SOCIAL MEDIA

Rabu, 21 Maret 2018

A Letter to Single Lillah

Satu hal yang saya sesali saat dulu masih single dan belum punya anak adalah selalu banyak alasan untuk enggak banyak-banyak travelling. Kalau diajak kemana gitu sama temen (kecuali ke mall ya) kayaknya ada aja alasannya. Inilah, itulah, mikir x, y, z, ujung-ujungnya bilang, "Maaf, ya, aku enggak ikut dulu ke kota xxx nya,". Tanpa menyebutkan alasan karena tengsin.

Paling sering menolak ajakan travelling dengan alasan, hari libur itu saatnya istirahat. Mengumpulkan tenaga untuk berjibaku lagi sepekan ke depan. Padahal mah alasan kayak gitu bukan jadi hambatan yang banget-banget alias masih bisa disiasati. Misal, travelling di hari jumat sepulang kerja sampai sabtu. Jadi, hari ahadnya masih ada waktu untuk istirahat atau ngerjain ini itu persiapan saat senin kembali menyapa.

Sekarang baru terasa nyesel dan nyeseknya. Karena kalau pengen travelling, even ke ibu kota provinsi aja mikirnya panjang dari a sampai z. Mulai dari ongkos, biaya, de el el, yang harus dikali tiga, sampai mikirin detail kenyamanan transportasi maupun tempat yang dituju. Even ke mall sekalipun. Harus cari info dulu, ada ruangan menyusui enggak? Ntar ganti pospak dimana? Tempat makannya ada high chairnya enggak? Dan sebagainya.

Sebelun mikirin tetek bengeknya, bahkan harus mikirin dulu timingnya tepat enggak. Anak bayi bakalan capek kah?

Duh.

Nyeselnya baru terasa pas sekarang super bosen karena di rumah terus.

Makanya, kalau ada temen yang baru nikah dan belum hamil nanya harus ngapain supaya enggak bosen di rumah, saya selalu jawab, jalan-jalan!

Enggak harus ke mall, yang simpel kayak main ke rumah temen lama, temen baru, de el el, atau nyicipin kuliner terkenal yang khas. Itu juga udah oke banget. Poinnya adalah buka wawasan dengan keluar rumah.

Kalau buat single Lillah, sudah pasti, sana banyakin travelling! Naik kereta, pesawat, kapal laut, touring sepeda motor, pake mobil travel, you named it.

Enggak usah lah galau-galau dengan status single, jodoh mah enggak akan kemana asalkan kita berikhtiar.

Manfaatkan waktu untuk memikirkan dan mentadabburi ciptaan Allah swt, dengan travelling atau sekadar silatturahim.

Enteng buat jomblo mah, tinggal nyisihin sedikit dari gaji bulanan, angkat backpack, terus cus.

Yakin deh, ntar kalau udah nikah atau punya anak, mikirnya seribu kali untuk travelling. Bahkan bisa jadi rencana travelling itu hanya angan semata.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Senin, 19 Maret 2018

Terapi Menulis Agar Bahagia

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah kuliah Whatsapp tentang menjadi ibu bahagia. Sebenarnya, kulWapp tersebut menjadi salah satu media promosi buku berjudul … Ibu Bahagia.

Sebagai ibu baru (9 bulan) saya super tertarik dengan judul buku tersebut.

Gimana enggak?

Buat saya menjadi ibu itu sepertinya sudah jauh lah dari kata bahagia (untuk diri sendiri). Karena begitu punya anak bukankah yang jadi bahan pikiran sepanjang masa adalah kebahagiaan anak-anaknya?

Makanya, saya pengen tahu, gimana sih caranya supaya ibu bisa bahagia?

Ditengah pekerjaan rumah yang enggak pernah habis dan me time yang jadi prioritas kesekian, gimana caranya menemukan kebahagiaan itu?

Jawabannya sudah pasti harus baca bukunya dulu. Hehe.

Silakan bisa dicari judul bukunya Diary Ibu Bahagia.

Penulisnya ada banyak ibu dengan beragam background.

Kalau baca sedikit dari cuplikan yang dibagikan, memang sangat menarik.

Nah, yang saya soroti dari kulWapp tersebut adalah metode menulis yang digunakan.

Jadi, ceritanya Diary Ibu Bahagia ini adalah karya tulisan Komunitas Ibu Bahagia. Kalau tidak salah, Komunitas Ibu Bahagia salah satu kegiatannya adalah rutin menulis, hingga tercapailah satu buah antologi.

Salah satu tugas pertama adalah rutin menulis setiap pagi selama 3 menit. No edit.

Saya agak kaget juga pas ngebacanya.

Nulis di pagi hari? Itu kan jam padat persiapan pak suami berangkat kantor, nyiapin sarapan, cuci piring, de el el.

3 menit doang? Huah. Belum nyari idenya loh.

No edit?! Ini yang bikin wow.

Kenapa?

Karena biasanya kan beres nulis, kita baca ulang alias dikoreksi lagi, kali-kali ada yang typo atau enggak enak dibaca, supaya bisa diedit.

Ternyata, eh, ternyata.

Tujuan menulis 3 menit di pagi hari itu sebagai pembiasaan dan terapi diri.

Ini saya cerna sepemahaman saya, ya.

Pagi hari itu kan saat otak kita mulai bekerja di garis start, entah fresh setelah istirahat semalam atau malah tetep pening gara-gara masih banyak yang belum diselesaikan.

Nah, tujuannya disuruh nulis, supaya uneg-uneg kita bisa tersalurkan secara baik. Tau sendiri, kan, wanita itu harus menyalurkan kebutuhan berbicaranya sebanyak 20,000 kata per hari. Supaya penyaluran kata itu enggak salah alamat, makanya disalurkan lewat tulisan 3 menit itu.

Harapannya setelah ditulis, bisa memberikan efek lega dan membuat kita lebih positif menjalani hari.

Memang tujuan jangka panjangnya supaya bisa menggapai target menjadi ibu bahagia, semua emosi negatif harus dikeluarkan. Setelah dikeluarkan yang negatif-negatif, insya Allah nanti akan terlihat potensi, keinginan, kebutuhan kita, sebagai seorang ibu.

Ketika potensi tersalurkan, keinginan bisa dipilah-pilih sesuai prioritas, begitu pula kebutuhan, insya Allah menjadi ibu bahagia bukan sekadar mitos belaka.

Saya lagi meniatkan nih, untuk memulai program menulis 3 menit di pagi hari ini.

Tujuannya masih jangka pendek aja, sih, pengen ngebuang segala energi dan uneg-uneg negatif. Utamanya supaya lebih plong. Alhamdulillah, kalau bisa menggapai menjadi ibu bahagia. Insya Allah.

~~~



#odopbatch5
#onedayonepost

Sabtu, 17 Maret 2018

Perjalanan Bikin Cerbung (2)

Lika-liku bikin cerbung itu banyak.

Paling berpengaruh adalah saat kita enggak tau konsep cerita kita mau dibawa kemana. Bisa-bisa cerita jadi ngalor-ngidul enggak jelas. Kayaknya beberapa episode Sang Pembawa Pesan mengalami ini. Hehehe.

Akhirnya, baru di setengah episode ke atas, saya menyusun konsep atau kerangka cerita. Asyik dan lebih mudah lho, kalau dibikin poin-poin atau inti yang mau diceritakan di tiap episodenya.

Memang susah awalnya. Apalagi kalau kayak saya yang mengerjakan cerbung sistem kebut semalam. Pas nulis bisa hapus-tulis, hapus-tulis, begitu aja terus. Atau udah nulis panjang-panjang, eh, pas dibaca lagi kayaknya enggak enak flownya, enggak nyambung, atau 'wagu' kata orang Jawa.

Beda deh kalau kita nulis atau bikin cerbung berdasarkan kerangka yang sudah kita susun. Nulisnya enggak lama, flownya juga lebih enak, dan feelnya juga dapat.

Saran lain yang penting banget saat nulis cerbung adalah rutin menulis.

Kayak di Odop (One day one post) konsepnya adalah satu hari menulis satu episode, bagusnya ya, diikuti dan kita ikut disiplin. Kenapa?

Enggak enak banget nulis cerbung yang dijeda lama banget.

Kayak yang saya alami.

Karena satu dan lain hal, saya stop nulis cerbung kira-kira hampir lima hari-an. Pas mau mulai nulis lagi, rasanya susah banget untuk dapat feelnya. Berasa enggak ngeblend gitu kita dan tulisan kita.

Harus baca berkali-kali dulu episode sebelumnya, baru enak lagi pas nyusun cerita di episode berikutnya.

Makanya, ke depan kalau niat bikin cerbung, sepertinya harus super disiplin. Misal per hari, per dua hari, atau yang lain, yang penting konstan dan rutin.

Itu penting banget supaya kita menjiwai cerita dan seolah-olah kita memang masuk dalam cerita.

Pas awal-awal nulis cerbung rutin, bahkan saya ikut deg-degan dan terpacu adrenalin saat menulis. Beda pas ngebut nulis beberapa episode dalam satu hari, kayaknya feelnya enggak sekuat sebelumnya.

Hal lain yang menurut saya penting, menulis cerbung itu lebih baik tidak kebanyakan tokoh atau latar waktu.

Jadi, bingung sendiri loh saya, pas memunculkan tokoh baru dan baru lagi.

Sebenarnya, enggak apa-apa sih, kalau mau banyak tokoh, tapi, harus dibikin list satu per satu, siapa itu siapa, karakternya bagaimana. Biar saat di episode-episode berikutnya, tokoh kita enggak mengalami krisis identitas. Hahaha.

Soal waktu juga gitu, kalau rentang waktunya terlalu lama juga agaknya bikin cerita bertele-tele. Baiknya sih, latar cerita dalam hitungan jam atau hari saja.

Aduh, lagak saya kayak udah nulis ratusan cerbung saja.

Padahal baru juga ngeberesin satu cerbung.

Hahaha.

Ini reminder buat diri saya pribadi.

Silakan bila ada teman-teman yang ingin mengoreksi dan menambahkan.

Semoga bermanfaat.

