SOCIAL MEDIA

Selasa, 31 Mei 2016

Tiba-tiba Bertanya-tanya

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran ISIS.
Yep, ISIS yang bikin runyam Suriah. Yang katanya, sebenarnya bentukan Israel dan anteknya.
Bagian dari konspirasi dunia yang ujung-ujungnya adalah perlawanan antara yang haq dan yang bathil.
Konspirasi yang saya sebenarnya nggak tahu banyak.
Bingung juga mau nanya ke siapa.
Mungkin level saya belum nyampe untuk tahu kenapa begini dan begitu. Kenapa bisa terjadi begini dan begitu. Latar belakang dan sebagai-bagainya.
Then what? Just keep it in your head.
Terus nanti ada yang nanya, emang hidup lo seberapa besar apa pengaruhnya sampai lo harus tahu semua itu.
What???
Bingung kan...
Ya, sudahlah...

Jumat, 27 Mei 2016

It's been a year

Antara nggak terasa dan terasa, sudah setahun di tempat kerja yang sekarang. Tempat kerja yang udah berasa tempat ngumpul bareng saudara.
Awal-awal bulan yang penuh perjuangan karena harus bagi fokus kerja dan menyelesaikan skripsi. Yiey, alhamdulillah keduanya bisa berjalan, meskipun salah satunya harus terseok-seok.
Kerja sangat menyenangkan.
Meskipun kadang-kadang bikin pusing.
Yang bikin nggak asyik adalah kalau mikirin uang, gaji, gengsi.
Gaji yang 'kata orang' kecil dan nggak sesuai.
Kerjaan yang nggak pas sama core ilmu saat kuliah.
Padahal saya merasa jadi bisa banyak bersyukur hidup cukup.
Merasa bahagia banget kalau isi rekening, hitam di atas putih nggak akan cukup sampai akhir bulan, tapi ada aja jalan dari Allah supaya cukup.
Ngelihat teman-teman kuliah yang diskusi soal kerjaan mereka di grup kelas, nggak ngerasa ilmu yang dipelajari waktu di kampus dulu sia-sia kok. Nggak ada ilmu yang percuma. Di sini juga bisa tetap banyak belajar.
Dituding dan menuding diri sendiri egois karena melakukan hal yang disenangi. Tapi, rasanya udah mulai muak.
Jadi, jalani saja deh apa yang ada.
Bukan berarti saya nggak punya tujuan.
Hidup saya sekarang masih on the track visi besar hidup saya kok.
Soal uang, gaji, gengsi itu nggak usah terlalu dipikirin. (Parah! )
Tapi, itu yang bisa saya lakukan supaya saya tetap sehat.
Toh hidup nggak cuma mengejar uang, gaji, gengsi.
Just do the work. Biar Allah swt yang mengatur seberapa porsi rezeki yang pantas kita dapatkan.

(Hu)man is Beast

Sudah pada tahu kan kasus yang belakangan rame banget jadi berita.
Soal kasus asusila dan pelecehan yang sangat menggemparkan dan nggak masuk akal (karena pelakunya mungkin udah hilang akal). Kasus yang bikin saya dan temen-temen redaktur nggak habis pikir.
Karena bahasan diskusi lagi in banget soal efek pornografi, kami sepakat bahwa biang keladi kasus tersebut salah satunya adalah para pelaku yang udah terpapar pornografi. Jadi, mereka nggak cukup jadi konsumen aja. Ngeri!
Tapi, buat saya pribadi karena kasus tersebut saya jadi paham kenapa ada wanita yang takut dengan makhluk yang kita sebut laki-laki. Kenapa ada para wanita yang berusaha terlihat kuat hingga terlihat 'sangat laki-laki', karena mereka nggak ingin bergantung pada lawan jenis.
Saya jadi paham perasaan mereka.
Tapi, bukan berarti saya sepenuhnya setuju.
Bukan juga saya sepenuhnya nggak setuju.
Karena jujur saja, selain karena kasus tersebut, saya juga menemukan banyak laki-laki yang minus banget.
Mulai dari bersikap kasar, otoriter, merasa lebih tinggi derajatnya, dan beberapa sikap menyebalkan lainnya.
Saya nggak bermaksud menyamaratakan, tapi memang jadi muncul stigma negatif.
Meskipun, sebenarnya ada juga wanita dengan sikap yang sama menyebalkannya.
So, sifat buruk itu dikembalikan ke personal, bukan pada kelompok.
Wanita disebut-sebut sebagai fitnah terbesar. Tapi, laki-laki yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri pun bisa jadi bencana buat dunia ini.

