Senin, 28 Mei 2018

Wanita (Harus) Bekerja?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa wanita yang akhirnya bekerja ke luar rumah itu karena dua alasan. Pertama, karena posisi pekerjaannya memang membutuhkan identitas wanita di sana. Misal, dokter, perawat, guru tk dan paud, baby sitter, dan sejenisnya. Kedua, golongan wanita yang istilahnya 'enggak bisa diem' di rumah. Jiwanya emang harus aktualisasi di luar rumah. Kalau dipaksa di rumah, mereka malah bakal stres dan enggak bisa jadi istri atau ibu yang baik.


Ternyata, eh, ternyata, entah lebih banyak atau tidak yang pake alasan ini. Banyak wanita yang bekerja karena alasan finansial. Alias mereka bekerja karena memang kebutuhan dan tuntutan. Kalau wanitanya enggak ikut bekerja, runyamlah kondisi rumah tangga karena kondisi ekonomi tidak tersupport dengan baik.

Sebenarnya alasan ini bikin saya mikir seribu kali.

Pasalnya, saya terus terngiang-ngiang tausiyah salah satu ustadz pada sebuah tausiyahnya bahwa rezeki istri yang sudah menikah itu akan mengalir lewat suaminya. Tugas istri itu udah thok di rumah aja, karena itu yang sesuai tuntunan syari'at.

Banyaknya istri yang keluar rumah, malah akan bikin kacau balau kondisi keluarga, karena mungkin kondisi rumah jadi enggak kondusif, anak-anak tidak terasuh dengan baik, dan lain sebagainya.

Tapi, itu kasus yang enggak bisa digeneralisir. Masih ada bahkan mungkin banyak juga ibu rumah tangga sekaligus wanita karir yang sukses dengan keluarga sakinah dan anak-anak yang sholeh sholehah.

Makanya, Islam enggak saklek melarang wanita enggak boleh sama sekali bekerja di luar rumah. Boleh saja wanita bekerja di luar rumah, asal mengikuti aturan syari'at yang berlaku, yaitu dapat izin suami, tetap melaksanakan kewajiban di rumah, menjaga adab dan aurat, dan lain sebagainya (bisa di search di tulisan yang lebih kredibel ya, aturan wanita bekerja dalam Islam).

Pun sekarang semakin berkembangnya zaman, wanita yang memang ingin mendapatkan penghasilan tanpa harus keluar rumah juga bisa. Malah menjadi tren, ibu-ibu yang stay di rumah, tapi berpenghasilan lewat jualan onlinenya.

Kalau memang wanita bekerja karena ingin mendapatkan materi, saya makin-makin penasaran dengan jalur rezeki yang Allah atur. Apakah memang dengan istri bekerja, maka keran rezeki akan lebih lancar? Atau malah sebenarnya sama-sama aja laju rezekinya, baik istri bekerja atau tidak? Jadi gimana dong? Baiknya istri bekerja atau tidak?

Kembali ke pilihan dan kemantapan hati masing-masing.

Kalau dengan istri bekerja, lalu ada pemasukan tambahan, dan membuat keluarga semakin bersyukur, enggak ada salahnya kalau istri bekerja ke luar rumah.

Atau kalau setelah ditindak-lanjuti ternyata istri ingin bekerja hanya karena 'merasa' banyak keinginan yang belum terpenuhi dengan pemasukan suami yang sekarang, mungkin rasa syukurnya yang perlu dilapangkan dan hawa nafsunya yang perlu dikekang.

Atau kalau akhirnya sudah terbiasa dengan rutinitas bekerja, tapi kondisi ekonomi tetap sama, mungkin memang Allah swt skenariokan seperti itu. Bahwa bekerja tidak hanya menghasilkan materi semata, tapi peran pekerjaan kita mungkin menyokong pergerakan umat entah di sisi mana yang belum kita sadari.

Jadi intinya harus atau tidaknya wanita bekerja harus dipikirkan dengan memohon petunjuk Allah swt dan dijalani dengan terus berhusnudhon pada-Nya.

Allahu a'lam.

Sabtu, 12 Mei 2018

Babywearing: Gendong-menggendong, Emang Penting?

Tadinya mau ngasih judul "Repot amat sih, bu, soal gendong-menggendong bayi?" Tapi, pas baca lagi kesannya kok too negative dan agak aneh, akhirnya diganti jadi judul di atas.

Awal terjun ke dunia gendong, karena cikcik (nama panggilan kecil anak saya) yang termasuk agak rewel di awal kelahirannya. Sering banget menangis dan baru tenang saat digendong. Semua sudah dicek mulai dari kondisi popok, ada yang sakit atau enggak, haus atau laper, semua aman. Ternyata, emang cikcik cuma mau digendong. 

Saya bukannya enggak pernah kena tegur loh karena membiasakan cikcik digendong terus. Sering banget kena omel yang sebenarnya tujuannya baik. Mereka yang 'nyerewetin' itu mungkin cuma enggak mau saya terlalu lelah karena nggendong dan mikirin cikcik ke depannya, masa' gendongan (maunya digendong) terus? Nanti ibunya enggak bisa ngapa-ngapain dong?

Sebenarnya, wajar banget bayi (apalagi yang baru lahir) ngerasa lebih nyaman saat digendong. Secara, yang tadinya dia aman, tenang, damai di dalam kandungan, tiba-tiba harus hidup di alam dunia yang penuh hingar bingar. Nah, saat digendong, bayi serasa dipeluk, hangat, aman, tenang, karena dekat dengan ibu yang menggendong, seperti saat di dalam kandungan.


Menggendong emang kadang melelahkan dan bikin pegel. Tapi, yang saya rasakan, menggendong itu lebih menenangkan (karena cikcik enggak nangis lagi) dan saya pun jadi punya waktu untuk berpikir, berdzikir, serta belajar ikhlas. Masalah pegel bisa disiasati dengan memilih alat gendong yang tepat.

Hal yang selalu saya ingat kalau orang-orang di sekitar 'menakut-nakuti' dengan ancaman nanti anak bakal gendongan terus adalah bahwa enggak selamanya anak bakal minta gendong. Nanti ada fasenya dia maunya merangkak, berjalan, dan seterusnya. Jadi, kalau sekarang maunya digendong, dinikmati saja. Malah kalau denger cerita dari ibu-ibu yang lebih dulu terjun ke dunia gendong, ada masanya ibu-ibu ini pengen nyobain gendongan ini itu, tapi malah anaknya kabur enggak mau digendong lagi.

Terus kenapa posisi gendongnya harus begitu (berdiri)? Terus kenapa kakinya digituin? Kan masih bayi banget?

Sering banget juga nih kena tegur karena posisi gendong bayi berdiri (upright) padahal cikcik masih mungil banget. Belum ada sebulan kayaknya cikcik udah saya gendong upright.

Alasan pertama karena cikcik maunya digendong upright. Dia tetep nangis dan kayak enggak nyaman kalau digendong posisi tidur.

Alasan kedua dan yang lebih ilmiah, karena posisi upright dan M-shape itu seperti posisi bayi saat di dalam kandungan. 

Emang sih ini seolah memutarbalikkan hal yang lumrah di masyarakat. Kalau bayi, apalagi yang baru lahir, digendongnya ditidurkan saja dan kakinya posisi lurus bukan dipekeh (read:bahasa jawa). 

Sebenarnya yang penting dalam menggendong bayi adalah bayi aman, nyaman, begitu pula dengan yang menggendongnya.

Bayi aman dan nyaman kriterianya biasa disebut dengan singkatan TICKS.

Penjelasan singkatnya begini.

T Tight, ketat saat menggendong bayi, jadi bayi merasa dipeluk. 

I In view all the times, yang menggendong selalu bisa melihat kondisi bayi. So, it means bayi enggak boleh mendelep atau tenggelam dalam gendongan.

C Close enough to kiss, bayi mudah dicium saat digendong.

K Keep chin of the chest, harus dihindari dagu bayi menempel ke dada karena dikhawatirkan nanti sulit bernapas.

S Supported back, gendongan yang dipakai harus menyangga punggung bayi. Apalagi bayi yang baru lahir. Mulai dari kepala, leher, punggung, pinggul, pantat, dan paha harus dijaga.

Buat yang ngerasa ngeri dan khawatir dengan tulang ekor bayi yang diposisikan terduduk saat digendong, enggak perlu khawatir, karena posisi gendong upright atau C-shape pada punggung bayi adalah posisi natural bayi baru lahir dan sesuai dengan perkembangan ruas tulang belakang bayi.

Perkembangan ruas tulang belakang bayi


Posisi C-Shape punggung bayi

Posisi kaki bayi pun naturalnya saat baru dilahirkan seperti posisi kaki katak atau M-shape. FYI, sendi pinggul bayi terdiri dari bola dan mangkuk persendian. Selama beberapa bulan pertama, persendian pinggul bayi masih lentur dan mangkuk persendiannya pun masih dalam tahap perkembangan. Mangkuk persendian yang tersusun dari tulang rawan lunak, harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.

Kalau pinggul bayi dipaksa dalam posisi kaki lurus, bola persendian dalam kondisi beresiko karena bisa terjadi kerusakan permanen saat proses pembentukan mangkuk persendian. Kondisi ini disebut Developmental Dysplasia of Hip atau DDH. Akibat lainnya adalah bola persendian bisa tergelincir keluar sedikit demi sedikit dari mangkuk persendian atau terjadi dislokasi pinggul.

Posisi M-Shape kaki bayi

Sayangnya, di Indonesia malah kayak it's a must untuk ngelurusin kaki bayi yang baru lahir. Entah itu lewat praktek membedong atau saat menggendong bayi.

Makanya, saya bersyukur bisa mengenal dunia gendong karena jadi tau kalau menggendong itu banyak manfaatnya baik untuk fisik maupun psikis ibu dan bayi. Misalnya, dengan menggendong bisa memperkuat ikatan antara ibu dan bayi, ibu menjadi lebih bahagia, mengurangi depresi atau stres pasca melahirkan, dan memperbaiki postur tubuh ibu saat hamil yang cenderung membungkuk. Dari sisi bayi, selain memberikan kondisi yang aman dan nyaman, menggendong bisa mendorong bayi untuk berkomunikasi sesuai tahapan usianya dan bayi bisa lebih menerima rangsangan yang berguna untuk mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, dan emosionalnya.

Buat saya pribadi, belajar lagi soal gendong bayi, bikin kita lebih open mind bahwa praktek gendong yang dulu-dulu itu harus dibetulkan.

Saya bisa nulis begini bukan berarti lancar jaya dalam praktek menggendong yang sesuai aturan. Sempet banget kena semprit ortu, nenek, buyut, sodara, tetangga, bahkan orang yang ketemu di jalan. Sempet juga karena males berdebat akhirnya gendong model cradle (gendong biasa yang kakinya dilurusin dan dirapetin). Tapi, ya, tetep berusaha cari celahnya supaya bisa bertahan gendong yang aman dan nyaman untuk bayi.

Akhirnya kesenengan tau dunia gendong juga karena saya enggak bisa gendong bayi pake jarik yang diselip-selipin di belakang punggung. Seinget saya karena enggak bisa dan menyerah mencoba, bikin saya jadi belajar teknik gendong jarik pake simpul jangkar (slipknot). Enggak terlalu solutif sih buat saya, karena saya enggak tahan ribet bikin simpulnya. Alhasil saya kenal dengan berbagai macam jenis gendongan dan yang paling jadi favorit, karena it helps me a lot adalah gendongan model ransel atau kanguru atau SSC (Soft Structured Carrier).

Sampai sekarang saya merasa babywearing atau gendong-menggendong sangat penting dan membantu saya menjalani fase motherhood ini. Menggendong enggak cuma saat cikcik rewel saja, tapi saat bepergian maupun saat beberes rumah. Menggendong sangat memudahkan aktivitas saya sehari-hari.

Gimana dengan ibu-ibu yang lain? Merasakan manfaat yang sama kah dengan kegiatan menggendong?

Atau masih enggak habis pikir kenapa kegiatan menggendong aja ada macem-macemnya, ini itu, bahkan gendongan bayi pun harganya bisa seperti harga motor bekas?

Yah, masing-masing ibu punya prioritas dalam merawat bayinya. Hal yang penting adalah kita saling open mind dan berlapang dada saat berbagi ilmu yang berkaitan dengan merawat anak, termasuk babywearing. Tidak perlu saling menghakimi saat apa yang mungkin kita terapkan pada anak kita, malah dihindari oleh ibu yang lain. Kalau memang hal yang kita sampaikan belum bisa diterima orang lain, selama kita (paling tidak) berikhtiar untuk sharing, tetep tersenyum ya, bu (ngomong ke kaca).

Semoga bermanfaat.


Referensi:
Notulensi KulWapp I Carrie my Baby with Love bersama Ns. Henti Nikimawati (Babywearing Consultant) by Shalihah Motherhood
Notulensi KulWapp Menggendong untuk Kesehatan Ibu dan Bayi bersama Indy Bulukana (Babywearing Consultant) by Magelang Babywearers
M-Shape in Baby's Leg Natural Position oleh Afifah Mu'minah (Babywearing Consultant) https://www.afifahmmnh.com/single-post/2017/08/10/M-shape-is-Babys-Leg-Natural-Position

Credit gambar: google dan pinterest

Rabu, 09 Mei 2018

Penting Enggak Penting, Perlengkapan Bayi dan Ibu Melahirkan


Pas hamil dulu, saya termasuk yang santai banget soal persiapan membeli perlengkapan bayi. Bukan karena ngikutin yang kata orang Jawa 'ora elok' atau 'pamali' nya orang Sunda, untuk enggak cepet-cepet beli perlengkapan kelahiran bayi. Melainkan karena emang bingung apa-apa saja yang mau dibeli dan bingung mau beli di Lampung atau Semarang.

Padahal sebenarnya udah banyak download referensi list dari beberapa grup Whatsapp emak-emak. Saking banyaknya, jadi malah bingung sendiri. Tapi, alhamdulillah bisa nyusun list kebutuhan bayi dan ibu sebelum pulang ke Semarang.

Awalnya, saya gabung-gabungin semua list dari referensi hasil download di grup-grup Whatsapp. Lalu saya sortir mana yang perlu dan enggak. Lanjut diskusi sama pak suami dan searching harga di market place. Dari situ bisa ketemu berapa anggaran yang dibutuhkan.

Karena pak suami sudah menentukan range budget untuk persiapan melahirkan, akhirnya kami diskusi lagi mana yang perlu dan urgent, dan mana yang bisa ditunda. Nah, pas udah klop, baru saya belanja berdasarkan list rancangan kami.



Belanjanya online apa offline?

Karena belanja sama ummi, jadi offline. Katanya enggak mantep kalau enggak lihat barangnya langsung. Tapi, saya cuma sekali aja belanja offline yang bener-bener milih, lihat-lihat, dan bayar langsung di toko. Selanjutnya? Saya belanja online, karena ada baby shop yang barang-barangnya lumayan oke, harga terjangkau, dan bisa via online di Semarang.

