SOCIAL MEDIA

Sabtu, 10 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (5)



"Selanjutnya bagaimana?"

Sayup-sayup Ammar mendengar suara orang bercakap-cakap. Bersamaan dengan suara langkah kaki bolak-balik.

"Kita tidak bisa kembali dalam kondisi seperti ini."

"Lalu kita harus kemana?"

"Kalau kita kembali ke markas kita akan membahayakan yang lain-lain."

Diam.

Markas? Tidak.

Betul katanya. Pembawa pesan yang terlacak tidak boleh kembali ke markas.

Ammar merasakan perih dan panas di sekujur tubuhnya. Entah bagaimana kondisi wajah, tangan, dan kakinya.

"Hasyim masih dalam perjalanan ke markas. Sampai kita mendapatkan kabar kalau chip itu sudah sampai dengan selamat, kita harus tetap bersembunyi."

"Lalu bagaimana dengan dua anak ini?"

Dua?

"Kita tunggu mereka sadar."

"Kapan?"

"Tunggu saja."

"Lalu bagaimana dengan mayat yang satu lagi."

Mayat?

Ammar ngeri. Siapa yang mereka maksud?

Ammar sangat ingin membuka mata, tapi sungguh berat. Mata maupun kepalanya.

"Aku tak mengenali anak ini."

"Dia adik Hasyim. Baru bergabung beberapa bulan lalu setelah lulus universitas."

"Bukan. Dia yang satu lagi."

"Ah. Aku pun tak tahu. Tapi, ku rasa dia anak salah satu profesor."

"Profesor teman dekat ketua?"

"Ah, dia yang berhasil mengelabui komunikator itu?"

Ammar mendengar suara gumaman mengiyakan.

"Lima belas menit lagi kita harus berpindah."

"Baiklah."

Ammar tak tahu apakah dalam lima belas menit ia akan tersadar kembali atau tidak.

Kegelapan begitu erat memeluknya. Hingga perlahan ia merasakan kesadarannya menghilang lagi.

"Aku mau hidup kita normal, brother." Kata Ammar setengah berteriak.

"Tidak ada lagi hidup normal di dunia ini, kau tahu?" Suara yang sangat dirindukannya itu tenang, tapi mantap.

Ammar tak berani membalas.

"Pemerintah semakin zalim dan menjadi-jadi. Kau sudah tahu itu."

Ammar sangat tahu kemana arah pembicaraan ini. Hisyam, kakak keduanya ini pasti akan kembali berceramah tentang al Muharar, yang dicap sebagai kelompok pemberontak oleh pemerintah, tapi sesungguhnya menjadi kelompok oposisi yang selalu menentang kesewenang-wenangan rezim saat ini.

Hisyam sudah menjadi anggotanya sejak dia lulus sekolah menengah. Hasyim, kakak ketiganya juga baru-baru ini bergabung.

Anggota al Muharar harus hidup dalam persembunyian. Identitas mereka sebagai warga negara dibekukan.

Akan tetapi, tidak untuk mereka yang dijuluki sang pembawa pesan. Mereka adalah agen ganda yang tetap berkehidupan sosial layaknya warga negara biasa sekaligus menjadi informan dan pelaksana misi al Muharar. Hisyam, menjadi salah satu pengajar di kampusnya dan seorang konsultan. Tetapi, kesibukannya di malam hari sebagai anggota al Muharar lebih menyita perhatian daripada kehidupan normalnya.

"Aku sudah menebak kau pasti akan merekrutku." Ammar menggerutu.

Hisyam perlahan mendekatinya.

"Tentu saja, adikku. Kau adalah aset terbaik yang dimiliki umat ini."

Hisyam mendekatinya lalu memberikan sebuah chip.

"Coba pecahkan kode file dalam chip ini."

Ammar mengangkat alis.

"Ini rahasia yang akan menghapus keraguanmu untuk bergabung dengan al Muharar."

Hisyam beranjak dari duduknya.

"Dan membuatmu berani untuk melawan rezim."

Kegeraman pada rezim sudah menjadi rahasia umum. Tapi, orang-orang hanya geram. Tidak banyak yang berani melakukan perlawanan, karena setiap gerakan oposisi yang muncul, langsung dimusnahkan. Atau yang terang-terangan masih menunjukkan penentangan, dibuat menderita. Siapa yang mau?

Perlahan-lahan Ammar merasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhnya lagi. Sekarang ditambah dengan sesak di dada karena ia kembali teringat Hisyam.

"Cepat angkat dia!"

"Kita sudah hampir terkepung."

Ammar mendengar sayup-sayup suara derap langkah. Bersamaan dengan itu tubuhnya diangkat paksa seperti karung beras.

