SOCIAL MEDIA

Minggu, 28 Januari 2018

D'Cost Lampung

Kalau jalan-jalan ke Bandar Lampung yang enggak ketinggalan adalah kulineran. Tapi, maaf dulu nih sebelumnya, karena yang diicip-icip bukan makanan khas Lampung, melainkan makanan yang lagi dikangenin.
Lagi inget banget nih, dulu pas masih di Bogor, ke D'Cost kalau lagi pengen perbaikan gizi dan makan enak. Tau sendiri kan, di resto ini, nasi dan es tehnya bisa refill dan tetep bayar murah. Inceran anak kampus yang uang jajannya irit, kan?
Nah, pas lagi kangen, mampir lah ke D'Cost di Mall Kartini ada di lantai 2.
Rada katrok nih pas awal-awal, karena udah 7 tahun enggak ke D'Cost dan baru ke sini lagi sekarang-sekarang ini.
Pilih menunya, pake kartu macam kartu nama di kayak mading yang ada di dekat kasir. Kalau udah beres pilih menu, kartu-kartu itu dikasih ke supervisor yang berjaga di dekat situ. Nanti kita dikasih tau sebelah mana meja kita, atau boleh aja sih pilih meja sendiri. Entar supervisornya itu juga tau kok kita duduk di meja mana. Insya Allah pesenan menu enggak akan salah. Terus tinggal nunggu deh menu disajikan.
Oh ya, untuk ibu-ibu yang mau bawa bayinya ke DCost bisa banget agak santai karena ada high chairnya, tapi tanpa tray.
Enggak terlalu lama pesanan menu kami diantar. Kalau kata saya, ternyata porsi menunya enggak sebanyak yang saya perkirakan. Tapi, pas kok.
Kalau soal rasa, karena saya lupa gimana rasa D'Cost yang dulu sering saya kunjungi di Bogor, yang di Lampung ini sih enak-enak aja.
Cuma, meskipun saya ada di area non-smoking yang samping-sampingan sama area smoking, asap rokok dari yang pada makan di area smoking terasa loh sampe ke hidung saya. Bikin sesak juga. Ternyata, sebabnya adalah pintu pemisah di area smoking enggak ditutup. Mungkin karena susah kali ya, pramusajinya buka tutup pintu nganterin makanan, daripada repot jadi dibuka aja. Tapi, jadinya malah mengganggu sih.
Overall rate makan di situ saya kasih 7/10
Ini list menu yang saya makan
Nasi putih
Tom yum soup
Kangkung balacan
Tahu jepang saus padang
Es kelapa
Air mineral
Total 99 ribu
Favorit saya adalah tahu jepang saus padang. Meski di akhir-akhir rada eneg sih makan tahu jepangnya. Terus, kata suami harganya sudah enggak kaki lima lagi. Kecuali untuk menu kayak nasi goreng, mie goreng, dan sejenisnya, itu tetep murah meriah untuk ukuran resto.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Miniso Lampung

Saat sedang jalan-jalan ke Mall Kartini, Tanjung Karang, Bandar Lampung, enggak sengaja saya dan suami melewati salah satu outlet yang rame banget. Saya ngelirik dikit, "Oh, miniso! Ada beginian juga ya di Lampung."
Karena pak suami penasaran kayak gimana sih isinya miniso itu, kami pun berkunjung ke dalam. Padahal, sebenarnya saya enggak begitu tertarik karena bejubel banget.
Pas di dalam, oh my… ac nggak berfungsi, puanas pol. Mungkin karena tempatnya enggak luas-luas banget dan overload pengunjung. 
Terus di bagian belakang toko, tapi letaknya masih di dalam, pake ada karyawan yang bongkar-bongkat stok dari gudang. Makin-makin penuh aja deh.
Apesnya saya lagi bawa bayi. Jadi, kasian karena harus ikut-ikutan beramai-ramai.
Ke miniso sebenarnya enggak lagi nyari-nyari barang sih. Jadi, sekadar sight seing.
Barang-barang di miniso lucu-lucu kata saya. Tapi, rada mahal sih. Harganya pun pecahan mulai dari 29.900, 39.900, 79.900, dan seterusnya.
Kalau enggak lagi butuh atau dalam rangka nyari sesuatu, kata saya bakal boros.
Jadi, sebenarnya apa yang dijual di miniso?
Kalau baca tagline soal miniso banyak yang menyebut barang-barang fashion. Oh ya, miniso ini keluaran Jepang.
Tiap beberapa menit sekali ada spg yang teriak nyaring dari speaker utama, terus bilang, "Selamat datang di Miniso!" terus diikuti spg-spg lain yang sedang standby.
Barang-barang yang dijual di miniso ini perintilan-perintilan kecil kebutuhan pribadi dan rumah. Misalnya, kacamata, sandal jepit, jam meja, boneka, bantal leher, cantolan, tempat sabun, kotak organizer, tempat sampah kecil, headset, dompet, tas, semacam itu lah.
Salah sebut spg, enggak girl aja kok, tapi ada boy juga. Lumayan ramah-ramah. Pas masuk kalo kita malas bawa-bawa keranjang, terus ternyata pas di dalam tertarik buat beli-beli, enggak perlu balik ke depan buat ambil keranjang, mereka udah siap nawarin keranjang buat memudahkan kita. Tapi, jangan kalap ya. Karena barang-barang di miniso lucu dan bagus-bagus, bisa tergoda buat terus ngisi keranjang.
Salah satu yang saya beli di miniso adalah cantolan dinding. Kalau kata suami sih worth to buy. Enggak terlalu mahal, tapi barangnya enggak murahan.
Terus, saya naksir dompetnya, tapi, sayang, pak suami enggak ngijinin.
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Kamis, 25 Januari 2018

Stroller Pockit 789: Review

Semenjak punya bayi, rasanya mata ini mudah banget laper kalau ngeliat ada barang-barang bayi yang lucu atau unik atau kece. Salah satunya yang sering diliatin dan dipengenin adalah stroller.

Berhubung sebenarnya kami udah ada stroller yang manuvernya oke, tapi sangat berat, bulky, dan enggak cabin size, jadi lah saya sangat mengidam-idamkan stroller yang ringan, ringkas, dan cabin size.

Cuma karena saya dan bayi tim gendongan alias jarang banget pake stroller karena kemana-mana lebih gampang pake gendongan (babycarriers), maka pas ngeliat-ngeliat stroller hanya sekadar sight seing. Ada niatan beli, tapi prioritas kesekian kali yang enggak terlalu urgent.

Tapi, akhirnya pada suatu kesempatan, karena kami sekeluarga harus ke Jakarta menghadiri undangan pernikahan sanak famili. Maka, semakin menggebu lah niatan untuk punya stroller ringkas. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kok ya, sayang kalau beli, padahal cuma dipake sekali, selebihnya kayaknya enggak akan banyak kepake.

Karena alasan itu lah, saya memutuskan untuk menyewa saja. Alhamdulillah ketemu tempat sewa stroller yang berkesan di hati.

Nah, kenapa saya memilih stroller pockit 789?
Sebenarnya kalau dari kriteria ringan, ringkas, dan cabin size. Ada 2 merek yang bikin saya mupeng banget. Ada babyzen yoyo dan GB pockit. Tapi, udahlah 2 merek stroller itu terlalu pricy. Mendingan duitnya buat kulineran.

Ada juga merek kiddopotamus, versi Cina babyzen yoyo. Tapi, proposal saya ke pak suami ditolak mentah-mentah. Katanya ngeliat bahan dan kainnya enggak banget. Terlihat ringkih dan kurang berkualitas. Padahal kata saya mah oke-oke aja.

Setelah cek sana sini. Akhirnya yang saya dapat di rentalan adalah pockit 789 atau seri cocolatte pockit gen 5. Keistimewaannya adalah bisa recline dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Overall saya kasih rate 7.5/10.

Ada kurang dan lebihnya yang masih imbang, enggak terlalu berat sebelah.

Saya bahas kekurangannya dulu ya.

Pertama, kanopi yang terlalu minimalis. Kasihan deh kalau bayinya dibawa ke tempat outdoor yang bisa kena terik dan sinar matahari.

Kedua, cara melipat yang enggak bisa satu langkah. Sebenarnya cuma lebih satu langkah sih. Jadi setelah diringkas, roda-rodanya harus dilipat agar rapi. Enggak kayak seri pockit yang lain, sekali tekan langsung terlipat. Ini jadi pr banget buat newbie kayak saya dan suami.

Ketiga, terasa ringkih. Atau bahasa saya hoyak-hayik. Enggak steady gitu. Apalagi kalau dipake jalan di tempat bergelombang atau berbatu atau yang sejenisnya. Sebenarnya kuat karena diklaim bisa sampai berat badan bayi 20 kg. Tapi, ya, mungkin memang salah satu kelemahan pockit yang jamak diketahui bersama, terasa ringkih.

Kalau kata saya sih, kalau dipakenya di mall-mall atau pedestrian yang bagus banget, kayaknya enggak akan terlalu terasa hoyak-hayik.

Banyak yang nyaranin kalau pengen rasa pockit, tapi kokoh, GB pockit bisa jadi pilihan.

Keempat, recline yang terlalu simpel, karena cuma pake resleting. Posisinya pun kata saya enggak terlalu recline dan malah enggak nyaman buat bayi. Anak saya aja malah lebih nyaman di posisi duduk, meskipun dia tidur.

Lanjut ke part kelebihan.

Emang ini sesuai keinginan saya banget. Ringan, ringkas, dan cabin size.

Ringan dan ringkasnya itu loh yang bikin saya nyaman sama stroller ini.

Warna denim bluenya juga keren. Meskipun dipakenya sama anak saya yang cewek


Sekian dulu review saya. Semoga bermanfaat mom 😄

Selasa, 23 Januari 2018

Lelah Bermulti Tasking

Sejak zaman kuliah dulu dan aktif di organisasi kemahasiswaan, bahasan soal multi tasking ini banyak banget masuk ke kepala. Soalnya saat kuliah, supaya enggak cuma kuliah-kosan-kuliah-kosan, seperti udah jadi kewajiban untuk ikutan paling enggak satu lembaga kemahasiswaan atau unit kegiatan mahasiswa. Mulai dari organisasi yang menuntut lebih banyak pekerjaan sampai kegiatan yang jadi ajang menyegarkan pikiran.

