SOCIAL MEDIA

Sabtu, 29 April 2017

A Distance

Bismillah,

Jadi gini ceritanya. Beuh! Berasa mau cerita sesuatu yang penting aja.

Hm, sebenarnya penting nggak penting sih. Cuma mau sharing karena ini jadi pelajaran buat saya sebagai manusia yang sering banget kurang bersyukurnya sama kondisi yang sudah Allah ta'ala kasih.

Seperti tertera di profil saya, kalau per September 2016 kemarin, saya resmi pindah domisili tempat tinggal ke Lampung Tengah. Awalnya berasa sedih dan sepi sih, karena jauh dari keluarga dan teman-teman. Lonely dan nelangsa gitu. Emang agak lebay sih. Dikit-dikit mellow terus nangis, gara-gara pengen pulang. Entah ke Bogor, ke Utan Kayu, atau ke Semarang.

Sebenarnya lama-lama terbiasa juga, berdua sama suami aja di Lampung sana. Apa ya namanya? Mulai betah? 

Tapi, nggak bisa bilang gitu juga sih. Karena kadang masih suka komplain. Indikasi kurang bersyukurnya. Beda banget saya dan pak suami. Kalau mendapati sesuatu yang langka di Lampung, padahal itu biasa banget di tanah Jawa, sering ngeremehin dan memandang sebelah mata. Jelek-jeleknya Lampung diblow up sama saya, padahal sebenarnya nggak jelek-jelek banget. Saya aja yang mungkin waktu itu kayak belum 100 persen ikhlas jauh dari pulau Jawa. Yah, dulu pas bulan-bulan awal sering banget deh kayak gitu.

Sampai akhirnya saya hamil. Rencananya memang insya Allah di bulan ke-7 kehamilan, saya akan pulang ke rumah. Yiey, ke pulau Jawa lagi. Excited banget gitu. Padahal suami saya sedih karena mau pisah dan dia harus sendiri lagi. Ya, sih, saya juga sedih. Tapi, kayaknya suami saya lebih sedih daripada saya. Parah banget!

(Padahal sekarang pak suami kayak tabah-tabah aja. Mungkin karena dia banyak kerjaan? Atau karena dia terbiasa balik lagi ke kehidupan singlenya di masa lalu? Malah saya yang jadi sering ngerasa nelangsa dan sedih.)

Terus saya cerita ke ibu-ibu sekelompok pengajian kalau saya bakal pulang ke rumah orangtua untuk persiapan melahirkan.

Wah, responnya macam-macam, waktu saya bilang mungkin bakal pisah (ini maksudnya LDM/Long Distance Marriage) sama suami sekitar 6 bulan.

Ada yang memaklumi, karena namanya juga melahirkan pertama kali. Pasti butuh bimbingan orangtua yang lebih paham.

Ada juga yang agak kaget, karena itu waktu yang sangat lama buat ninggalin suami.

Nah, soal pendapat yang kedua, ada ibu-ibu yang bahkan meyakinkan saya bahwa 3 hari nggak sama suami aja rasanya nggak enak! Apalagi ini 6 bulan!

Oh, my! Saya waktu itu cuma senyum-senyum agak nggak percaya gitu. Hah? Segitunya ya rasanya berjarak sama suami?

Terus saya ingat juga cerita sahabat saya. Dia cerita kalau sebenarnya dia berencana LDM juga karena melahirkan anak pertama sekitar 3 bulan. Tapi, dia nggak betah gitu dan akhirnya LDM mereka cuma bertahan 3 minggu.


Maksud saya sharing cerita ini yang sebenarnya masih saya pikirkan dan tanyakan ke diri saya, begini nih,

Allah ta'ala itu sudah baik banget lho sama pasangan yang menghalalkan ikatan dengan menikah. Terutama buat yang menikah tanpa perasaan apapun sebelumnya alias 'Pokoknya gue mau nikah aja deh. Sama siapa juga. Gue pengen menjalankan sunnah Rasul.' Udah, gitu doang tuh mikirnya pas mau nikah. (Eh, ini nggak juga bermaksud mendiskreditkan mereka yang menikah karena udah ada rasa duluan loh. Sah-sah aja kok, kayak Fatimah dan Ali. Asal nggak mengumbar-umbar dan tetap menjaga sesuai koridor syariat.)