Suara derungan halus air car muncul diikuti lesatan sinar penembak.

Air car kembali meliuk-liuk di udara.

~Bersambung~


#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Jumat, 09 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (4)

Kalau dalam sepuluh menit dua orang di dalam air car ini tidak memberikan penjelasan, aku akan melompat turun.

Tak lama setelah Ammar membatin kata-kata tersebut, Yuriko terdengar menghela napas panjang.

"Kau tak ingin bertanya apa-apa padaku?"

Ammar melirik keheranan pada gadis di sampingnya.

Banyak.

Terutama ini, kenapa kau hidup kembali?

Yuriko yang dikenal Ammar, dulu di kampus adalah seorang Lavinia. Ia gadis terberani yang diketahui Ammar dan berita terakhir yang terdengar adalah dia tewas saat sedang melakukan pengabdian ke daerah pelosok.

Ammar bukannya mengenal Lavinia secara dekat. Malah sebaliknya, Ammar hanya sekilas saja pernah melihat Lavinia di kampus, itu pun karena Lavinia dekat dengan sahabat Ammar.

"Jadi, kau ini Yuriko atau Lavinia?" Tanya Ammar.

Yuriko tertawa.

Tiba-tiba air car yang mereka naiki tertarik ke daratan.

"Apa-apaan ini?" Yuriko setengah berteriak.

Allah!

Ammar merasakan darah mengalir di pelipisnya. Guncangan yang cukup dahsyat membuat kepalanya terbentur kabin langit-langit air car.

"Eiji!" Yuriko terdengar panik melihat pengemudi air car yang tidak sadarkan diri.

Ammar melihat sekitar. Mereka terkepung.

Ada kira-kira setengah lusin police air car di udara dan banyak petugas di daratan mengelilingi mereka dengan moncong senjata yang siaga.

Sepertinya air car mereka, dilumpuhkan entah bagaimana caranya. Guncangan yang kelewat dahsyat membuat Eiji pingsan, atau mungkin mati? Ammar tidak bisa mengecek.

Beberapa petugas bersenjata mendekat.

"Salah satu dari kita berdua harus lolos." Yuriko mendesis nyaris tak terdengar di tengah kekacauan ini.

Apa?

Ammar berusaha tenang saat petugas menggelandangnya keluar dari air car.

"Ammar Avicena Haq, Yuriko Lavinia Martin, Eiji Caesar Martin, kalian ditangkap atas tuduhan berkomplot dengan kelompok pemberontak dan menyebabkan kekacauan publik." Salah satu petugas memberikan pengumuman lewat pengeras.

Ammar merasakan gelombang panas membelit pergelangan tangannya.

Mereka bertiga digelandang ke masing-masing police air car yang berbeda.

Ammar memutar otak. Teringat perkataan Yuriko tadi.

Ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan dibawa ke benteng fortress* di pusat kota.

Saat air car mulai melaju, Ammar terus berzikir. Matanya memandang sekitar.

Tak berapa lama, Ammar mencoba melumpuhkan salah satu petugas dengan mengangkat kakinya.

"Jangan main-main anak muda!"

Argh!

Pergelangan tangan Ammar seperti terbakar. Aliran listrik menyengat dari alat yang dipasang seperti borgol.

Blar!

Duar!

Ammar merasakan untuk kedua kalinya, air car jatuh ke daratan. Sebelum akhirnya semua gelap.

~Bersambung~

*benteng fortress benteng-benteng semacam rumah tahanan di masa itu



#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

Kamis, 08 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (3)

Sekelebatan wajah itu muncul di salah satu meja pengunjung. Bukan sebagai pengunjung seperti dirinya, melainkan sebagai pramusaji.

Ammar terpaku di kursinya. Hendak bangkit, tapi seperti tertahan.

"Mmm, apa dia salah satu pegawai di sini?" Ammar akhirnya bertanya pada bapak tua penjaga meja konter.

Ammar menunjuk ke arah tujuannya dengan sedikit mengangkat dagu agar tidak terlalu mencurigakan.

Bapak itu kemudian tersenyum.

"Ah, Yuriko?"

Ammar mengangguk saja. Meskipun wajah yang terlihat disana sama sekali berbeda dengan nama yang diketahuinya.

"Apa kau teman lamanya? Mau aku panggilkan jika kalian ingin mengobrol lama?"

Ammar sontak menggeleng.

"Tidak, pak, tidak perlu." Katanya menolak.

"Hm," hanya itu respon dari bapak tua.

"Yuriko memang sering bertemu teman lamanya di tempat ini," Bapak tua itu memberikan penjelasan.