~~~

(Selesai)



#onedayonepost
#odopbatch5

Perjalanan Bikin Cerbung (1)

Jujur saja, saya baru kembali giat menulis fiksi, karena difasilitasi komunitas Odop (One day one post).

Kalau enggak 'dipaksa' nulis lewat tantangan atau bedah tulisan, kayaknya isi blog ini curhatan semua. HAHAHA. Ini salah satunya. Ups!

Tapi, saya mau sharing saja tentang bagaimana cerbung sang pembawa pesan ini tercipta dan lika likunya.

Ide awalnya sebenarnya gara-gara kepepet.

Sudah beberapa kali menulis paragraf, kok ya, enggak sreg banget sama temanya. Kayaknya masih terpengaruh tulisan fiksi sebelumnya, jadi lagi-lagi mau bikin cerita di genre drama percintaan.

Karena akhirnya mentok dikejar deadline, nekat aja nulis yang bergenre super khayal alias science fiction?

Inspirasinya?

Tentu saja dari novel dan film bergenre sama yang sering saya baca dan saksikan.

Khusus cerbung ini, saya banyak terinspirasi dari novel favorit saya sepanjang masa, Mumi Legenda dan the Independent karya mbak Efi F. Arifin.

Kalau filmnya, sedikit banyak Star Trek dan Star Wars.

Sebenarnya, nulis cerita di genre science fiction itu main aman, karena segalanya suka-suka kita.

Science fiction di sini yang saya maksud lebih ke fantasi.

Jadi, kalau misal ada yang ngerasa aneh kok mobil digambarkan terbang dan lain-lain di dalam cerita, sebagai penulis enggak perlu repot-repot menjelaskan kenapa-kenapanya, karena itu adalah sebuah fantasi pada dimensi waktu yang tidak kita ketahui secara pasti.

Cari aman banget, kan?

Kalau soal lika-liku dan hambatannya, banyak.

Soal ide cerita, sering banget saya mentok. Mentok karena imajinasi dan khayalan saya lagi mampet, jadi rasanya enggak bisa mikir yang ketinggian.

Makanya, jadi blunder tersendiri milih genre dan tema ini.

Kalau pas lagi lancar, rasanya ngalir saja ceritanya. Sesuatu yang khayal banget, enggak dipikirin banget-banget, asalkan masih masuk dan ngeblend dengan jalan cerita, diterusin.

Prioritas saya bikin cerbung kali ini, yang penting flownya enak, inti ceritanya masih mengandung hikmah, dan saya enjoy ngebacanya. Termasuk enjoy nulisnya, memenuhi jumlah kata yang disyaratkan, yaitu minimal 350 kata.

