SOCIAL MEDIA

Sabtu, 01 Februari 2020

Uang: Dulu dan Sekarang


Inget banget betapa seringnya, dulu, duit di tangan tinggal puluhan ribu (kurang dari 50 ribu) padahal gajian masih 2-3 hari lagi. Kadang udah mau nyerah, mau ngutang ke ortu karena belum gajian, tapi butuh, lalu ngebayangin malunya, akhirnya nggak jadi.

Tapi, nggak punya uang kayak apa, khawatirnya nggak yang banget-banget gitu. Masih kalem dan eng ing eng, ada aja pertolongan Allah, alhamdulillah ada aja jalannya dapat uang untuk bertahan sampai gajian tiba.

Perasaan kayak gitu sedang saya rindukan. Perasaan bener-bener pasrah.

Karena ngerasanya semakin ke sini, semakin realistis, semakin banyak hitung-menghitung hitam di atas putih, kadang jadi pusing sendiri dan lupa pasrahnya sama Allah.

Mungkin faktor kedekatan dengan Allah dan ibadah yang kurang (sedih). 




Tawakal (pasrah dan ikhtiar) kuat hubungannya dengan takwa. Semakin bertakwa dan baik hubungan seseorang dengan Allah, semakin mudah untuk bertawakal, bukan?

Beberapa waktu belakangan diingatkan bahwa semakin banyak beban yang kita pikul, suplai energinya harusnya ditambah. Kalau buat seorang muslim, energinya nggak cuma energi fisik aja, tapi juga energi ruhiyah (ibadah).

Kalau dulu belum menikah ibadahnya X, harusnya setelah menikah (karena amanahnya bertambah, ada keluarga yang harus diurus) ibadahnya X+2 atau bahkan X².

Dulu bisa selowww banget masalah uang. Gaji nge-pas kayak yang nggak ada khawatir-khawatirnya. Berapapun yang penting halal dan cukup.

Dulu naif juga sebagai anak baru gajian, yang ngerasa cukup dan puas bisa gajian, makan, sebulan sekali makan di Sunny Side Up atau Mujigae, dan paparan kehidupan sosial tidak terlalu bikin kepikiran.

Kalau sekarang? Kayaknya berusaha ngejar terus karena rencana-rencana masa depan. Ada yang bilang, itulah dunia orang dewasa.

Pengennya hati itu terus tenang kalau ngomongin uang. Percaya sepenuh jiwa bahwa rezeki dalam hal ini uang akan cukup, nggak mau ngoyo ngejarnya karena takut jadi hamba harta dan dunia. Tapi? 

Sekarang sedang proses menanamkan mindset bahwa yang dikejar itu ibadah, ibadah, ibadah (dengan berbagai bentuknya). Uang itu akan mengikuti. Karena burung aja yang penting terbang dulu di pagi hari, karena akhirnya di petang hari ia toh pulang dengan perut terisi*. Tapi, ya, usaha terbang dulu.

Sekian tjurhat malam ini :)



*Kutipan hadis:
”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”
(HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402).
Tulisan menarik di Rumaysho.



Nb. Tulisan ini tidak untuk dibenturkan dengan yang membahas pentingnya perencanaan keuangan, ya. :) Melainkan disandingkan. Merencanakan keuangan itu bagian dari ikhtiar mengatur uang yang Allah titipkan, bukan begitu? Agar kalau sudah diatur sedemikian rupa dengan segala plannya, pikiran dan hati kita bisa lebih fokus dengan ikhtiar dan amalan yang lain.

Jumat, 31 Januari 2020

Beberapa Pilihan Daycare di Bandar Lampung

Sebelumnya saya sudah share gimana sedihnya melepas anak untuk dititip ke daycare. Karena sedih dan mungkin dari hati terdalam belum rela anak diasuh orang lain, jadi belum kesampaian untuk memanfaatkan daycare.

Ada di sini tulisannya.


Awal mula berniat menitipkan anak ke daycare, lalu survei, saya merasa prosesnya nggak terlalu ribet, karena cukup terbantu dengan adanya akun instagram dari masing-masing daycare yang saya incar. 

Langkah yang saya lakukan saat akan mencari daycare di Bandar Lampung:

1)Bertanya ke teman-teman.

2)Kroscek ke instagram untuk tahu sedikit banyak kegiatan daycare tersebut. Kalau sreg bisa DM atau kontak Whatsapp.

3)Setelah cocok masalah biaya, dan lain-lain (by nanya via Whatsapp), bisa langsung survei melihat kegiatan dan kondisi di daycare.

Saya sempet nggak merasa perlu survei berkunjung langsung ke tempat daycare. Tapi, alhamdulillah saya 'manut' suami yang 'keukeuh' harus lihat langsung keadaan daycare dan memang terbukti PENTING banget.

Lewat survei, kita sebagai orangtua jadi tahu kondisi fisik bangunan tempat daycare berada, gimana kamar-kamar tempat istirahat, tempat bermain, kamar mandi, sirkulasi udara, keamanan, dan lain-lain. 

KIta juga bisa tahu fasilitas apa saja yang ada di daycare tersebut. Begitu juga dengan pengasuh-pengasuhnya. Lebih enak ngobrol langsung dengan pengasuhnya. Meskipun sebenarnya, misal info tentang 1 pengasuh meng-handle berapa anak, bisa kita dapatkan via Whatsapp.

Hal krusial yang lain adalah soal kegiatan di daycare. Saat survei kemarin saya datang terlalu pagi (karena suami cuma izin datang terlambat ke kantor). Ketemunya anak-anak yang memang diantar pagi. Kegiatannya, ada yang main, sarapan, dimandikan pengasuh. 