Apa? Teman lama yang mana?

Belum selesai Ammar memikirkan kebingungannya, pintu kedai menjeblak terbuka.

Berbondong-bondong satu kompi pasukan masuk ke dalam rumah kayu. Ammar terkesiap.

"Apa ada pintu belakang di sini?" Tanya Ammar.

Bapak tua itu mengangguk lalu melirik untuk menunjukkan. Ia tampak sangat meyakinkan akan membantu Ammar.

Ammar bergegas, menjaga langkahnya agar tidak menarik perhatian.

Satu kompi pasukan itu menyebar teratur. Tidak merusak ruangan, tapi jelas mencari seseorang.

Ammar.

Tidak aneh kalau dirinya bisa terlacak secepat ini.

Ammar menyusuri lorong kayu sempit dengan jalan agak landai.

"Cepat!" Satu wajah yang tadi sangat membuatnya penasaran sudah ada di ujung jalan tempat keluar lorong ini.

Yuriko!

Ammar berlari. Suara gemuruh langkah-langkah kaki di belakangnya membuatnya bergidik ngeri.

Bagaimana kalau ia tertangkap?

Wajah Yuriko yang kini ada di hadapannya tenang dan meyakinkan.

"Ayo!" Katanya lalu membuka pintu air car yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.

Pengemudinya seorang anak muda yang mirip sekali dengan Yuriko.

Ammar bingung sejenak, tapi kemudian tubuhnya hilang bersama air car yang melesat cepat.

Air car yang ditumpangi Ammar masuk ke dalam hutan. Pengemudi air car ini sungguh sangat terlatih. Meliuk-liuk di tengah hutan, tapi rasanya ranting-ranting pohon pinus yang tinggi tidak tersentuh sama sekali.

Kebingungan Ammar belum selesai. Tapi, ia hanya bisa terdiam.

Yuriko yang baru diketahuinya, terlalu sibuk dengan komunikatornya. Sesekali ia memberikan instruksi pada pengemudi di depannya.

Mereka ini siapa? Kenapa begitu mudahnya aku mempercayainya?

Air car semakin melaju kencang, menghindari para pengejarnya di belakang, menembus hutan yang berkabut tipis-tipis.

~Bersambung~




#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Selasa, 06 Maret 2018

Sang Pembawa Pesan (2)

Pergi untuk menghilangkan jejak. Satu hal yang harus dilakukan Ammar adalah menuju tempat yang tidak pernah ia datangi semasa ia hidup. Tapi, ia harus tahu benar tempat tujuannya itu.

Hujan semakin deras, tubuh Ammar yang hanya tertutupi jaket mulai menggigil.

Langkah kakinya masih mantap, tidak tampak seperti orang kebingungan sama sekali.

Ia teringat, satu tempat yang pernah diceritakan teman karibnya saat di kampus. Tempat yang dikunjungi temannya itu saat kabur dari rumah.

Ammar tidak harus berputar arah, karena rasanya tempat itu beberapa kilometer dari tempatnya berada.

Langkah kaki Ammar yang panjang sangat membantu untuk mencapai tempat tujuan lebih cepat. Tempat yang sangat nyaman di hari hujan seperti ini.

Bangunan berupa pondokan kayu. Saat Ammar masuk nuansa yang disajikan benar-benar kuno. Aroma khas kayu tua menusuk hidungnya.

Tempat ini lumayan ramai, tapi tidak penuh sesak.

Jujur saja Ammar haus. Teringat lagi komunikatornya yang hancur, Ammar merasa tak berdaya. Bisa beli apa dirinya tanpa komunikator itu.

Ammar akhirnya hanya duduk di depan konter minuman berkursi tinggi, yang paling dekat dengan perapian.

Bahkan televisi di sini pun masih berbentuk gambar analog. Sesuatu yang tidak dilihatnya selama bertahun-tahun lalu.

Musik yang diperdengarkan pun bagi Ammar sendu dan sangat aneh.

Ammar mencari-cari. Nampaknya berita tentang ledakan yang ia yakini ditujukan untuknya itu tidak akan sampai ke sini.

Ammar menghembuskan napas sedikit lega.

"Kabur dari rumah, nak?" Bapak tua yang ada di balik konter memberika segelas minuman hangat ke depan Ammar.

Eh? Apa wajahku sebegitu mudanya?

Ammar teringat olok-olok saudara-saudaranya tentang dirinya yang selalu gagal menumbuhkan cambang maupun janggut.

"Terima kasih banyak," ucap Ammar sungguh-sungguh.

Di tengah-tengah kekacauan negeri ini Ammar masih menemukan kebaikan yang bersemai, bahkan di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.

Ammar menyeruput minuman hangat itu dan sedikit bergidik. Hangatnya minuman itu mengagetkan tubuhnya yang tadi menggigil.

"Berapa usiamu?" Bapak tua tadi bertanya, membuka obrolan.

Ammar terdiam, berhitung sebentar.

"Delapan belas," jawab Ammar cepat.

"Ah, seusia anakku,"

Ammar merespon memasang wajah kaget tertarik.

"Kalau dia masih hidup,"

Jawaban bapak itu ringan saja.

Ammar menyeruput minumannya lagi sambil mengangguk kecil. Tidak hendak menanggapi perkataan bapak itu. Jujur saja merespon orang yang sedang berduka adalah hal yang sulit.

Sayangnya, orangtua kehilangan anaknya. Orang mati di usia muda. Rasanya bukan hal aneh di zaman ini.

Uhuk!

Ammar tersedak.

Sekelebatan wajah yang tidak asing membuat Ammar kaget. Wajah yang ia kenal dan sangat diingatnya.

~ Bersambung ~




#odopbatch5
#onedayonepost
#tantangancerbung

Sang Pembawa Pesan (1)

Duar!

Satu ledakan membuat Ammar memalingkan wajah ke belakang. Detak jantungnya memburu.

Duar!

Duar!

Dua ledakan berturut-turut. Ammar mempercepat langkahnya. Air car* yang ia parkir lenyap dalam kobaran api.

Layar komunikator milik Ammar tiba-tiba menyala.

"Kau ada dimana?" Suara diseberang tegang.

Ammar buru-buru mengganti mode komunikatornya ke mode suara.

"Lokasi ledakan barusan dekat sekali dengan,"

Suara terputus.

Ammar sadar jaringan komunikator miliknya dirusak.

Apa-apaan ini? Bahkan dirinya juga sudah terlacak?

Ammar menginjak remuk komunikator miliknya, mengenakan jaket dengan hoodienya lalu setengah berlari mengubah haluan. Lokasi yang ditujunya sudah pasti tidak aman.

Ia memutar otak. Tidak ada komunikator, artinya ia dan rekannya sama-sama buta untuk menentukan pertemuan.

Plan B? Di tempat itu?

Ammar teringat lalu bergegas.

Jalanan di sekitarnya mulai ramai karena ledakan tadi.

Dirinya yang berjalan melawan arah semoga tak terlalu menarik perhatian orang-orang.

Dua belokan, lalu jalan besar, sampai penghabisan jalan, di sebelah kanan. Ammar berusaha mengingat letak tempat yang tidak asing namun sudah lama tidak dikunjunginya.

Memasuki belokan kedua, suasana sudah tidak seramai dekat ledakan tadi. Sebenarnya ada ledakan itu pun bukan hal yang luar biasa.

Di zaman kini, tahun 2048, kekacauan dimana-mana.

Ammar bergegas. Hujan mulai turun saat dirinya memasuki jalan besar yang tidak terlalu ramai. Menajamkan pandangan, Ammar melihat siluet seorang pria yang berjalan mondar-mandir di ujung jalan.

"Akhirnya kau sampai." Pria itu memeluknya penuh kelegaan saat melihat Ammar.

"Biidznillah*, brother. Alhamdulillah." Ucapnya.

"Aku tak menyangka mereka mengincarmu sampai sejauh ini."

"Kita memang harus bersiap, brother. Mereka sekarang semakin sigap mengawasi gerakan-gerakan mencurigakan. Mungkin aku kurang berhati-hati."

Hasyim, kakak ketiganya itu menepuk pundaknya.

"Semoga Allah swt kuatkan pundak-pundak kita."

"Aku tak bisa berlama-lama di sini. Sebentar lagi mereka akan bisa menemukanku." Ammar berkata lalu menyerahkan sebuah chip yang tadi ia simpan rapat-rapat di saku kemejanya.

"Berhati-hati lah, brother." Hasyim menerima chip itu lalu memeluk erat adiknya.

"Assalamu'alaikum." Ammar berkata lalu bergegas meninggalkan Hasyim.

Tugasnya selesai untuk sementara waktu. Ia harus pergi jauh untuk menghapus jejak. Ammar teringat komunikator yang sudah dihancurkannya. Tanpa komunikator, segalanya akan sulit.

Sayangnya, pemerintah membatasi kepemilikan komunikator. Hanya satu komunikator untuk masing-masing satu penduduk. Koar-koar pejuang HAM di masa lalu tidak berlaku karena pada akhirnya protes yang ditujukan pada pemerintah berakhir dengan pemberangusan.

