mudah, kan?


Ambil satu contoh tujuan menikah adalah untuk ibadah. Btw, saat menjomlo juga nggak lepas dari kewajiban beribadah, kan?


So, fine-fine, aja dong kalau belum menikah asalkan tetap beribadah?


Selama kita berada dalam ketaatan dan terus beribadah kepada Allah, kondisi jomlo atau menikah harusnya nggak menjadi masalah.



Menikah-Hanya-Soal-Waktu


Tapi, tahu nggak, sih?


Keluarga muslim adalah tiang dalam peradaban Islam. Kuat, utuh, atau tercerai berainya masyarakat dipengaruhi oleh kondisi keluarga.

Jumat, 10 Januari 2020

Review Film Kim Ji Young: Born 1982 dan Lika Liku Menjadi Ibu


Review ala-ala saya mengandung spoiler, karena saya susah untuk nahan nggak nyeritain potongan-potongan scene, apalagi yang ngena banget.

Sedikit Sinopsis

Kim Ji Young: Born 1982 adalah film Korea Selatan yang juga ada novelnya dengan judul yang sama. Di Korsel, novelnya termasuk salah satu novel fenomenal (atau kontroversial). Cerita inti yang saya tangkap dari film ini adalah tentang Kim Ji Young, seorang ibu rumah tangga yang tidak sadar kalau dirinya sedang sakit secara psikologis. Cerita dalam film menjadi sangat menarik karena mengangkat tentang kesenjangan antara wanita dan pria di dalam keluarga dan lingkungan kerja (kehidupan sosial).

Credit to Unsplash

Review

Dari awal film, Kim Ji Young: Born 1982 ini sudah sukses bikin saya menitikkan air mata, apalagi di scene-scene selanjutnya. Rasanya selepas nonton, mata saya sembap karena kebanyakan nangis dan hati jadi lelah karena ngerasa super mellow.

Terharu dan sedih, karena ngerasa kehidupan Kim Ji Young ini kok related banget, sih, sama kehidupan saya. Aaargggh. Meskipun, alhamdulillah, saya nggak 'sesakit' Kim Ji Young.

Saat KJY (Kim Ji Young) menatap mata hari sore yang terbenam selepas ngerjain kerjaan rumah, ngerasa sering sedih tiba-tiba, ngerasa kangen sama teman-teman kerja dan kehidupan kerja di masa lalu saat berpapasan dengan mbak-mbak necis yang mau berangkat kerja, duh, feel related.

Ada dua adegan yang bikin saya nangis kejer di film ini. 

Pertama, part flashback KJY dan ibunya yang lagi ngomongin cita-cita ibunya yang dulu pengen jadi guru, terus nggak keturutan. Di situ KJY kecil nanya ke ibunya, apa gara-gara dia, ibunya nggak bisa menggapai cita-citanya jadi guru? 

Nangis kejer saya. Perasaan campur aduk, antara khawatir dan takut. Khawatir, kalau di masa depan anak saya ngerasa kayak gitu. Takut, jangan-jangan saya bisa jadi adalah ibu yang menyalahkan keadaan (dalam hal ini anak) atas keinginan atau cita-cita saya yang tidak terwujud. Tapi, scene ini jadi motivasi dan penyadaran bahwa anak bisa ngerasa se-mellow itu. Bikin saya mikir tentang cita-cita. Diwujudkan atau tidak, sepenuhnya tanggung jawab dan diputuskan atas kesadaran saya.

Part kedua yang nyes banget adalah saat KJY udah kesenengan bakal bisa kerja lagi. Tapi, terus dimarahin sama mertuanya. Bikin KJY merasa harus mengalah, karena apalah arti gaji dan karirnya kalau dibandingin suaminya. Padahal, sebelumnya, suami KJY udah oke sama keputusan mereka berdua, KJY kerja lagi dan suaminya ambil paternal leave alias cuti bapak-bapak selama setahun untuk ngurusin anak mereka. Tapi, yang kayak begini dianggap aneh sama orang-orang tua, meskipun dua orang menikah yang ngejalanin udah bersepakat.

Ketiga (Wkwkwk jadi ada tiga), part suaminya ngasih tau ke KJY kalau KJY sakit dan nanya, 'Apa KJY sakit begini karena nikah sama dia?' Sedih bangeeeet.

Jadi nyadar bahwa dibalik istri yang stres atau mengalami masalah psikologis atau mental illness, ada suami-suami yang merasa bersalah, kepikiran, dan guilty feeling semacam itu.

Suami KJY ini termasuk yang support dan concern banget sama sakit istrinya. Dia yang duluan ke psikolog (atau psikiater) untuk cari tahu soal penyakit KJY, ndorong KJY untuk konsul juga, dan mau ngalah lebih concern ke sehatnya KJY dibanding karirnya. Mana yang meranin suaminya Gong Yoo pula, duh bener-bener husband material, deh! (fangirling mode on).




Credit to Pinterest


Oh, ya, ada scene saat KJY beli kopi di coffee shop gitu, terus anaknya rewel sampe kopi KJY tumpah, padahal antrean di coffee shop itu lagi panjang-panjangnya. Ada segerombolan mbak sama mas-mas gitu yang ngomongin KJY nggak enak. Terus dilabrak, deh, sama KJY karena salah satu mas itu ngatain KJY terlalu kenceng. KJY kesel karena mikir, kalau mau ngatain jelek, kenapa nggak dibatin aja, sih. Masnya itu ngatain KJY 'mum roach'. Setelah googling baru tau kalau istilah mum roach ini artinya ibu-ibu yang bertingkah laku tidak pantas di tempat umum. Mengganggu ketenangan umum gitu lah menurut si mas yang ngatain. 

Gara-gara googling mum roach yang berhubungan sama public place, jadi tahu juga bahwa ada resto dan kafe yang memberlakukan kids free zone. Antara miris (karena ngerasa public place sekarang, mah, berlomba-lomba ngadain tempat yang kids friendly), tapi jadi insight juga bahwa memang ada, orang-orang yang terganggu dengan riuh ramainya anak-anak. Well, jadi ngerasa harus belajar lagi untuk mengontrol dan ngajarin anak untuk behave di tempat umum.

Baca Ini Juga Yuk: How to Survive: Berdua di Rumah dengan Bayi


Tapi masalahnya, menjadi ibu yang bawa anak ke tempat umum itu emang nggak mudah. Apalagi kalau pas anak lagi rewel atau tantrum. Nggak mungkin juga status ibu bikin kita ngerem terus di rumah. Ada kalanya, meskipun udah diatur sedemikian rupa, karena jenuh, emergency, dan lain-lain, tetep harus ke public place. Nah, di momen yang kurang mengenakkan, jadi tambah puyeng nggak, sih, kalau tiba-tiba ada yang bisik-bisik, sampe kedengeran telinga kita, ngatain, 'Nggak becus jadi ibu' atau 'Nggak bisa ndiemin anak' atau bahkan ngatain yang kayak di film.

Di momen itu KJY kayak ngasih teguran ke si mas-mas bahwa dia nggak berhak ngejudge KJY karena momen yang sebentar.

Duh, merasa bahagia, habis KJY speak up, mas-mas dan gerombolannya pergi keluar kafe sambil diliatin orang-orang dan pas di-shootnya ke arah ibu-ibu yang juga bawa anak. Berasa solider karena ibu-ibunya pada melotot ke mas-mas and the genk.

Di scene KJY speak up, KJY udah mulai terapi sama psikiaternya. Jadi, sepemikiran saya, berani speak up dan nggak 'mendem-mendem dalam hati' club adalah pertanda emosi yang lebih baik.

Terlalu seru kalau bahas scene per scene.

Setelah menonton, saya terpikir bahwa sakitnya KJY nggak muncul tiba-tiba. Entah bagaimana analisis medisnya (gara-gara subnya nggak terlalu oke dan pas bagian suami KJY googling tentang penyakit KJY pake bahasa Korea lalu nggak ter-translate). Sepertinya sakitnya KJY karena dia menyimpan atau memendam perasaan atas kejadian-kejadian dan perlakuan yang dia alami di masa lalu, dan akhirnya meledak di momen yang mungkin paling stressful, yaitu saat jadi ibu.

Nunjukkin bahwa menjadi ibu perjuangannya luar biasa. Nggak cuma perjuangan fisik, tapi juga perjuangan psikologis. 

Semenjak jadi ibu, saat ketemu sesama ibu di mall, atau tempat umum lainnya, muncul perasaan terenyuh, apalagi pas momen anaknya nangis-nangis. Duh, pengen bantu apa gitu. Padahal mungkin nggak perlu dibantu apa-apa. Cukup nggak ngeliatin atau bisik-bisik, kadang itu udah helps a lot.

Saya juga sangat excited dengan gerakan mom support mom. Menurut saya, film Kim Ji Young: Born 1982 ini salah satunya. Meskipun di film nggak cuma tentang menjadi ibu yang jadi concern. Tapi, juga kental unsur kritik sosial terhadap masyarakat Korsel (dan mungkin di Indonesia juga) yang lebih mengistimewakan anak laki-laki di dalam keluarga dan pegawai laki-laki di lingkungan kerja.

Tertarik untuk nonton? Atau udah nonton dan merasa hati terpotek-potek seperti saya? 

Rabu, 11 September 2019

Salah Mengatur Keuangan di Masa Lalu


Saya baru melek mengatur keuangan setelah menjadi ibu rumah tangga. Sebelumnya, terutama sebelum menikah, sekadar tahu aja. Menyusun pengalokasian, tapi nggak ideal, karena merasa, yang penting cukup buat makan, bayar kosan, jajan, ongkos, done.


Kesalahan Utama

Kesalahan di masa lalu yang saya sadari fatal adalah tidak memikirkan pentingnya menabung atau investasi. Entah dulu itu karena gaji ngepas atau emang dasar lagi seneng-senengnya jajan dari hasil keringat sendiri.

Padahal berapapun gaji atau pemasukan, bakal tetep bisa menabung tergantung gimana kita mengatur diri. Makanya, banyak pakar finansial menyarankan menabung itu di awal gajian. Bukan dari uang sisa.

Sedih deh, habis resign dulu itu beneran cuma ngandelin gajian terakhir karena nggak punya tabungan yang mumpuni.

Uang Habis Kemana?

Jajan! Malu sebenarnya mengakui hal ini. Tapi, emang penyakit saya dari dulu (sekarang lagi (berusaha) diobati) adalah seneng banget makan enak yang artinya jajan di mall. Keknya ada deh sebulan itu lebih dari satu kali makan di mall yang satu bill itu minimal 60-70 ribu. Kalau 2 minggu sekali ke mall, udah habis uang hampir 150 ribu. Itu baru makannya doang, belum kalau sama nonton. Alhamdulillah dulu zaman saya kerja itu belum hits kopi-kopi cantik, eh, dan sekarang pun saya juga kurang suka. Jadi, uang aman dari ngopi cantik. Tapi, tetep aja buat jajan yang lain.

Nggak apa-apa sekali-kali jajan, biar ada momen melakukan penghiburan diri salah satunya memanjakan lidah. Asal jangan kebablasan kayak saya.

Akibat suka makan enak, saat makan sehari-hari pun, maunya cari tempat makan yang enak. Minimal 20 ribu dikeluarin buat sekali makan. Minimal lho itu.

Belum lagi sebagai wanita yang doyan online shopping. Ada aja sebulan itu beli tas lah, dompet, dan lain-lain. Bener-bener penyakitnya itu terlalu konsumtif.

Mending ya, konsumtif diiringi ulet mencari tambahan pemasukan yang lain, tapi, sayangnya saya nggak gitu. Duh, banget kan.

Baca Ini Juga: Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!


Harus Bagaimana?

Biarlah yang sudah terjadi. Saya merasa sedikit lebih baik dalam mengatur keuangan setelah menikah. Salah satu sebabnya mungkin karena suami cukup sering ngasih wejangan, 'Ayo, pikirin nabung! Investasi! Uangnya jangan abis buat yang konsumtif aja'. Sebab lainnya, efek tambah tua. Jadi mulai berpikir tentang biaya pendidikan anak ke depan, dana darurat, dan lain sebagainya.

Buat saya ada 3 hal penting untuk menambal kesalahan keuangan yang saya buat di masa lalu.

1)Temukan Why Factor
Harus tahu persis, kenapa kita mau mengelola keuangan supaya lebih baik. Kenapa harus menabung, investasi, dll. Kenapanya itu harus kuat, supaya kalau merasa mulai kocar-kacir ngatur uang, merasa boros banget, saat ingat tujuan finansial, kita jadi lebih mudah untuk bangkit.

Misal nih, untuk yang pada belum menikah, pengen nabung untuk biaya pernikahan, untuk biaya ikut tes IELTS atau TOEFL, untuk ikut pelatihan bisnis, dan lain sebagainya. Bahkan kalau pengen sedekah lebih besar lagi pun perlu dianggarkan dan diatur. Nggak bermaksud menghitung-hitung pakai hitungan manusia soal sedekah, cuma sebagai langkah antisipasi aja, biar sedekah itu juga di awal, nggak pakai uang sisa yang belum jelas ada atau nggak. Kalau di akhir bulan ternyata anggaran yang kita buat masih bersisa banyak, ya, nggak apa-apa kalau mau disedekahin semuanya. Ini antisipasi aja kalau yang terjadi sebaliknya.

Baca Ini Juga: Integritas Para Penjual


2)Membangun Vibes
Salah satunya follow akun-akun yang memang memotivasi untuk mengatur keuangan.

