Selasa, 13 Februari 2018

Drama Gawai di Tempat Penitipan Anak

Lusa yang lalu saya dan suami mendapatkan undangan untuk hadir di sebuah acara formal.

Begitu saya datang untuk mengisi presensi, petugas memberi tahu bahwa dilarang membawa anak ke dalam ruangan.

Cepat saja kami memutuskan untuk bergantian mengikuti acara. Giliran pertama yang mengikuti acara adalah suami. Sedangkan saya memilih melihat dulu kondisi tempat penitipan anak yang ditunjukkan oleh petugas registrasi, supaya saya tetap bisa mengikuti acara bersama suami.

Ternyata saat di tpa (tempat penitipan anak), suasananya sudah sangat ramai. Anak-anak yang sudah besar, mungkin usia sekolah dasar, ada yang sibuk bermain gawai, ada yang sibuk mewarnai. Kebanyakan balita mewarnai dan bermain balon.

Saya dengar dari salah satu teman yang juga berada di situ, hanya ada empat orang pengasuh, yang dua orang sedang menggendong bayi, yang satu mengawasi batita yang aktif-aktifnya kesana kemari, yang satu lagi bermain sambil mengawasi anak-anak yang lain.

Ah, saya jadi tidak tega meninggalkan anak saya, karena suasana sudah riuh sekali.

Saya akhirnya tidak jadi menitipkan anak saya dan batal menyusul suami.

Ada satu kejadian menarik selama saya berada di tpa.

Saat saya sedang menyusui anak saya, salah seorang pengasuh sedang mencari kotak pensil warna yang kebetulan ada di kolong meja yang tidak jauh dari tempat saya duduk. Karena saya sedang dalam posisi menyusui, jadi saya kesulitan untuk meraih kotak pensil warna itu. Lalu saya pun meminta tolong dua anak lain yang sedang sibuk dengan gawainya. Mereka sedang lesehan dekat meja tempat kotak pensil warna itu berada.

"Kak, amah (bibi) minta tolong dong, itu pensil warnanya dikasih ke amah yang disana." Kata saya pada dua anak itu.

Mereka berdua hanya melirik sekilas pada kotak pensil warna yang ada di dekat mereka itu lalu melihat ke arah saya. Tapi, tidak melakukan apa-apa. Mereka kembali sibuk dengan permainan di gawai.

Reaksi yang membuat saya kaget.

Saya tidak menyerah.

"Kak, ayo ditolongin itu amahnya lagi nyariin pensil warnanya." Kataku lagi.

Mereka berdua saling pandang, tapi tetap melanjutkan kesibukan dengan gawainya.

"Lho, kak, kok enggak mau ngambilin," kataku lagi.

Saat itu salah satu petugas tpa mendekati kami lalu tersenyum kecut pada saya melihat kelakuan dua anak itu.

Akhirnya, saya memanggil salah satu anak perempuan yang saya kenal dan meminta tolong untuk mengambilkan kotak pensil warna itu. Alhamdulillah, anak itu dengan cekatan memahami instruksi saya dan mau menolong.

Sementara dua anak yang tadi masih sibuk dengan permainan di gawainya.

Setelah mengalami kejadian ini, saya semakin khawatir efek gawai untuk anak-anak kita.



#ODOPbatch5
#Onedayonepost

Reactions:

1 komentar: