SOCIAL MEDIA

Sabtu, 10 Februari 2018

Kecewa

Kalau ngomongin kecewa, semua orang pasti pernah merasakannya. Betul? Kalau sampai ada orang yang enggak pernah merasa kecewa, saya ucapkan, masya Allah, tabarakallah! Hidup orang tersebut benar-benar dilimpahi dengan rasa syukur. Hatinya pun seluas samudra.

Kecewa menurut saya adalah hal yang manusiawi. Jadi, enggak perlu ngerasa terlalu sedih karena kamu tidak sendiri saat merasa kecewa. Tapi, juga jangan berlarut-larut merasa sedih karena kecewa. Masalahnya, kecewa yang berlarut-larut enggak ada gunanya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, diubah jadi nasi malah enggak enak.

Sebelum makin panjang, saya sebenarnya mau sharing tentang kecewa gara-gara sering enggak dapat give away.

Anak muda dan ibu-ibu zaman now, pasti tahu lah apa itu give away. Ini nih salah satu cara untuk dapat barang incaran, selain dibeliin suami atau lewat menabung.

Kebanyakan give away yang saya ikuti asalnya dari instagram. Merasa sangat beruntung kalau dapat give awaynya enggak perlu ngapa-ngapain selain klik ikon love. Klik. Udah gitu doang. Terus, tau-tau, dipilih acak, eh, dapat hadiah.

Kalau yang rada atas sedikit, klik tombol love, terus komen, atau ngetag temen yang lain. Ini sedikit mikir sih, siapa yang mau ditag atau kira-kira kalau ngetag si x atau si y, enggak keliatan norak-norak banget.

Nah, yang harus expert, kalau give awaynya mempersyaratkan foto atau caption yang bagus dan unik. Khusus yang ini harus mengeluarkan usaha yang lumayan alias berpikir cerdas.

Saya lumayan sering ikut give away yang saya sebut paling akhir itu.

Mikirnya lumayan banget loh supaya bagus dan ngena.

Tapi, sayangnya, belum pernah dapat give away hasil berpikir keras itu.

Pernah sih, dapat give away yang tinggal klik-klik doang. Tapi, enggak jadi dapat gara-gara lebih mahal ongkos kirimnya daripada hadiah give awaynya.

Karena sering enggak dapat give away itulah saya mulai berdamai dengan rasa kecewa.

Awal-awal sih kecewanya nyesek banget. Sampai pernah murung berhari-hari. Gimana enggak, soalnya mikirin foto sama captionnya juga berhari-hari dan pake riset loh. Udah enggak kalah sama ngerjain skripsi kan?

Tetapi, semakin ke sini, semakin berdamai dengan rasa kecewa gara-gara enggak kunjung dapat hadiah give away.

Meski begitu, lewat give away ini saya seperti dapat reminder untuk mengokohkan kembali konsep rezeki di otak.

Keren, kan, kita bisa belajar dan mengambil hikmah darimana saja.





#ODOPbatch5
#Onedayonepost

Bertukar Peran

Kadang di saat-saat tertentu, terutama saat lelah dan jenuh melanda berbarengan, sering merutuk nasib peran saya saat ini. 

Padahal sesungguhnya perasaan negatif seperti merutuk atau mengeluh jadi tambahan beban saat menjalani peran. Bukannya melegakan hati karena merutuk, yang ada malah makin terasa berat. Bukan berarti saya melarang orang untuk mengeluh lho.

Setelah merutuk, biasanya akan diikuti kalimat berandai-andai.

Salah satunya, yang sering saya andaikan adalah, 'Andai saya bekerja. Andai saya sibuk di kantor.'

Lalu, muncul lah ide untuk bertukar peran dengan suami saya.

Kalau sehari-hari saya berperan sebagai ibu sekaligus mengurus tugas domestik, sekali-kali saya ingin merasakan menjadi yang bekerja di luar rumah. Menghadap meja, membaca banyak data, mengurus berkas ini dan itu, meeting, bertemu klien, dan lain-lain.

Sementara itu yang ada di rumah melaksanakan tugas domestik. Mulai dari menyiapkan makan, persiapan mandi, menemani bermain, menjaga kalau saat main mulai mendekati hal-hal berbahaya, menidurkan, mencuci piring, baju, dan sebagainya.

Bagaimana?

Kalau saya pernah mendengar tausiyah ustadz Adi Hidayat, beliau pernah mencoba di rumah menjaga anaknya saja, lantas beliau mengatakan bahwa tugas ibu di rumah tidak mudah, sungguh sangat tidak mudah.

