SOCIAL MEDIA

Kamis, 29 Agustus 2019

Blue Valentine: Marriage 101

Menonton film Blue Valentine yang dibintangi Ryan Gosling sebagai Dean dan Michelle Wiliams sebagai Cindy membuat saya memaknai kembali perjalanan pernikahan.

Rasanya pernikahan saya masih seumur jagung. Tapi, saya sadari sudah banyak sekali mengeluhnya. Padahal jika masih diberi umur, mungkin ujian yang saya dan suami hadapi belum seberapa.



Short Review

Saat Cindy bertengkar hebat dengan Dean, lalu Dean meminta pengertian Cindy untuk memahami 'the worst part of him' saya merasa tertegun. Sudahkah saya siap ketika harus menghadapi 'the worst part of my husband'? As we know, kita semua manusia yang pasti melakukan kesalahan.

Hubungan manis Cindy dan Dean sebelum menikah yang menjadi flashback dalam film ini membuat saya berpikir tentang up and down sebuah hubungan. 

Ketika hubungan kita dengan pasangan sedang dalam titik terendah, bisakah kita mengingat indahnya hubungan kita di masa lalu?



Saya terharu terhadap kegigihan Dean mempertahankan rumah tangganya. Bagaimana dia tidak segan mengemis maaf dari Cindy, lalu betapa carenya dia terhadap Frankie (putri mereka). 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga broken home, Dean tidak mau Frankie mengalami hal yang sama. Sungguh manis. Mengingat sekarang ini perceraian dianggap sebagai sesuatu yang biasa dilakukan. Padahal meskipun itu hal yang wajar terjadi, bukankah kita masih bisa mengusahakan perbaikan? I don't know. Mungkin sekarang saya bisa berkata seperti ini. Who knows? Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga saya. Aamiin.

Maka, saya sangat bersyukur karena dalam Islam pemutus perceraian adalah suami. Mengingat nature saya sebagai wanita (in case my personality) sangat mudah terbawa perasaan dan mungkin sulit berpikir panjang saat menghadapi masalah.

Komentar dan Refleksi

Of course the star in this movie is Ryan Gosling! Pernyataan-pernyataannya dalam film banyak yang menyadarkan saya.

Bagaimana Dean sebenarnya punya banyak keterampilan, berbakat dll, tapi dia memilih untuk kerja serabutan.

Bagaimana dia tidak menginginkan menjadi suami dan ayah. Tetapi, ketika takdir menggariskan dia untuk menjalani peran itu, he try his best.

Betapa bangganya Dean bisa fokus menjadi suami dan ayah tanpa perlu merumitkan masalah pekerjaan. Istilah sadisnya, buat apa sih kerja kalau malah kita nggak bisa menikmati waktu bersama anak dan istri. Duh, lupa detail kalimatnya Dean, yang jelas nampol banget pas scene dia ngucapin kalimat itu.

Salah satu masalah yang disorot di film ini, ketika Dean seperti tidak melakukan apa-apa untuk keluarganya (mungkin karena Dean nggak bekerja seperti umumnya para suami), lantas Dean pun mengalami kehilangan orientasi.

Baca Juga: Remember Me


Ah, sungguh menjadi tamparan ketika seorang pria seperti ini. All out menjadi ayah dan suami.

This movie strikes me in two important things in my life. Becoming good mother and wife as it should be.

Oh ya, dan satu lagi, betapa kadang para istri butuh liburan berdua dengan suami untuk kembali menyatukan hati dan mengingatkan bahwa dulu kita pernah hidup kasmaran nan penuh cinta. LOL. So cheesy.

Semoga bermanfaat!

Sampe nangis dong si Ryan Gosling!



Ps. Filmnya rating dewasa, jadi tontonlah dalam kondisi steril dari anak-anak. Film Hollywood emang begitu, valuenya udah oke, tapi tetep muatan sexnya terlalu vulgar, duh.

Rabu, 21 Agustus 2019

Survei Daycare di Bandar Lampung: Ibu yang Sedih, Lho, Nak!

Beberapa pekan yang lalu saya dan suami disibukkan dengan aktivitas mencari-cari daycare untuk anak saya.

Kok dititipin? Mau kerja lagi? 

Itu pertanyaan yang muncul, saat memberitahu bahwa saya sedang hunting daycare.

Jawabannya, mau kerja lagi, tapi remote dari rumah, alias mau nyeriusin nge-blog dan memburu job-job menulis yang lain. Terus juga butuh sehari yang bisa ninggalin anak karena ada aktivitas yang harus dilakukan mobile di luar rumah. Oleh suami sudah diizinkan, beliau juga menemani survei ke beberapa daycare tersebut. 

Padahal nih, niatnya menitipkan anak kami sehari saja. Nggak yang all day long in a month. Ternyata, syarat menitipkan sehari doang ini rada tricky di beberapa daycare, karena mereka prefer anak yang dititipkan continue, bukan yang temporal kayak saya begini.

Menitipkan yang harian begini dengan effort saya dan suami menyurvei satu per satu, rada lebay sepertinya. Cuma, nggak berani juga buat nggak menyurvei daycare yang dituju.

Berangkat dari situ, akhirnya saya dan suami beneran yang berkunjung satu per satu, ngelihat kondisi daycarenya, nanya-nanya aktivitas, biaya, dan sebagainya.


Hal mengejutkan dan tidak disangkanya adalah perasaan saya yang tiba-tiba mellow saat proses survei.

Halo, buibu? Ngerasain hal yang sama nggak sih?

Nggak nyangka saat menyusuri daycare demi daycare, yang muncul adalah perasaan sedih dan lebih ke nggak rela, anak saya bakal seharian sama orang lain (yang bukan suami atau orangtua saya atau kerabat dekat).

Padahal sebelum survei, di rumah saya yang semangat banget. Mikirnya, finally, seharian bisa me time ngerjain kerjaan, dst, dst. (Lho, weekend nggak bisa begitu? Answer: Nggak samsek! Weekend ibu-ibu mah, rasa weekeday. Occasionally aja bisa me time di weekend, cuma kok lelah amat weekend-weekend juga mikirin kerjaan).