Sebagian besar barang yang ada di list dibeli pas pertama kali belanja. Tapi, ada juga yang dibeli nyusul-nyusul via online.

Saya pengen share beberapa barang yang saya beli, tapi ternyata enggak diperlukan, dan barang yang saya rasa bermanfaat banget.

1. Gurita
Ceritanya udah beli gurita yang versi modern yang model perekat, bukan yang harus ditali-tali banyak itu. Tapi, gurita cuma kepake kurang dari 7 hari. Karena pas seminggu setelah cikcik lahir, langsung ditegur sama pak dokter karena pake gurita. Saya sebenarnya dari awal enggak mau makein cikcik gurita, tapi untuk melegakan hati nemi (nenek ummi), ya akhirnya tetep pake. Alhamdulillah, setelah dikasih tau pak dokter, nemi juga pro enggak pakein cikcik gurita lagi.

2. Korset
Ini korset buat ibu setelah melahirkan ya. Saya akhirnya beli tanpa tau tujuannya buat apa karena dipaksa-paksa nemi dan bude saya. Katanya supaya perut yang habis hamil gede enggak ngegelambir. Tapi, nyatanya saya langsung dikasih ultimatum sama dokter kandungan enggak usah pake korset segala.

3. Perlak bayi
Jujur, saya salah beli model perlak saat belanja pertama kali. Belinya yang model ada tekstur kotak-kotaknya gitu. Kayaknya model gitu biar kalau bak enggak langsung kena kasur. Tapi, nyatanya malah jadi susah ngebersihinnya. Akhirnya, saya malah beli lagi perlak model biasa yang ukurannya lebih kecil, karena perlak gede malah bikin ribet. Model perlak yang polos sebenarnya aman-aman aja asalkan dilapisi dulu sama kain alas ompol.

4. Kapas bulat
Pilihan kapas sebenarnya masalah selera sih. Kalau saya prefer yang bulat karena memudahkan saat bersih-bersih. Sebaliknya, nemi ngerasa kapas persegi yang biasa aja malah lebih mudah.

5. Gunting kuku
Favorit! Gunting kuku yang model beneran gunting dengan ujung bulat. Enakeun banget buat motong kuku bayi yang cepet banget panjang. Meskipun rada mahal, tapi sangat bermanfaat.

6. Termometer
Must have item supaya enggak panikan kalau ngerasa badan bayi lebih anget dari biasanya. Anget yang kita rasain kadang relatif ya. Jadi, supaya akurat, lebih baik sedia termometer. Meskipun, belinya awal, tapi kalau saya, baru kepake pas cikcik imunisasi DPT.

7. Maternity softex
Ngerasa agak lebay karena maksain beli pembalut nifas yang super banyak. Padahal cuma dipake 2 biji doang. Selebihnya nganggur, karena lebih cocok pake pembalut biasa.

Buat saya, bikin list belanjaan perlengkapan bayi dan ibu melahirkan itu penting. Supaya jelas dan ketauan apa aja yang dibutuhkan dan beli-beli baby stuff enggak karena sekadar pengen. Tau sendiri kan, pernak-pernik bayi itu lucu-lucu dan menggoda untuk dibeli semua. Saya nulis begini bukan berarti saya bebas godaan enggak beli barang-barang lucu. Tetep aja sebagai emak-emak newbie saya kena jebakan batman beli barang karena lucu padahal enggak begitu diperlukan. Stay alert sama yang beginian ya, emak-emak dan calon emak kekinian.

Semoga  bermanfaat.

Sabtu, 05 Mei 2018

Mengapa Memilih Staycation?

Pertama kali denger istilah staycation pas blogwalking ke blog panutan emak-emak kekinian. Langsung ngerasa tertarik gitu karena pada dasarnya saya bukan orang yang suka repot untuk sekadar jalan-jalan. Asyik kali ya, refreshing nginep di hotel, terbebas dari tugas harian emak-emak, yaitu masak, cuci piring, nyapu, ngepel, mikirin cucian baju.

Suatu hari pak suami ngajakin liburan ke Palembang. Awalnya, mempertimbangkan untuk berangkat, meskipun jadi banyak yang dipikirin, utamanya tentang anak bayi yang belum 12 bulan. Nanti gimana di perjalanan, gimana mpasinya, kalau ke tempat wisata kuliner apa enggak malah rempong?

Mikir ini itu bukan tanpa alasan. Selama ini rata-rata tiap satu bulan sekali saya dan keluarga pergi ke ibu kota provinsi Lampung yang jaraknya 2 jam perjalanan dari rumah. Lumayan juga kan kalo PP, dan itu cukup melelahkan. Meskipun, sebanding sih, jadi bisa ngerasain yang agak ke-kota-an dikit. Hahahaha. Mohon maklum, dari kecil sampe kuliah hidup di kota besar yang ramai dan banyak mall (tetep ya, tempat favorit buat hang out), terus harus merantau ke kota kabupaten. Tahu lah gimana kangennya saya ngeliat mall yang banyak food courtnya.

Nah, kadang setelah perjalanan yang cuma ke Bandar Lampung ini aja bikin anak bayi rada rewel setelah sampe di rumah. Tentu saya langsung curiga sebabnya adalah kelelahan. Wajar dong kalau saya akhirnya mikir seribu kali untuk perjalanan yang lebih jauh dan lebih lama?

Khawatir enggak worth it antara capek saat travelling dengan travellingnya, akhirnya saya memutuskan untuk menunda dulu jalan-jalan ke Palembang. Terus saya menawarkan alternatif lain buat refreshing, yaitu staycation!

Refreshing yang sudah-sudah, kami sekeluarga enggak pernah menginap kalau ke Bandar Lampung. Berangkat pagi-pagi dan pulang agak malam. Seharian di Bandar Lampung full jalan-jalan. Enggak heran ya, kalau capek banget.


Oh ya, satu yang bikin saya mikir banget untuk enggak ke Palembang adalah soal wisata kuliner. Ketahuan kan kalau saya doyan banget jajan? Hahahaha.

Pas ngebayangin mau ke Palembang, yang disusun pertama kali adalah list tempat buat makan. Pempek dan mie celor, dua itu yang wajib buat saya. Ngebayangin tempat makannya, kayaknya kurang meyakinkan bakal ada high chair buat bayi.

Buat saya, makan di luar yang enggak ada high chairnya itu rada pe er. Karena anak bayi tidak memungkinkan didudukkin sendiri di kursi pengunjung (khawatir ngejeblak atau dia rusuh dan ngeberantakin semuanya), yang sudah-sudah, biasanya saya dan suami bergantian makan, sementara yang lain nemenin main. Makanya, kalau wiskul di kota lain (yang kebanyakan di warung-warung) kayaknya kok pe er banget berkali-kali lipat kalau saya harus pake metode makan bergantian gitu. Ya, mungkin kami harus sabar nunggu anak bayi agak gedean dikit supaya lebih nyaman saat travelling.

Balik lagi ke staycation. Kalau sepemikiran saya, staycation itu thok nginep di hotel, menikmati segala fasilitas di hotel. Ternyata, setelah googling, arti staycation enggak sesempit itu. Bahkan aktivitasnya enggak harus di hotel. Bisa aja tetep di rumah, atau tetep di kota tempat kita tinggal. Jadi, patokan liburannya itu bukan tempat, melainkan aktivitas. Di rumah, asal aktivitasnya non yang dikerjain sehari-hari, itu juga disebut staycation. Atau sekadar piknik di taman deket rumah, itu juga staycation.