Bila semua orang lebih sayang nyawa daripada apapun, siapa yang berani melawan?

~Bersambung~


*Air car: Mobil yang dijalankan di udara, berjalan melayang
*Biidznillah: Atas izin Allah swt






#onedayonepost
#odopbatch5
#tantangancerbung

Senin, 05 Maret 2018

Kala Waktu Tak Sampai (3) Selesai

~~Part sebelumnya~~

"Maafkan aku," kata laki-laki itu.

Kalimat yang membuat Andini keheranan.

Semakin heran saat mendengar kelanjutan kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu.

~~

Laki-laki itu pada akhirnya menghilang dari pandangan Andini. Dalam waktu yang lama yang tidak sebentar. Andini terlalu takut untuk sekadar bertanya pada teman-teman laki-laki itu yang juga teman-temannya.

Perasaannya digantung.

"Sepertinya aku ingin menjalin hubungan serius denganmu," ucap laki-laki itu di sore hari saat hujan menderas.

Andini diam tak menanggapi.

Jujur saja ia bingung harus menanggapi apa. Akalnya jelas mengatakan kalau hubungan serius antara laki-laki dan perempuan adalah menikah. Lalu apa dirinya siap? Tidak sama sekali!

Dirinya baru kuliah di tingkat dua. Pernikahan adalah bahasan yang jauh sekali di ujung prioritasnya.

Life mapnya jelas. Membereskan kuliah, berkarir selama dua tahun, melanjutkan pendidikan strata dua, baru mungkin setelah itu ia akan memikirkan soal menikah.

~~

Sore hari sepulang dari kampus, tidak biasanya ibunya mengajaknya mengobrol sambil menemani Andini makan di ruang tengah.

"Nak Haqi apa kabarnya, Din? Kok enggak main-main ke rumah lagi?"

Pertanyaan yang nyaris membuat Andini tersedak sayur bayam. Tapi, tidak jadi. Mulutnya malah perlahan melumatkan sayuran hijau daun itu.

"Enggak tau, bu. Udah enggak pernah ketemu lagi di kampus." Jawabnya.

"Oh…"

"Ibu kira kalian pacaran?" Kalimat ibunya benar-benar menohok ke ulu hati.

Andini terdiam.

"Enggak, bu. Haqi temen aja kok." Jawabnya lalu berlalu menuju dapur, hendak meletakkan piring kotor.

~~

Kalau boleh jujur, Andini memang menaruh hati pada Haqi. Laki-laki itu urakan secara penampilan, tapi otaknya jernih dan bening. Meskipun pemikiran mereka sering berseberangan, tapi mereka satu visi misi.

Andini menceritakan keriuhan hatinya pada mentor pengajiannya.

Jawaban yang diperoleh Andini jelas seterang sinar mentari. Lupakan, hilangkan virus merah jambu itu kalau memang tidak ada planning menikah.

Menikah bagaimana? Kalau Haqi saja tidak pernah muncul di area pandangnya lagi.

"Haqi?" Tanya mbak mentornya.

"Iya, Haqi. Mbak kenal?"

Mbak mentornya itu mengernyitkan dahi, berpikir keras.

"Namanya seperti tidak asing."

Percakapan mereka terhenti di situ karena Andini pun akhirnya siap berdamai dengan hatinya.

~~

Pesawat yang ditumpangi Andini mendarat dengan sangat mulus. Tak ada goncangan yang memualkan maupun menegangkan perut.

Andini melihat layar gawainya.

"Sekarang menetap di Jakarta?" Tanya laki-laki di sebelahnya, Haqi.

"Iya, untuk sementara."

"Oh,"

Andini keluar bersama antrian manusia yang lain. Ia pikir Haqi akan berpamitan, tapi ia malah menjajari langkah Andini menuju gerbang pintu keluar.

"Kamu sendiri?"

"Aku transit saja di Jakarta. Besok aku lanjut penerbangan ke Singapura." Jawab laki-laki itu.

"Oh, lalu tadi di Lampung?"

Bagus sekali Andini. Tanpa tanya kabar terlebih dahulu, langsung memberondong pertanyaan macam itu.

"Mengunjungi adikku." Jawab Haqi sambil tersenyum.

"Kamu sendiri?" Laki-laki itu lanjut bertanya.

"Ada seminar yang aku hadiri."

Saat itu gawai di tangannya bergetar. Andini hendak berpamitan pada Haqi sebelum mengangkat panggilan di gawainya.

"Oh, angkat saja. Setelah ini bisa kita ngobrol lagi sebentar?"

Apa? Kening Andini berkerut.