Semangat itu terkikis sedikit demi sedikit seiring perjalanan saya berkunjung dari satu daycare ke daycare yang lain.

Hilang semangat yang berujung rasa nggak rela.

Akhirnya, batal dong nitipin anak saya ke daycare.

Alasannya, tentu saja daycare-daycare tersebut nggak memenuhi ekspektasi saya selayaknya sebuah badan yang akan mengasuh anak saya selama seharian.

Apa banget, ya, padahal cuma buat seharian doang. Tapi, gimana, dong, kayak yang berat gitu, saat mendapati zonk demi zonk realita di daycare.


Salah saya juga, sih, harusnya sebelum berkunjung, saya mengosongkan gelas terlebih dahulu. Sampai di rumah, baru evaluasi semuanya.

Hal yang terjadi, begitu masuk dan melihat satu dua hal yang kurang sreg, langsung asal coret dalam hati. Hilang niat buat menitipkan anak disitu.

Belum sharing dengan buibu yang lain, sih, apalagi sama mereka yang rutin menitipkan anak di daycare tersebut. 

Kadang kepikir (jahat), kok nitipin anaknya disitu, padahal kan begini dan begitu. Duh, sayanya aja yang rese' nih, karena mungkin standar daycare saya terlalu utopis untuk daycare-daycare yang saya survei kemarin. Atau mungkin saya harus punya daycare sendiri, supaya memenuhi ekspektasi pribadi? Boleh lah, dimasukkan ke wishlist.

Reaksi Aliyya, anak saya, bukan yang ogah-ogah amat. Bisa dimaklumi, awal-awal menginjakkan kaki di daycare langsung nemplok ke saya atau ayahnya. Ngobrol sama ibu pengurus daycare, katanya wajar kayak gitu. Beberapa anak pas awal ikut daycare juga tidak rela berpisah dengan emaknya, nangis, dsb, dsb. Bagian itu tidak terlalu khawatir, meskipun deg-degan juga ngebayanginnya.

Deg-degan berakhir lega karena untuk saat ini belum jadi menitipkan Aliyya ke daycare.

Selasa, 13 Agustus 2019

Nonton Bioskop yang Menjadi Kemewahan

Sebuah kemewahan. Itu yang nyampe di otak saya sewaktu suami mengizinkan me time nonton bioskop.

Secara tiket bioskop di weekend itu tidak murah sama sekali. Kalau dihitung-hitung, harga tiketnya setara bisa nyetok US beef slice satu pack (kurang dikit lah) atau ayam potong 2 ekor (ditinggal kepala kaki) atau ayam kampung seekor yang kecil. Sungguh rumit pemikiran ibu-ibu.



Sampai akhirnya bisa beneran masuk ke teater bioskop, nonton film dengan tenang tanpa kepikiran yang lain-lain, hingga ending nyimak keseluruhan film sampai bisa mengambil hikmah, beneran deh itu me time yang berharga banget.

Berharga buat saya yang suka nonton film (di bioskop). Kalau yang enggak suka, ya, mungkin mikirnya buat apalah bela-belain nonton di bioskop, toh, nanti keluar juga bajakan yang bisa didownload gratis. 

Hahahahaha. Sepakat sih kalau filmnya bukan film favorit saya. Tapi, kalau filmnya saya tunggu-tunggu banget, dan enggak sekadar pengen dapat efek sound atau visual yang ciamik, nonton bioskop itu bentuk solidaritas sebagai pekerja seni. Meski mungkin sang pekerja seni juga duitnya bukan dari tiket bioskop doang. Wkwkwk cari alasan pemberat banget nih biar tetep kuat alasan nonton bioskopnya.

Seperti banyak hal lainnya. Sesuatu yang sifatnya hiburan, trivia, dan sejenisnya, buat saya jadi privilege ketika benar-benar bisa dilakukan seorang ibu. Karena kadang pas lagi sibuk-sibuknya ngurusin rumah dan anak, ngebayangin bisa me time yang menghibur itu sungguh sempet-sempetnya. Apalagi sampe bisa terealisasi tanpa babibu atau mikir terlalu jauh. Panjang kali lebar deh kalau mau me time lebih dari 2 jam dan lokasinya lumayan berjarak dari rumah.

Kayak yang berat banget mau me time keluar rumah, apalagi yang dilakukan adalah nonton bioskop!

Kan dulu imej nonton bioskop masih negatif tuh. Beda di zaman sekarang, yang bioskop pun memutar film yang sarat hikmah.

Sayangnya, kadang film yang bagus, malah sepi penonton akibat penikmat film enggak ngerasa urgent untuk nonton film tersebut di bioskop.

Wkwkwk, ya, apa urgentnya sih ya. Selain sebagai hiburan (dan syiar) sebenarnya, eh.


Kadang, saking pengennya nonton, dan mikir kalau suami pun mungkin punya keinginan yang sama buat nonton bioskop, ada aja ide buat gantian jaga anak, terus gantian pula nonton bioskopnya. Saking pula menghindari anak terpapar bioskop di usia dini.

Tapi, akhirnya sampai sekarang belum terlaksana karena enggak tega sama anak, dan merasa belum ada film yang worth it dibela-belain sebegitu rupa.

Makin ribet mikirnya, karena suami cuma senggang di weekend yang seperti saya sebutkan di paragraf awal, harga tiket yang mahal menurut anggaran kami.

So, kata buibu, mewah enggak sih sebagai orangtua bisa nonton bioskop tanpa hambatan berarti?

Rabu, 07 Agustus 2019

Tertarik Rumput Tetangga


Terlalu banyak dan sering melihat teman-teman, malah jadi bingung sendiri dengan apa yang sebenarnya jadi target saya.


Lihat teman seorang ibu beranak satu yang dapet beasiswa S2 ke LN langsung latah kepengen. Padahal kalau nanya ke diri sendiri dengan pertanyaan sesimpel buat apa S2? Jawabannya gagu dan gamang.