Perlu diingat, bahwa mengatur keuangan ini kalau saya pribadi bukan untuk bikin khawatir lantas ngerasa kurang dengan gaji atau uang yang kita miliki. Tapi, lebih ke bentuk rasa syukur untuk mengelola amanah dari Allah, berupa gaji atau harta yang titipan semata ini. Kita kelola supaya hidup lebih baik. Nggak melulu konsumtif, tapi harta kita bisa bikin diri kita lebih baik. Aduh, jauh kan goalsnya. 

Membangun vibes juga termasuk menjalin hubungan dengan teman-teman. Kalau kita gengnya yang doyannya ngopi cantik sekali duduk 100 ribu, ya, agak susah kalau mau berhemat untuk prioritas anggaran yang lain. Bukan berarti kita jadi pilih-pilih teman, tapi lebih ke kontrol diri.

3)Kontrol Diri
Nah, masuk ke poin ini dari poin sebelumnya. Nggak apa-apa juga kalau kita punya geng yang doyan ngopi cantik. Asal kita punya kontrol diri yang kuat. Misal, disiplin untuk cuma sekali dalam 1 atau 2 bulan dine in ngopi cantik. Kalau emang mau ngejar kongkownya, tahan-tahanin untuk nggak ngopi. Entah kita bawa termos dari rumah, atau ya, nggak usah kepengen pesan.

Sama juga kayak saya, sih. Latihan banget untuk nggak bobol anggaran belanja akibat gofood, dengan memotivasi diri untuk lebih rajin masak.

Disiplin dan kontrol diri ini emang krusial. Karena kalau kita gampang tergoda ya, gampang aja beli ini beli itu, jajan ini jajan itu, padahal nggak kita anggarkan. Kalau sudah bablas yang keterusan, agak susah juga untuk mengubahnya (tapi, bukan yang nggak bisa juga). Insya Allah pasti bisa lebih baik mengatur keuangan, agar harta yang diamanahkan Allah ke kita berkah dan mendukung kehidupan untuk beramal sholeh.

Kalau dibilang nyesek nggak sih dengan cara mengatur keuangan yang salah di masa lalu? Jawabannya nyesek banget. Karena sebelum menikah, sebenarnya masih relatif lebih simpel yang dipikirkan. Hanya diri kita, orangtua, mungkin kalau ada kakak, adik, keluarga dekat lah pokoknya. Kalau setelah menikah, rasa-rasanya lebih kompleks banget yang dipikirkan. 

Beneran deh, harus memanfaatkan masa muda sebelum masa tua, masa jomblo, sebelum kehidupan rumah tangga yang menantang.

Semoga bermanfaat.

Salah satu akun yang memotivasi mengatur keuangan dengan lebih baik @zapfinance. Gaji segitu kalau bisa diatur sebegini rapi, beneran muda kaya raya!


Ps. IMHO, kaya adalah persoalan mental dan manajemen. Kalau dua ini sudah khatam, siapapun bisa kaya dengan izin Allah.

Kamis, 29 Agustus 2019

Blue Valentine: Marriage 101

Menonton film Blue Valentine yang dibintangi Ryan Gosling sebagai Dean dan Michelle Wiliams sebagai Cindy membuat saya memaknai kembali perjalanan pernikahan.

Rasanya pernikahan saya masih seumur jagung. Tapi, saya sadari sudah banyak sekali mengeluhnya. Padahal jika masih diberi umur, mungkin ujian yang saya dan suami hadapi belum seberapa.



Short Review

Saat Cindy bertengkar hebat dengan Dean, lalu Dean meminta pengertian Cindy untuk memahami 'the worst part of him' saya merasa tertegun. Sudahkah saya siap ketika harus menghadapi 'the worst part of my husband'? As we know, kita semua manusia yang pasti melakukan kesalahan.

Hubungan manis Cindy dan Dean sebelum menikah yang menjadi flashback dalam film ini membuat saya berpikir tentang up and down sebuah hubungan. 

Ketika hubungan kita dengan pasangan sedang dalam titik terendah, bisakah kita mengingat indahnya hubungan kita di masa lalu?



Saya terharu terhadap kegigihan Dean mempertahankan rumah tangganya. Bagaimana dia tidak segan mengemis maaf dari Cindy, lalu betapa carenya dia terhadap Frankie (putri mereka). 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga broken home, Dean tidak mau Frankie mengalami hal yang sama. Sungguh manis. Mengingat sekarang ini perceraian dianggap sebagai sesuatu yang biasa dilakukan. Padahal meskipun itu hal yang wajar terjadi, bukankah kita masih bisa mengusahakan perbaikan? I don't know. Mungkin sekarang saya bisa berkata seperti ini. Who knows? Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga saya. Aamiin.

Maka, saya sangat bersyukur karena dalam Islam pemutus perceraian adalah suami. Mengingat nature saya sebagai wanita (in case my personality) sangat mudah terbawa perasaan dan mungkin sulit berpikir panjang saat menghadapi masalah.

Komentar dan Refleksi

Of course the star in this movie is Ryan Gosling! Pernyataan-pernyataannya dalam film banyak yang menyadarkan saya.

Bagaimana Dean sebenarnya punya banyak keterampilan, berbakat dll, tapi dia memilih untuk kerja serabutan.

Bagaimana dia tidak menginginkan menjadi suami dan ayah. Tetapi, ketika takdir menggariskan dia untuk menjalani peran itu, he try his best.

Betapa bangganya Dean bisa fokus menjadi suami dan ayah tanpa perlu merumitkan masalah pekerjaan. Istilah sadisnya, buat apa sih kerja kalau malah kita nggak bisa menikmati waktu bersama anak dan istri. Duh, lupa detail kalimatnya Dean, yang jelas nampol banget pas scene dia ngucapin kalimat itu.

Salah satu masalah yang disorot di film ini, ketika Dean seperti tidak melakukan apa-apa untuk keluarganya (mungkin karena Dean nggak bekerja seperti umumnya para suami), lantas Dean pun mengalami kehilangan orientasi.

Baca Juga: Remember Me


Ah, sungguh menjadi tamparan ketika seorang pria seperti ini. All out menjadi ayah dan suami.

This movie strikes me in two important things in my life. Becoming good mother and wife as it should be.

Oh ya, dan satu lagi, betapa kadang para istri butuh liburan berdua dengan suami untuk kembali menyatukan hati dan mengingatkan bahwa dulu kita pernah hidup kasmaran nan penuh cinta. LOL. So cheesy.

Semoga bermanfaat!

Sampe nangis dong si Ryan Gosling!



Ps. Filmnya rating dewasa, jadi tontonlah dalam kondisi steril dari anak-anak. Film Hollywood emang begitu, valuenya udah oke, tapi tetep muatan sexnya terlalu vulgar, duh.