Salah satu nilai plus dari menitipkan anak di daycare dibandingkan meng-hire pengasuh di rumah adalah kegiatan yang lebih variatif daripada kalau anak di rumah saja. Makanya, soal kegiatan jadi salah satu titik berat dalam memilih daycare.

Berikut ini beberapa daycare di Bandar Lampung yang sempat saya survei, beberapa yang infonya minimalis hanya saya chat Whatsapp atau saya kepoin instagramnya, tapi nggak berlanjut sampai ke survei karena satu dan lain hal. 🙂

Dewan Dakwah

Lokasi daycare ini berada di area kantor LSM Dewan Dakwah Islamiyah Lampung. Saya datang sekitar pukul 8 pagi dan baru beberapa anak saja yang datang, sekitar 3 atau 4 orang. Masih ada yang tidur, sarapan, dan bermain. Daycare ini punya jadwal harian yang berbeda-beda. Kegiatan khasnya, belajar mengaji, mewarnai, tahfidz, dan lain-lain, dipergilirkan setiap hari. Pengasuhnya kebanyakan ibu-ibu. Kondisi di dalam rumah, bagi saya kurang bersih, mungkin karena rumah yang ditempati adalah rumah lama atau kuno.

Informasi biaya:
Pendaftaran 350 rb
Bulanan 500 atau 600 rb untuk toddler | 700 rb untuk bayi
Harian 35 rb (Harus membayar biaya pendaftaran)

Sayangnya, saya tidak menemukan akun instagram daycare ini. Kalau butuh info lebih lanjut bisa datang langsung ke sana. Sebenarnya ada pamflet yang waktu itu saya dapatkan, tapi karena terlalu lama saya ngedraf tulisan, pamfletnya keburu jadi korban coret-coret anak saya.

Affie

Pertama kali datang, saya nyasar ke tempat lini pendidikan toddler (semacam PAUD). Ternyata, lokasi daycarenya selisih gang dari tempat yang dituju GMaps.

Lokasi daycare Affie di dalam perumahan dengan mini playground di depannya. Karena suasana cukup ramai, saya tidak survei sampai ke bagian dalam rumah. Pengasuh di Affie daycare ini juga dominan ibu-ibu.

Informasi biaya:
Pendaftaran 300 rb
Bulanan 700 atau 800 rb toddler | untuk bayi lebih mahal
Harian 50 atau 60 rb (Harus membayar biaya pendaftaran)

Akun instagram Affie cukup update untuk info kegiatan dan lain sebagainya.

Filimi

Tidak saya survei. Bisa cek ke instagram Filimi untuk kontak dan survei awal kegiatan di sana.

Matahari

Tidak saya survei.
Akun instagram Matahari Daycare.

Soedirman Muda

Saya mengikuti weekend class di Soedirman Muda sekalian survei untuk daycarenya. Acaranya cukup berkesan dan sejauh ini menjadi daycare yang paling mendekati keinginan saya. Weekend class ini semacam kegiatan 2-3 jam dengan tema tertentu. Kebetulan yang anak saya ikuti kemarin bertema kehidupan hewan laut. 

Kegiatan diawali olah raga bersama, anak-anak dikelompokkan sesuai umur, bayi dan toddler. Pengasuhnya masih muda-muda, terlihat semangat dan enerjik memandu acara. Setelah olahraga, anak-anak dipersilakan memberi makan ikan secara bergantian. Selanjutnya, acara diisi membuat keterampilan mini akuarium. Acara weekend class ini kalau kata Miss yang mengobrol via whatsapp dengan saya, sebagai salah satu ikhtiar bonding antara anak dan ibu atau ayah. Meskipun, buat saya, karena sehari-hari sudah 24 jam bersama anak, acara ini menjadi salah satu cara melatih anak bersosialisasi dengan teman-temannya.

Weekend class ini diselenggarakan sebulan sekali dan recommended untuk diikuti. Infonya bisa follow instagram Soedirman Muda Daycare.

Biaya-biaya ada di foto. Bila ingin menitipkan harian di Soedirman Muda hanya perlu membayar biaya harian saja, tidak usah membayar biaya pendaftaran.

Wahdini

Tidak saya survei.
Akun instagram Wahdini Daycare.

Binar Madani

Tidak saya survei.
Akun instagramnya tidak update, tapi bisa googling saja dan ada kontak yang bisa dihubungi. Responnya cukup oke via Whatsapp atau telepon.

Gimana, ibu-ibu? Apakah ada yang anaknya dititipkan ke daycare dalam daftar saya? Atau baru merasa tertarik dan butuh? Silakan dipilih sesuai value keluarga. Bila ada daycare yang belum saya masukkan, tapi recommended, silakan tulis di kolom komentar :)


Biaya-biaya Soedirman Muda Daycare

Nb. Saya tulis 'atau' pada informasi biaya, karena saya lupa angka detailnya.

Jumat, 10 Januari 2020

Review Film Kim Ji Young: Born 1982 dan Lika Liku Menjadi Ibu


Review ala-ala saya mengandung spoiler, karena saya susah untuk nahan nggak nyeritain potongan-potongan scene, apalagi yang ngena banget.

Sedikit Sinopsis

Kim Ji Young: Born 1982 adalah film Korea Selatan yang juga ada novelnya dengan judul yang sama. Di Korsel, novelnya termasuk salah satu novel fenomenal (atau kontroversial). Cerita inti yang saya tangkap dari film ini adalah tentang Kim Ji Young, seorang ibu rumah tangga yang tidak sadar kalau dirinya sedang sakit secara psikologis. Cerita dalam film menjadi sangat menarik karena mengangkat tentang kesenjangan antara wanita dan pria di dalam keluarga dan lingkungan kerja (kehidupan sosial).