Saya pribadi untuk poin pertama memberi 1,5/3 untuk flow cerita. Di beberapa bagian, saya ngerasa ceritanya masih bisa dielaborate lagi.

Poin kedua dan ketiga sama-sama 2/3. Soal hikmah kembali ke pembaca masing-masing. Kalau saya, bermaksud memberi insight value A, semoga pembaca bisa menangkap di frekuensi A juga. Atau paling tidak enggak jauh-jauh amat, masih di B atau C.

Soal enjoy, beberapa bagian saya sendiri ngerasa asyik dan enjoy ngebacanya. Tapi, di beberapa bagian yang lain, jujur saya ngerasa bosan.

~~~

(Bersambung)


#odopbatch5
#onedayonepost

Sang Pembawa Pesan (10) Selesai

Ammar hendak melompat ke dalam air car yang sudah disiapkan penjaga al Muharar yang lain, saat Ribath akhirnya roboh.

"Pergilah!" Ribath masih sempat berteriak dan mengangkat senjata.

Tembakan-tembakannya memperlambat petugas keamanan gedung biru yang mengejar mereka.

Air car yang dinaiki Ammar melesat menjauh, meninggalkan kawasan gedung biru.

Dimana-mana suasana mencekam dan menjadi kacau. Keuntungan bagi Ammar karena ia lebih leluasa melarikan diri.

Dimana-mana orang masih tercekat menyaksikan tayangan dari chip yang disebarkan Ammar.

Mungkin tak lama lagi gedung biru akan penuh diserbu orang-orang.

Ammar melihat ke belakang, ada sekitar dua atau tiga air car yang mengejarnya. Bukan masalah besar.

Masalah besar yang sebenarnya adalah tanpa Ribath, ia hanya bisa keluar dari daerah rezim melalui jalur biasa. Bukan jalur memotong yang mempersingkat waktu.

Ammar hampir keluar daerah perbatasan saat ia tercengang melihat barisan penjaga al Muharar.

Apa-apaan ini?

Dibelakang barisan penjaga, terlihat jelas petinggi-petinggi al Muharar.

Bahkan ketua ada di sana!

Ammar hendak menyusul dan bergabung ke dalam barisan itu, tapi terlambat. Satu lesatan tembakan dari air car di belakang Ammar membuatnya memutar arah dari rombongan dan melaju keluar perbatasan.

Buat apa mereka ini masih mengejarku?

Ammar sebal setengah mati dengan dua air car yang masih berusaha menembakinya.

Mereka ini benar-benar bodoh atau apa?

Ammar merasa dirinya bukan ancaman.

Saat melewati perbatasan, satu air car dengan simbol al Muharar seperti menunggunya.

Ammar berusaha menjajari.

Pengemudi air car al Muharar itu membuka kabin langit-langit dan mengisyaratkan untuk membuka kabin langit-langit milik Ammar.

Cepat.

Air car yang mengejar Ammar tidak nampak.

"Bawa ini dan pergi ke markas besar."

Apa?

Ammar hendak bertanya, tapi tidak ada waktu. Air car yang mengejarnya tadi muncul kembali.

"Pergilah!"

Chip lagi?

Ammar menerima chip yang diberikan padanya dan bergegas pergi.

~~~

Epilog

Ammar akhirnya sampai di markas besar.

Pelukan hangat Hasyim tidak bisa menghilangkan kesedihannya.

Ia bahagia bisa berkumpul kembali dengan Hasyim, satu-satunya keluarga yang ia miliki, tapi kesedihannya memuncak saat mendapati kabar semua petinggi al Muharar yang turun ke daerah rezim hari ini tewas.


Mereka menjadi martir kebengisan rezim yang luar biasa zalim.

"Lalu untuk apa kita hidup, brother?"

Hasyim tersenyum penuh kepedihan.

"Untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita."

Satu titik air mata membasahi pipi Ammar.

Ia bahkan tak menangis saat Hisyam meninggal dunia. Pun saat baba dan ammanya pergi untuk selamanya.