Mereka (dan mungkin saya? Hahaha. It's a secret lah) yang sebelumnya belum ada rasa cinta (bahkan suka) dengan pasangan, ternyata Allah ta'ala karuniakan rasa cinta untuk mengeratkan ikatan pernikahan yang suci. Apa banget saya nulis begini!

Jadi ingat nasehat Pimred saya sebelum saya menikah, sering tuh kita ngebahas soal rasa cinta pasangan-pasangan yang menikah saat belum mencintai pasangannya. Ini saya nggak bermaksud menyalahi kaidah, kalau menikah, seharusnya dan sebaiknya ada kecondongan kepadanya lho. Insya Allah kalau menikah pasti ada kecondongan, cuma kita menyoroti mereka yang belum naksir, belum cinta, biasa aja, belum ada getaran yang aneh-aneh.

Nasehatnya adalah jangan menyerah, jangan berhenti berdo'a, jangan berhenti berusaha. Minta dan mohon sama Allah ta'ala untuk menumbuhkan rasa cinta itu. Insya Allah pasti perasaan itu muncul kok. Di waktu yang terbaik yang mungkin kita nggak nyadar kapan munculnya.

Tiba-tiba aja nggak nyaman suami pulang malam. Padahal sebelumnya biasa aja dia muncul jam berapa juga.

Tiba-tiba senewen sendiri kalau si dia nge-read wa doang dan nggak nge-balas. Padahal sebelumnya kita cuek-cuek aja.

Tiba-tiba pengen ketemu as soon as possible, padahal udah taken janji LDM 3 minggu.

Ini inti tulisannya apa sih?

Hahaha.

Saya bikin rangkuman aja deh buat reminder versi saya.

Intinya... Banyak bersyukur apapun kondisi kita dan pasangan. Selama masih berdua, insya Allah itu lebih nyaman daripada nggak barengan. (Apa maksudnya ini?!)

Hahaha, saya cuma mau curhat kalau berjarak sama pasangan itu nggak enak.

Lalu, bersyukur Allah ta'ala karuniakan rasa cinta. Entah datangnya super express atau sebaliknya. Asal kita mau berusaha dan membuka hati. 

Eh, tapi, akhir-akhir ini saya malah lagi mikir gimana kalau jadinya cinta banget banget banget sama pasangan? Bingung, bingung, dah!

Udahan dulu ya, saya mau mikir lagi.

Pokoknya bersyukur jadi poin penting supaya kita bisa hidup tenang.

Soalnya nih, kalau kita banyak komplain dengan kehidupan kita yang A. Pengennya yang B aja. Terus Allah ta'ala kabulkan kehidupan B dan ternyata setelah ngejalanin, kita malah nyesel? Nyesek nggak sih kalau kita ingat-ingat kehidupan A yang dulu telah kita jalani? Balik lagi sih, mau dapat kehidupan A atau B, bersyukur! Gitu aja. (Ini nyambung nggak sih sama tulisan-tulisan di atas?)

Sekian segitu aja deh. Khawatir makin ngaco.

Semoga bermanfaat.  


Image credit: http://img05.deviantart.net

Kamis, 27 April 2017

Japanese Fusion Food di Wasabi Semarang

Bismillah.

Sudah ketiga kalinya nih nyobain makan di Wasabi Semarang. Pertama, waktu warung yang di Tembalang ini masih kecil dan belum direnovasi. Kedua, nyobain Wasabi yang di dekat pasar Bulu, sebelum Ina Swiss Jam kalau dari arah barat. Ketiga, balik lagi ke tempat yang di Tembalang yang ternyata udah lebih besar dari sebelumnya.