Senin, 25 April 2016

Batman v Superman Review (Amatir)

Bismillah.

Wah, ternyata saya kena juga euforia Batman v Superman. Tapi, kayaknya udah telat banget 

Orang-orang mah sekarang udah ngomongin The Jungle Book, bahkan udah mau ganti Civil War nya Captain America, saya masih ngomongin Batman v Superman.

Tapi, nggak apa-apa lah ya. ✌

Saya akhirnya nonton film ini, sebenarnya gara-gara penasaran sama ratingnya. Saat premier rating B v S bisa mencapai 9 kalau saya nggak salah ingat. Keren dong (kayaknya)?

Cuma akhirnya berdasarkan pemantauan saya, ratingnya terus menurun hingga sekarang bertahan di 7.2. Yeah, not bad but not good lah kalau ngelihat ekspektasi di awal.

Setelah nonton sendiri, emang bener sih, nggak sesuai ekspektasi.

Kalau boleh (sok) berkomentar, jalan ceritanya emang terlalu sederhana untuk film yang bawa nama besar dua superhero DC comics. Sayang gitu mereka di-versus cuma karena konflik begitu aja. Kurang greget. Agak muter-muter dan bahkan menurut saya baru terasa serunya di 60 menit terakhir.

Saya sebenarnya suka Jesse Eisenberg, tapi jahatnya dia di B v S agak maksa dan kurang idealis.

Begitu juga dengan Lois Lane, kok saya ngerasanya dia cuma lari kesana-kemari tanpa plot yang kuat.

Halah! Ini beneran saya cuma (sok) ngomentarin lho. Karena saya juga nggak tahu gimana susahnya bikin film sekeren Batman v Superman.
Tapi, emang kelihatan sih film ini jadi pancingan buat film-film DC comics berikutnya.

Yeah, saya terhibur lah ngelihat Henry Cavill  Emang susah dah move on dari pesona aktor Inggris... Hahahahaha ✌

Satu lagi, pesan sponsor, baiknya sih anak-anak nggak dibolehin nonton film ini. Karena meskipun judulnya film superhero, nggak layak kalau jadi tontonan anak-anak. Please, be smart para orang tua. Cek dulu genre dan kategori usia film kalau mau ngajak anak-anak ke bioskop. Karena ini film, menurut saya mengandung adegan dewasa dan banyak kekerasannya.

Yeah, happy watching (buat yang mau nonton). 

Saat Aku Ingin Diam

Bismillah.
Agak ngakak nggak enak pas baca judul tulisan ini lagi.
Tadinya mau dibikin gini nih, 'the time I want to be silent'. Tapi, nggak jadi.
Ini ceritanya gara-gara ada beberapa orang yang mengenal saya sebagai orang yang (selalu) berisik dan (agak) nggak bisa diam. Jadi, giliran saya diam aja, pasti ditanya, 'Kenapa?' 'Kok tumben?' 'Lagi bad mood?' 'Marah ya?' Etc, bla bla bla.
Padahal jawabannya, saya nggak lagi kenapa-napa, nggak lagi bad mood juga, cuma lagi pengen diam aja, karena dunia ini sudah terlalu berisik.
Nggak lagi marah juga, meskipun kalau (dipaksa) ngomong dan berisik kayak biasanya, kata-kata yang keluar bisa nggak enak.
Atau pernah juga sih karena pengaruh hormon jadi bawaannya pengen marah-marah melulu kalau ngomong. So, mending diam kan kalau begini kasusnya.
Nah, please, kalau ketemu orang model begini, dibiarin aja deh. Daripada muncul masalah yang tidak diinginkan dan suasana jadi ribet. Ditanya sekali, bersyukur aja kalau dijawab, kalau nggak dijawab, ya udah, nggak usah dipaksa. Allah swt aja nggak pernah memaksa hamba-hamba Nya.
Dan kita sama-sama makhluk beranjak dewasa yang nggak perlu deh nambah-nambahin masalah bangsa dan umat cuma karena hal beginian.
Pun juga ntar pas posisinya dibalik, misal saya jadi orang yang ngeliat si 'tetiba diam' ini. Inget lagi, nggak enak kan kalau lagi pengen diam terus diajak ngomong melulu? Jadi, berlapang dada lah menerima situasi si 'tetiba diam'. Nggak usah dibikin ribet or baper. Kalau dipancing sekali orang yang bersangkutan nggak mau cerita, let it be. Nanti juga ada masanya dia mau buat cerita.
Yeah... Masalah saya masalah manusia... Nggak perlu dipikir gimana-gimana juga sih. Selow aja 