Nah, karena enggak cuma kuliah aja, makanya kita-kita ini lumayan terlatih mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Tapi, pre-cautionnya adalah kebanyakan kegiatan atau organisasi juga bisa bikin limbung bahkan kolaps.

Banyak temen yang menyebutkan, kalau wanita lah yang lebih jago bermulti tasking. Saya sih waktu itu iya iya aja, sebab nggak terlalu menganggap multi atau single tasking ini penting. Di otak saya waktu itu mah cuma kepikiran yang penting segala yang diamanahkan ke saya beres. Udah gitu doang.

Eh, tapi, pas udah jadi ibu-ibu sekarang ini baru kepikiran lagi dan merasa hal ini cukup krusial.

Kenapa coba?

Soalnya sehari-hari, mau enggak mau, saya harus bermulti tasking. Di satu area rumah saja, misal dapur, saya bisa merebus telur, menggoreng ikan, dan mencuci piring dalam waktu bersamaan.

Kebayang enggak?

Kalau enggak, enggak apa-apa juga sih. Bukan itu juga intinya.

Kalau menurut saya, bermulti tasking sebenarnya dari luar tidak terlalu melelahkan secara fisik. Karena riilnya kita hanya mengerjakan satu tugas. Tapi, karena dituntut untuk juga menyelesaikan dua tugas lainnya, yang artinya dalam satu waktu harus menyelesaikan tiga tugas sekaligus, yang banyak terforsir bekerja adalah otak kita. Nah, tau sendiri kalau yang lelah otak, fisik kita akan merasa lelah berlali-kali lipat.

Makanya, belakangan, karena saya merasa sangat lelah secara fisik, saya langsung curiga kalau penyebabnya adalah kesalahan saya sendiri yang memaksa diri untuk bermulti tasking.

Padahal sebenarnya, kalau melakukan single tasking pun pekerjaan-pekerjaan insya Allah akan selesai.

Hanya saja, memang ada yang harus dikorbankan, yaitu perasaan kita. Karena tidak bermulti tasking, maka kita harus sabar bila ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebaliknya, kalau kita memang sangat berambisi untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu penyelesaian, maka kita harus kuat fisik dan mental.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Senin, 22 Januari 2018

Takut Masa Depan Zaman Now

Seperti biasa, sore hari di perumahan yang berdempetan, kalau ada anak tetangga yang ramai-ramai bermain di luar rumah, pasti terdengar sampai ke kamar depan. Ada suara anak yang diteriakin ibunya gara-gara enggak mau masuk ke dalam rumah, padahal cuaca mendung, ada juga yang malah senang sekali main keluar rumah dan teriak-teriak kegirangan. Salah satunya setengah berteriak dan menceracau, "Bla… bla… zaman now… zaman now…" 

Saya pun cuma bisa mengernyit heran. Bocah usia 5 tahun begitu bisa aja, ya, ngomongin 'zaman now'. Masih 5 tahun loh. Ya, saya tau usia anak tetangga ini karena baru beberapa hari lalu ngobrol dengan ibunya. Enggak habis pikir saya, darimana dia dengar kosa kata itu. Entah dari media atau orang-orang disekitarnya. Nah, yang jelas saya kesal mendengarnya. Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi menurut saya itu enggak sekadar ngomong 'zaman now', tapi fenomena sudah tidak 'pure'nya masa-masa bayi di abad ini. 

Kejadian yang lain, saya pergi ke minimarket dan terkejut lah saya, saat mengantri di belakang gadis kecil berkerudung dan bergamis, tapi dia menukar pecahan lima puluh ribuan yang ia pegang dengan sebungkus rokok. Amat sangat menyedihkan. Rasanya pengen banget memaki mbak-mbak kasir yang ringan saja memberikan rokok itu. Memang, sih, bakal panjang urusannya kalau mbak kasir terlalu 'kepo' tanya untuk siapa rokok itu dan pasti orang-orang akan berpikir bahwa itu tindakan yang berlebihan. Semua pasti sepakat bahwa si gadis kecil itu tidak mungkin membeli rokok untuk dirinya. Ia ke minimarket lalu membeli rokok, sudah tentu atas perintah ayahnya. Sungguh menyesakkan, menyedihkan, dan memuakkan. Lantas, bagaimana kalau si gadis kecil yang masih berkembang emosi dan kecerdasannya ini terlalu penasaran, lalu berniat mencoba? Memang rokok ini level berbahayanya tidak seperti narkoba dan sejenisnya, tapi bukankah rokok adalah awal dari segala hal seperti itu? Rokok juga level mematikannya sangat tinggi, kan?