Rabu, 07 Agustus 2019

Tertarik Rumput Tetangga


Terlalu banyak dan sering melihat teman-teman, malah jadi bingung sendiri dengan apa yang sebenarnya jadi target saya.


Lihat teman seorang ibu beranak satu yang dapet beasiswa S2 ke LN langsung latah kepengen. Padahal kalau nanya ke diri sendiri dengan pertanyaan sesimpel buat apa S2? Jawabannya gagu dan gamang.

Simpel sih kadang pengen jawabnya. Pengen cari ilmu aja. Pengen jadi orang yang berpengetahuan. Pengen otak terus terasah. Duh. Emang siap ntar kembali ke masa-masa dikejar deadline tesis, endebre-endebre, yang pas ngerjain skripsi aja udah bikin ngebul dan hampir nyerah? Kayaknya bagian itu pengen diskip aja. Cuma pengen bagian belajar dan nambah ilmunya deh beneran.

Jawaban kayak gitu bakal dicecar sama suami.

Kalau cuma itu alasan kepengennya, nggak usah S2 pun bisa. Cari ilmu sekarang nggak harus sesaklek itu jalurnya. Kecuali kalau memang mau jadi akademisi. Mau menyalurkan ilmu sampai ke penerapan praktis. Maybe pursue the master degree is that worth. Tapi, kalau alasannya masih dangkal, masih berhias-hias, S2 kan keren, apalagi buat ibu-ibu muda. Berasa mevvah gitu.

Okay, then, coret deh itu keinginan S2.


Selanjutnya pengen jadi pebisnis.

Ya, zaman now gitu loh. Emak-emak mana yang tak punya sambilan jualan selain momong anak. Segitu kasarnya kali ya pemikiran hamba. Tapi, emang sedahsyat itu gelombang quotasi, pintu terbanyak pembuka rezeki adalah dari berdagang. Ditambah panggilan menggema dari seluruh penjuru untuk emak-emak kembali ke rumah, memprioritaskan mendidik anak sendiri daripada bekerja siklus 8-17. Memang enggak semua terpanggil sih. Masing-masing punya pilihan. Pos-pos seperti dokter kandungan, perawat, dan masih banyak lagi juga enggak mungkin ditinggalkan.

Satu yang jelas, karib sesama ibu banyak banget yang punya bisnisan. Setiap update status yang muncul, apalagi dengan nada hard selling seolah memberi tantangan, 'Ayo, dia aja jualan loh. Masa' kamu enggak mau nyobain?'

Duh. Udah pernah nyobain sih. Tapi, jiwa pedagang saya beneran tumpul dan mungkin nyaris mati.

Sebenarnya bisa-bisa aja sih jualan. Tapi, yang enggak sepassionate itu loh. Seneng aja nyariin barang orang yang butuh, terus ambil untung tipis-tipis. Tapi, kalo soal pasang iklan barang dagangan, kebanyakan mikirnya. Padahal kan iklan itu nyawanya orang jualan. Betul kan?

Jadi penulis!

Duh. Saya tuh suka banget nulis (kalau lagi rajin!). Kalau malesnya kumat ya begitu. Dianggurin aja media-media untuk menulis yang bejibun.

Ditambah lagi nowadays, semua orang bisa menulis. Siapapun, dengan kualitas tulisan bagaimanapun, semua orang bisa menjadi penulis dan pasti menemukan target pembacanya masing-masing.

Ketahuan banget kan pengen jadi penulis yang spesial?

Iya! Karena kadang sedih aja kalau membaca tulisan sendiri yang sungguh sangat mainstream. Apalagi kalau yang ditulis adalah kengacoan tiada manfaat. Makin putus asa.

Padahal di dunia ini tidak ada yang sia-sia kan ya?

Selanjutnya, jadi ibu rumah tangga yang membersamai anaknya dengan penuh suka cita dan ide-ide kreatif untuk stimulasi otak anak demi masa depan yang cerah ceria.

Pengen banget bisa kayak gini.

Tapi, yang terjadi cuma semangat saat anak bayi <12 bulan. Setelah itu, bebaskeun aja lah mau main apa. Karena stok ide dan semangat ibu buat jadi teman main yang baik dan berkualitas sungguh jatuh ke jurang keputusasaan.

Kadang juga saya masih terombang-ambing, merasa bahwa dunia per-stay at home mom-an ini sungguh melunturkan jati diri saya.

So what?

Tentu saja masih meniti satu demi satu yang bakal dijadikan fokus tujuan. Karena akhirnya menyerah pada prinsip, 'Keep doing, keep going with everthing that have good values'. Apapunlah kerjain aja asal membawa lebih dekat ke surga.

That's it.

Senin, 21 Januari 2019

Yakin Pengen Menikah?

Ada masanya saya begitu pengen menikah muda. Sampe dimana-mana kalau ditanya ada keinginan apa, langsung teringat, pengen nikah muda!

Sungguh naif sekali pada zamannya.

Hal yang dipikirkan cuma enak-enaknya menikah aja. Lebih terjaga, ada tempat curhat 24 jam, ada yang menafkahi, and so on. Keinginan yang cuma diisi pengetahuan indahnya menikah aja dan enggak diimbangi dengan wawasan tentang rentetan resiko dan kewajiban setelah menikah.

Ada kali 2 tahun-an yang saya terus berdo'a, 'Ya Allah, dekatkanlah jodoh hamba'. Lalu akhirnya tersadar karena ketemu sahabat-sahabat yang bisa diajak bertukar pikiran bahwa menikah enggak seindah itu lho. Ya, mungkin ada part indahnya, tapi enggak melulu indah.

Karena pengetahuan baru tersebut akhirnya redaksi do'anya berubah. Keinginan untuk menikah pun enggak semenggebu dahulu kala.

Jadi pelajaran penting bahwa menikah itu enggak sekadar kepengen doang. Triggernya bisa kepengen itu sih. Tapi, setelah kepengen itu harus diimbangi aksi untuk cari tahu seluk beluk kehidupan pernikahan. Sebagai insight diri kita sendiri. Beneran enggak kita kepengen nikah? Kepengen yang memang diri kita sudah siap dengan segala tanggungjawab yang menyertainya, atau kepengen karena baper ngelihat kebahagiaan pasangan muda halal kekinian?
To the wedding by Pinterest

Menikah itu enggak bahagia terus loh isinya.
Di surga kali itu yang isinya thok kebahagiaan. Karena dimensi pernikahan itu masih terjadi di alam dunia, harus siap kalau nanti ketemu saatnya perasaan kita berdarah-darah menahan pilunya ujian pernikahan. Sebabnya entah ujian dari luar kita dan pasangan, misalnya ngerasain enggak nyamannya diteror karena belum punya momongan, atau konflik internal dengan pasangan.