Saya bukannya menuntut sangat ingin bertukar peran atau membuat seolah-olah pekerjaan di kantor itu tidak ada artinya dibandingkan pekerjaan domestik. Hanya saja, saya ingin pengertian bahwa pekerjaan di rumah pun tidak mudah. Ibu-ibu yang di rumah itu bukannya santai-santai atau leha-leha loh.

Malah ada teman saya yang baru menikah lalu menjadi ibu di rumah setelah sebelumnya bekerja di suatu badan pemerintah, saat saya bertanya bagaimana rasanya menikah? Dia malah menjawab, "Kerjaan rumah itu enggak beres-beres, ya."

Gambarannya kayak gini, baru juga beres bikin sarapan, dilanjut mandiin anak, terus nemenin main, eh, mau rebahan sebentar, ngelirik jam, ternyata udah harus nyiapin makan siang. LOL banget kan?

Kalau yang enggak terbayang atau enggak biasa, mungkin menganggapnya enteng aja sih. Tapi, kalau udah nyobain?

Enggak apa-apa sih sekali-kali coba deh. Wahai bapak-bapak atau ibu-ibu yang bekerja, coba di akhir pekan, full ngurusin anak dan ngerjain pekerjaan domestik. Pasti besoknya pengen ngantor aja.

Makanya, saya sangat salut dengan ibu bekerja yang tanpa asisten rumah tangga, memasak sendiri, anak tetap diasuh sendiri kecuali saat jam kerja. Saya sangat ingin tahu manajemen waktu dan emosinya.

Sekian.



#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Kamis, 08 Februari 2018

When You Hear This and That Song

Pernah enggak ngerasain kalau lagu yang sedang kita dengar, berasa jadi our own personal soundtrack for some life event?

Kalau pernah, let's do the high five!

Sering banget soalnya ngerasa kayak gini. Padahal kenal sama composer lagunya aja enggak.

Entah emang saya yang lagi galau tingkat akut saat beberapa momen terjadi, lalu lagu yang saat itu sering saya dengar jadi terekam sangat lekat, atau?

Sebab yang lain mungkin ketika saya mendengar sebuah lagu yang melodinya ngena banget, lalu setelah saya telusuri, ternyata lirik lagu tersebut pas banget exactly seperti momen yang sedang saya alami.

Sebab yang lain lagi saya kurang kerjaan, terus ngedenger satu lagu sampai berpuluh-puluh kali. Sampai hafal melodi dan liriknya. Jadilah selalu teringat-ingat momen saat saya mendengar lagu tersebut terus-menerus.

Tulisan di atas saya maksudkan untuk semua genre lagu. Enggak cuma lagu sedih atau mellow saja ya.

Nah, iseng-iseng saya penasaran kenapa banyak orang-orang yang sedang sedih atau galau malah ngedengerin lagu-lagu yang nadanya menyayat hati alias lagu sedih.

Jawabannya?

Coba deh googling.

Kalau saya menyimpulkan, ngedenger lagu sedih saat kita sedih itu bikin kita makin sedih. Bahkan saking sedihnya sampai ngedengerin lagu pun bisa menitikkan air mata atau nangis kejer sekalian. Tapi, setelah itu? Ya udah, beres aja gitu sedihnya. Beres pas udahan ngedengerin lagunya. Akhirnya setelah itu bisa melanjutkan hidup. Meskipun mungkin masih sedih, tapi enggak banget-banget yang sampai bikin malas ngapa-ngapain.

Konklusi yang lain, ngedengerin lagu sedih terus tahu makna lirik lagunya, bikin kita berempati sama yang bikin lagu atau tokoh yang dimaksudkan dalam lagu itu. Emang ya, manusia. Senang kalau tahu dirinya enggak sendiri dalam suatu penderitaan. Rasa empati itu yang bikin kita melanjutkan hidup karena akhirnya sadar masalah kita sama seperti yang dimaksudkan di lagu yang kita dengarkan. Kita enggak sendiri. Bahkan mungkin kondisi kita lebih baik daripada yang diceritakan lagu itu.

Sekian.




Ps. Lagu yang lagi saya kangenin judulnya 'I can only give you love' salah satu soundtrack drama Korea yang hits banget di tahun 2015, Reply 1988.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Lelakiku

Suatu hari aku berkata kepadanya, "Jangan jadi seperti laki-laki kebanyakan."

Lalu ia meletakkan gawai di tangannya dan menyuapi anak bayi kami.