Ah, kejadian menyoal bayi atau anak-anak seperti ini membuat saya ngeri. Saya peluk erat si bayi dan lanjut membisikkan do'a-do'a. Sungguh dalam benak saya tidak sampai hati membayangkan dunia seperti apa yang akan anak saya tinggali nanti. Sekarang saja sudah banyak fenomena yang membuat kita melabeli 'dunia sudah gila', 'bumi sudah rusak', 'sebentar lagi kiamat', dan lain lain.

Mendengar dan menyaksikan hal semacam yang saya ceritakan itu, rasanya saya ingin terus memeluk anak saya dan membuat sarang ternyaman agar dia selalu aman.

Akan tetapi, sebenarnya saya sadar, hidup di dunia nyata ini tidak seperti di negeri dongeng yang bisa kita atur akhir bahagianya. Bagaimanapun kondisi dunia tempat anak saya tumbuh dewasa nanti, saya terus berharap Allah Ta'ala akan selalu menjaga dan membimbingnya. 

#Onedayonepost
#ODOPbatch5


Sumber gambar dari Pinterest

Kamis, 28 Desember 2017

Zakkel Baby Carriers: Review Gendongan

Gendongan lokal rasa internasional. Kalau boleh saya akan menyebut gendongan model ssc asal kota Bandung ini setinggi itu. Karena memang nilai plus nomer satu dari gendongan ini adalah bahan yang luar biasa adem dan halus, katanya sih mirip-mirip dengan gendongan terkenal asal US, tula baby carriers. Kabarnya pula zakkel memakai bahan-bahan impor yang membuat harganya paling tinggi diantara gendongan-gendongan model ssc lokal lainnya.

Buat saya pun, saat ini zakkel menjadi gendongan model ssc paling nyaman.

Selain bahan kainnya yang adem dan halus, serta bagian shoulder pad yang empuk, yang jadi favorit saya adalah bantalan di bagian tempat paha bayi. Bantalan ini bisa melindungi paha bayi agar nggak memerah karena tergesek saat berada di gendongan. Buat saya sih itu penting untuk menambah kenyamanan bayi.

Hal lain yang bikin saya suka dengan zakkel ini adalah motifnya yang classy. Cantik, gaya, tapi tetap cocok untuk jadi baby stuff. Kombinasi yang apik yang jarang saya temukan di gendongan model ssc lokal lainnya. Kalau gendongan impor jangan tanya ya. Motif-motif gendongan impor udah jauh kelasnya.

Buat ibu-ibu yang sering keluar rumah, tapi nggak mau ribet bawa-bawa tas kecil atau dompet, zakkel ini menyediakan pocket kecil di bawah body panel. Awalnya saya sering kesulitan untuk mengakses pocket ini. Lalu saya pun konsul ke admin zakkel (atau mungkin ownernya) tentang masalah ini. Solusinya adalah meletakkan anak di bagian tengah body panel. Jadi agak ke atas supaya nggak terlalu menutup bagian tengah waistpad, tempat pocket berada. Kalau pendapat pribadi saya sih, sepertinya akan lebih nyaman dan lebih mudah diakses kalau pocket diletakkan di bagian samping waistpad. Tapi, ini agak-agak nyontek model gendongan soul anoona sih.

Berikutnya soal hoodie. Zakkel ini punya hoodie yang lain daripada yang lain. Zakkel aja nih yang hoodienya model hoodie jaket. Bagus dan keren sih sebenarnya. Tetapi, setelah memakai zakkel selama sebulan, menurut saya sih lebih nyaman kalau model hoodienya seperti gendongan ssc kebanyakan, memakai snap dan hoodienya nggak berbentuk kupluk.

Zakkel ini sebenarnya diperuntukkan bayi usia 6 bulan dengan berat badan bayi minimal 7 kg. Anak saya mulai pakai zakkel sejak usia 5 bulan dengan bb sekitar 6 kg. Alhamdulillah nggak tenggelam dan nyaman. Mungkin karena zakkel ini body panelnya nggak terlalu tinggi dan nggak terlalu lebar juga.

Soal safety, insya Allah aman ya. Di bagian waistpad buckle pengamannya pakai lock yang harus dibuka dengan dua tangan. Susah deh kalau coba buka pakai satu tangan. Kalau di penjelasan produk, bucklenya ini pakai 'Duraflex Buckle with Double Lock System'. Tapi, kalau buckle untuk chest strap, nggak pake double lock system. Jadi, mudah saja kalau mau ngebuka pake satu tangan. Nggak kebayang kalau harus buka pake dua tangan repotnya. Meskipun lebih safe, tapi dengan lock yang sekarang, saya pikir buckle chest strapnya sudah lebih dari cukup.

Dulu sebelum nyobain zakkel, saya pernah nyobain gendongan lokal lain yang agak susah buat ngatur tali atau strapnya. Tapi, kalau zakkel mah easy to adjust pisan. Mudah diatur, tapi tetep kenceng gitu.

Kekurangan yang saya rasakan saat pakai zakkel nggak banyak sih. Lebih banyak plusnya kok.

Pertama, entah mengapa kain zakkel ini suka gampang banget ditempelin macam debu-debu gitu. Kalau kata suami sih karena warna motif yang saya pakai ini hitam.