Harus belajar mengelola perasaan.
Ketika mengikrarkan diri siap menikah, harus siap mengurangi dan bahkan mengikis perasaan yang terlalu sensitif alias baper. Ada kalanya kita enggak perlu terlalu memikirkan sesuatu hal alias santai aja lah. Ada kalanya pula kita perlu merenung dan mendalami ketika akan membuat suatu keputusan. 

Contohnya nih, udah capek-capek masak sesorean, tapi suami enggak makan malam di rumah. Meskipun rasa hati pengen bantingin piring dan gelas keinget capeknya masak, yang kayak gitu enggak perlu terlalu dibawa perasaan. Mungkin suami punya alasan kenapa enggak makan malam di rumah. Bisa jadi menghormati teman-teman kantor yang ngadain acara syukuran atau terlalu capek jadi sampe rumah langsung pengennya istirahat. Contoh lain, misal suami ngajakin ngambil kredit barang xxx nih. Baiknya enggak asal 'Iya deh. Gimana mas suami aja', tapi dipelajari dulu, jadikan bahan diskusi berdua. Masalah kredit, utang, enggak menyangkut suami doang kan. Kita sebagai istri juga harus tahu dan paham.

Nah, kalau sekarang masih single dan gampang banget sensi atau baper, mungkin Allah pengen kita belajar lagi untuk ngurang-ngurangin bapernya, sebelum ketemu ujian perasaan yang lebih dahsyat dalam kehidupan berumah tangga.

It takes two to tango.
Berkaitan sama poin kedua soal mengelola perasaan. Enggak cuma istri doang, atau suami doang yang perlu belajar. Kedua belah pihak harus sama-sama belajar dan saling pengertian. Misal nih, masih melanjutkan contoh di poin kedua. Pas udah disiapin makan malam sama istri, meski perut udah kenyang, paling enggak icip dikit lah masakan istri. Atau kalau udah enggak kuat makan lagi, temenin lah istrinya itu di meja makan. Mungkin istri-istrimu rela nahan laper lho, pak  bapak, demi bisa makan malam bersama. Jadi, sama-sama saling peka aja lah.

Apalagi kalau udah ngomongin parenting. Wah bisa jadi satu bahasan sendiri ini mah. Misal pengen punya anak yang sholeh-sholehah, cerdas, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Eh, tapi, enggak meluangkan waktu quality time sama anak (to bapak-bapak mostly) dan nyerahin semua tugas yang berkaitan sama anak ke istri doang. Nay, nay! Bagai pungguk merindukan bulan dong. 

Kalau mau punya anak yang high quality, orangtuanya juga harus high quality dulu. Salah satunya, harus mau bersusah payah untuk mendalami ilmu parenting bareng-bareng. (Wkwkwk yang nulis ibu-ibu sih ya. Mohon maap kalau nyerang bapak-bapaknya terus. Kebeneran aja kayak gitu studi kasus yang kepikiran #Ngeles).

Masalah menjadi jauh complicated.
Yes, kalau ngerasa kehidupan saat single udah penuh masalah, jangan khawatir, ujian belum selesai sampai di situ. Namanya kehidupan dunia, ya, pasti penuh ujian dan cobaan. Kalau kehidupan lempeng-lempeng aja, antara Istidraj atau ujiannya lewat kelempengan itu. Nah, masalah rumah tangga jauh lebih pelik daripada masalah saat masih single dulu. Zaman masih mahasiswa, kita bakal pusing tujuh keliling liat rekening yang udah tinggal beberapa digit padahal kiriman ortu berikutnya masih jauh. Hm, kalau udah nikah lebih pelik lagi, karena yang dipikirin enggak cuma diri sendiri, tapi, ada pasangan, anak yang mungkin enggak cuma satu, belum lagi kalau ada yang masih di kandungan. Yes, marriage push yourself to be tough as ever!


Menikah itu jebakan betmen?
Hm, ya, iya sih, kayak gitu kalau kita ngelihat menikah sekedar prosesi kehidupan dunia semata.

Nyesel kan udah nikah?
Hm, ya enggak gitu juga.

Inspite of segala hal yang kayaknya enggak mudah saat menjalani kehidupan pernikahan, dengan menikah kita naik tingkat untuk menjalani fase kehidupan berikutnya.

Kalau buat saya pribadi, pernikahan memaksa saya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang selanjutnya dan seterusnya. Kalau menengok ke belakang dan posisi saya belum menikah, tantangan yang saya hadapi mungkin bakal itu-itu saja.

Ya, meskipun saat ini pun saya masih sering ketemu masalah-masalah yang itu-itu lagi. Tapi, feelnya beda dan lagi-lagi dipaksa untuk menjadi lebih dewasa sekaligus bijak, karena secara status pun udah berubah menjadi seorang istri dan ibu.

Satu hal yang saya sesali tentang kehidupan pernikahan ini adalah ketidaksiapan saya menyiapkan kehidupan pernikahan.

Menikah dengan modal kepengen doang itu sah-sah aja sih. Cuma ya harus siap zonk kalau kepengenan itu tidak disertai banyak ilmu.

Kayak saya.

Minus banget pengetahuan soal kehidupan pernikahan makanya zonk.

Makanya, saat single adalah best moment untuk cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadi, nanti pas sudah nikah dan punya anak, ibarat naik kendaraan udah enak aja gitu tinggal jalan. Ya, kalau lupa-lupa dikit, liat contekannya juga sekilas aja buat memantik ilmu yang udah dipelajari.

Enggak kayak saya yang kalau diibaratkan, nyetir sambil buka peta sambil ngecek posisi spion kendaraan udah bener atau belum. Ibaratnya di perjalanan itu sambil ngapalin jalan dan sambil ngelancarin bawa kendaraan. Repot kan?

Tapi, ya, enggak usah disesali berlarut-larut. (Menghibur diri sendiri).

Sekarang pe er nya adalah enggak boleh skip belajar. Harus makin rajin belajar, baca, cari ilmu. Meskipun jadi kayak kuis dadakan. Baru baca teori langsung diuji suruh nge-aplikasiin. Mantap kan?

Apapun itu tetap lebih banyak yang saya syukuri daripada yang disesali.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 24 Juli 2018

Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!!

Tertarik sama buku ini awalnya karena nge-follow penulisnya, Ahmad Gozali di twitter. Twitnya tentang dunia keuangan sering lucu, tapi cerdas dan menohok. Tergambar banget di bukunya, bahasanya ringan, tapi enggak bikin kita gagal paham.

Akhirnya, dibeliin buku ini sama pak suami karena beliau ngerasa saya perlu belajar financial planning. Saya pun menyadari kalau kacau banget ngurusin keuangan keluarga. Kayaknya sih gara-gara di masa single saya terlalu nyantai dan kebanyakan bersenang-senang.

Buat saya yang baru belajar dan sukanya hal yang menyenangkan, buku Habiskan Saja Gajimu ini sangat tepat sasaran. Pak Ahmad Gozali memberikan metode Habiskan untuk mengelola keuangan. Mungkin rada-rada kontroversial ngedengernya. Masa' malah disuruh ngabisin duit sih? Ngajarin boros dong?