Simpel sih kadang pengen jawabnya. Pengen cari ilmu aja. Pengen jadi orang yang berpengetahuan. Pengen otak terus terasah. Duh. Emang siap ntar kembali ke masa-masa dikejar deadline tesis, endebre-endebre, yang pas ngerjain skripsi aja udah bikin ngebul dan hampir nyerah? Kayaknya bagian itu pengen diskip aja. Cuma pengen bagian belajar dan nambah ilmunya deh beneran.

Jawaban kayak gitu bakal dicecar sama suami.

Kalau cuma itu alasan kepengennya, nggak usah S2 pun bisa. Cari ilmu sekarang nggak harus sesaklek itu jalurnya. Kecuali kalau memang mau jadi akademisi. Mau menyalurkan ilmu sampai ke penerapan praktis. Maybe pursue the master degree is that worth. Tapi, kalau alasannya masih dangkal, masih berhias-hias, S2 kan keren, apalagi buat ibu-ibu muda. Berasa mevvah gitu.

Okay, then, coret deh itu keinginan S2.


Selanjutnya pengen jadi pebisnis.

Ya, zaman now gitu loh. Emak-emak mana yang tak punya sambilan jualan selain momong anak. Segitu kasarnya kali ya pemikiran hamba. Tapi, emang sedahsyat itu gelombang quotasi, pintu terbanyak pembuka rezeki adalah dari berdagang. Ditambah panggilan menggema dari seluruh penjuru untuk emak-emak kembali ke rumah, memprioritaskan mendidik anak sendiri daripada bekerja siklus 8-17. Memang enggak semua terpanggil sih. Masing-masing punya pilihan. Pos-pos seperti dokter kandungan, perawat, dan masih banyak lagi juga enggak mungkin ditinggalkan.

Satu yang jelas, karib sesama ibu banyak banget yang punya bisnisan. Setiap update status yang muncul, apalagi dengan nada hard selling seolah memberi tantangan, 'Ayo, dia aja jualan loh. Masa' kamu enggak mau nyobain?'

Duh. Udah pernah nyobain sih. Tapi, jiwa pedagang saya beneran tumpul dan mungkin nyaris mati.

Sebenarnya bisa-bisa aja sih jualan. Tapi, yang enggak sepassionate itu loh. Seneng aja nyariin barang orang yang butuh, terus ambil untung tipis-tipis. Tapi, kalo soal pasang iklan barang dagangan, kebanyakan mikirnya. Padahal kan iklan itu nyawanya orang jualan. Betul kan?

Jadi penulis!

Duh. Saya tuh suka banget nulis (kalau lagi rajin!). Kalau malesnya kumat ya begitu. Dianggurin aja media-media untuk menulis yang bejibun.

Ditambah lagi nowadays, semua orang bisa menulis. Siapapun, dengan kualitas tulisan bagaimanapun, semua orang bisa menjadi penulis dan pasti menemukan target pembacanya masing-masing.

Ketahuan banget kan pengen jadi penulis yang spesial?

Iya! Karena kadang sedih aja kalau membaca tulisan sendiri yang sungguh sangat mainstream. Apalagi kalau yang ditulis adalah kengacoan tiada manfaat. Makin putus asa.

Padahal di dunia ini tidak ada yang sia-sia kan ya?

Selanjutnya, jadi ibu rumah tangga yang membersamai anaknya dengan penuh suka cita dan ide-ide kreatif untuk stimulasi otak anak demi masa depan yang cerah ceria.

Pengen banget bisa kayak gini.

Tapi, yang terjadi cuma semangat saat anak bayi <12 bulan. Setelah itu, bebaskeun aja lah mau main apa. Karena stok ide dan semangat ibu buat jadi teman main yang baik dan berkualitas sungguh jatuh ke jurang keputusasaan.

Kadang juga saya masih terombang-ambing, merasa bahwa dunia per-stay at home mom-an ini sungguh melunturkan jati diri saya.

So what?

Tentu saja masih meniti satu demi satu yang bakal dijadikan fokus tujuan. Karena akhirnya menyerah pada prinsip, 'Keep doing, keep going with everthing that have good values'. Apapunlah kerjain aja asal membawa lebih dekat ke surga.

That's it.

Minggu, 04 Agustus 2019

Antologi Rasa: Review Novel (First Time Reading Ika Natassa's)

Akhirnya nyemplung juga ngikutin arus baca novel kekinian. Gara- gara bingung, pengen baca novel, tapi enggak nemu novel yang enak dibaca.

Tiba-tiba keinget Ika Natassa. Ngintip salah satu teaser novelnya di Storial dan ngerasa wow! Tulisannya sungguh layak dibaca.


Cusss nyari Antologi Rasa (karena novel yang free ebooknya mudah dicari). Ampuni hamba ya Allah karena masih mendukung pembajakan. Baca baru satu bab dan ngerasa dunia yang jadi setting ceritanya, enggak saya banget. LOL.

Meskipun cerita kehidupan bankersnya enggak asing, secara itu kerjaan sehari-hari suami saya. Sebelas dua belas lah meski suami kerja di perbankan syariah, karena sama-sama bankers.

Gaya bahasanya yang mix bahasa inggris (dan latin buat judul-judul bab), terasa mendidik pembaca untuk paham dan cas cis cus ngerti bahasa Inggris juga. Sebab bahasa Inggris yang dipake penulis bukan yang sepotong-potong doang, melainkan yang beneran dipake percakapan keseharian orang dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Cocoklah kalau novel ini jadi favorit milenial yang ngomongnya campur aduk bahasa Inggris, ala anak-anak Jaksel dan BSD.

Meskipun topik ceritanya klasik banget (love story, of course!), tapi luasnya pengetahuan dan pergaulan sang penulis, bikin saya betah membaca novel ini.

Cerita cinta saling silang (meminjam istilah Dee) dan persahabatan Keara, Harris, Ruly, dan Denise, bikin saya tersihir dengan magic penulis mengemas kisah romantis kaum urban. Bikin saya realize bahwa, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Only God knows.