Kalau komentar saya soal Wasabi, cocok di lidah. Meskipun fusion, tapi nggak aneh-aneh dan sangat bisa dinikmati.

Waktu merasakan pertama kali langsung suka aja. Kedua kalinya yang nyobain cabang di dekat pasar Bulu, enaaak, suka deh kuah ramennya terutama yang miso. Cuma sayang, pas pesan ramen untuk take away, chicken ramennya agak failed karena daging ayamnya masih alot. 

Nah, pas baru kemarin nyobain menu black ramen di cabang Tembalang, failed lagi tuh karena kuah ramennya asin banget, nggak tau pake apa, tapi kok lidah saya ngerasa kaldu bubuk masak* yang kuat banget. 

Dep-Bel (Tuna Blackupeppa, Skin Salmon Maki, Crunchy Roll), Black Ramen Special

Alhamdulillah, kalau untuk sushinya nggak mengecewakan, nggak kayak yang di warung sebelah, hahaha ✌. Sushi di Wasabi top deh. Enak dan terasa fresh di lidah.

Soal harga, standar sih sebenarnya. Tergantung pilihan topping dan ikan. Kalau milihnya yang berbahan ikan salmon, jelas bakal lebih mahal. Makin komplit topping ramen atau udon makin mahal pula harganya. Kemarin saya pesan 1 menu ramen spesial, 3 menu sushi standar, 3 minuman, total bayarnya 85 ribu rupiah. Masih wajar menurut saya.

Suasana tempatnya, saya ngerasa lebih berasa di warung-warung Jepang di cabang yang dekat pasar Bulu. Kalau yang di Tembalang, lebih luas dan lega aja.

In short, kalau pengen nyobain makanan ala Jepang yang harganya nggak terlalu nguras kantong, Wasabi recommended.

Oh ya, FYI, pas saya searching di google, awal mula Wasabi terbentuk karena sang pemilik merasa khawatir sama resto-resto makanan Jepang di wilayah Semarang yang rentan nggak halal. So, insya Allah Wasabi ini dijamin halal.

Senang deh kalau tempat makan yang fusion-fusion internasional gini banyak yang halal.

Kemarin juga ngobrol sama si adek yang jadi fans berat Wasabi bahkan sebelum pindah ke Tembalang (saat itu Wasabi masih warung kecil di Ngaliyan), kata si adek, founder Wasabi sekarang ini sering banget diundang untuk ngisi acara kewirausahaan gitu.

Buat yang mau ngekepoin Wasabi lebih lanjut, bisa tengok IG nya searching aja Wasabi Semarang.

Sekian.

Minggu, 23 April 2017

Periksa Kehamilan di Lampung Tengah

Bismillah.

Wah, kayaknya blog ini udah bulukan banget ya. Lama kali nggak diupdate.
Yah, begini ini ritmenya orang yang hidup ngandelin mood. Padahal ada ide dan kesempatan, tapi ampun-ampunan malesnya kalau nggak ada mood.

Biidznillah, kira-kira sebulan setelah menikah dan ikut suami ke Lampung Tengah, Alhamdulillah dikasih amanah untuk mengandung seorang bayi.

Sebagai perantau yang masih newbie soal dunia kehamilan, salah satu yang bisa diandalkan adalah googling. Apalagi perantau yang cuma berdua sama suami dan nggak ada saudara di sekitar yang bisa dijadikan tempat bertanya. Eh, ada sih, ibu-ibu sekelompok pengajian. Tapi, beberapa dari mereka merekomendasikan dokter Spog pria yang sudah senior gitu di Lampung Tengah ini. Sedangkan saya awalnya prefer cari dokter wanita apapun yang terjadi.

Jadilah di pemeriksaan kehamilan trimester pertama, berdasarkan rekomendasi teman suami, saya periksa jauh-jauh ke Bandar Lampung sana. FYI, perjalanan Lampung Tengah ke Bandar Lampung ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam dengan jalanan yang kadang bagus, tapi lebih banyak jalan jeleknya.

Saya periksa ke Dr. Fonda Octarianingsih, Sp. OG di Apotik Barokah Medika Jl. Teuku Cik Ditiro No. C 23 Langkapura-Kemiling, Bandar Lampung. Nggak susah kok kalau mengandalkan G-Map atau Waze. No. HP yang bisa dihubungi 081271781614 atau 085267572311. Saya datang sekitar pukul 8 lebih di hari sabtu dan antriannya sudah cukup panjang. Dokternya baru tiba sekitar pukul 9 lebih kalau saya nggak salah ingat. Saya pikir saya baru dapat giliran periksa jam 12 lebih, tapi, ternyata dokter memeriksa pasien dengan sangat cepat. Tiap pasien hanya di dalam ruang periksa selama 5-10 menit. Jadi, saya dapat giliran periksa sekitar pukul 10. In short, saya puas periksa di sini, karena bersih, alat USG terlihat jelas, penjelasan dokter cukup jelas dan to the point. Bener aja dong, saya diperiksa nggak lebih dari 10 menit. Karena masih awal kehamilan, jadi saya nggak banyak nanya. Saya dengerin apa kata dokternya aja dan Alhamdulillah semua dalam keadaan baik. Soal biaya, karena saya belum punya BPJS atau asuransi kesehatan lainnya, jadi saya pakai umum. Pemeriksaan dokter, USG, dan cetak foto USG plus buku rekam medis yang ada panduan senam hamil, de el el, total biaya hanya 150 ribu. Kalau kata saya sih, Alhamdulillah nggak mahal. Biaya tersebut belum dengan tebus vitamin, karena di klinik dr. Fonda memang nggak ada apotik, jadi saya tebus obat di luar yang saya nggak ingat total harganya.

Sebenarnya, kalau googling dokter Spog yang recommended di Bandar Lampung akan keluar cukup banyak reviewnya. Tapi, sayang, kalau untuk dokter Spog di Lampung Tengah jarang sekali yang mereview. Jadi, pemeriksaan berikutnya, karena saya nggak mau ribet harus ke Bandar Lampung lagi, bismillah aja deh, saya coba di dokter Spog yang ada di dekat rumah.

Kenapa saya nggak coba periksa ke bidan?

Ada dua alasan sih sebenarnya. Pertama, saya ngerasa lebih secure kalau periksa dengan dokter di rumah sakit. Kedua, untuk berhemat, karena saya sudah dapat fasilitas asuransi kesehatan dari kantor suami.

Pemeriksaan kedua, saya periksa dengan dr. Vonny di RS Islam Asy Syifa Bandarjaya, Lampung Tengah. Tadinya saya sudah mengurus rujukan segala macam supaya bisa pakai asuransi kesehatan, tetapi karena ternyata MoU rumah sakit dengan asuransi kesehatan yang saya pakai belum diperbarui, jadilah batal rujukan segala macam itu dipakai. Akhirnya saya periksa sebagai pasien umum. Di meja registrasi oleh adminnya saya ditawari untuk USG 4D karena sedang ada promo hingga setengah harga. Kalau nggak salah ingat hanya bayar sekitar 200-300 ribu saja. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik, karena saya agak ngeri dengan alatnya yang ternyata saya salah paham dan keliru dengan USG Transvaginal dan alasan lainnya karena saya ingat pernah baca review kalau USG 4D itu lebih bagus terlihat hasilnya saat usia kehamilan 6 bulan ke atas. Sedangkan saat itu usia kehamilan saya baru sekitar 3 bulan. Berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya, segala rekam medis disimpan oleh pihak rumah sakit. Jadi, saya pulang bawa foto hasil USG 4D yang menurut keterangan dokter Alhamdulillah semua dalam keadaan baik. Benar saja, dokter baru merekomendasikan untuk USG 4D lagi kalau usia kehamilan sudah 6 atau 7 bulan. Meskipun saya mengantri cukup lama untuk bisa periksa dengan dokter Vonny, karena saya mengantri dari pukul 14 dan baru diperiksa sekitar hampir pukul 17, tapi saya cukup puas. Dokter Vonny bukan tipe dokter yang dengan cepat meresepkan obat ketika saya menyampaikan keluhan. Misalnya, ketika saya mengeluhkan sering nyeri ulu hati dan seperti terasa heartburn, beliau menyarankan untuk makan sedikit-sedikit saja, tetapi sering. Malah yang bikin saya kurang nyaman sebenarnya suasana rumah sakitnya. Total biaya pemeriksaan sekitar 400-500 ribu. Itu belum dengan tebus vitamin.

