Sang Pembawa Pesan (10) Selesai

7

Ammar hendak melompat ke dalam air car yang sudah disiapkan penjaga al Muharar yang lain, saat Ribath akhirnya roboh.

"Pergilah!" Ribath masih sempat berteriak dan mengangkat senjata.

Tembakan-tembakannya memperlambat petugas keamanan gedung biru yang mengejar mereka.

Air car yang dinaiki Ammar melesat menjauh, meninggalkan kawasan gedung biru.

Dimana-mana suasana mencekam dan menjadi kacau. Keuntungan bagi Ammar karena ia lebih leluasa melarikan diri.

Dimana-mana orang masih tercekat menyaksikan tayangan dari chip yang disebarkan Ammar.

Mungkin tak lama lagi gedung biru akan penuh diserbu orang-orang.

Ammar melihat ke belakang, ada sekitar dua atau tiga air car yang mengejarnya. Bukan masalah besar.

Masalah besar yang sebenarnya adalah tanpa Ribath, ia hanya bisa keluar dari daerah rezim melalui jalur biasa. Bukan jalur memotong yang mempersingkat waktu.

Ammar hampir keluar daerah perbatasan saat ia tercengang melihat barisan penjaga al Muharar.

Apa-apaan ini?

Dibelakang barisan penjaga, terlihat jelas petinggi-petinggi al Muharar.

Bahkan ketua ada di sana!

Ammar hendak menyusul dan bergabung ke dalam barisan itu, tapi terlambat. Satu lesatan tembakan dari air car di belakang Ammar membuatnya memutar arah dari rombongan dan melaju keluar perbatasan.

Buat apa mereka ini masih mengejarku?

Ammar sebal setengah mati dengan dua air car yang masih berusaha menembakinya.

Mereka ini benar-benar bodoh atau apa?

Ammar merasa dirinya bukan ancaman.

Saat melewati perbatasan, satu air car dengan simbol al Muharar seperti menunggunya.

Ammar berusaha menjajari.

Pengemudi air car al Muharar itu membuka kabin langit-langit dan mengisyaratkan untuk membuka kabin langit-langit milik Ammar.

Cepat.

Air car yang mengejar Ammar tidak nampak.

"Bawa ini dan pergi ke markas besar."

Apa?

Ammar hendak bertanya, tapi tidak ada waktu. Air car yang mengejarnya tadi muncul kembali.

"Pergilah!"

Chip lagi?

Ammar menerima chip yang diberikan padanya dan bergegas pergi.

~~~

Epilog

Ammar akhirnya sampai di markas besar.

Pelukan hangat Hasyim tidak bisa menghilangkan kesedihannya.

Ia bahagia bisa berkumpul kembali dengan Hasyim, satu-satunya keluarga yang ia miliki, tapi kesedihannya memuncak saat mendapati kabar semua petinggi al Muharar yang turun ke daerah rezim hari ini tewas.


Mereka menjadi martir kebengisan rezim yang luar biasa zalim.

"Lalu untuk apa kita hidup, brother?"

Hasyim tersenyum penuh kepedihan.

"Untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita."

Satu titik air mata membasahi pipi Ammar.

Ia bahkan tak menangis saat Hisyam meninggal dunia. Pun saat baba dan ammanya pergi untuk selamanya.

Pundak Ammar terasa berat, tapi binar harapan dari mata bocah-bocah di markas besar yang menyambutnya, seolah mengangkat semua beban itu.

~~~

(Selesai)

#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

7 komentar:

  1. wuiih, Alhamdulillaah akhirnya seleaai..

    Luar biasa, sgt menginspirasi buat perjuangan yg tak pernah berhenti dan harapan akan selalu ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah 😆 meskipun judulnya ngerapel 😅

      Betul... harapan itu masih ada 😁

      Hapus
  2. Wah akhirnya masih berasa tegang, perjuangan blm berakhir,mungkin baru saja mulai

    BalasHapus
  3. T_T
    Yah, perjuangan belum berakhir...

    Keren Umm...

    BalasHapus
  4. T_T
    Yah, perjuangan belum berakhir...

    Keren Umm...

    BalasHapus
  5. Keren,, baru selesai ngerapel bacanya.

    Perjuangan terus berlanjut...👍👍

    BalasHapus