Kedua, saya kok ngerasanya kurang nyaman di bagian waistpad ya. Saya curiga sih bukan salah zakkelnya, tapi salah saya yang sepertinya belum jago menempatkan waistpad.

Ketiga, soal hoodie yang sudah saya jelaskan di atas.

Overall untuk harga segitu, zakkel ini sangat worth it.

Oh ya, sekadar info, saya nih belum punya zakkel sebenarnya. Bisa ngerasain zakkel karena boleh nyewa di toko gendongan punya mbak Mel yang ramah dan helpful banget. Sewa sebulan 100 rb dengan uang deposit 200 rb. Boleh dicari infonya di IG @tokogendongan.

Segitu dulu review saya soal zakkel.

Boleh banget kalau ada yang mau nambahin atau sharing juga soal zakkel atau gendongan lainnya.

Semoga bermanfaat.



Senin, 04 September 2017

Pikir Dulu Sebelum Beli Gendongan: Review Ergobaby Adapt (KW)

Sejak gabung di salah satu grup Whatsapp berisi ibu-ibu yang sering rame ngomongin apa aja, dari soal bayi dan lain-lain, banyak banget ilmu baru yang saya dapat terutama yang berhubungan dengan mengurus bayi. Termasuk soal gendong-menggendong.

Jujur saja saya baru tahu soal menggendong yang benar ya, di grup Whatsapp tersebut. Cara menggendong yang benar, mengapa harus m shape, gendongan ergonomis, dan sebagainya bisa dilihat di blog Indonesian Babywearers (silakan digoogling).

Nah, salah satu yang mendukung babywearing adalah gendongan!

Baru tahu loh saya kalau gendongan ergonomis impor harganya bisa sampai berjuta-juta. Makanya sampai ada barang kw atau replikanya.

Sebenarnya salah satu syarat gendongan ergonomis adalah bukan barang palsu/fake/kw/tiruan/replika. Sayangnya saya termasuk salah satu yang kena jebakan membeli barang kw.

Yep. Alasannya karena saat itu saya tergoda gendongan impor yang bisa dipakai untuk newborn tanpa tambahan insert dan ternyata sudah ada barang kw nya di Indonesia.

Sempat khawatir sih karena resiko barang kw adalah nggak ada quality control yang jelas. Jadi gendongan bisa saja tiba-tiba putus atau buckle nya patah. Na'udzubillahi min dzalik.

Tapi, akhirnya saya beli juga gendongan kw itu karena butuh gendongan yang praktis (secara gendong pake jarik pun saya belum bisa) dan dana terbatas.

Sebenarnya bisa saja saya membeli gendongan lokal. Akan tetapi, untuk menggendong newborn, gendongan lokal tersebut harus disupport infant insert. Padahal masukkin bayi saya ke infant insert lalu ke gendongan jadi pe er banget karena bisa-bisa bayi saya sudah nangis berlevel-level karena kelamaan nunggu digendong.

So, gimana review saya setelah memakai gendongan tersebut?

Jujur saja saya menyesal.

Tampilannya memang bagus dan nggak buruk-buruk amat. Tapi, saat dipakai, tali-talinya seret dan susah untuk diatur seorang diri. Saat sudah diatur sesuai keinginan kita pun, beberapa bagian untuk sisi kiri dan kanan tidak seimbang.

Tapi, alhamdulillah saya tetap bersyukur karena meskipun kw, erg0baby adapt ini ngebantu banget pas perjalanan naik pesawat bareng si bayi 2 bulan.

Nilai plus nya adalah murah dan simpel pas dipake, meski harus dibantuin pak suami pas nge-set nya.

Bayi saya pun alhamdulillah nyaman, meskipun pas awal dimasukkin rada uget-uget dulu karena mungkin ngerasa aneh.

Saran saya, nggak usah tergoda beli barang kw meskipun murah. Apalagi ini gendongan yang ada alternatif produk lokal berkualitas yang ramah di kantong pula.

Meskipun memang menggoda sih gendongan simpel model ransel alias ssc (soft structure carrier) untuk newborn yang murah meriah. Tapi, sekali lagi jangan tergoda!

Mengenai perbedaan dengan gendongan ssc normal, meskipun saya belum pernah mencobanya. Ada 3 pengaturan di erg0baby adapt yang berbeda sesuai peruntukkan usia. Pertama, pengaturan untuk menyesuaikan tinggi bayi. Kedua, pengaturan untuk menyesuaikan bagian paha dan pantat. Ketiga, pengaturan untuk menopang leher bayi. 

Nilai plus lain dari erg0baby adapt ini adalah bisa dipakai dari bayi newborn sampai toddler.

Menggendong newborn sebenarnya disarankan dengan jarik, ring sling, stretchy wrap, dan yang sejenisnya. Belum disarankan menggunakan ssc karena khawatir bayi 'mendelep' atau tenggelam di gendongan dan posisinya terlalu mengangkang yang akhirnya malah ngga membentuk m shape. Padahal menurut saya model ssc termasuk gendongan praktis yang tinggal set set udah siap dipake. Makanya pas muncul produk seperti ini bikin saya pengen punya. Kalau tidak salah di luar negeri pun gendongan ssc yang bisa dipake untuk newborn ini pun termasuk barang baru. Mungkin orang-orang masih aneh juga kali ya masukkin bayi yang masih mungil banget ke gendongan ssc.