Pemeriksaan ketiga dan selanjutnya saya periksa di RS. Yukum Medical Centre (YMC). Ada dua dokter Spog disana dan keduanya pria. Saya biasa periksa dengan dr. Hi. Indrawan Yahya, Sp. OG. Satu lagi dokter yang juga berpraktek di YMC adalah dr. I Gede Made Bagianta, Sp. OG.

Jadwal dr. Indrawan ada di hari Senin-Rabu, dan Jum’at mulai pukul 16. Sistem di YMC kita harus mendaftar dulu di pagi harinya hingga sekitar siang hari, karena jumlah pasien dibatasi. Kalau tidak salah setiap jadwal dokter hanya untuk 15-20 pasien. Saat awal periksa saya pernah tidak daftar dulu di pagi harinya dan saya baru tiba di RS sekitar pukul 16. Saya bisa dapat antrian mungkin karena saat itu antrian pasien belum penuh. Tapi, di lain waktu, saya pernah baru daftar pukul 13 dan saya dapat antrian terakhir dan baru beres pemeriksaan pukul 21. Tapi, saat itu ada faktor X sih, karena dr. Indrawan belum selesai operasi SC (Sectio Caesaria) di rumah sakit yang lain dan dating ke YMC sangat terlambat. Pendaftaran juga bisa lewat telepon di nomor 08154002744 atau 085279313375. Kalau tidak salah dibuka mulai pukul 9. Saya pernah telepon pukul 09.06 WIB dan saya dapat antrian ke-6.

In short, pemeriksaan dengan dr. Indrawan Alhamdulillah baik-baik saja. Beliau adalah tipe dokter yang sebenarnya ramah meskipun menurut saya cukup irit bicara. Tapi, silakan saja kita yang banyak bertanya karena beliau akan memberikan penjelasan. Kalau menurut suami sih suara beliau cukup pelan, jadi kadang kita kurang bisa menangkap. Masih menurut suami, pemeriksaan dengan dr. Indrawan terhitung cepat kalau nggak dibilang terkesan terburu-buru.
Saat pemeriksaan dengan dr. Indrawan ini saya tahu kalau ternyata Hb (Hemoglobin) saya rendah banget. Hanya 7.0. Padahal untuk ibu hamil normal paling minimal 10-11. Pemeriksaan ini saya lakukan di usia kehamilan kalau tidak salah 5 atau 6 bulan, atas usulan saya. Jadi, saya yang minta untuk dilakukan cek Hb, glukosa, dan lain-lain. Kalau dokter memang nggak menyuruh untuk cek dan uji laboratorium segala macam, nggak ada salahnya kita yang mengusulkan. Paling-paling hanya ditanya balik, apa keluhan kita. Saat itu memang saya merasa sering lemas, pusing, pokoknya gejala anemia deh.

Pemeriksaan dengan dr. Gede hanya sekali saja, karena saat saya ingin periksa dengan dr. Indrawan ternyata beliau sedang cuti, sedangkan saya butuh periksa untuk bisa dapat surat izin melakukan penerbangan.

Nah, dr. Gede ini termasuk dokter spesialis kandungan senior di Lampung Tengah. Kalau bertanya pada orang Lampung Tengah siapa dokter kandungan yang recommended biasanya nama beliau yang tersebut. Beliau juga punya rumah sakit sendiri, RSIA Puri apa gitu, saya agak lupa namanya, bisa disearching di google.

Periksa dengan dr. Gede menyenangkan juga sih. Mungkin karena beliau dokter senior. Beliau nggak segan untuk mengajak ngobrol, pemeriksaan pun dilakukan perlahan-lahan alias sama sekali nggak buru-buru. Kita banyak bertanya pun nggak apa-apa sepertinya.

Hanya kekurangan pemeriksaan di RS YMC adalah USG yang kurang sip. Menurut saya karena layarnya aja sih yang terlalu kecil dan kurang jelas. Terus yang lain adalah kebersihan toilet. Bikin males ke toilet karena nggak bersih dan smelly.

Biaya pemeriksaan di YMC saya kurang tahu, karena selama ini saya periksa sebagai peserta asuransi kesehatan dari perusahaan suami. Kalau bayar pun itu hanya tebus vitamin yang nggak tercover sekitar 150-200 ribu untuk 2 macam vitamin selama sebulan.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 28 Agustus 2016

What Rainbow? That's just an Illusion

One day, you'll feel like you really want something.

You really want it until you forget other things.

You really want it until you disdain other things.

You really want it until you have too high expectation.

If you feel something like that, let me tell you,
Control yourself, take time to think, and take time to get some wise talk.

That rainbow you see, that beautiful mountain scenery, maybe that's just something unreal. 

Something that was caught by your sight, get your heart, and make you in the heat of the moment, unfortunately it will leave you with another painful story.

Anyway, ball is in your court. But, let me tell you, use your brain, do not rely only on your feeling.

Who Do Think That This World is in Wreck

I don't mean to be a pessimistic and apathetic.
But, I do think that the world is indeed in ruin.

I don't know what the hell the world in the past, if chaotic as now or in better condition.

That's why I love old school movies, because it can shows human condition in the past. And well, not much different from now anyway, there are much better and there is more bad.

But, looking current conditions, which from all aspects of life, is a mess. And who knows? 

Maybe, the world might be destroyed soon.

Although I obviously wouldn't know when. It could be that I become the people who witnessed the destruction of the earth, maybe not. I still hope the latter. I was already dead before the earth is destroyed. It's okay if my end time is near, as long as I die in a good state.

Why so selfish?

Anyway, chaotic and destruction of the world doesn't mean make me want to be silent and only be spectators. I want to help saving the world. Who doesn't? With so many movies that inspires us to do more and take part to save the earth. And there are loads of fictional super hero that created and become signal that there is still hope for the world.

So, choose your path and make your own move to save the world. Even if it is just a tiny little bits step.

Jumat, 26 Agustus 2016

Don't Sweat the Small Stuff

Entah, nggak tau standar apa yang Allah swt gunakan untuk menguji hamba-hamba Nya. Tapi, tetiba inget, kalau Allah swt hanya memberikan ujian sesuai kesanggupan hamba Nya.

Iri sama saudara-saudara seiman yang ada di Suriah, Palestina, dan negara muslim berkonflik lainnya. Mereka udah lewat kali ya dari ujian galau-galau masalah hati. Ujian mereka saat ini adalah tabah hidup di bawah tekanan perang atau mati syahid.

Iri banget.

Sementara gue masih muter di situ-situ aja masalahnya.

Galau masalah hati, khawatir soal duniawi, terombang-ambing dalam gempuran hedonisme dan kenyamanan dunia liberalismi, eh, isme.

Menyedihkan.

Pengen segera lulus dari hal-hal menyedihkan ini...

Dan segera sibuk memburu Syahid.

Hanya bisa bersabar, artinya Allah tahu bahwa gue masih sanggupnya begini doang.

Masih kalah sama bocah-bocah kecil di sana yang tiap hari kena gempuran bom dan rudal. 

Meskipun mereka lari, tapi kalau mati pun mereka ikhlas. Karena cuma itu pilihannya.

Nggak kayak gue yang lari gemeteran padahal cuma ngejar kereta. Malu banget!

Ya Allah...