Credit to Unsplash

Review

Dari awal film, Kim Ji Young: Born 1982 ini sudah sukses bikin saya menitikkan air mata, apalagi di scene-scene selanjutnya. Rasanya selepas nonton, mata saya sembap karena kebanyakan nangis dan hati jadi lelah karena ngerasa super mellow.

Terharu dan sedih, karena ngerasa kehidupan Kim Ji Young ini kok related banget, sih, sama kehidupan saya. Aaargggh. Meskipun, alhamdulillah, saya nggak 'sesakit' Kim Ji Young.

Saat KJY (Kim Ji Young) menatap mata hari sore yang terbenam selepas ngerjain kerjaan rumah, ngerasa sering sedih tiba-tiba, ngerasa kangen sama teman-teman kerja dan kehidupan kerja di masa lalu saat berpapasan dengan mbak-mbak necis yang mau berangkat kerja, duh, feel related.

Ada dua adegan yang bikin saya nangis kejer di film ini. 

Pertama, part flashback KJY dan ibunya yang lagi ngomongin cita-cita ibunya yang dulu pengen jadi guru, terus nggak keturutan. Di situ KJY kecil nanya ke ibunya, apa gara-gara dia, ibunya nggak bisa menggapai cita-citanya jadi guru? 

Nangis kejer saya. Perasaan campur aduk, antara khawatir dan takut. Khawatir, kalau di masa depan anak saya ngerasa kayak gitu. Takut, jangan-jangan saya bisa jadi adalah ibu yang menyalahkan keadaan (dalam hal ini anak) atas keinginan atau cita-cita saya yang tidak terwujud. Tapi, scene ini jadi motivasi dan penyadaran bahwa anak bisa ngerasa se-mellow itu. Bikin saya mikir tentang cita-cita. Diwujudkan atau tidak, sepenuhnya tanggung jawab dan diputuskan atas kesadaran saya.

Part kedua yang nyes banget adalah saat KJY udah kesenengan bakal bisa kerja lagi. Tapi, terus dimarahin sama mertuanya. Bikin KJY merasa harus mengalah, karena apalah arti gaji dan karirnya kalau dibandingin suaminya. Padahal, sebelumnya, suami KJY udah oke sama keputusan mereka berdua, KJY kerja lagi dan suaminya ambil paternal leave alias cuti bapak-bapak selama setahun untuk ngurusin anak mereka. Tapi, yang kayak begini dianggap aneh sama orang-orang tua, meskipun dua orang menikah yang ngejalanin udah bersepakat.

Ketiga (Wkwkwk jadi ada tiga), part suaminya ngasih tau ke KJY kalau KJY sakit dan nanya, 'Apa KJY sakit begini karena nikah sama dia?' Sedih bangeeeet.

Jadi nyadar bahwa dibalik istri yang stres atau mengalami masalah psikologis atau mental illness, ada suami-suami yang merasa bersalah, kepikiran, dan guilty feeling semacam itu.

Suami KJY ini termasuk yang support dan concern banget sama sakit istrinya. Dia yang duluan ke psikolog (atau psikiater) untuk cari tahu soal penyakit KJY, ndorong KJY untuk konsul juga, dan mau ngalah lebih concern ke sehatnya KJY dibanding karirnya. Mana yang meranin suaminya Gong Yoo pula, duh bener-bener husband material, deh! (fangirling mode on).




Credit to Pinterest


Oh, ya, ada scene saat KJY beli kopi di coffee shop gitu, terus anaknya rewel sampe kopi KJY tumpah, padahal antrean di coffee shop itu lagi panjang-panjangnya. Ada segerombolan mbak sama mas-mas gitu yang ngomongin KJY nggak enak. Terus dilabrak, deh, sama KJY karena salah satu mas itu ngatain KJY terlalu kenceng. KJY kesel karena mikir, kalau mau ngatain jelek, kenapa nggak dibatin aja, sih. Masnya itu ngatain KJY 'mum roach'. Setelah googling baru tau kalau istilah mum roach ini artinya ibu-ibu yang bertingkah laku tidak pantas di tempat umum. Mengganggu ketenangan umum gitu lah menurut si mas yang ngatain. 

Gara-gara googling mum roach yang berhubungan sama public place, jadi tahu juga bahwa ada resto dan kafe yang memberlakukan kids free zone. Antara miris (karena ngerasa public place sekarang, mah, berlomba-lomba ngadain tempat yang kids friendly), tapi jadi insight juga bahwa memang ada, orang-orang yang terganggu dengan riuh ramainya anak-anak. Well, jadi ngerasa harus belajar lagi untuk mengontrol dan ngajarin anak untuk behave di tempat umum.

Baca Ini Juga Yuk: How to Survive: Berdua di Rumah dengan Bayi


Tapi masalahnya, menjadi ibu yang bawa anak ke tempat umum itu emang nggak mudah. Apalagi kalau pas anak lagi rewel atau tantrum. Nggak mungkin juga status ibu bikin kita ngerem terus di rumah. Ada kalanya, meskipun udah diatur sedemikian rupa, karena jenuh, emergency, dan lain-lain, tetep harus ke public place. Nah, di momen yang kurang mengenakkan, jadi tambah puyeng nggak, sih, kalau tiba-tiba ada yang bisik-bisik, sampe kedengeran telinga kita, ngatain, 'Nggak becus jadi ibu' atau 'Nggak bisa ndiemin anak' atau bahkan ngatain yang kayak di film.