Semoga bermanfaat.

Nb. Sekali lagi, pikir seribu kali sebelum memutuskan beli gendongan kw

Nb2. Sekarang sudah banyak banget loh gendongan lokal yang kualitasnya oke punya.



Selasa, 22 Agustus 2017

Pospak vs Clodi: Kegalauan Ibu #1


Jadi ibu itu ada-ada aja loh kegalauannya. Kali ini saya mau share soal pemakaian popok.

Sejak lahir, keluar rumah sakit, dan saat harus disinar karena bilirubin tinggi, bayi saya selalu memakai popok kain. Itu hal yang sangat lumrah alias sangat wajar di lingkungan keluarga saya. Malah saya diwanti-wanti agar nggak pakai diapers alias pospak (popok sekali pakai) a.k.a. pampers untuk si bayi.

Mengapa?

Kalau kata ibu dan bude, bulik saya, kasihan si bayi kalau kecil-kecil udah pakai pospak terus. Mungkin di mata mereka pospak ini kayak plastik yang dikemas cantik sedemikian rupa menjadi penadah bak dan bab bayi. Pokoknya say no lah to pospak kalo buat pemakaian sehari-hari.
Bayi saya pun baru saya pakaikan pospak usia 10 hari saat kontrol ke dokter, saat tidur di malam hari, dan saat bepergian. Selebihnya untuk sehari-hari si bayi pakai popok kain.

Bisa bayangkan seberapa banyak cucian si bayi dalam sehari?

Karena saya operasi sesar saat melahirkan, urusan cuci-mencuci popok dihandle ibu saya. Eng ing eng, tapi cuma untuk 3 hari! Besok-besoknya saya sendiri yang harus nyuci sambil nahan-nahan luka sesar yang alhamdulillah saat itu udah mengering meski masih sedikit sakit, tapi bearable kok.

Welcome to the jungle!

Di minggu-minggu awal, si bayi bisa menghasilkan puluhan cucian kotor berupa popok kain. Nggak cuma dalam bentuk bak, tapi juga bab!

Tempat jemuran bayi yang bentuknya lingkaran berisi 30 rangka tiap hari penuh dan nggak cuma 1 jemuran, saya punya 2 jemuran yang tiap hari berfungsi.

Rodi mencuci popok yang sangat banyak ini berlangsung kira-kira 1 bulan-an.

Bulan berikutnya meski masih banyak, tapi, nggak pake banget. Mendekati usia 2 bulan, bahkan saya nggak harus nyuci tiap hari, saya mencuci 2 hari sekali pun, masih ada persediaan pakaian.

Saat mendekati usia 2 bulan itu si bayi mulai berkurang bab dan bak nya. Karena mulai lebih besar juga, si bayi nggak lagi muat pakai popok kain aja, maka saya pakaikan celana pop yang dilapisi popok kain supaya nggak susah membersihkan kalau si bayi bab.

Eh, tapi, berkurangnya bab dan bak si bayi nggak malah bikin saya semangat loh! Malahan yang tadinya saya nyuci pakai tangan, pindah deh jadi nyuci pakai mesin, hahaha.

Nah, menjelang usia 3 bulan ini, saya lagi galau nih...

Dulu pas masih di rumah ortu saya masih punya waktu luang dan sisa tenaga buat nyuci popok-popok kain yang menggunung itu. Secara kalau di rumah ortu makan tinggal makan karena udah dimasakin. Aktivitas lain pun nggak nguras tenaga. Mandiin dan lain-lain ngurus si bayi bisa gantian sama ummi, abi, dan adik yang lagi libur kuliah. Nah, sekarang karena saya udah balik lagi ngikut suami, yang beliau kerja dari jam 7-17 kadang lebih. Demi maslahat bersama saya pun izin untuk mempensiunkan popok kain dan pindah ke pospak untuk sehari-hari.

Sebenarnya bisa aja sih saya masih pakai popok kain.

Masalahnya adalah saya ini orang yang gampang tertekan dan mudah khawatir.

Ini nih beberapa alasan saya nekad pindah ke pospak
1. Saya suka stres sendiri kalau lihat cucian menggunung
2. Waktu saya di malam hari untuk mencuci dipakai untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Kadang juga saya udah kelelahan karena seharian misalnya si bayi minta terus digendong
3. Saya suka kasihan juga sama si bayi kalau kebasahan dengan popok kainnya
4. Saya suka khawatir kena ompol si bayi yang najis dan saya jadi ribet sendiri kalau tiba waktu shalat

Intinya sih dengan memakai pospak, waktu dan energi saya bisa dialihkan untuk aktivitas lain yang lebih penting dan produktif. Saya pun nggak rempong sendiri mikirin cucian si bayi.

Si bayi pun alhamdulillah hepi-hepi aja. Paling cranky doang kalau saya nggak nyadar dia bab dan minta segera dibersihkan.