Kalau menilik asal muasal munculnya istilah staycation, yaitu dari Amerika sana di tahun 2003, yang bertepatan dengan terjadinya krisis ekonomi, staycation ini liburan low budget karena bepergiannya enggak jauh-jauh yang butuh ongkos banyak.

Terus gimana setelah saya menjalani staycation?

Ketagihan!

Cocok banget sama saya. Kalau kata suami sih, gara-gara hobi saya tidur. Jadi, hepi aja gitu diajakin sekadar pindah tidur doang ke hotel.

Tapi, beneran worth it kok. Saya bisa rehat sejenak enggak mikirin kerjaan rutin emak-emak. Ada waktu buat buka laptop rada lama. Alhamdulillah anak bayi juga kooperatif.

Cuma, ya, staycation ini bukan tanpa efek samping. Siap-siap aja dengan cucian menggunung pas pulang ke rumah (karena saya enggak pake jasa laundry di hotel) dan harus sedia tenaga untuk beberes rumah yang ditinggalin.

Asal setelah staycation kitanya refresh, insya Allah gitu doang mah enteng.

Sekian.

Senin, 02 April 2018

Pulang (1)

[Tantangan Fiksi: Deskripsi]

Gadis berkacamata tebal itu terengah-engah begitu sampai di gerbong paling belakang. Beberapa detik kemudian, kereta berpendingin ruangan berangkat. Syukurlah, gadis itu tidak ketinggalan kereta. Apa jadinya kalau ketinggalan? Uang tabungan hasil menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya yang cekak hangus begitu saja? Ia nampaknya tidak bisa menerima hal itu. Bukannya terlalu perhitungan, tapi, membayangkan ketinggalan kereta karena hal remeh saja sudah membuatnya sesak. Untunglah ia masih bisa berlari sekuat tenaga meski diserang kepanikan luar biasa. Ia pun tidak jadi memaki bapak pemeriksa tiket yang menjelang keberangkatan tadi masih sempat-sempatnya berlambat-lambat memeriksa identitasnya. Sungguh terlalu.

Menyusuri beberapa bangku kereta dalam gerbong, ia akhirnya sampai di baris paling belakang pula. Inilah hasilnya membeli tiket kereta pada detik-detik terakhir jadwal keberangkatan. Khas dirinya. Terlalu banyak menimbang dan berpikir, lalu memutuskan cepat, untunglah masih dengan bismillah. Kalau sampai ibunya tahu dirinya memesan tiket sangat mepet waktu seperti ini, sudah pasti dirinya kena omel. Macam anak baru gede saja. Padahal dua tahun lagi usianya seperempat abad. Entah ibu-ibu jaman sekarang memang ribet kalau soal anak perempuan, atau memang dirinya yang tidak dewasa. Ya sudah, mungkin tidak usah cerita masalah hampir ketinggalan kereta ini pada ibunya. Asal sampai rumah dengan selamat, rasanya mengejar kereta setengah mati tidak spesial. Pertama kalinya ia seperti ini, karena biasanya ia manusia sangat penuh persiapan. Tapi, ini pengalaman pertama kali yang tidak buruk.

Akhirnya, gadis dengan barang bawaan hanya sebuah tas punggung itu menemukan nomor kursinya. Ah, teman duduknya seorang pria. Pria muda lebih tepatnya. Menganalisis dari atas hingga ujung kaki, nampaknya pria itu masih usia anak kuliahan. Gayanya sama persis dengan junior-juniornya di kampus. Gadis itu tidak berkeberatan bersebelahan dengan pria sebagai teman duduk hingga ke kota asalnya. Sama sekali bukan masalah. Hanya saja, dirinya lebih bersyukur bila teman duduknya ibu-ibu tua yang ramah. Pria itu tersenyum dan mengangguk sedikit padanya. Dirinya membalas tersenyum lalu mencoba duduk dengan santai.

Meskipun tidak bisa seratus persen santai, karena sesungguhnya ia lebih nyaman dengan kursi yang menempel ke jendela. Sayangnya, pria muda itu sudah nampak nyaman sekali di kursi itu. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan atau ingin bertukar kursi. Biasanya, gadis berkerudung ini akan sangat ketat memilih tiket kereta beserta nomor kursinya. Sangat selektif dan pemilih supaya mendapatkan kursi di sebelah jendela. Tapi, tidak untuk perjalanan kali ini. Semuanya meskipun sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata dieksekusi terlalu cepat. Maka, inilah konsekuensinya, kehilangan momen bisa bersandar di tepian jendela kereta api. Bisa memandangi jalanan penuh warna, mulai dari rumah-rumah penduduk yang berdempetan hingga sawah yang menghijau. Berlebihan? Siapapun yang mengatakan itu mungkin belum menghayati nyamannya duduk di kursi sebelah jendela kereta.

Gadis yang hari ini mengenakan kerudung berwarna biru itu, memilih mendekap tas punggungnya. Tidak seperti teman duduknya yang meletakkan tas di rak atas kepala dan sekarang bisa memainkan gawai dengan dua tangan bebas. Gadis itu tidak iri. Niatnya memang ingin menikmati perjalanan tanpa perlu memainkan gawai. Sekali mengecek gawai, biasanya berakibat candu untuk dirinya. Ia merasa perlu momen untuk menjernihkan pikiran. Perjalanan dengan kereta adalah saat yang tepat. Apalagi bila teman duduknya tak banyak omong. Ah, sungguh sinis dirinya yang tak mau terlibat obrolan.

"Mau kemana mbak?" Pertanyaan yang sungguh standar ditanyakan oleh teman seperjalanan.

"Ke xxx,"

"Oh," Pria itu mengangguk paham.

"Pemberhentian terakhir, ya?" Lanjutnya bertanya.

"Ya. Masnya sendiri mau kemana?" Gadis itu balas bertanya atas nama kesopanan.

"Saya sebelum mbak, turun di stasiun xxx,"

Obrolan pun berlanjut ke hal-hal formal lainnya yang lumrah ditanyakan saat orang asing bertemu dalam sebuah perjalanan dan menjadi teman duduk. Seperti biasa pula, gadis ini dikira masih anak kuliahan, padahal ia sudah lulus lebih dari satu tahun yang lalu. Wajah gadis itu yang memang irit atau penampilannya saja yang terlalu mirip anak kampus? Sepertinya yang kedua. Style gadis itu menjadi ciri khas dan yang dirinya rasa paling nyaman. Berkemeja panjang, ditumpuk jaket, rok denim, kerudung segi empat, dan tidak lupa sneakers yang mendukung diajak berlari kesana kemari. Cukup banyak yang protes dengan penampilannya yang terlalu nyantai ini. Tapi, ia tidak terlalu peduli komentar orang. Toh di pekerjaan pun, pada banyak momen gaya ini lah yang paling mendukung. Meskipun alasan utama style yang ia pakai ini adalah karena super nyaman dan sangat mudah disiapkan.

Tak lama, teman duduknya kembali sibuk dengan gawainya dan menghentikan obrolan. Bukan masalah bagi gadis itu. Ia malah leluasa untuk memikirkan dan merenungi banyak hal. Termasuk soal pulang. Rasanya, pulang ke rumah bukan salah satu prioritas beberapa bulan lalu. Ternyata skenario hidupnya berubah total. Dirinya bisa apa selain menjalani?
Mengapa harus pulang? Ia sendiri berkali-kali bertanya pada hati kecilnya. Tapi, beginilah menjadi wanita. Menurut saja apa kata orangtua. Ia tidak berani lagi melawan, karena diskusi terakhir, ia merasa sangat berdosa akibat terlalu emosional dalam berkata-kata.