Senin, 08 Agustus 2016

Well, This Healthcare Issue is

Is...
Entah, dari dulu kayaknya Indonesia nggak berbenah. Soal pelayanan kesehatan, dari zaman pemilu ke pemilu cuma muncul janji-janji yang nggak jelas perbaikannya.
Alhamdulillah, saya sedang sehat, jadi nggak terlalu sering ke rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan lainnya, jadi nggak terlalu ngerti dan ngerasain.
Cuma kalau ngurusin periksa mata yang ampun-ampunan banyak minusnya ini, ngerasa kalau birokrasinya ribeeet. Ngalahin pas ngajuin dana buat MPKMB.
Beberapa waktu lalu saya mengantar bude saya ke dokter keluarga untuk periksa karena beliau sedang kurang sehat. Dan?
Ampun-ampunan lama banget antriannya. Lebih dari 1 jam kami menunggu. Itu kalau yang jadi pasien lagi sakit parah, udah kolaps kali. Tapi, kalau sakit parah pasti langsung ke ugd sih, hoho.
Selain antrian yang lama, tempat menunggunya juga, aduh, bikin tambah sakit, deh. Kursi ruang tunggunya keras dan nggak ergonomis buat punggung. Model kursi kayu panjang jadul 90 derajat.
Mungkin saya terlalu banyak mengeluh? Sepertinya begitu. Atau di tempat itu saja yang fasilitas pelayanannya rada-rada.
Yang jelas saya nggak menemukan kenyamanan pada pelayanan fasilitas kesehatan di kota saya ini.
Pun di kota lain, pelayanan yang kurang cepat, berbelit-belit, dan seadanya.
Entah memang karena sumber daya manusia pelayanan kesehatan yang kurang dan kurang baik? Atau manajemen dari atas yang tidak bisa mengatur dengan baik? Atau saya sebagai konsumen yang terlalu banyak mintanya di negara berkembang ini?
Jadi, kalau ngerasa sakit, sakit banget lah sekalian biar dibawa ke ugd, karena penanganannya cepat dengan dokter yang sigap. Eh? Itu sih yang saya lihat di serial-serial medis favorit saya.
Sayangnya, saya pernah lihat juga ugd dengan pasien menumpuk yang tidak terlayani dengan baik.
Berdo'a banyak-banyak saja supaya selalu sehat.
Dan sampai kapan kondisi pelayanan kesehatan Indonesia akan seperti ini?
Who knows?

Sabtu, 06 Agustus 2016

Unhappiness in Life

Are you happy?
Is that an important question?
Yet, life will not always make you happy, that's for sure.
Unhappiness is something that we have to face.
Actually, I don't mind about unhappiness.
But, what if my tears keep coming when facing that unhappiness.

Minggu, 31 Juli 2016

When you have a good dream

Sometimes, you have a really good dream. It's very good until you feel sad when you wake up.
Because you want to live in that dream life. But, that's impossible. Living in unreal life such as your dream life, as same as lying to yourself. Because your real life is not anything like that. And leaving your real life just postponed your misery.
So, what you should do is live in your real life and keep your good dream as good memories that encourage you.
What about make your dream comes true? That's very possible. But, you should think, is it the real good dream that will be good if it becomes true? Or is it just bad whisper that will make you become bad people?
Don't get trapped by your own dream. Think it first.

What about don't hold back?

Your throat and your chest will hurt so badly, when you are trying to hold back your tears. So, one of the best moment in my life is at the time when I can cry alone and cry loudly.
Without no one bother asking reason why I am crying. Because why should you ask? Crying without reason is something that should be understandable. Even if it is not so unreasonable.
Take it, when someone said to back off because he/she do not want you to know the reason behind his/her tears.
Just take it. Because you should not push people. That's violate the human right. But, what is it about the human right when you have the highest right? Allah's rule.
Maybe some people think that they should push people for good (because Allah's rule) or because he/she is not in the right mind so they think that they should put him/her back to track. So, screw the back off part, and what? Will it be all alright?