Nah, tapi, akhir-akhir ini, saya mulai kepikiran dan khawatir serangan ruam popok. Meskipun alhamdulillah sampai sekarang aman-aman aja. Semoga untuk seterusnya. Aamiin.

Dan saya juga kepikiran sampah pospak yang asli nyampah banget. Kan gini-gini juga saya kasihan sama bumi yang udah acak adut banget kondisinya.

Belum tahu nih, bakal balik lagi pake popok kain atau mempertimbangkan clodi?

Sampai sekarang sih lagi into clodi banget. Belum nyampe pakai sih, masih pengen aja.
Cuma lagi menimbang-nimbang, budget beli clodi di awal emang lumayan.

Segitu dulu lah berbagi kegalauan saya.

Semoga bermanfaat.

Senin, 14 Agustus 2017

Naik Pesawat dengan Bayi 2 Bulan!


Planning awal sebenarnya nggak mau naik pesawat bareng si bayi di usia sedini itu. Eh, tapi, apa daya, pak suami yang udah dibujuk-bujuk untuk menunda kepulangan ke Lampung nggak berkenan. Ya sudah...

Udah dari jauh-jauh hari deg-degan banget bakal bepergian bareng si bayi. Apalagi naik pesawat. Apalagi pesawatnya pake transit.

Nanya-nanya ke saudara dan teman yang udah lebih dulu debut naik pesawat bareng bayi usia segitu, pesannya adalah pilih jam terbang pas jam tidur bayi dan disusuin saat take off-landing.

Sempat konsul juga dengan dokter anak pas si bayi imunisasi. Kata beliau, amannya nunggu 3 bulan dulu, kalau mau maksa di bawah usia segitu, pastikan kondisi bayi fit, misalnya nggak lagi batuk pilek.

Beliau juga pesan, mendingan saat di ruang tunggu bayi diajak main, supaya nanti pas di pesawat dia tinggal capek dan tidur. 

Saya sebenarnya masih bingung sih apa yang bikin khawatir atau membahayakan saat mengajak bayi naik pesawat? 

Kesimpulan saya beberapa sebabnya adalah khawatir organ pendengarannya belum kuat menghadapi perbedaan tekanan saat naik pesawat dan khawatir bayi tidak tenang alias rewel karena suara bising mesin pesawat.

So, gimana dengan pengalaman saya?

Kita mulai dari memesan tiket.
Jauh-jauh hari, saya sudah pesan pada pak suami pilih maskapai yang anti delay. Pilihan kami jatuh ke dua maskapai, yaitu b4tik air dan 9aruda Indonesia. Setelah menghubungi customer care via email, untuk b4tik air penerbangan dengan infant di bawah usia 3 bulan harus membawa surat keterangan dokter yang masa berlakunya maksimal 3 hari. Beda dengan 9aruda yang tidak mengharuskan surat tersebut kecuali memang ada kondisi kesehatan yang butuh perhatian khusus.

Eh tapi, pas udah di te ka pe, surat keterangan dokter tersebut nggak ditanyakan sama sekali.
Kami akhirnya pergi dengan maskapai b4tik air karena harga tiket yang affordable, hehehe.

Waktu terbang yang kami pilih adalah pukul 3 sore. Waktu terbang Semarang-Jakarta sekitar 1 jam. Transit di soetta sekitar 3 jam dan lanjut lagi Jakarta-Lampung sekitar 30 menit.

Layanan maskapai ini alhamdulillah baik. Hanya yang sedikit mengecewakan adalah kami tidak mendapatkan front seat yang saya dan suami pikir akan diprioritaskan untuk penumpang yang membawa infant. Kami malah mendapat kursi tengah menjorok ke belakang.

Petugas maskapai ramah sekali menyambut kami yang membawa infant. Surat keterangan dokter tidak ditanyakan, tetapi kami diminta untuk menandatangani semacam surat pernyataan. Saya tidak tahu detail isinya, karena pak suami yang mengurus semuanya.

Lah kok malah kemana-mana ya tulisannya. Nggak sesuai judul sub bab. Hehehe.

Soal pesan tiket nggak ribet sama sekali kok. Kami pun baru pesan tiket H-2. Mungkin karena kami nggak ngoyo dapat front seat ya jadi nggak berasa ribet. Hohoho.

Lanjut lagi ya.

Apakah baby saya rewel selama penerbangan?
Saya sih menganggap rewelnya masih wajar. Sempat bikin panik, tapi, so far so good.

Lengkapnya begini.

Dari pukul 10 pagi, saya, si bayi, dan suami sudah siap dengan keberangkatan kami. Maklum perjalanan ke bandara ahmad yani cukup jauh dari rumah kami. Kami juga harus transit sebentar ke rumah eyang buyut untuk berpamitan.

Di sini lah drama dimulai.

Selama perjalanan dengan mobil si bayi anteng-anteng saja karena tidur. Eh, begitu bangun dan sampai di rumah eyang buyut, dia rewel dan baru diam setelah dimandikan.

Sampai di bandara ahmad yani si bayi lanjut tidur. Nggak lama kami menunggu di area luar ruang tunggu bandara ahmad yani.