Ia pulang untuk menyelesaikan masalah dan mengubah arah impian-impiannya.

~Bersambung~


#OdopBatch5
#OneDayOnePost

Sabtu, 31 Maret 2018

Review Gendongan SSC Nana Gen 1

Kesan pertama begitu menggoda.

Hahaha itu yang saya rasakan begitu memakai SSC Nana generasi pertama. Kalau boleh lebay, ini uenak pol meskipun pertama kali dipakai.

Ada beberapa sebab kenapa saya bisa komen begitu. Pertama, bisa jadi karena saya mulai terbiasa pakai SSC. Kedua, bisa karena SSC ini udah sering dipakai jadi udah break-in (emang woven wrap* ada break-in* segala?), atau emang beneran enak? Soalnya, meskipun saya baru nyobain pertama kali, rasanya langsung nemplok dan nyaman.

Straps alias tali-tali pengaturnya, mau itu di pinggang (waistpad), lengan (shoulder strap), maupun chest strap, mulus dan mudah diatur. Enggak seret sama sekali. Kainnya adem saat dipakai. Hoodienya juga mudah diakses. Selama saya nyobain, enggak ada keluhan berarti.

Cuma, ada satu momen saat saya enggak memasang shoulder strap ke karet pengaman, strapnya meluncur dengan mulus, saking licinnya. Sayanya juga sih yang kurang perhatian memasang semua pengaman di SSC.

Kalau mau membandingkan dengan SSC generasi yang sekarang, dari segi harga, masih di kisaran 250 sampai 275 ribu.

Dari segi penampakan, yang paling terlihat jelas logo. Kalau enggak ngeh, mungkin dikira bukan Nana yang itu dan bisa dikira brand lain. Lebay! Motif choco rainbow yang saya cobain ini manis banget! Bikin pengen ngemil, eh. Motifnya manis, tapi elegan, halah.






Dari segi peruntukkan usia, kalau tidak salah klaim dari Nana, generasi pertama bisa digunakan mulai usia 3 bulan sampai berat badan bayi 20 kg. Nah, beda dengan Nana keluaran terbaru yang mencantumkan usia 4 bulan baru bisa digendong menggunakan gendongan model SSC ini.

Buat saya, generasi pertama Nana ini lebih nyaman dipakai dibandingkan Nana yang sekarang. Saya curiga karena Nana generasi kedua yang saya punyai belum break-in, hahaha. Kalau kepunyaan mbak Sisil si generasi pertama kayaknya udah malang melintang di dunia pergendongan, makanya nemplok-plok saat dipakai.

Iseng-iseng pak suami komentar saat ikut nyobain. Kata beliau emang terasa lebih enak si generasi pertama. Mungkin karena pilot project jadi dibikin sebagus mungkin. Nah, generasi berikutnya mungkin mengalami efisiensi, jadi terasa beda. Hahaha, bercanda banget si pak suami.

Overall, bahagia banget bisa nyobain Nana generasi pertama. Berasa ketemu barang unik dan langka.

Sekian.

Semoga bermanfaat.



Nb.
TB/BB penggendong 150cm/40kg
TB/BB yang digendong belum ngukur/7.9kg (usia 9 bulan)

Bisa nyobain gendongan langka ini karena program travelling wrap* dari Lampung Menggendong.

*woven wrap salah satu jenis gendongan berupa kain bermeter-meter. Memakainya butuh teknik khusus.
*break-in istilah untuk gendongan jenis woven wrap, ringsling, dan yang lainnya yang berbentuk kain panjang, yang sudah lemas sehingga mudah digunakan (saat ditarik, dikencangkan, dan lain-lain).
*Travelling wrap jalan-jalan gendongan, bisa lintas kota, pulau, bahkan benua dan negara untuk dicoba penggendong-penggendong yang lain.

Senin, 26 Maret 2018

Bisa Minta Tolong

Beberapa hari ini lagi ngerasain beratnya ngerjain kerjaan domestik. Keren ya? Nyebutnya domestik, berasa penerbangan.

Buat stay at home mom kayak saya, pekerjaan domestik alias nyapu, ngepel, cuci piring, masak, dan masih banyak lagi, harusnya sih jadi makanan sehari-hari. Tapi, kok, ya, makin kesini kayaknya makin berat aja (ngeluh mode on).

Kirain dulu bakal terbiasa loh sama pekerjaan domestik ini. Tapi, ternyata, buat saya mendingan pusing mikirin deadline tulisan daripada ngerjain kerjaan domestik yang enggak ada beresnya. Ada lagi dan ada terus. LOL.

Mungkin akhir-akhir ini terasa berat, karena biasanya pak suami yang lumayan bantu-bantu, sekarang lagi banyak off-nya, gara-gara kerjaan kantor yang lagi sungguh sangat padat.

Dulu-dulu pak suami masih bisa bantuin ngejemur pakaian, nyapu-nyapu rumah, ngeberesin segala mainan dan yang berantakan di ruang tengah. Tapi, kayaknya beberapa minggu terakhir, itu semua saya yang handle.

Ngerjain itu semua sambil ngegendong anak bayi, encok juga ternyata. Meskipun, alhamdulillah beres sih.

Sebenarnya, malu juga kalau masih ngeluh karena kerjaan domestik, secara saya di rumah aja. Tapi, no offense, saya ngerasa kerjaan domestik ini suatu saat nanti ingin saya delegasikan. Pengennya sih, saya nemenin anak bayi bermain dan produktif berkarya, uhuks.

Pak suami yang mau bantu ngerjain ini itu, dan selalu nge-iya-in saat saya bilang, "Bisa tolongin ini, itu, de es be," Rasanya bikin saya makin malu kalau masih ngeluh terus.

Bahkan di kompleks perumahan pun, bapak-bapak yang kelihatan pernah ngejemur pakaian, kayaknya cuma pak suami seorang. LOL. Kalau tugas buang sampah sih banyak ya.

Setelah diskusi singkat dalam sebuah perjalanan, pak suami juga setuju, kalau nanti perekonomian dunia termasuk rumah tangga kami lebih baik, enggak apa kalau mau pake additional player buat ngurus cucian, bersih-bersih, de el el. Karena jujur, rasanya saya enggak into it (di dunia pekerjaan domestik).

Kalau lagi rajin aja rumah dipel, barang-barang rapi terorganisir. Kalau lagi males? Beuh! Kayaknya kalau masih single saya bakal dicoret dari daftar calon menantu aliansi ibu-ibu mertua sedunia.

Maklum, ya, dari kecil kayaknya saya enggak dibiasain doyan beberes. Tugas di rumah pun dulu cuma cuci piring, ngepel, dan nyetrika seragam sendiri. Eh, tapi, itu lumayan juga ya. Dulu di rumah ortu pun, rumah jarang rapi alias sering berantakan juga. Hahahahaha.

Suatu hari saya pernah nanya ke suami sih, dia sebenarnya keberatan enggak kalau saya minta tolong ini itu (kerjaan beberes rumah), terus dia enggak kayak rata-rata suami di Indonesia yang tinggal ongkang-ongkang kaki nyantai pas lagi di rumah? Jawabannya? Dia sih nyantai aja ya, cuma enggak nolak juga kalau pulang kerja dan weekend enggak harus ngapa-ngapain. Denger jawaban kayak gitu rasanya pengen ngejitak juga.