Berkorelasi sekali dengan yang sedang yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Ketika saya sedang mengejar-ngejar sesuatu yang sifatnya duniawi, lalu saya berhasil mendapatkannya, somehow saya malah ngerasa hollow, kosong, dan kehilangan makna. Jeleknya manusia ya, so greedy. Jadi, sebenernya maunya apa? Ini kejadian sama Keara yang finally (spoiler) enggak lagi bertepuk sebelah tangan, padahal udah lebih dari 3 tahun memendam rasa.

Kalau berhak menilai, novel pertama Ika Natassa yang saya baca ini saya kasih skor 8/10. 

Saya beneran baca novel ini sepenuh hati loh. Enggak screening. Di sela-sela kesibukan saya sebagai emak-emak, saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu 3 hari, dengan durasi waktu membaca per harinya 2-3 jam. Sungguh saya sangat bangga terhadap diri saya sendiri. LOL.

Penggambaran karakter tokoh dalam Antologi Rasa sangat menarik karena menurut saya memanusiakan manusia. Meskipun saya belum pernah berkenalan dekat dengan personal seperti Keara dan tokoh-tokoh lain, yang jelas, lingkar pergaulan mereka banyak membuat saya tercengang. Minum wine dan bir kayak minum air mineral, pergi ke bar dibahasakan senormal jalan-jalan ke mall, belum lagi sex life yang diceritakan udah kayak di luar negeri sana. Oh my, saya beneran mainnya kurang jauh deh karena masih 'kaget' dengan hal-hal seperti ini.

Beberapa hal yang mengganggu dalam novel ini salah satunya adalah bahasa asing yang menurut saya porsinya cukup banyak. Meskipun sangat dimaklumi karena tokoh-tokohnya berlatar pendidikan luar negeri, Boston dan New York. Jadi, mungkin sayanya yang perlu meng-upgrade literasi berbahasa asing.

Ending novel juga saya rasakan seperti terburu-buru. Pas udah sampe di halaman-halaman akhir saya malah sedikit shocked karena berpikir, 'Lah endingnya gini doang?'. Penggambaran cerita yang solid di awal rasanya kurang nendang dengan penutupan seperti itu.



Membaca novel ini selain bikin saya semangat untuk menulis, juga bikin saya nyadar, 'Selama ini kemana aja?!' Novel yang sudah hits dari 8 tahun lalu, baru saya baca sekarang. Tapi, enggak apa-apalah, baru baca sekarang juga kena momennya, karena beberapa waktu yang lalu, adaptasi novel ke film layar lebarnya baru saja dirilis. Gimana komentar teman-teman yang sudah menonton?

Semoga bermanfaat.


Sumber gambar: Pinterest

Selasa, 19 Februari 2019

Ketika Gagal Menang Lomba Blog

Agak gimana gitu ya berani-beraninya nulis cerita tentang kegagalan menang lomba blog. Secara baru ikut blog competition bisa dihitung pakai sebelah tangan. Tapi, entah mengapa meskipun baru sedikit banget ikutan lombanya dan masih belum rezeki jadi pemenang, rasanya itu nyesek banget.

Padahal ya udah sering baca sharing bloger yang sering menang kompetisi bahwa mereka menang itu enggak yang 'mak bedunduk' atau 'ujug-ujug' menang gitu. Prosesnya panjang sebelum akhirnya menang.



Pun juga saya tahu benar loh alasan kenapa lagi-lagi tulisan saya kalah. Enggak sekadar tulisan saya jelek atau gimana.

Biar saya lega, udahlah saya mau share aja di blog, kenapa sih tulisan saya belum beruntung menjadi pemenang di beberapa lomba blog yang saya ikuti?

Pertanyaan yang saya batin sendiri dan terus saya jawab sendiri. LOL.

SKS (Sistem Kebut Semalam)
Kebiasaan super buruk seorang saya yang belum beres dari zaman dahulu kala. Hobi banget ngerjain sesuatu in last minute. Padahal saya udah bikin reminder lomba jauh-jauh hari. Ada yang 2 minggu sebelum bahkan ada yang sebulan sebelumnya. Tapi, ya, itu penyakitnya! Harus banget gitu ngerjain kebut-kebutan dengan deadline. Bisa loh padahal sebenernya ngerjain jauh-jauh hari. Entah mungkin adrenalin dan idenya belum match kalau ngerjain enggak kebut semalam. Hhh! Kesel lah sama diri sendiri. Hikmahnya, dengan begini saya jadi nemu ritme, bahwa kalau bikin tulisan buat lomba paling enggak saya harus nyicil 3 hari sebelum deadline. Itu tulisannya doang loh. Belum informasi visual pendukung.

Minim informasi visual
Yes! Saya perhatikan bloger yang menang lomba itu informasi visualnya keren banget! Mungkin karena lagi in juga ya infografis yang instagramable untuk dishare. Nah, itu! Infografis yang ciamik menurut saya jadi bobot nilai yang besar buat jadi pemenang. Sayangnya, saya enggak rajin untuk bikin detail kayak gitu. Belum pernah nyoba sih. Tapi, ngebayangin proses kreatif bikinnya mungkin harus H-7 hari atau lebih, udah harus nyicil ngebikinnya.

Konsep tidak kuat
Sebenernya enggak masalah, kalau kita mau bikin tulisan yang dilombakan dengan ngebut semalaman. Cuma yang saya bayangkan, sistem kayak gitu bakal kelar dengan memuaskan kalau konsep tulisan dengan segala pelengkapnya sudah dipikirkan dengan matang super jauh hari sebelum deadline. Jadi, tiap hari menuju deadline tinggal nyicil sedikit demi sedikit, mepet hari pengumpulan ya, tinggal final touch aja. 

Bah! Nyerocos gini kayaknya gampang ya. LOL. Praktek memperbaiki dirinya nih yang penuh perjuangan. Enggak apalah, kegagalan yang sekarang bener-bener harus dijadiin pelajaran.