Pundak Ammar terasa berat, tapi binar harapan dari mata bocah-bocah di markas besar yang menyambutnya, seolah mengangkat semua beban itu.

~~~

(Selesai)

#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

Jumat, 16 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (9)

Ammar merasa ini benar-benar misi bunuh diri. Ia kembali ke daerah kekuasaan rezim?

Itu seperti meletakkan kantung penuh darah di depan moncong hiu.

Tetapi, ia percaya bahwa misi yang ditugaskan padanya adalah jalan terbaik.

Maka, Ammar menurut saja saat harus menyamar menggunakan makhluk kloning ciptaan profesor Martin.

Ah, di detik-detik terakhir sebelum zat kloning disuntikkan dan mengubah penampakan fisik dan beberapa DNA Ammar, ia baru menyadari bahwa pria berwajah oriental yang bersama ketua adalah ayah Yuriko.

Yuriko, sekarang dia berada dalam koma panjang. Batang otaknya terkena tembakan laser. Kemalangan profesor Martin tidak sampai disitu saja. Putranya, Eiji, benar tewas saat membantu pelarian pertama Ammar.

"Aku turut berduka, Sir,"

Profesor Martin tersenyum, berusaha tabah.

"Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya." Ujarnya. Kalimat yang membuat Ammar haru.

Saat ini, Ammar menempuh perjalanan menuju daerah rezim. Entah bagaimana rutenya, Ammar hanya mengikuti salah satu penjaga al Muharar yang membersamainya, Ribath. Seperti dirinya, ia juga menggunakan identitas makhluk kloning supaya tidak terdeteksi.

Tidak seberapa lama, keduanya sampai di kawasan gedung biru, pusat pemerintahan rezim. Suasana terasa mencekam bagi Ammar.

Meskipun tegang, Ammar tak perlu waktu lama untuk mencari tempat tujuannya. Ia sangat mengenal tempat ini, karena disini lah sehari-hari tempatnya menjadi agen ganda.

Tak ada masalah apapun saat ia dan Ribath melewati pos-pos pengawasan yang diperketat.

Ammar hanya tersenyum basa-basi bila kebetulan bertemu pandang dengan beberapa pekerja di gedung biru. Hanya satu dua orang. Selebihnya, petugas gedung biru sibuk dengan komunikator masing-masing, bahkan saat sedang berjalan dari satu gedung ke gedung lain.

Memasuki ruang kontrol utama, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. Entah akses milik Ammar sudah dinon-aktifkan atau belum.

"Semoga berhasil, brother." Kata Ribath. Ia hanya menemani Ammar sampai di depan ruangan saja.

"Bismillah." Ucap Ammar.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Saat ini dan seterusnya, ia hanya bisa berpasrah.

Ammar memindai retinanya, lalu pintu panel ruangan terbuka.

Entah ini kebodohan rezim atau apa? Akses miliknya masih berfungsi.

Tidak, Ammar!

Inilah pertolongan Allah.
Ammar masuk ke dalam ruang kontrol utama yang kosong dan mulai menjalankan misinya.

Menyebarkan isi chip dari Hisyam ke seantero dunia.

"Bismillah,"

Ammar meletakkan chip pada sebuah pemindai hologram.

Bersamaan dengan munculnya isi chip pada layar hologram di depan Ammar dan di layar-layar seluruh dunia, suara sirene mengaum.

Suara derap langkah terdengar mendekat.

Ammar menyetel kunci ruangan kontrol utama, lalu bergegas keluar.

Ribath menyambutnya dengan lemparan senjata.

Syut!

Lesatan senjata terarah pada lengan Ribath.

Ammar lalu berlari di depan Ribath menunjukkan jalan keluar.

~~~

(Bersambung)



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Sang Pembawa Pesan (8)

Ammar tak ingat satu per satu siapa saja mereka. Hanya saja, tiga wajah di depannya saat ini sangat familiar bagi Ammar.

Satu orang berwajah oriental, Ammar tahu dahulu kala ia adalah ilmuwan yang sangat disegani.

Satu yang lain berhidung tajam dengan cambang dan janggut lebat. Ammar yakin ia adalah pimpinan penjaga al Muharar. Sejak tadi ia terlihat berusaha tenang, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir. Tentu saja. Ammar pun masih memikirkan Irsyad dan penjaga-penjaga al Muharar yang lain.

Satu wajah sederhana yang sejak tadi nampak tenang, ia dipanggil ketua.

"Terima kasih, nak, chip ini sudah sampai ke tangan kami," kata ketua.

Ammar hanya bisa mengangguk lalu terlihat berpikir.

"Tenang saja, Hasyim sudah berhasil bertemu kami. Sekarang ia melanjutkan perjalanan ke markas besar."