Secara Rasul pun pas di rumah jahit baju sendiri, memerah susu sendiri, yang saya tangkap dan analogikan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, enggak sungkan dan mau bantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, kalau pak suami masih ngeles kalau saya mintain tolong nyapu-nyapu atau beberes? Hm…

Alhamdulillah selama ini enggak pernah nolak sih kalau dimintain tolong. Cuma kadang nge-iya-in, tapi baru dikerjain berpurnama-purnama kemudian, atau udah saya kerjain duluan karena dia kelamaan!

Buat saya, it takes two to tango, halah klise! Tapi, ya, emang bener, kalau saya udah capek pake banget setelah seharian nemenin anak bayi main dan ngerjain sebagian kerjaan domestik, masa' iya pak suami enggak tergerak hatinya buat ngebantu? Apalagi kalau saya udah melambaikan tangan ke kamera? Kalau sampe enggak tergerak buat bantu-bantu, ya, dinikmatin aja ya, pak, kalau rumah rada kayak kapal pecah, cucian piring numpuk sampe kadang bingung mau nyari sendok. Hahahaha. Tapi, tenang, kalau kekuatan saya udah kembali, akhirnya saya juga sih yang ngeberesin segala-gala.

Kadang beres-beres sambil sebel, bukan karena enggak ikhlas ngerjainnya, tapi lebih karena lelah, bosen, sambil mikir kok ini enggak ada beresnya?

Nah, pas momen kayak gitu, bersyukur banget, kalau pak suami mau ambil alih kerjaan-kerjaan rumah. Alhamdulillah, pak suami dari jaman single emang suka beberes dan pecinta kerapian, bete kalau barang-barang geletakan enggak karuan, jadi mungkin itu ya, bibit dia mau aja bantu-bantu kerjaan domestik. Tapi, enggak juga sih. Beliau emang sayang istri, enggak cuma kerjaan domestik, momong anak, ngegantiin baju, ngegendong anak bayi, beliau juga mau. Hahaha (kok nyebutnya jadi beliau!)

Saya jadi punya cita-cita, ntar kalau anak bayi udah rada gedean dikit, kayaknya harus diajarin dan dibiasain untuk mau bantu ngerjain kerjaan domestik. Ya, enggak yang berat-berat juga, paling enggak, beresin mainannya, nyuci piring bekas makanannya, dan yang sejenisnya. Biar terbiasa sampai besar nanti. Enggak kayak saya! LOL. Dan itu berlaku untuk anak laki-laki maupun perempuan. Karena buat saya, keren kalau laki-laki pun mau beberes rumah, masak, nemenin anak main, de es be.

Sekian.



#Modyarhood
#Walaukadangbikinmaumodyartapitetapyahud
#timgakpakeART berencana #timpakeART

Jumat, 23 Maret 2018

Kesal Tapi Rindu, Benci Tapi Cinta

Hari ini udah beberapa kali kesel sama pak suami. Dari pagi ada aja yang bikin ribut. Tapi, enggak diutarakan. Rusuh aja di dalam hati.

Cuma tetep pas mau berangkat ke kantor langsung minta maaf.

Aneh kan?

Sepanjang hari juga gitu. Chat via Whatsapp ada aja yang bikin bete dan dongkol, tapi, beberapa menit kemudian ngirim chat-chat enggak urgent yang lain. Terus kalau centang dua biru, tapi enggak dibales juga chatnya, ngambek lagi. Eh, beberapa jam kemudian udah haha hihi aja.

Kalau pak suami pulang telat rasanya pengen pasang muka ditekuk-tekuk pas beliau pulang nanti. Tapi, kok ya, enggak tega pas beliau udah sampe rumah dengan wajah yang lelah.

Beberapa bulan terakhir emang pak suami kayak buanyak banget kerjaannya. Udah enggak bisa kehitung pake sebelah tangan aja, berapa kali beliau pulang larut.

Sebel? Iya lah. Seolah-olah rumah tangga dan mengurus anak ini saya seorang yang menjalani. Beliau kerja (literally di kantor) doang.

Pengen marah-marah? Banget. Sejujurnya, pengen ngamuknya lebih karena saya lelah. Kayak dari pagi sampai malam itu enggak ada time out buat saya. Pas udah malam gitu bukan time out lagi, tapi turn off! Enggak punya daya lagi mau ngapa-ngapain.

Mungkin saya bukan tipe yang bisa marah sampai meledak-ledak. Jadi, marahnya cuma bisa ditunjukkan dengan wajah yang bersungut-sungut dan diam seribu bahasa.

Biasanya pak suami sadar sih. Kalau lagi sama-sama senewen atau sensitif, akhirnya saling diam. Alhamdulillah besoknya udah lupa.

Sering banget gitu.

Apa karakter saya yang mudah melupakan kemarahan dan kekesalan?

Atau saya enggak terlalu bernyali untuk marah-marah?

Berharap yang pertama aja sih, hehe.

Sebenarnya, pertengkaran dalam rumah tangga atau lebih halusnya diskusi itu seperti bumbu masakan yang bikin sedap.

Kayaknya kalau damai-damai, tanpa perselisihan atau flat aja, kayak enggak dinamis. Satu yang saya khawatirkan, jatuhnya jadi malah sebodo teuing sama pasangan.

Cuma ya, kalau diskusi (berselisih paham sampai cekcok) mulu kok ya ngabisin energi banget.

Akhirnya, setelah ini berniat, kalau lagi kesal dan murka banget sama suami, enggak sampai melampiaskan secara verbal atau yang sejenisnya. Emang muak sendiri sih kalau amarah tidak tersalurkan. Cuma kalau sampai mengimajinasikan adegan marah-marah itu kok ya, kayaknya bakal nyesek dan menyesal.

Sama satu lagi, cuma bisa berdo'a semoga bisa menahan perasaan dengan tenang.

Setelah tenang biasanya bergidik ngeri membayangkan adegan orang marah-marah yang enggak banget.

Bersyukur ketemu orang yang selalu ngingetin buat sabar kayak pak suami.



#onedayonepost
#odopbatch5

Rabu, 21 Maret 2018

A Letter to Single Lillah

Satu hal yang saya sesali saat dulu masih single dan belum punya anak adalah selalu banyak alasan untuk enggak banyak-banyak travelling. Kalau diajak kemana gitu sama temen (kecuali ke mall ya) kayaknya ada aja alasannya. Inilah, itulah, mikir x, y, z, ujung-ujungnya bilang, "Maaf, ya, aku enggak ikut dulu ke kota xxx nya,". Tanpa menyebutkan alasan karena tengsin.

Paling sering menolak ajakan travelling dengan alasan, hari libur itu saatnya istirahat. Mengumpulkan tenaga untuk berjibaku lagi sepekan ke depan. Padahal mah alasan kayak gitu bukan jadi hambatan yang banget-banget alias masih bisa disiasati. Misal, travelling di hari jumat sepulang kerja sampai sabtu. Jadi, hari ahadnya masih ada waktu untuk istirahat atau ngerjain ini itu persiapan saat senin kembali menyapa.

Sekarang baru terasa nyesel dan nyeseknya. Karena kalau pengen travelling, even ke ibu kota provinsi aja mikirnya panjang dari a sampai z. Mulai dari ongkos, biaya, de el el, yang harus dikali tiga, sampai mikirin detail kenyamanan transportasi maupun tempat yang dituju. Even ke mall sekalipun. Harus cari info dulu, ada ruangan menyusui enggak? Ntar ganti pospak dimana? Tempat makannya ada high chairnya enggak? Dan sebagainya.

Sebelun mikirin tetek bengeknya, bahkan harus mikirin dulu timingnya tepat enggak. Anak bayi bakalan capek kah?

Duh.