Harusnya kan kalau ada duit lebih disisihkan buat nabung, investasi, dan lain sebagainya. Bener banget sih kalau itu. Kita kan hidup enggak cuma di waktu sekarang doang. Apalagi buat saya yang udah ada anak bayik. Harus pinter-pinter mengatur keuangan untuk masa depan.

Selain itu juga keuangan yang rapi juga meminimalisir terjadinya konflik dalam rumah tangga. Sama-sama tau lah, banyak masalah rumah tangga yang muncul salah satu pemantiknya adalah kondisi ekonomi yang gonjang-ganjing. Yang paling sering dikambinghitamkan misal pemasukan bulanan yang kurang. Padahal sebenarnya kalau ditelusuri bukan gara-gara pemasukannya yang kurang, tapi cara mengatur pemasukannya aja yang belum benar.

Buku ini ngasih metode mengatur uang yang cocok dan menyenangkan buat saya, yaitu dihabiskan!

Karena jujur buat saya menyisakan uang itu bikin stres dan kayaknya kok suram gimana gitu. Pun berkali-kali saya ngerasain gagal menyisakan uang, padahal niatnya pengen nabung untuk ini dan itu.




Nah, di buku ini kita diajarin menghabiskan gaji, tapi enggak asal, melainkan dihabiskan di jalan yang benar. Gimana caranya?

Harus baca buku ini secara runut biar kita paham betul harus berbuat apa dan bagaimana.

Sedikit yang bisa saya highlight di buku ini, pemasukan yang ada dihabiskan dengan cara, potong untuk zakat, bayar cicilan utang, dahulukan untuk saving, dan habiskan untuk shopping! Asyik kan? Siapa sih yang enggak suka ngabisin duit buat shopping?

Buku ini berhasil bikin saya mengubah pola pikir untuk enggak melulu bersenang-senang. Eh, bisa sih bersenang-senang, tapi ya, harus kreatif dan enggak malas. Well noted banget.

Buku keuangan yang highly recommended untuk dibaca dan dipraktekkan. Nyesel deh enggak tau buku ini dari jaman single. Kayaknya bisa lebih cepet kaya kalau dari single baca buku beginian. >_<



Selasa, 17 Juli 2018

How to Survive: Berdua di Rumah dengan Bayi

Hal yang jadi beban pikiran saya setelah melahirkan dan enggak lagi di rumah ortu, alias kembali merantau bersama suami adalah saat berduaan di rumah hanya dengan bayi.

Kondisinya adalah suami bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 5 sore hari (seharusnya), tapi jarang banget pulang tenggo. Malah jauh lebih sering pulang malam, sekitar jam 7-an. Di Lampung ini juga saya enggak ada ART, jadi otomatis ngurusin bayi seharian sendiri.

Yes, betapa khawatirnya saya sebelum balik ke Lampung, karena di rumah ortu untuk mandi, makan, sholat, mencuci pakaian bayi, dll, saya bisa bergantian dengan ayah, ibu, atau adik-adik saya.

But, the show must go on.

Awal-awal balik ke Lampung dengan si bayi, shocked banget karena belum nemu ritme yang enak, gimana memenej supaya saya bisa ngapa-ngapain (ngerjain kerjaan rumah dll), tapi bayi tetap ditemani.

Si bayi ini termasuk yang susah-susah gampang. Kadang kalau pas tidur nyenyak dan lama, bisa ditinggal ngapa-ngapain. Tapi, seringnya kalau bayi tidur pulas, either sayanya ikut istirahat atau malah main gadget gegara saya khawatir berisik di dapur. Di awal-awal kelahirannya, si bayi maunya ditemenin terus sama saya. Pun kalau tidur, saya harus stand by, karena si bayi alhamdulillah ASI eksklusif 6 bulan.

Sempat stres karena saya enggak bisa ngapa-ngapain kalau ditinggal pak suami kerja. Sekadar untuk masak pun enggak bisa, jadilah keuangan bocor karena keseringan beli lauk di luar. Soal buang hajat alias untuk bab dan bak pun enggak tenang. Saat sholat juga enggak jauh beda. Penuh rasa khawatir karena anak bayi nangis dan sejenisnya.


Beberapa kali curhat ke temen, mereka ngasih support yang sangat membantu.

Memang ada fasenya si bayi susah banget untuk ditinggal. Harap maklum aja untuk pak suami yang enggak suka makan di luar. Tapi, mau gimana lagi coba kalau istrinya lagi bagi waktu untuk mengurus bayi. Daripada kelaparan kan? Insya Allah over budget karena sering makan di luar atau beli lauk mateng enggak selamanya kok. Nanti juga ada momennya, istri hobi banget cobain resep ini itu sampe enggak lagi keluar budget jajan di luar. Atau pak suami yang sepet liat rumah berantakan? Harap maklum, fase jadi orangtua baru needs sacrifice. Saran saya, jangan terlalu memaksakan keadaan apalagi memaksa istri untuk jadi wonderwoman. Kasihan kalau malah stres. Motherhood is not that easy.

Mendekati dan lepas usia 12 bulan, menurut saya si bayi lebih bisa diajak kerja sama.

Kalau kata temen dan saya sepakat dengannya adalah penting untuk menemukan ritme.

Ya, simpelnya kalau jadwal harian cocok, insya Allah enggak terlalu keteteran meski berdua aja sama bayi. Versi saya yang perlu dibenahi adalah memulai aktivitas lebih pagi.

Cuci piring, masak, mandiin bayi, bersih-bersih diri, dan beberes rumah sudah harus selesai sebelum suami berangkat. Saya tenang ngerjain ini itu karena si bayi ada yang ngejagain, dan selepas ditinggal suami bekerja bisa fokus membersamai si bayi karena ini itu yang harus dikerjain sudah beres. Buat saya salah satu yang bikin stres adalah saat harus ngerjain ini itu, tapi enggak pengen ninggalin si bayi.

Kalau memungkinkan, ditinggalin suami dalam kondisi sudah sarapan, tapi fleksibel aja, bisa juga kita nanti sarapan bersama si bayi.

Kalau soal cuci pakaian dan jemur, biasanya saya mencuci seminggu dua kali. Satu kalinya di weekday, yang satu lagi di weekend. Kalau yang weekend insya Allah enggak masalah karena pas pak suami libur. Tapi, yang weekday ini biasanya saya mencuci malam hari supaya pagi harinya tinggal mengeringkan dan menjemur.

Adanya gendongan, stroller, high chair, box bayi, atau yang sejenisnya sebenarnya sangat membantu. Misalnya saat menjemur pakaian, kalau si bayi enggan ditinggal, bisa kita gendong. Kalau si bayi kalem, tapi harus lihat ada kita, bisa ditaruh di stroller.

Urusan bab dan bak, bersyukur banget saya dapet lungsuran box bayi, jadi saat saya bab, bak, atau mandi sore, saya letakkan di box bersama mainan-mainannya.

Kalau sholat, usahakan saat udah azan, segera ambil air wudhu dan sholat di awal waktu. Selain mengharap banyak keutamaan sholat di awal waktu, misal si bayi sedang tidur, kita dalam kondisi udah sholat saat dia bangun nanti, atau misalnya pas bayi melek atau nangis sekali pun, sholat lebih dulu biar nangisnya enggak tambah parah.

Nah, kalau soal makan, karena saya tipe yang kuat nahan laper. Jadi, saya memilih cari waktu yang tenang untuk makan. Misal pas si bayi tidur pules atau nunggu pak suami pulang nanti. Karena saya juga jarang ngemil, sekalinya pengen, ngemilnya yang berat-berat kayak seblak dan sejenisnya, jadi timing makannya pun lebih enak kalau si bayi lagi bisa ditinggal. Sebenernya enggak baik sih cara saya ini. Silakan diskip dan enggak perlu dicontoh, karena nahan laper itu bisa bikin asam lambung naik, dan busui itu harus banyak makan.

Sharing saya ini enggak selamanya berjalan smooth. Ada kalanya saya jenuh, males, dll. Jadi jadwal dan ritme harian berantakan, terus saya stres sendiri. Ada juga momen yang meskipun sudah disiasati, tapi si bayi tetep nangis pas saya tinggal ngapa-ngapain. Kalau udah gitu, dinikmati dan diikhlaskan saja. Sebisanya.

Mungkin menurut beberapa orang mudah aja ngasih saran, 'Udah nyantai aja,' atau 'Udah enggak usah dibikin stres,' atau kasih komen, 'Lebay, ah, ibu-ibu jaman dulu fine-fine aja hidup berdua kalau ditinggal berdua doang sama anaknya,'

FYI, pressure point tiap orang itu beda-beda. Ada yang kena guncangan dulu baru dia ngerasa stres. Ada juga yang disenggol dikit udah kebawa pikiran terus. Kan enggak mungkin kalau kita nyalahin ujiannya?

Ada ibu X yang punya anak 5, 6, 7, 8, dia terlihat fine enggak stres sama sekali ngurusin semuanya padahal enggak ada ART. Tapi, ada juga ibu Y yang baru punya 1 orang anak, denger anaknya nangis eh, doi ikutan nangis karena bingung harus gimana.

Indeed, kita memang harus berdamai dengan keberagaman.

Fase jadi ibu menurut saya emang challenging banget. Ujian untuk lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih beriman ada semua disini. Eh, tapi ini bukan mau nakut-nakutin loh. 'Ih, emang se-stresful itu ya jd ibu?' Hahaha... enggak juga kok. Cuma kita memang harus menyiapkan mental baja, siap trial and error, belajar terus, dan yang jadi suami, teman, atau keluarga dekat, jadilah support system yang baik.

Memang enggak mudah yang tadinya single bisa ngapain aja terus jadi buibuk yang harus mikir sejuta ide untuk bisa ke kamar mandi. Tapi, insya Allah fase ini akan bisa kita lalui dengan baik. Bahkan mungkin nantinya bakal jadi momen yang kita inget dan kita kangenin.

Senin, 28 Mei 2018

Wanita (Harus) Bekerja?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa wanita yang akhirnya bekerja ke luar rumah itu karena dua alasan. Pertama, karena posisi pekerjaannya memang membutuhkan identitas wanita di sana. Misal, dokter, perawat, guru tk dan paud, baby sitter, dan sejenisnya. Kedua, golongan wanita yang istilahnya 'enggak bisa diem' di rumah. Jiwanya emang harus aktualisasi di luar rumah. Kalau dipaksa di rumah, mereka malah bakal stres dan enggak bisa jadi istri atau ibu yang baik.


Ternyata, eh, ternyata, entah lebih banyak atau tidak yang pake alasan ini. Banyak wanita yang bekerja karena alasan finansial. Alias mereka bekerja karena memang kebutuhan dan tuntutan. Kalau wanitanya enggak ikut bekerja, runyamlah kondisi rumah tangga karena kondisi ekonomi tidak tersupport dengan baik.

Sebenarnya alasan ini bikin saya mikir seribu kali.

Pasalnya, saya terus terngiang-ngiang tausiyah salah satu ustadz pada sebuah tausiyahnya bahwa rezeki istri yang sudah menikah itu akan mengalir lewat suaminya. Tugas istri itu udah thok di rumah aja, karena itu yang sesuai tuntunan syari'at.

Banyaknya istri yang keluar rumah, malah akan bikin kacau balau kondisi keluarga, karena mungkin kondisi rumah jadi enggak kondusif, anak-anak tidak terasuh dengan baik, dan lain sebagainya.

Tapi, itu kasus yang enggak bisa digeneralisir. Masih ada bahkan mungkin banyak juga ibu rumah tangga sekaligus wanita karir yang sukses dengan keluarga sakinah dan anak-anak yang sholeh sholehah.

Makanya, Islam enggak saklek melarang wanita enggak boleh sama sekali bekerja di luar rumah. Boleh saja wanita bekerja di luar rumah, asal mengikuti aturan syari'at yang berlaku, yaitu dapat izin suami, tetap melaksanakan kewajiban di rumah, menjaga adab dan aurat, dan lain sebagainya (bisa di search di tulisan yang lebih kredibel ya, aturan wanita bekerja dalam Islam).

Pun sekarang semakin berkembangnya zaman, wanita yang memang ingin mendapatkan penghasilan tanpa harus keluar rumah juga bisa. Malah menjadi tren, ibu-ibu yang stay di rumah, tapi berpenghasilan lewat jualan onlinenya.

Kalau memang wanita bekerja karena ingin mendapatkan materi, saya makin-makin penasaran dengan jalur rezeki yang Allah atur. Apakah memang dengan istri bekerja, maka keran rezeki akan lebih lancar? Atau malah sebenarnya sama-sama aja laju rezekinya, baik istri bekerja atau tidak? Jadi gimana dong? Baiknya istri bekerja atau tidak?

Kembali ke pilihan dan kemantapan hati masing-masing.

Kalau dengan istri bekerja, lalu ada pemasukan tambahan, dan membuat keluarga semakin bersyukur, enggak ada salahnya kalau istri bekerja ke luar rumah.

Atau kalau setelah ditindak-lanjuti ternyata istri ingin bekerja hanya karena 'merasa' banyak keinginan yang belum terpenuhi dengan pemasukan suami yang sekarang, mungkin rasa syukurnya yang perlu dilapangkan dan hawa nafsunya yang perlu dikekang.