Karena udara yang panas, kami memutuskan untuk masuk menunggu di dalam dan berpamitan dengan keluarga.

Si bayi pun masih anteng tidur, bahkan saat diganti posisi gendong, dari pake gendongan jarik ke gendongan ssc.

Kami menunggu hingga waktu penerbangan sekitar 1 jam.

Alhamdulillah si bayi nggak rewel atau pun terbangun saat masuk area pesawat-pesawat yang bising dengan suara mesin.

Di dalam pesawat pramugari memberikan sabuk pengaman untuk bayi, tapi, tidak saya gunakan, karena si bayi sudah nyaman di dalam gendongan ssc.

Sebelum take off, suami dan saya sibuk menyumpali telinga si bayi dengan bulatan kapas. Primitif ya? Sebabnya, kami nggak sempat berburu earmuff dan khawatir juga si bayi malah rewel saat dipasangi earmuff.

Saat take off alhamdulillah si bayi masih tidur lelap dan tidak saya susui karena khawatir malah bikin si bayi bangun dan jadi tidak tenang.

Baru lah di separuh perjalanan, si bayi uget-uget bangun, menangis sebentar, tapi tenang kembali saat disusui.

Saat landing pun alhamdulillah si bayi sudah kembali tidur.

Si bayi baru terbangun saat kami mengganti popok dan pakaiannya. Mungkin karena jet lag dan suhu ruangan di ruang ibu dan anak di terminal 1c bandara soetta yang sangat dingin, si bayi mulai rewel dan nangis sejadi-jadinya. Ada kali si bayi nangis sekitar 30 menit dan bikin orang-orang pada ngeliatin. Hahaha... 

Tenang pak, bu, ini asli bayi saya sendiri kok. Alhamdulillah, setelah itu si bayi kembali tidur.
Sampai saya tinggal makan, lalu saya kembali check in melanjutkan penerbangan, alhamdulillah si bayi masih nyenyak. Hanya bangun sekali sebelum naik pesawat menuju Lampung dan tenang kembali saat disusui.
Penerbangan kedua tidak jauh berbeda dengan penerbangan pertama.

Hanya karena terlalu lama muter-muter saat pesawat akan take off dari soetta, si bayi terbangun dan minta disusui. Nangisnya nggak seheboh saat di bandara sih. Tapi, lumayan bikin panik.

Saat landing pun alhamdulillah aman. Terbangun saat bayi-bayi lain nangis, tapi itu juga pas pesawat sudah di daratan lagi.

So far, penerbangan dengan si bayi nggak bikin trauma kok. Cuma masih deg-degan aja kalau keinget, hehehe.

Memang sih sebagai ibu kalau kata saya nggak bisa nolak serangan panik. Nah, yang penting adalah mengelola rasa panik itu. Stay cool aja kalau si bayi nangis dan kita jadi bahan tontonan. Kalau saya, tenangkan si bayi dengan disusui. Kalau dia belum mau tenang juga, ayun-ayun sedikit supaya dia nyaman. Nanti juga reda kok tangisannya.

Soal barang bawaan. Siapkan saja gendongan yang nyaman dan nursing cover. Kalau mau jaga-jaga bisa juga siapkan botol Asip. Pengalaman saya siap sedia Asip malah nggak terpakai karena si bayi ogah minum lewat dot.
Siapkan juga pakaian ganti bayi, sapu tangan, pospak, tisu basah dan kawan-kawannya. Saya juga menyiapkan pakaian atau minimal kerudung ganti, jaga-jaga kalau si bayi gumoh sampai ke pakaian kita. Tapi, alhamdulillah kemarin saya aman-aman aja.

Kalau penerbangan sampai malam hari atau khawatir ac terlalu dingin, siapkan selimut, kaus kaki, dan kaus tangan. Atau bisa juga pakaikan baju bayi yang langsung menutupi kaki dan tangan.

Yiey, alhamdulillah first flight with my 2 months baby girl accomplished! What's next?

Senin, 17 Juli 2017

Yang Sama


Masih inget perkataan seorang senior waktu di kampus dulu. "Kalo kita masih dapat ujian yang sama di masa depan itu artinya kita belum lulus ujian di masa lalu. Makanya Allah uji kita lagi."

Mirip-mirip sama yang diomongin sama atasan waktu di Annida dulu. "Kalau kita belum bisa ikhlas sama ujian dihadapan kita, harus siap kalau Allah kasih ujian dan masalah yang sama di masa mendatang."

Sebenarnya capek sendiri saat kita mendapatkan masalah atau ujian yang berulang. Bawaannya kesel sama diri sendiri karena kok gini lagi, gini lagi sih. Mungkin karena bawaan karakter kita tersandung masalah yang sama. Atau mungkin hati kita yang belum ikhlas, makanya aura kita menarik masalah yang sama.

Tapi, emang susah untuk ikhlas. Perlu banyak belajar dan berlatih.

Padahal kalau udah ngelakuinnya terasa ringan dan plong loh.

Ngejalanin masalah yang berulang itu juga jadi tenang. Cuma tetep aja sih berurai air mata. Zzz.