"Laki-laki kebanyakan itu mau enaknya saja." Lanjutku nyinyir. Begitulah laki-laki kebanyakan di pikiranku.

Saat sudah menikah, maunya tumpukan baju di lemari sudah rapi dan tidak kusut. Tidak betah melihat cucian baju kotor menumpuk.

Baguslah kalau melihat tumpukan itu lalu membantu mencucikan. Tetapi, kalau hanya berkomentar? Sungguh kasihan istrinya yang jadi tukang cuci di rumah.

Alhamdulillah, lelakiku kerap membantu mencuci baju.

Lalu urusan perut, maunya selalu ada menu masakan hangat tersaji.

Bahagia bila masakan dengan rasa apapun mendapat apresiasi, karena tidak semua perempuan tercipta dengan tangan ajaib untuk menyulap masakan lezat setiap hari.

Alhamdulillah, lelakiku selalu suka apapun yang aku masak dengan rasa bagaimana pun, kecuali kerang.

Saat pulang ke rumah, selalu berimaji rumah dalam keadaan rapi dan bersih. Lalu cemberut saat disambut rumah yang bak kapal pecah. Ah, padahal istrimu tak sempat beres-beres karena selalu standby menjadi teman main buah hatimu.

Alhamdulillah, lelakiku tak kagok dengan sapu dan alat pel. Meskipun bersih-bersih rumah hanya di akhir pekan.

Lelakiku sudah selesai menyuapi bayi kami lalu mencuci mulut, tangan, dan kakinya.

Aku melanjutkan kegiatan mencuci piring di dapur, sementara lelakiku bermain dengan anak bayi kami.

Sungguh indah bukan bila bahtera rumah tangga dikayuh oleh dua orang bersama beriringan?

Syukurku bukan berarti lelakiku tanpa cela.

Ia juga manusia, yang seringkali menyebalkan dan maunya menang sendiri.

Inilah tantangan hidup berumah tangga.

Sudah banyak yang menceritakan bukan?

Kehidupan rumah tangga itu warna-warni.

Kadang penuh warna, kadang juga kelabu.

Jadi, kalau ingin menikah karena melihat bahagia-bahagianya saja, maka siap sedia untuk terlara-lara.

Kalau takut menikah karena takut terlara-lara. Ah, mungkin hidupmu sebelum-sebelumnya seindah negeri dongeng, ya?

Cucian piring yang tadi menggunung tinggi sudah rapi di tempatnya.

Anak bayi kami mulai lelah dan ingin ditemani tidur.

Lelakiku melanjutkan menyantap makan malam yang tadi aku siapkan.

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)




#Onedayonepost
#ODOPbatch5


Selasa, 06 Februari 2018

A Girl Who Stole My Heart

[Alert 1]
Judul tulisannya mencontek judul tulisan mbak Dewina (@dewi.n.aisyah) di instagram dalam rangka milad putrinya, Najwa. Barakallah fii umriik kakak Najwa.

[Alert 2]
Banyak bahasa enggak baku yang enggak sesuai EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Mohon maklum karena edisi curhat.

~

Akhir-akhir ini entah mengapa setiap melihat wajah si bayi saat tidur, saya merasa berdebar-debar seperti orang kasmaran. Huek. Gombal banget ya. Tapi, begitulah adanya. Melihat si bayi itu rasanya sayang banget. Cinta banget.

Tetapi, berusaha untuk menjaga kebangetan itu. Karena biasanya yang banget-banget ini jadi ujian.

Sebab saya cinta banget, saya jadi terlalu khawatir dengan si bayi. Takut kalau si bayi begini, begitu, dan lain-lain.

Kalau cerita ke suami saya takut si bayi kenapa-kenapa, jadinya malah diceramahin. Suami baik sih maksudnya. Beliau mencegah saya yang terlalu khawatir ini supaya enggak salah langkah. Misalnya, terlalu mengekang atau membatasi si bayi karena saya takut ini dan itu.

Bahagianya punya bayi itu, meski capek nyuapin makan, bersihin pup, nemenin main, kalau sudah ngelihat wajah penuh tawa dan senyumnya, hilang deh segala-gala lelah itu.

Terus kalau si bayi nangis melulu, enggak mau anteng, kadang bikin kesel, terus kita enggak sengaja meluapkan emosi, eh, pas si bayi udah tidur, jadi nyesel tingkat akut karena udah emosian.

Jadi baper sendiri kalau ngeliatin si bayi udah tambah besar. Enggak nyangka bisa survive dari dulu si bayi masih mungil, yang kalau kita mau pegang aja hati-hati banget. Sekarang mah pengennya nguyel-nguyel.