Ke markas besar? Untuk apa jika ketua saja ada di sini?

Ammar keheranan.

"Isi chip ini semakin meyakinkan kami untuk segera berhadapan langsung dengan rezim."

Tidak.

Ammar sontak menyahut dalam hati.

Berhadapan sekarang dengan rezim akan membuat pasukan al Muharar mati sia-sia.

Jumlah mereka tak seberapa banyak. Belum lagi bila banyak yang gugur atau ditangkap akibat penyergapan saat menjemput Ammar tadi.

Ammar pun tak habis pikir, mengapa banyak yang harus dikorbankan untuk membuat dirinya sampai di sini.

"Kami sedikit lagi membutuhkan bantuanmu, anak muda." Kali ini profesor berwajah oriental yang membuka suara.

"Apa yang bisa saya lakukan?" Tanya Ammar.

Pimpinan penjaga al Muharar saling bertukar pandang dengan ketua.

Ammar merasa tak ada lagi bantuan yang bisa ia berikan.

Tugasnya seperti sudah selesai saat ia menyerahkan chip itu pada Hasyim.

Chip yang harus dibayar nyawa oleh Hisyam. Kakaknya itu tewas dua malam setelah memberikan chip itu pada Ammar.

Ammar dan keluarga hanya mendapat kabar, Hisyam meninggal di tempat dalam sebuah kecelakaan air car.

Entah apakah rezim tahu atau tidak, kalau chip itu ada di tangan Ammar.

Hingga Hasyim memberitahukan betapa penting chip itu. Saat Ammar berhasil membuka kode file chip, saat itulah rezim mulai memburunya.

Padahal rekam jejak Ammar sebagai pembawa pesan al Muharar selama ini bersih dan nyaris tidak terdeteksi.

"Kami ingin kau menyebarkan isi chip ini." Kata ketua.

Menyebarkan?

Itu pekerjaan yang sangat mudah.

Saat ia ada di daerah kekuasaan rezim.

Di sini? Semua nyaris primitif, seperti kembali ke abad 21.

"Tidak menyebarkan dari sini, kau harus menyusup ke gedung biru*,"

~~~

(Bersambung)

*gedung biru: semacam the white house di masa itu




#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Sang Pembawa Pesan (7)

Suasana mendadak menjadi hening saat air car yang ditumpangi Ammar berada di bawah todongan senjata.

"Alhamdulillah. Allahu akbar!" Irsyad, yang berada di sebelah Ammar berucap pelan.

Todongan senjata di depannya sama sekali tidak membuat pemuda itu takut. Sebaliknya, ia sedikit lega karena sudah bertemu dengan penjaga al Muharar.

Tetapi, mereka harus cepat.

Beberapa penjaga al Muharar mendekati air car mereka, memaksa mundur petugas yang menodongkan senjata pada Ammar dan Irsyad. Tentu saja. Saat ini petugas-petugas itu kalah jumlah.

"Kalian tidak apa-apa?" Seorang penjaga al Muharar bertanya.

Ammar dan Irsyad mengangguk.

Mereka keluar dari air car dan berjalan mendekati barisan air car milik al Muharar

Syut!

Satu lesatan tembakan terarah ke air car mereka.

Ammar merasakan tarikan pada kerah bajunya. Ia ditarik paksa sedemikian rupa.

Seketika suasana berubah kacau.

Lesatan tembakan dimana-mana.

Air car yang tadi ditumpangi Ammar berkobar dalam api.

Dari kejauhan, Ammar melihat berlusin-lusin air car loreng mendekati mereka.

Ammar melihat Irsyad yang bergerak lincah di balik pepohonan, membawa senjata.

Tidak seperti dirinya.

Ia masih bersama seorang penjaga al Muharar yang wajahnya asing. Menunggu untuk diberikan senjata.

Tetapi, yang muncul di depannya sebuah air car lagi, bersama penjaga al Muharar yang lain.

"Cepat pergi!"

Ammar merasakan tubuhnya didorong masuk air car. Ia tidak bisa mengucap sepatah kata pun.

Air car yang ditumpanginya melesat pergi.

"Saat ini prioritas kami adalah membawamu ke perbatasan."

Kalimat penjaga al Muharar itu menjelaskan.

Ammar hanya bisa tercengang, melihat pemandangan di belakangnya.

Air car al Muharar dan penjaga yang tak seberapa banyak diserbu oleh petugas-petugas berseragam loreng.

"Hanya Allah yang bisa menyelamatkan mereka."

Ammar mengamini perkataan penjaga al Muharar itu.

Sementara, air car yang ditumpangi Ammar menjauhi kegaduhan yang memekakkan telinga dan desingan laser yang terasa menyayat-nyayat hati.

Saat desingan sudah jauh tak terdengar, Ammar memasuki daerah asing, tempat berdiri beberapa tenda beratap mirip kubah.

"Ini markas besar?" Tanya Ammar.

Pemuda di sebelahnya tersenyum.

"Bukan. Ini markas sementara."

"Hasyim ada di sini?" Tiba-tiba Ammar diserang perasaan berharap.

"Tidak. Ia masih menuju markas besar."

Ammar melempar pandangan bertanya.

Air car berhenti di salah satu padang rumput luas.

Saat itu sejumlah orang keluar dari tenda.

Wajah-wajah mereka Ammar kenali karena Hasyim dan Hisyam.

Mereka petinggi-petinggi al Muharar.

~Bersambung~



#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Minggu, 11 Maret 2018

Amanah yang Tidak Disangka

Sebenarnya saya sungguh tidak menyangka akan diberi amanah hanya selang sebulan setelah menikah untuk hamil. Masa-masa kehamilan dilalui dengan perjuangan. Muntah dan mual pernah saya rasakan. Pun hingga akhirnya melahirkan lewat bedah sesar.

Mempunyai anak pertama di usia saya dan usia pernikahan yang masih muda menjadi tantangan besar untuk saya. Pertama karena saya merasa masih banyak hal yang ingin saya lakukan yang akan sangat sulit dilakukan saat sudah mempunyai anak. Kedua ego saya yang masih tinggi untuk mendahulukan kepentingan saya di atas yang lainnya.

Jujur saja selama 9 bulan mengasuh anak, saya merasakannya seperti roller coaster. Ada masa saya sangat bahagia dan berbunga-bunga melihat anak saya, tapi ada juga momen saya merasa menjadi orangtua paling buruk sedunia.

Banyak pikiran negatif yang muncul saat anak saya di awal kelahirannya sering sekali menangis. Rasa sakit setelah operasi sesar ditambah rasa lelah karena harus tidur larut dan bangun pagi, kadang membuat saya berpikiran yang tidak-tidak, bahkan menyesali takdir. Sungguh sesuatu yang sangat menyedihkan bila kemudian saya ingat sambil memandang wajah anak saya.

Pun sekarang sampai usia anak saya semakin bertambah, tentu makin banyak tantangan yang saya hadapi. Mulai soal makan yang sangat tricky sampai berat badannya naik irit bahkan turun, hingga saya yang tidak bisa beraktivitas karena anak enggan ditinggal dan akhirnya menangis meraung-raung. Itu semua kadang membuat saya lelah lahir dan batin. Tentu dampaknya sangat tidak bagus. Pikiran yang tidak-tidak, menyesali diri, trauma untuk memiliki anak kembali, menyalahkan pasangan, itu semua pernah saya rasakan. Kadang bahkan saat emosi sedang tidak stabil, saya melampiaskan dengan menunjukkan wajah kurang mengenakkan di depan anak saya. Sesuatu yang di malam hari sangat saya sesali.