Satu lagi, kalau suami saya bilang, sebenernya yang penting dari keikutsertaan saya dalam lomba blog, bukan masalah menang atau kalahnya, tapi dorongan supaya saya lebih produktif dan semangat menulis. Itu yang seharusnya menjadi spirit.

Hm, tapi kan, ya, hadiah lomba blog itu sangat menggiurkan, pak.

Emang sih, kadang jeleknya saya, begitu beres nyelesein satu tulisan lomba, besoknya malah ngadat nulis karena tulisan untuk lomba itu biasanya menguras energi pikiran banget. Makanya, biasanya kayak yang butuh refreshing sejenak dari ngepost di blog. Padahal mah sebaliknya. Mengutip perkataan mbak Izzah Annisa, beres satu lomba mah, lupain, dan lanjut nulis lagi. Serupalah sama nasehat suami saya.

Hosh! Bismillah! Semoga makin semangat nulis dan latihan untuk ikut blog competition setelah ini.


Senin, 21 Januari 2019

Yakin Pengen Menikah?

Ada masanya saya begitu pengen menikah muda. Sampe dimana-mana kalau ditanya ada keinginan apa, langsung teringat, pengen nikah muda!

Sungguh naif sekali pada zamannya.

Hal yang dipikirkan cuma enak-enaknya menikah aja. Lebih terjaga, ada tempat curhat 24 jam, ada yang menafkahi, and so on. Keinginan yang cuma diisi pengetahuan indahnya menikah aja dan enggak diimbangi dengan wawasan tentang rentetan resiko dan kewajiban setelah menikah.

Ada kali 2 tahun-an yang saya terus berdo'a, 'Ya Allah, dekatkanlah jodoh hamba'. Lalu akhirnya tersadar karena ketemu sahabat-sahabat yang bisa diajak bertukar pikiran bahwa menikah enggak seindah itu lho. Ya, mungkin ada part indahnya, tapi enggak melulu indah.

Karena pengetahuan baru tersebut akhirnya redaksi do'anya berubah. Keinginan untuk menikah pun enggak semenggebu dahulu kala.

Jadi pelajaran penting bahwa menikah itu enggak sekadar kepengen doang. Triggernya bisa kepengen itu sih. Tapi, setelah kepengen itu harus diimbangi aksi untuk cari tahu seluk beluk kehidupan pernikahan. Sebagai insight diri kita sendiri. Beneran enggak kita kepengen nikah? Kepengen yang memang diri kita sudah siap dengan segala tanggungjawab yang menyertainya, atau kepengen karena baper ngelihat kebahagiaan pasangan muda halal kekinian?
To the wedding by Pinterest

Menikah itu enggak bahagia terus loh isinya.
Di surga kali itu yang isinya thok kebahagiaan. Karena dimensi pernikahan itu masih terjadi di alam dunia, harus siap kalau nanti ketemu saatnya perasaan kita berdarah-darah menahan pilunya ujian pernikahan. Sebabnya entah ujian dari luar kita dan pasangan, misalnya ngerasain enggak nyamannya diteror karena belum punya momongan, atau konflik internal dengan pasangan.

Harus belajar mengelola perasaan.
Ketika mengikrarkan diri siap menikah, harus siap mengurangi dan bahkan mengikis perasaan yang terlalu sensitif alias baper. Ada kalanya kita enggak perlu terlalu memikirkan sesuatu hal alias santai aja lah. Ada kalanya pula kita perlu merenung dan mendalami ketika akan membuat suatu keputusan. 

Contohnya nih, udah capek-capek masak sesorean, tapi suami enggak makan malam di rumah. Meskipun rasa hati pengen bantingin piring dan gelas keinget capeknya masak, yang kayak gitu enggak perlu terlalu dibawa perasaan. Mungkin suami punya alasan kenapa enggak makan malam di rumah. Bisa jadi menghormati teman-teman kantor yang ngadain acara syukuran atau terlalu capek jadi sampe rumah langsung pengennya istirahat. Contoh lain, misal suami ngajakin ngambil kredit barang xxx nih. Baiknya enggak asal 'Iya deh. Gimana mas suami aja', tapi dipelajari dulu, jadikan bahan diskusi berdua. Masalah kredit, utang, enggak menyangkut suami doang kan. Kita sebagai istri juga harus tahu dan paham.

Nah, kalau sekarang masih single dan gampang banget sensi atau baper, mungkin Allah pengen kita belajar lagi untuk ngurang-ngurangin bapernya, sebelum ketemu ujian perasaan yang lebih dahsyat dalam kehidupan berumah tangga.

It takes two to tango.
Berkaitan sama poin kedua soal mengelola perasaan. Enggak cuma istri doang, atau suami doang yang perlu belajar. Kedua belah pihak harus sama-sama belajar dan saling pengertian. Misal nih, masih melanjutkan contoh di poin kedua. Pas udah disiapin makan malam sama istri, meski perut udah kenyang, paling enggak icip dikit lah masakan istri. Atau kalau udah enggak kuat makan lagi, temenin lah istrinya itu di meja makan. Mungkin istri-istrimu rela nahan laper lho, pak  bapak, demi bisa makan malam bersama. Jadi, sama-sama saling peka aja lah.

Apalagi kalau udah ngomongin parenting. Wah bisa jadi satu bahasan sendiri ini mah. Misal pengen punya anak yang sholeh-sholehah, cerdas, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Eh, tapi, enggak meluangkan waktu quality time sama anak (to bapak-bapak mostly) dan nyerahin semua tugas yang berkaitan sama anak ke istri doang. Nay, nay! Bagai pungguk merindukan bulan dong. 

Kalau mau punya anak yang high quality, orangtuanya juga harus high quality dulu. Salah satunya, harus mau bersusah payah untuk mendalami ilmu parenting bareng-bareng. (Wkwkwk yang nulis ibu-ibu sih ya. Mohon maap kalau nyerang bapak-bapaknya terus. Kebeneran aja kayak gitu studi kasus yang kepikiran #Ngeles).

Masalah menjadi jauh complicated.
Yes, kalau ngerasa kehidupan saat single udah penuh masalah, jangan khawatir, ujian belum selesai sampai di situ. Namanya kehidupan dunia, ya, pasti penuh ujian dan cobaan. Kalau kehidupan lempeng-lempeng aja, antara Istidraj atau ujiannya lewat kelempengan itu. Nah, masalah rumah tangga jauh lebih pelik daripada masalah saat masih single dulu. Zaman masih mahasiswa, kita bakal pusing tujuh keliling liat rekening yang udah tinggal beberapa digit padahal kiriman ortu berikutnya masih jauh. Hm, kalau udah nikah lebih pelik lagi, karena yang dipikirin enggak cuma diri sendiri, tapi, ada pasangan, anak yang mungkin enggak cuma satu, belum lagi kalau ada yang masih di kandungan. Yes, marriage push yourself to be tough as ever!


Menikah itu jebakan betmen?
Hm, ya, iya sih, kayak gitu kalau kita ngelihat menikah sekedar prosesi kehidupan dunia semata.

Nyesel kan udah nikah?
Hm, ya enggak gitu juga.

Inspite of segala hal yang kayaknya enggak mudah saat menjalani kehidupan pernikahan, dengan menikah kita naik tingkat untuk menjalani fase kehidupan berikutnya.

Kalau buat saya pribadi, pernikahan memaksa saya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang selanjutnya dan seterusnya. Kalau menengok ke belakang dan posisi saya belum menikah, tantangan yang saya hadapi mungkin bakal itu-itu saja.

Ya, meskipun saat ini pun saya masih sering ketemu masalah-masalah yang itu-itu lagi. Tapi, feelnya beda dan lagi-lagi dipaksa untuk menjadi lebih dewasa sekaligus bijak, karena secara status pun udah berubah menjadi seorang istri dan ibu.

Satu hal yang saya sesali tentang kehidupan pernikahan ini adalah ketidaksiapan saya menyiapkan kehidupan pernikahan.

Menikah dengan modal kepengen doang itu sah-sah aja sih. Cuma ya harus siap zonk kalau kepengenan itu tidak disertai banyak ilmu.

Kayak saya.

Minus banget pengetahuan soal kehidupan pernikahan makanya zonk.

Makanya, saat single adalah best moment untuk cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadi, nanti pas sudah nikah dan punya anak, ibarat naik kendaraan udah enak aja gitu tinggal jalan. Ya, kalau lupa-lupa dikit, liat contekannya juga sekilas aja buat memantik ilmu yang udah dipelajari.

Enggak kayak saya yang kalau diibaratkan, nyetir sambil buka peta sambil ngecek posisi spion kendaraan udah bener atau belum. Ibaratnya di perjalanan itu sambil ngapalin jalan dan sambil ngelancarin bawa kendaraan. Repot kan?

Tapi, ya, enggak usah disesali berlarut-larut. (Menghibur diri sendiri).

Sekarang pe er nya adalah enggak boleh skip belajar. Harus makin rajin belajar, baca, cari ilmu. Meskipun jadi kayak kuis dadakan. Baru baca teori langsung diuji suruh nge-aplikasiin. Mantap kan?

Apapun itu tetap lebih banyak yang saya syukuri daripada yang disesali.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 18 Januari 2019

Bahagia Liburan di Rumah, Tetap Asik Bareng Laptop ASUS


Setiap keluarga punya tantangan dan ujiannya masing-masing. Filosofi itu yang saya pegang erat dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Filosofi yang sangat penting untuk menghadapi godaan untuk enggak mudah merasa iri hati dengan kondisi keluarga yang ada di sekitar saya. Termasuk perkara kecil soal liburan akhir tahun.

Rasanya gatel banget pengen nyerocos ke suami tentang betapa beruntungnya teman-teman saya yang menghabiskan liburan akhir tahun dengan travelling. Enggak sekadar ke luar kota loh, beberapa bahkan berkesempatan plesiran ke luar negeri. Sesuatu yang jadi wishlist saya sejak lama.

Alhamdulillah, mulut ini masih bisa ngerem untuk enggak berlebihan cerita ini itu ke suami soal liburan teman-teman saya. Masih bisalah untuk di-counter menjadi kalimat yang bernada positif, 'Yuk, rajinin nabungnya, supaya bisa liburan, syukur-syukur bisa umroh sekalian travelling ke Turki.'
Bangga betul rasanya bisa sepositif itu meski melawan batin yang retak cukup susah. Tidak mengapa, karena saya yakin, saat ini mungkin saya dan keluarga sedang diuji dengan anggaran yang tipis untuk bisa jalan-jalan yang lumayan jauh, sekaligus tanggung jawab suami yang dilarang cuti di akhir tahun. Semoga bisa lulus ujian. Who knows? Mungkin ke depan bakal diuji tetap bisa bahagia dan memaknai enggak nih, kalau dikasih rezeki travelling yang diinginkan?

Jauh-jauh hari saya sudah tahu enggak akan kemana-mana di liburan akhir tahun, jadi saya prepare, bikin rencana menyenangkan untuk menghabiskan waktu di rumah. Daftar yang wajib ada adalah nge-laptop utamanya blogging dan nonton.


Yes!
Selama jadi ibu rumah tangga yang hobi nulis, cara menyeimbangkan waktu supaya tetap bisa membersamai Ncik (nama panggilan anak saya) adalah dengan membiasakan diri untuk menulis menggunakan gawai (gadget, smartphone). Cukup lancar dan terbiasa sih. Tetapi, berhubung ada insiden yang bikin layar gawai saya jadi retak bagai akar serabut pepohonan, pusing juga tebak-tebak buah manggis saat menulis atau membaca lewat gawai. Pengennya, di liburan akhir tahun kemarin bisa ngerapel semua tulisan dan kerjaan blog via laptop.

Tantangan pertama rencana untuk bebas nge-laptop adalah laptop ASUS TP201S milik saya harus dipakai bergantian dengan suami yang kadang butuh juga untuk ngerjain kerjaan kantornya. Ini nih yang bikin saya memasukkan resolusi #2019GantiLaptop. Saya yang ganti laptop, suami bisa pakai laptop lama saya. LOL.

Salah satu yang jadi inceran adalah ASUS Zenbook S UX391UA.

Kenapa sih tergoda sama laptop ASUS tipe ini? Harganya selangit loh padahal (dibisikin nih harganya, 26 juta sekian sekian). Ya, iya, kalau beli sendiri kayaknya out of budget banget, tapi enggak ada salahnya mencari kesempatan buat memenangkan salah satu unitnya lewat Lomba Blog dari founder KEB (Kumpulan Emak Blogger), Mak MiraSahid.


Nah, kalau lagi kepengen sesuatu, biasanya saya akan searching-searching lumayan detail soal apa yang jadi kepengenan saya, termasuk soal laptop.

Desain keyboard ASUS Zenbook S UX391UA ini sangat menarik perhatian buat saya yang sering lama ketik-mengetik di depan laptop. Why oh why? Perasaan bentuk keyboard laptop semua sama dimana-mana? Hm, tentu tidak, Pedro!

Fitur inovatif yaitu engsel Ergolift dari Zenbook S, secara otomatis bisa menambah kemiringan 5,5° ke keyboard. So, kita bisa mengetik lebih nyaman, meski dalam waktu yang cukup lama. Sisi ergonomis lain dari keyboard Zenbook S UX391UA ini juga tidak perlu diragukan, dengan jarak antar tombol yang lebar dan permukaan tombol yang lembut bikin proses mengetik menjadi lebih akurat. Apa kabar yang sering typo?

Pun ketika ngerjain kerjaan di malam hari pas jam tidur anak, cahaya emas dari keyboardnya tetap bikin kita nyaman bekerja dalam kondisi pencahayaan apapun. Bye bye sakit mata!

Nilai plus plus dari engsel Ergolift Zenbook S UX391UA juga lebih optimal untuk cooling system laptop. Udah enggak khawatir kan, laptop cepat panas, endebre endebre?


Sejujurnya, saya bukan traveler atau pribadi yang banyak bepergian, meski begitu, ultralight dan ultrathinnya ASUS ZenBook S UX391UA yang cuma 1 kg dan 12,9 mm, bukan berarti enggak bikin pengen si ultraportable ini loh. Malah sebaliknya, bikin makin pengen! Secara sekarang ini lagi semangat untuk ngikut beberes simpel dan ringkas ala Konmari. Tentu saja laptop yang saat disimpan enggak makan tempat adalah salah satu yang spark joy buat ibu-ibu seperti saya.

Tantangan berlama-lama nge-laptop berikutnya adalah saat Ncik penasaran dengan suara ketik-ketik yang menarik hati. Mohon maaf bila melihat laptop ASUS yang saya pakai sekarang agak memprihatinkan karena teman sparingnya adalah bocah menjelang 2 tahun yang hobi utak-atik barang baru, termasuk laptop saya. ASUS Zenbook S UX391UA bakal jadi lawan sepadan nih, karena kabarnya sudah memenuhi standar militer MIL-STD810G. Ngeri amat ya, pake standar militer? Emang mau dibawa perang, bu? Hm, ya, enggak juga sih, Santiago. Military grade ini menunjukan kalau ASUS Zenbook S UX391UA ini tahan banting, karena sudah diuji jatuh-bangun, getaran, ketinggian, bahkan di suhu yang ekstrem panas maupun dingin.

ASUS Zenbook S UX391UA Burgundy Red 

Udah beres dengan segala tantangan. Liburan akhir tahun kemarin berakhir bahagia dengan saya nonton film jadul favorit, The Lord of the Rings: the Return of the King.
Yes, bagian terakhir dari trilogi film fantasi The Lord of the Rings yang enggak membosankan meski saya tonton ulang. Menonton film fantasi yang kental dengan nuansa aksinya ini akan sangat perfecto bila didukung audio yang mumpuni dari laptop. Pas banget, ASUS Zenbook S UX391UA siap memanjakan saya dengan audio hasil kerjasama ASUS dan spesialis audio Herman Kardon yang menghasilkan laptop dengan dua speaker stereo berkualitas top dan efek suara surround dengan audio berkualitas bioskop! Enggak main-main kan sandingannya bioskop loh. Kalau biasanya bela-belain ke bioskop karena pengen dapet sensasi audio yang gahar, sekarang ibu bisa hemat, cukup nonton pakai Zenbook S UX391UA.

Soal irit yang lain, seperti halnya kita yang pengen gawai kalau di-charge enggak makan waktu lama, Zenbook S UX391UA ini pun juga sudah canggih dengan teknologi fast charging.  Cuma 49 menit untuk mengisi 60% daya! Masa pakai baterainya pun bisa mencapai 13,5 jam. Lama kan? Asal pinter-pinter aja ya, ngatur pemakaian program di laptopnya.

Makin kenal lebih dekat dengan fitur-fitur menyenangkan dari ASUS Zenbook S UX391UA, makin pengen memiliki deh!

ASUS Zenbook S UX391UA Deep Dive Blue 

Menilik liburan akhir tahun yang membahagiakan meski hanya di rumah ditemani laptop ASUS, rasanya enggak berlebihan lah kalau membayangkan bisa memiliki ASUS Zenbook S UX391UA akan membuat ibu lebih bahagia dan lebih produktif lagi. Yes, ibu bahagia akan membuat keluarga bahagia. Keluarga bahagia akan menciptakan lingkungan yang bahagia. Lingkungan yang bahagia, masyarakat seluruhnya bahagia, dunia pun cerah ceria. Teman-teman yang lagi baca tulisan ini sudah merasa bahagia kah hari ini?

Semoga bermanfaat.

Rabu, 16 Januari 2019

Baby Chair, Kursi Makan Bayi Penting atau Enggak?

Sejak awal MPASI Ncik (nama panggilan anak saya), baby chair jadi salah satu barang yang saya pengenin. Tapi, setelah pengajuan ke suami, ternyata ditolak. Alasannya, ngeliat pergerakan Ncik selama ini, suami khawatir baby chairnya malah enggak kepake karena Ncik sukanya kemana-mana.

Akhirnya, diambil jalan tengah untuk sewa lebih dulu supaya tau berguna banget atau enggak si baby chair ini untuk anak kami.

Saya memilih sewa baby chair yang model bumbo seat. Pernah baca sekilas sih kalau sebenarnya model bumbo seat ini kurang direkomendasikan. Kenapa? Singkatnya, karena cenderung menghambat kemampuan anak untuk belajar duduk sendiri.

Ngeliat dari strukturnya emang bener. Bentuk bumbo seat itu yang ngejaga anak bisa duduk meski dia belum bisa bener-bener duduk tegak sendiri. Yo wis, anak-anak yang mungkin belum tegak-tegak banget kalau duduk sendiri dibikin santai dengan duduk di bumbo seat itu. Padahal harusnya kalau enggak pake bumbo seat, mereka akan terstimulasi untuk menjaga diri supaya struktur tubuhnya bisa duduk dengan kemampuan sendiri. 

Artikel lengkapnya bisa dibaca disini deh. Hamba hanya mencoba merangkum setitik doang.

Alhamdulillah pas Ncik mulai MPASI itu dia udah bisa duduk tegak sendiri. Kenapa akhirnya milih baby chair yang model bumbo seat, karena bumbo seat yang saya pilih ada plus plus mainannya. Ceritanya sekalian gitu kursi makan dan kursi buat mainan. 

Kayak gini nih model kursi bayi yang dipilih Ncik.

Summer Infant Superseat via Pinterest

Setelah masa sewa beres, sebenernya masih ngebet beli baby chair. Tapi, kembali alasan lama, suami enggak setuju. Karena makan tanpa baby chair pun Ncik baik-baik aja.

Padahal saya naksir berat sama salah satu booster seat yang portable bisa dipake dan dibawa kemana-mana.



Dua model baby chair yang jadi perbincangan hangat di dunia ibu-ibu adalah booster seat dan high chair.

Kalau booster seat plusnya adalah bisa dipakai buat kita yang biasa makan lesehan maupun ditaruh di kursi meja makan. Booster seat juga peruntukkan usianya lebih panjang. Sedangkan high chair cuma bisa satu posisi doang, sejajar sama meja makan. Rada tricky kalau keluarga yang biasa makan lesehan, tapi memilih pakai high chair di rumah.

Better kalau memang kebiasaan makan di keluarganya lesehan, pilih booster seat aja.

Tapi, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan sebelum membeli baby chair entah itu booster seat maupun high chair adalah perlu enggak anak kita pakai kursi makan khusus bayi?

Saya pribadi merasa perlu.

Mungkin karena udah ngerasain kelebihannya pake baby chair.

Setelah Ncik usia 16 bulan akhirnya suami ngebeliin baby chair dong. Itu juga beli karena kami sekeluarga memutuskan beli meja makan yang proper. Ini dalam rangka supaya waktu makan jadi salah satu quality time keluarga. Alhamdulillah pas ada rezekinya. Beli yang high chair karena sekalian satu toko sama yang jual set meja makannya.

Padahal kalau dikasih waktu googling lebih lanjut bakal beli booster seat kepengenan yang bisa dibawa kemana-mana. Tapi, enggak apa-apa lah. High chair juga sangat bermanfaat karena set meja makannya pun cuma dua kursi. 


Ilustrasi via Pinterest

Adanya high chair di rumah ngebantu banget soal ritme makan Ncik. Sebelum pake high chair, doi kalau makan sambil keliling rumah. Mondar-mandir kesana-kemari. Lelah lah ibu ini main kejar-kejaran setiap mau nyuapin. Ncik yang duduk rapi di high chair saat makan, jadi harapan supaya terbangun kebiasaan kalau makan ya, sambil duduk. No keliling kesana-kemari.

Namanya juga anak bayi yang masih belajar makan, sering banget jadi kocar-kacir, kotor, berantakan. Kalau makannya pas kesana-kemari, bisa harus ngepel rumah karena remah-remah nasi berceceran dari ujung ke ujung ruangan. Sebaliknya, kalau pake high chair cuma area yang ada high chair aja yang harus dibersihin. Lumayan lah ibu bisa selonjoran sedetik.

Plus plus lain punya high chair adalah bisa jadi tempat aman kalau pas ibu atau ayah harus ngepel. Karena Ncik udah nggak bisa diamankan di box bayi. Kalau di high chair, dikasih buku bacaan atau buku buat coret-coret atau disetelin video, amanlah sampai rumah beres dipel. Sambil disounding juga sih kalau lantai yang lagi dipel itu licin. Doi dikit-dikit ngerti, pengalaman pernah 'gelebak' gara-gara tadinya ditaruh di sofa terus dia tiba-tiba ngacir. Alhamdulillah observasi 2x24 jam enggak kenapa-kenapa.

Kalau disimpulkan, baby chair termasuk baby stuff yang worth to buy kalau memang ada dananya. 

Kalau enggak ada pun, enggak yang dead end sebagai langkah membiasakan anak untuk makan dengan duduk tenang. Masih ada langkah lain untuk ngajarin anak kebiasaan tersebut. Misalnya, sounding terus kalau makan itu mesti duduk. Sediakan spot khusus sebagai area makan. Gitu kalau saya ngebayanginnya. Kalau pas anak GTM (Gerakan Tutup Mulut) kan salah satu langkah mengatasinya dengan cari suasana makan yang baru, tapi ya, tetep enggak mengganggu esensi kebiasaan rutin makan yang sudah kita bangun sebelum-sebelumnya. 

Semoga enggak belibet ya buibu.

Soal makan anak ini emang panjang lika-likunya. Saya sendiri ngerasain banget mulai dari MPASI sampai sekarang, ngebangun kebiasaan makan anak yang baik itu menguras energi dan emosi, jiwa dan raga. Satu filosofi yang pengen saya pertahankan (meski sering juga goyahnya, but I won't give up insya Allah) adalah membangun suasana makan yang menyenangkan.


Makan dimsum dulu