Rabu, 20 April 2016

Check One Two Three

Bismillah.
Berasa udah lama banget nggak ngisi blog ini ✌
Banyak banget isi otak yang pengen dicurahkan, tapi apa daya...
Kadang gue nya yang kelewat males buat berkeluh kesah lewat tulisan, kadang aplikasi bloggernya yang nggak kompak karena error mulu.
Ya udah lah ya...
Ini cuma ngecek doang bisa posting dan error lagi or nggak. Hehehe 
See you very soon! Insya Allah!

Senin, 21 Desember 2015

Indeed, They Are Mujaheed

Bismillah.
Dua hari ini saya dibikin amazed dengan keberanian saudara-saudara seakidah saya di belahan bumi nun jauh di sana.
Mereka yang ada di bumi Syam. Palestina, Suriah, Lebanon, Sebagian Irak, dan Yordania.
Terutama di dua negara yang saya sebutkan paling awal, sedang berjuang, kalau kata ustadz mewakili umat Islam lain yang masih bisa menikmati istirahat malam, untuk memerangi musuh-musuh Allah, kaum kuffar yang telah melakukan kezaliman.
Kalau melihat kebiadaban Zionis Yahudi dan pemerintahan tirannya Bashar Assad sudah pasti kita geram. Then, what? Pasti yang muda-muda jadi bersemangat menggelora untuk bisa berjihad ke sana.
Tetapi, apa sebenarnya yang saudara-saudara kita butuhkan di sana?
Di salah satu video tentang Suriah, saya melihat seorang anak yang saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan pada dunia tentang kondisi mereka. Dia malah mendoakan semoga kita bahagia. Oh, my. You break my heart, kiddo 
Di momen yang lain, mereka hanya meminta doa dari kita semua. That simple. Doa yang bisa kita panjatkan setiap waktu, setiap hari.
Semoga kita tidak pernah lupa melakukannya.
Tidak perlu pandang bulu baik itu saudara-saudara kita di Suriah maupun di Palestina.
Mereka yang berada di Palestina berusaha mewujudkan target besar Rasulullah untuk menjaga Baitul Maqdis. Belum lama ini saya mengetahui bahwa kunci terbebasnya Al Aqsa adalah melalui pintu Syam yang ada di Suriah. Allahu a'lam.
Ketika saya menonton sebuah film dokumenter tentang perjuangan mujahid di Palestina, saya dibikin tercengang dengan akhlak mereka yang luar biasa terpuji. Semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan mereka.
Di suatu momen, saat salah seorang mujahid berhasil merudal tank Zionis Yahudi, ia sangat bergembira dengan keberhasilannya. Tetapi, eng ing eng, euforia keberhasilannya itu disiram syahdu oleh lantunan ayat dari sesama mujahid bahwa keberhasilan mengalahkan musuh itu adalah atas kehendak Allah. Saya agak lupa redaksi ayatnya 
Tetapi, intinya adalah bahwa nggak main-main memang syarat hafal 30 juz alquran saat ingin terjun ke medan perang. Karena itu menjadi bekal yang paling berarti dan paling krusial.
Saat mereka kekurangan amunisi dan logistik, maka meluncurlah ayat akan keyakinan kecukupan rezeki yang akan Allah berikan.
Saat mereka ketakutan, meluncurlah ayat bahwa cukuplah Allah menjadi pelindung dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Saat mereka khawatir dengan kekalahan dan kematian, maka meluncur ayat janji Allah akan balasan yang indah tiada tara.
Pun ketika muncul kebahagiaan yang berlebih, agar tidak menjadi noda yang merusak keikhlasan, maka akan muncul pengingat bahwa kemenangan tidak datang selain dari sisi Allah. Manusia bukan apa-apa.
Aaakkk... Aaaakkkk... Ketika hafalan quran benar menjadi panduan dan tuntunan. Bahkan di saat genting dan mencekam sekelas kondisi perang terbuka. Ayat-ayat Allah meluncur dengan sangat manis. Membangun nuansa penghambaan tingkat tinggi yang membuat mati syahid menjadi sesuatu yang didambakan.
Semoga tidak ada lagi orang yang nyinyir pada kepedulian yang ditunjukkan pada saudara-saudara kita di bumi Syam sana. Jika memang ada semoga karena belum tahu saja. Jika bukan karena itu, seperti sebuah nasyid yang beberapa waktu belakangan saya dengarkan, begini penggalannya,
Hina lah yang diam tak bicara,
Hina lah diri yang tak peduli,

Rabu, 28 Oktober 2015

The Time I've Been

Bismillah.
Setiap manusia punya masalah masing-masing. Masalah diri sendiri. Masalah dengan orang lain. Masalah dengan lingkungan. Masalah dengan bangsanya.
Manusia tidak akan peduli dengan masalah di luar dirinya, kalau masalah-masalah itu tidak beririsan dengan kepentingan dirinya. Benar tidak?
Karena itu manusia yang berhasil mengesampingkan masalah dirinya untuk terjun menyelesaikan masalah yang lebih besar, masalah bangsa, masalah umat, sungguh mulia!
Meski orang-orang mencibir. Apa yang orang-orang lihat dilakukannya menurut mereka tidak ada gunanya. Kuno. Tidak kekinian. Sekekinian apapun zaman ini, toh masalahnya tetap sama dan berulang kan? Layaknya sejarah?
#Setelah membaca berita tentang anak-anak yang setia bergulat dengan debu jalanan menyandang jas pertanggungjawaban pada rakyat. Dan mereka jelas dikhianati oleh pemimpinnya.
Maka beramal lah sebaik baiknya, biar Allah dan Rasul-Nya yang menjadi saksi.

Rabu, 29 Juli 2015

Apa yang kamu harapkan

Bismillah.
Life is unexpected. Tapi kadang expexted juga sih. Seru lho hidup itu (lagi sholehah). Bersyukur banget masih dikasih hidup sama Allah. Seru pointnya adalah kalo lagi menjalani fase kehidupan yang sifatnya rutinitas banget, suka playing a game (ampun ya Allah), nebak-nebak gitu apa yang bakal terjadi.
Suatu hari karena emang lagi saat kumat maagnya, perut saya melilit dengan sangat. Sakit banget sampe kepikiran, "kayaknya gue bakal mati deh". Ngebayangin saat itu harus desek-desekkan naik krl untuk sampai di rumah, mau pingsan aja rasanya. Tapi, eng ing eng, ada krl dari manggarai yang langsung balik ke bogor. Seneng bin bersyukur. Krlnya sepi dan saya bisa duduk. Phiuh...Allah Maha Baik.
Hari yang lain, saat nunggu krl pagi, emang biasanya krl pagi itu penuh. Terus saya mikir, oke, ini opsinya,
a. Berdiri didepan yang pada duduk dan itu pegel dan mupeng banget ngeliat yang duduk
b. Berdiri di bagian yang paling depan deket pintu masuk dan sesak nafas karena kegencet-gencet
c. Berdiri di deket pintu masuk kiri yang lumayan nyaman, tapi, kudu rebutan dan saya malas kalo harus rebutan sama ibu-ibu
d. Pasrah aja deh
Eng ing eng, krl yang datang ternyata sepi dan saya dapat tempat duduk. Yuhuuu. Alhamdulillah. Allah Maha Baik.
Sayang banget sama Allah karena Dia pasti ngasih pertolongan di saat genting.
Meskipun kadang diuji supaya sabar, ya, itu emang tugas seorang hamba, kan. Berencana dalam hidup, berdo'a minta sama Allah, serta bersenang dan bersabar hati menerima apa yang Allah gariskan buat hidup kita.
Kalo bisa kayak gitu, hidup itu bakal nyaman banget.
Dan cinta tulus pada Allah nggak akan berkurang karena ujian dan musibah yang datang pada kita.
Idealnya seperti itu. Tapi, ya, maafin hambaMu yang masih suka ble'e karena suka bandel T.T

Minggu, 19 Juli 2015

Becoming an old and having a big family

Bismillah.
Saya berharap tulisan ini tidak saya tulis dalam kondisi yang tidak baik. Secara pikiran maupun secara emosional.
Yep, bertepatan dengan momentum hari raya idul fitri, berkumpul dengan keluarga adalah hal yang lumrah atau malah bagi beberapa orang termasuk keluarga saya menjadi hal WAJIB.
Yang ingin saya soroti di tulisan ini adalah pandangan dari kacamata saya tentang kumpul keluarga ini.
Tentu saat berkumpul dengan keluarga ada hal baik yang dibawa yaitu kebahagiaan dan keceriaan. Tapi tak jarang, ada juga yang membawa kesedihan dan cerita duka. Yeah, everybody has its own story.
Pun keluarga saya, ada bahagianya, dukanya juga nggak sedikit.
Hal yang pengen saya share adalah MENJADI ANAK MUDA ITU NGGAK GAMPANG. Maafkan ya kalo kesannya negatif banget. Tapi, plis maklumi, saya hanya ingin menuangkan pikiran saya.
Kenapa nggak mudah?
Karena kita harus patuh dan taat pada apa kata orangtua. Tahu sendiri, ridha Allah ada pada ridha mereka. Kesusahan mereka membesarkan kita di masa lalu, buat saya sih, unimaginable. Belum lagi buat yang belum mandiri secara finansial. Darah, keringat, dan air mata, yang mereka cucurkan untuk menghidupi kita.
Letak ketidakmudahannya adalah ketika apa yang mereka perintahkan atau atur itu cenderung otoriter, nggak sesuai dengan pemikiran kita, nggak fleksibel, dan lain sebagainya. Saya sih merasa begitu. Apalagi menghadapi old people yang rempong dengan tetek bengek. Oh, my, harus punya stock sabar banyak-banyak. Emang amat sangat nggak mudah. Karena menurut saya, kita 'berhutang' pada mereka. Dan nggak ada jalan lain buat kita yang young people selain bear with that. Kalo memang terasa nyesek dan kesel, saya sarankan lebih baik diam dan menghindar, daripada menimbulkan hal yang nggak diinginkan. Intinya, apapun yang old people lakukan kita harus patuh selama nggak bertentangan dengan syari'at.
Pun juga...MENJADI ORANGTUA JUGA TIDAK MUDAH. Kita punya kewajiban dan tanggungjawab pada anak-anak kita. Menghidupi mereka dan lain sebagainya. Sayang sekali, referensi saya masih sedikit, karena saya belum fully merasakannya. Hehehe.
Buat mereka yang old people banget, pasti membutuhkan tenaga anak muda untuk membantu. Tapi ya, itu, jengkel kalo ngadepin anak muda yang nggak mau ngedenger apa kata orangtua atau suka membantah dan membangkang.
So, what should we do?
Hahaha...gampangnya sih...sikapi tiap fase kehidupan dengan Iman!
Klise banget memang. Tapi buat saya itu menjadi jalan keluar yang jitu.
Kadang kalo saya melihat masalah disekitar orangtua, saya jadi trauma sendiri.
Misal masalah saudara saya, saudari x yang bercerai de el el. Bikin saya mikir, oh, my, punya keluarga itu rada bla bla bla. Jadi khawatir sendiri deh untuk menghadapi fase itu.
Nah, disitu pentingnya iman, takwa, dan kedekatan dengan Allah. Kalo kita nggak punya itu, eh, maksudnya saya, mungkin saya bakal.... hahaha...rahasia lah...
Tapi, dengan adanya bekal kedekatan dengan Allah, kita tahu, bahwa semua manusia pasti punya masalah dan ujian masing-masing. Kita juga punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya, tapi, kita sebagai umat Islam punya koridor, yaitu jangan sampai melanggar syari'at dan yakinlah bahwa Allah selalu setia bersama kita, Dia nggak akan pergi meninggalkan kita seperti manusia yang lain.
Hahaha...itu saja sih yang ingin saya bagi. Semoga bermanfaat dan nggak bikin pusing.