Di momen itu KJY kayak ngasih teguran ke si mas-mas bahwa dia nggak berhak ngejudge KJY karena momen yang sebentar.

Duh, merasa bahagia, habis KJY speak up, mas-mas dan gerombolannya pergi keluar kafe sambil diliatin orang-orang dan pas di-shootnya ke arah ibu-ibu yang juga bawa anak. Berasa solider karena ibu-ibunya pada melotot ke mas-mas and the genk.

Di scene KJY speak up, KJY udah mulai terapi sama psikiaternya. Jadi, sepemikiran saya, berani speak up dan nggak 'mendem-mendem dalam hati' club adalah pertanda emosi yang lebih baik.

Terlalu seru kalau bahas scene per scene.

Setelah menonton, saya terpikir bahwa sakitnya KJY nggak muncul tiba-tiba. Entah bagaimana analisis medisnya (gara-gara subnya nggak terlalu oke dan pas bagian suami KJY googling tentang penyakit KJY pake bahasa Korea lalu nggak ter-translate). Sepertinya sakitnya KJY karena dia menyimpan atau memendam perasaan atas kejadian-kejadian dan perlakuan yang dia alami di masa lalu, dan akhirnya meledak di momen yang mungkin paling stressful, yaitu saat jadi ibu.

Nunjukkin bahwa menjadi ibu perjuangannya luar biasa. Nggak cuma perjuangan fisik, tapi juga perjuangan psikologis. 

Semenjak jadi ibu, saat ketemu sesama ibu di mall, atau tempat umum lainnya, muncul perasaan terenyuh, apalagi pas momen anaknya nangis-nangis. Duh, pengen bantu apa gitu. Padahal mungkin nggak perlu dibantu apa-apa. Cukup nggak ngeliatin atau bisik-bisik, kadang itu udah helps a lot.

Saya juga sangat excited dengan gerakan mom support mom. Menurut saya, film Kim Ji Young: Born 1982 ini salah satunya. Meskipun di film nggak cuma tentang menjadi ibu yang jadi concern. Tapi, juga kental unsur kritik sosial terhadap masyarakat Korsel (dan mungkin di Indonesia juga) yang lebih mengistimewakan anak laki-laki di dalam keluarga dan pegawai laki-laki di lingkungan kerja.

Tertarik untuk nonton? Atau udah nonton dan merasa hati terpotek-potek seperti saya? 

Selasa, 07 Januari 2020

Menjajal Tol Lampung-Palembang

Credit to unsplash

Akhir menuju awal tahun 2020 obrolan dengan teman-teman ibu di Lampung rame banget membahas tol yang bisa langsung bablas ke Palembang. Kalau sebelumnya ke Palembang harus ngelewatin jalan-jalan yang rawan dan menghabiskan waktu 6 jam atau lebih, dengan sudah dibuka secara fungsionalnya tol ke Palembang, bisa sangat menyingkat waktu.

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba melakukan perjalanan via tol Terbanggi Besar keluar di pintu tol Jakabaring hanya butuh waktu sekitar 2 jam saja. Jangan ditanya berapa kecepatannya, sekali-kali mengintip speedometer, suami melajukan mobil di 100 km/jam - 140 km/jam. Rata-rata di 120 km/jam. Kecepatan yang bikin saya nggak berhenti zikir. Niatnya pengen tidur selama perjalanan, jadi merasa harus waspada, akhirnya nggak tidur sama sekali baik di perjalanan berangkat maupun pulang.

Di perjalanan pulang, dari pintu tol Jakabaring keluar di pintu tol Natar, Lampung Selatan, saya dan keluarga menghabiskan waktu 3.5 jam, itu pun setengah jamnya kami habiskan untuk beristirahat di rest area KM 215, satu-satunya rest area yang sudah lumayan oke sepanjang perjalanan dari Palembang ke Lampung. Arah sebaliknya saat berangkat, seingat saya belum ada rest area yang proper, makanya, saat berangkat kami tidak berhenti sama sekali.

Sisi Menarik Tol Menuju Palembang

Karena saya memang ada keperluan ke Palembang, yaitu menghadiri pernikahan teman suami, dengan adanya tol ini memang sangat menolong untuk menyingkat waktu perjalanan. Apalagi dengan dibukanya pintu tol Jakabaring. Alhamdulillah, tol Jakabaring ini dibuka sampai tanggal kepulangan saya dari Palembang. Per 5 Januari 2020 pukul 18.00, pintu tol Jakabaring ini kembali ditutup untuk penyempurnaan pengerjaan. Memang, sih, di beberapa ruas jalan tol terlihat beberapa petugas dengan alat beratnya sedang melakukan pengerjaan. Bila tol Jakabaring ini ditutup, teman-teman yang ingin ke Palembang masih bisa keluar lewat tol Kayu Agung. Yah, meskipun waktu tempuhnya akan lebih lama sekitar 1.5-2 jam. 

Tol menuju Palembang ini jadi daya tarik di liburan Nataru (Natal dan Tahun Baru), selain membuat perjalanan dari Lampung ke Palembang menjadi sangat singkat, juga karena tidak dikenakan biaya tol alias GRATIS. Kita hanya perlu menge-tap etoll saja. Ketika berangkat saya tidak memperhatikan jumlah dan sisa saldo, tetapi ketika perjalanan pulang, dari Jakabaring ke Natar hanya terkena biaya 35 ribu rupiah. Sungguh sangat ekonomis.

Hasil membaca beberapa portal berita, pemerintah baru akan memberlakukan pembayaran biaya tol di awal Januari ini, entah tanggal berapa. Mungkin selepas 5 Januari kemarin.

Setau saya, dari Terbanggi Besar sampai ke Jakabaring biaya tolnya sekitar 170 ribu. 

Jadi, dengan bebasnya biaya tol dan waktu tempuh yang singkat, sungguh jadi daya tarik warga Lampung, bahkan warga di kota-kota lain untuk berkunjung ke Palembang.


Pemandangan di jalan tol Terbanggi Besar


Kekurangan

Hal yang bikin agak kurang sreg selama menjajal tol sampai ke Palembang adalah kondisi jalan dan rest area yang belum siap sama sekali. Sampai 'diwanti-wanti' oleh teman yang sudah lebih dulu menjajal tol untuk mengisi bensin full tank, karena akan susah banget nyari SPBU di tengah-tengah perjalanan. Memang benar, di rest area yang saya lewati menuju Palembang, saya perhatikan SPBUnya belum ada yang siap. Malahan saya mendapati warga yang menjual bensin ecer dalam jerigen-jerigen kecil.

Kondisi jalan tol yang saya lewati, beberapa sudah berlubang, padahal tol ini hitungannya masih tol yang sangat baru. Saat arah perjalanan pulang menuju Lampung, bahkan ada jalan yang terlihat 'mblendung' sampai harus dibatasi dengan cone supaya tidak dilewati.

Entah memang dibangun kombinasi jalan beton dan aspal, buat saya, agak mengagetkan ketika pindah jalur, dari jalan yang terbuat dari beton ke jalan yang terbuat dari aspal. Apa bedanya? Tentu saja beda bahan penyusunnya. Kalau kata suami, lebih enak jalan aspal daripada beton. Jalan aspal juga katanya nggak bikin ban cepet 'nggripis'.

Karena tol ini merupakan tol baru, jadi saya lumayan sering melihat petugas tol yang berpatroli. Cuma, untuk lebih berhati-hati, mungkin teman-teman bisa mencatat nomor info tol. Kalau tidak salah ingat, nomor yang bisa dihubungi untuk Palembang-Terbanggi Besar di 0813-2900-0020. Antisipasi saja bila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di jalan. Meskipun, kita sama-sama berdo'a, bila melakukan perjalanan semoga semuanya lancar dan bisa selamat sampai ke tujuan. Agak bikin deg-degan selama perjalanan kemarin, saya mendapati 1 mobil yang pecah ban sampai remuk bemper depannya saat ke arah Palembang. Di arah pulang menuju Lampung, saya ketemu dengan 2  atau 3 mobil yang pecah ban dan 1 truk yang terguling (di seberang jalan).

Karena saya pernah mengalami pecah ban di jalan tol juga, jadi ikut ngerasain paniknya kalau ketemu mobil yang mengalami hal serupa. Belajar dari kesalahan saya waktu itu, saya tidak mencatat nomor info tol, akhirnya harus nyari-nyari nomornya di google dulu. Alhamdulillah, saat itu sinyal masih oke. Satu lagi, pas tersambung pun ditanya oleh petugas tol kejadian di KM berapa saya nggak bisa jawab, karena nggak memperhatikan petunjuk KM yang biasanya ada di tengah-tengah jalan tol, selain karena kondisi di jalan tol yang gelap. Alhamdulillah, saat mengalami pecah ban itu, ada mobil patroli polisi yang sedang bertugas dan langsung sigap menghubungi petugas tol.

Eh, jadi, curcol.

So, apakah tertarik mencoba ke Palembang via jalan tol? Kabarnya di tahun 2024 jalan tol ini bisa tersambung hingga Aceh. Kita do'akan, ya, semoga pembangunannya lancar dan jalan tol yang ada saat ini bisa terawat dan terjaga kualitasnya.

Teman-teman yang sudah mencoba tol sampai ke Palembang, gimana perjalanannya selama melewati tol? 

Disambut Jakabaring Sport City dan jalur LRT, Palembang

Kamis, 21 November 2019

Tentang Menyia-nyiakan Waktu


Pernah nggak, setelah satu hari, satu bulan, atau satu tahun terlewati, muncul perasaan sedih? Sedih karena merasa menyia-nyiakan waktu. Hm, nggak sia-sia juga, sih, cuma ngerasa dengan waktu yang sudah Allah kasih, merasa diri ini nggak mengoptimalkan dengan baik?

Saya lagi di fase ini dan merasa itu bukan pertama kalinya. Agak ngeri sama diri sendiri, karena, kok ngulangin lagi kesalahan yang sama?

Tapi, nggak apa-apa. Bagian dari memotivasi diri sendiri adalah menyadari kesalahan dan bangkit lagi dan perbaiki lagi.



Sejak di rumah saja dan memang meniatkan diri untuk momong anak di rumah, saya merasa banyak hal yang pengen dikejar. Pengen profesional di dunia parenting, pengen belajar bisnis, pengen terjun ke masyarakat, pengen bisa sekolah lagi, pengen jago nulis. Rasanya banyak hal yang dipengenin. Banyak, tapi akhirnya nggak fokus. Satu penyakit teridentifikasi. Padahal, sering dapat insight, bahwa lebih bagus kita fokus di satu hal dan menonjol di bagian itu. Kayak blog aja. Udah beberapa kali ikut kumpul blogger dan memang disarankan lebih baik blog itu punya satu tema atau niche khusus, misal yang fokus di keuangan kayak blognya mas Dani Rachmat, atau blog masaknya mbak Diah Didi, dan lain-lain. Tapi, saya milih menjadikan blog ini campur-aduk banget isinya.

Dari semua kepengenan saya yang banyak itu, rasanya di tahun depan pengen nantangin diri untuk fokus sama satu kepengenan saja. 

Kalau dari video motivasi yang saya tonton di akun Satu Persen, ada stepnya, nih buat mewujudkan secara sistematis apa yang menjadi kepengenan kita.

  1. Menuliskan WISH.
  2. Menemukan BENEFIT dari wish kita tersebut supaya kita lebih termotivasi dalam setiap step berikutnya.
  3. Menganalisa OBSTACLE atau rintangan yang bakal muncul dalam mewujudkan WISH.
  4. Membuat PLAN atau langkah setiap hari, minggu, bulan, tahun agar WISH bisa terlaksana. 

Duh, kemana-mana amat ya, tulisan kali ini. 

Intinya, saya pengen share aja kalau nggak apa-apa ketika muncul rasa sesal karena kita nggak optimal dalam menjalani detik-detik dalam kehidupan kita. Tapi, jangan lupa juga untuk bangkit dan berusaha memperbaiki apa, sih yang nggak optimal itu. Misal, kayak saya, rasanya di awal 2019 lalu sudah dengan rapi menyusun wish list. Sayangnya, targetan-targetan yang saya buat hasilnya nggak optimal. Analisis saya karena terlalu banyak yang saya pengenin, nggak fokus, akhirnya nggak kekejar semua. Setelah menyesal, lalu sadar, langkah berikutnya adalah memperbaiki wish list dan plan, sembari berdo'a supaya semua berjalan lancar dan diri kita bisa menjadi pribadi yang disiplin dalam keseharian.

Disiplin, strong word yang meski jadul, kalau disepelekan bisa bikin hidup berantakan.

Kayak sholat 5 waktu, kalau nggak disiplin ngelaksanain, akibatnya? Dosa.

Duh, ngomongin dosa, apalah saya yang menggunung dosanya.

Kamis, 14 November 2019

Belajar Parenting dari Orang Denmark: Review Buku The Danish Way of Parenting


Membaca buku parenting menjadi penyemangat tersendiri buat saya. Selain juga ngademin hati saat lagi sering-seringnya marah atau kesal karena tingkah polah anak 2 tahun yang sedang heboh-hebohnya.

Menjadi motivasi diri juga bahwa sebagai IRT, Stay at Home Mom, atau apapun itu lah namanya, dengan kemauan belajar soal parenting, saya bisa jadi seseorang yang berguna dan dibutuhkan. Lebih jauh lagi, saya juga terdorong untuk menjadi orang tua yang berkualitas. Nggak cuma jadi orang tua yang melahirkan anak secara biologis, tapi ada ideologi yang juga saya lahirkan ke anak.

Halah, muluk amat yak. Emang harus begini biar kepercayaan diri meningkat! (Ups, buat diri saya aja ini, wkwkwk).

Suatu hari, teman saya update status Whatsapp dengan jepretan foto rak buku yang penuh. Di antara buku-buku miliknya, ada buku, The Danish Way of Parenting. 

Sering saya lihat ibu-ibu muda mengutip teori parenting dari buku ini. Membuat saya tertarik membaca, tapi belum kesampaian, hingga saat teman saya update status dan membolehkan saya meminjam buku tersebut.

Kesepakatan awal saya diberi waktu sebulan untuk menyelesaikan dua buku. Ternyata, dalam kurun waktu yang disepakati, saya cuma bisa baca satu buku!

Leletnya saya dalam membaca karena banyak distraksi gadget dan ngantuk! Padahal menurut saya buku ini cukup tipis, bahasanya pun nggak terlalu berat, meskipun beberapa terjemahan menurut saya cukup ganjil alias aneh, tapi nggak mengganggu esensi yang ingin disampaikan Jessica dan Iben.




Menariknya


Menariknya buku ini adalah sudut pandang yang dipakai untuk menjelaskan teori yang kadang bikin kening berkerut. Memosisikan sang penulis, Jessica dan Iben, layaknya teman sesama orang tua. Meskipun mereka pakar, tapi kebahasaan yang dimunculkan membuat saya pribadi merasa dekat dengan Jessica dan Iben layaknya teman sekomunitas. Padahal, ya, mereka nun jauh di sana.

Kedua penulis yang bersinggungan dekat dengan keluarga Denmark, membuat saya merasa bahwa teori bahagia ala orang Denmark yang dimunculkan dalam buku bukan omong kosong belaka, melainkan sesuatu yang penulis rasakan dan jalankan sendiri.

Buku ini salah satu buku parenting yang jenius, sebab bisa menyentuh kebutuhan orang tua masa kini. Bahwa anak yang dilahirkan sebagai generasi Alfa, tidak akan dididik dengan cara dibentak atau dipukul dengan sapu. Harus ada terobosan baru untuk mengubah cara mendidik jaman baheula, agar generasi Alfa jauh lebih baik dari generasi yang ada saat ini.

Pemakaian standar bahagia dalam buku ini menjadi hal yang sangat menarik. Ukuran anak yang pintar, cantik atau ganteng, tinggi, kaya, dan yang sejenisnya mungkin tidak akan menjadi standar yang berarti di masa depan. Tetapi, bahagia? 

Jessica dan Iben menunjukkan bahwa standar bahagia orang Denmark berefek positif. Baik untuk tumbuh kembang anak, maupun untuk memajukan sebuah negara. Maka nggak heran kalau dalam salah satu bab diceritakan, ada profesor di India yang hendak menyebarluaskan teori parenting ala orang Denmark ini.

Baca Ini Juga Yuk: Wanita (Harus) Bekerja?


How to


Menjadikan anak kita sebagai anak yang bahagia tentu bukan proses yang instan. Lewat teori yang disingkat menjadi PARENT. Jessica dan Iben menjelaskan cara-cara taktis yang bisa menjadi panduan. 

Apa itu PARENT?
Play
Autentisitas
Reframing (Memaknai Ulang)
Empati
No Ultimatum (Tanpa Ultimatum)
Togetherness and Hygge (Kebersamaan dan Kenyamanan)

Cara yang dijelaskan dalam buku menurut saya cukup aplikatif. Meskipun mungkin saat sekilas membaca terbersit dalam hati, 'Duh, bisa nggak, ya,' Antara meragukan diri sendiri dan nggak yakin bisa mengkondisikan anak.

Misal dalam kasus saya, saat ingin menerapkan No Ultimatum alias Tanpa Ultimatum. Itu praktiknya harus putar otak banget. Mungkin karena ketika ingin memberi peringatan ke anak sudah telanjur terbiasa menggunakan redaksi kata, Jangan! Ketika mau mengubahnya, beneran yang harus mikir supaya kata itu menjadi sebuah kalimat yang reasonable.

Buku ini menantang saya pribadi untuk menjadi orang tua yang mau berpikir dan mau berubah. 

Beberapa kali saya mendapatkan quote, sebenarnya ketika kita mendidik anak, kita mendidik diri sendiri, itu benar adanya.

Belajar parenting salah satunya lewat buku ini, membuat saya ikut belajar lagi akan hal-hal yang sebelumnya sifatnya insting atau warisan orang tua terdahulu.

Sangat saya rekomendasikan bagi ayah, ibu, maupun calon-calon ayah-ibu, untuk membaca dan mengoleksi buku ini.

Ngomong-ngomong, ada yang sudah baca? Gimana pendapatnya setelah membaca The Danish Way of Parenting?



Judul Buku : The Danish Way of Parenting
Karya: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl
Penerjemah: Ade Kumalasari dan Yusa Tripeni
Penerbit: PT Bentang Pustaka (Mizan Media Utama)
Jumlah Halaman: 184 halaman
Harga: Rp 59.000 (via Mizanstore)

Selasa, 12 November 2019

Rahasia Tulisan Menarik Pemenang Lomba




Satu hal yang nggak absen ketika saya kalah atau batal ikut lomba nulis adalah kepo dengan tulisan peserta yang menang.

Hasil kepo tersebut biasanya menghasilkan pendapat, 'Ooo, pantes, menang. Tulisannya berbobot gini. Out of the box pula.' 

Yang tadinya, misal kesel gara-gara nggak menang, berubah tertarik dan kagum, karena tulisannya sebagus itu.

Nah, menurut saya, ada 4 poin alasan mengapa tulisan pemenang lomba mengagumkan dan 'nggak cuma' mengandung iklan.

1) Mengaitkan dengan Kehidupan Sehari-hari

Kalau melihat tema-tema lomba menulis yang dimunculkan, sekali lihat saya sering mikir kalau temanya formal, nggak menarik, etc, etc. Padahal sebenarnya itu suudzonnya saya aja. Menarik atau nggak tergantung sudut pandang dan kreativitas penulis meramu tulisan. Seberat apapun temanya, kalau misal, dikaitkan dengan kejadian yang sehari-hari kita alami, akan menimbulkan kedekatan dengan pembaca alias bikin related ketika ngebacanya.

2) Ide dan Gagasan

Ini menurut saya jadi poin penting dan nilai jual. Bahwasanya seseorang itu nulis nggak cuma bercerita, tapi juga memunculkan inspirasi akan suatu hal. Sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain, atau mungkin dipikirkan, tapi tidak tersampaikan, haruslah dimunculkan.

Baca Ini Juga Yuk: Babywearing: Gendong-Menggendong, Emang Penting?


3) Memberikan Informasi Penting dan Menarik

Memang nggak mudah sih ngulik informasi yang nggak umum. Berhubungan banget sama pengetahuan dan kualitas baca pribadi. Tentu butuh effort juga untuk nyari-nyari info yang penting, tapi unik dan perlu banget diketahui pembaca. Ini juga poin penting kedua yang bikin saya pribadi ter'wow' dengan sebuah tulisan. Mengingatkan saya akan tulisan-tulisan ustadz Salim A. Fillah yang seringkali memunculkan kisah-kisah sejarah yang jarang banget diketahui orang banyak.

4)Meletakkan Peran

Setelah nulis panjang lebar, bagian ternampolnya adalah dimana kita menempatkan peran. Istilahnya memastikan pembaca bahwa kita nggak omdo alias omong doang. Apapun ide yang kita tuliskan, kita juga ikut ambil andil menjalankannya. Sepertinya, pembaca bakal tersentuh kalau peran yang hendak kita ambil itu nggak usah yang muluk-muluk, yang simpel aja dan balik lagi, dekat dengan aktivitas kita sehari-hari.

At last, semua poin-poin di atas nggak akan menjadi penting ketika saya masih ragu dan maju mundur saat akan ikut kompetisi menulis. Padahal itu intinya! Terus dan terus, lagi dan lagi, menulis dan kompetisikan. Nanti insya Allah ada rezekinya menang :)

Kalau kalian tim seneng ikutan lomba nulis atau yang penting produktif ngisi blog aja deh?

Rabu, 16 Oktober 2019

Curhatan Pengen Liburan dan Darimana Uangnya?


Mulai oleng beberapa waktu ini karena kerjaan ngurus rumah berasa monoton dan dikerjain kayak robot. Hari ini mau ngerjain A B C D E. Habis ngerjain A lanjut B lanjut C lanjut D dan terus aja. Di satu sisi bangga karena semua terjadwal. Tapi, di sisi lain, jemunya oh. Setelah mikir-mikir, wajar kalau merasa begitu, karena jatah menyendiri amat kurang.



Menyendiri alias me time buat saya nggak cuma jadi hiburan semata. Tapi, juga sebagai waktu jeda biar lebih refresh dari segala rutinitas. Apalagi buat ibu-ibu di rumah, yang ketemunya tempat cuci piring, cuci baju, dapur, kasur, ruang main anak, begitu terus. 

Kalau mau jahat (ea!) ngebandingin sama yang kerja, rada bisa ngakalin, misal bosen makan siang sama geng nasi padang, bisa ganti soto betawi, atau bakmie jakarta. Serius ini nggak apple to apple sih ngebandinginnya, LOL. Intinya, ibu rumah tangga maupun yang bekerja sama-sama rentan bosan. Tinggal kreativitas masing-masing nemuin cara ngatasin kebosanan itu. Nah, buat saya, liburan atau rihlah bisa jadi salah satu momen buat ngatasin kebosanan. (Dari me time ke liburan, anggap saja nyambung).

Baca Ini Juga: Menikmati Siang


Nggak ada jangka waktu ideal, kapan kita harus liburan. Menyesuaikan budget aja lah salah satu pertimbangan saya. Kalau ada budget 3 bulan sekali, alhamdulillah. Kalau adanya setahun sekali sekalian momen lebaran, bersyukur aja masih bisa liburan. Mikirnya kalau maksain liburan, tapi nggak sesuai budget malah nambah beban pikiran setelah liburan.

Pos keuangan anggaran liburan gini darimana? Duh, lupa baca di blog atau ig mba Windi Teguh atau Annisast. Cuma seinget saya, duit liburan itu sebaiknya direncanakan. Jadi, liburan itu bukan sesuatu yang dilakukan mendadak. Tapi, udah direncanakan dari jauh-jauh hari. Atau kalau memang yang pegawai dapat jatah uang cuti, bisa memanfaatkan bonus tersebut. Baru inget, ada juga lomba blog yang hadiahnya tiket PP destinasi suatu negara atau kota.

Gimana Cara Menyusun Anggaran Liburan?


Seinget saya dan ditambah improvisasi;

1)Tentukan destinasi tempat liburan
2)Bakal ke sana naik apa (Bakal pake jalur udara atau laut atau darat)
3)Bikin itinerary (Supaya tahu biaya-biaya semacam tiket tempat wisata, dan yang sejenis)
4)Bakal nginep dimana dan berapa hari
5)Biaya makan (Harus dilebihin budgetnya kalau liburannya buat wisata kuliner)
6)Biaya transportasi selama di tempat tujuan
7)Biaya oleh-oleh (Ini nomor terakhir. Prioritaskan kebahagiaan kita dahulu)

Setelah list item itu disusun, bagi deh dengan jangka waktu kapan kita bakal berangkat liburan, supaya ketemu jumlah yang harus kita tabung sampai menuju waktu liburan. Eh, tapi, kalau liburannya pakai jalur udara alias naik pesawat, better beli tiket duluan. Jadi, mungkin harus prioritaskan uang buat beli tiketnya. Betul nggak?

Misal total budget/anggaran liburan sebesar 5 juta rupiah. Kita pengen liburan di awal tahun 2020, asumsi pakai jalur darat. Kalau sekarang bulan Oktober, berarti ada November dan Desember buat menabung. Masing-masing bulan menyisihkan 2.5 juta. Tiap hari menyisihkan sekitar 83 ribu rupiah. Lumayan berat buat saya nyisihin segitu setiap hari. Misal saya setiap hari cuma bisa menyisihkan 10 ribu rupiah, berarti saya baru bisa liburan 1 tahun 4 bulan lagi. Nggak apa-apa lah. 

Kata Arai di Sang Pemimpi, 'Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.' Sambil banyakin do'a, karena hanya do'a yang mampu mengubah takdir. Mungkin hitung-hitungan manusia, dengan menyisihkan 10 ribu, saya baru bisa tahun depan dan tahun depannya lagi bakal liburan, tapi dengan kuasa Allah, siapa yang tahu, kan? Duh, pengen liburan detected.

Merasa butuh liburan karena dua hal.

Pengen lepas dari rutinitas di rumah, dan,


Pengen 'berdiam' sejenak

Sambil coret-coret lagi target yang udah dibuat dan bikin evaluasi. Kira-kira masih relevan nggak targetan atau cita-cita tersebut. Pengen bikin map langkah-langkah taktis hasil buah pikiran yang memenuhi kepala. Hal yang kayak gini, saya merasa nggak bisa ngerjain di rumah, karena kalau di rumah itu hawanya mikirin masak lagi, nyuci lagi, dan seterusnya. Intinya emang pengen liburan yang jauh dari rumah.

Ada yang pernah ngerasain kayak begini? Ku harus gimana kalau belum bisa liburan?

Pinterest
NB. Hasil googling singkat, ternyata mikirin planning liburan aja udah bisa bikin bahagia. Wah-wah, sungguh bahagia itu sederhana.