Panggilan di gawainya belum berhenti.

"Waalaikum salam. Sudah sampai Soetta, mas. Ya, alhamdulillah. Apa? Sudah nunggu? Aduh, Dini kan bisa pulang sendiri, mas. Iya, iya, Andini ke situ sekarang. Enggak kok, enggak bawa bagasi. Oke. Ya. Waalaikum salam."

Laki-laki itu sibuk dengan gawainya saat Andini berjalan ke arahnya.

"Ki, maaf sekali. Suamiku sudah menunggu di…. " Andini menjelaskan lalu menyebutkan salah satu kedai kopi di dekat terminal kedatangan.

"Ah, kebetulan sekali. Senang bisa bertemu suamimu." Haqi menyahut antusias.

Sementara Andini kebingungan. Senang?

"Oh, oke lah." Andini mengiyakan saja padahal bingung setengah mati harus menjelaskan apa pada suaminya.

Sisi hatinya yang lain berkata, kenapa harus bingung? Haqi bukan siapa-siapa. Hanya teman lama saat di kampus dulu. Titik.

Andini dan Haqi sampai di kedai kopi saat suami Andini sedang menerima telepon di gawainya. 

Andini tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh suaminya tanpa melepaskan gawai di tangannya.

Haqi yang mengekor di belakang Andini pun diberi senyuman hangat oleh suaminya.

Mereka saling kenal? Tanya Andini dalam hati.

Andini menuju meja konter untuk memesan cokelat panas. Sampai sedewasa ini Andini tidak cukup bersahabat dengan kopi. Haqi mengikuti, memesan kopi paling pahit yang diketahui Andini.

Suami Andini menyusul dan membayar pesanan mereka berdua yang ditolak oleh Haqi yang tidak kuasa akhirnya.

Mereka bertiga duduk semeja.

"Ini Haqi, mas. Teman Andini di kampus dulu." Kata Andini mengenalkan.

"Iqbal. Dulu satu angkatan?" Suami Andini menjabat tangan Haqi.

"Ya, satu angkatan beda jurusan beda fakultas." Jawab Haqi.

"Oh… kok sepertinya wajahnya tidak asing, ya." Iqbal berkata sambil mencoba mengingat-ingat.

"Dulu anak … juga?" Haqi menyahut menanyakan asal kampus Iqbal.

"Ya, saya angkatan … " Iqbal menyebutkan selisih beda tahun masuk universitas mereka.

"Wah, cuma beda tiga tahun. Mungkin kita pernah ketemu di kantin …" Haqi menanggapi sambil tertawa, menyebutkan kantin legendaris di kampusnya.

Sementara Iqbal dan Haqi mengobrol lebih jauh, Andini sibuk mengaduk-aduk cokelat panasnya. Pikirannya sudah lebih jernih. Mantap untuk tidak menceritakan soal Haqi lebih lanjut pada Iqbal.

Bukankah alasan teman kampus yang dulu pernah satu organisasi dan kebetulan bertemu di pesawat, lalu ingin bertanya kabar, sudah lebih dari cukup untuk akhirnya mereka bercengkrama di kedai kopi?

Takdir memang seperti ini. Ada kalanya sesuatu yang membekas di hati cukup dilupakan dan untuk diambil hikmahnya.

Pun kisah singkat Andini dan Haqi.

~~~

Selesai.





#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

Lalu Lalang

Matanya awas memandang kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa diperintah, otaknya secara otomatis menghitung kendaraan yang lewat dihadapannya. Satu mobil, satu motor, dua motor, tiga motor, empat motor, satu sepeda, dan seterusnya. 

Mungkin kalau ada petugas survei yang mendatanginya, ia bisa dengan jelas menyebutkan jumlah kendaraan yang melewati jalanan yang setiap hari diakrabinya.


Pemuda bertopi itu bangkit dari duduknya, sebuah motor hendak keluar dari parkiran, tapi sepertinya kesulitan. Gigih sekali wanita dihadapannya ini menggeser-geser motor yang lain. Pikirnya.


"Mau dibantu, mbak?" Ia bertanya.


Wanita itu menggeleng saja dari balik wajah yang tertutup masker.


Baiklah. Batin pemuda tadi.


Ia kembali duduk di pinggiran sebuah trotoar.


Siang sudah sangat terik, perutnya mulai keroncongan minta diisi. Seingatnya makanan terakhir yang masuk ke dalam perutnya adalah pecel lele yang ia makan tengah malam kemarin.


Pemuda berkulit coklat legam itu menelan ludah melihat pengunjung restoran di dekat tempatnya berada. Ia tidak fokus pada pengunjung-pengunjung restoran itu sebenarnya, melainkan pada isi piring dihadapan mereka.


Asyik sekali mereka menyantap berbagai makanan. Beberapa sibuk dengan kamera gawai sebelum memakan makanan mereka, beberapa sibuk mengobrol sambil sesekali menyendok makanan, dan beberapa fokus makan sambil sesekali melihat ke arah luar restoran. Golongan yang ia sebutkan terakhir, biasanya datang sendirian saja ke tempat makan itu.


Ia hendak membeli es cendol yang terkenal di daerah situ, saat matanya tidak sengaja melihat wanita tadi yang masih saja gigih hendak mengeluarkan motornya yang terjepit kendaraan-kendaraan lain.


Ia merasa tak perlu bertanya lagi.


Tak lama kemudian, wanita bermasker itu terkejut saat melihat pemuda yang sama telah membuka jalan keluar untuk motor bebek miliknya.


Kalau tidak menutup sebagian wajahnya, mungkin wanita itu sudah terlihat bersemu merah, karena malu 


Saat akhirnya wanita itu berhasil memgeluarkan motornya, ia tak lantas berterima kasih. Wanita berjaket itu hanya mengangguk sekilas lalu pergi.


Ah, dirinya sudah biasa dibeginikan.


Ucapan terima kasih kadang jadi barang mahal, kadang juga diobral terlalu murah, karena tidak diucapkan dari hati, melainkan formalitas belaka.


Pemuda tadi membeli es cendol lalu bercakap-cakap sebentar dengan rekan-rekannya. Bahan percakapan mereka mulai dari penghasilan hari ini hingga kebijakan pemerintah soal tarif parkir di jalanan.


Selesai membeli es cendol, pemuda berkaus merah itu kembali ke tempat biasa ia menghabiskan waktu seharian.


Mungkin kalau profesinya sekarang kurang menjanjikan, ia akan pulang ke kampung saja membantu orangtuanya mengolah sawah. Rasanya ia tidak akan kuat kalau harus turut serta mencari pekerjaan lain di ibu kota ini.


Sore mulai menjelang, jalanan mulai ramai lagi dengan berbagai macam kendaraan. Ia kembali menelan ludah. Rasanya es cendol saja tidak cukup untuk mengganjal perut yang kosong sejak semalam.


Meski begitu, tubuhnya masih kuat saja berjalan dan berlari kesana kemari.


Ia berniat beristirahat sebentar di pinggir trotoar saat dua orang mendekatinya. Salah satu dari mereka mengangsurkan sebuah bungkusan.


"Terima kasih banyak, kak." Ucap pemuda itu.


"Ya, sama-sama." Balas salah satu dari mereka lalu pergi.


Saat speaker-speaker azan mulai menyala, pemuda itu berjalan menuju masjid terdekat.


Sebelum mengambil air wudhu ia membuka bungkusan yang diterimanya.


Waktu yang sudah-sudah, biasanya ia akan mendapatkan bungkusan makanan dari restoran akan tetapi isinya sudah tinggal sepertiga atau seperempat porsi.


"Alhamdulillah," ucapnya penuh rasa syukur.


Kali ini ia menerima makanan dari restoran yang sering membuat liurnya tanpa sadar menetes itu dengan porsi lengkap.


Bagaimana ia tahu?


Tentu dari banyaknya porsi makanan yang ada dihadapannya.


Makanan ini sangat banyak! 


Tuhan memang Maha Baik.

~~~





#ODOPbatch5

#OneDayOnePost
#TantanganVI

Jumat, 02 Maret 2018

Permak Blog

Enggak celana levi's aja yang bisa dipermak, blog juga butuh dipermak loh. LOL.

Seharian kemarin, sibuk banget ngepermak blog. Mulai dari nyari free template buat blog, ngedesain head banner, milih-milih side bar, de el el.

Gitu aja yang enggak ngedesain template sendiri loh, alias tinggal download terus pasang. Gimana yang ngedesain sendiri dari nol ya? Sungguh luar biasa.

Kenapa blognya pake dipermak segala?

Apakah karena ingin menggaet pembaca?

Salah satunya, sih. (Emak-emak happy kalau tulisannya dibaca dan bermanfaat buat orang).

Alasan utamanya, sih, karena yang punya blog bosan ngeliat tampilan blog sendiri. LOL. 

Ya, jujur saja, saya ini orangnya gampang bosan. Termasuk urusan blog doang aja. Kayaknya udah enggak terhitung blog ini gonta-ganti template. Bahkan beberapa kali alasannya receh, kayak  tampilan blog yang enggak sesuai suasana hati saat itu.