Melihat anak saya terlelap tidur dengan nyenyak. Muncul rasa bahagia dan bersyukur, karena tidak semua orang dengan segera mendapatkan anak. Masing-masing ibu dan calon ibu punya ujian dan tantangannya. Pun masing-masing kondisi anak. Seharusnya, kondisi anak saya sekarang membuat saya banyak bersyukur dan bukan sebaliknya.

Memang hormon dan emosi yang tidak stabil menjadi pengaruh yang tidak terhindarkan bagi ibu untuk mengalami baby blues atau postpartum depression. Akan tetapi, bukan berarti kita lantas selalu mengkambinghitamkan keduanya. Bila ada suatu masalah insya Allah pasti ada jalan keluar.

Buat saya pribadi, lingkungan keluarga besar maupun kecil sangat berpengaruh untuk mengatasi perasaan negatif saat mengasuh anak. Dukungan ipar, mertua, orangtua, dan suami amat sangat penting.

Terutama suami yang membersamai tumbuh kembang anak. Suami yang pengertian dan mau mengimbangi istri sangat besar pengaruhnya untuk bisa menghindari terjadinya BB dan PPD.

Saat saya sedang dalam kondisi emosi yang kurang stabil, bantuan seperti menggendong si kecil, mencuci piring, membelikan lauk matang untuk santapan keluarga sangat berarti.

Selain itu, proses mendekatkan diri pada  Allah swt, menyadari bahwa anak adalah amanah sangat penting.

Anak tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya. Ketika kita sudah terpilih menjadi orangtua, maka kewajiban kita adalah menjadi orangtua terbaik bagi anak kita dan menjadikannya prioritas tanpa menzalimi hak diri kita.




#PICBBdanPPD
#inspirasiceria
#pojokilmuceria
#tugasfebruari2018

Sabtu, 10 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (6)


Air car meliuk-liuk hingga membanting arah ke kiri. Menukik tajam dan membuat Ammar tersadar.

Kepalanya pusing seketika dan ia merasa sangat mual.

Melihat penumpangnya telah sadar, pemuda jangkung dengan cambang lebat berkata pada Ammar, "Kau pasti jago menembak bukan?"

Ammar tergeragap.

Panel senjata tiba-tiba muncul di depan Ammar.

Mau tak mau Ammar berusaha mengendalikannya.

Beberapa kali lesatan tembakannya meleset. Entah kemana.

Ada dua air car yang mengejar mereka.

Di ambang antara sadar dan belum sepenuhnya sadar, Ammar berusaha mengimbangi kecepatan air car dengan bidikan tembakan.

Hingga kemudian air car mereka terguncang dahsyat.

"Kena dua lagi, bersiap untuk jatuh anak muda!"
Kalimatnya penuh semangat dan optimisme.

Padahal maksudnya adalah kalau sampai air car mereka terkena dua kali tembakan lagi, mungkin mereka akan jatuh ke tanah atau meledak. Pilihan pertama rasanya sudah Ammar rasakan berkali-kali.

Syut!

Satu.

Ammar berusaha membidik target di belakang mereka yang mahir sekali bermanuver di udara.

Syut!

Dua.

Air car yang dinaiki Ammar berguncang dahsyat.

Jatuh lagi?

Irsyad. Nama pemuda di samping Ammar. Teman Hasyim, kakak ketiganya. Ia mengubah panel sentuh air car menjadi tipe manual, mirip setir mobil di abad 21.

Air car melayang stabil di udara.

Lesatan tembakan dari arah belakang masih menyerang mereka. Kali ini bidikan Ammar jauh lebih tepat.

Sebuah air car menjajari mereka. Ammar bisa melihat Arkan, teman Hasyim yang lain dibalik kemudi. Sorot matanya terlihat panik.

Terang saja. Di belakang mereka, air car loreng milik pemerintah semakin banyak.

"Dengar, jika kita sampai dijatuhkan lagi, berusahalah sekuat tenaga untuk kabur. Salah satu dari kita berempat harus bisa bertemu penjaga al Muharar." Kata Irsyad.

Ammar mengangguk saja, meski ia merasa ragu. Mata Ammar fokus pada air car yang nyata-nyata semakin banyak.

Ammar mulai kewalahan.

"Sedikit lagi," Irsyad mendesis perlahan.

Syut! Syut!

Dua tembakan sekaligus menghantam kabin atas air car.

Guncangan dahsyat lagi.

Apa maksud Irsyad sedikit lagi? Kita akan kembali ke markas? Rasa-rasanya itu tidak bisa dibenarkan. Jika mereka yang menjadi buron pemerintah sampai terlacak, itu bisa membahayakan semua yang ada di markas besar.

Syut! Syut! Syut!


Air car mulai memasuki hutan semakin dalam. Hutan yang mendung, tapi menenangkan.

Tidak boleh lengah.

Syut! Duar!

Air car terhantam tanah.

Kali ini Ammar masih dalam kondisi sadar.

Air car loreng berduyun-duyun mengelilingi mereka. Seperti predator yang menemukan mangsanya.

Sayangnya, predator itu juga terkepung.

Air car milik penjaga al Muharar tampak berjajar rapi, melindungi.

~Bersambung~



#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangan cerbung