Sehari-hari nemenin si bayi, kadang muncul bosen dan bete. Mohon dimaklumi, karena ibu ini sukanya main keluar. Begitu 24 jam harus di rumah, lumayan kaget dengan rutinitas yang begitu-begitu aja.

Kalau lagi enggak beres, kadang suka menyesal kenapa dulu memutuskan berhenti kerja kantoran. Terus pengen cari-cari kerjaan yang harus ke kantor lagi. Tapi, mengurungkan niat pas ngeliatin si bayi. Kok kayaknya enggak akan tega harus ninggalin si bayi sama pengasuh atau dititip ke daycare.

Mungkin kalau nantinya memutuskan akan kerja kantoran lagi, harus istikhoroh panjang dulu.

Tapi, from now on, sepertinya akan nemenin si bayi jumpalitan di rumah saja.

Berkaitan dengan judul tulisan juga. Mungkin yang punya bayi bisa merasakan deh. Jatuh cinta ke bayi dengan jatuh cinta ke ayah bayi itu beda banget.

Buat saya, jatuh cinta ke suami itu menimbulkan rasa semangat, sementara kalau jatuh cinta ke anak itu menghangatkan hati, bikin damai.

Maap-maap ya kalau rada enggak beres.

Yang jelas, love you fiddunya wal akhirah, my little girl.





#ODOPBATCH5
#onedayonepost

Senin, 05 Februari 2018

Foglia Onbuhimo: Review Gendongan Bayi

Pertama kali dengar brand foglia, saya pikir ini brand Eropa. Agak tidak menyangka kalau andalannya ternyata jarik-jarik tradisional yang elegan. Begitu juga dengan ring slingnya. Nama-nama varian ring slingnya eksotis dan 'nyastra' kalau kata saya. Seri ring sling foglia yang terdahulu diberi nama fajar, embun, senja, dan rinai. Gimana? Namanya saja sudah bikin penasaran dan menarik hati kan?



Tapi, mohon maaf, karena saya enggak bahas ring sling di tulisan ini.

Saya akan mengulas sedikit tentang produk foglia terbaru yang menurut saya hits.

Yep, onbuhimo.

Menurut saya, mengapa bisa jadi hits, karena foglia merilis onbuhimo di saat dunia pergendongan Indonesia sedang panas-panasnya demam onbuhimo. Onbuhimo foglia ini muncul untuk mengimbangi onbuhimo-onbuhimo impor yang juga nge-trend di kalangan ibu-ibu penggemar gendongan. 

Setahu saya, hanya tiga produsen lokal yang mengeluarkan onbuhimo. Nah, foglia ini menempati posisi kedua lah.

Saya akan bahas positive side dari onbuhimo foglia dulu.

Cantik. Ah, enggak usah ditanya deh. Sekilas ngelihat onbuhimo foglia ini pasti langsung tertarik dengan motif-motifnya. Kalau tidak salah ada ebony, rosy, dan browny. Ketiga-tiganya cantik dan menarik. Khas foglia. Mungkin itu pengaruh dari selera ownernya yang bagus dan klop dengan selera saya.

Sebenarnya, onbuhimo ini istilah dalam bahasa jepang untuk menyebut posisi gendong belakang. Tetapi, karena tujuan saya mengincar onbuhimo adalah untuk merasakan gendongan tanpa waistpad (waist belt), maka penggunaan onbuhimo ini sering saya posisikan sebagai gendongan depan layaknya ssc biasa. Kalau menurut BWC (Babywearing Consultant) mbak Afifah Mu'minah (@afifahmmnh) istilahnya jadi berubah menjadi dakkohimo. Insya Allah tetap aman kok meski jadi dakkohimo.

Beberapa minggu awal menggunakan onbuhimo foglia saya merasa tidak nyaman. Selain karena besi pengancing yang ada di chest strap (penjelasan bagian-bagian onbuhimo ada di gambar), shoulder pad yang tipis juga menyakiti pundak saya saat menggendong, baik untuk posisi gendong depan maupun belakang. Tetapi, lama kelamaan, saya mulai terbiasa dengan rasa sakit itu. Tetap pegal sih, cuma saya nyaman saja dengan tidak adanya waistpad yang biasanya terasa menekan di daerah perut dan pinggul.

Saat mencoba gendong belakang pun sebenarnya nyaman. Cuma mungkin karena saya belum jago dan perlu banyak latihan, saya tidak bisa memposisikan anak saya setinggi mungkin saat menggendong belakang. Jatuhnya sama seperti saat memakai ssc biasa, karena posisi anak mentok di punggung saya.

