Selasa, 06 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (2)

Pergi untuk menghilangkan jejak. Satu hal yang harus dilakukan Ammar adalah menuju tempat yang tidak pernah ia datangi semasa ia hidup. Tapi, ia harus tahu benar tempat tujuannya itu.

Hujan semakin deras, tubuh Ammar yang hanya tertutupi jaket mulai menggigil.

Langkah kakinya masih mantap, tidak tampak seperti orang kebingungan sama sekali.

Ia teringat, satu tempat yang pernah diceritakan teman karibnya saat di kampus. Tempat yang dikunjungi temannya itu saat kabur dari rumah.

Ammar tidak harus berputar arah, karena rasanya tempat itu beberapa kilometer dari tempatnya berada.

Langkah kaki Ammar yang panjang sangat membantu untuk mencapai tempat tujuan lebih cepat. Tempat yang sangat nyaman di hari hujan seperti ini.

Bangunan berupa pondokan kayu. Saat Ammar masuk nuansa yang disajikan benar-benar kuno. Aroma khas kayu tua menusuk hidungnya.

Tempat ini lumayan ramai, tapi tidak penuh sesak.

Jujur saja Ammar haus. Teringat lagi komunikatornya yang hancur, Ammar merasa tak berdaya. Bisa beli apa dirinya tanpa komunikator itu.

Ammar akhirnya hanya duduk di depan konter minuman berkursi tinggi, yang paling dekat dengan perapian.

Bahkan televisi di sini pun masih berbentuk gambar analog. Sesuatu yang tidak dilihatnya selama bertahun-tahun lalu.

Musik yang diperdengarkan pun bagi Ammar sendu dan sangat aneh.

Ammar mencari-cari. Nampaknya berita tentang ledakan yang ia yakini ditujukan untuknya itu tidak akan sampai ke sini.

Ammar menghembuskan napas sedikit lega.

"Kabur dari rumah, nak?" Bapak tua yang ada di balik konter memberika segelas minuman hangat ke depan Ammar.

Eh? Apa wajahku sebegitu mudanya?

Ammar teringat olok-olok saudara-saudaranya tentang dirinya yang selalu gagal menumbuhkan cambang maupun janggut.

"Terima kasih banyak," ucap Ammar sungguh-sungguh.

Di tengah-tengah kekacauan negeri ini Ammar masih menemukan kebaikan yang bersemai, bahkan di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.

Ammar menyeruput minuman hangat itu dan sedikit bergidik. Hangatnya minuman itu mengagetkan tubuhnya yang tadi menggigil.

"Berapa usiamu?" Bapak tua tadi bertanya, membuka obrolan.

Ammar terdiam, berhitung sebentar.

"Delapan belas," jawab Ammar cepat.

"Ah, seusia anakku,"

Ammar merespon memasang wajah kaget tertarik.

"Kalau dia masih hidup,"

Jawaban bapak itu ringan saja.

Ammar menyeruput minumannya lagi sambil mengangguk kecil. Tidak hendak menanggapi perkataan bapak itu. Jujur saja merespon orang yang sedang berduka adalah hal yang sulit.

Sayangnya, orangtua kehilangan anaknya. Orang mati di usia muda. Rasanya bukan hal aneh di zaman ini.

Uhuk!

Ammar tersedak.

Sekelebatan wajah yang tidak asing membuat Ammar kaget. Wajah yang ia kenal dan sangat diingatnya.

~ Bersambung ~



#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung


Reactions:

7 komentar:

  1. Duh penasaran nih, amar ketemu siapa ya??lanjut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... siapa hayo ๐Ÿ˜†๐Ÿคฃ

      Hapus
  2. T_T
    Ditunggu kelanjutannya Umm ^_^
    Semangat nyerbung...
    Semangat lulus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangaaat mbak Nia ๐Ÿ˜

      Hapus