SOCIAL MEDIA

Senin, 14 Oktober 2013

Days 2 ; Going to campus for the first time



Kami pergi ke kampus sekitar pukul 9 pagi. Dua orang teman kami dari NLU menjemput kami di gerbang kampus. Perjalanan dari rumah ke depan gerbang kampus menghabiskan waktu sekitar 15-20 menit. Sepanjang perjalanan menuju kampus, masyarakat sekitar siapapun itu memandangi kami dengan heran. Ya, pasti karena pakaian dan penampilan kami yang tidak biasa buat mereka. Saya sangat tidak nyaman karena hal itu. Orang-orang yang memandangi kami bukan hanya pejalan kaki, bahkan pengendara sepeda, motor, mobil, bus, dan truk.

Kami sedikit terlambat dari janji pertemuan dengan 2 orang teman kami yang sepertinya datang lebih awal. Ya, kebiasaan terlambat belum hilang sepenuhnya dari kami berlima. Meskipun pertemuan ini bukan pertemuan formal seperti perkuliahan.

Dua teman kami memberikan ucapan selamat datang di kampus dengan mengatakan bahwa kami harus siap untuk berjalan jauh disekitar kampus dan setelah kami melaluinya, itu memang jauh, jalan dari gerbang depan kampus hingga fakultas tempat kami belajar.

Lagi-lagi sepanjang kampus, mahasiswa-mahasiswa di NLU memandangi kami dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Kesan yang kami tangkap dari kampus NLU adalah tidak jauh beda dari IPB. Even, no offense, IPB much much better dari segi kebersihan. 
NLU nampaknya masih dalam proses pembangunan. Bangunan fakultas teknologi pangan yang kami datangi pun, terlihat sangat tua. Meskipun beberapa ruangan yang kami masuki sudah terlihat modernitasnya, karena dilengkapi peralatan canggih dan ada AC sebagai pendingin ruangan. Mirip dengan ITP IPB.
Kami menunggu dosen yang akan menjadi penanggungjawab kami selama belajar di NLU. Namun ternyata dosen tersebut sedang amat sibuk sehingga tidak dapat menemui kami dan pukul 11 kami direncanakan untuk bertemu dengan dekan fakultas.
Akhirnya, kami berjalan berkeliling kampus. Kami melihat kelas yang akan ditempati mahasiswa advanced program (kami termasuk didalamnya), laboratorium, perpustakaan, dan menuju asrama yang ditempati teman kami.
Lagi-lagi bangunan yang kami lihat terlihat kuno meskipun ada beberapa bangunan baru yang memang baru diselesaikan proses pembangunannya.
Asrama yang kami lihat ditempati oleh 6 orang dalam 1 kamar, ada sekitar 300-an mahasiswa dalam 1 gedung, NLU menyediakan 3 gedung untuk mahasiswa wanita dan 2 gedung untuk mahasiswa pria. Dari luar gedung kami bisa melihat jemuran digantung di luar kamar. Sudah terlihat penuhnya memang. Di salah satu gedung kami melihat mahasiswa-mahasiswa yang sibuk membuat lampion. Ternyata beberapa hari lagi Vietnam akan merayakan Mid Autumn Festival. Perayaannya dilakukan saat full moon dan anak-anak akan keluar rumah membawa lampion-lampion yang mahasiswa-mahasiswa itu buat
Kami menyapa mereka sejenak lalu melanjutkan perjalanan lagi menuju luar asrama untuk mencari tempat fotokopi sebelum kembali ke fakultas.
Kami sempat membeli jajanan di sepanjang jalan asrama, rasanya mirip rambut nenek yang dijual di Bogor namun ditambah kelapa yang disuir panjang-panjang, manis dan legit. Harganya 3000 VND.

Pukul 11 lebih sedikit kami tiba lagi di fakultas, namun dekan yang kami ingin temui belum hadir. Kami pikir hal tersebut karena kami sedikit terlambat, teman kami yang bernama Pi menjawab bahwa hal tersebut tidak benar, bagi dekan mereka menunggu merupakan suatu kebahagiaan. Ha? Saya sedikit tidak mengerti soal ini.

Dekan baru bisa kami temui sekitar pukul 11 lebih. Beliau terlihat sangat ramah dan sangat dekat dengan mahasiswanya. Beliau beberapa kali berbicara dengan bahasa Vietnam dengan Pi dan Ling, dan itu terlihat seperti ayah sedang mengobrol dengan anaknya saja. Saya sedikit terkejut dengan kedekatan mereka.
Kami membicarakan masalah yang kami hadapi soal tempat tinggal dengan beliau, dan nampaknya beliau tidak terlalu khawatir soal itu. Beliau hanya mengatakan bahwa Dr. Lam An akan membantu kami menyelesaikan masalah itu. Jadi, kami tidak perlu khawatir.
Hal lain yang juga kami bicarakan adalah mengenai perkuliahan yang kami ambil. Beliau merekomendasikan beberapa mata kuliah lain untuk kami ambil selain yang sudah kami putuskan di Indonesia.
Tidak lama kami mengobrol dengan beliau, setelah itu kami mendapat kabar bahwa Dr. Lam An baru bisa kami temui pukul 4.30 pm. Kami menghabiskan waktu sampai waktu perjanjian dengan berkeliling kampus lagi.

Pukul 4.30 pm kami betemu dengan Dr. An. Beliau dosen perempuan yang terlihat modis dan gaya, usianya mungkin sekitar 30an tahun. Kami membicarakan masalah mengenai tempat tinggal, sama seperti respon yang diberikan bapak Dekan, beliau tenang saja dan meminta kami tidak usah khawatir. Kami membicarakan mengenai jadwal kuliah kami karena pada file yang kami dapat, jadwalnya sedikit membingungkan akibat memakai kode-kode angka yang belum pernah kami dapati sebelumnya.
Hasil dari pembicaraan tersebut, kami akan kuliah Food Toxicology dengan dosen tamu dari Australia kalau tidak salah dari hari senin hingga jum’at pukul 8-12 mulai pertengahan Desember hingga 30 Desember 2013. Kuliah tersebut memang dilaksanakan intensif selama 2 minggu dan perkuliahan yang lain ditiadakan. Lalu, kami kuliah Technology and Processing of Fruits and Vegetables pada hari senin pukul 8-12 dan kuliah Processing Technology of Tea, Coffee, and Cocoa pada hari selasa pukul 8-12.
Kami sedikit tarik ulur untuk mengambil kuliah Seminar pada hari kami pukul 2 siang, karena beberapa dari kami berpikir bahwa seminar akan lebih nyaman bila diambil di IPB.
Kami belum mengambil keputusan saat itu dan Dr.An mempersilakan kami untuk berdiskusi apakah kami akan mengambil kelas Seminar atau tidak. Meskipun, saya menangkap bahwa Dr. An berharap kami mengikuti kelas ini dan beliau juga sudah memberikan saran dari awal, apabila kami mengambil kelas ini, kami sebaiknya berpisah kelompok dan berbaur dengan teman sekelas yang lain, karena mata kuliah ini akan banyak sekali aktivitas kerja kelompoknya. Apabila kami tidak mengambil kelas ini juga, Dr. An mengharapkan kami datang pada jadwal presentasi sekedar untuk melihat teman-teman NLU kami presentasi dan bertanya satu dua hal. Kami mengiyakan saja.

Kami pulang dengan menumpang mobil Dr.An yang akan menuju distrik 9, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan. Mobil Dr.An yang cukup kecil membuat kami harus berdesakan didalam mobil. Ya, tapi, itu jauh lebih baik daripada harus berjalan jauh dibawah tatapan banyak orang.

~o~

Kamis, 03 Oktober 2013

Day 1 ; Starting the day


Segala puji bagi Allah swt yang masih memberikan kesempatan kepada kami untuk pada akhirnya berangkat ke Vietnam. Saya dan teman-teman saya ( Ghita, Qori, Doni, dan Norman) melaksanakan program AIMS (ASEAN International Mobility Student)  yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) pada Pogram Kerja sama Luar Negeri, program ini akan membiayai studi kami berlima dan akomodasi selama kurang lebih 5 bulan dari September 2013 hingga Januari 2014 di advanced program Food Technology Nong Lam University (NLU).

Perjalanan kami dimulai dengan keberangkatan dari Bandara Soekarno Hatta penerbangan pukul 08.20 WIB dengan maskapai Lion Air. Awalnya yang kami tahu adalah kami akan melaksanakan 1 penerbangan saja yakni dari Jakarta langsung ke Ho Chi Minh city, ternyata kami akan transit di bandara Changi Singapura.

Kami cukup khawatir dengan free bagasi yang diberikan Lion Air yang hanya 20 kg. Karena kami membawa banyak makanan halal yang kami pikir tidak akan kami temui di Vietnam, berat koper kami cukup mengkhawatirkan. Saat kami melaksanakan penimbangan koper, kami mendapat informasi bahwa untuk tambahan bagasi menuju Saigon (nama lama Ho Chi Minh city) per kg sebesar 80000 IDR. Setelah ditimbang berat koper teman-teman wanita nyaris mencapai 20 kg, koper saya mencapai 21,4 kg namun akhirnya saya bongkar lagi dan memindahkannya ke koper teman laki-laki yang berat kopernya hanya 15-an kg. Akhirnya kami tidak perlu menambah biaya untuk bagasi karena berat koper yang lebih, bisa kami bongkar dan dipindahmuatkan ke koper teman yang lain.

Kami sempat berlari-lari menuju pemeriksaan boarding pass karena kami berjalan terlalu santai. Pihak kampus kami yang mengurus tiket penerbangan juga menelepon kami karena mendapat laporan bahwa dekat dengan waktu keberangkatan kami belum juga cek in ke pesawat.
Terengah-engah kami sampai di pesawat dan pesawat ekonomi menuju Singapura itu penuh dengan pekerja serta wisatawan.

Perjalanan menuju Changi berlangsung sekitar 1 jam 30 menit. Setelah itu kami turun dari pesawat dan melakukan cek in kembali di bandara Changi. Saya hampir meninggalkan tas kecil saya saat pemeriksaan pertama. Mungkin saya terlalu jetlag.
Pemeriksaan kedua saya cukup kaget karena baru terdeteksi gunting yang ada di tas laptop saya. Akhirnya saya meninggalkan jejak di Changi karena gunting saya. Herannya diantara kami berlima, hanya gunting saya yang lewat saja pemeriksaan di Soetta. Dua teman lain yang juga membawa gunting sudah meninggalkan gunting mereka di pemeriksaan tanah air.

Ternyata kami menaiki pesawat yang sama dari Changi menuju Tan Son Nhat di Ho Chi Minh city. Hanya penumpangnya saja yang berbeda.
Mulailah kami mendengar bahasa-bahasa asing di telinga. Belum terbiasa mendengar orang Vietnam saling bercakap-cakap.
Cukup ramai suasana di pesawat. Karena sepertinya penduduk Vietnam yang menaiki pesawat yang sama dengan saya saling mengenal karena mereka terlihat saling mengobrol satu sama lain meskipun berjauhan tempat duduk.

Perut saya cukup lapar saat berada di pesawat karena sedari pagi belum sempat makan apapun. Akhirnya saya membeli air mineral dan beberapa snack di pesawat. Kita bisa membayar dengan uang rupiah maupun dolar. Saya membayar dengan rupiah, harga per item yang dijual adalah 10000 IDR.

Penerbangan ke Ho Chi Minh city menghabiskan waktu kira-kira 1 jam 55 menit. Sekitar pukul 13 pesawat kami mendarat di bandara Tan Son Nhat. Saat kami mengantri turun dari pesawat, kami sempat mengucapkan terima kasih kepada pramugara yang bertugas dan dia balik mengucapkan selamat belajar kepada kami.
Ah, sungguh sederhana, tapi, sangat senang mendengarnya.

Kami melewati imigrasi di Tan Son Nhat dengan lancar lalu menukar uang di tempat penukaran uang di bandara. 100 USD kami tukar menjadi 2080000 VND. Setelah kami keluar dari bandara, ternyata sudah banyak teman-teman NLU yang menjemput. Ada sekitar 6 orang yang menjemput. Mereka sebenarnya mahasiswa angkatan 2011, mereka pergi menjemput kami karena mahasiswa angkatan 2010 yang akan menjadi teman belajar kami sedang ada kuliah.

Kami berfoto sebentar lalu pergi menuju distrik tempat kami tinggal. Kesan yang pertama saya dapat tentang Vietnam adalah lalu lintasnya yang luar biasa ramai dan kurang teratur, karena tidak semua mematuhi lampu lalu lintas yang menyala. Kendaraan yang melaju juga bisa menuju ke segala arah.
Kondisi lingkungan dan penduduknya saya rasa tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.
Kami mengobrol dengan teman-teman NLU sepanjang perjalanan. Tentang banyak hal, namun kami tertarik sekali untuk belajar bahasa Vietnam sehari-hari terutama untuk hal mendasar seperti, hai, terima kasih, dan maaf.
Perjalanan dari bandara Tan Son Nhat menuju tempat tinggal kami dengan bermobil menghabiskan waktu sekitar 30 menit.
Kami sampai di rumah yang terdiri dari 3 tingkat. Rumahnya kental dengan suasana penganut Budha, karena kami menemui banyak patung dan dupa.
Kami beristirahat tidak lama lalu pergi menuju supermarket bernama Coop mart Xtra plus untuk membeli makan dan bahan-bahan untuk dimasak.

Kami menaiki bus nomor 104 dari bus station di depan NLU. Kami membayar 6000 VND. Mahasiswa NLU yang membawa kartu mahasiswanya hanya perlu membayar 2000 VND. Perjalanan hanya sekitar 10 menit, kami sampai di Coop mart dan menuju salah satu food court untuk makan.
Menu spaghetti seafood yang saya pilih harganya 70000 VND dan teman saya yang memilih menu nasi dan omelet membayar 28000 VND.
Kami berbelanja di Coop mart sekitar 2 jam. Produk-produk yang dijual di Vietnam ternyata tidak berbeda dengan yang dijual di Indonesia. Hanya beberapa merek saja yang diganti.
Harganya juga tidak jauh berbeda.
Kami pulang dengan bus bernomor sama dan 2 orang teman dari NLU mengantar kami hingga di depan rumah dan ternyata teman NLU angkatan 2010 sudah menunggu kami.
Kami mengobrol dengan teman-teman NLU angkatan 2010 lalu teman NLU kami yang juga pemilik rumah meminta paspor kami untuk keperluan lapor kepada kepolisian setempat.
Setelah teman-teman kami pulang, kami berisitirahat sejenak. Lalu teman kami yang juga pemilik rumah datang dan membawa berita yang kurang menyenangkan.

Ternyata polisi setempat tidak menghendaki kami tinggal di lingkungan sekitar karena visa yang kami bawa adalah visa pelajar. Mereka menghendaki kami tinggal di asrama kampus. Namun, hal tersebut tidak dapat kami lakukan karena asrama tidak direkomendasikan menjadi tempat tinggal kami selama 4 bulan ke depan. Ada beberapa alasan dan yang terbesar adalah karena di asrama kami tidak mengizinkan kami memasak sendiri padahal kami tidak juga bisa membeli makanan di sekitar kampus karena faktor kehalalan. 

Berita tersebut cukup menjadi ucapan selamat datang yang dahsyat. Saya tetap bisa tidur sebagai waktu istirahat saya, namun saya tidur dengan rasa was was karena masalah tersebut.

-to be continued-

Jumat, 13 September 2013

High fly


When I’ve a dream, it’s always the same dream,
I’m getting used to it
When it’s the right answer, I believed it and live
Just like watching re-runs on TV
Like recorded tape
Everything is resembled one color

*(Why why) why do I always want the same answer?
(Why why) why do you keep telling me to live the same life

**High high fly up high; high high look around the world
The thing that I saw
It’s not the entire world
High high, jump high and run; high high, run to the world
What I’ve spent,
That time, It’s just one point in the long life

A car is square, 
The banana is yellow
Always in the same view
Every men wear pants,
Women wear skirts,
Doing it all the time, according to the formula,

Back to * and **

What’s the rush,
What is so hard?
According to the set schedule, everyone lives

I wanna fly fly, let’s fly freely; fly fly, fly powerfully
What you’ve been hiding
Your very own dreams, try to open them up
Fly fly, let’s fly above the sky; fly fly, let’s fly higher
Don’t whisper it
Let’s shout out our dreams.

Back to **

-end-    

Ini lagu yang dinyanyiin sama 'lovely' Kang Min Hyuk sama 'burning' Lee Jong Hyun nya CN Blue. OST film mereka sih, judulnya Acoustic, tapi, belum nonton, hehe. Keren deh lagunya :D eh, mereka berduanya juga keren sih ^_^

 


Image credits : wowkeren.com, cnblueaustralia.wordpress.com

Selasa, 03 September 2013

Episode di rumah

Bismillah.

Segala puji bagi Allah swt. ramadhan tahun ini dari awal sampai akhir di rumah terus. Meskipun 2 minggu di rumah, dihabiskan suksesnya dengan sakit. Minggu 1 kaki luka gara2 kecerobohan gak bisa jaga diri. Minggu 2 radang dan batuk. Ya, masih diberi kesempatan buat menggugurkan dosa. Namun, feeling better ramadhan tahun ini. Semoga masih bisa ketemu lagi tahun depan ya :) aamiin.

Di rumah, kerjaannya begitu2 aja. Ngerjain kewajiban dan sunnah di bulan ramadhan, nonton si dul anak sekolahan (film jadul itu...), de el el de el el. Orang rumah lagi pada sibuk sendiri2. Abi umi jelas kerja. Amali sibuk ngurusin buat masuk kuliah. Addib sibuk sekolah, les, buka bersama temen2nya.Heran, 2 adekku ini, punya hobi buka bersama temen2nya..hehe. mungkin dulu aku juga gitu kali, ya, tapi, rasanya aku lupa.
Ikhlas sekolah juga, kadang main bareng aku, tapi, lebih banyak main game dan main bareng bang toyyib (ini nama kucing yang ada di rumah).  Adik2 udah pada besar semua, jadi, punya dunianya masing2.
O ya, soal si bang toyyib, ampun deh, itu kucing kayaknya lebih disayang daripada aku kalo di rumah. Si adek pernah aku tanya, lebih sayang aku ato bang toyyib, ikhlas sama addib kompak jawab bang toyyib. Meskipun si addib sebelum ngejawab ngelihat aneh dulu ke aku dan menyiratkan kalo pertanyaanku adalah pertanyaan yang aneh. Aku gak nanya ke amali karena calon mahasiswa itu, jutek abis kalo diajak ngobrol aneh2 sama aku.
Keluargaku pada suka sama kucing, termasuk abi umi. Umi cuma gak suka kalo bang toyyib mulai bergerilya di dapur. Aku doang sih yang nggak suka sama bang toyyib di rumah. Maaf ye...

Terus baru minggu2 akhir sih bisa main2 dan keluar rumah.
Seperti biasa, ke gramedia pandanaran, napak tilas tongkrongan jaman SMA dulu. Hehe. Tapi, sayang, gak bisa main bareng temen2 SMA. Soalnya mereka pada sibuk KKP, KKN, dan semacamnya lah. Baru pada balik deket2 hari raya dan itu aku udah dikunjungi dan berkunjung ke saudara2 dan gak diizinin buat main bareng temen2. Secara keseluruhan umi sering sih gak ngizinin buat pergi2 sendiri, ato kalo dibolehin juga, ditanya macem2. Ampun deh...Katanya beliau khawatir karena aku ini kan kecil (maksudnya ukuran badanku yang cuma 150cm ini). Ya lah, terserah. Sama saudara2 juga sering dikata2in gara2 aku gak terlalu tinggi.

Tapi, sempet sih buka bersama bareng temen MI.
Hua...itu nostalgia banget banget banget. Udah banyak temen2 yg berubah, drastis!

yg dateng segini doang, tapi, temen2 ini yg paling akrab waktu MI dulu

Terus kita ngobrolin kebiasaan jaman2 dulu. Mulai dari agenda jalan2nya, jajanan di depan sekolah, kebiasaan2 jaman MI. Seru banget, seneng...Meskipun rada canggung juga ngobrol sama temen2 cowoknya. Hehe.


ini sahabat karibku, dari MI, MTs, SMA kita satu sekolah terus

Terus pas hari raya idul fitri.
Semuanya udah berangkat duluan ke rumah nenek kecuali aku sama addib. Gara2 kesiangan dan gak ngeburu, akhirnya kami berdua sholat idul fitri di masjid deket rumah tapi gak deket juga sih...(biasanya sholat bareng di masjid assyifa deket rs. kariadi ato di masjid deket rumah nenek) Wua...itu lama banget dzikir sama pake tahlilan dulu. Terus di akhir2nya, semua warganya pada bersalam2an. Akhirnya kami berdua berhasil ngabur. Sampe rumah nenek udah pada berkeliling ke saudara2 yang tinggal dekat dengan rumah nenek. 
aku, adik2, sepupu2. ki-ka : ikhlas, (duduk) aku, jundy, amali, addib, (jongkok) mas oji, mas fathin, kurang 1 lagi sebenernya. di rumah nenek.

Ya udah, sekeluarga besar muter2, halal bi halal dan pasti kalo pas aku bersalaman dengan mereka, ditanya udah semester berapa dan bla bla bla, terus kalo aku jawab mau semester 7, mereka membalas, " Oh, sebentar lagi lulus ya, semoga cepat dapat pekerjaan, ya... " dengan berbagai bahasa, kadang bahasa jawa, kadang bahasa indonesia. Ya...aku senyumin aja, Hehe. Padahal aku juga masih belum membuat kepastian dengan diriku bakal lanjut langsung kerja atau berpetualang dulu ke belahan bumi yang lain, hehe. Apapun itu, do'a2 kebaikan mereka aku aamiin-kan saja.

ini saat halal bi halal, lagi antre buat sungkem sama tetua2. yg muda2 diurutin sesuai urutan ketuaan dalam silsilah keluarga besar.

Beres idul fitri sempat ikut aksi kemanusiaan untuk rakyat mesir. Amazed karena panasnya kota semarang. Tapi, ya, mungkin segitu doang, ga ada apa2nya sama panasnya api neraka, ato panasnya luka karena tembakan yang dirasain demonstran di mesir sana.
Sempat ngerasa lucu waktu salah satu ustadz berorasi dan mendoakan polisi2 yang berjaga di sekitar dan polisi2 itu ikutan bertakbir.

Terus balik ke bogor lagi. Kalo biasanya naik bus, sekarang naik kereta. Gak berniat kena macet di jalan. Umi rada rempong. Karena kan harus pindah ke kereta commuter line buat mencapai bogor dan bawaanku...ckckck...koper segede apaan tauk, isinya oleh2 buat weet (panggilan tanteku) gara2 beliau gak pulang hari raya ini, kayaknya sekecamatan kasih oleh2 buat dia.

Perjalanan di kereta ya, gitu aja. Ngeliat-liat pemandangan diluar kereta. Smsan sama temen2 buat nanya ini itu. Browsing. Karena udah lama banget baru naik kereta lagi rada bingung buat turun di stasiun mananya. Karena di gambir gak ada kereta yang ke bogor langsung. Akhirnya turun di stasiun jatinegara dan bersyukur ketemu temen sekelas yang bisa dibarengin buat ke bogor :)

Sekian. Gitu doang sih di rumahnya. Baru bisa pulang lagi entah kapan :)

Minggu, 01 September 2013

Episode tertampar


Bismillah.

Hari ini aku dibuat tertampar (seperti tersebut dalam judul) oleh banyak hal, atau tepatnya banyak orang.
 
Seorang ayah yang berjuang di tingkat elit, ternyata rela berpanas-panas dan berteriak-teriak juga di tingkat perjuangan paling dasar. Aku merasa berdosa karena pernah berpikir untuk memilih-milih.

Seorang ibu yang di tengah teriknya panas matahari, tetap sanggup berjalan jauh dan tersenyum kepada orang2 dengan bayi digendongan yang membuat pundaknya kesemutan dan tetap menyuarakan suara-suara kebaikan (insya Allah). Aku merasa berdosa sekali lagi karena aku masih banyak menghela nafas tanda hampir menyerah.

Seorang kakak yang tetap ceria dan tidak tampak kelelahan sama sekali menyusuri jalanan beraspal di siang terik yang pasti bikin kaki panasnya ampun-ampunan, namun dia terus dan terus mengejar target-target kebaikan dan aku tahu, beban hidupnya tidak jauh lebih ringan dariku. Lagi-lagi aku merasa berdosa karena masih sering mengeluarkan kalimat keluhan dari mulutku.

Dan...seorang bayi, di tengah kondisi yang tidak nyaman itu, tetap tertawa-tawa dan terlihat lucu di gendongan ibunya. Ya, itu menghibur. Sementara aku, mungkin masih sering membuat orang2 disekitarku ikut tertekan dan tidak nyaman, karena sesuatu yang mungkin aku anggap sebagai penderitaan.

Dan...bersyukur karena masih ada teman yang mengingatkanku untuk nggak boleh kalah dengan mereka. Karena ini kompetisi kebaikan. 


  
Dan...aku merasa masih muda, masih punya pikiran yang sehat, masih punya energi yang bisa di-recharge, dan masih punya anggota tubuh yang bisa diajak bekerja :) Dan...Allah swt, jika masih memberi kelonggaran waktu untuk tidak menghadapNya dalam waktu dekat, masih memberi kesempatan untuk memperbaiki dan membayar kesalahanku. Hope so :D Dan jika tidak...aku hanya bisa memohon ampun padaNya.

Image credits: m.dakwatuna.com