Keluhan lain yang saya rasakan adalah soal hoodie. Entah kenapa desain pengait hoodie onbuhimo foglia ini membingungkan. Apalagi karena saya menjadikan onbuhimo ini sebagai dakkohimo. Makin-makin bikin bingung. Akhirnya, supaya tetap berfungsi, saat memakai hoodie saya mengikatkan tali pengait hoodie ke leher saya. Sepertinya itu cara yang salah besar.

Overall, kalau bagian pengatur chest strap yaitu kancing besinya diganti, serta shoulder padnya dibuat lebih tebal, onbuhimo foglia ini sangat worth it dengan harga hampir setengah juta rupiah.

Menurut saya pribadi, untuk rate saat ini cukup di 7/10.

FYI, saya mencoba onbuhimo foglia ini menyewa di akun IG @reyhan_shop_ kepunyaan mbak Ria dari Brebes. Sewa per bulan 100 ribu dengan deposit 350 ribu. Ownernya sangat informatif dan baik hati. Silakan yang tertarik bisa langsung cek ke instagramnya.

Buat ibu-ibu yang tertarik mencoba gendongan jenis onbuhimo, baik dari foglia maupun merek lainnya, syarat pemakaiannya adalah saat bayi sudah bisa duduk sendiri. Mengapa? Tentu saja supaya aman, ya, bu. 







Credit image:
@foglia.indo



#ODOPBATCH5
#Review
#onedayonepost
#tantangan3

Senja dalam Ingatan

Baru hari kedua di rumah, tapi rasanya Kinar sudah benar-benar mati gaya. Ini salah satu alasannya mengapa Kinar lebih suka ikut kepanitiaan di kampus saat libur semester daripada pulang ke rumah.

Aduh, Kinar, pulang ke rumah itu saatnya berbakti pada orangtua. Ia teringat kata-kata seniornya di kampus.

Kinar bukannya tidak berbakti, tapi orangtuanya yang sibuk bekerja hanya ada di rumah setelah maghrib dan sudah pergi lagi begitu selesai sholat subuh. Kinar cuma bisa berbakti dengan caranya. Menyiapkan camilan kesukaan orangtuanya atau memanaskan kendaraan sebelum dibawa pergi.

Enggak bantu bersih-bersih rumah? Soal side job itu sudah ada bibi yang membereskan.

Kinar tersenyum saat membaca pesan teks di gawainya. Beberapa menit kemudian ia sudah pergi dari rumah dengan motor zaman sekolahnya dulu.

Motor yang sekarang membawanya ke tempat yang sama, sekolah lamanya.

Pengirim pesan ke gawainya tadi, teman sekelas dan teman akrabnya saat di SMA. Arini nama temannya itu. Ia punya ide cemerlang untuk mengajak Kinar mengunjungi sekolah lamanya.

Mereka berjanji bertemu di depan gerbang sekolah. Sebenarnya, Kinar agak khawatir mereka tidak bisa masuk, karena seingatnya sekolah Kinar punya security yang lumayan ketat mengawasi siapa saja yang bisa keluar masuk ke sekolah.

Motor Kinar berhenti di dekat gerobak siomay yang jadi jajanan favoritnya sejak dulu. Ah, masih ada aja si abang siomay ini. Batin Kinar.

Mata Kinar mencari-cari Arini di sekitar gerbang sekolah, tapi yang dicari itu belum nampak. Tapi, tidak lama, dari arah belakang Kinar mendengar suara klakson motor yang agak memekakkan telinga.

"Kinar!" Suara Arini girang sekali saat melihatnya.

Kinar cuma membalas tersenyum hangat.

Selanjutnya tidak butuh waktu lama untuk Kinar bisa masuk ke dalam area sekolah. Dengan sedikit basa basi dan haha hihi Kinar bisa masuk dengan santai. Siapa lagi yang berjasa kalau bukan Arini?

Mulai dari satpam, guru-guru, hingga pedagang di kantin kenal dengan teman Kinar yang satu ini. Tapi, Kinar tidak sesupel Arini saat SMA dulu.

"Gue mau ketemu sama bu Erma nih, Kin. Lo mau ikut nggak?" Arini menyebut nama guru Biologi yang juga guru konseling sekolah mereka.

"Enggak deh, gue tunggu di sini aja ya." Jawab Kinar.

"Beneran?" Arini bertanya memastikan.

Kinar mengangguk mantap.