Berasa blog ini enggak punya identitas. LOL.

Enggak apa-apa lah, ya.

Tapi, setelah ngepermak blog, rasanya enggak kalah kayak habis ke salon atau potong rambut loh. Hidup berasa lebih fresh.

Terus, seharian kemarin, kayaknya puluhan kali deh, ngeklik alamat blog, gara-gara antara penasaran sama khawatir apakah template blog yang baru ini sudah pas atau belum.

Saya perfeksionis yang bergolongan darah A sih, jadi ribet sendiri. Kalau ada yang enggak sreg, bisa dibela-belain ngulang dari awal sampai lelah.

FYI, dalam mempermak blog ini, idenya enggak lantas muncul serta merta. Saya perlu blog walking ke beberapa blog lain supaya dapat inspirasi. Semoga enggak tergolong nyontek-nyontek banget. Secara dulu-dulu cuma pake template yang tersedia di blogger. Pasang, edit warna dan font dikit. Done.

Ternyata profesi blogger, kalau diseriusin, enggak cuma urusan nulis atau curhat sehari-hari aja. Soal template yang ciamik dan responsif harus juga dipikirkan supaya pembaca nyaman. Betul, nggak?

Kalau ngeliat blog-blog lain yang juga serius untuk menggaet pembaca pun juga kayak gitu. Kalau enggak responsif alias loadingnya enggak lama, ya, templatenya bagus dan eye catching.

Gimana tampilan blog saya menurut teman-teman semua? Apakah lebih oke? Atau mendingan yang lama? Atau enggak sadar kalau tampilan blog saya berubah?

Give me a feedback, please :)




#OneDayOnePost
#ODOPbatch5



Image credit: Pinterest

Mengerjakan Passion

Sudah hampir satu bulan lebih, saya bergabung di ODOP (One Day One Post). Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dari mengikuti program di komunitas ini. Enggak cuma materi yang berkaitan dengan kepenulisan, tapi juga kesadaran diri yang baru.

Sedikit curhat, sesungguhnya, saya paling enggak bisa begadang untuk mengerjakan sesuatu. Misal, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyetrika. Siang hari kurang memungkinkan untuk menyetrika karena anak bayi yang sedang senang sekali merangkak berkeliling rumah. Bisa bahaya kalau menyalakan setrika saat anak bayi itu on. Seringkali ketika saya sudah bikin plan untuk menyetrika jam 22.00 WIB, tapi karena saya lelah dan lain-lain, akhirnya ringan saja begitu, ketika rencana tersebut tidak terlaksana.

Beda dengan nge-ODOP, kayaknya sambil ngantuk-ngantuk pun, masih saya usahakan untuk menulis sesuatu. Bahkan kadang sampai ketiduran di tengah-tengah menulis paragraf, lalu akhirnya terlambat posting, karena sudah lewat tengah malam.

Atau selain nge-ODOP, saya sedang senang-senangnya mengedit foto sana-sini. Kalau anak bayi sedang tidur, asyik saja saya mengerjakannya. Sampai lupa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Menyesal sedikit, sih. Tapi, bahagia dan lega.

Sampai kadang dibela-belain melek dini hari, kadang lupa makan, enggak terasa udah sore, de es be.

Kalau kata suami itu yang namanya ngerjain passion. Bikin kita lupa hal-hal lain di luar yang sedang kita kerjakan.

Sebenarnya, kalau sampai melalaikan hal-hal yang lain agak kurang baik, sih. Kayak yang saya alami dan sebutkan di atas itu. Terlalu asyik menulis, ngedit foto, dan lain-lain, sampai saya lalai memasak untuk suami.

Kadang suami mengerti sih. Karena dia juga senang kalau saya mengerjakan sesuatu yang saya bahagia dengan itu. Tapi, sebel juga kalau keterusan. Bisa jebol uang belanja.

Terus, gimana solusinya?

Saya terpikir untuk terus mengerjakan hal yang menjadi passion saya. Catatannya adalah harus ada yang menggantikan saya mengerjakan tugas-tugas yang saya tinggalkan, misalnya memasak itu. Tapi, soal masak-memasak, sayangnya suami saya termasuk yang picky soal makanan di luar rumah. Kalau masakan rumah dia sih mau apa aja.

Mengerjakan hal yang menjadi passion memang menyenangkan. Tapi, tentu ada tantangannya. Kalau buat saya, tantangan paling besar adalah melawan diri sendiri.

Diri sendiri yang sering malas atau menjadi stag saat bosan dan jenuh.

~~~




#OneDayOnePost
#ODOPbatch5


Image credit: Pinterest