Atau kalau akhirnya sudah terbiasa dengan rutinitas bekerja, tapi kondisi ekonomi tetap sama, mungkin memang Allah swt skenariokan seperti itu. Bahwa bekerja tidak hanya menghasilkan materi semata, tapi peran pekerjaan kita mungkin menyokong pergerakan umat entah di sisi mana yang belum kita sadari.

Jadi intinya harus atau tidaknya wanita bekerja harus dipikirkan dengan memohon petunjuk Allah swt dan dijalani dengan terus berhusnudhon pada-Nya.

Allahu a'lam.

Senin, 26 Maret 2018

Bisa Minta Tolong

Beberapa hari ini lagi ngerasain beratnya ngerjain kerjaan domestik. Keren ya? Nyebutnya domestik, berasa penerbangan.

Buat stay at home mom kayak saya, pekerjaan domestik alias nyapu, ngepel, cuci piring, masak, dan masih banyak lagi, harusnya sih jadi makanan sehari-hari. Tapi, kok, ya, makin kesini kayaknya makin berat aja (ngeluh mode on).

Kirain dulu bakal terbiasa loh sama pekerjaan domestik ini. Tapi, ternyata, buat saya mendingan pusing mikirin deadline tulisan daripada ngerjain kerjaan domestik yang enggak ada beresnya. Ada lagi dan ada terus. LOL.

Mungkin akhir-akhir ini terasa berat, karena biasanya pak suami yang lumayan bantu-bantu, sekarang lagi banyak off-nya, gara-gara kerjaan kantor yang lagi sungguh sangat padat.

Dulu-dulu pak suami masih bisa bantuin ngejemur pakaian, nyapu-nyapu rumah, ngeberesin segala mainan dan yang berantakan di ruang tengah. Tapi, kayaknya beberapa minggu terakhir, itu semua saya yang handle.

Ngerjain itu semua sambil ngegendong anak bayi, encok juga ternyata. Meskipun, alhamdulillah beres sih.

Sebenarnya, malu juga kalau masih ngeluh karena kerjaan domestik, secara saya di rumah aja. Tapi, no offense, saya ngerasa kerjaan domestik ini suatu saat nanti ingin saya delegasikan. Pengennya sih, saya nemenin anak bayi bermain dan produktif berkarya, uhuks.

Pak suami yang mau bantu ngerjain ini itu, dan selalu nge-iya-in saat saya bilang, "Bisa tolongin ini, itu, de es be," Rasanya bikin saya makin malu kalau masih ngeluh terus.

Bahkan di kompleks perumahan pun, bapak-bapak yang kelihatan pernah ngejemur pakaian, kayaknya cuma pak suami seorang. LOL. Kalau tugas buang sampah sih banyak ya.

Setelah diskusi singkat dalam sebuah perjalanan, pak suami juga setuju, kalau nanti perekonomian dunia termasuk rumah tangga kami lebih baik, enggak apa kalau mau pake additional player buat ngurus cucian, bersih-bersih, de el el. Karena jujur, rasanya saya enggak into it (di dunia pekerjaan domestik).

Kalau lagi rajin aja rumah dipel, barang-barang rapi terorganisir. Kalau lagi males? Beuh! Kayaknya kalau masih single saya bakal dicoret dari daftar calon menantu aliansi ibu-ibu mertua sedunia.

Maklum, ya, dari kecil kayaknya saya enggak dibiasain doyan beberes. Tugas di rumah pun dulu cuma cuci piring, ngepel, dan nyetrika seragam sendiri. Eh, tapi, itu lumayan juga ya. Dulu di rumah ortu pun, rumah jarang rapi alias sering berantakan juga. Hahahahaha.

Suatu hari saya pernah nanya ke suami sih, dia sebenarnya keberatan enggak kalau saya minta tolong ini itu (kerjaan beberes rumah), terus dia enggak kayak rata-rata suami di Indonesia yang tinggal ongkang-ongkang kaki nyantai pas lagi di rumah? Jawabannya? Dia sih nyantai aja ya, cuma enggak nolak juga kalau pulang kerja dan weekend enggak harus ngapa-ngapain. Denger jawaban kayak gitu rasanya pengen ngejitak juga.

Secara Rasul pun pas di rumah jahit baju sendiri, memerah susu sendiri, yang saya tangkap dan analogikan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, enggak sungkan dan mau bantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, kalau pak suami masih ngeles kalau saya mintain tolong nyapu-nyapu atau beberes? Hm…

Alhamdulillah selama ini enggak pernah nolak sih kalau dimintain tolong. Cuma kadang nge-iya-in, tapi baru dikerjain berpurnama-purnama kemudian, atau udah saya kerjain duluan karena dia kelamaan!

Buat saya, it takes two to tango, halah klise! Tapi, ya, emang bener, kalau saya udah capek pake banget setelah seharian nemenin anak bayi main dan ngerjain sebagian kerjaan domestik, masa' iya pak suami enggak tergerak hatinya buat ngebantu? Apalagi kalau saya udah melambaikan tangan ke kamera? Kalau sampe enggak tergerak buat bantu-bantu, ya, dinikmatin aja ya, pak, kalau rumah rada kayak kapal pecah, cucian piring numpuk sampe kadang bingung mau nyari sendok. Hahahaha. Tapi, tenang, kalau kekuatan saya udah kembali, akhirnya saya juga sih yang ngeberesin segala-gala.

Kadang beres-beres sambil sebel, bukan karena enggak ikhlas ngerjainnya, tapi lebih karena lelah, bosen, sambil mikir kok ini enggak ada beresnya?

Nah, pas momen kayak gitu, bersyukur banget, kalau pak suami mau ambil alih kerjaan-kerjaan rumah. Alhamdulillah, pak suami dari jaman single emang suka beberes dan pecinta kerapian, bete kalau barang-barang geletakan enggak karuan, jadi mungkin itu ya, bibit dia mau aja bantu-bantu kerjaan domestik. Tapi, enggak juga sih. Beliau emang sayang istri, enggak cuma kerjaan domestik, momong anak, ngegantiin baju, ngegendong anak bayi, beliau juga mau. Hahaha (kok nyebutnya jadi beliau!)

Saya jadi punya cita-cita, ntar kalau anak bayi udah rada gedean dikit, kayaknya harus diajarin dan dibiasain untuk mau bantu ngerjain kerjaan domestik. Ya, enggak yang berat-berat juga, paling enggak, beresin mainannya, nyuci piring bekas makanannya, dan yang sejenisnya. Biar terbiasa sampai besar nanti. Enggak kayak saya! LOL. Dan itu berlaku untuk anak laki-laki maupun perempuan. Karena buat saya, keren kalau laki-laki pun mau beberes rumah, masak, nemenin anak main, de es be.

Sekian.



#Modyarhood
#Walaukadangbikinmaumodyartapitetapyahud
#timgakpakeART berencana #timpakeART