Arini pun akhirnya pergi ke gedung sekolah, sementara Kinar memilih duduk di bangku panjang dekat pos satpam.

Ini bukan bangku biasa.

Dulu Kinar senang berlama-lama di sini. Dari sini Kinar bisa melihat gedung sekolah, tiang bendera upacara, lapangan basket, bak pasir untuk lompat jauh saat jam olahraga, masjid Ahlil Jannah, laboratorium komputer di gedung baru. Ah, pokoknya semuanya terlihat.

Bangku ini pun menyimpan kisah sedih dan bahagia.

Sedih karena Kinar sering harus menunggu jemputan yang sangat lama. Duduk di bangku ini sendiri, dari mulai masih banyak teman-temannya yang sama-sama menunggu jemputan, hingga tinggal Kinar seorang diri sampai sekolah sudah sepi.

Bahagia karena bangku ini bermanfaat sekali saat jam olahraga. Kinar jadi tidak harus berlesehan di tanah lapangan, tapi bisa duduk di bangku ini. Meskipun, teman-temannya sering mengatainya sok bersih.

Ah, Kinar rindu dengan masa-masa SMA itu.

Waktu satu jam tidak terasa menjemukan bagi Kinar duduk di bangku panjang. Dirinya bisa berpuas-puas mengambil foto, melihat siswa-siswi yang berlalu lalang, dan sesekali mengobrol dengan orang lain yang juga duduk bersebelahan dengannya.

Arini kembali beberapa menit kemudian.

"Kin, jajan di kantin, yuk?" Ajak Arini.

Kinar menatap Arini heran.

"Emang boleh?"

Arini tersenyum jahil.

"Boleh. Udah ikut gue aja." Jawab Arini lalu menarik tangan Kinar.

~

Senja hari Kinar baru keluar dari area sekolahnya. Perasaannya campur aduk. Bahagia, tapi haru.

Sekolahnya belum berubah banyak. Guru-guru yang dulu mengajar Kinar masih awet, hanya mereka terlihat menua. Adik-adik kelasnya terlihat seperti dirinya dan teman-temannya dulu. Kantin, kelas-kelas, lapangan basket belakang, ruangan-ruangan ekskul semua masih sama.

Lalu apa yang berubah?

Entahlah. Mungkin yang berubah pikiran-pikiran manusia yang menghuni sekolahnya.

Kinar melewati tanah lapang di dekat gerbang kompleks rumahnya. Ada banyak anak kecil yang bermain layang-layang. Ah, permainan masa kecil yang tidak pernah dikuasainya. Dulu, daripada bermain yang ia tidak bisa, Kinar lebih memilih duduk-duduk dan memandangi teman-temannya. Mungkin Kinar memang pengamat sejati.

Sebuah layang-layang terbang ke arah utara, ke arah bangunan bersejarah lain untuk Kinar. Gedung sekolah dasarnya.

Mungkin besok ia tidak lagi harus merasakan mati gaya di rumah.

~

End



#TantanganKe-2 #TantanganODOP #onedayonepost #odopbatch5


Sabtu, 03 Februari 2018

Merantau Dulu dan Sekarang

Rasanya merantau itu bukan barang baru dalam hidup saya. Sejak masuk usia 17 tahun, saya merantau ke kota lain dan berpisah dengan segala fasilitas di rumah.

Tetapi, rasanya merantau yang saat ini lebih berat hingga kadang nelangsa.

Apa penyebabnya?

Saya teringat saat kelas 12, saya begitu ingin kuliah di luar kota. Bahkan saat itu saya bertekad kuat, mau kuliah dimana saja yang penting bukan di kota kelahiran.

Sepertinya, saat itu saya sedang muak dan jenuh dengan kondisi di rumah. Galau ala anak abege. Mohon dimaklumi.

Alhamdulillah, saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Bisa kuliah di luar kota dan merantau hampir 6 tahun lamanya.

Ah, mungkin karena keinginan merantau saat itu benar-benar murni keinginan saya.

Kalau sekarang, saya merantau 100% karena mengikuti suami yang bekerja. >.<

Dulu saat masih kuliah, bahkan saya sering lupa rasanya kangen dengan keluarga. Alibinya padat dengan jadwal kuliah dan kegiatan kampus. Saya sih memandangnya, kuliah itu momen kita benar-benar asyik dengan dunia kita sendiri, hingga kadang kita lupa dengan dunia orang-orang di sekitar kita. Misalnya, keluarga.