Nyeselnya baru terasa pas sekarang super bosen karena di rumah terus.

Makanya, kalau ada temen yang baru nikah dan belum hamil nanya harus ngapain supaya enggak bosen di rumah, saya selalu jawab, jalan-jalan!

Enggak harus ke mall, yang simpel kayak main ke rumah temen lama, temen baru, de el el, atau nyicipin kuliner terkenal yang khas. Itu juga udah oke banget. Poinnya adalah buka wawasan dengan keluar rumah.

Kalau buat single Lillah, sudah pasti, sana banyakin travelling! Naik kereta, pesawat, kapal laut, touring sepeda motor, pake mobil travel, you named it.

Enggak usah lah galau-galau dengan status single, jodoh mah enggak akan kemana asalkan kita berikhtiar.

Manfaatkan waktu untuk memikirkan dan mentadabburi ciptaan Allah swt, dengan travelling atau sekadar silatturahim.

Enteng buat jomblo mah, tinggal nyisihin sedikit dari gaji bulanan, angkat backpack, terus cus.

Yakin deh, ntar kalau udah nikah atau punya anak, mikirnya seribu kali untuk travelling. Bahkan bisa jadi rencana travelling itu hanya angan semata.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Senin, 19 Maret 2018

Terapi Menulis Agar Bahagia

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah kuliah Whatsapp tentang menjadi ibu bahagia. Sebenarnya, kulWapp tersebut menjadi salah satu media promosi buku berjudul … Ibu Bahagia.

Sebagai ibu baru (9 bulan) saya super tertarik dengan judul buku tersebut.

Gimana enggak?

Buat saya menjadi ibu itu sepertinya sudah jauh lah dari kata bahagia (untuk diri sendiri). Karena begitu punya anak bukankah yang jadi bahan pikiran sepanjang masa adalah kebahagiaan anak-anaknya?

Makanya, saya pengen tahu, gimana sih caranya supaya ibu bisa bahagia?

Ditengah pekerjaan rumah yang enggak pernah habis dan me time yang jadi prioritas kesekian, gimana caranya menemukan kebahagiaan itu?

Jawabannya sudah pasti harus baca bukunya dulu. Hehe.

Silakan bisa dicari judul bukunya Diary Ibu Bahagia.

Penulisnya ada banyak ibu dengan beragam background.

Kalau baca sedikit dari cuplikan yang dibagikan, memang sangat menarik.

Nah, yang saya soroti dari kulWapp tersebut adalah metode menulis yang digunakan.

Jadi, ceritanya Diary Ibu Bahagia ini adalah karya tulisan Komunitas Ibu Bahagia. Kalau tidak salah, Komunitas Ibu Bahagia salah satu kegiatannya adalah rutin menulis, hingga tercapailah satu buah antologi.

Salah satu tugas pertama adalah rutin menulis setiap pagi selama 3 menit. No edit.

Saya agak kaget juga pas ngebacanya.

Nulis di pagi hari? Itu kan jam padat persiapan pak suami berangkat kantor, nyiapin sarapan, cuci piring, de el el.

3 menit doang? Huah. Belum nyari idenya loh.

No edit?! Ini yang bikin wow.

Kenapa?

Karena biasanya kan beres nulis, kita baca ulang alias dikoreksi lagi, kali-kali ada yang typo atau enggak enak dibaca, supaya bisa diedit.

Ternyata, eh, ternyata.

Tujuan menulis 3 menit di pagi hari itu sebagai pembiasaan dan terapi diri.

Ini saya cerna sepemahaman saya, ya.

Pagi hari itu kan saat otak kita mulai bekerja di garis start, entah fresh setelah istirahat semalam atau malah tetep pening gara-gara masih banyak yang belum diselesaikan.

Nah, tujuannya disuruh nulis, supaya uneg-uneg kita bisa tersalurkan secara baik. Tau sendiri, kan, wanita itu harus menyalurkan kebutuhan berbicaranya sebanyak 20,000 kata per hari. Supaya penyaluran kata itu enggak salah alamat, makanya disalurkan lewat tulisan 3 menit itu.

Harapannya setelah ditulis, bisa memberikan efek lega dan membuat kita lebih positif menjalani hari.

Memang tujuan jangka panjangnya supaya bisa menggapai target menjadi ibu bahagia, semua emosi negatif harus dikeluarkan. Setelah dikeluarkan yang negatif-negatif, insya Allah nanti akan terlihat potensi, keinginan, kebutuhan kita, sebagai seorang ibu.

Ketika potensi tersalurkan, keinginan bisa dipilah-pilih sesuai prioritas, begitu pula kebutuhan, insya Allah menjadi ibu bahagia bukan sekadar mitos belaka.

Saya lagi meniatkan nih, untuk memulai program menulis 3 menit di pagi hari ini.

Tujuannya masih jangka pendek aja, sih, pengen ngebuang segala energi dan uneg-uneg negatif. Utamanya supaya lebih plong. Alhamdulillah, kalau bisa menggapai menjadi ibu bahagia. Insya Allah.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Sabtu, 17 Maret 2018

Perjalanan Bikin Cerbung (2)

Lika-liku bikin cerbung itu banyak.

Paling berpengaruh adalah saat kita enggak tau konsep cerita kita mau dibawa kemana. Bisa-bisa cerita jadi ngalor-ngidul enggak jelas. Kayaknya beberapa episode Sang Pembawa Pesan mengalami ini. Hehehe.

Akhirnya, baru di setengah episode ke atas, saya menyusun konsep atau kerangka cerita. Asyik dan lebih mudah lho, kalau dibikin poin-poin atau inti yang mau diceritakan di tiap episodenya.

Memang susah awalnya. Apalagi kalau kayak saya yang mengerjakan cerbung sistem kebut semalam. Pas nulis bisa hapus-tulis, hapus-tulis, begitu aja terus. Atau udah nulis panjang-panjang, eh, pas dibaca lagi kayaknya enggak enak flownya, enggak nyambung, atau 'wagu' kata orang Jawa.

Beda deh kalau kita nulis atau bikin cerbung berdasarkan kerangka yang sudah kita susun. Nulisnya enggak lama, flownya juga lebih enak, dan feelnya juga dapat.

Saran lain yang penting banget saat nulis cerbung adalah rutin menulis.

Kayak di Odop (One day one post) konsepnya adalah satu hari menulis satu episode, bagusnya ya, diikuti dan kita ikut disiplin. Kenapa?

Enggak enak banget nulis cerbung yang dijeda lama banget.

Kayak yang saya alami.

Karena satu dan lain hal, saya stop nulis cerbung kira-kira hampir lima hari-an. Pas mau mulai nulis lagi, rasanya susah banget untuk dapat feelnya. Berasa enggak ngeblend gitu kita dan tulisan kita.

Harus baca berkali-kali dulu episode sebelumnya, baru enak lagi pas nyusun cerita di episode berikutnya.

Makanya, ke depan kalau niat bikin cerbung, sepertinya harus super disiplin. Misal per hari, per dua hari, atau yang lain, yang penting konstan dan rutin.

Itu penting banget supaya kita menjiwai cerita dan seolah-olah kita memang masuk dalam cerita.

Pas awal-awal nulis cerbung rutin, bahkan saya ikut deg-degan dan terpacu adrenalin saat menulis. Beda pas ngebut nulis beberapa episode dalam satu hari, kayaknya feelnya enggak sekuat sebelumnya.

Hal lain yang menurut saya penting, menulis cerbung itu lebih baik tidak kebanyakan tokoh atau latar waktu.

Jadi, bingung sendiri loh saya, pas memunculkan tokoh baru dan baru lagi.