Bukan saya saja yang seperti itu. Adik-adik saya pun seperti itu. H-1 pernikahan saya saja, salah satu adik saya masih sibuk di kost dan enggak muncul sama sekali di rumah karena ada kegiatan himpunan. Awalnya saya sempat kesal. Lalu teringat, saya pun dulu juga seperti itu.

Kesibukan membuat saya lupa kalau saya jauh dari orang-orang terkasih.

Lalu, saat kuliah saya dikelilingi teman-teman baru rasa keluarga. Mereka membuat saya lupa arti kesepian. Karena dari awal menginjakkan kaki di kampus, banyak sekali wajah baru untuk dikenal.

Sedangkan sekarang, saya seperti tidak menemukan teman yang klop dan bersahabat. Mungkin sayanya juga yang kurang ikhtiar mencari teman, karena di dalam rumah saja, jarang nongkrong.

Ah, tapi, enggak juga. Di tempat perantauan ini paling minimal seminggu  sekali, saya keluar rumah. Tapi, sayang, saya enggak menemukan teman seusia atau teman yang klop pembicaraannya.


Semoga ini bukan jadi keluh kesah yang negatif.

Mengetahui penyebab mengapa saya merasa merana di perantauan yang sekarang, semoga mendorong saya untuk mencari solusi yang tepat sasaran.


#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Ngomongin Taat

Suatu hari di suatu grup Whatsapp ada seseorang yang ngeposting tulisan kontroversial yang menyinggung petinggi orang-orang yang ada di grup Whatsapp tersebut.

Maaf ya, kalau openingnya terlalu majemuk dan panjang bikin bingung.

Pokoknya, gitu lah intinya.

Oleh anggota-anggota yang lain, si yang ngeposting itu cuma ditanggapin begini,

"Sudah, ya, tulisan tersebut enggak usah dibahas lagi. Pekerjaan kita masih banyak. Masalah seperti itu intinya kita taat saja."

Saya yang jadi anggota grup tersebut langsung ngerasa pening.

Aduh, duh, gini banget ya, cara mematikan kekritisan orang.

Memang sih, pekerjaan (amanah) kita banyak, tapi bukan berarti kita jadi malas berpikir dan mengkritisi kan?

Taat yang sesuai al qur'an dan sunnah memang harus. Tetapi, bukan berarti kita dilarang untuk bertanya kan?

Rasanya pengen ngebalas begitu di grup. Tetapi, apa daya. Saya mah cuma level junior. Kelas kroco yang mungkin enggak berpengaruh suaranya.

Hahaha, muncul deh inferior complexnya.

Ini nih penyakitnya kalau kita hidup di dunia yang katanya udah merdeka, tapi rasanya ada kasta yang tidak kasat mata.

Sama yang lebih tua harus nunduk-nunduk, sama yang lebih pintar harus manut, sama yang lebih sholeh harus ngikut.

Duh.

Eh, bukannya kita lantas bisa bersikap kurang ajar loh. Sama sekali bukan itu yang saya maksudkan.

Hanya saja, lha mbok ya budaya bertanya atau mengkritisi itu jangan dibumihanguskan. Toh, orang yang bertanya atau mau mengkritisi itu tujuannya bukan menjatuhkan. Melainkan, mungkin saja mereka benar-benar butuh penjelasan dan pemahaman. Pengetahuan yang mentok di kepala mereka membuat sekeliling terasa gelap. Lha kalau yang model begini dibiarkan, terus malah dikatain 'Kerja aja terus. Enggak usah banyak nanya.' Bukannya malah berabe? Kerja sih bisa, tapi kalau gelap kan malah nabrak-nabrak?



Kalau kata saya sih, coba dibuka ruang untuk berdialog. Apa salahnya ya? Toh kalau nanti sudah dapat jawaban, bukannya jadi kebaikan karena memberikan pencerahan untuk orang lain? Kalau yang bertanya masih ngotot atau makin ngelunjak, ya, ini perlunya rem.

Saya jadi teringat cerita pak suami tentang pak FH. Kata suami, beliau pernah bilang, kalau dirinya (FH) senang ketika ada yang bertanya atau mencecar beliau, karena itu membuat beliau terus berpikir dan otaknya menjadi sehat.

Nah, kan?

Pada mau enggak ya otaknya sehat? Atau udah pada malas menanggapi dan bereaksi karena terlalu lelah?


#Onedayonepost
#ODOPbatch5

The Nest Baby Wrap: Review Gendongan Pouch

Salah satu jenis gendongan yang dulu sama sekali tidak saya lirik adalah gendongan jenis pouch. Buat saya pouch sling kalah pamor dengan ssc (soft structure carrier) atau ring sling.

Kenapa?

Pertama, pouch baru bisa dipakai sejak bayi usia minimal 4 bulan atau saat sudah bisa duduk sendiri. Jelas saat awal-awal ada si bayi enggak memungkinkan, makanya saya sama sekali enggak tertarik.

Kedua, pouch ini ada sizenya, jadi kalau akan membeli jenis gendongan ini harus tahu ukuran yang pas untuk tubuh kita. Masalahnya ukuran ini bukan berdasarkan tinggi atau berat badan, tetapi harus mengukur menyilang dari bahu ke pinggang. Mengukurnya saja rada ribet. Makin-makin lah saya tidak tertarik.

Tetapi, saat usia bayi saya sekitar 4 bulan dan alhamdulillah sudah bisa duduk sendiri, ternyata saya sangat butuh gendongan yang super simpel.

Teringatlah saya dengan pouch sling ini.

Kenapa akhirnya saya memilih the nest?

Banyak sebenarnya merek gendongan model pouch ini. FYI, pouch ini beda dengan geos yang hits itu. Bahan pouch sling tidak molor atau melar.

Sedari awal, saya suka dengan motif-motif the nest. Berkelas, tapi tidak kehilangan unsur kelokalan. Jadi terlihatnya cantik dan elegan.

Lalu, pouch the nest di volume 2 seperti yang saya punyai ini ada tambahan bantalan atau pad di bagian paha. Favorit saya deh. Jadi, kalau gendong si bayi pas pakai celana pendek enggak khawatir kulitnya memerah karena tergesek kain gendongan.

Setelah lumayan lama memakai the nest, saya juga merasa kainnya amat sangat adem. Cocok deh dengan udara di rumah yang panas.

Meski begitu, ada sedikit yang kurang pas dari pouch the nest ini.

Rentang size yang terlalu besar.

Saya sadar sih, kalau saya ini ibu bertubuh mungil. Kalau mengira-ngira, saya yakin size pouch yang cocok adalah size paling kecil. Setelah diukur pun memang benar saya harus pilih size paling kecil. Tetapi, sayang size paling kecil the nest masih sangat kebesaran untuk saya. Meskipun sudah diflip di bagian bahu pun tetap kebesaran dan tidak memenuhi prinsip TICKS (menggendong harus erat dan mudah untuk mencium kening bayi).

Alhamdulillah, saya bisa ngobrol dengan salah satu member Lampung Menggendong yang juga menggunakan pouch the nest dan kebesaran juga. Akhirnya untuk menyiasati, saya jahit bagian bahu agar bisa lebih pas.

Saat konsultasi dengan admin the nest baby wrap, mereka menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab apabila ada kerusakan atau ketidaknyamanan atau akibat lain, bila konsumen mengubah bentuk gendongan.

Ya, sudahlah. Bismillah. Akhirnya pouchnya tetap saya jahit supaya memenuhi prinsip TICKS.

Setau saya memang banyak yang mengeluhkan size paling kecil the nest yang masih terlalu besar. Semoga seri pouch the nest berikutnya sudah menyediakan size dibawah size S yang paling kecil.

Jujur saja, sekarang ini pouch the nest ini jadi gendongan favorit di rumah. Meskipun tumpuannya hanya di satu bahu, tapi praktisnya itu lho bikin bahagia.  Maklum, kalau di rumah butuh gendongan yang istilahnya 'tinggal lhep'. Ini terpenuhi banget sama pouch sling. Karena tinggal pasang gendongan, masukkan bayi, rapikan sedikit, done.

Beda dengan ssc yang harus ribet sedikit dengan straps dan bucklenya. Atau ring sling yang harus mengatur kain gendongan yang dimasukkan ring, lalu membuat kantung agar bayi tetap di posisi c-shape dan j-shape, dan bab bikin kantung ini masih jadi pr banget buat saya.

(Tentang c-shape, j-shape, serta TICKS bisa dilihat di infografis).

Overall rate pouch the nest baby wrap ini 8.5/10.

Salam gendong!






Ps. Di usia bayi saya yang ketujuh bulan, jahitan buatan saya lepas, karena si bayi semakin besar dan malah jadi sesak. Setelah jahitan dilepas, dengan diflip bagian atas gendongan, sudah memenuhi prinsip TICKS.



~

Credit image:
Gendongangeek.com
Rumaharsa.com
Makgendong.wordpress.com

~

#Onedayonepost
#ODOPbatch5