Sebenarnya, enggak apa-apa sih, kalau mau banyak tokoh, tapi, harus dibikin list satu per satu, siapa itu siapa, karakternya bagaimana. Biar saat di episode-episode berikutnya, tokoh kita enggak mengalami krisis identitas. Hahaha.

Soal waktu juga gitu, kalau rentang waktunya terlalu lama juga agaknya bikin cerita bertele-tele. Baiknya sih, latar cerita dalam hitungan jam atau hari saja.

Aduh, lagak saya kayak udah nulis ratusan cerbung saja.

Padahal baru juga ngeberesin satu cerbung.

Hahaha.

Ini reminder buat diri saya pribadi.

Silakan bila ada teman-teman yang ingin mengoreksi dan menambahkan.

Semoga bermanfaat.

~~~

(Selesai)



#onedayonepost
#odopbatch5

Perjalanan Bikin Cerbung (1)

Jujur saja, saya baru kembali giat menulis fiksi, karena difasilitasi komunitas Odop (One day one post).

Kalau enggak 'dipaksa' nulis lewat tantangan atau bedah tulisan, kayaknya isi blog ini curhatan semua. HAHAHA. Ini salah satunya. Ups!

Tapi, saya mau sharing saja tentang bagaimana cerbung sang pembawa pesan ini tercipta dan lika likunya.

Ide awalnya sebenarnya gara-gara kepepet.

Sudah beberapa kali menulis paragraf, kok ya, enggak sreg banget sama temanya. Kayaknya masih terpengaruh tulisan fiksi sebelumnya, jadi lagi-lagi mau bikin cerita di genre drama percintaan.

Karena akhirnya mentok dikejar deadline, nekat aja nulis yang bergenre super khayal alias science fiction?

Inspirasinya?

Tentu saja dari novel dan film bergenre sama yang sering saya baca dan saksikan.

Khusus cerbung ini, saya banyak terinspirasi dari novel favorit saya sepanjang masa, Mumi Legenda dan the Independent karya mbak Efi F. Arifin.

Kalau filmnya, sedikit banyak Star Trek dan Star Wars.

Sebenarnya, nulis cerita di genre science fiction itu main aman, karena segalanya suka-suka kita.

Science fiction di sini yang saya maksud lebih ke fantasi.

Jadi, kalau misal ada yang ngerasa aneh kok mobil digambarkan terbang dan lain-lain di dalam cerita, sebagai penulis enggak perlu repot-repot menjelaskan kenapa-kenapanya, karena itu adalah sebuah fantasi pada dimensi waktu yang tidak kita ketahui secara pasti.

Cari aman banget, kan?

Kalau soal lika-liku dan hambatannya, banyak.

Soal ide cerita, sering banget saya mentok. Mentok karena imajinasi dan khayalan saya lagi mampet, jadi rasanya enggak bisa mikir yang ketinggian.

Makanya, jadi blunder tersendiri milih genre dan tema ini.

Kalau pas lagi lancar, rasanya ngalir saja ceritanya. Sesuatu yang khayal banget, enggak dipikirin banget-banget, asalkan masih masuk dan ngeblend dengan jalan cerita, diterusin.

Prioritas saya bikin cerbung kali ini, yang penting flownya enak, inti ceritanya masih mengandung hikmah, dan saya enjoy ngebacanya. Termasuk enjoy nulisnya, memenuhi jumlah kata yang disyaratkan, yaitu minimal 350 kata.

Saya pribadi untuk poin pertama memberi 1,5/3 untuk flow cerita. Di beberapa bagian, saya ngerasa ceritanya masih bisa dielaborate lagi.

Poin kedua dan ketiga sama-sama 2/3. Soal hikmah kembali ke pembaca masing-masing. Kalau saya, bermaksud memberi insight value A, semoga pembaca bisa menangkap di frekuensi A juga. Atau paling tidak enggak jauh-jauh amat, masih di B atau C.

Soal enjoy, beberapa bagian saya sendiri ngerasa asyik dan enjoy ngebacanya. Tapi, di beberapa bagian yang lain, jujur saya ngerasa bosan.

~~~

(Bersambung)


#odopbatch5
#onedayonepost

Sang Pembawa Pesan (10) Selesai

Ammar hendak melompat ke dalam air car yang sudah disiapkan penjaga al Muharar yang lain, saat Ribath akhirnya roboh.

"Pergilah!" Ribath masih sempat berteriak dan mengangkat senjata.

Tembakan-tembakannya memperlambat petugas keamanan gedung biru yang mengejar mereka.

Air car yang dinaiki Ammar melesat menjauh, meninggalkan kawasan gedung biru.

Dimana-mana suasana mencekam dan menjadi kacau. Keuntungan bagi Ammar karena ia lebih leluasa melarikan diri.

Dimana-mana orang masih tercekat menyaksikan tayangan dari chip yang disebarkan Ammar.

Mungkin tak lama lagi gedung biru akan penuh diserbu orang-orang.

Ammar melihat ke belakang, ada sekitar dua atau tiga air car yang mengejarnya. Bukan masalah besar.

Masalah besar yang sebenarnya adalah tanpa Ribath, ia hanya bisa keluar dari daerah rezim melalui jalur biasa. Bukan jalur memotong yang mempersingkat waktu.

Ammar hampir keluar daerah perbatasan saat ia tercengang melihat barisan penjaga al Muharar.

Apa-apaan ini?

Dibelakang barisan penjaga, terlihat jelas petinggi-petinggi al Muharar.

Bahkan ketua ada di sana!

Ammar hendak menyusul dan bergabung ke dalam barisan itu, tapi terlambat. Satu lesatan tembakan dari air car di belakang Ammar membuatnya memutar arah dari rombongan dan melaju keluar perbatasan.

Buat apa mereka ini masih mengejarku?

Ammar sebal setengah mati dengan dua air car yang masih berusaha menembakinya.

Mereka ini benar-benar bodoh atau apa?

Ammar merasa dirinya bukan ancaman.

Saat melewati perbatasan, satu air car dengan simbol al Muharar seperti menunggunya.

Ammar berusaha menjajari.

Pengemudi air car al Muharar itu membuka kabin langit-langit dan mengisyaratkan untuk membuka kabin langit-langit milik Ammar.

Cepat.

Air car yang mengejar Ammar tidak nampak.

"Bawa ini dan pergi ke markas besar."

Apa?

Ammar hendak bertanya, tapi tidak ada waktu. Air car yang mengejarnya tadi muncul kembali.

"Pergilah!"

Chip lagi?

Ammar menerima chip yang diberikan padanya dan bergegas pergi.

~~~

Epilog

Ammar akhirnya sampai di markas besar.

Pelukan hangat Hasyim tidak bisa menghilangkan kesedihannya.

Ia bahagia bisa berkumpul kembali dengan Hasyim, satu-satunya keluarga yang ia miliki, tapi kesedihannya memuncak saat mendapati kabar semua petinggi al Muharar yang turun ke daerah rezim hari ini tewas.


Mereka menjadi martir kebengisan rezim yang luar biasa zalim.

"Lalu untuk apa kita hidup, brother?"

Hasyim tersenyum penuh kepedihan.

"Untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita."

Satu titik air mata membasahi pipi Ammar.

Ia bahkan tak menangis saat Hisyam meninggal dunia. Pun saat baba dan ammanya pergi untuk selamanya.

Pundak Ammar terasa berat, tapi binar harapan dari mata bocah-bocah di markas besar yang menyambutnya, seolah mengangkat semua beban itu.

~~~

(Selesai)

#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung